The Reason is You chapter 8

Hai. Selamat ya kamu udah gak bakal liat ke depan atau belakang kamu ada aku lagi. 
Jadi kamu gak perlu pura pura gak peka lagi :}

***



GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV

Untukku, punya atau tidak punya pacar sama saja. Sama sama bisa hidup. Lalu kenapa harus pusing sekali ketika jomblo? Kamu kan tidak mati kalau tidak punya pacar.

Belakangan ini orang orang di sekitarku semuanya punya pacar dan gebetan masing masing. Mereka jadi sibuk dengan satu orang dan mengorbankan kegiatan yang mereka senangi. Mereka mengorbankan waktu yang biasanya digunakan untuk berkumpul dengan teman teman dekat.



Padahal untukku, jomblo itu bahagia. Maksudku, ya.. Tidak ada yang mengatur, bisa kemana saja sesuka kita. 

Ya, aku memang berbohong pada Dini. Aku memang tidak menyukai siapa siapa dan tidak ingin berpacaran dengan siapapun sampai lulus Ujian Nasional nanti. Aku ingin menikmati masa masa jombloku dengan menghabiskan waktu bersama orang orang terdekatku.

Tapi..... Aku juga tidak bisa bohong kalau terkadang aku juga suka iri pada teman teman Pramuka-ku dan yang lain jika mereka punya gebetan sementara aku tidak. Namun aku sendiri belum menemukan gadis yang tepat untuk jadi sosok penyemangatku.

Aku mencari gebetan itu hanya sebatas penyemangat, tidak lebih untuk saat ini. Banyak hal yang harus aku fikirkan. Sekolah, game-ku, Pramuka dan waktu istirahatku. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi stupid-junior high school-love story that has no ending.

Tapi.......... Gadis ini.........

Lamunanku buyar ketika tanda chat masuk berbunyi lagi. Aku memang sudah lama dekat dengan gadis ini. Ya walaupun hanya ngobrol ngobrol tugas dan sharing pelajaran lewat facebook atau SMS karena kami berbeda kelas namun... Dia begitu baik sekali.

Kubuka lagi Mozila Firefox lalu membaca chat darinya. 

"Aku mau bertanya, boleh?"

Aku mengetik cepat, "tanya apa?"

Beberapa menit kemudian masuk pesan baru darinya, "udah 7 bulan yang lalu sih, cuman aku penasaran. Kamu inget waktu 2 Januari aku telpon kamu dan aku nyanyi? Kamu sms aku 'makasih ya untuk lagunya walaupun agak..Hehehe." itu lagunya kenapa ya?"

Aku terdiam. Astaga, aku harus jawab apa? Ugh, kenapa dia masih menanyakan soal itu sih? Aku memutar otakku, lalu mengetik lagi, "hmm coba Gestu liat smsnya."

Selang 3 menit, ada notification bahwa aku baru saja di tag di sebuah foto oleh gadis itu. Dan.. Dia benar benar mengirimkannya.



Speechless. Itu sudah 7 bulan yang lalu... "Kamu masih nyimpen smsnya?"

5 detik kemudian ia menjawab, "ya, masih ada."

"Wah...."

"Duh, jadi kenapa lagunya?"

Aku memutar otakku lagi. Aku harus menjawab apa? Astaga.... Masa sih aku harus jawab lagunya bagus sekali dan aku suka? Astaga... Tiba-tiba ia mengirimkan pesan lagi

"Tu, balessss!" 

Ah, iya. Gadis itu satu satunya orang yang memanggilku "Tu", no one else. Akhirnya aku menjawab... "Lagunya biasa aja, kan ngucapin + nyanyi = terima kasih. Hahahaha."

10 menit kemudian, tidak ada balasan.

Sejujurnya, aku tau gadis ini menyukaiku. Berbagai macam kode, modus hingga frontalan sering ia tunjukan padaku. Tapi, tidak pernah ada kepastian yang jelas darinya. Jadi aku menganggap semua hal yang ia lakukan padaku hanya sebatas sahabat. Bukankah cinta itu butuh kepastian?

15 menit kemudian, pesan baru masuk darinya. "Astagfirullah, aku nungguin 7 bulan dan cuman gitu doang..."

