SPEAK NOW chapter 21

Hati itu memilih dan dipilih. Tapi terkadang, orang yang kita pilih, tidak memilih kita untuk berada dihatinya...

_________________________________________________________________________________


DEMI LOVATO’S POV

            Sudah hampir seminggu semenjak pesta ulang tahun Daniel dan Alice masih saja patah hati. Ia lebih suka duduk di kursi taman bersama gitarnya seperti sekarang. Edward, aku, Selena dan Nick berdiri tidak jauh dari Alice yang sedang menyanyi.

            “Demi.” Bisik seseorang dari belakang. Aku dan Edward menoleh bersamaan lalu melihat seorang cowok tinggi dengan jaket biru oranye dan cowok yang memakai jam tangan merah di sampingnya. Aku tersenyum.
            “Hai Cody, Logan..” Kataku pelan. Selena, Nick dan Edward juga tersenyum pada mereka lalu pergi meninggalkanku.
            “Ada apa ini?” Tanyaku lagi. Cody tersenyum lalu menunjukan seikat mawar merah di tangannya. Logan tertawa kecil.
            “Temanku ini ingin nembak Alice.” Kata Logan sambil tertawa. “Huh, enggak nyangka, mantanku sendiri yang membuat semua mimpi Alice berantakan.” Sambung Logan.
            “Hahahaha iya, Gan. Dy, kau siap?” Tanyaku sambil menatap mata Cody lekat lekat. Cody menatapku, melirik ke Alice lalu mendesah.
            “Justru aku yang takut Taylor tidak siap..”
___________________________________________________
TAYLOR ALISON SWIFT’S POV

            Aku menatap ke sekeliling taman sekolah. Di sini sangat sepi, great. Aku mulai memainkan gitarku dengan lagu yang aku buat tepat 2 jam setelah aku tau Daniel kini memiliki Mackenzie. Beberapa hari belakangan ini, hanya lagu ini yang aku nyanyikan. Aku tau lagu ini sangat pedih, tapi… Hanya ini yang membuatku bertahan. Karena bahkan setelah aku menyanyikan lagu I’d Lie, Daniel tidak berpaling padaku, malahan dia sudah mempunyai pacar.

She can’t see the way your eyes light up when you smile
She’ll never notice how you stop and stare whenever she walks by
And you can’t see me wanting you the way you want her
But you are everything to me

And I just wanna show you
She don’t even know you
She’s never gonna love you like I want to
You just see right through me but if you only knew me
We could be a beautiful miracle unbelievable instead of just invisible

            “Taylor, jangan menangis….” Kata seseorang sambil menghapus air mataku. Ah, Cody. Dia pasti selalu datang untuk menghiburku. Aku tersenyum lalu Cody duduk di sampingku.
            “Tidak kok, hanya….” Cody menatapku lalu tersenyum. “Hanya sedih lagi? Please, berhenti menangisi Daniel…” Kata Cody sambil meraih gitarku. Ia lalu memulai memainkan gitarnya dan bernyanyi. Ya Tuhan, ini kan lagu Jonas Brothers kesukaanku! Please Be Mine!

They come and go but they don't know
That you are my beautiful
I try to come closer with you
But they all say we won't make it through

But I'll be there forever
You will see that it's better
All our hopes and our dreams will come true
I will not disappoint you
I'll be right there for you 'til the end
The end of time
Please be mine

            Cody menaruh gitarku di sisi kiri kursi taman lalu meraih tasnya dan mengeluarkan seikat mawar merah dan berlutut di hadapanku. Aku menutup mulutku tak percaya. Cody benar benar penuh dengan kejutan!

            “Taylor.. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Kau tau? Aku sangat menyukaimu. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Please, beri aku kesempatan lebih banyak untuk bisa menempati ruang di hatimu. Please, percaya padaku, aku tidak akan menyakitimu..” Kata Cody sambil tersenyum. Aku menatapnya tak percaya lalu meraih bunga mawar itu.
            “Apa sih, Cody. Ayo bangun!” Seruku sambil menarik tangannya. Cody bertahan lalu memegang tangan kananku.
            “Tay, please… Aku janji akan berada di sampingmu. Tidak akan meninggalkanmu. Please, aku menyayangimu. Please, kau harus percaya padaku. Setelah semua yang kulakukan untukmu, aku hanya ingin kau menerimaku. Please be mine, Taylor Alison Swift…” Pinta Cody dengan wajah memelas penuh harapan. Aku mendesah.

            Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Hatiku memang menyediakan tempat untuk Cody. Tapi, lebih banyak ruangan untuk Daniel. Kenapa hati ini tidak bisa seutuhnya berpindah pada orang yang jelas jelas menyukaiku? Kenapa dia tetap memilih orang yang tidak pernah sadar bahwa aku menyukainya.

            Mata Cody yang hangat menatapku dengan penuh harap. Aku tidak ingin melukai Cody. Aku bingung, apakah aku harus menerimanya atau tidak. Tapi.. Mungkin dengan bersama Cody semuanya akan jauh lebih baik. Ya Tuhan, semoga apa yang kupilih tak salah.

