The Reason is You chapter 13

Hai Reasonators! Maaf atas keterlambatannya, gue lagi gak ada modem:p Anyway, minggu ini The Reason is You chapter selanjutnya keluar sesuai jadwal tapi tanpa gue publish di twitter gue soalnya hari itu gue ikut CT! Yipiy sekarang gue jadi anak Pramuka lho;;)

Hoya, kemarin gue ikut lomba cerpen di SMANDA lagi kayak tahun lalu, alhamdulilah dapet juara 1. Ntar gue ceritain deh! Judulnya... 72 Pioneering. 
HEHEHE. Oke, let's read!

***


DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI’S POV

            Setelah hari itu, Ridho dan aku sering sekali berbincang entah melalui BBM ataupun secara langsung. Beberapa kali kami pernah pulang bareng. Entah mengapa sedikit demi sedikit hatiku mulai terbuka untuk Ridho.
            Muhammad Haekal Alawy. Orang yang aku sukai pertama kali. Dia kemana? Dia sama sekali tak datang padaku. Dia sama sekali tak berusaha mendekatiku. Sementara Ridho, ia malah selalu menjadi orang pertama yang tahu keadaanku.
            Haruskah aku yang maju duluan, Kal?
            Aku rasa, aku punya sedikit harapan untuk bisa bersamamu. Tapi ternyata.. Sampai saat ini kamu tak kunjung datang. Haruskah aku terus bertahan dan menunggu atau meninggalkanmu dan datang pada Ridho?
            Ridho sudah memberikan signal akan menembakku, tapi aku kalut. Hatiku masih memilih Haekal. Aku mencoba untuk dekat dengan Haekal, tetapi Haekal tidak mendekatiku balik. Hanya respon, ia tak maju juga. Aku jadi bingung…
            Karena jika aku terus menunggumu dan tak dapat apa apa, lalu apa arti dari penungguanku selain sia sia?

***
RHEZA AUDITYA WIJAYA’S POV

            Yara menelponku sambil menangis. Ia rupanya putus dengan Aldi, pacarnya yang bersekolah di Tasikmalaya. Rasanya Yara mengalami sakit yang bertubi tubi belakangan ini. Mulai dari Shelly, nilai sekolahnya yang menurun dan kini Aldi...

            Aku menatap Ifa, pacarku sekarang sambil menarik nafas lega. Ia tertawa kecil, "kamu kenapa sih, ndut?" tanyanya sambil mengaduk aduk Blue Ocean-nya. Aku menggeleng.

            "Enggak, aku cuman ngerasa aku beruntung aja punya kamu disini, Fa."
            Ifa menatapku heran, "beruntung?"
            Aku mengangguk, "heeuh. Karena kamu selalu disamping aku, nemenin aku."
            "Sebagai seorang?" tanya Ifa jahil.
            Aku tertawa, "kamu udah tau kali jawabannya."
            "Hahaha pasti lagi kepikiran Yara ya jadi ngomong gitu?" tanya Ifa.
            "Iya...." jawabku lirih.

            Aldi adalah sahabat kami semua dan Yara adalah pacarnya. Mereka putus karena jarak. Jarak, Cirebon-Tasikmalaya dapat memutuskan cinta 2 sejoli itu? Aku ingin sekali membantu Yara, membuatnya kembali seperti Yara yang dahulu. Tapi rasanya, semuanya begitu membingungkan bagiku, aku harus membantunya dari mana dulu?!

            "Apa yang bikin kamu beruntung punya aku, ndut?"
            "Kamu itu cewek paket komplit." jawabku spontan.
            "Ih! Dikira makanan!"
            "Ih seriusan deh, cewek paket komplit tuh ya kamu. Pacar iya, sahabat iya, patner kerja iya, adik iya, kakak iya, ibu iya. Seneng deh bisa pacaran sama kamu."

