Untuk kamu gadis yang dicintai olehnya..

Banyak hal yang ingin aku pertanyakan padamu. Kala orang lain berusaha keras membahagiakannya, mengapa kamu menyia nyiakannya? Kala orang lain tak perlu menangis untuk mendapatkan perhatiannya, mengapa kamu mengabaikannya?

Kamu beruntung bisa dicintai oleh pemuda yang dicintai setengah mati oleh orang lain.

Jika Tuhan memang seadil itu, apakah aku didatangkan untuk menyadarkannya bahwa cintanya padamu takkan pernah berujung? Sebagaimana perasaanku padanya yang tak pernah berbalas manis seperti apa yang dia berikan kepadamu?

Wahai kamu gadis yang ia cintai...

Bila kamu tidak bisa membalas cintanya, bisakah kamu tidak menyakitinya? Atau setidaknya jangan membuatnya berharap dan menutup hati untuk orang lain. Kala ia dicintai setengah mati, rasanya takkan pernah cukup jika ia sendiri masih cinta kepadamu wahai gadis yang ia cintai.

Jadi siapa yang lebih menyia-nyiakan waktunya?

Wahai kamu gadis yang ia cintai...

Izinkan aku berkata bahwa membenci ataupun iri bukanlah kata yang tepat untuk melukiskan perasaan ini. Cemburu pun terlalu luas. Namun bila aku bisa mengatakannya, kamu seberuntung itu dicintai oleh orang yang aku cintai. Orang yang aku perjuangkan namun selalu membandingkan kepada dirimu.

Setiap hal baik yang aku berikan tampak tak pernah cukup untuk melukiskan perasaanku -karena selamanya takkan pernah cukup bila itu bukan dirimu. Jika kamu memang tidak mencintainya, setidaknya bahagiakanlah dia dengan jangan memberikan ruang untuknya berharap.

Seperti halnya pemuda itu menutup setiap celah di ruanganku untuk memperlebar luasnya supaya bisa seluas milikmu dalam hidupnya. Tidak ada kata yang bisa melukiskan bahwa perasaan ini sebegitu menyiksanya; menyaksikan orang yang aku cintai mencintai orang yang tidak bisa bersamanya.

Jika bicara tentang keberuntungan, entah nikmat Tuhan mana yang mungkin kau dustakan untuk melepaskannya begitu saja. Tapi saat kamu membuangnya, ada gadis lain yang berharap kalau kalau hati sang pemuda jatuh ke tangannya. Namun Tuhan dan nikmat-Nya tak semudah itu untuk digapai dan diraih.

Bagai tak pernah puas, perasaanku tak pernah cukup menutup luka hatinya atas ketidak hadiranmu.

Wahai gadis yang ia cintai...

Izinkalah aku untuk berkata bahwa jika hati bisa bicara, maka bicaralah sejujurnya supaya ia tak lagi berharap akan hal yang fana. Sehingga ia bisa berlaku yang sama dan di antara kita takkan ada yang berharap hingga akhirnya terluka.


Karena seperti kamu tidak bisa mencintai ia seutuhnya, seperti ia mencintaiku hanya setengah - setengah.


Karena seperti ia yang tidak bisa melepaskanmu begitu saja, seperti aku yang tidak bisa melupakannya.



Lingkaran ini suatu hari mungkin akan membunuh, jika salah satu di antara kita tidak menghentikan permainan kartu domino yang mulai jatuh satu persatu.




Wahai kamu gadis yang ia cintai,
Semoga kebahagiaanmu tidak lagi dengan menyiksa hatinya untuk kemudian kuusahakan dipersatukan kembali.


"The dream was real.. 
Or maybe the feeling of miss him was too real.
It kills me."

***




1. How Not to Love You - Leroy Sanchez


REVINA LANA ALLEZIA WIJAYA


Aku tidak pernah suka tempat ramai; atau aku memang orang aneh seperti yang Gibran bilang? Tapi Evan tidak pernah mengerti setiap tanda yang ku tunjukkan kala ia mengajakku ke tempat tempat ramai di tengah hari kerja. It kills me, you know? 

