Ketika gue membuka grup divisi kreatif di LINE dan seketika gue merasa terkejut...


Kochak cepat sekali kabinet ini berlangsung!!


AKHIRNYAAA SUDAH MASUK MASA DIMANA HARUS NGEDIT KULTUM UNTUK DISIARKAN DI RADIO!! UYEEEEY!


Alhamdulillah wasyukurillah, mungkin terlalu cepat untuk mengucap Marhaban Yaa Ramadhan tapi tahun ini gue bener bener excited untuk bertemu Ramadhan. Ini adalah Ramadhan gue yang pertama sebagai anak kuliahan, jauh dari nyokap, lagi ada beberapa project besar dan juga bergabung dalam divisi London School Radio. Setelah tahun lalu gue menghabiskan Ramadhan gue dengan magang di Radio Shelter sebagai Produser, sekarang harus di radio lagi:">

Ini kali pertamanya gue cari tiket mudik guys dan ini juga kali pertama gue bingung gimana caranya balik ke Cirebon karena gue beli tiket pulang kecepetan which is tanggal 17 Juni... Agak gila juga sih gue. Cuman yasudahlah ya..

Nah setelah tahun kemarin gue gak nulis, berhubung 2017 ini gue mencoba lebih produktif di blog gue jadi ladies and gentleman please welcome.. RAMADHAN WITH ALICE!!


Di Ramadhan with Alice ini gue akan nulis DIY, tips & trick, treats dan favorite moment yang gue banget selama Ramadhan. Gak lupa juga, gue akan mengajak beberapa teman gue untuk ikut ngobrol sama kita disini supaya lebih rame gitu;) Kalo elo juga mau ikutan ngobrol sama gue disini, yuk langsung aja e-mail gue ke rizkirahmadania@yahoo.com ;)

Perhitung 1 Ramadhan gue akan merilis episode satu dari #RamadhanWithAlice which is satu minggu sekitar dua posting. Gue yakin sih Ramadhan kali ini lebih gokil apalagi gue sendirian.. Engga deng, bedua sama kakak gue.. Engga deng!! Gue sama anak anak radio dan sama kalian!!

Yuhuuuu! Senangnya sudah mau Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini mendatangkan berkah untuk kita yaa teman teman;)

I can't understand him.

Satu-satunya hal yang terlintas di benakku kala aku melihat sikapnya beberapa hari belakangan ini. Bukan, bahkan bukan lagi hari sebagai hitungannya. Sudah hampir tiga bulan, waktu yang cukup panjang untuk memaklumi keadaan seperti ini. Aku tahu kesibukannya sebagai seorang pekerja di media massa bukanlah hal yang mudah, aku sudah tahu konsekuensinya. Tapi tunggu, bagaimana jika hanya kamu yang mengerti dia tapi dia tidak mengeluarkan usaha sedikitpun untuk mengerti kamu?

Dengan kesibukanku yang sama padatnya di perusahaan agensi periklanan yang cukup ternama di Jakarta membuatku mencoba maklum kepada keadaanku dan Dion yang seperti ini. Di usia hubungan kami yang sedang memasuki tahun ketiga, sudah sewajarnya jika kami merasa lebih dewasa untuk menyikapi kejadian kejadian seperti tidak bisa pergi karena ada lembur, meeting mendadak yang membuat reservasi di restoran kesukaan kami hangus atau bahkan weekend yang berakhir dengan sebuah pesan, "aku capek banget, kita ketemu besok aja ya, atau kamu yang samperin aku ke kantor."

Aku mencoba mengerti Dion yang sedang menuju puncak kariernya. Aku mencoba mengerti hidupnya yang bahkan di hari Sabtu dan Minggu, ketika biasanya sebuah pesan manis serta mobilnya yang sudah menungguku di depan pagar adalah obat rindu setelah seminggu yang sangat hectic, ketika Dion tidak lagi menelpon setiap malamnya. Dulu Dion masih menyempatkan diri untuk sekedar menelponku 30 sampai 1 jam, sekedar menanyakan kabar dan bertukar cerita. Setelah itu ia lebih memilih dengan chat, durasinya pun semakin lama semakin terbatas. Dari 1 jam, 30 menit, 15 menit, 5 menit dan Dion pun berakhir dengan hilang seharian.