Aku nyengir lalu kuketik lagi, "hahaha."

Dia membalas lagi, "emangnya aku nyanyi lagu apa coba?"

"Happy birthday sama lagunya Bruno Mars."

"Judul?"

"Just The Way You Are."

"Tumben inget."

Aku tertawa, mana mungkin aku melupakan semuanya? Dia menelponku tepat jam 12 malam, jadi pengucap pertama melalui telepon setelah kakakku mengirimi SMS. "Ingetlah kalo yang nyanyi tuh inget."

5 menit kemudian masuk pesan baru. "Emang yang gak inget yang mana?"

Shit, aku terjebak. "Apa coba?"

Tiba-tiba ada satu notification baru, dia men-tag foto lagi. Aku membukanya dan...


Dan description pada foto itu sukses membuatku speechless. Apa benar cewek sebaik ini menyukaiku? Tidak mungkin.

Gestu pasti lupa pernah masukin bungkus TUC paprika ke tas aku waktu rapat PORAK perkelas Desember lalu. Masih aku simpen.




***

MUHAMMAD HAEKAL ALAWY'S POV

Satria merebut gitar dari tanganku lalu memainkannya secara abstrak. "Apa sih, Sat. Gak bisa diem aja coba." kataku sambil tertawa.

"Sipit diem lo, gedein dulu mata noh!" seru Satria sambil melotot. Tawaku makin menjadi jadi. "Sipit juga ganteng gua hahahaha."

"Ya kalo ganteng gak jomblo dong!" seru Ridho tiba tiba datang. Ridho adalah temanku sejak kelas 7. Kami dulu sempat sekelas di bimbingan belajar. "Elo juga jomblo kan Ridh hahaha." kataku sambil meninju bahunya pelan.

"Enggak, gue lagi mau deketin cewek."
"Huh? Siapa?" tanyaku heran.
"Ada deh.." 
"Elah, sama sodara gue juga lo gak berani ngedeketin!"
"Sial, sikon gue sama Alda gak bagus."
"Jadi udah move on?"
"Kepo deh lo kayak cewek."
"Astaga bangke banget sih temen gua." 
"Hahaha ya kan kita gak kayak cewek yang ngegalau. Ntar kalo udah dapet gue pasti cerita."
"Pasti dan harus lah! Gue seneng akhirnya lo moving, daripada galauin sodara gue gitu."
"Hehehe doain aja. Lo juga gih buru punya pacar. Kita sering ngobrol kayak gini bisa dikira homo."
"Astaga, gue juga kalo homo pilih pilih kali cari yang elit, bukan sama elo."
"Sialan lo haha."
"Eh ya, Call of Duty nya jadi gak?" tanyaku. Ridho mengangguk. "Yaudah, masuk yuk." ajakku. Ridho mengikutiku masuk dan duduk di sampingku. Aku lalu menyalakan laptopku lalu mencari folder Call of Duty.

"Mana flashdisknya?" tanyaku. Ridho menyodorkannya padaku. Setelah aku memindahkan file Call of Duty, aku bermain game tersebut sambil mengobrol dengan Ridho. Namun tiba tiba, Ridho tak bersuara. 
"Ridh? Masih disitu kan lo? Hahaha."
"Masih..."
"Gua tau lo jomblo bro, tapi gak usah alay gitu."
"Astaga! Enggak, gue cuman.. Speechless."
"Emang kenapa?"
"Ternyata cewek yang gue suka ada di kelas elo."
"Eh serius?" tanyaku penasaran.
"Iya. Cantik Kal, cuman gue gak berani nyamperin."
"Siapa gitu? Maur?"
"Bukan bukan. Ada kertas gak lo?"
Aku menarik nafas lalu mengambil kertas dan pulpen di kolong mejaku. "Kampung lo kayak cewek. Nih!"  

Ridho lalu menulis dan menyodorkan kertas itu padaku.

Arah jam 4, Kal.

Aku menoleh ke arah tersebut dan yang kutemukan adalah seorang gadis yang sedang menulis. Aku mengambil kaca mataku untuk memperjelas pengelihatanku karena dia sedang tidak menghadap ke arahku. Dan ternyata...

Gadis yang membuat Ridho moving on dari saudaraku adalah orang yang aku sukai.



To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}