Sudah hampir 3 minggu aku tidak bicara pada Gibran. Aku membiarkannya di sampingku tanpa pernah sedikitpun mengusik kehidupan pribadiku. Oh well, ini bukan aksi pergi untuk dikejar. Tapi aku dan dia tidak bisa begini terus; saling memainkan hati satu sama lain padahal tidak pernah ada keinginan untuk melanjutkannya.

Seminggu pertama Gibran benar benar mencoba meluluhkan hatiku, bertanya tentang semua hal bodoh yang seharusnya ia tahu jawabannya hingga berusaha membuatku tertawa. Setiap Gibran melakukan hal yang membuatku tertawa, aku berjuang setengah mati untuk menutupi ekspresi wajahku. Tapi Gibran tahu dia yang terbaik. Dia tahu bagaimana cara mencuri hatiku kala aku membuatnya dingin seperti es batu.

Hanya saja tidak bisa. Tidak bisa begini terus.

Aku berusaha membuat jarak supaya Gibran berhenti seenaknya mempermainkan perasaanku. Aku membuat tembok supaya Gibran harus meruntuhkannya jika dia benar benar menyayangiku. Tapi aku bersembunyi di balik tembok itu, dengan menaruh Evan sebagai penjaga di hadapannya sambil menangis menahan rindu setiap kali dia berusaha mengajakku pergi untuk mencairkan suasana.

I miss you, Gib. I couldn't miss you more than this.

But things get better since that girl is finally here. Namanya Adela Hanjaya, seorang anak magang dari kampus kami dulu. Keberadaannya cukup mencairkan kecanggungan antara aku dan Gibran yang kubuat sendiri. Perawakannya benar benar beda banget sama aku. 100% gadis Jawa yang Tante Indah pasti jatuh cinta kalo lihat dia. Wajahnya mungil, suaranya lembut, ada tahi lalat kecil yang mempermanis wajahnya, senyumnya cantik, giginya rapi dan pertanyaan pertamanya padaku adalah "Mba Lana solat gak ya? Aku gak berani di Musholla sendirian." Oh she is perfectly perfect for My Gibran kecuali rambutnya yang dipotong pendek.

Have I ever told you that My Gibran never like a girl with short hair?

Dia pernah marah saat adiknya, Tristania (atau Dede -panggilan dari Gibran) minta izin untuk memotong rambutnya di atas bahu. Gibran tidak pernah suka gadis dengan rambut pendek. Dan iya, jangan lihat rambut hitamku yang semakin panjang sekarang. Tidak perlu bertanya, it was all about him.

Talk about Adela Hanjaya, she's right there talk to Gibran with her wide smile. Semakin lama aku melihat mereka, semakin aku ingin memuntahkan semua ini rasanya. Tampaknya Gibran lebih bahagia dengan Adel... Wait, why could I say those words?

"Ah.. Mas Gibran ini. Enggaa.. Gak gitu, aku paham kok."
Gibran tertawa menggoda, "kalo paham gak mungkin salah dong, Del?"
"Yaa.. It just another exception." Sahut Adel malu - malu.
"Makan bareng yuk, Del?"


Oh shit.

Why?

Masa sih Gibran akhirnya...

***

GIBRAN PUTRA RAYYA

Gue sama sekali gak peduli.

Persetan dengan orang bilang gue brengsek karena dekat dengan banyak cewek atau Lana yang akhirnya lebih milih jalan dengan cowok cupu itu. Gimana gak gue katain cupu? The last time we talk, she mentioned how Evan ask her about me. Gue gak peduli dia sekarang udah mapan kek, seagama kek sama Lana, berani deketin Lana lagi secara terang terangan...

Oke, fakta terakhir memang gak bisa gue pungkiri bahwa itu satu satunya hal yang gak bisa gue kasih ke Lana. Mungkin itu alasannya kenapa Lana menjauh beberapa hari belakangan ini atau dia memang sudah jatuh kepada Evan?