I've tried to understand him.

Aku menunggunya sampai pulang ke rumah, aku menunggu bahkan hanya sekedar untuk tahu apakah ia makan siang dengan baik atau tidak. Aku menunggu kabar, hanya kabar dan aku tidak menuntut apa-apa lagi. Tapi memberikan kabar mungkin hal yang berat untuk Dion Cakra Wijaksana, sehingga ia selalu berdalih, "aku mungkin buka HP, tapi aku gak bisa balesin chat kamu."

Aku mengerti tentang kesibukannya, karena aku pun sibuk. Tapi belakangan, kenapa hanya aku yang berusaha? Kenapa aku duduk termenung jam 2 malam dan bertanya-tanya apakah dia masih bangun atau benar benar tenggelam dalam pekerjaannya sampai membalasku saja tidak bisa? Apakah handphonenya rusak? Atau tidak ada sinyal di kantornya?

Dion dan dunianya... Terlalu luas, terlalu rumit, tidak bisa aku mengerti. Meskipun aku mencoba mengerti, tapi Dion tidak membuatnya menjadi mudah. Aku sering terjaga untuk menunggu pesannya namun ia tidak kunjung datang juga. Aku kehilangannya bahkan ketika aku sangat membutuhkannya. Seringkali aku merasa sendirian lalu berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh nan sarkastik yang kutujukan pada diriku sendiri, "sejak kapan untuk bahagia saja aku harus menunggu kehadiran orang lain?"

Dion dan dunianya... Jelas jelas ingin aku pahami. Setiap aku meminta untuk dikabari jika terlalu sibuk, Dion berdalih bahwa aku sudah tahu kesibukannya, lalu kenapa aku masih saja bertanya? Dion ingin aku pahami, tapi terkadang Dion sendiri yang tidak bisa dipahami.

Dion dan dunianya... Membuatku frustasi. Membuatku mencoba mengerti sesuatu yang ingin dimengerti, namun diriku sendiri tidak pernah dimengerti olehnya. Membuatku menunggu sesuatu yang kurasa layak untuk ditunggu, namun diriku sendiri tidak pernah ditunggu olehnya.

I've been thinking about this...

Mungkin aku terlalu membutuhkan Dion karena terbiasa dengannya... Tapi Dion tidak terlalu membutuhkanku karena untuk seorang Dion Cakra Wijaksana, aku, Marcella Savira Jacinda, bukanlah bagian besar dalam hidupnya?


Lalu apa gunanya menunggu sesuatu yang tidak ingin ditunggu?





Jakarta, 22 Mei 2017
I've been listening this song since you've been gone;
Dia Tak Cinta Kamu - Gloria Jessica
Bagaimana ya caranya menentukan sikap terbaik untuk 
menyikapi permasalahan yang ada?

***

Setelah cukup lama gak ngobrol sama Pak Bos Besar karena kehidupan kami yang sama-sama sibuk, akhirnya kami punya waktu buat bicara. Lebih tepatnya dia menyempatkan waktu untuk gue di sela sela kesibukannya. Biasanya kesibukan kami gak pernah selaras; giliran gue punya waktu, dia sibuk setengah mati, giliran dia punya waktu, gue udah ketiduran karena capek kerja. Intinya semester 2 dan 6 buat kami ini semacam terproduktif2017.

Akhirnya setelah seminggu yang hectic, gue punya kesempatan untuk "ngadu" cerita cerita yang belum sempat gue bagi sama dia. Dulu kalo gue lagi kesulitan, dia  yang selalu ada 24/7 buat bantu gue. Tapi karena sekarang sama-sama sibuk, jadi gue "dipaksa" untuk menyelesaikan masalah gue sendiri. 

Intinya, gue sekarang sedang merasa tidak tahu harus ngapain.

