The Reason is You chapter 10

I never saw you coming and I'll never be the same again, Greys.

***


SHELLY ILA AMALIA'S POV

"Pagi, Shell! Nabila gak masuk, sakit katanya." sapa Ifa dengan semangatnya. Aku hanya melirik ke arah Ifa lalu berdehem dan berkata, "iya gue tau." 

Ifa menaruh tasnya dibangku depanku dan menggebrak mejaku. "PAGI SHELLY!" serunya. Aku menarik nafas panjang, menoleh lalu tersenyum padanya.


"Iya, selamat pagi Afifah Bintang-ku...." kataku dengan perlahan sambil menahan kesalku. Ia tertawa, "lo kok lesu sih Shell pagi pagi? Gak Shelly banget!" seru Ifa dengan nada bicara Nabil. Aku menatapnya heran, "lesu? Ini semangat broooo!" 

Ifa menggeleng dengan wajah tak yakin. Aku menarik nafas lagi. "Kenapa sih Fa?"
"Gak, gue ngerasa lo yang sekarang.. Bukan Shelly."
"Hah? Maksud lo..... Gua kerasukan gitu?"
"Ya, mungkin semacam itu."
Aku tersentak, "asal aja lo! Hahaha." Aku mencoba tertawa namun gagal. Ifa menatapku sinis, sepertinya Ifa tau apa yang aku fikirkan. Aku memang tidak dalam mood yang baik pagi ini.... Atau mungkin seminggu terakhir ini.

"Lo ketawa, tapi kayak gak ketawa." kata Ifa akhirnya.
"Ahahaha gila lo, gokil banget!" seruku seperti biasa, menjayuskan diri untuk membuat orang orang sekitar tertawa. Ifa mendelik padaku, "Shel, be serious."
Aku menunduk lalu kembali sibuk dengan buku catatanku, "hehe.. I'm perfectly fine kok."
"Lo lagi berantem sama Rifqi?" tanya Ifa. Aku menggeleng.
"No no no, tidak tidak. Malah Rifqi lagi sering telpon."
"Terus lo kenapa?"
"Kenapa apanya ya, Fa?"
"Lo beda, Shell. Gue udah kenal lo 9 taun."
"Ralat, 11 taun. Itung TK nya."
Ifa berfikir sejenak lalu menangguk angguk, "hoya.. Ya, 11 tahun."
"Dan gue emang gak kenapa kenapa."
"Lo kenapa kenapa Shell. I know you." kata Ifa sambil menatapku dalam dalam.
"Sotil ah lo hahaha."
"Lo bisa bilang gitu ke Nabil dan yang lain, tapi bukan sama gue. Gue kenal lo banget Shell. Gue... Tau ada sesuatu yang terjadi sama elo."

Aku terdiam. Ah ya, Ifa benar. Aku memang berubah, terutama beberapa hari belakangan ini. Aku menyadari seperti setengah jiwaku hilang, ah agak lebay sih cuman memang itu yang kurasakan. Semangatku memudar. Patner in crime-ku pergi entah kemana.

Aku melirik ke arahnya, dia ada di kelas yang sama denganku. Kulihat dia tertawa, tapi tidak tertawa denganku. Kulihat dia bercanda, tapi bukan lagi bercanda denganku. Kulihat dia diganggu Nabil, tapi kali ini dia sendirian yang di bully, tanpa aku disampingnya.

Sudah berapa lama aku mempunyai jarak sejauh ini dengan Yara?

Ifa berdehem dan sukses membuyarkan lamunanku. Ia menatapku lalu tersenyum tipis. "Apa, Fa?" tanyaku akhirnya. Dia menggeleng. 
"Gue tau lo kenapa."
"Gak usah sotil deh!" seruku dengan nada super annoying milik Nabil.
"Ih.. Emang tau beneran."
"Apa coba...."
Ifa menatapku dalam dalam, "lo kangen Yara kan?" tanya Ifa. Aku terdiam.

Ah iya, aku merindukan Yara. Sahabatku. Teman seperjuanganku. Teman untuk berbagi, menangis dan tertawa. Kenapa aku baru ingat sudah lama sekali aku tidak melakukan hal yang biasanya aku lakukan dengannya?

"Ngaku, Shell! Hahahaha."
"Hahaha iya I miss her banget Fa, kuadrat 13."
"Garing lo. Bagus deh akhirnya sadar juga lo masih punya sahabat namanya Yara."
Aku menatap Ifa heran, "lah, emang kenapa gitu? Gue inget kali Fa. Gak mungkin gue lupain Yara." Ifa mendengus pelan, "hah, gak mungkin? Yakin lo gak lupain sahabat lo ini?" tanya Ifa sambil menyodorkan fotoku dengan Yara dari iPhone-nya. Aku terdiam.


