SPEAK NOW chapter 14

Chapter 14 ini gue persembahkan buat Bhimo Fadhel Musyaffa! Patner in crime gue yang berulang tahun ke 13 hari ini! Happy 13's day, Fadhel! Hope she'll love you back! Enjoy it guys!
_________________________________________________________________________________

TAYLOR DANIEL LAUTNER’S POV

            Aku menatap layar handphone-ku tanpa berkedip. Difoto itu, ia memelukku dari belakang. Foto ini kami ambil dirumah Demi saat kami kerja kelompok. Aku ingat sekali foto ini diambil tepat setelah 1 bulan aku masuk SMP. Berkali kali aku memikirkan namanya, mengetik namanya tapi tak berani menelfonnya. Aku benar benar merindukannya….


           
            Taylor Alison Swift, sudah berapa lama aku tidak mendengar celotehnya? Aku sadar, Selena membuatku jauh dengan Alice. Selena pindah kesekolah kami dibulan kedua dan aku sadar aku mulai menjauhi Alice dibulan keempat, tepat dihari ulang tahun Selena.

            Dua bulan pertama Selena pindah, aku masih dekat dengan Alice. Lama kelamaan aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Selena, selalu bersama Selena. Selena itu sahabatku yang secara diam diam aku sukai. Tapi aku sadar, Selena tidak pernah menyukaiku.

            Selena hanya datang padaku ketika ia sedih atau ingin bercerita. Sementara ketika ia senang, ia kembali dengan teman teman tenarnya. Sedangkan Alice, walaupun dia tau aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Selena, tapi dia selalu setia menungguku setiap pagi didepan pintu kelas. Selalu mengingatkanku jadwal pelajaran besok. Alice selalu ada untukku. Selalu.

            Tapi, setelah ujian semester kemarin, Alice menjauhiku. Aku sadar, dulu aku yang menjauhinya. Alice… Sepertinya sudah tidak mau lagi duduk bersamaku, tidak bisa lagi bercanda denganku. Apalagi kemarin dikelas, nada bicaranya ketus sekali…

            Andai Alice tau, aku ingin sekali menghabiskan waktu lebih banyak dengannya daripada Selena. Tapi, Selena selalu memaksaku untuk dekat dengannya. Alice tidak pernah begitu. Aku mau Alice yang selalu ada disampingku. Alice selalu mengerti bahwa aku juga butuh bermain dengan teman lain, kalau Selena? Ia hanya mau aku untuknya.

            Aku ingin bersama Alice lagi.. Aku mau bersahabat dekat dengan Alice lagi. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Alice di semester depan. Aku akan menjadi diriku yang dulu lagi! Selalu ada untuk Alice, tidak meninggalkan Alice.  

            Tiba-tiba aku teringat pembicaraanku dengan Selena. Aku masih bingung apakah aku menyukai Alice atau tidak. Alice sangat baik padaku, dan aku juga selalu memerhatikannya diam diam. Aku selalu…. Ingin tau dimana Alice berada.

            Tapi… Ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku dari kemarin. Kenapa aku.. Sakit ketika Nick merangkul Alice? Ketika Edward memanggil ‘adik-adikannya’ dengan sebutan ‘My-Alice’? Ketika aku tau Alice pergi bersama Logan?

            Kenapa? Harusnya aku senang Alice dekat dengan seseorang yang bisa membuatnya melupakan Romeo –mantannya yang dari dulu sangat membekas untuknya. Tapi kenapa aku merasa sakit? Alice kan sahabatku, aku menyayangi dia tapi… Kenapa aku begini?

            Jangan jangan benar kata Selena kalau aku.. Aku benar benar menyukai Alice?!


