SPEAK NOW chapter 19

7 chapter menuju akhir cerita Speak Now! Keep read yaaaaa;) I'm Mario Maurer's {}
_________________________________________________________________________________


TALYOR ALISON SWIFT’S POV

            “Nanti sore jadi kan ke rumahku?” Tanya Demi sambil menatapku dengan tatapan memohon. Aku menggeleng.
            “Please, Al. Aku sangat membutuhkanmu. Miley dan Ashley tidak bisa datang. Please, ini Bahasa Jepang, Al! Rumit!” Pintanya pelan. Aku akhirnya mengangguk lalu tersenyum.
            “Okey, sampai nanti!” Seru Demi sambil berlari ke arah Joe dan Edward di depan pintu Aula. Aku berjalan melewati loker loker angkatan kelas 7 sambil mencari Cody. Kemana ya dia?
            “Aliceeeeeee!” Seru Daniel sambil berlari ke arahku. Aku menoleh lalu tertawa dan meraih tangannya. Ditangan kanannya, ia membawa tas berisi amplop berwarna putih. Kami berjalan sepanjang lorong kelas 8 bergandengan tangan.

            “Aku minggu depan ulang tahun lho.” Kata Daniel pelan.
            “Kau sudah mengulang kalimat itu sebanyak 350 kali hari ini.” Kataku sambil mendengus pelan. Daniel tertawa lalu melepaskan genggamannya dan mengambil sebuah pensil mekanik berwarna campuran cokelat tua & muda dengan patahan di tengah tengahnya. Daniel menyodorkannya padaku. Aku menutup mulutku lalu menatap pensil yang kemarin ia patahkan.

            “Daniel….”
            “Aku semalaman memikirkan cara bagaimana pensil ini bisa menyatu lagi dan akhirnya jadi seperti ini. Tapi tidak sempurna. Maaf ya, Lice..”
            “DANIEEEL! Aku kira ini tidak akan bisa utuh lagi! Terima kasih banyak!” Seruku sambil memeluknya. Ia memelukku lalu mengusap kepalaku.
            “Maaf ya, Lice. Janji deh enggak akan ngerjain lagi.” Kata Daniel sambil tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan.
            “Iya aku maafkan. Tapi, Dan tau tidak?” Tanyaku sambil berjalan lagi. Ia menatapku heran lalu berdiri di depanku.
            “Aku tidak yakin kau akan berhenti mengerjaiku.”
            “Hahaha, tenanglah, Lice. Aku akan berubah. Oh iya, ini special untuk Alice.” Kata Daniel sambil menyodorkan amplop kecil berwarna putih. Aku membukanya lalu menemukan undangan pesta ulang tahun Daniel yang ke 13.

Dear My Special Friends,

Hey guys. Please come to my birthday party on..

Date : Thursday, May 26th 2011.
Place : Café Hampavala, Tebet @ 3rd Floor
Time : 4 p.m

It will be fun if you come. Thank you J

Taylor Daniel Lautner, VIID, #PELHA26
Dress Code : Black&Brown

            “Eum… Black and brown not black and white?” Tanyaku pelan. Daniel mengangguk.
            “Okey, I’ll come.” Kataku pelan.
            “Oh iya, Al.. Hari Kamis kau datang kan?” Tanya Daniel gugup. Aku mendesah. Hari Kamis? Perasaan aku udah bilang deh kalo bakal dateng ke acara ulang tahunnya…
            “Of course.” Kataku pelan.
            “I must go to Library now. I’ll you later.” Kata Daniel sambil mengusap kepalaku lalu pergi. Wait, Hari Kamis yang dia maksud adalah ulang tahunnya kan? Bukan hal lain? Aku ingin sekali memanggil Daniel tapi aku mengurungkan niatku ketika kulihat cowok berjaket biru dan oranye berlari ke arahku. Dia adalah Cody Simpson..
____________________________________________________________________

Thrusday, May 19th 2011

            “Taylor.. Aku mau mendengar lagumu untuk Daniel.” Kata Cody pelan ketika aku dan dia sedang duduk duduk di taman sekolah. Kebetulan hari ini Hari Kamis, banyak eskul yang kegiatannya di tempatkan di Hari Kamis.

            “Ada dua lagu, Enchanted dan I’d Lie..” Kataku pelan.
            “Lagu yang mana yang akan kau nyanyikan di ulang tahun Daniel?”
            “I’d Lie. Oh iya, kau di undang tidak?”
            “Iya, aku di undang. Logan juga. I’ll come. Mau di jemput?” Tanya Cody ramah. Aku mengangguk lalu meraih gitarku dari tangannya.
            “Jadi kau mau mendengar yang mana?” Tanyaku pelan.
            “Enchanted.” Jawabnya yakin. Aku memulai menyanyikan laguku lalu kulihat mata Cody berdecak kagum. Entah karena suaraku atau liriknya, tapi aku lebih yakin karena liriknya. Liriknya dalam sekali.

