SPEAK NOW chapter 22

Hai semuanya! Lebaran jadinya Rabu ya? labil abis deh pemerintah. Zzzz-___- Okeeey, Speak Now chapter 22 ready to read! Tadinya gue mau ngepost pas tanggal 1, tapi bakal rame di rumah gue dan nyokap ga bakal biarin gue megang laptop kalo lagi rame. So.. This is it! Speak Now chapter 22 by Tipluk Pattinson! Keep read until the end ya:D

_________________________________________________________________________________


EDWARD CULLEN’S POV
May, 2012

            Semua murid kelas 9D sedang asyik mendengar kisah cinta Mrs. Alix di kelas Budi Pekerti ketika Alice menyikut sikuku. Aku menoleh lalu dia hanya tertawa dan menyuruhku mendengarkan kisah Mrs. Alix lagi.

            “Jadi perjalanan cinta Mrs. Alix dan Mr. Waitler sangat panjang ya….” Kata Nick sambil berdecak kagum. Mrs. Alix hanya tersenyum. Mrs. Alix bercerita bahwa dulu, saat SMP ia sangat menyukai Mr. Waitler. Tapi Mr. Waitler tidak tau kalau ia menyukainya. 2 bulan yang lalu, di pernikahan Mr. Waitler, ketika bagian “Speak Now or forever hold your peace”, Mrs. Alix memberitahu kalau selama ini ia mencintai Mr. Waitler. Dan ajaibnya, Mr. Waitler juga sebenarnya mencintai Mrs. Alix. Calon istri Mr. Waitler awalnya kesal dan menangis selama seminggu karena pernikahannya batal. Tetapi ia sadar kalau merelakan Mr. Waitler adalah jalan terbaik. Akhirnya, akhir bulan lalu Mrs. Alix menikah dengan cinta pertamanya.

            “Hampir jam 10, waktunya kalian istirahat. Ayo, saya beri waktu ekstra 10 menit.” Kata Mrs. Alix sambil tersenyum. Semuanya melonjak gembira. Alice yang tadinya bertukar tempat dengan Demi karena mau mendengar cerita Mrs. Alix lebih jelas, langsung kembali ketempat duduknya di samping Daniel.

            Aku, Demi, Joe, Nick, Ashley, Selena dan Miley mengitari meja milik Alice dan Daniel. Di kelas 9 ini, susunan tempat duduknya sama seperti kelas 7. Hanya saja wali kelas kami bukan Mr. Waitler lagi, tapi Mrs. Alix.

            “Ah, leganya sudah di terima di Pelita Harapan lagi…” Kata Ashley sambil memeluk surat pemberitahuan penerimaan siswa baru. Aku mengangguk setuju. Kami bersembilan memang sudah di terima di SMA Pelita Harapan. Kami tidak meneruskan ke SMA lain, karena dari Pelita Harapan, besar kemungkinannya untuk mendapatkan beasiswa ke Amerika.

            “Aku tau kenapa Alice tadi duduk di depan dan sekarang mengeluarkan buku catatannya! Pasti dia mau menulis lagu!” Seru Joe. Nick dan Miley mengangguk bersamaan lalu Daniel melirik ke arah Alice.

            “Tepat sekali. Ia menulis lagu lagi.” Kata Daniel pelan. Alice melirik sinis.
            “Tidak suka?” Tanyanya sinis. Daniel tertawa lalu pura pura takut.
            “Oh, tidak Alice. Sama sekali tidak. Lanjutkan. Tenanglah di alammu!” Seru Daniel sambil berdiri lalu berjalan keluar kelas. Sesekali ia tertawa lalu menggelengkan kepalanya.
            “Mau kemana dia?” Tanya Demi. Selena melongok ke luar kelas lalu mendesah.
            “Kemana lagi kalau tidak bertemu dengan pacar ke dua belasnya. Dasar playboy cap kuda!” Kata Alice sinis lalu berajak pergi membawa buku catatannya.
            “Perasaan kemarin Alice sama Daniel masih biasa biasa saja…”
            “Alice cemburu lagi kali sama Daniel!” Kata Nick sambil tertawa. Alice menatap Nick kesal lalu meninju bahunya.
            “Ih, sembarangan kau!” Seru Alice. “Alice kan 3 Juni ini 2 tahun dengan Cody. Yeaaaay!” Seru Miley sambil tertawa. Alice tersenyum kecil lalu berlari ke arah pintu.
            “Alice mau kemana?” Tanya Ashley. Alice tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu keluar sambil membawa gitar dan buku catatannya.
            “Dia pasti ke taman.” Kata Selena yakin.


SELENA GOMEZ’S POV

            Terlalu banyak hal yang terjadi setelah 2 tahun belakangan ini. Alice tetap bersama Cody. Tidak pernah putus, jarang sekali berantem, awet dan langgeng. Demi masih bersama Edward. Aku kini tidak bersama Justin lagi, beberapa kali aku berganti pasangan sampai akhirnya kini bersama aku Adam, murid kelas 9A. Joe dengan Ashley. Miley dan Nick tetap jomblo. Sementara Daniel.. Keadaannya begitu mengkhawatirkan.

            Tepat di hari jadiannya Cody dan Alice, aku bercerita pada Daniel tentang kenapa Alice tidak datang di hari dimana Daniel ingin mengungkapkan perasaannya. Karena masih kesal dengan tragedi kerusakan pensilnya, Alice langsung menghapus SMS Daniel tanpa membacanya. Otomatis dia tidak tau jika Daniel memintanya datang.