Foto itu adalah foto saat aku dan Yara menjadi panitia PORAK 2011 lalu. Bulan Desember. Itu saat kami masih kelas 8. Aku tersenyum kecil menyadari banyaknya perubahan diantaraku dan Yara.

Yara yang memiliki rambut panjang yang cantik kini sudah memotongnya menjadi sebahu. Aku yang memakai model rambut segi juga sudah memotong menjadi rata pada bagian bawah. Kaca mataku juga sudah kuganti. Yara juga sudah memakai behel sekarang.

Apa lagi ya? Oh ya, pada saat itu aku yang terlebih dahulu jadian dengan Rifqi, baru disusul Yara dengan Aldi. Lalu... Saat itu...... Aku tersentak menyadarinya. Sesuatu yang kecil, namun benar benar menjadi jarak diantaraku dan Yara.

Dulu kami benar benar sepasang sahabat. Sekarang? Nabila berada di tengah tengah kami.

"Udah sadar?" tanya Ifa.
"Ugh.... Ya, Fa... Nabila tuh temen gue, temen Yara juga. Dia kan anak baru, kasian gue kalo ninggalin."
Ifa menarik nafas panjang, "tapi bukan berarti karena dia anak baru, temen baru lo dan lo lupain sahabat lo dong Shell?"

"Enggak, gue gak lupain!"
"Mungkin emang lo gak sengaja lupain yang lama, tapi karena yang baru datang, yang lama terlupakan."
"Enggak Fa! Gue gak mungkin gitu sama Yara!"
"Apa lagi yang mau lo sangkal Shell? Lo liat antara lo sama Yara? Ada jarak jauh, dari tebing ke tebing. Harusnya lo mampu nyatuin kedua tebing itu, tapi karena lo gak bisa menyeimbangkan pertemanan lo, tebing lo sama Yara sekarang bener bener jauh dan Nabila jadi penghalang utamanya."
Aku menatap Ifa dengan sinis, "maksud lo gue harus ninggalin Nabila gitu? Temen macem apa lo! Kan kasian dia belum bener bener kenal sama anak 13!"

Ifa menarik nafas panjang, "jadi dewasa sedikit please, Shell? Bukan ninggalin Nabila dan balik ke Yara, tapi seimbangin pertemanan lo sama Nabila, Yara dan kita kita. Kita sih gakpapa lo gak terlalu sering bareng kita, tapi Yara? Apa lo lupa dia pinang dibelah dua elo? Apa lo lupa dia soulmate lo selama ini?"

Aku terdiam, menunduk lalu meneteskan air mataku. Sejahat itukah aku pada Yara?

***

KARTIKA YOLYNDA'S POV

Seperti  biasanya, setiap hari Jumat kami -Rajawali & Rafflesia 26 berkumpul untuk mengawasi anggota 27 yang melatih murid kelas 7. Hari ini materi yang akan mereka berikan seputar tenda untuk CT nanti. Pelatihan ini hanya di peruntukkan bagi kelas 7 karena kelas 9 dianggap sudah bisa semuanya.


"Yola, mau jajan gak?" tanya Bella sambil sibuk membenarkan kerudungnya. Aku menoleh lalu menggeleng, "gak ah, Bell. Lo aja gih sana." kataku. "Di traktir Dini lho hari ini..." kata Bella menggodaku. 

"AH GUE MAU DIN!" seru Gestu, Aca, Ghorby, Esar, Fauzan dan Kibo-chan. Dini sontak langsung kabur sambil berseru, "gaaaaak! Gratisan mulu lo semua!" seru Dini. "Ah, Bell gue ikut." kata Kibo-chan sambil mengikuti Bella. 

Hari ini Ridho datang terlambat. Seperti biasa ia shalat Jum'at dengan ayahnya di Masjid At-Taqwa dan pergi untuk makan siang dulu. Ia memang dekat dengan ayahnya yang biasa ia panggil 'abi'.

Setelah Kibo-chan kembali, Nadia baru datang dengan wajah kesal. "Tau gak Kib? Masa itu anak 27 gak bener coba.. Kesel aku ngadepin di depan." kata Nadia sebagai Pratami 26.

Aku tertawa. "Ya biarin aja Nad, kalo ada yang salah sama sistem anak kelas 7 salahin 27 hahahaha." Kibo-chan mengangguk setuju, "iya Yol! Biarin aja, udah sering di kasih tau malah gitu hahaha."

"Kayak kita dulu." komentar Gestu sambil memperhatikan anggota Garuda yang sedang latihan Banjar Tempur. 


Sontak aku langsung tertawa, "hahahaha kita gak gitu gitu juga kali Ges."
"Ya.. Kita mendapatkan apa yang pernah kita lakukan, betul?"
Aku berfikir sebentar lalu menagngguk. "Betul." 
"Yap, dan itulah rumusnya hukum karma."
Aku terdiam. Karma? Tidak biasanya seorang Gestu Rosmayadi Asad berbicara tentang karma.

