The Reason is You chapter 3

Just remember, I can't be replaced. - Miss Piggy, The Muppets

***


APRILLIA DINI'S POV

Scout, Rajawali & Rafflesia 26 is offlically my life.

Aku jatuh cinta pada pramuka, entah sejak kapan dan entah karena apa. Mereka duniaku. Semuanya. Aku suka pioneering, aku suka tugasku sebagai penjuru, aku suka semuanya! Tidak ada terkecuali. Semuanya, ya semuanya.

Terutama dia.


Ya, dia. Cowok yang sejak tadi menutup wajahnya ketika kuarahkan lensaku kepadanya. Cowok yang paling tidak peka seantero SMP Negeri 1 kota Cirebon. Cowok yang selalu sibuk dengan laptopnya, sibuk dengan Lost Saganya, sibuk dengan Point Blanknya, sibuk dengan One Piece, sibuk dengan dunianya sendiri... Ya, dia.

Dia. Seorang penjuru Rajawali, banjar satu, ahli bidang pioneering. Andalan kami semua, Pramuka angkatan 26. Cowok dengan gigi gingsul di kanan atas yang selalu membuat hariku ceria. Sahabatku, teman seperjuanganku, Gestu Rosmayadi Asad.

Gestu.. Gestu.. Entah kenapa, dia jadi semangatku untuk setiap hari latihan. Ya walaupun akupun semangat bisa bertemu dengan anggota Pramuka lain. Namun rasanya, semua jadi berbeda ketika ada Gestu. Ada yang lebih spesial, namun aku tidak tahu apa itu namanya.

Gestu menatapku sinis lalu ia tersenyum kecil. "Heh, penjuru! Udahlah, objek foto kan masih banyak selain gue, Din." katanya sinis. Aku tertawa.
"No no no, maunya Gestu! Hahahaha."
"Kenapa sih yang diganggu Gestu terus?" tanyanya dengan nada kesal. Nada kesal milik Gestu selalu memancing tawaku, selalu dan selalu. Aku tertawa cukup keras sampai akhirnya dia meraih slrku. "Duh, fans baru nih!"
Kurebut slrku lalu aku meninju bahunya pelan. "Jomblo nih gini, suka kegeeran."
"Hahaha, gue gak jomblo Din. Bentar lagi juga punya..." kata Gestu sambil tertawa. Aku tersentak kaget. Ugh, Gestu punya pacar?

"Siapa?! Ih Gestu gak cerita!"
"Hahaha belum waktunya."
"Terus kapan? Belum jadian kan?"
"Sebentar lagi.. Hehehe." kata Gestu sambil nyengir. Aku mendesah.

Gestu, sahabatku, tempat keluh kesah, senang sedih, semua perjuangan sudah kami lalui bersama. Tapi.. Selalu saja, ketika Gestu punya pasangan, semuanya hilang. Seakan akan aku saja sudah tidak ada dimatanya.

Tidak, tidak! Ya Tuhan jangan lagi.. Sudah lama aku nyaman dengan keadaan seperti ini. Gestu yang selalu perhatian padaku.. Selalu mendengarkanku... Tidak, jangan seperti dulu lagi ya Tuhan... Aku hanya ingin dia tahu, aku tidak pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Seperti dia yang selalu satu dan tidak tergantikan.

Karena aku benar benar menyayangi dia....

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Aku tidak bisa munafik, tapi Afifah memang benar. Aku harus cepat cepat menyatukan 'kami' lagi. Aku, Livia, Vicky dan Alvan. Persahabatan kami tidak boleh berakhir dengan cara seperti ini. Ifa benar, ini semua sangat konyol.

Kami mulai bersahabat semenjak pertama kali masuk ke sekolah ini. Kami berbeda kelas namun selalu bersama sampai akhirnya... Satu persatu diantara kami memiliki dunia masing masing. Dunia yang lebih luas, yang mencakup banyak orang.

Mulai dari Alvan yang sibuk dengan OSN Biologi-nya, Livia dengan Impala-nya, Vicky dengan Asterix-nya dan aku dengan Marching Band-ku, Gema Bahana Winaya. Dulu kami masih sering ngumpul setiap minggu untuk sekedar ngobrol atau jalan jalan, namun semenjak Livia, Vicky dan Alvan punya pacar... Semuanya berubah.