            Wajah Ifa memerah, senyum manisnya langsung merekah di wajahnya yang manis itu. "Kamu selalu bisa ya Dit..." katanya sambil mengalihkan pandangannya pada iPhone nya. Aku hanya tertawa.
            “Hahaha, aku akan selalu bikin kamu ngerasa istimewa.”
            “Tanpa patah hati?”
            “Tanpa patah hati.” Jawabku tegas.
            “Jadi.. Kamu mau ngapain nih untuk menyelamatkan Yara?”
            “Hahaha kamu ini, aku sendiri bingung Fa.”
            “Ifa sebenernya udah ngobrol sama Shelly masalah ini.”
            “Lalu?”
            “Ya.. Gitu, kamu tau sendiri Shelly. Dia kan satu tipe banget sama Nabil, susah diajak serius. Tapi aku harap dia ngerti apa yang aku maksud.”
            “Huft, semoga saja ya.. Sebenarnya semua ini bukan salahnya Nabila.”
            “Memang bukan, tidak ada yang salah. Hanya kurang komunikasi.”
            “Komunikasi…”
            “Nah tuh, komunikasi terpenting dalam hubungan. Jadi jangan suka tiba tiba ngilang. Pacar tuh dikasih kabar, jangan tiba tiba Ifa taunya kamu lagi main sama Yara.”
            “Iya, Faaa! Odit udah ngerti.”
            “Bagus! Anyway, kamu semangat banget ya bantuin Yara.”
            Aku terkekeh, “Ifanya cemburu tah Oditnya ngurusin Yara terus?”
            “Ya enggak, aneh aja.”
            “Apanya yang aneh sih? Yara kan sahabat Odit dari kecil.”
            “Ya maksudku Ndut, aku ngerasa kamu terlalu ikut campur…”
            Aku terdiam lalu menunduk. “Aku hanya sudah terbiasa menjadi barikade untuk Yara.”
            “Tapi Yara udah besar sekarang, dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”
            “Kamu keberatan Fa?” tanyaku dengan nada suara yang mulai tak tenang.
            “Gak, bukannya gitu.. Aku cuman…”
            “Fa, Yara sahabat aku.”
            Ifa menoleh lalu menatapku dalam dalam. “Aku tau, Dit.”
            “Terus apa masalahnya?”
            “Apa seumur hidup kamu bakal terus menerus jadi barikade sahabat kamu? Apa kamu akan terus membela sahabat kamu daripada pacar kamu?” Tanya Ifa dengan emosi yang mulai terlihat. Aku menunduk dan menarik nafasku.
            “Untukku sahabat nomer satu. Lebih dari teman dan pacar. Sederajat dengan keluarga, Ibu, Ayah dan saudaraku. Aku harus melindungi dan dilindungi sahabatku.”
            Ifa menarik nafas beberapa kali. Wajahnya memerah kesal. “Simpel aja deh ya, kamu lebih milih aku apa Yara?” Tanya Ifa.
            Ugh, apa sih yang ada dipikiran pacarku?
            Dia seharusnya tahu kalau sahabat adalah orang yang lebih penting daripada pacar. Ifa menatapku, “jawab, Dit!”
            “Kamu sudah tahu jawabannya.” Sahutku lirih yang kemudian di ikuti oleh dengusan Ifa.
            “Oh, oke. Sahabat ya, jadi aku gak penting? Fine. Aku pulang, Dit.” Kata Ifa lalu beranjak dari tempat duduknya.
            Sial! Kenapa hubungan antara sahabat dan pacar itu serumit ini sih?!

