The Reason is You chapter 1

Hai! Mulai hari ini gue mau ngepost cerbung baru. HAHAHAHA iye gue tau ITWAM masih belum beres cuman.... Pasti selesai kok:} Cerbung kali ini bukan fan fiction dan namanya gue ambil dari anak SPENSA angkatan 13. Hanya cerita fiski belaka, tidak ada maksud tertentu kecuali untuk seni dan penggalauan. #eh
Hope you like it:}

***



MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV

Silvy mengetuk ngetuk mejanya ketika aku melihat gadis berlesung pipi itu melewatiku. Entah berapa lama aku tak berkedip tapi memang mataku tak bisa berpaling dari dia.. Iya, dia gadis yang beberapa hari belakangan ini membuat fikiranku menjadi tak karuan. Gadis yang membuatku mempunyai alasan baru untuk masuk sekolah selain bertemu dengan teman temanku.

Kuraih ponsel android-ku lalu dengan cepat kubuka program browser yang tadi aku pakai untuk membuka link yang tadi Silvy bukakan untukku. Aku terdiam, bisa kurasakan wajahku memerah. Bukan main cantiknya gadis ini.....


Entah apa ini namanya, tapi kurasa aku jatuh cinta pada gadis itu.

Novi dan Alvan tiba tiba datang dan melirikku dengan senyuman genit. Kulirik Silvy yang diam diam menahan tawa di sampingku, aku menoleh ke arah dua sahabatku itu. "Apa?" gumamku. Novi tertawa, "tatapan mata kamu gak biasa Ridh hahaha."

Aku menoleh dan menatap Novi aneh. "Gak biasa bagaimana?"
"Ya begitu.. Lo ngeliat itu cewek seakan akan lo pengen makan dia, hahahaha." tambah Alvan. Aku meninju bahunya pelan, "sok tahu. Biasa aja ah."
"Kalo biasa aja wajahnya gak usah merah gitu dong, hahaha." sambung Silvy dengan tawa khasnya. Ridho menggeleng.
"Enggak! Cuman lucu aja, cantik. Gue suka aja liat cewek cewek cantik."
"Alibi lo selalu bagus ya, Ridh. Hahahaha."
"Selalu, gak pernah berubah!" seru Novi.
"It's not fake, I've told you the truth."
"Terserah deh ya, tapi kalo lo cuman liatin Bani dari sini, gue cuman mau ingetin lo, it will be nothing." kata Alvan dengan nada menyindir. Aku tersentak, ah ternyata namanya Bani? Aku tertawa kecil lalu mengangguk beberapa kali. 
"Wait... Jangan bilang lo gak tau namanya?" tanya Silvy dengan tatapan menyelidik. Aku nyengir lalu masuk ke dalam kelas. "Gila tu cowok, gak bakal ada hasil!" seru Novi.

Aku langsung menghampiri tempat dudukku lalu tertawa kecil. Di sampingku ada Gestu, teman sebangkuku selama 3 tahun belakangan ini sedang sibuk bermain dengan laptopnya. Aku masih tertawa kecil teringat saat aku dan Bani saling bertatapan tadi.

Aku melihat Bani sudah dari 3 minggu yang lalu. Kurasa ia anak pindahan baru karena aku baru melihatnya. Aku sendiri tidak tahu dia kelas mana, tapi aku yakin dia kelas 9 juga. Gestu melirik dengan tatapan heran padaku. Aku terkekeh, "apa Ges?"

"Azzzz, lo aneh hari ini Dho." kata Gestu. Aku tertawa. 
"Aneh gimana? Biasa aja deh.."
"Ya elo tiba tiba dateng sambil senyum senyum gitu, serem gua." kata Gestu sambil sibuk menari di keyboard laptopnya. "Ah, lebay lo." ujarku.

Gestu menghentikan permainannya lalu menatapku lagi. Tatapan penasaran Gestu! Aku selalu suka melihat Gestu penasaran karena aku. "Kenapa lo? Gantian lo yang aneh sekarang! Hahaha." seruku.

"Astaga.. Nih ya, nebak nih gue.."
"Iya sok apa?" kataku sambil senyum senyum lagi.

Gestu memutarkan bola matanya lalu menarik nafas dalam dalam. "Lo homo?" tanya Gestu dengan wajah innocent. Aku menggebrak keyboard Gestu sambil berkomat kamit. Gestu memang sering mengungkapkan pemikiran konyolnya tanpa berfikir dulu. Ia juga cuek sekali dengan perasaan orang lain. Kurasa karena itulah dia masih jomblo sampai sekarang.

"Shit, enggaklah! Ngarang lo!" seruku kesal. Gestu tertawa lalu kembali menarikan jari jarinya di keyboard. "Hahaha sorry, let's see. Ada apa nih? Cewek baru?" tanya Gestu.
"Kepo parah lo!"
"Ih, apa sih Dho! Pasti soal cewek yang waktu itu!"
"Yap! Dan akhirnya.. Gue tau nama dia dong Ges!" seruku dengan sumeringah. Gestu terdiam, wajahnya memerah lalu tawanya meledak.



"Parah lo Dho! Udah 3 minggu naksir dan baru tau namanya?!" tanya Gestu tak percaya. Aku terdiam lalu mengangguk. "Sial, at least akhirnya gua tau nama dia Ges..."
"Oke, jadi lo tadi ngobrol?"
Aku menelan ludah lalu berbisik, "enggak..."
"Lo nyapa dia?" tanya Gestu lagi. Aku menggeleng, "enggak Ges..."
"Lo nyamperin kelasnya, nunjuk dia, terus nanya namanya ke temen sekelasnya?"
"Enggak juga Ges..."
"Astaga! Jangan jangan lo...." wajah Gestu berubah dari yang penasaran menjadi kecewa. Aku tau Gestu bisa membaca pikiranku bahwa aku  tak melakukan semua yang dia katakan. Aku nyengir.

"Hehehe, gue taunya juga gak sengaja Ges. Dari Alvan."
"Parah lo! Kecing banget astaga..."
"Duh, biar deh yang penting gue tau namanya."
"Jadi siapa namanya?"
"Bani."
"Kelas berapa?" tanya Gestu lagi. Aku terdiam. 
"Kelasnya juga lo gak tau Dho? Parah lo!"
"Duh.. Bertahap Ges..."
"Lagian kenapa lo suka sama yang gak kenal sih? Yang pasti pasti aja kali."
"Kayak?" tanyaku. Gestu tersenyum kecil lalu menunjuk cewek yang duduk di pojokan kelas sambil memainkan gitarnya. Alda! Aih.
"Asal lo, gue suka sama dia juga di tolak." kataku kesal. Gestu tertawa.
"Lo di tolak? Maju aja gak pernah kan lo?"
"Ya.. Terus dapet kepastian dari dianya gimana?"
"Ya lo ngedeket kali, Dho..."
"Ya kali gua juga lagi ngedeketin Bani sih, Ges..."
"Gini deh logikanya, ngapain lo nyari yang jauh jauh kalo di deket lo ada yang udah lama lo suka dan gak perlu mulai dari awal lagi, Dho?" tanya Gestu. 
"Karena gue.... Gue tau, Alda nganggep gue sahabat doang. Sahabat. Gak lebih."
"Siapa yang tau coba dari sahabat bisa lebih?" tanya Gestu pelan. Aku terdiam, entah harus menjawab apa. 

Karena Gestu berhasil membuat benteng yang kubangun untuk melupakan Alda mulai runtuh kembali......


To be continued....


You may also like

8 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}