If This Was a Movie chapter 6

You need to know that... I'm in love with you, Grey.

***
Cerita sebelumnya....


Adam mengelilingi kamarnya beberapa kali semenjak ia pulang sekolah sambil meremas iPhone berwarna putih di genggamannya. Ia merasa bodoh, sangat sangat bodoh. Padahal langkahnya untuk mendapatkan Mackenzie tinggal selangkah lagi, tapi kenapa perasaannya pada Maddi muncul kembali?
                “Adam?” suara seorang perempuan mengisi koridor di lantai satu rumah Adam. Perempuan itu menaiki tangga sambil terus memanggil nama Adam tapi Adam tidak menyahut. Ia masih meremas iPhone-nya di depan jendela sambil menerawang jauh.
                “Adam?” panggil perempuan itu sambil mengetuk pintu kamar Adam. Adam menghela nafas.
                “Come in, Megan.” jawab Adam sambil terduduk di pinggir ranjangnya. Megan membuka pintu kamar Adam terburu buru lalu mendapati kamar sahabatnya itu seperti kapal pecah. Entah apa yang telah Adam lakukan setelah pulang sekolah tadi sehingga kamarnya sangat berantakan seperti sekarang.
                Megan berjalan mendekati Adam sambil melihat ke kanan kiri dan menggeleng. “Kamarmu benar benar kacau, Dam.” kata Megan sambil duduk di sofa biru milik Adam yang berada di bawah jendela dan di samping tempat tidur Adam.
                “Iya, kacau seperti pemiliknya.” kata Adam lirih. Megan menghela nafas lalu memandang wajah Adam. “Maddi sudah cerita padaku dan aku rasa itu wajar.” kata Megan pelan.
                “Yang tidak wajar itu aku.”
                “Dam, kau tidak bisa menyalahkan dirimu. Perasaan datang kapan saja, tidak ada yang bisa menghindarinya. Meskipun kau sempat lupa pada Maddi dan menyukai Mackenzie, tapi jika hatimu sekarang terasa sakit ketika mendengar Maddi menyukai Grey, kau tidak bisa menyalahkan siapa pun, Dam. Rasa sakit itu wajar karena kau masih menyimpan hati pada Maddi.”
                “Aku yang salah, Gan. Kenapa aku membuatnya berpisah denganku? Kenapa aku malah mendekati Mackenzie bukannya Maddi?”
                “Tidak ada yang salah, Adam. Tidak ada.”
                “Aku memang menyukai Mackenzie, Gan –kau tahu benar aku dari awal memang mengincar Mackenzie. Tapi aku juga tidak bisa bohong, hatiku masih menyukai Maddi. Andai saja Maddi bukan sahabatku, aku ingin Maddi menjadi pacarku..”
                “Adam…”
                “Megan, aku tidak mau jika aku berpacaran dengannya persahabatan kita berempat jadi kacau, lalu ketika kami putus, Maddi menjauhiku. Itu sebabnya aku tidak mau mendekatinya. Tapi Megan, aku sakit sekarang. Aku merasa benar benar bodoh. Dulu waktu aku menyukainya, kenapa tidak aku minta dia untuk menjadi pacarku? Padahal keadaannya waktu itu dia sedang tidak suka dengan siapapun. Mungkin saja dia bisa jadi pacarku kan? Megan aku bodoh!”
                “Adam, please. Berfikirlah secara rasional. Mackenzie anak baik dan dia juga menyukaimu. Sedangkan Maddi? Kau kan belum tau apakah nantinya Maddi bisa menjadi pacarmu atau tidak. Sekarang saja dia menyukai Greyson. Please, Dam. Berfikirlah.”
                “Gan… Tapi aku menyukai Maddi…”
                “Tapi kau juga menyukai Mackenzie dan Mackenzie juga menyukaimu. Ia sekarang menunggumu, Adam. Jika kau meninggalkannya itu sama saja kau menyakitinya..”
                “Tapi, Megan…..”
                “Adam, sudahlah. Kau harus menerima kenyataan bahwa Maddi menyukai Grey dan Grey juga menyukai Maddi…” kata Megan pelan. Adam langsung menatap Megan kaget lalu Megan menutup mulutnya secara tiba-tiba. Bodoh, Megan! Kenapa kau katakan itu pada Adam?!
                “Apa kau bilang? Grey juga menyukai Maddi?”
                “Adam, please keep this secret!”
                “Jadi.. Cepat atau lambat… Mereka akan….”
                “Adam.. Please, jangan seperti ini…”
                Adam menggeleng tak percaya. Ternyata dia benar benar tidak ada harapan lagi. Adam sempat berfikir, mungkin dia bisa melupakan Mackenzie lalu mendekati Maddi, toh Maddi juga baru menyukai Grey. Mungkin saja dia juga bisa menyukai Adam.
                “Megan?” panggil Adam lirih.
                “Iya, Dam?” sahut Megan ketakutan.
                “Mereka.. Akan… Menjadi… Pasangan, ya?”
                “Mungkin, Dam.”
                “Megan….”
                “Iya, Dam?”
                “Apa aku benar benar tidak ada harapan lagi?” tanya Adam dengan suara sedikit tercekik sambil menatap Megan. Megan terdiam lalu memeluk sahabatnya.
                “Adam, you’ll find another love Dam and maybe She’ll better than Maddi. Trust me.”
                “I’m not sure.”
                “Adam… Jangan begini. Jangan mempersulit keadaan.  Kau harus bisa merelakan orang yang kau cintai Dam. Lagi pula sekarang keadaannya ada Mackenzie –gadis itu benar benar menyayangimu Dam. Apa kau tidak menyayanginya?”
                “Jangan bercanda, aku menyayangi Mackenzie-sangat menyayanginya. Tapi aku tidak bisa melihat orang yang aku suka dari dulu menyukai orang lain. Orang yang selalu aku idam idamkan malah bersama orang lain. Kau tau kan bagaimana rasanya? Ini rumit, Gan. Aku bingung.”
                “Adam, kau tau? Cinta bahagia melihat orang yang dia cintai bahagia.”
                “I know, Gan. But She need to know that… I’m in love with her.” kata Adam lirih. Megan hanya terdiam lalu menatap mata Adam dalam dalam. Megan adalah tempat dari segala curhaan hati Adam. Ia tahu betul betapa Adam menyukai Maddi sejak pandangan pertama.
                Megan juga masih ingat betapa senangnya Adam mengetahui bahwa kelasnya sama dengan Maddi. Megan, Adam, Maddi dan Cameron bersahabat sejak awal bangku SMA sampai sekarang ketika mereka naik kelas 2. Sewaktu kelas 1 mereka berada di kelas 1-7 dan sekarang mereka berada di 2-IPA 1.  
                Adam menyukai Maddi tapi ia tidak berani mendekati Maddi. Mereka berdua memang sangat akrab dan selalu ada tatapan yang berbeda setiap kali mata mereka bertemu. Megan yakin, Maddi juga menyimpan perasaan pada Adam.
                Adam mulai berhenti menyukai Maddi semenjak ia memperhatikan Mackenzie Foy. Mulai saat itu Adam dan Maddi mulai menjauh. Megan sendiri bisa merasakan ada perubahan sikap Adam pada Maddi dan sebaliknya. Adam yang biasanya sangat perhatian pada Maddi, sekarang berubah. Maddi pun menjadi sering murung ketika melihat Adam bersama Mackenzie.
                Sejak saat itu, Megan yakin baik Adam maupun Maddi sudah lupa dengan perasaan mereka sau sama lain. Tapi ia tidak pernah menyangka kalau ternyata perasaan Adam mulai muncul lagi ketika ia sedang dalam detik detik jadian dengan Mackenzie dan Maddi yang sudah dekat dengan Grey.
                “Apa yang kau pikirkan, Gan?” tanya Adam. Lamunan Megan buyar seketika.
                “Your love life. Complicated. Astaga. Aku. Bingung. Sendiri.” jawab Megan dengan jeda setiap katanya. Nada suara Megan yang terdengar kelelahan membuat Adam tertawa.  
                “Ya, I know it, Quinka.” kata Adam di sela sela tawanya.

