The Reason is You chapter 4

Kata landakgaul, cowok ganteng itu yang bisa main gitar. Buat gua, gak bisa main gitar juga gakpapa. Cukup jadi penjuru pas banjar tempur aja udah asdfghjkl;;) LET'S READ!

***



DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV

Aku menyukai sekolah ini! Aku suka dengan teman temanku di kelas 9F. Semuanya loyal dan menyenangkan. Aku suka dengan seragam batiknya -ugh, ya walaupun aku belum dapat karena masih anak baru hehe. Aku suka ibu kantin yang ramah, guru guru yang menyenangkan dan... Kamu. Cowok bermata sipit yang duduk beberapa bangku di depanku.

Pandanganku terpaku padanya ketika di panggung bangsal ia maju dan memainkan drum dengan lincahnya. Namanya Muhammad Haekal Alawy, cowok bermata sipit, tinggi kurus dengan suara khas yang selalu aku ingat sebelum aku tidur. Aku suka!


Seketika Mauren yang duduk di sampingku menyikutku dan sukses membuyarkan lamunanku. Aku tersentak lalu menatapnya sinis, "apa sih Ur? Gak seneng aja liat aku seneng!" seruku.

Mauren tertawa licik, "hahaha Eni liatin Haekalnya serius banget." kata Mauren dengan senyum menggodanya. Beberapa anak 9F memang lebih sering memanggilku "Eni" daripada Bani. Aku terdiam, pipiku memerah! Astaga! "Err... Enggak kok Ur, biasa aja."
"Gak papa kok Ni kalo naksir Ekal, itu wajar." kata Mauren dengan nada meyakinkan. Aku menatap Mauren hati hati, "wajar?" tanyaku dengan nada canggung.
"Heeuh." gumam Mauren yakin. "Wajar gimana?" tanyaku memperjelas.
"Ya.. Wajar. Eni jomblo, Ekal jomblo. Beda jenis. Wajar." kata Mauren lalu tertawa. Aku menyikutnya lalu tertawa kecil.


"Ah, kukira apa." sahutku lalu memainkan slr Mauren lagi.
"Hahaha, tapi Ni.. Kayaknya ada yang suka sama elo deh." kata Mauren sambil memakan kentang goreng keju kesukaannya. Aku menoleh lalu menatap Mauren dengan tatapan menyelidik.

"Siapa, Ur? Kepo dong! Hahaha."
"Itu.. Ridho, kelas 9D." kata Mauren. Kuputar bola mataku sambil mengingat ingat. Ridho.. Ridho... Ridho itu siapa? Ridho itu yang mana?
"Duh maaf, yang mana ya Ur? Aku gak tau." kataku polos.
"Aduh Ni.. Salah satu cowok high-class nya SPENSA tuh! Masa gak tau sih.."
"Ya ampun, aku baru masuk sini 1 bulan 2 minggu kali. Ya mana tau..."
"Oh iya gue lupa hehe." kata Mauren sambil cengengesan. Mata Mauren mencari cari sementara pandangan aku kembali terfokuskan pada Haekal. Mauren menyikutku lagi.

"Tuh, Ni! Yang itu!" seru Mauren sambil menunjuk. Aku mencoba melihat ke arah yang Mauren tuju dan... Astaga, tolong siapapun. Cowok seganteng itu menyukaiku? Mana mungkin!


Cowok itu memakai sweater hitam dan beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Kami sering berpandangan ketika aku melewati kelas 9D atau sanggar Pramuka. Aku sering melihatnya berkumpul dengan anggota Pramuka, kurasa dia juga bagian dari eskul tersebut...

Ridho? Cowok ganteng seperti itu? Astaga. Mauren pasti bercanda!

"Kok kamu bisa bilang cowok kayak gitu suka sama aku sih, Ur?" tanyaku heran.
"Hahaha habis dia suka liatin elo Ni!"
"Ya gak sengaja mungkin!" seruku.
"Gak sengaja itu gak berkali kali!" seru Mauren tak kalah heboh.
"Salah liat kali lo!" seruku membela diri.
"Gak mungkin! Gue sama Risma suka ngegap kok!" seru Mauren yakin.
Astaga, aku mulai kehabisan akal. "Ya mungkin.. Cuman penasaran?"
"Ya penasaran itu.... Bisa berujung jadi suka, sayang, cinta dan ngajak jadian kan?" kata Mauren sambil tertawa. Shit, oke Ur, aku kalah.