"Ciye, lagi kesambet apa Ges?"
Gestu menatapku sinis lalu menggeleng, "enggak Yol."
"Lah terus lo ngomongin karma sih?"
"Ya karena gue ngerasa gue kena karma, Yol."
"Ah? Karma gimana?" tanyaku heran.
"Sini deh, temenin gue beli gorengan Mang Jack." kata Gestu sambil turun dan berjalan duluan. Aku mengikutinya sambil terheran heran. Sepertinya ada yang mau curhat colongan lagi....

Gestu dan aku memang tidak sedekat Gestu dengan Dini. Namun entah kenapa aku dan Gestu, satu sama lain sering curhat colongan dan kami menjadi lebih akrab. Aku merasa nyaman dengan Gestu yang seperti ini. Seperti punya saudara laki laki yang mendengar dan menjagaku tanpa lelah.

Gestu menyambar satu buah tempe goreng sementara aku memilih untuk memakan cireng keju khas Mang Jack. Ia lalu duduk dan menepuk nepuk tempat di sebelahnya, tanda untuk memintaku duduk. Aku duduk lalu mengigit cirengku.

"Jadi.. lo kenapa?" tanyaku akhirnya membuka percakapan. Anak 26 yang lain sedang sibuk memperhatikan latihan Banjar Tempur Garuda 27 sebelum mereka melatih kelas 7. 
"Lo inget gak yang gue ceritain?" tanya Gestu. Aku menggeleng.
"Lo kan cerita banyak banget Ges."
"Inget gak pas lo mancing gue tentang cewek itu?" tanya Gestu. Aku terdiam dan berfikir sejenak.

Aku sering cerita tentang mantanku, Esar pada Gestu. Hanya Gestu lah yang tau bahwa selama ini aku masih menyimpan perasaan pada Esar sementara anak Pramuka 26 yang lain mengira aku masih menyukai Aca. Namun Esar ternyata sudah menyukai Dini. Dan itu membuatku..... Hancur.

Siapa sih yang tidak hancur ketika orang yang kalian suka bercerita pada kalian tentang orang yang dia suka? Jika sudah begitu, aku hanya bisa mengeluarkan jurus andalanku... Fake smile.

Aku berfikir dan menemukan satu hari dimana... Aku mengejek Gestu. Ya, aku ingat! Di kelas ku ada seorang cewek yang menyukai Gestu dan mereka berdua sudah cukup dekat. Anak Pramuka 26 pun sudah banyak yang men-ceng cengi Gestu dengan cewek itu. Namun Gestu hanya bercerita padaku tentang yang sebenarnya....

"Udah nemu orangnya?" tanya Gestu membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk.
"Iya, gue inget kok. Lo masih deket?"
"Masih."
"Dia masih suka ngode, modus dan lain lain?"
"Selalu dan gak pernah berhenti." Tapi tiba tiba aku teringat, gadis itu bilang... Dia sudah mau move on. Aku tersentak, jangan jangan Gestu sudah suka dengan cewek itu...
"Lo tau dia suka udah berapa bulan?"
"Bukan suka Ges, nunggu dan sayang sama elo." elakku. Gestu berdehem.
"Ehm, ya gitu deh maksudnya."
"Eum.. Kurang lebih 8 bulan."
"Dan ya, lo tau 3 hari yang lalu ada kejadian apa?"
"Apa?"
"Dia bilang ke gue kalo selama ini dia suka sama gue.... Lewat telpon sih. Cuman.... Serius speechless, Yol."
"AH SERIUS LO GES?!" tanyaku dengan nada tidak percaya. Seluruh anak 26 langsung melihat ke arah kami. Ridho yang sudah datang pun berbicara, "ah! Gestu habis nembak Yola ya! Hahahaha kasian Acanya!"

"Ciyeeee Yola! Acanya gimana! Masa sama Gestu sih!" seru Dini. Lalu mereka semua terus mengejekku. Aku melemparkan kertas ke arah mereka lalu kembali melihat ke arah Gestu. Gestu tertawa kecil, "kayaknya mending lo suka sama Aca aja deh Yol. Dia tadi mukanya langsung merah gitu, cemburu kali ya. Hahahaha."

