[SHORT STORY] One and Only

I'm too careless. I'm expected too much. And even he told me that he love me, I've got nothing. 


"Aku memang menyayangi kamu, tapi aku gak bisa buat kita lebih dari hubungan ini." kata Ghifari lirih. Tiana tersenyum tipis, entah untuk apa senyumnya, tapi rasanya sangat sakit ketika bibirnya membentuk senyum sementara kelopak matanya mengedip beberapa kali berusaha menahan air mata untuk keluar.


Ini sakit. Kenapa kamu tidak pernah bisa percaya bahwa aku mencintaimu seutuhnya?


"Kamu tau pasti, Tiana. Aku pernah terluka..." kata Ghifari lagi.


Kamu fikir aku tidak, Ghif?


Ghifari menatap gadis berambut panjang di depannya lalu menatapnya sendu. "Jangan menahan tangisanmu, Tiana. Walaupun kamu tersenyum, aku tau itu hanya tipuan." kata Ghifari. Tiana tersentak, ia langsung menunduk. Air matanya langsung jatuh, tapi tak ada rasa lega yang Tiana rasakan ketika air matanya jatuh, yang ada hanyalah sakit.


Kenapa ketika aku tahu dia juga memiliki perasaan yang sama denganku, hatinya tak sepenuhnya untukku? Kenapa dia tak mencoba untuk memaafkan masa lalunya dan memulai semuanya bersamaku?


"Jangan kamu kira aku tak mencoba. I've tried, Ti. But I can't. I love you, it's true, I'm not pretending. But Shiya... I just... I can't forgive my self. I can't even understand why I've ever let her go when I'm still in love with her. It's hurt, Tiana. You know it."


Ghifari bodoh. 


"Untuk mengatakan padamu bahwa aku tau kamu menyayangiku dan aku punya rasa yang samapun susah, Tiana. Aku takut kamu  terluka jika tau keadaan seperti ini. Aku takut bukannya kamu akan bahagia jika kamu tau orang yang kamu sayangi juga menyayangimu. Aku takut kamu juga terluka seperti aku."


Tapi semuanya terlambat. Bahkan aku tak bahagia ketika kamu juga menyayangiku jika alasan dari waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu hanya berakhir sia sia karena kita tak bisa bersatu.


"Astaga, tolong jangan begini. Katakanlah sesuatu, Tiana!" seru Ghifari sambil mengguncangkan tubuh gadis yang selalu menjadi pikirannya belakangan ini.


"Tiana, dengarkan aku. Aku tidak pernah berharap kau akan menjadi milikku, tapi aku berharap kau juga membalas perasaanku. Terkadang status bukanlah hal yang bisa menunjukkan perasaan seseorang. Status tak selalu bisa menjamin perasaan seseorang. Tanpa status aku tetap menyayangimu. Tanpa status aku akan selalu bersamamu. Tanpa status, hanya pengakuan perasaanmu padaku, itu sudah lebih dari cukup, Tiana."


Aku tahu bahagia itu sederhana, Ghifari. Tapi aku juga wanita. Aku menunggu kepastianmu. Setiap wanita yang sedang jatuh cinta di dunia ini juga pasti menunggu kepastian dari lelaki yang dia cintai. Kepastian untuk memiliki dan dimiliki oleh seseorang yang baginya adalah satu satunya.


"Dengar, cinta tak selamanya harus memiliki dan dimiliki."


Tapi tak bolehkah aku bermimpi dan berharap untuk memiliki seseorang yang aku cintai?


"Katakanlah sesuatu, Tiana! Aku mencintaimu tapi aku tak bisa bersamamu karena hatiku terlalu lekat pada masa lalu! Pada Shiya! Dan aku takkan pernah bisa melupakan Shiya apapun yang terjadi! Tolonglah mengerti, Tiana!" seru Ghifari dengan nada frustasi. Tiana tersentak, ia langsung menatap Ghifari.


"Bagaimana aku bisa mengerti jika pengertian itu membuat hatiku terluka, Ghifari?"


Ghifari menunduk, terdiam. Bibirnya seperti terkunci, paru parunya seperti tersumbat. Ia tak bisa bernafas. Ia menyayangi Tiana, tapi hatinya masih merasa bersalah membiarkan Shiya pergi meninggalkannya. Ia tak ingin menyakiti Tiana, tapi ia tak kuat meninggalkan bayangan bersama Shiya.


Bayang bayang masa lalunya.


Kenapa seseorang yang pernah melihat ke belakang terlalu lama selalu tenggelam jauh ke masa lalu dan sulit untuk berpijak lagi ke masa kini?


Masa lalu adalah masa lalu, semuanya sudah lewat. Tak ada gunanya terus melihat ke belakang, tenggelam dalam kesedihan, menyesali apa yang telah diperbuat dan tak melihat masa kini dan masa depan. Masa kini adalah lembaran menuju masa depan, menuju sesuatu yang merupakan puncak dari kehidupan. Masa kini terus berjalan menuju masa depan meninggalkan masa lalu.


Lalu kenapa Ghifari tetap stuck di masa lalu ketika Shiya sudah bisa berjalan bersama masa kini menuju masa depan?


