SPEAK NOW chapter 23

Waktu gue bilang "Speak Now bakal 26 chapters" gue langsung mendadak stress. Mengingat "Kaca Mata Renang Merah" saja terabaikan, bagaimana dengan cerita ini? Sempet juga di chapter 6 gue mau berhentiin nulis Speak Now. Kenapa? Karena cerita ini gue tulis buat Seth Clearwater dan saat itu, tepat di saat gue menulis chapter 6, gue dapet kabar kalo He already taken by someone. Tapi karena kalian semua, terutama Okky dan beberapa manusia lain yang ga bisa gue sebutin satu-satu :p, nagih gue untuk nulis dan nulis, akhirnya gue bersemangat untuk nulis. Makasih semuanya yang udah visit blog gue dan baca ceritanya. Makasih buat semuanya yang selalu semangatin gue. Mungkin tanpa kalian dan Seth Clearwater, cerita FF ini enggak bakal pernah ada di blog gue.

This is it! Speak Now chapter 23 by Tipluk Pattinson!

DEMI LOVATO’S POV

            “ALICE MASIH SUKA SAMA DANIEL DAN DANIEL SELAMA INI SUKA SAMA ALICE?!” Seruku, Edward dan Cody bersamaan. Selena mengangguk pelan sambil terus menatap lantai. Aku meremas tangan Edward sambil terus menarik nafas. Jadi selama ini, cowok yang sahabatku suka juga menyukainya?!

            “Maaf aku baru menceritakannya. Aku harus menjaga rahasia ini. Tapi aku sudah tidak tahan dan aku juga kasihan pada Alice, Daniel juga kau, Cody….” Kata Selena lirih.
            “Tapi kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! Jadi selama ini… Semua usahaku untuk merebut hati Alice…” Cody menunduk kecewa. Suaranya mulai bergetar dan aku tau ia sama kagetnya denganku. Semuanya terdiam dan menatap lantai. Aku benar benar tidak menyangka sebenarnya Daniel juga menyukai Alice.

            “Tinggalkan Alice, Dy. Demi kebaikanmu, Alice dan Daniel..” Kata Edward tiba-tiba memecahkan keheningan.
            “APA?! Enggak, Edw! Aku enggak akan pernah ninggalin dia!” Bentak Cody.
            “Dy! Please pikirin! Kalo kamu tetep stay sama dia, yang ada cuman kepura-puraan.. Alice sayang banget sama kamu, tapi aku juga ngerasa kalo di hati dia lebih banyak tempat yang dia kasih buat Daniel. Please….” Kataku pelan. Edward tiba tiba menggenggam tanganku lalu menatapku. Tatapannya seakan akan berkata “Tenang Demi, tenang..”. Semuanya terdiam, menatap ke bawah dengan tatapan kaget. Terlihat sekali Cody shock, iya, aku mengerti perasaannya. 2 tahun ia berpacaran dengan Alice.

            “Aku sayang banget sama Alice. Aku ngerasa kok dia masih ada rasa sama Daniel dan aku maklumi itu. Dari semua cerita Alice soal Daniel, aku bisa merasa kalau perasaannya kepada Daniel sangat sangat membekas di hatinya. Aku enggak pernah keberatan kalo di hati Alice, dia masih menyimpan ruangan untuk Daniel. Tapi aku kira ruangan yang Alice simpan buat Daniel itu ruangan kecil, lebih kecil daripada ruangan yang Alice kasih buat aku. Aku ngerti, Alice akan lebih bahagia bersama orang yang lebih dia cintai. Tapi aku enggak mau kehilangan Alice…”

            “Dy, kamu sayang sama Alice kan? Kamu mau Alice bahagia kan?” Tanya Edward pelan. Cody mengangguk pelan sambil menghela nafas.
            “Kalo gitu, kamu enggak boleh gini. Cinta enggak egois, Dy…”
            “Dan cinta senang melihat orang yang dia cintai bahagia…” Tambah Selena.
            “Alice milikku. Aku tidak akan pernah menyerahkannya pada siapapun!” Seru Cody sambil menggebrak meja. Aku berdiri menghela nafas lalu menggeleng kepala.
            “CODY SIMPSON! Aku kira kamu adalah orang yang bijaksana dan dewasa! Aku kira kamu bisa berfikir jernih dan enggak mementingkan kepentingan kamu sendiri! Dy, sadar! Alice lebih mencintai Daniel, dan sekarang udah jelas Daniel juga suka sama dia! Kalo kamu lepasin dia, kamu bisa dapet orang yang ngasih seluruh ruangan dihatinya buat kamu! Cody, Alice sayang sama kamu, tapi dia lebih sayang sama Daniel. Please…” Cecarku dengan suara bergetar. Edward menepuk pundakku lalu mengajakku duduk lagi. Kulihat wajah Cody benar benar shock.

