The Reason is You chapter 6

Ha-ha. Kasian. Sungguh kasian. Orang yang hari ini pas nunggu 11 bulan dan... 
He doesn't even care of you:}

***


NISRINA ARIJ FADHILA'S POV

"Iya, jadi gitu ya Nis.. Jangan lupa tugasnya taruh di meja bapak." kata Pak Kabir seusai memberi penjelasan tentang tugas kelas Fisikanya yang belum aku mengerti. Aku mengangguk pasti lalu berbalik meninggalkan Pak Kabir, keluar dari ruang guru dan berjalan menuju ke arah kelas 9G untuk menemui Ifa. Ia ingin meminjam novel Dilema-ku. 

Aku bergegas menuju kelas Ifa ketika tiba tiba saja dari arah lapangan Albi menendang bola begitu kerasnya ke hadapanku. "AAAAAAAAAAAAH!" seruku sambil menutup wajah. Aku berusaha menghindar dan menutup mataku. Namun setelah beberapa saat aku tersadar, kok tidak ada yang terasa sakit?

Secara logis, tendangan Albi itu mengarah kepadaku dan pastinya mengenai anggota badanku. Entah kepala ataupun tanganku yang menutupi wajah. Tapi kok....

Aku memutuskan untuk membuka kedua tanganku yang kututup sampai akhirnya aku melihat seorang cowok dengan jersey Chelsea bernomer punggung 12 terbaring sambil memegangi tangan kanannya. Ia terlihat sangat kesakitan.

Refleks, air mataku jatuh. Cowok itu adalah dia, iya dia. Muhammad Ghorby.

"Ka... Kamu gakpapa?" tanyaku dengan canggung, hati hati bercampur panik. Ini kali pertamanya setelah 2 bulan aku tidak berbicara dengan Ghorby. Aku menarik nafas panjang. Ghorby menggeleng.
"Perlu bantuanku?" tawarku sambil menyodorkan tanganku.
Ghorby menggeleng lagi. Ia berusaha bangun lalu duduk di lantai dan terdiam.
"Ka... Kamu sakit? Sakit banget? Maaf ya Ghor, Ninis gak sengaja..." kalimatku terpotong ketika Ghorby menaruh telunjuknya di depan bibirku lalu menggeleng. "Bukan salah Ninis kok. Ghorby cuman gak mau kamu yang ngerasain sakit ini."

Aku terdiam, seechless bukan main. Entah apa yang harus aku lakukan. Aku dan Ghorby saling  berpandangan cukup lama sampai akhirnya... Click!


"Duh! Orang lagi kesusahan siapa sih....." gerutuku sambil bangun dan ketika aku melihat ke belakang... Ups. Izar sedang membidikan lensanya ke arahku dan Ghorby.
"Ah, posisi yang bagus sekali! Hahaha."
"Apa sih Zar, aku cuman bantuin Ghorby yang udah bantuin aku kok."
Ghorby akhirnya bangun lalu mengangguk mengiyakan. "Iya Zar, calon cewek lo nih ceroboh banget. Hampir kena bola dia hahaha." kata Ghorby sambil tertawa kecil.

Mendengar kalimat Ghorby, aku jadi terbawa pada ingatan akan percakapanku dengan Izar via voice call skype beberapa hari yang lalu. Izar bilang ia tahu aku suka cokelat, aku suka gitar, aku suka novel dan berbagai macam hal kecil tentangku dari sahabatnya yang menjodohkannya denganku. Tapi dia tidak mau memberi tahu siapa orangnya.

And now.. Everything seems want to kill me. Hey, are you kidding me Ghorby? Jadi.. Mantanku sendiri yang menjodohkanku dengan orang lain? Oh come on!

"Nis? Nis? Kamu masih disitu?" tanya Izar membuyarkan lamunanku. Aku tersentak lalu menatap Izar dan Ghorby secara bergantian. "Uhh, ya ya ada apa?" tanyaku gugup.
"Kamu masih seneng ngelamun ya..." goda Izar dengan senyuman khasnya. Aku tertawa.
"Melamun kan hobiku, Zar hahaha."
"Ah iya, aku punya sesuatu untuk kamu."
"Apa, Zar?" tanyaku dengan mimik wajah yang penasaran. Ghorby melirikku selintas lalu membuang pandangannya ke arah lapangan tempat Albi dan teman temannya bermain futsal. Izar mengambil tasnya lalu mengeluarkan.... 