"Mungkin aku egois, tak bersyukur, atau apalah itu. Tapi aku menyayangimu. Aku ingin bisa bersamamu, membawamu keluar dari masa lalumu."


"Bagaimana caranya kau bisa membawaku keluar? Kau tak pernah tahu bagaimana penyesalan itu!"


"Ketika kamu gagal dalam mencoba, jangan patahkan semangat yang pernah ada. Berusaha lagi sampai kamu bisa. You'll never know if you never try harder to forgive your past, Ghif. And.. Simply.. You'll be mine... Someday."


"Jangan kau kira hanya kau yang pernah stuck di masa lalu, akupun pernah! Tak lebih parah darimu, tapi aku pernah merasakan hal yang sama denganmu! Aku bangkit, aku bangkit ketika bertemu denganmu. Aku bisa memulai semuanya lagi ketika aku mulai menaruh harapan kau akan menjadi milikku! Dan aku bersumpah, ketika aku memilikimu, aku tak akan membiarkan hal di masa lalu terulang kembali!" seru Tiana dengan nada emosi. Ia menarik nafas satu dua lalu menatap mata Ghifari lekat lekat.


"Apapun yang terjadi, takkan ku biarkan kau pergi sedetikpun. You're my the one and only. No one else."


Ghifari terdiam, apa yang Tiana katakan ada benarnya juga. Ia memang pernah mencoba, tapi ia gagal melupakan Shiya dan malah kembali ke masa lalunya. Ghifari sempat melupakan Shiya ketika perasaannya pada Tiana muncul, tapi belakangan, bayang bayang Shiya kembali hadir dan Ghifari tertarik lagi ke dalam masa lalunya. Hingga akhirnya, hatinya terbagi menjadi dua. Masa lalu dan calon masa depannya, Shiya dan Tiana.


"You know, Ghifari.. You're the only one that I want."


"I want you too, Tia. But... I...."


"Just try. Practice make perfect!"


"She's.... She has been my the one and only for a long time."


Tiana terdiam. Ia mulai terisak, tapi hatinya tak ingin berhenti sekarang. Perjuangannya untuk mengetahui perasaan Ghifari dan menunggu Ghifari sangatlah panjang. Ia yakin, ia bisa membuat Ghifari melupakan Shiya dan memberikan hatinya seutuhnya pada Tiana. Tiana menghela nafas, lalu secara spontan ia bernyanyi. Ia berharap, lagu itu bisa membuat Ghifari sadar.  


"I dare you to let me be your the one and only. Promise I worthy to hold in your arms. Like Shiya..."


"You know, I love you too, Tia. But.... I...."


"So come on, give me the chance...." Tiana terisak lalu menghela nafas. "To prove I'm the one who can... Walk that mile until the end of starts....."


Tangis Tiana pecah. Ghifari terdiam, badannya terasa sangat berat sekali untuk bergerak. Gadis ini menyadarkannya bahwa ia harus melupakan masa lalunya. Masa lalu boleh kita lihat, tapi hanya sebagai pelajaran, bukan sebagai sesuatu yang menjadi penghalang kita untuk berjalan di masa kini menuju masa depan. Ghifari lah yang membuat Tiana bangkit dari masa lalunya. Dan... Mungkin saja Tiana akan membuat Ghifari bangkit dari masa lalunya. Who knows?


Ghif.. Let me... Let me...


Tiana masih menangis ketika Ghifari bisa menggerakkan kedua kakinya mendekati Tiana lalu memeluk gadis itu. Kini Ghifari yakin, ia bisa memulai melupakan masa lalunya bersama Tiana. Ia bisa jika ia mencoba dan ia akan mencoba sekeras tenaga untuk menyingkirkan Shiya dari hatinya supaya Tiana bisa menjadi satu satunya.


"Tia... Thank you. You make me realize." kata Ghifari sambil mengusap kepala Tiana. Kemeja putih Ghifari kini sudah basah oleh air mata Tiana, tapi ia tak marah seperti dulu ketika Tiana membasahi kemejanya. Ia malah memeluk erat Tiana.


"Tia.. I'm sorry. I've made you waited for so long."


Tangisan Tiana kini makin kencang, Ia memeluk punggung Ghifari erat.


"Tia... I'm sorry. I'll try again, for you. I'll forgive my past and forget everything about Shiya."


Tiana kaget. Apa maksudmu, Ghif? Ia melepas pelukan Ghifari lalu menatap Ghifari heran.


"Ya, Tiana. I let you to be my the one and only. Help me to make her go away from my mind ya?" tanya Ghifari sambil tersenyum. Tiana menangis tak percaya. Ghifari Pratama, orang yang selama ini ia sayangi, orang yang selama ini ia tunggu, rupanya juga menyayanginya dan kini menjadi kekasihnya?


Ghifari lalu memeluk Tiana lagi. Ia berharap keputusan yang ia ambil tak salah. Ia berharap ia dan Tiana dapat berjalan di masa kini untuk menuju masa depan bersama sama tanpa berharap pada masa lalu lagi.


Ghifari mengecup kening Tiana lalu berbisik, 




"I love you and you'll always be my the one and only, Tiana. No matter what."




THE END.


You may also like

4 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}