            “Alice…” Panggil Cody pelan. Alice? Ia tidak pernah memanggilku dengan nama itu.
            “Apa? Alice? Kau tidak pernah tuh memanggilku dengan nama itu.” Kataku sambil memeletkan lidah lalu tertawa. Ia lalu tertawa dan beranjak duduk di sampingku dengan tetap menggenggam tanganku, sekarang bukan tangan kanan lagi, tapi keduanya.
            “Alice, aku akan selalu ada untukmu. Aku takkan membuatmu terluka seperti apa yang Daniel lakukan. Please be mine, Al. Mau ya?” Tanya Cody pelan.
            “Hm.. Aku mau kok, Dy!” Seruku sambil tersenyum lebar. Cody menatapku lalu langsung memelukku erat. Betapa hangatnya berada di pelukan Cody…
            “Thank you, sweetheart…” Kata Cody sambil tertawa bahagia. Kulihat jelas di wajahnya terpancar kebahagiaan seperti mimik wajahku di pesta ulang tahun Daniel saat ia merangkulku di panggung. Ah, Taylor hentikan. Kau sudah menjadi milik Cody Simpson sekarang.
            ‘Tapi, Dy… Berapa lama kau akan bersamaku?” Tanyaku pelan. Cody menatapku heran lalu tesenyum. Ia mendekatkan bibirnya pada keningku lalu menciumku selama 10 detik. Ia tertawa dan menatapku hangat.
           
            “Forever and always.” Katanya pelan sambil memelukku lagi.

_________________________________________________

THE END OF THE SEVEN GRADE

            Semua orang tua murid sudah duduk di bangku milik anaknya masing masing ketika wali kelasku, Mr. Waitler masuk dan memulai acara pembagian rapot. Aku, Demi, Edward, Nick, Miley, Ashley, Joe dan Selena berdiri cemas di depan kelas. Kurasa semester ini pasti Joe menjadi ranking satu lagi.

            Daniel berjalan sambil memainkan iPad-nya ke arah kami. Semuanya tersenyum padanya kecuali aku. Daniel berdiri di sampingku lalu menyikutku pelan.

            “Enggak usah tegang gitu dong. Paling dapet ranking 2 lagi.” Kata Daniel enteng. Aku menatapnya sinis. Edward dan Nick tertawa lalu Ashley menyikut Daniel.
            “Jangan begitu, kasian Alice.” Kata Miley pelan. Daniel menunduk lalu tertawa.
            “Eh iya… Ali sekarang udah punya pacar ya?” Tanya Daniel sambil tersenyum. Semuanya menatapku tapi aku terdiam tak menjawab pertanyaan Daniel. Semenjak kejadian di pesta ulang tahun Daniel, aku tidak pernah lagi menjawab pertanyaan Daniel, kecuali ia bertanya sesuatu yang penting. Daniel menyodorkan iPad-nya padaku.



            “Ini, aku liat di bio Twitter-mu. Jahat ya kau tidak cerita padaku…” Kata Daniel pelan. Aku nyengir lalu berbalik dan mengintip dari pintu kelas untuk mencoba melihat ke papan tulis urutan ranking kelas 7D. Tetapi usahaku sia sia karena Mr. Waitler melihatnya dan menutup pintu kelas kami rapat rapat. Aku melirik Daniel dan mengikat ucapannya tadi. Rasanya sakit sekali Daniel mengatakan itu padaku.

            “Ranking pertama semester ini jatuh pada… TAYLOR ALISON SWIFT!” Seru Mr. Waitler sambil membuka pintu kelasku lebar lebar. Aku berteriak kegirangan lalu memeluk Demi yang ada di sampingku. Aku masuk kelas dan Mr. Waitler merangkulku di depan kelas.
            “Selamat Miss Swift, kau mendapat ranking 1 di kelas 7D dan ranking 1 dari 10 kelas.” Kata Mr. Waitler dengan bangga. Semuanya bertepuk tangan lalu air mataku hampir saja tumpah. Mr. Waitler memberikan bunga padaku lalu aku berjalan menuju Mom dan memberikannya pada Mom. Mom duduk persis di samping Ibunya Daniel.
            “Selamat ya, sayang. Aku bangga padamu, Tay.” Kata Mom sambil mengecup keningku. “Thanks, Mom.” Kataku sambil tersenyum lalu berbalik dan meninggalkan kelas.

            Di luar kelas, Demi, Edward dan yang lainnya langsung memelukku. Tak terkecuali Daniel. Kami langsung berlari ke cafeteria sekolah lalu duduk duduk untuk terakhir kalinya sebelum liburan kenaikan kelas. Nanti saat kami kelas 8, aku tidak akan sekelas dengan murid murid kelas 7D lagi. Kami akan bertemu dan berkumpul lagi saat kelas 9. Hari ini terasa singkat sekali sampai sampai aku tidak sadar, satu persatu dari teman temanku sudah pulang semua. Sisanya tinggal aku dan Daniel.

            Kami berjalan menuju pintu utama sekolah dengan canggung. Daniel lebih banyak diam sekarang. Mungkin ia menyadari bahwa aku tidak akan berkata banyak lagi padanya. Jujur, berjalan di samping Daniel seperti saat ini sudah tidak menyenangkan lagi. Yang ada hanya sakit setiap ingat di bio Twitter-nya bukan namaku yang dia tulis, tetapi nama Mackenzie..

            “Eum.. Alice. Kau mau kemana sekarang?” Tanya Daniel ketika kami sudah sampai di depan pintu utama sekolah.
            “Aku mau ke Café Hampavala bertemu dengan Cody. Kau?” Tanyaku pelan.
            “Aku mau ke rumah Kenzie. Yasudah, sampai ketemu lagi kelas 9..” Kata Daniel sambil memelukku. Aku memeluknya canggung lalu mendesah. Mungkin ini kali terakhir aku memeluknya. Mungkin di kelas 8 nanti kami sudah seperti tidak mengenal satu sama lain.
            “Iya, sampai jumpa..” Kataku pelan. Aku berjalan ke arah kiri sementara Daniel ke kanan. Ku harap Daniel berbalik dan menghampiriku lalu bilang bahwa ia menyukaiku atau 
semacamnya. Tapi ternyata.. Tak ada yang berbalik dan menghampiriku seperti harapanku. 


To Be Continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}