"Ini buat cewek manis bernama Ninis..." kata Izar sambil tersenyum. Aku meraih sekotak Silver Queen Rocker itu sambil tertawa kecil. Izar benar benar penuh kejutan!
"Makasih Zar... Tapi gak perlu sekotak gini juga kali. Hahaha."
"Ya, untuk persediaan kamu dirumah. Aku tau kamu akhir akhir ini lagi stress, makan coklat bisa bikin kamu lebih rileks." kata Izar sambil memandangku dengan lembut. Ah, andai Ghorby yang menatapku seperti itu.

"Hehehe, kamu tau aja deh. Eh ya, aku pergi dulu ya mau ngasih novel ini ke Ifa."
"Oke, dimakan yaaa."
"Iya.. Dah Izar!" seruku sambil melambai lalu berjalan menuju kelas 9G. Tiba-tiba langkahku terhenti. Ah! Aku lupa mengucapkan terima kasih pada Ghorby!

Kuputuskan untuk berbalik dan sekedar mengucapkan terima kasih pada Ghorby. Namun ketika aku berbalik.....

Yang kutemui hanya lorong panjang yang padat tanpa ada cowok dengan rambut khas dan senyum manisnya yang dulu selalu ia beri padaku. Dulu, ya dulu. Sekarang tidak lagi.

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV


Aku dan Silvy sudah berpacaran selama 3 bulan belakangan ini. Kami awalnya hanya bersahabat dan akhirnya kami menjadi pasangan ketika Silvy mengatakan bahwa ia sudah lama menyukaiku.

Aku memang menyukai Silvy, iya. Aku suka gadis manis itu. Tawanya, senyumnya, cara berfikirnya. Dia benar benar menyenangkan dan menjadi moodboosterku. Walaupun dia usil, tapi aku senang hari hariku dipenuhi oleh pesan darinya. Aku nyaman dengannya.

Namun kalau boleh aku jujur, rasa nyamanku itu hanya sebatas sahabat. Tidak lebih.

Aku memutuskan untuk meminta Silvy menjadi kekasihku 3 bulan yang lalu itu karena aku berfikir, Silvy baik dan ia sangat sayang padaku. Walaupun pada saat itu aku masih menyukai mantanku, namun aku berfikir sederhana saja.

Kenapa harus mengharapkan yang tidak pasti sementara kepastian sendiri jelas ada di depan mataku? Aku tak perlu kemana mana lagi. Aku hanya berjalan selangkah dan Silvy selalu berada di sana menungguku.

Semenjak aku berpacaran dengan Silvy, semuanya jadi berubah. Jadi aneh, canggung.. Berbeda dengan aku yang dulu dengan Silvy. Ya walaupun kami dulu sempat canggung karena aku tidak nyaman di gossipkan dengan Silvy tanpa kepastian tapi...

Aku jadi tidak merasakan 'nyaman' yang kurasakan saat aku bersama Silvy sebagai sahabatnya.

Aku berharap, jika aku mencoba.. Rasa sayang kepada 'pacar' tumbuh dari dalam hatiku untuk Silvy. Aku berharap, aku mencoba dan terus mencoba untuk mendapatkan perasaan itu. Namun pada akhirnya aku gagal. Aku sudah sampai di titik dimana tidak ada harapan lagi.

Orang orang selalu bilang aku beruntung, aku mempunyai Silvy yang menyayangiku dan tidak sepantasnya aku menyakiti dia. Aku mencoba untuk menganggapnya lebih, tapi tidak bisa...

Silvy benar benar terlahir untuk menjadi sahabatku, teman dekatku, orang yang selalu mengusiliku, bukan untuk jadi kekasihku. Aku ingin menyudahi semua ini. Aku tidak mau terus ada keterpaksaan diantara kami. Aku tidak mau terus menyakiti Silvy. Karena jika ini semua di teruskan, kami berdua merasakan sakit yang lebih perih lagi dan aku tidak mau itu semua terjadi.

Karena kini aku tahu, cinta itu benar benar tidak bisa dipaksakan.


To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}