The Reason is You chapter 2

Hai Alicers! Huwaaa Alhamdulilah TRIY chapter 1 dalam waktu 8 jam langsung 64 viewers. 
Xixixi keep read!:}

***


NISRINA ARIJ FADHILA'S POV

Mauren masih menggoda Bani ketika Risma masuk ke kelas dan langsung membenamkan kepalanya di pelukanku. Kurasakan bahuku basah seketika. Ah, Risma-ku menangis lagi.

Seluruh murid cewek kelas 9F langsung mengerubungi mejaku. Risma terus menangis tanpa bicara sepatah katapun. Aku bingung aku harus bagaimana. Semua orang terus bertanya apa yang terjadi pada Risma namun cewek berkerudung biru itu tetap membisu. Kuputuskan untuk mengusap usap punggungnya dan membiarkan dia menangis sampai ia lega.

Tiba tiba Nugroho datang bersama Haekal dengan wajah panik. Febby, teman sebangku Risma langsung angkat bicara. "Lo berdua tadi ke kantin bareng Risma kan? Lo apain?" tanya Febby dengan sedikit membentak. Wajah Nugroho kusut sementara Haekal menggigit bibirnya. Tak ada yang bicara. Suasana kelas 9F sangat hening.

Kami semua tau, Risma memang sedang dalam kekacauan. Nilainya sedang melemah, fisiknya sudah dua minggu berturut turut tak kunjung sembuh dari flu parah dan hatinya juga sedang digantungkan oleh Fauzan. Fauzan adalah pacar Risma. Mereka sudah berpacaran sekitar 6 bulan.

Sudah satu bulan Risma dan Fauzan memiliki masalah dalam hubungan mereka. Mereka sangat sibuk sehingga kurang komunikasi. Aku sudah bicara berkali kali dengan Risma, namun tetap saja Risma ingin Fauzan yang terlebih dahulu mengkontaknya. Namun ketika Fauzan mengirimi Risma SMS, Risma tak mau membalasnya. 

"Feb, parah. They already broke up." kata Haekal akhirnya. Ugh, seperti ada sesuatu benda tajam yang menghantamku. Aku tahu apa yang Risma rasakan sekarang. Kupeluk ia lebih erat lagi ketika tangisnya yang sempat mereda kembali meledak setelah Haekal berbicara.
"Gila! Pasti tu cowok yang mutusin!" seru Mauren.
"Lo liat pas putusnya Nug?" tanya Tiara dengan suara serak. Nugroho mengangguk pelan.
"Astaga! Risma akhirnya di putusin juga setelah berkali kali mutusin orang..." kata Albi dengan nada iba.
"Duh, ini sih karma Ris! Elu sih mutusin orang!" seru Harizan tiba tiba datang. Risma melepas pelukannya lalu mengusap air matanya. "Sotil lo semua, gua yang mutusin!" seru Risma dengan suara serak. Tawa pun meledak dari seluruh murid.

"Ris.. Mungkin ini udah jalannya kali... Lo harus jomblo nemenin kita kita." sahut Mauren sambil memakan kentang gorengnya. "Iya Ris.. Lagian daripada digantung mulu lo.."
"Iya Ris, jangan nangis lagi...." kataku akhirnya. Aku memang daritadi tidak bisa bicara apa apa. Aku bisa merasakan apa yang Risma rasakan.

Akhirnya Risma menarik nafas panjang lalu mulai menceritakan semuanya. Memang Risma lah yang memutuskan Fauzan namun mereka sempat bertengkar hebat. Hubungan memang benar benar masalah komunikasi, hati dan kepercayaan. Ketiga hal itu harus benar benar dipersatukan supaya tidak ada kegagalan dalam menjalin hubungan.

Risma memang menyayangi Fauzan, sangat sayang. Sudah lama mereka bersama dan melupakan seseorang bukan hal yang mudah. Bukan seperti saat kita jatuh cinta pada mereka. Apalagi 6 bulan... 6 bulan bukan waktu yang sebentar.

Aku juga merasakan hal yang sama dengan Risma. Ketika aku menyayangi seseorang yang mungkin menurut kalian bukanlah orang yang terbaik di muka bumi ini. Ketika aku menyayangi seseorang yang mungkin menurut kalian bukanlah cowok idaman para gadis remaja. Ya, dia memang bukan idaman.

Namun aku menyayanginya. Sepenuh hatiku.... Bahkan sampai detik ini, saat kami sudah putus, saat aku tahu dia tak lagi menyayangiku seperti dahulu.

Aku, Risma, Fauzan dan mantanku itu memang bersahabat. Kami dulu satu kelas bimbingan belajar, selalu bersama dan sudah layaknya saudara. Namun benar kata orang, semakin sering bertemu, tidak bisa dipungkiri rasa lebih pasti ada.

Ketika aku jatuh cinta pada dia, semua mata memandangku aneh. Mengapa dia? Entah, akupun tidak bisa mengatakan kenapa aku mencintai dia. Karena mencintai sahabat itu pasti bukanlah keterpaksaan, namun karena perasaan.

Lamunanku buyar ketika kulihat sosok itu muncul di pintu ketika Risma sudah mulai tertawa lagi. Ia datang sambil memakai jersey Chelsea bertuliskan 21. "Nis! Mantan!" seru Haekal tiba tiba. Aku melirik sinis padanya. Jantungku berdegup kencang, kurasakan wajahku memerah ketika ia masuk ke kelasku lalu tersenyum kecil. Namun sayangnya....


Senyuman itu bukanlah untukku. Tapi untuk orang lain.


To be continued.... 


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}