***

RISMA KHARISMAYANTI’S POV

            Aku memasuki kelas 9F dengan wajah sumeringah. Aku tak bisa menutupi senyum yang terus menerus ingin mengembang di pipiku. Ninis, Mauren, Bani, Febby, Dhira, Ara, Haekal, Nugroho, Albi dan Fonny langsung datang mengerubungiku. Aku hanya bisa tersenyum lebar.
            “Balikan sama Fauzan ya lo!?” Tuduh Nugroho.
            “Ih enggak boleh Risma ih, cowok masih banyak!” Seru Febby.
            “Risma kenapa? Habis ngecengin adik kelas terus di godain?” Tanya Dhira heran.
            “Risma salah makan apa kepalanya terbentur?” Tanya Ara datar.
            “Elah, Ra! Mana mungkin sih ah, pea lo.” Kata Albi sambil menatap Ara garang.
            “Ih barangkali, Ara mulu yang salah.”
            “Ye, lo kenapa sih Ris?” Tanya Mauren dengan mimik wajah super duper penasaran.
            “Risma jadian nih kalo kata aku!” Seru Bani. Haekal menatap Bani.
            “Ih sok tau ya sipit!” Seru Haekal sambil mencubit Bani. Bani menatap Haekal garang.
            “Ih diem sipit, kamu juga sipit!”
            “Hahahaha duh ya Ris, jadian sama siapa sih? Sok sok misterius gitu.” Kata Fonny.
            “Kayaknya Ninis tau deh sama siapa..” Kata Ninis akhirnya.
            Aku masih terdiam dan hanya tersenyum lebar. Aku sendiri tak menyangka kalau akhirnya ini semua terjadi. “Waduh, nyusul Ninis-Izar ya? Bener kan?!” Tanya Albi penuh semangat. “Eum… Ya… Gimana ya….”
            “Ah, Risma jadian kan!!!!!!!!” Seru Nugroho tak sabaran.
            “Hahaha, iya.”
            “CIYEEEEEE AKHIRNYA RISMA GAK JOMBLO!!!!” Seru Haekal semangat.
            “Selamat yaaaaa Risma!” Seru anak anak cewek yang sedang mengelilingiku. Aku tertawa lebar sampai mataku menyipit. “Hahaha makasih semuanya…”
            “By the way, lo sama siapa Ris? Ada cowok yang bego lagi yang mau nembak lo?” Tanya Albi dengan wajah innocent. Aku melemparnya dengan botol minumku.
            “IH ALBI NGESELIN BANGET SIH!”
            “Hahaha sorry, Ris…”
            “Eh jadinya sama siapa nih, Risma?!” Tanya mereka semua. Aku masih tersenyum lebar. Aku masih tak percaya apa yang terjadi 10 menit yang lalu di kantin itu adalah kenyataan. Bukan pemberi harapan palsu! Bukan! Dia sudah jadi pacarku.
            Aku melihat sekilas ke arah Ninis yang sedari tadi menekuk wajahnya. Aku tersenyum jahil lalu mengedipkan mataku. Kupikir Ninis akan tertawa tetapi…….
            “Ghorby.” Kata Ninis pendek dengan wajah super badmood sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia keluar dari kelas lalu membanting pintu. Ah, Ninis kamu kenapa?
            Aku beranjak bangun dari tempat dudukku namun Haekal menarik tanganku. “Jangan, jangan kesana. Ninis butuh waktu.”
            “Astaga.. Ninis bukannya udah jadian sama Izar ya? Kok masih gitu…”
            Dhira yang sejak tadi tak banyak bicara menoleh ke arah pintu dan menarik nafas. “Wajar, melupakan seseorang adalah hal yang tersulit yang pernah ada. Seperti kamu mencoba mengenal seseorang yang bahkan kamu tak pernah tau siapa dia. Dan melupakan itu butuh waktu, bukan cuman hari, minggu dan bulan. Mungkin tahun.” Kata Dhira lirih.
            Aku terdiam. Salahkah aku jadian dengan mantan sahabatku ketika sahabatku sudah punya pacar lagi? Aku berfikir lagi dan…
            Jangan jangan Izar hanya pelarian bagi Ninis?

