The Reason is You chapter 11

Rasa suka dan sayang, semuanya tetep kerasa sia sia kalo akhirnya gini gini juga. -Alda 

***


ALDA ZERLINA AMELIA'S POV

Haekal merampas roti bakar cokelat dari tanganku dan langsung melahapnya. Ia adalah saudara sepupuku. Ibunya adalah adik dari Ibuku. Kami berdua bertetangga semenjak kecil, tumbuh bersama dan selalu masuk sekolah yang sama. 

Terkadang aku mengungsi ke rumah Haekal, begitu juga sebaliknya. Tapi kali ini Haekal lah yang mengungsi di rumahku dan seperti biasa ia tidur di ruang bawah kamarku. Kamarku cukup besar dan memiliki 2 tingkat. Di tingkat atas adalah ruang privasiku. Tempat tidur, komputer Apple putih kesayanganku, sebuah rak buku besar, meja belajar dan ruang ganti yang berbentuk lemari dengan berbagai macam baju dan aksesoris milikku terletak disana.

Untuk ruang bawah, orang tuaku sengaja menyediakan sofa besar ekstra empuk dengan TV flat dan speaker tambahan untuk menonton dvd bersama teman teman. Orang tuaku lebih suka aku membawa teman ke rumah daripada aku keluyuran untuk bermain. Di pojok dekat jendela ada keyboard, gitar, saxophone dan home studio recording yang kusebut sudut bermusik. Sementara piano klasik-ku berada di bawah, tepatnya di ruang keluarnya.

Bentuk kamarku dan kamar Haekal hampir sama, hanya berbeda pada sudut tempat bermusiknya. Haekal memiliki drum, gitar dan bass. Ia bisa bermain piano juga, walaupun tidak lebih jago daripada aku hehehe. Dan seperti biasa, sofa kesayanganku sudah berubah fungsi menjadi tempat tidur bagi Haekal. Seperti biasa aku menonton DVD dulu dengan Haekal sebelum tidur. 

"Al, lo tau gak?" tanya Haekal tiba tiba membuka percakapan.
Aku meliriknya sinis, "apa? Roti bakar gue enak?"
Haekal tertawa, matanya langsung sipit sekali. "Enggak, gue lagi naksir sama cewek."
"HAHAHAHAHAHAHAHAHA astaga." tawaku meledak seketika. Haekal kali ini yang melirikku sinis, "ah, Al mau cerita gue."

Aku menarik nafasku dalam dalam dan menahan untuk tak tertawa. Reaksiku selalu sama ketika Haekal bercerita bahwa ia menyukai seseorang. "Oke, jadi siapa?" tanyaku sambil sempat sempatnya berfoto di iPad-ku.


"Eum... Ya ada cewek."
"Iya gue tau Kal cewek. Namanya?"
"Bani."
"Wow, nama yang bagus. Pasti orangnya imut."
"Bener, banget banget. Manis. Punya lesung pipi."
"Asik, selera lo emang bagus Kal!"
"Hahaha dia anak baru dan temen sekelas gue. Gue baru sadar gue suka sama dia... 2 minggu yang lalu."
"Ho.. Gue ketinggalan info nih soal 9F."
"Aih, tapi sayangnya...."
"Sayangnya?" tanyaku penasaran.
"Sahabat gue suka juga sama dia." kata Haekal akhirnya. Aku tersentak.
"Oh shit, no more stupid love story gini deh Kal...."
"Ah, mana gue tau Al kalo dia juga suka sama Bani!"
"Ya kali lo survei dulu kalo lo suka sama orang.. Udah berapa kali nih kayak gini."
Haekal menunduk lalu mengangguk, "tapi posisi gue sama dia sama sama masih di garis start kok sama Bani. Buat cewek yang ini gue mau berjuang terus. Soalnya gue sayang sama dia."

"Gila, gimana bisa lo sayang dengan waktu sesingkat itu?"
"Soalnya gue gak bisa nemuin kenapa gue suka sama dia, Al."
Aku menatapnya heran, "sesimpel itu lo bisa bilang kalo lo sayang sama dia?"
"Ini gila. Awalnya gue emang suka,  tapi sukalah awal dari sayang itu." kata Haekal dengan mata berbinar binar. Aku tersenyum kecil. Jika mata Haekal yang sipit itu sudah bersinar, sudah pasti hal yang ia bicarakan adalah hal yang sebenarnya tanpa kebohongan sedikitpun.

