If This Was a Movie chapter 4

Friday, December 16th 2011. HFA 3 years. Remember me?

***

Cerita sebelumnya....
               Greyson tahu, seorang Maddi Jane takkan menyukainya. Ia sadar betul bahwa dirinya bukanlah tipe cowok Maddi. Grey juga sadar bahwa Maddi menyukai Adam. Setelah seminggu ia duduk dengan Maddi, memang ia menjadi dekat dengan Maddi, tapi ia sering memergoki Maddi sedang menatap sendu ke arah Adam. Grey tahu pasti, Maddi merindukan Adam.
                Ia ingin sekali menukarkan tempat duduknya dengan Adam. Ia tidak ingin melihat gadis bermata cokelat itu tersiksa duduk dengannya. Grey bisa merasakan Maddi tidak ingin Adam duduk bersama Mackenzie. Grey tahu cara bicara Maddi yang terlewat cemburu ketika Grey menyinggung tentang Adam dan Mackenzie. Grey menatap layar iPhone-nya. Foto gadis itu terpampang jelas menjadi wallpaper iPhone-nya.


                Foto seorang gadis yang setiap malam Grey pikirkan setelah ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Tiffany Alvord. Foto yang ia ambil dari Facebook dua minggu yang lalu. Foto seorang gadis yang membuatnya bersemangat ke sekolah setiap harinya. Itu Maddi Jane dengan jaket cokelatnya dan rambut cokelatnya di ikat. Maddi Jane dengan mata cokelat yang menawan hati Grey. Maddi Jane yang cantik.
                 Maddi selalu meminta untuk meminjam handphone Grey, tapi tidak pernah Grey perbolehkan. Tentu saja karena di handphone Grey tersimpan banyak sekali foto Maddi.
                Grey merasa bodoh menyimpan foto orang yang tidak akan menjadi kekasihnya. Tapi ia memang menyukai Maddi sepenuh hati. Bahkan rasa sukanya bertambah setelah genap satu bulan Grey dan Maddi menjadi teman sebangku.
                Grey tidak ingin Maddi tahu bahwa ia menyukai Maddi. Tapi terkadang ia juga ingin Maddi berhenti membicarakan Adam didepannya. Tapi Grey tidak bisa melakukan itu.
                Maddi tiba-tiba berlari dari arah pintu kelas ke mejanya dan menghentakan tangannya beberapa kali didepan Grey. Grey tersentak kaget, lamunannya buyar seketika. Ia melihat ke kanan kiri tidak ada siapa siapa. Grey baru sadar kelas dalam keadaan kosong. Pasti yang lain sudah ke Kafetaria
                “Maddi! Ada apa sih?” tanya Grey sambil melepas earphone-nya. Maddi tersenyum sumeringah sambil menenteng kotak CD berwarna biru.
                “Guess what? My first cover ready to watch on YouTube, Greyson!” seru Maddi girang. Grey langsung tertawa sambil meraih CD yang ada di tangan Maddi. Maddi memang pernah bercerita padanya bahwa ia akan membuat video covering lagu yang akan di unggah di YouTube.
                “Ah, Maddi! Congrats!” seru Grey sambil menatap Maddi. Maddi tersenyum lalu duduk di samping Grey. “Thanks, Grey. For being my spirit when I lost it.” kata Maddi sambil tertawa.
                Lost it. It… Him.. Adam… Not me.. batin Grey menggalau. Ia langsung memasukan CD yang tadi Maddi bawa kedalam CD-Room MacBook-nya. “Adam sudah tahu, belum?”  tanya Grey sambil sibuk dengan MacBook-nya. Hari ini Adam memang tidak masuk sekolah, tapi Grey berfikir pasti Maddi sudah memberi tahu Adam lewat SMS atau telpon.
                Tapi ia salah, Maddi menggeleng. “Not yet. You’re the first one, Grey.” kata Maddi sambil tertawa. Grey terdiam. Ia yakin wajahnya memerah. I’m the first one?  tanya Grey berulang ulang dalam hatinya. Grey lalu tersenyum. “Terima kasih, aku merasa tersanjung.”
                “Hahahaha, iya sama-sama.”
                “Apa judul lagunya?” tanya Grey sambil mengklik iTunes. Ia memang lebih suka membuka video di iTunes. “Just The Way You Are, Bruno Mars.”
                “Huh? It’s my favorite song, Madd!”
                “Aaaah! Lucky you to be the first one watching my video.”
                “Memangnya kau belum nonton videomu sendiri?”
                “Belum. Aku mau nonton sama kamu…” kata Maddi pelan. Grey terdiam lagi. Ia yakin wajahnya makin memerah. “… atau Adam.” lanjut Maddi. Tanpa Grey sadari, ia menarik nafas kecewa.
                “Madd, it’s ready to watch!”
                “Harusnya aku yang bilang seperti itu. Selamat menonton!” seru Maddi sambil tersenyum. Grey membetulkan posisi duduknya. Layar MacBook Grey dipenuhi oleh Maddi. Grey tresentak mendengar suara Maddi yang begitu halus dan seperti meresap ketubuhnya. Ia juga kaget melihat baju yang Maddi pakai di video itu sama dengan foto yang Grey ambil di Facebook Maddi.
                Maddi menyanyikan Just The Way You Are dengan sepenuh hati. Grey berharap cowok yang bermain keyboard di video itu adalah dia. Ia berpikir betapa beruntungnya jika mempunyai kekasih seperti Maddi. Jika di dunia ada manusia yang sempurna, pasti itulah Maddi. Maddi cantik, baik, pintar, pandai menyanyi dan tidak sombong. Kurang apa lagi untuk disebut sempurna?
                “Maddi! Ini keren! Kau berhasil!” seru Grey sambil tertawa.
                “Hahahaha terima kasih, Grey.”
                “Kapan akan di unggah di YouTube?”
                “Siang ini… Nanti aku mau membuat video yang baru.”
                “Mau menyanyikan lagu apa lagi?”
                “Eum… Again. Kau tau lagu itu?” tanya Maddi sambil tersenyum. Grey menarik nafas. Ah, lagu itu kan.. Grey teringat pada Tiffany. Tiffany juga senang menyanyi dan ia juga sering mengunduh videonya di YouTube. Tiffany pernah menyanyikan lagu Again untuk Grey setelah 2 hari mereka putus.
                “Itu lagu patah hati. Pasti kau teringat pada Tiffany.” kata Maddi sambil tertawa.
                “Maddi tau dari mana?” tanya Grey heran. Maddi tertawa lagi sambil sibuk memainkan MacBook milih Grey.
                “I know you so well, Grey.” katanya pelan. Grey hanya tersenyum kecil. Maddi yang tadinya sedang bersenandung tiba-tiba ia terdiam lalu mendesah.
                “Grey…” panggil Maddi. Grey yang sedang membalas pesan di iPhone-nya lalu menoleh.
                “Iya, Maddi?”
                “Kenapa….. ada fotoku?” tanya Maddi pelan. Grey tersentak lagi. Sial, aku harus jawab apa? Batin Grey menggerutu. Foto Maddi memang hanya ada satu, tapi bagaimana Grey menjelaskannya?