            This night is sparkling, don’t you let it go
            I’m wonder-struck, blushing all the way home
            I’ll stand forever wondering if you knew
            This night is flawless, don’t you let it go
            I’m wonder-struck, dancing around all alone
            I’ll stand forever wondering if you know
            I was enchanted to meet you

            Please don’t be in love with someone else
            Please don’t have somebody waiting on you

            “Good Job! Liriknya dalem banget, aku suka. Daniel juga pasti suka.” Kata Cody pelan.
            “Terima kasih, Cody.. Kau suka lagu itu?” Tanyaku pelan.
            “Suka sekali. Andai lagu itu untukku..” Kata Cody pelan. Ugh, Cody mulai lagi membuatku bingung lagi.           
            “Cody.. Misalnya, Daniel ternyata.. Tidak menyukaiku. Jika.. Aku… Jadi suka padamu bagaimana? Itu akan membuatmu sakit tidak?” Tanyaku pelan dan hati-hati. Cody menggeleng.
            “Aku sudah bilang padamu bahwa aku akan menunggumu. Entah bagaimana hasil nantinya, aku pasti akan mendapatkan sesuatu yang terbaik untuk hidupku. Dan aku sudah mengambil resiko untuk menjadi pelarianmu. Aku  hanya ingin Taylor menjadi milikku.
           
            “Tapi, aku tidak berniat menjadikanmu pelarian! Sumpah!” Seruku dengan nada meyakinkannya. Ia menganggu pelan.
            “Aku tau kok Taylor tidak seperti itu. Aku tau pasti Taylor suatu saat akan memberikan ruang untukku walaupun hanya sedikit. Aku akan membuat ruang itu membesar dan membesar. Tapi, aku tidak suka kepalsuan. Aku lebih senang Taylor jujur kalau Taylor tidak bisa bersamaku. Aku akan menjauhimu saat itu juga. Aku tidak suka hidup dalam kebohongan. Jadi, katakan iya jika memang iya, dan jangan katakana iya jika hati kamu bilang tidak.” Jelas Cody pelan pelan. Ya Tuhan, betapa baiknya cowok ini!

            “Kalau aku jadian sama Daniel gimana?” Tanyaku pelan.     
            “Aku akan pergi menjauhimu, tidak dekat lagi seperti ini.”
            “Kalau aku bilang suka padamu? Kau akan percaya atau tidak?” Tanyaku lagi. Cody mendesah lalu menatapku dalam dalam.
            “Aku tau kok kapan kau bohong dan kapan kau jujur. Tenang saja. Kalau kau benar menyukaiku, aku pasti tau dan percaya…” Jawab Cody pelan.
            Rasanya aku ingin sekali menangis. Kenapa aku malah begitu menyukai cowok yang jelas jelas tidak menyukaiku dan hanya menganggapku sahabat sementara ada cowok yang baik dan menyayangiku seperti kakakku sendiri?
           
            “Cody?” Panggilku pelan.
            “Iya, Tay? Ada apa?” Tanya Cody. Aku menatap matanya dalam dalam lalu tersenyum.
            “Please don’t be in love with someone else, please don’t have somebody waiting on you.”

__________________________________________________________
           
 TAYLOR DANIEL LAUTNER’S POV

            Sudah hampir 2 jam aku menunggu di Taman Café Hampavala tapi Alice tidak datang juga. Aku memutuskan untuk pergi ke sekolah dan mencari keberadaan Alice. Mungkin saja dia masih ada urusan jadi telat datang dan tidak bisa menghubungiku karena batrai iPhone-nya habis. Mungkin saja kan?

            Aku mencari Alice keseluruh sudut sekolah. Ia tidak di temukan dimana mana. Aku akhirnya berjalan melewati koridor kelas 8 dan menoleh ke kiri, ke arah taman sekolahku. Disana ada Alice dan Cody sedang tertawa sambil bermain gitar.

            Hatiku rasanya tercabik cabik setelah melihat mereka berdua. Alice berjanji akan datang, tetapi kenapa tidak datang? Kenapa Alice malah bersama Cody? Apa dia dan Cody sudah berpacaran? iPhone-ku bergetar lalu kulihat dilayar nama Selena Gomez muncul.

            “Gimana? Kau di terima?” Tanya Selena dengan suara gembira sekaligus penasaran.
            “No. It’s over, Selly.” Kataku lalu menutup telponnya dan  memasukan iPhone-ku ke kantong. Lalu aku berlari ke parkiran motor. Tiba-tiba setetes demi setetes hujan turun. Aku langsung memakai helm-ku dan melajukan motorku secepat mungkin. Kucoba melupakan Alice secepat air hujan yang jatuh membasahi bunga mawar yang kutaruh di tasku tanpa di tutup. Tapi kurasa, aku tidak bisa melupakannya….


To Be Continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}