***

VALDA NURUL IZAH'S POV

Jika teman jadi sahabat, apakah sahabat bisa jadi pacar?

Pertanyaan itu terus berputar dikepalaku ketika kulihat dia, sang teman sebangku selama 2 tahun terakhir ini sedang tertawa bahagia denganku. Siapalagi kalau bukan Yoga?

Yoga benar benar menyenangkan! Ia ceria, lucu dan selalu membuatku tertawa. Aku suka dengan semua yang ia miliki. Senyumnya, tawanya, suaranya... Aku tidak pernah main main ketika menyayangi seseorang dan ya, aku menyayanginya. Sangat menyayanginya.

Yoga mencubit pipiku dan seketika lamunanku pun buyar. Yoga tertawa lagi. "Lucu ya, dulu kita musuhan waktu SD, sekarang kita jadi sahabatan gini, Val.."
"Hahahaha iya, Yog! Gak ada yang tahu kan masa depan?"
"Iya, siapa yang tahu kalau akhirnya kita malah lebih dari sahabat?" tanya Yoga sambil tertawa. Aku terdiam, sebentar tadi Yoga bilang apa? Bolehkah aku terbang sejenak dewa Neptunus?

Kurasakan pipiku memerah, aku tak bisa menatap Yoga lagi. Entah ini kode dari Yoga atau hanya sekedar candaan belaka. Namun ketika aku melirik....



Senyum manis mengembang diwajahnya.

***

TIARA ANNISA ADHI MAULIDANTY'S POV

Bell tanda pergantian kelas berbunyi ketika Nabila masih sibuk curhat secara 4 mata dengan Shelly, sahabat karibku. Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah menghabiskan waktuku berdua bersama Shelly. Sekarang diantara kami selalu ada Nabila, si cewek anak baru yang dengan mudahnya membuat seantero SPENSA tertuju padanya.

Tidak, aku tidak keberatan kok Shelly punya sahabat baru. Nabila pun temanku, tapi aku merasa.. Tidak ada lagi waktu "aku dan Shelly" sekarang serba Nabila, Nabila, Nabila! Huh!

Nabil menarik ikat rambutku lalu tertawa. Aku menoleh dan menatapnya sinis, "caper banget sih Bil!!" seruku dengan suara cempreng yang kubuat buat. Nabil tersenyum tipis.
"Gak, gue kasian aja sama elo. Sahabat lo.. Direbut orang! Sian deh." kata Nabil dengan nada menjijikan layaknya girl band Indonesia yang makin membuatku benci menyalakan televisiku. 

Aku mendesah, "uh diem lo Bil! Urusin Mulan gih. Kasian dia." kataku sambil mengusir Nabil. Sheena Mulan adalah pacar Nabil dan hari ini Mulan sedang sakit.
"Udah baikan kok dia. Gue sih cemasin elo." kata Nabil pelan. Aku mendelik.
"Cemas? Sama gue? Alah, sok care banget sih lo! Hahahaha."
"Ya kali gue kasian aja, elo sama Shelly tuh udah kayak pinang dibelah dua! Dimana ada Shelly ya ada Yara. Eh sekarang...." 
"Udahlah Bil, bukan salahnya Nabila. Emang udah saatnya juga kali ya cari temen lain..."
"Ya tapi, siapa sih yang gak sedih ketika sahabatnya ninggalin dia gara gara orang baru?" tanya Nabil sambil menatapku lekat lekat. Aku terdiam lalu menunduk.

Ingin aku bilang iya, namun... Berat rasanya. Ingin aku bilang tidak, namun... Munafik rasanya. Aku bingung, aku hanya merindukan aku dan Shelly yang dulu. Kami berdua yang kompak, tanpa ada gadis itu ditengah tengah kami.


To be continued...


You may also like

2 comments:

  1. hai titiii, aku baru baca loh cerita yang ini :p
    " Ridho? Cowok ganteng seperti itu? " errr..iya sih. kayaknya yang namanya ridho emang ganteng. aaaaaaa~~~

    ti, pov nya kebanyakan :( mau bikin cinta segi seratus ya? :( =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai kak fani! wkwk ini tiap hari lho kak keluarnya:p

      HAHAHA ini buat angkatan aku kak, jadi temen22 deket aku tulis semua:>

      Delete

Leave me some comment! Thank you, guys:}