"Oke, jadi lo maju terus?"
"Teruuuus! Lo doain gue deh. Gue gak TMT kan?"
"Ewh, kayak cewek aja lo. Ya enggak lah. Temen makan temen tuh kalo lo janji gak bakal mau deketin Bani. Gak pernah kan?"
"Enggak sih.. Cuman.. Gue ngekhianatin gak sih?"
"Aduh Ekal, lo kan gak pernah ngelontarin janji gak bakal suka, gak bakal deketin.. Lagian suka itu kan wajar, gak bisa di tutup tutupin. Perasaan siapa yang bisa prediksi sih? Kan datengnya seiring dengan waktu, tiba tiba, tanpa alasan yang logis."

Haekal berfikir lalu mengangguk angguk, "iya juga sih Al... Kalo suka ada alasannya, biasanya itu sukanya karena kesengajaan, bukan murni karena naluri. Betul?"
Aku tertawa kecil, "betul! Makin pinter aja nih sepupu gua hahaha. By the way, siapa cowoknya?" tanyaku penasaran.
"Eum....... Ri....Ridho." jawab Haekal ragu ragu. Aku tersentak.

Pernah merasakan sesak yang teramat tapi kamu tidak tau kenapa kamu harus merasakan itu? Nah, aku merasakannya sekarang. 

"Duh... Al... Lo gakpapa kan?" tanya Haekal. Kurasa ia sudah bisa membaca wajahku.
"Enggak. I'm perfectly fine."
"Basi, gue bisa liat." kata Haekal sambil memalingkan wajahnya.
"Ugh...."
"Alda, kenapa sih kalo lo suka sama Ridho gak maju aja? Lo mau mendem sampe kapan? Sampe ada keajaiban? Sampe hujan kerasa jadi anget bukannya dingin lagi? Atau sampe ikan nafas pake paru-paru? Al...."

Kurasakan pipiku basah, hangat dan terus menetes. Ah, aku menangis lagi. Padahal aku sudah berjanji, tapi kenapa air mata ini  tidak pernah kering untuknya?

"Ya.. Waktu gue sadar gue sayang sama dia, dia malah ninggalin gue."
"Harusnya kalo lo ditinggalin, bukannya diem dan nangis. Tapi maju terus."
"Gue gak punya tenaga Kal.." kataku sambil menangis. Haekal menepuk nepuk pundakku.
"Jangan lemah, tenaga lo buat maju banyak kali."
"Ya.. Kalo dia juga sayang sama gue, dia harusnya prove dong...."
"Al, Al. Look at me. He always trying to prove it to you. Tapi lo selalu act like you're never really care about him. Jadi, kalo sekarang dia move on dan lo gak nemuin dia disana... It's your fault, kenapa lo gak maju dari kemarin."
"Kal, he never told me. I mean, gue tau kalo dia suka sama aku aja dari yang lain, bukan dari mulut dianya sendiri. So how can I trust him?"
"Lo butuh kepastian kan? Nah, kepastian gak pernah dateng dengan sendirinya tanpa lo perjuangin Al..."
"Tapi sekarang... Kenapa dia gak sadar sih kalo gue juga suka dan sayang sama dia?"
"Gimana dia bisa tau kalo lo gak pernah ngasih tau?"
"Astaga.. Gue nyesel, Kal... Kalo gue tau dari awal... Kalo gue tau akhirnya jadi kayak gini, gue mau maju dari dulu ya Allah..."
"Sayangnya gak ada nyesel yang dateng di awal, Al."
"Terus? Sekarang hati gue gimana?"
"Ya lo mau minta tanggung jawab ke siapa?"
"Ya ke dia lah!"
"Dia udah ke Bani."
"Terus guenya? Gue harus nunggu sampe kapan?"
"Yakin lo mau nunggu? Kalo mau kepastian, lo yang maju, bukannya nunggu."
"Gue cewek."
"Ya terus?"
"Ya... Ah, Ekal. Gue gak berani!"
"Astaga, terus rasa sayang lo? Apa artinya selama ini, Al?"

Aku menghela nafas panjang, "rasa suka dan sayang... Ah, semuanya tetep kerasa sia sia Kal, kalo akhirnya gini gini juga. Cinta tidak terbalas, basi. Gue udah cukup menderita menunggu Ridho datang. Tapi nyatanya? Dia gak pernah datang."