            “Sel, makasih udah ngasih tau semua ini. Tapi, aku enggak bakal ngelepasin Alice sampai aku tau kebenarannya dari mulut Alice. I’m off, bye.” Kata Cody sambil berbalik lalu meninggalkan Café Hampavala. Aku mendesah.
            “Aku enggak tau gimana jadinya. Tapi percayalah, Alice akan bersedih dan merasa benar benar bersalah. Tapi ia juga akan senang kalau Cody memberitahunya kalau Daniel menyukainya juga….” Kata Edward pelan. Selena tersentak.

            “KALAU CODY BILANG PADA ALICE, BISA GAWAT!” Serunya sambil beranjak bangun dari kursinya. Aku berdiri lalu menarik tangan Selena.
            “Jangan kejar Cody. Ia tidak akan bilang apapun pada Alice. Percaya padaku.”


CODY SIMPSON’S POV

            Setelah pertemuanku dengan Selena, Demi dan Edward, aku berfikir keras. Aku sempat beberapa kali meneteskan air mata sambil memandang wajah Alice. Alice yang aku percaya, ternyata…. Ah, semuanya bukan salah Alice! Ini salahku kenapa memperbolehkannya menyediakan sedikit ruang untuk Daniel padahal ia sudak menjadi pacarku.

            Aku benar benar kesal pada Alice, juga pada diriku sendiri. Kenapa orang sebaik Alice bisa melakukan semua itu? Menyediakan ruang terbesar dihatinya untuk cowok lain bukan untuk kekasihnya? Kenapa aku bisa lalai sampai Alice seperti itu?

            Ini salah Alice. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Alice. Aku menyayanginya. Mungkin benar apa kata Demi, aku akan bahagia jika aku melepaskan Alice. Ah sudahlah, aku tidak tau siapa yang sebenarnya salah. Semua ini membuatku terbunuh perlahan lahan.

            Aku sudah menyusun banyak rencana untuk hari ini. Aku akan pergi bersama Alice. Entah ini adalah hari terakhirku pergi menyusuri kota bersamanya atau aku akan terus melakukannya. Ini semua tergantung dari hasil rencanaku, apakah hasilnya baik atau buruk.

            Alice melambaikan tangannya padaku lalu aku tersenyum dan berlari ke arahnya. Ia langsung meraih tanganku lalu tertawa kecil. Kami pergi berjalan kaki mengitari Grand Indonesia selama hampir 2 jam lalu berhenti untuk duduk duduk di Dairy Queen. Alice mulai bercerita tentang Daniel. Aku menghela nafas lalu mulai meyakinkan diri untuk melaksanakan rencanaku. Ya Tuhan, semoga hasilnya baik bagiku…

            “Alice, aku mau nanya.” Kataku pelan. Alice melahap ice cream-nya lalu menoleh.
            “Mau nanya apa, Dy?” Tanya Alice sambil membetulkan posisi duduknya.
            “Apa perasaan kamu sama aku?” Tanyaku pelan. Alice tertawa kecil.
            “Sayang?” Tanyanya pelan.
            “Aku enggak ngerti nada bicara kamu. Ini pertanyaan atau kalimat?” Tanyaku heran. Ia tertawa lagi. “Sayang. Aku sayang sama Cody Simpson.” Katanya sambil tersenyum lebar.
            “Cuman sayang?” Tanyaku. Ia menatapku aneh.
            “Hey, ada apa sih sebenarnya?” Tanyanya.
            “Jawab saja. Please sweetheart?” Pintaku. Ia tersenyum lalu menggeleng.
            “Ngegambarin lebih dari sayang itu pake kata apa ya?” Tanyanya pelan. Aku tertawa. Ya Al, aku juga ‘lebih dari sayang’ sama kamu.
            “Oh iya, Dy! Aku punya lagu baru. Mau denger enggak?” Tanya Alice. Aku mengangguk lalu tersenyum kecil.
            “Tapi bagian ini aja ya….” Katanya sambil tersenyum lalu memulai menyanyi.

I hear the preacher say
"Speak now or forever hold your peace"
There's the silence, there's my last chance
I stand up with shaking hands all eyes on me

Horrified looks from everyone in the room
But I'm only looking at you.

I am not the kind of girl who should be rudely barging in on a white veil occasion
But you are not the kind of boy who should be marrying the wrong girl!