Tapi Tuhan dan semesta alam memang selalu sebaik itu pada gue. Ketika Lana bertingkah seperti ini, mereka akan memberikan keajaiban dengan mendatangkan orang orang lain yang mengisi kekosongan hari ini. Let's say the girl who sits in front of me with her own meals is one of God's gift.

Adel menyenangkan. Dia selalu tahu caranya membuat gue tertawa dan yang lebih menyenangkannya kita punya batasan antara satu sama lain. Dia selalu tahu bahwa fast food is the best way to boost my mood. Even the beloved Revina Lana Allezia Wijaya knows it, ia selalu mencoba untuk mengurangi jatah makan fast food gue yang enggak pernah dilakukan oleh Adel.

Fakta selanjutnya adalah dia searah pulang dan seagama dengan gue. Kenapa lo harus sama orang yang jelas beda agama dan rumahnya agak lebih jauh dari rumah lo kalo ada yang jelas di depan mata seperti ini? Oke gue merasa brengsek sekarang.

Tapi jujur semenjak kehadiran Adel, gue udah gak pernah lagi berusaha untuk mendekatkan diri kepada Lana. Kurang brengsek apa sih Gibran Putra Rayya di mata orang orang? Gosip di kantor yang mengatakan bahwa gue dan Adel punya hubungan khusus pun tidak pernah kami bantah sedikitpun. 

Gue selalu mau mengakui Adel sebagai orang yang dekat dengan gue. Di depan semua orang kecuali satu orang yang ada di sampingku saat ini. Tapi herannya dia gak komentar apapun tentang gue dan Adel di saat gue berharap dia akan ngomel ngomel karena bukan dia lagi yang gue antar pulang.

Gue melirik meja dia yang masih penuh dengan tumpukan file ketika gue sudah bersiap untuk pulang. Hari ini gue ada janji untuk makan bareng Tania jam 7 malam. Tapi sebenarnya gue ingin mengajak Lana untuk bertemu Tania karena selama ini mereka hanya saling menitip salam dan bertegur sapa lewat sosial media. Hanya saja...

"Na.. Masih lama?" Sebuah kalimat tanya berhasil membuka percakapan pertama gue dan Revina Lana hari ini.
Tanpa menoleh Lana mengangguk, "pulang aja lo sama Adel."
"Lho? Kok ketus gitu?" Tanya gue keheranan.
"Ya enggak.. Pulang aja. Gue masih lama."
"Gue gak nungguin juga." Sahutku sambil beranjak dari kursiku. "Gue mau balik."
Lana menghela napas, "ya balik lah sana ditungguin Adel tuh."
"Iya emang gue mau balik bareng Adel." Jawabku kesal.
Lana menoleh, "lo ada apaan sih sama Adel?"
"Lho kok masih posesif?"

Pertanyaan gue berhasil membuat Lana berhenti bernapas selama beberapa detik lalu kembali menatap layar laptopnya. Ia terdiam cukup lama dan membuat gue berhasil senyum - senyum sendiri. Girl, kenapa sih lo selalu membuat permainan ini semakin seru? Padahal gue gak niat untuk bikin dia cemburu, tapi..

"Jawab.. Kok masih posesif?"
Lana menggeleng, "gue cuman nanya."
"Emang kalo gue sama Adel kenapa? Seagama ini..."

Lana menoleh dan menatap gue cukup dalam lalu ia berujar, "baguslah semoga lo puas sama dia."

Gue memilih diam lalu berbalik dan meninggalkan ruangan. Entah haruskah gue merasa kesal karena dijutekin melulu atau senang karena tahu cintanya gak pernah habis buat gue. Bahkan meski lo bersikap gak peduli, gue tahu, Na seberapa lo peduli tentang gue. And I found myself relief about it.


***

REVINA LANA ALLEZIA WIJAYA

3 weeks ago...

Percakapan tolol ini berhasil membuat mataku berkaca - kaca. Namun sampai detik detik terakhir pun aku tidak bisa menebak Gibran ingin membawa kami kali ini kemana. Rasanya ingin berhenti mencintai dia; dia, dunianya, hidupnya, cara bicaranya, suaranya, rambutnya, semuanya. Tapi berhenti mencintainya sama dengan memutar waktu dan menghentikan langkahku menuju seminar PR waktu itu. 