            Dan lagu I’d Lie yang Alice nyanyikan itu, adalah lagu yang ia buat khusus untuk secara tidak langsung menunjukan perasaannya pada Daniel. Waktu itu Daniel yang sedang berdiri tegak tiba tiba jatuh dan mengeluarkan air mata. Aku tau ini sangat menjijikan, tapi aku juga pasti akan menangis bila hal yang sama terjadi padaku.

            Daniel terlalu emosional saat itu. Ia bercerita bahwa setelah melihat Alice sedang bersama Cody, ia langsung pulang ke rumah dalam keadaan hujan dan menelfon Mackenzie. Ia mendekati Mackenzie dan tepat sehari sebelum ulang tahunnya, ia resmi menjadi pacar Mackenzie.

            Setelah mendengar ceritaku, Daniel benar benar terpukul dan berniat untuk memutuskan Mackenzie waktu itu. Tapi aku mencegahnya. Semua yang Daniel lakukan akan sia sia karena sekarang Alice sudah menjadi milik Cody. Dan sejak saat itu, Daniel jadi sering sekali ganti-ganti pacar. Ia bilang itu untuk mencoba melupakan Alice. Padahal kenyataannya, ia sama sekali tidak bisa melupakan Alice sedetikpun.

            Begitupula dengan Alice. Walaupun ia sudah bersama Cody, kenangan kenangan tentang perasaannya untuk Daniel selalu terbayang baying di benaknya. Dan yang membuatku tak percaya adalah Cody dengan sabarnya memberikan waktu untuk Alice menghapus Daniel dari hatinya dan memberi Cody semua ruang di hatinya.
           
            Alice selalu bilang kalau ia hanya terbayang akan perasaannya, tapi sudah tidak mencintai Daniel lagi. Tapi aku, Demi dan Edward tidak percaya. Aku tau, Alice membagi hatinya menjadi 2. Satu bagian untuk Cody dan satu bagian lagi untuk Daniel. Dan aku juga tau, kalau bagian milik Daniel lebih besar daripada milik Cody.

            Bukannya Alice tidak berusaha melupakan Daniel, berkali kali ia sudah mencoba melupakan Daniel dan tidak memperdulikan Daniel tapi tetap tidak bisa. JWajar saja sampai sekarang ia tidak bisa sepenuhnya melupakan Daniel. Melupakan seseorang adalah hal yang tersulit yang pernah ku tau dan aku tidak pernah dapat melakukannya dengan sempurna.       

            Walaupun di kelas 8 Daniel dan Alice berbeda kelas, Daniel selalu main ke kelas Alice. Selalu medekati Alice, selalu mencari perhatian Alice. Daniel selalu bercerita padaku bahwa ia sangat bahagia bisa berada di dekat Alice walaupun hanya menjadi sahabatnya. Demi juga beberapa kali cerita padaku bahwa Alice seringkali berharap bahwa Cody adalah Daniel.

            Setelah masuk kelas 9, Daniel kembali duduk dengan Alice. Ia setiap hari berharap bahwa Alice akan berantem dan putus dengan Cody. Tapi sayangnya Cody orangnya bijaksana, penyabar dan pengertian. Setiap masalah selalu dibicarakan dan tidak pernah berakhir dengan kata putus. Aku sudah kesal mendengar keluhan Daniel masalah Alice dan Cody yang tidak kunjung mengakhiri hubungannya.

            Ingin sekali aku membantu Alice dan Daniel bersatu. Tapi bagaimana caranya? Kisah cinta ini sungguhlah rumit. Aku benar benar ingin melakukan apapun supaya Alice bersama Daniel. Supaya Daniel, sahabat baikku bahagia. Tapi bagaimana dengan Cody? Aku benar benar sudah tidak tahan menyimpan rahasia perasaan Daniel ini sendirian! Harus ada orang lain yang membantuku. Tapi siapa?
            Tiba tiba aku teringat dua pasangan baik yang juga sahabatku. Aku yakin mereka bisa membantuku membujuk Cody untuk meninggalkan Alice! Cody harus tau bahwa di hati Alice ia akan selalu memberikan ruangan paling besar untuk Daniel tempati. Walaupun kisah cinta Cody dan Alice kelihatannya baik baik saja, tapi aslinya kan….

            Mereka harus putus sebelum timbul luka yang lebih menyakitkan lagi! Cody pasti bersedia melakukan apa saja demi kebagaiaan Alice. Aku tersenyum lebar lalu berajak dari tempat tidurku. Meraih handphone-ku lalu melirik ke jam dinding. Jam 4 sore, pasti mereka sedang mengerjakan tugas bersama seperti biasanya. Aku memencet nomer telpon si cowoknya dengan cepat dan langsung menelponnya. Setelah 2 kali nada sambung, akhirnya telpon di angkat dan terdengar suara berat si cowok.

            “Edward? Ini aku, Selena. Aku membutuhkan pertolonganmu dan Demi….. Iya ini benar benar penting… Oke, sekarang? Ya, di Café Hampavala….. Iya... I’ll see you soon. Thanks ya, Edw.” Aku langsung menutup telponnya dan meraih jaketku.

            Aku menuruni tangga dengan terburu buru, memasuki garasi dan mengeluarkan fixie pink-ku. Kulajukan fixie-ku secepat mungkin supaya waktuku tidak terbuang buang. Sebelum makin banyak yang tersakiti. Sebelum Alice makin menangis lagi.

            Aku berdiri di depan rumah berwarna biru tua. Aku memencet bell-nya lalu suara langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu putih itu dibuka lebar lalu keluar seorang cowok pirang dengan celana pendek dan kaos putih polosnya.

            “Hai, Sel. Ada apa?” Tanya Cody dengan suara parau menatapku heran. Aku hanya tersenyum lalu mendorongnya masuk ke dalam rumah.



To be continued.....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}