The Reason is You chapter 7

Kita di tempat yang sama, duduk depan belakangan, 
tapi seperti berada di dunia yang berbeda.

***


RHEZA AUDITYA WIJAYA'S POV

Aku sudah cukup gerah melihat Yara yang berpura pura seakan akan ia kuat, namun sebenarnya tidak. Aku tahu betapa ia merindukan Shelly berada disampingnya. Sahabat karibnya, sahabat seperjuangannya.

Bukannya aku membenci Nabila, tapi seharusnya dia sadar posisinya sebagai anak baru. Ia berlagak seperti ialah orang pertama yang berteman dengan Shelly. Kasian Yara-ku yang malang.

Sekarang Yara mulai menyisih dan berhenti memperjuangkan persahabatannya dengan Shelly. Tampaknya ia sudah menyerah dan lelah dengan Nabila yang selalu merebut Shelly ketika Yara sudah mulai dekat dengan Shelly.

Untung saja ada Ifa, Megan, Valda, Fieda, Mulan, Nabil, Yoga dan aku yang selalu berusaha menghibur Yara. Ya memang kami jumlahnya lebih banyak daripada Shelly, namun tetap saja beribu teman baru tak bisa menggantikan satu sahabat terbaik di hati.

Walaupun Shelly sudah meninggalkannya, bagi Yara, Shelly tetaplah sahabat terbaiknya.

Namun aku sudah tidak kuat lagi melihat Yara-ku bersedih seperti ini. Aku ingin bicara langsung pada Nabila, tapi aku tidak mau menyakiti hati anak baru seperti itu. Aku ingin bicara pada Shelly, namun tampaknya semua itu sia sia. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan untuk membantu Yara?

***


VALDA NURUL IZAH'S POV

"Valda Nurul Izah!" panggil Ibu Isti dari depan. Aku langsung meraih Vaio biru-ku lalu membawanya ke depan. Dalam hati aku terus komat kamit semoga presentasiku lancar. Yoga lalu membantuku menghubungkan laptopku dengan proyektor. Ia tersenyum tipis.

"Kenapa senyum senyum?" tanyaku sembari membuka file presentasiku.
"Enggak, lucu aja." kata Yoga sambil tertawa kecil.
"Apanya yang lucu ya?" tanyaku heran.
"Rambut kamu. Gak tau aku suka aja sama rambut kamu, Val." kalimat Yoga berhasil membuatku melayang. Aku tahu pipiku pasti sudah memerah sekarang. 

"Val? Ini udah selesai ya..." kata Yoga.
"Ah, iya thanks ya Yog."
"Yo, good luck kamu!" seru Yoga sambil mengusap kepalaku. Subahanallah, Yoga selalu saja membuatku merasa kesenangan seperti ini! Untung saja satu kelas sedang sibuk dengan presentasi mereka masing masing dan hanya Ibu Isti yang memperhatikan apa yang Yoga lakukan tadi. Ibu Isti hanya tertawa kecil lalu berisyarat menyuruhku untuk memulai presentasi.

Beberapa menit pertama aku di depan, semuanya begitu fokus, tak ada gangguan. Aku begitu percaya diri karena bisa menjelaskan Pertempuran 10 November dengan jelas. Namun ketika Yoga menarik kursinya dan duduk di meja paling depan......


Konsentrasiku berantakan. Ifa dan Megan yang sering menggodaku dengan Yoga berdehem. Begitu juga dengan Audit yang duduk tepat di depanku. Ah, sial!

"Iya.. Jadi.. Eum... Komandan saat itu adalah...."

Tiba tiba saja fikiranku buyar. Aku lupa namanya! Bahkan ketika aku liat foto yang ada di slide presentasiku, aku tidak menemukan siapa namanya! Mataku berputar putar ke sekeliling kelas, memohon meminta bantuan. Tapi bukan kelas 9G kalau tidak menyiksaku!

"Bung Tomo, Val.. Bung Tomo." bisik Yoga dengan pandangan lurus ke depan.
"Uh, apa Yog?"
"Bung Tomo. Masa kamu lupa?" tanya Yoga heran.
"Uh, haha.. Iya, Bung Tomo! Maaf, Valda lupa." kataku sambil cengengesan. Satu kelas meneriakiku. Ada beberapa orang yang menggodaku dengan Yoga. Astaga!

Aku dapat melanjutkan presentasiku lagi lalu setelah kututup, aku kembali duduk di mejaku dan tiba tiba Yoga datang. Ia tertawa kecil lalu mengambil botol minumnya.

"Apa kamu?" tanyaku dengan nada sinis. Aku tahu, Yoga pasti menertawaiku!
"Hahaha, gakpapa Valda."
"Ih.. Valda kan lupa, lupa itu manusiawi. Betul?"
"Iya, tapi gak lupa sama tokoh utama cerita kamu juga sih..."
"Ya.. Ah sudahlah."
"Tapi gakpapa, sudah bagus kok." kata Yoga sambil tersenyum lalu menatap ke depan melihat Shisi yang sedang presentasi. Aku berjalan kebelakang meninggalkan Yoga untuk mengambil buku di meja Ifa saat aku menyadari....


If someone ask me why I love to go to school, maybe the reason is you, Yoga.

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

"Gan, buka! Jadi pergi gak lo?" tanya Tegar, kakak sematawayangku dari luar. Aku langsung mengecilkan volume iPad-ku lalu membuka pintu kamar.

"Eh, iya Gar jadi. 30 menit lagi." kataku sambil mengikat rambutku.
"Kemana sih? Gue bawa mobil gakpapa?" tanya Tegar. Tumben sekali dia nanya dulu, biasanya juga langsung bawa aja! Aku mengangguk.
"Hang out sama anak anak. Bawa aja, gue dijemput."
"Yaudah Gan, pergi ya gue. Hati hati lo!"
"Ciye tumben care banget, biasanya juga lo gak perduli..."
"Ya kali Gan sekali sekali biar so sweet gitu hahaha. See you." kata Tegar sambil melambaikan tangan lalu berjalan menuruni tangga dan hilang begitu saja.

Hari ini akhirnya aku bisa pergi hang out lagi dengan Livia, Vicky dan Alvan. Sudah hampir 2 bulan kami tidak pergi bersama sama. Akhirnya seminggu yang lalu Vicky mengajakku untuk pergi ke Bangi Kopitiam. Ia berjanji menjemputku lalu bertemu dengan Livia dan Alvan disana.

15 menit kemudian aku sudah rapih dan siap pergi. Lalu aku mencari handphoneku karena sejak tadi aku sibuk dengan iPad dan tidak sempat memegang handphoneku. Ketika aku hendak menelpon Vicky memberi tahu bahwa aku sudah siap, aku menemukan Vicky mengirimiku BBM semenjak 1 jam yang lalu.  Dan.............

Aku merasa persahabatan ini benar benar tinggal kenangan.


Sender: Vicky-mbul! ({})

Gan, sorry. Gue harus nemenin Adel, dia sakit. Via gak tau kemana dan Alvan mau ke rumah Silvy. Lain kali aja ya.


To be continued....


You may also like

4 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}