            “Alice, aku suka banget! Ini pasti dari ceritanya Mrs. Alix ya?” Tanyaku sambil tertawa.
            “Iya! Kamu suka? Bagus deh, aku bakal nyanyi lagu ini di Prom Night nanti. Kamu datang kan?” Tanya Alice pelan. Aku mengangguk.
            “Pasti. Aku suka bagian ‘Speak Now or forever hold your peace’…” Kataku sambil tertawa. Tiba-tiba Alice terdiam, lalu menangguk.
            “Iya, aku juga suka…” Katanya lirih. Aku hanya tersenyum lalu melanjutkan rencanaku lagi. Kalau hasilnya baik, aku akan tetap bersama Alice. Kalau buruk….
            “Kamu menganggap aku apa?” Tanyaku pelan.
            “Pertanyaan bodoh. Tentu saja kamu adalah pacarku. Pacar terbaik yang pernah ada di dunia! Pacar yang menerimaku apa adanya. Pacar yang membuatku nyaman di sampingnya. Pacar yang selalu mengerti, selalu mengajari. Pacar yang selalu ada untukku. Pacar yang tidak pernah melirik cewek lain, ya kau tau jelas maksudku. Selama kita pacaran kamu tidak pernah kan suka sama cewek lain? Pacar yang sudah seperti kakakku sendiri. Pacar yang rela membiarkanku menyimpan sedikit ruang hatiku untuk… Daniel….”

            Jujur, ketika Alice mengucapkan nama ‘Daniel’ aku tersentak kaget. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk. Aku bukan pacar terbaik untuk Alice. Yang terbaik adalah Daniel. Iya, dia harus bersama Daniel. Aku tau, ketika Alice bilang sedikit ruang hati, itu bukan sedikit. Ada penekanan nada yang hanya aku yang bisa mengetahui artinya. Aku tau kapan Alice bohong dan kapan dia jujur. Dan sekarang dia bohong. Aku tau, ruang terbesar di hatinya tidak pernah bisa aku masuki. Tapi Daniel bisa dan Daniel menempatinya sekarang.
            Mungkin dulu Daniel hanya memiliki ruangan kecil, tapi semakin lama ruangan itu Alice rasa terlalu sempit untuk menampung perasaannya terhadap Daniel. Ia membesarkannya, membesarkannya dan membesarkannya sampai saat ini.

            “Kau bahagia denganku?” Tanyaku pelan. Alice berfikir sebentar lalu mengangguk.
            “Iya.. Aku bahagia…”
            “Tidakkah ada cowok yang kamu inginkan menjadi orang yang ada di posisiku?” Tanyaku dengan nada sedikit membentak. Jelas, aku tidak sabar. Alice terdiam lama tapi akhirnya ia menggeleng. Tapi aku bisa lihat jelas, matanya berkata iya.

            “Jika kamu harus memilih… Kamu akan memilih aku, atau Daniel?” Tanyaku. Alice tersentak. Matanya berkaca kaca.
            “Tidak bisa. Ini pilihan sulit, kau tau itu!” Seru Alice.
            “Please Alice jawab saja!”
            “Tidak! Ini sulit!” Seru Alice. Huh, bilang saja kau ingin menjawab Daniel kan?! Aku mulai emosi, aku meraih air mineralku dan menegaknya seperti orang kesetanan. Keheningan melanda kami berdua. Alice menarik nafas lalu menghapus air matanya.

            “Mungkin, aku akan milih… Daniel.”
           
            Hatiku hancur seketika. Tak bisa disatukan walaupun dengan lem tercanggih di dunia. Cewek yang aku cintai setengah mati, sudah 2 tahun bersamaku, lebih memilih orang lain daripada aku? Ini tidak benar! Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini! Aku harus melepaskan Alice secepatnya!

            Alice akan semakin tersiksa dengan perasaannya dan akupun akan terluka. Begitu juga Daniel. Aku bisa saja tetap bersama Alice tapi.. Aku tidak mau egois! Rencanaku gagal dan sesuai dengan apa yang sudah aku rencanakan, aku akan meninggalkan Alice dan membuatnya bersama Daniel dengan caraku.

            Alice mungkin memang menyayangiku, tapi sayangnya mungkin sebagai kakak. Alice mungkin mencintaiku, tapi cintanya teramat besar untuk Daniel dan aku tidak bisa meraihnya. Aku sudah mencobanya, tapi aku malah melakukan hal yang bodoh. Membiarkannya menyimpan sedikit ruang untuk Daniel. Huh, kau menghancurkan hatimu sendiri!

            Aku harus kuat. Aku mungkin akan sakit sekali sekarang, tapi aku akan jauh lebih bahagia jika melihat Alice bahagia, bukan pura pura bahagia. Dia bahagia denganku tapi akan lebih bahagia dengan Daniel! Aku berajak bangun dari kursiku lalu Alice tertunduk dan menangis. Aku memeluknya dari belakang.

            “Daniel? Oh. Aku mengerti. Terima kasih banyak Alice, aku sangat sangat menyayangimu. Mencintaimu. Jika ada kata yang bisa menggambarkan ‘lebih dari sayang’ , beri tahu aku ya?” Tanyaku sambil mengecup pipinya lalu beranjak keluar dari Dairy Queen.



To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}