***

SILVY SANTIKA’S POV

            Alvan tak tahu betapa aku menyayanginya. Alvan tak tahu betapa aku mencintainya. Lega yang menyediakan kesempurnaan bagiku pun tak cukup untuk menggeser Alvan Anansyah dari hatiku. Hanya saja…
            Aku makin merasakan semua cinta yang ada pada hubungan kami hanya keterpaksaan. Penuh dengan pura pura. Tak ada kebenaran. Semuanya hanya sandiwara. Sudah lama aku merasakannya, bahkan di hari Alvan mengatakan bahwa ia juga mencintaiku.
            Aku mengatakan bahwa aku menyukai Alvan secara langsung dan di hari itu juga Alvan bilang ia juga ada rasa padaku dan mengajakku untuk pacaran. Setelah itulah semua berubah. Semua persahabatan kami, candaan kami..
            Memang kami sudah seperti orang berpacaran. Punya panggilan tersendiri, punya waktu waktu khusus untuk berdua.. Hanya saja semuanya berbeda. Alvan memang jauh lebih perhatian, tapi seperti semua itu hanya keterpaksaan.
            Aku meneteskan air mataku di layar iPhone-ku ketika kusadari tak ada pesan dari Alvan selama seminggu ini. Alvan benar benar marah atas kehadiran Lega di antara kami berdua. Tapi aku merasa.. Lega itu serius padaku. Lega menyayangiku dan tak ada kepura puraan darinya.
            Aku memang menyayangi Alvan dan aku tak ingin kami berdua berpisah. Tapi.. Untuk apa aku tetap mempertahankan semua ini jika hubungan kami hanyalah kepura puraan dan…
            Tak pernah ada cinta dari Alvan untukku?

***

ANNISA NAZIHAH KOMAR | KIBO-CHAN’S POV

            “Kita emang lagi butuh orang lagi nih buat Rafflesia…” Kataku sambil meyakinkan dia untuk masuk Pramuka.
            “Emang harus 10 orang?” Tanyanya.
            “Iya. Harus 10 baru Raffles bisa banjar tempur. Ayo dong…”
            “Kalian ada berapa?”
            “5… 6 sih. Sama Fita, baru masuk dia. Kelas 9D yang pacarnya Fadhel tuh…”
            “Oh, oke aku tau kok.”
            “Yuk, Pramuka aja! Katanya Silvy juga mau masuk.”
            “Silvy 9D?”
            “Iya, seru kok. Dijamin deh!” Seruku. Dia tampak berfikir. Aku membiarkannya berfikir sambil mengerjakan tugasku lagi.
            Aku tahu, dia adalah cewek yang sedang disembunyikan oleh Gestu. Maksudku, kami semua tahu tabiat Gestu ketika ia sedang menyukai cewek. Sikap Gestu berubah dan aku tahu pasti gara gara cewek ini.
            Cewek ini sendiri memang sudah menyukai Gestu sejak lama. Aku tahu mereka sudah sering mengobrol dan cukup dekat. Cewek ini sering sekali datang ke latihan Pramuka untuk melihat Gestu, aku tahu. Tapi aku tak pernah tau kelanjutan dari mereka berdua.
            Cewek ini tahu semua tentang Pramuka dan Gestu. Ya walaupun dia belum bisa apa apa –hanya tau nama dan konsepnya saja, tapi paling tidak lebih mudah untuk mengajarkannya. Apalagi saat dia masuk dia langsung menjadi Rafflesia.
            “Eum.. Kib, sama Gestu yah ntar latihannya?” Tanyanya membuka pembicaraan lagi. Aku menoleh lalu menatapnya. “Pastilah, Rajawali-Rafflesia kan satu.”
            “Nah, itu dia masalahnya, Kib. Aku harus jauh dari Gestu.”
            Aku menatapnya heran. “Huh? Bukannya kamu suka sama dia?”
            “Ya….. Tapi dulu. Sekarang aku harus lupain dia.”
            “Kenapa? Ya ampun, kamu kan udah nungguin dia lama!”
            “Itu dia, dia emang bukan sama aku, Kib.”
            “Ah, aku rasa dia nyimpen perasaan untuk kamu kok.”
            “Akupun begitu. Tapi kan itu perasaan kita. Hati manusia siapa yang tahu sih?”
            “Eum.. Kalo kata aku sih, masuk aja. Gakpapa kali. Lagian dulu kamu bilang kamu suka Pramuka dan mau masuk kan?” Tanyaku. Ia terdiam lalu mengangguk. Dia memang ingin masuk Pramuka dari dulu, tapi ia malu karena baru masuk ketika sudah ditengah jalan.
            “Ya kalo masuk sekarang, udah akhir jalan. Udah mentok. Udah mau lulus.”
            “Gakpapa, kamu bisa banjar tempur sama kita lho. Bukannya kata kamu banjar tempur Gardenia itu bagus dan kamu pengen bisa banjar tempur?”
            Ia mengangguk. “Iya juga sih Kib…”
            “Kamu suka Pramuka kan? Yaudah  yuk masuk aja, mumpung ada 2 orang lagi yang mau ikut. Kan seru tuh jadi ramai.”
            “Iya.. Tapi Gestunya Kib…”
            “Gak usah mikirin Gestu.”
            “Gak mikirin, tapi kepikiran.”
            “Apa yang kamu pikirin?”
            “Ntar aku sama dia jadi canggung. Udah 2 minggu nih kita nggak ngobrol lagi.”
            “Nanti juga tiap hari interaksi, balik lagi kayak dulu.”
            “Ntar susah Kib move on nya…”
            “Move on tuh asal ada niat, doinya di sekeliling kamu tiap waktu juga kamu bisa.”
            Ia terdiam dan berfikir lagi. “Bismillah deh ya.”
            “AH! Jadi kamu mau?” Tanyaku dengan senyum sumeringah.
            “Aku harus siap siap ngejait buat pasang lambang Rafflesia nih.” katanya sambil tersenyum lebar. Okey, sedikit lagi kita bisa banjar tempur, Raffles!