Aku seperti tidak ada lagi, aku seperti sudah tergantikan. Padahal, aku ada! Dan mereka tahu aku ada! Tapi....

Mereka semua seperti sudah membuangku. Alvan sibuk dengan Silvy, Livia dengan Mario dan Vicky? Entah dia berpacaran dengan siapa. Semenjak ia lebih aktif di Asterix, dia sering sekali ganti ganti pacar. 

Dulu, alasanku masuk sekolah adalah mereka bertiga. Sahabatku yang berbeda kelas namun menerimaku apa adanya. Namun sekarang?

Kenapa aku seperti sudah tergantikan?


***

MUHAMMAD GHORBY'S POV

Ninis. Hah, lagi lagi aku saling pandang dengannya. Aku sudah mencoba untuk berpindah, tapi hatiku masih saja di cewek berbehel biru itu. Semua usaha yang kukerahkan untuk berpindah pada cewek lain sia sia. Semuanya hanya kepura puraan.

Sudah 2 bulan setelah kami berpisah namun masih saja ada rasa yang mengganjal ketika sesuatu yang menyangkut kami terungkit lagi. Tapi aku tidak bisa bohong, aku masih menyayanginya. Namun....

Ah, entahlah. Aku bingung bagaimana harus mengatakannya. Rasanya aku bodoh sekali pernah meninggalkannya. Aku ingin kembali padanya. Namun, apa bisa?

Kurasa... Sulit. Semenjak dia, lelaki itu minta aku menjodohkannya dengan Ninis dan kujawab 'ya' dengan yakin. Bodoh, aku tidak berfikir ulang!

"Ghor!" seru cowok itu sambil membidikan lensanya padaku. Aku tersentak. "Ah Izar! Diem lu, ngapain sih. Berasa homo tau gak lo foto foto gua mulu." kataku sambil berjalan ke arahnya. Izar tertawa.


"Habisnya lo dari tadi ngelamun mulu sambil ngeliat ke 9F. Ada siapa sih Ghor?" tanya Izar heran. Aku tersenyum lalu menggeleng. "Enggak kok. Lagi liat liat doang..."

Ya, Izar baru pindah 1 bulan yang lalu dan dia tidak tahu kalau.. Cewek yang dia suka itu mantanku. Nisrina Arij Fadhila. Izar masih sibuk memotret dengan slr nya ketika Ninis keluar kelas dan berjalan menuju kantin.

Ninis sempat menoleh ke arahku dan Izar. Ia tersenyum, kubalas senyumannya namun baru kusadari, mata Ninis kini menatap pada Izar, bukan padaku. Aku menghela nafas panjang.

"Makin cantik aja tu cewek, ya kan Ghor?" tanya Izar meyakinkan. Mungkin ini berlebihan atau seperti cewek, tapi aku kesal, sedih dan ingin melakukan sesuatu. Aku cemburu. Tapi aku sadar, aku bukan siapa siapa. Aku tidak berhak lagi untuk merasakan cemburu seperti ini.

"Ya kan, Ghor?" tanya Izar lagi meyakinkan. Lamunanku buyar seketika.
"Ah, apa Zar?"
Izar menghela nafas panjang lalu menatap Ghorby dalam dalam. "Ninis.. Dia makin cantik aja." jelas Izar.
"Oh.. Ni.. Ninis? Oh Ninis.. Hahahaha Ninis.. Ya ya, dia makin cantik haha..." kataku dengan tawa canggung.
"Hahahaha gue udah lumayan deket nih sama dia. Udah sering BBM-an." kata Izar. Ugh, BBM? Hal wajar, sudah sering!
"Wah, bagus bagus. Terus?"
"Dia... Juga ngirimin voice note gitu. Dia main gitar." kata Izar lagi dengan wajah sumeringah. Aku tersenyum mengejek. Voice note? Ah, langsung saja sudah sering! 
"Wah, dia main lagu apa?" tanyaku dengan antusias yang di buat buat.
"Eum.... A Thousand Years. Katanya spesial buat gue. Hahaha." Aku tersentak, aku hanya bisa mengangguk lalu memalingkan wajahku. Aku tidak bisa berkata kata apa apa lagi.

Kufikir, A Thousand Years dari Ninis hanya untukku, tapi ternyata...


Posisiku sudah tergantikan. 






To be continued....


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}