DEMI LOVATO’S POV

            Dua hari menjelang selesainya liburan semester. Huft, sebentar lagi harus kembali belajar dan bertemu Miss Alix. Miley pasti sekarang sedang beristirahat setelah berlibur di perternakan milik Neneknya. Ashley sedang on the way Indonesia setelah 1 minggu di Thailand. Dan Edward sore ini pulang dari London. Nick dan Joe sedang tur bandnya. Dan Alice… Aku bersama Alice menghabiskan liburan kami dengan membusuk di Jakarta.

            Alice sekarang sedang sibuk dengan Cody Simpson, anak kelas 8I yang 3 minggu lalu menyanyikan lagu untuk Alice dan menyatakan perasaannya. Cowok itu rela menunggu Alice sampai Alice menyukainya. Tapi Alice juga masih menyimpan perasaan untuk Daniel. Ia ingin menyatakan perasaannya melalui lagu kepada Daniel pada hari ulang tahunnya.

            Aku dan Alice sepakat pergi ke Plaza Semanggi untuk makan siang di Burger King lalu pergi ke Plaza Indonesia untuk sekedar mencari cowok cowok bule yang ganteng ganteng. Aku dan Alice sudah berada di taxi ketika jam menunjukan pukul 13.00.

            “Aliceeeeeee, kenapa kita ditakdirkan selalu bersama?” Tanyaku sambil memeluk sahabat karibku itu. Alice melepaskan pelukanku lalu bergeser menjauhiku.
            “Demi! Jangan mempermalukanku di taxi. Aku masih normal.” Kata Alice dengan wajah cemberut. Aku tertawa.
            “Aku kangen Edward eh…” Kataku sambil menatap handphone-ku.
            “Edward juga pasti merindukanmu, Demi…”
            “Kenapa sih Alice mau temenan sama aku dari TK?” Tanyaku tiba-tiba.
            “Lho, kok nanya gitu, Dem? Kau kenapa?” Tanya Alice heran.
            “Aku kan tidak cantik. Pintar juga tidak. Aku tidak seperti kau, Al. Kau cantik, pintar, suaramu bagus. Aku sangat berbeda jauh denganmu..” Jawabku sambil menelan ludah. Alice menatapku lalu memelukku.
            “Demi, ingat lagu milik Selena yang ia nyanyikan pada hari terakhir dikelas musik?”
Tanya Alice sambil tersenyum. Aku mengangguk.
           
            Who says
            Who says you’re not perfect
            Who says you’re not worth it
            Who says you’re the only one that’s hurting
            Trust me
            That’s the price of beauty
            Who says you’re not pretty
            Who says you’re not beautiful
            Who says

            Tiba-tiba aku sadar, kalau Alice bersahabat denganku karena apa adanya aku. Lagu ini benar benar dalem! Aku ingat semua orang bertepuk tangan untuk Selena dikelas musik waktu itu. Alice melepas pelukannya lalu menatapku.
            “Remember the lyrics, Dem?” Tanya Alice sambil tersenyum. Aku mengangguk.
            “Okey, let’s sing with me!” Seru Alice sambil tertawa. Aku menantap Alice lalu mengingat kenangan kenangan kami dari TK…

            Who says you’re not start potential
            Who says you’re not presidential
            Who says you can’t be in movies
            Listen to me, listen to me
            Who says you don’t pass the test
            Who says you can’t be the best
            Who said, who said
            Won’t you tell me who said that
            Yeah, oh, Who says!

            “Aku bersahabat dengan Demi Lovato karena Demi mengerti aku. Menerima aku apa adanya, dan akupun menerimamu apa adanya, Dem. So tell me who says you’re like what you say, ya?” Tanya Alice sambil menatapku. Aku mengangguk lalu menangis menyadari ternyata didunia ini masih ada yang menerima orang apa adanya…


To Be Continued...........


You may also like

4 comments:

  1. nice blog:)
    eniwei, salam kenal yah:D

    ReplyDelete
  2. hihi terima kasih! ;) iyaa salam kenal juga ;)

    ReplyDelete
  3. aku juga pernah ngerasain punya temen kaya si selena itu =..="

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}