***

MARISSA SAFHIRA RACHIM | ICOY’S POV

            “Kamu dimana, Coy?” tanya Nugroho dari sebrang. Aku yang sedang tidur tiduran langsung terbangun dan merapihkan rambutku.
            “Kamu mau ke rumah, Nug?!”
            “Icoy.. Aku cuman nanya kamu dimana?”
            “Eh.. Iya aku di rumah.”
            “Jalan yuk! Jam 4 aku jemput. Kita nonton.”
            “Nug.. Tumben dadakan?”
            Di sebrang sana Nugroho menarik nafas lalu tertawa kecil. “Kangen kamu, hehe.”
            “Aku juga hehe.” Jawabku dengan senyum mengembang dipipi.
            “Jam 4 ya. See you, sayang.” Kata Nugroho lalu menutup teleponnya.
            Aku langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi. Nugroho akhir akhir ini jadi berbeda. Sering memberi kejutan, lebih sering bersamaku dan.. Jadi lebih pendiam. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Kuharap ia baik baik saja.
            Namun ketika aku teringat pembicaraan kami 2 bulan lalu, tubuhku langsung lemas. Aku terjatuh di depan pintu kamar mandiku. Tidak.. Itu hanya pembicaraan konyol kami…
            Nugroho tidak akan meninggalkanku kan?

Nug: Aku gak tau jadi pindah apa enggak.
Icoy: Jangan, di Cirebon aja…
Nug: Kalo aku pindah, pasti jauh…. Dan aku gak mau jauh dari kamu.
Icoy: Aku juga, Nug..
Nug: Kalo aku pindah gimana ya, sayang…
Icoy: Kalo Nug pindah, ntar ngasih taunya kayak di FTV yang kita tonton waktu itu ya haha.
Nug: Hahaha kamu tuh ya, ntar aku jemput kamu ajak ke bioskop terus aku kasih tau disana haha. Ntar akunya megangin tangan kamu terus hapus air mata kamu.
Icoy: Hahaha.. Itu cuman becandaan kan?
Nug: Iya, cuman becandaan. Aku gak mau ninggalin kamu, sayang.


To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}