Sarah bilang, tidak ada waktu untuk menyesali masa lalu. Yang harusnya aku lakukan adalah jalani masa ini dengan sebaik mungkin selama Gibran masih ada digenggamanku. Namun entah apa yang lebih menyakitkan sekarang; pernah memilikinya atau tidak pernah memilikinya sama sekali?

"Gue rasa Evan orang baik kok. Gakpapa kali Na, coba aja sama Evan.. Dia ke Vihara juga, kan? Mama sama Kokoh pasti senang tahu Dede dapat pasangan seagama. Mama pasti gak pusing lagi. Sudah gakpapa, cobalah buka hati."

"Kenapa sih lo selalu maksain gue buat ketemu orang lain, Gib? Kenapa lo biarin gue ketemu orang lain tapi lo selalu ada di sekitar gue?"

Gibran tersenyum, "karena gak ada kepastian buat kita berdua, Na. Semua masalah yang kita lewatin cuman usaha kita untuk nutupin masalah utama kita. Walau keluarga kamu menerima konsep perbedaan, tapi aku gak akan pernah cocok dengan kultur budaya keluarga kamu. Walau keluargaku menerima kehadiran kamu, tapi kamu gak pergi ke Masjid seperti aku. Itu kenyataannya, Na.. Maka dari itu kita harus selalu siap untuk kehilangan satu sama lain."



Kenapa Tuhan menciptakan perasaan ini jika tidak ada jalan untuk kami?


Koh Gerry benar. Aku tidak boleh terjebak lebih lama lagi.



To be continued...




Bahkan lihat kamu senyum saja
sudah bahagia kok. Semudah itu kan
membahagiakan aku?
"Jangan pernah setengah setengah."

****

YATS COLONY, YOGYAKARTA


Pagi ini ketika gue terbangun, gue sama sekali tidak takut menghadapi 2018. Tidak ada satupun keraguan dan penyesalan untuk melangkah ke hari baru. Padahal di 5 tahun terakhir omongan gue akan selalu sama; "kenapa waktu berlalu dengan begitu cepat?" Tapi tahun ini, walaupun 12 bulan yang gue lewati cenderung terasa seperti 6 bulan yang juga masih terasa dipercepat, dengan bangga gue bisa bilang; "I did my best this year."

Couldn't thank enough for your lessons and blessings this year, ya Allah.

***

2017 BENAR BENAR BRUTAL.

Tahun di mana seorang Rizki Rahmadania Putri berhasil ngegambar alis dan nyatok sendiri. Tahun di mana seorang Rizki Rahmadania Putri berniat move on, nulis Turning Page dan alhamdulillah tembus sekitar 200 kopi (dan coba tanya sekarang, sudah move on belum? Sudahlah). Tahun di mana seorang Rizki Rahmadania Putri berhasil mematahkan omongan orang yang membenci dan meragukan dia, walau dengan drama konyol dan segelintir waktu waktu yang begitu berat untuk ia lewatkan, namun ia berhasil. Tahun di mana seorang Rizki Rahmadania Putri untuk pertama kalinya bisa bilang "it was his loss to not choose me, and it was definitely not mine" setelah bertahun tahun selalu galau dan insecure kalo habis pisah sama cowok dan cowoknya lebih dulu punya cewek baru atau balik ke mantannya.

Tahun di mana seorang Rizki Rahmadania Putri ditampar untuk benar benar menjadi dewasa. Mungkin ia belum sepenuhnya berubah dan ia tidak bisa membahagiakan semua orang. Tapi kini ia mulai menemukan tujuannya hidup di dunia ini. Bukan untuk dicintai orang lain karena berusaha menjadi apa yang mereka mau, namun berusaha memperbaiki diri sebaik mungkin supaya dicintai apa adanya tanpa perlu merasa takut tersaingi atau ditinggalkan.