"Gak mau, sukanya sama Esar gua." kataku sambil cemberut.
"Hahaha lanjut gak nih?"
"Ya kali Ges ngegantung gitu.. Lanjut!"
"Ya.. Jadi gitu."
"Wah, bagus dong. Bukannya selama ini lo pengen ada kepastian dari dia?"
"Iya sih Yol.. Cuman gue tuh bingung."
Aku mencoba membaca mimik wajah Gestu lalu tersenyum kecil. "Oke, I get your point. Mau fokus UN ya lo?"
"Yap, itu dan...."
"Dan?"
"Gue terlanjur bilang gue gak pernah suka sama dia dan cuman nganggep dia temen dan... Semua kode yang dia kasih buat gue cuman gue anggep sebagai persahabatan dan... Dia bilang... 'Thanks Tu, for everything. I'll move.' gitu."
Aku langsung mencubit pipi Gestu. "Bego! Lo ada cewek yang segitu sayangnya sama elo, lo gituin! Ya dia move on kali! Ah, Gestu!"

"Gue juga ngerasa gitu Yol."
"Semenjak hari itu masih suka chat?"
"Dia gak pernah ngechat lagi, jadi gimana mau chat?"
Aku menatap Gestu, "jadi selama ini dia terus yang mulai?"
"72 persen nya sih dia." kata Gestu sambil cengengesan.
"Astaga Gestu.... Terus, kenapa lo ngerasa karma?"
"Ya.. Aduh, masa lo gak peka sih Yol!"
"Ya gue gak peka ketularan lo Ges! Hahaha. Pasti lo ngerasa kehilangan kan?"
Gestu terdiam lalu menunduk lesu. "Ya karena itu Yol.. Gue ngerasa kena karma! Astaga.. Yola, gue dulu bilang gak bakal suka sama cewek ini. Cuman mau temenan doang, fokus ke UN.. Tapi sekarang.. Gue udah tau dia suka sama gue udah tau kepastiannya, eh malah gue salah ngomong.. Dia ninggalin gue dan...."

"Lo baru sadar betapa berharganya dia?" tanyaku spontan. Gestu berdehem lalu mengangguk. Ia menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat kecewa. 

"Hah, Gestu. Bego, dasar gak peka." kataku sambil mengusap kepalanya. Kenapa sih orang yang sudah jelas jelas punya harapan, kepastian dan sesuatu yang bisa membahagiakan mereka malah membuang hal itu jauh jauh dan merasakan penyesalan yang teramat di belakangnya?



Aku bergidik lalu berdiri dan meninggalkan sahabatku yang paling tidak peka itu.

***

NUGROHO KURNIANTO'S POV

Winu memainkan gitarnya ketika Haekal, Satria, Kevin, Oli dan Bhimo datang dengan membawa tentengan masing masing. Mereka semua baru kembali dari kantin setelah istirahat latihan. Kami bertujuh membuat perkumpulan untuk berlatih gitar. Sebenarnya sih berdelapan dengan Lega, tetapi hari ini dia ada keperluan.

"Nug, gak makan?" tanya Haekal sambil membuka nasi bungkusnya. Aku menggeleng.
"Gak napsu gua, Kal."
"Ho... Hari ke berapa?" tanya Oli sambil tertawa. Aku mendelik padanya.
"Ke tujuh, puas?" tanyaku sinis.
"Asli lo kayak cewek pms, Nug.... Serem." kata Bhimo.
"Aih, kayaknya lagi berantem sama Icoy deh." Kevin nyeplos.
"Sotil lo, gue mah gak pernah berantem. Rukun teruuuuuuus!" seruku membanggakan diri.
"Badmood banget kayaknya ya..." kata Winu sambil memetik gitarnya.
"Hehe ya." jawabku singkat.

Beberapa hari belakangan ini aku memang berada di ambang ke-badmood-an. Titik kejenuhan dari segala aktivitasku. Apalagi hari ini..... Ah, hari ini. Kenapa hari ini harus datang?

Tiba-tiba handphoneku berbunyi tanda ada BBM masuk. Aku langsung membukanya dan...... 

"Nug, lo kenapa?!" seru Oli menyadari aku yang jatuh tiba-tiba. Haekal berlari kepadaku. "Nug, ada apa?!" tanya Haekal lagi. Bhimo, Kevin dan Satria langsung mengelilingiku. Aku menarik nafas berkali kali. Apakah ini mimpi? Ya Allah.....

Winu langsung meraih handphone-ku dan membaca BBM itu. Ia langsung membacanya dan.... "Nug, emak lo.. Serius? Manado Nug? Becanda doang kan ini? Nug... Jauh kan?" pertanyaan Winu membuat seluruh orang menatap ke arahku. Aku tetap diam dan mengangguk sambil meneteskan air mata. 

Manado jauh dari Cirebon, berbeda pulau dan aku tidak siap meninggalkan semuanya. Sekolah, sahabat, terutama..... Icoy-ku tersayang.

Nug, papa fix pindah. Kita jadinya ke Manado. Mama sama papa besok ke Cirebon buat ngurusin kepindahan kita. Kita pindah sekitar 2 minggu lagi, kamu mulai siap siap aja.


To be continued.... 


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}