Gue merasa setiap hal yang gue lakukan rasanya kurang, gak bener bahkan nyakitin orang lain. Pernah gak sih lo merasa terluka di masa lalu karena satu kejadian sehingga di masa depan lo ingin berubah dan melindungi diri lo supaya lo gak sakit hati lagi? Nah, itu yang lagi gue lakukan pada semua aspek kehidupan gue. 

Gue berusaha mengganti "cara kerja" gue supaya gue gak lagi jadi orang yang makan ati dan kesel sendiri. Gue gak lagi jadi orang yang dijadiin "yaudah gapapa, Titi ini, pasti maklumin, pasti bantuin" dan berakhir digampangin. Atau gue gak lagi mau jadi orang baik yang siap 24/7 dan berakhir jadi orang yang dikatain "apa sih lo peduli banget sama orang lain." 

Sumpah ya.. Semakin dewasa, yang rumit jadi sederhana, yang sederhana jadi rumit.

Setelah gue melakukan beberapa "pergantian" cara kerja dan sikap gue pada beberapa orang dan masalah, ternyata itu malah menimbulkan masalah yang baru -bahkan hal hal yang sebenarnya mau gue hindari. Gue cerita sama Pak Bos. Gue kira tadi malam setelah gue cerita panjang lebar, dia akan maki-maki gue sampe gue nangis. Karena kejadiannya akan selalu sama biasanya: gue cerita - dia dengerin - dia marah marah sampe gue nangis - gue sadar - baru kelar masalahnya.

Tapi kali ini!! Dia malah nanya, "kamu gak nangis kan?"

HAHAHA terharu. Dia lalu cerita dan merespon sesuai dengan persepsi dia, lalu dia seperti biasanya menceritakan sesuatu sama gue yang akan selalu buat gue "oh iyaya";') Dia cerita tentang sebuah cerita di kepercayaannya di mana dalam cerita itu ada sebuah perumpamaan:

"Senar gitar kalo kamu tarik kenceng bakal patah, tapi kalo kamu diemin aja senarnya, gak akan menghasilkan suara yang indah. Maka dari itu kalo kamu main gitar, kamu harus bisa merasakannya, gak boleh berlebihan dan gak boleh kurang juga. Kalo kamu tau gimana cara petik senarnya, kamu pasti bisa menghasilkan suara yang indah dari gitar tersebut. Sama kayak dalam hidup ini, kamu harus bisa menempatkan diri dan waktu. Mungkin ada kalanya kamu harus vokal akan suatu hal, ada kalanya kamu harus bersikap tenang tapi ada juga kalanya kamu lebih baik diam. Tidak lebih, tidak kurang. Itu namanya Middle Way."

Mendengar cerita dari dia, gue cuman bisa menenggelamkan kepala gue di bantal sambil ngangguk-ngangguk. Lalu disela sela ceritanya dia nanya, "kamu ngerti kan?"

Gue pun bertanya, "terus gimana kita tahu hal itu udah bener atau engga?"

"Yang penting jangan berlebihan, jangan kurang juga. Lakukan yang paling baik dan tetap berbuat baik. Belajar untuk tahu tempat, belajar untuk tahu waktu. Dan yang bisa nentuin semua itu ya diri kamu sendiri."

Well yang gue pelajari adalah.. Dalam hidup ini, sebelum memilih dan menentukan sikap, belajar untuk menimang-nimang apakah yang lo lakukan itu berlebihan atau jatuhnya cuman asal (kurang). Belajar untuk tahu waktu dan tempat, belajar untuk menentukan kapan dan bagaimana bersikap. 

Intinya emang kadang diam itu emas, kadang juga ngomong ada positifnya, tapi lebih baik lagi kalo kita menimang segala kemungkinan sebelum menentukan sikap. Jangan terlalu baik, jangan terlalu jahat. Jangan terlalu rajin, jangan terlalu malas.

Setidaknya...

Alhamdulillah pernah merasakan kesalahan yang lain, supaya bisa jadi refleksi diri dan menjadi lebih baik;)



PS: Belajar itu dari siapa saja. Iya kan? Selamat kerja keras untukku dan bos besar!;)