Gue akhirnya berani memutuskan bahwa apapun yang gue lakukan selama itu gak merugikan orang lain akan terus gue usahakan. Gue gak mau lagi jadi orang yang berubah menjadi pahlawan; mereka yang sok gakpapa kalo disakiti padahal terluka dalam.

Gue sudah memutuskan untuk membahagiakan diri gue.

This is me and I'm proud to be who I am.

***

SCHOOL LIFE

Gila, excellent class. Bercanda kali gue?

Gue gak pernah menyangka bahwa gue bisa dapat nilai "cukup" memuaskan di bangku kuliah. Mungkin karena di LSPR adalah tempat yang gue mau sehingga gue menjalaninya dengan sangat senang. Walau banyak banget kendala yang gue hadapi. Kerja kelompok bareng orang orang dengan latar Agama, Budaya dan lingkungan yang berbeda cukup bikin gue frustasi. Tapi alhamdulillah gue bisa melaluinya.

Kelompok gue berhasil menang Best Presentation untuk PR Project di pertengahan tahun lalu. Dari hampir 100 kelompok, kerja keras gue dan teman teman, gak tidur, gak main, gak pacaran.. Oke gue gak punya pacar, baru banget gue sadar HAHAHA, ternyata bisa terbayar dengan piala Best Presentation. Terima kasih untuk Zuma PR Consultant (Cece Natal, Nicky, Tisha, Peti, Pungki, Revina Lana Tambayong dan Salma) yang sudah bekerja keras untuk semua ini:')

Disusul oleh gue yang dengan begonya telat registrasi kelas pagi, akhirnya gue dapet siang deh untuk jurusan Mass Communication. Gue galau setengah mati, kerjaannya cuman nangis ke Henri. Tapi Henri Putra Jaya, si manusia Chinese yang entah dari mana datangnya bisa selalu membangkitkan hidup gue, nantangin gue untuk bisa dapet kelas unggulan di LSPR. Namanya excellent class. Gue sih pede pede aja bilang, "iya kalo bisa ya Hen.." dan taunya gue dapet! Dan gue mask excellent class! Kelas yang notabene anak anaknya dengan IPK di atas 3,5 :"> Gue gilaaaaaa!

Tapi ternyata gue bisa.. Walau mungkin agak keteteran karena sekarang... Gue... 

Gue diamanahi memimpin London School Radio sekaligus kerja di sana ;)


Ps: Terima kasih untuk segala hal baiknya, Hen. Allah bless you, dut!

***

THE BESTIES

Gue belajar untuk main dengan siapa saja tapi selalu punya tempat pulang terbaik.

Hal yang paling gue syukuri tahun ini adalah kenal sama Natalya Berliani dan berhasil mempertahankan persahabatan kita tanpa berantem kayak anak SMA. Cece jadi teman yang sangat baik untuk gue, gak sekedar teman tapi juga jadi saudara perempuan. Cece yang membuat gue bisa lebih bersyukur atas segala hal yang gue punya karena gue belajar untuk jadi lebih dewasa kalo sama dia.

Selain itu gue juga punya Adelia Karlina a.k.a Dele yang super bawel tapi sekarang berubah jadi dewasa. Dia selalu ada kalo gue butuh bantuan dan temen nonton teater terbaik! Masih banyak teman baik gue lainnya seperti Nicky yang selalu support gue, Serafine yang selalu berusaha gak pernah absen kalo gue minta dia datang ke hari besar gue...

Teman teman kelas gue juga seruu! Teman teman 9A yang jungkir balik kerjain teater Lonely Birds and Shadow Figures bareng bareng hahahaha.. Teman teman Mass Communication 20 excellent.. Teman teman di Kabinet Biru!!:"}

Lalu Allah mempertemukan gue dengan kakak kakak baik. Gue kenal sama Marsha Ramadhani, kakak kakak jutek yang jadi juri audisi saat gue mau masuk choir tapi tahunya sekarang jadi teman dekat. Gue juga dipertemukan dengan Adela Setiawan yang dalam 3 bulan berhasil membantu gue berubah jadi lebih baik. Terima kasih kepada bos besar gue yang menghadiahi Adel untuk hadir ke kehidupa gue:"} Dan masih banyak lagi teman teman seru yang gak bisa gue sebutin satu satu.