"Ya gimana dia mau datang kalo perjuangan lo aja gak sampai selesai?" tanya Haekal sambil menatapku dalam dalam.

***

NISRINA ARIJ FADHILA'S POV

Izar seperti biasanya menghampiriku ketika pulang sekolah. Ia membawakanku cokelat lagi sambil tersenyum hangat. Ah, Izar.....

"Nis, mau nanya dong." katanya tiba tiba. Aku menoleh.
"Nanya apa Zar? Tinggal nanya aja kali."
Izar menggigit bibirnya, "kamu.. Dulu siapanya Ghorby ya?" tanya Izar tiba tiba. Ups, apa aku harus berbohong atau jawaban yang sejujurnya?

Belum sempat aku berbicara, Izar sudah tertawa. "Duh, kamu gampang sekali ya di tebak.. Kalian kenapa putus?" tanya Izar. Astaga... Ini benar benar awkward moment.
"Eum.. Sudah tidak nyaman?"
"Ah, sudah berapa lama?"
"Delapan bulan."
"Cukup lama juga ya.. Masih sayang?" tanya Izar. Aku bergidik, apa maksud dari semua ini?
"Eum.... Kurasa kamu bisa menebaknya juga, Zar."
"But you need to move on, Nis."
"I know, tapi sampai saat ini belum totally move."
"Kalo gitu, aku bakal bikin kamu totally move." kata Izar yakin.
Aku menatapnya dalam dalam, "seriously?"

"Sure. Pacaran yuk!" ajak Izar sambil tersenyum. Astaga.. Cowok macam apa ini?
"Ah, that's not funny at all. Kamu tau aku masih stuck tapi ngajak pacaran."
"Ya.. Izar suka sama kamu. Sayang sama kamu. Dan Izar mau kamu gak stuck di satu orang kayak gitu. Karena menurut Izar, masih banyak yang lebih baik untuk kamu di luar sana."

Aku terdiam, speechless. Sejujurnya aku juga sudah menyukai Izar dan... Mulai menyayanginya. Tapi tetap saja Ghorby terus menerus berkeliaran di pikiranku. Aku harus bagaimana ya Allah?

"Kamu.. Sayang Izar juga gak?" tanya Izar pelan pelan.
Aku menarik nafas dalam dalam lalu mengangguk pelan, "iya..."

Wajah Izar mulai memerah. Ia lalu mengeluarkan iTouch-nya. "Dengerin lagu ini deh." kata Izar sambil menyodorkan earphone padaku. Aku memakainya dan.....



Izar memutarkan lagu One Thing untukku. Lagu yang pernah Ghorby nyanyikan untukku. Sial, aku berencana untuk move on tapi bagaimana caranya jika semua yang berada disekelilingku  berhubungan dengan Ghorby?

Ketika lagunya selesai, Izar melepaskan earphone itu dari telingaku dan ia berlutut. "Ah, ngapain sih Zar!" seruku menyuruhnya untuk berdiri lagi. Ia menggeleng lalu menatapku dalam dalam.

"Mungkin.. Ini terlalu cepat, tapi aku emang udah sayang banget sama kamu Nis. Kalo kamu belum bisa totally move on, aku bakal jadi orang yang bikin kamu bisa melakukan itu. Untuk aku, selama kita bersama, semuanya bakal bisa terjadi Nis.... Jadi pacar Izar ya?" tanya Izar sambil tersenyum berharap. Aku menelan ludah.

Hatiku masih berpihak pada Ghorby, namun apa salahnya untuk mencoba? Toh aku juga menyukai Izar dan Izar tak keberatan aku belum totally move on. Jadi...... Aku mengangguk lalu tersenyum. Izar langsung berdiri dan meloncat. Wajahnya makin memerah, ia terlihat sangat bahagia. Semoga pilihanku tidak salah ya Allah.

Namun ketika aku berbalik, aku melihat Ghorby berjalan sambil  tertawa. Entah tertawa dengan siapa. Kuperhatikan lagi dan ternyata....

Oh shit, kecurigaanku benar! Jadi Ghorby benar benar mendekati Risma?!


To be continued....


You may also like

1 comment:

  1. We are a group of volunteеrs anԁ startіng a new scheme in
    our сommunity. Yοur web site offered uѕ ωith valuаble informаtiоn to wοrκ
    on. You have done an impresѕіνe job and our entire communіty will bе thankful
    to you.

    Αlso ѵisit my ωeb blog; payday loans bad credit

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}