                Foto itu hampir mirip dengan foto yang Grey pakai menjadi wallpaper iPhone-nya. Hanya saja disana Maddi berubah pose. Grey menelan ludahnya.
                “Eum.. Kemarin aku buka Facebook dan kau mengunduh foto foto pemotretan untuk video ini kan? Nah, karena yang ini paling jelek jadi aku download…” kata Grey sambil tertawa canggung. Maddi menatap Grey kesal lalu memukul bahunya berkali kali.
                “Sialan! Hapus!” seru Maddi.
                “No, Maddi. Untuk pengusir tikus di rumah!” seru Grey sambil menjulurkan lidahnya. Maddi memukul bahu Grey lagi.
                “Bohong! Pasti ngefans sama Maddi, kan?” tanya Maddi dengan gaya khasnya. Grey tertawa.
                “Tidaklah, mana mungkin aku ngefans denganmu, Madd!”
                “Mungkin saja!” seru Maddi sambil tersenyum malu-malu. Sejujurnya, Maddi merasa senang mengetahui ada fotonya di MacBook Grey. Tidak ada foto cewek lain termasuk Tiffany –mantan Grey, di MacBook-nya. Ia tidak ingin Grey menghapus fotonya. Tapi belakangan, ia memutar otaknya untuk menemukan alasan dari perasaannya sekarang. Untuk apa dia merasa senang seperti ini?


To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}