OH! Tentu saja gue punya 9 teman baik yang juga partner di kabinetku & Keluarga Gimmick yang merupakan partner kerja gue. Orang orang yang mendukung gue dan mengajarkan gue arti menghargai dan juga menyayangi. Ada CACEPMIKTON yang berisi Jojo (vice president), Yuzy (vice president), Aly (bendahara), Tari kecil (sekretaris),  Didi - Weni - Ellen Cipuy (music director), Anya (producer) dan Fena (creative director). Keluarga Gimmick berisi 4 trainee LSR dan gue sudah bersama Lihin, Lina, Tri dan Didi yang pada masa kontraknya habis akan terus berganti dengan orang baru.

Promise you to share the London School Radio's story setelah kami Gathering ya;)

Dengan teman teman SMA?

Oh well..

Ada beberapa teman SMA gue yang masih berhubungan kok sama gue. Kaya Uti, Shifa, Okky, Ayesha, Fadhel, Silvy...

But then peeps, life gonna be like this. Setiap orang pasti ada masanya.. Gue gak akan bisa memaksa mereka semua ada di ring nomer satu. Akan ada mereka yang pada akhirnya pergi dan datang lagi sesuai masanya..

Tugas gue adalah untuk tetap mendoakan dan berlaku baik.

Karena pada dasarnya gue makhluk sosial yang butuh teman, kan?

Yaaah, semudah itu gue mencoba memagari diri untuk gak baper gara gara ini lagi:p

***

ACHIEVEMENTS


Proudly present to you my 4th book, Turning Page.

Terima kasih kepada semua kelas Introduction to Public Relations, Advertising, Marketing Communication dan juga Promotion yang membuat gue berhasil menerapkannya kepada buku terbaru gue. Terima kasih kepada teman teman yang membeli bukunya dan memasukkannya ke insta story:"} Lalu terima kasih paling banyak untuk Henri Putra Jaya yang jadi editor buku gue! HAHAHAHA gilaaa my lucky year is part of your magic words, Hen!

Oke obrolan gue sama Henri adalah...

"Yang ngedit gue, yang dapet duit - nama - diliput orang - fans kan elu! Kurang baik apa gue?"

Unch, selalu bersyukur punya Henri!

Gue gak pernah nyangka bisa jual sekitar 200 buku dengan cara door to door dan pakai social media.. Rasanya.. LUAR BIASAAAAA:"}

Selain itu untuk pertama kalinya setelah magang jadi produser di Shelter FM, akhirnya gue kerja beneran jadi trainee di London School Radio. Jadi selain diamanahi jabatan sebagai Presiden, gue ditawarin kerja juga dan ini berarti gue kerja untuk LSPR. Terima kasih kepada station manager gue, Babeh Dana untuk segala kebaikan dan bimbingannya:"}

Tahun ini juga gue mulai seriusin nulis cerbung lagi dengan rilisi Overlook. Insya Allah sekitar 20 - 26 episode sih karena ternyata gue gak bisa nulis 10 episode doang yaa. HAHAHAHA.

Alhamdulillah ya Allah, barakallah, terima kasih banyaaak!

***

LOVE LIFE

Tidak banyak yang bisa gue ceritakan...

Ada sih beberapa yang datang tapi most of the time gue menghabiskan waktu gue dengan Bos Besar, cowok yang benteng sama gue itu. Masih dia untuk beberapa lama sampai akhirnya sekarang gue gak sama siapa siapa..

Sekarang gue berhenti insecure dan mencari orang untuk mengisi hati gue. Gue bertekad untuk jadi pintar dan cantik, memperbaiki attitude gue dan juga kebiasaan gue. Gue percaya Allah seadil itu untuk mempertemukan gue dengan orang baik. Yang jelas kalo gue mau orang baik gue juga harus mau berubah jadi baik.