***

                Maddi dan Vald adalah dua orang sahabat yang siap membuat berisik sekitarnya ketika mereka berdua bertemu. Mereka sama sama gadis yang sedang dalam masa pubertasi, ceria, cerewet dan sering tenggelam dalam dunianya sendiri.
                Vald pernah bercerita pada Maddi bahwa ia menyukai seorang anak di kelas Maddi, namanya Greyson. Pada saat itu Maddi tidak terlalu dekat dengan Grey dan menganggapnya hanya sekedar candaan Vald. Lalu Vald bercerita lagi bahwa ia sudah tidak menyukai Grey.
                Beberapa hari setelah Vald bercerita, Maddi kalah taruhan dengan Adam dan ia harus bertukar tempat duduk dengan Mackenzie. Ia harus duduk sebangku dengan Grey –cowok yang selalu tenggelam dalam game game di MacBooknya setiap istirahat atau jam kosong.
                Awalnya, Maddi biasa saja duduk dengan Grey. Tapi lama kelamaan ia mulai menyukai cowok cuek itu. Greyson Chance sebenarnya adalah cowok yang menarik, hanya saja ia menutupinya lewat sikap cueknya. Ia tampan, mandiri, pintar, bertanggung jawab dan mudah membuat orang lain tertawa. Itu yang membuat Maddi merasa nyaman ada di dekatnya.
                Tapi sekarang, ketika ia mulai melupakan Adam dan menyukai Grey, Vald datang dan bilang kalau ia mulai menyukai Grey lagi. Itu benar benar membuat Maddi bingung. Di satu sisi ia sangat nyaman dan menyukai Grey. Tapi di sisi lain ia mempunyai sahabat yang mulai menyukai orang yang bisa membuatnya melupakan cinta pada pandangan pertamanya saat masuk SMA.
                Ia tidak ingin menyakiti Vald tapi ia juga tidak bisa berbohong kalau ia tidak rela Vald bersama Grey. Setelah Maddi putus dengan Eleazer, pacarnya sewaktu SMP, ia selalu merasa jatuh cinta sendirian, termasuk saat ia menyukai Adam. Tapi ketika bersama Grey, ia bisa merasakan rasa jatuh cinta yang sebenarnya. Ia benar benar merasa nyaman dan bahagia hanya dengan berada di samping Grey. Hanya Grey satu satunya orang yang bisa membuat Maddi merasa tidak jatuh cinta sendirian.
                Apa yang harus Maddi lakukan? Pergi dan melupakan Grey atau tetap meneruskan perasaannya? Ia harus mengambil pilihan dan di setiap pilihannya ada resikonya masing masing. Maddi bingung harus bagaimana. Ia berharap hidupnya adalah sebuah film. Jadi dia bisa memutar ulang masa lalu dan jatuh cinta pada Grey lebih dulu daripada Vald.
           
       Supaya ia bisa jatuh cinta dengan tenang. Supaya ia tidak jatuh cinta sendirian lagi.




To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}