Selama hampir 1,5 tahun Bos Besar menemani gue dan membantu gue berkembang menjadi pribadi yang 180derajat beda dari sebelumnya. Gue sudah melalui fase membenci dia, dibenci dia, pengen bunuh dia, pengen dibunuh dia... Gue udah capek dibandingin sama mantan mantan dia, sama cewek cewek dia.. Gue capek berubah jadi orang lain buat bahagiain dia meanwhile gue selalu terima dia apa adanya. HAHAHA baik banget gak sih gue? Emaaang!

Tapi...

Apapun itu gue bersyukur telah berubah jadi lebih baik, kasih dia yang terbaik dan segala hal baik buat dia. Pokoknya gue gak setengah setengah deh sama dia. Gue percaya hal baik butuh waktu, jadi sambil menunggu kebaikan kebaikan itu berbalik untuk gue....

Gue melepaskan Bos Besar dan semua cowok cowok yang bolak balik mampir ke gue...

Pada saatnya nanti bukan gue lagi yang harus selalu memperjuangkan, tapi gue akan diperjuangkan sama seperti apa yang gue lakukan. Gue percaya itu. But good things take times, kan?

Pertama kalinya dalam hidup gue sebahagia itu cuman lihat orang yang gue sayang berkembang dan sukses -dan itu cuman ke elo doang. Keren banget ya lo! Hahahaha. Anyway...


Terima kasih untuk 2017-nya, Bos Besar.

***

Tahun 2017 gue tinggalkan tanpa kecemasan dan keraguan sedikit pun. Gue yakin setelah perjuangan gue kemarin, ini saatnya gue untuk memanfaatkan semua hal yang gue dapatkan sekarang. Di 2018 saatnya gue menunjukkan bahwa gue mampu bertahan dan berkembang lebih baik lagi. Kali ini bukan lagi untuk menunjukkan sama orang orang yang ngejelekkin gue kalo gue mampu, tapi ini untuk diri gue sendiri, untuk masa depan gue.

Gue akan menjadi 20 tahun dalam 6 hari.

Decisions, decisions...

Saatnya berubah jadi lebih baik.


Dear 2017, terima kasih untuk segala hal manis dan penuh tangisnya. Gue belajar banyak banget dari lo. Dan gue gak akan mengecewakan semua tangis yang sudah kita keluarkan untuk melewat 2017. Happy new year, my Alicers. Yuk yuk semangat! Perjuangan kita untuk jadi lebih baik gak bisa berhenti begitu saja! SEMANGAAAAT!


PS: Maafkan aku yang jarang curhat lagi... Sebentar lagi 8 tahun! Sebentar lagi 10 tahun! Kita pasti bisa berkembaaaang!;3a
10 Surat 19 Tahun: kelima

Banyak hal yang membuat gue bersyukur sekaligus bertanya tanya tahun ini. Apakah gue salah? Apakah seharusnya gue gak usah bertemu dengan dia? Apakah gue seharusnya gak melakukan apa yang waktu itu gue lakukan?

Kalo inget lagi ke masa masa struggle, banyak yang bertanya sama gue "kalo lo bisa mutar ulang waktu, lo akan mengubah semua itu gak?" Sebuah pertanyaan simpel yang sampai hari ini masih gue pikirkan jawabannya..

Kalo gue rubah semua itu, bagaimana gue sekarang?

Anyway dear my Oppo F1s tampaknya aku harus benar benar ganti handphone. Aku sedih menghapus memorinya saja tak mau, apalagi memilih end-chat kepada chat chat lucu itu. Aku akan rindu sekali sama dia dan ingin membuka chat chat itu lagi. Tapi kalo dia hilang karena gak bisa di back up, toh memang tidak bisa diselamatkan, kan?

Lebih baik hilang sekaligus atau hilang namun sebenarnya masih ada harapan?

Karena pada dasarnya apapun itu, yang sifatnya harapan dan berharap tidak akan pernah membahagiakan kecuali ketika kamu menempatkan pengharapan itu kepada Tuhanmu bukan kepada ciptaannya;)


Tertanda,
Titi