The Reason is You chapter 9

And I wonder if I ever cross your mind?

***


SILVY SANTIKA'S POV

"Pi, kantin yuk!" ajak Novi sambil menarik tanganku. Aku melepasnya secara halus, "enggak ah Nov.. Gue sama Alvan aja." kataku pelan. "Lah, gak enak ih! Novi nya gak nyaman cuman berduaan sama Sulthan.." kata Novi dengan wajah memohon. Aku tertawa.


"Ya ampun, pasangan baru berduaan aja deh." godaku sambil melirik Sulthan. Sulthan tertawa sampai menyipitkan matanya. Akhirnya Sulthan tidak marah lagi padaku karena tragedi pembajakan twitter tempo hari.

"Yaudah, Nthan duluan ya Sipi." kata Sulthan sambil menggandeng tangan Novi. Aku melambai lalu kulihat wajah Novi memerah. Ah, Sulthan memang pantas mendapatkan gadis cantik dan lembut seperti Novi.

Aku bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengajak Alvan, pacarku untuk ke kantin bareng. Sudah lama rasanya tidak melakukan hal kecil seperti itu dengan Alvan. Ketika aku masuk kelas, aku melihat wajah serius Alvan lagi. Ah, sepertinya tidak bisa ke kantin bareng nih...


"Ay?" panggilku sambil mendudukan diri di depan Alvan. "Hem." Alvan berdehem sambil terus memainkan gitarnya. "Gak mau ke kantin kamu?" tanyaku memberikan kode. Alvan menggeleng ,"gak." jawabnya pendek.

Ugh, ada yang tidak beres dengan Alvan.

"Ay, kamu kenapa ya?" tanyaku sambil cengengesan.
"Gakpapa." jawab Alvan pendek. Aku terdiam, ada apa sih dengan Alvan?
"Aku tau kamu kalo main gitar gak bisa di ganggu cuman...."
"Sil, keliatan kan aku lagi sibuk?" tanya Alvan memotong kalimatku. Aku tersentak. Aku harap tidak ada yang mendengar apa yang Alvan katakan karena itu... Benar benar terasa menyakitkan.

"Maaf kalo aku ganggu kamu.. Aku cuman kangen kamu. Udah beberapa hari ini kan kita gak chat, gak ngobrol juga..." kataku jujur. Alvan menaruh gitarnya, mengeluarkan iPhone 4s putihnya. Ia memencet layar iPhone tersebut beberapa kali lalu menunjukannya padaku.

"Apa aku masih penting ketika dia udah ada di sisi kamu?" tanya Alvan sambil menatapku dalam dalam. Aku tersentak, jantungku  berdegup kencang. Tatapan Alvan  benar benar membuatku takut.

Tidak, jangan! Pelajaran hari ini, jangan pernah memberikan password Facebook-mu pada pacar. Sesuatu yang menjadi privasi dan terbuka seperti ini tuh........

Alvan lalu menarikan jarinya di layar iPhone-nya itu dan menunjukan sesuatu padaku sambil berkata, "ada gak ada aku juga gak ngaruh buat kamu. Kamu kan ada dia." 

Dan aku bisa melihat..... Cintaku dan Alvan menuju ujung jalannya.


Hehehe seneng deh tiap hari bisa chat sama Silvy. Duh, coba aja Silvy single.. #eh. Hahahaha:D

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

Entah sejak kapan aku jadi sering memandang ke arahnya. Orang yang selalu ada di sampingku ketika aku senang, sedih, gelisah, marah.... Ia yang menjadi penyemangatku untuk moving on dari seorang Fauzan. Ya, dia.

Walaupun dia bukan atlet baseball, bukan anak olimpiade, bukan anak band, apalagi anak basket... Tapi dia adalah dia. Aku menyukainya seperti aku menyukai pelangi yang datang ketika hujan sudah reda.

Dia datang untuk menghiburku saat aku baru saja putus dari Fauzan. Dia ada disampingku ketika aku sedang pusing dengan setumpukan tugas tolol yang ada. Dia ada dihadapanku untuk mengajariku ketika aku tak bisa melakukan sesuatu dengan sempurna.

Dia orang yang kusukai namun tertutup oleh selimut persahabatan.

Pandanganku beralih ke isi pesan yang dia kirimkan minggu lalu. Sebuah pesan berisi kode yang membuatku makin melayang. Orang sebaik dia mana mungkin kutolak? Aku ingin terus menyukainya.. Aku ingin terus disisinya.. Namun jika aku mengingat dia adalah mantan sahabatku sendiri, mana mungkin aku bisa meneruskan perasaan ini, Ghor?


Risma! Kamu jomblo. Saya juga. Kalo disatuin, kita jadi?

***

ABIZAR BAGAS PRATIATAMA'S POV

"Lo tau Zar? Gue homo." kata Ghorby tiba tiba dengan wajah super madesu (masa depan suram) sambil menunjukan 2 sumpit padaku. Aku bergidik ngeri lalu melemparkan satu tabul yang sukses mendarat di mulutnya.


"Kampret lo, dasar cinta gratisan. Om om homo gara gara kelamaan jomblo. Ngeri gue sahabatan sama elo." cecarku sambil menatap Ghorby jijik. Ia tertawa kencang.
"Gue frustasi, Zar." kata Ghorby akhirnya.
"I know, pasti lo kalo stress bakal mengeluarkan kalimat 'lo-tau-zar-gue-homo' kesukaan lo."
"Ya dan tingkat frustasi gue udah sampe stadium 7."
"Lebay, jadi lo kenapa?"
Ghorby menatapku heran. "Kenapa apanya?"

Sontak aku langsung bangun, duduk disamping Ghorby dan menonjok bahunya yang tidak ada dagingnya sama sekali. "Bego lo, capek gua ah."
"Aaaah gitu aja ngambek.. Zar.. Ganteng deh!" seru Ghorby dengan nada merayuku. Aku menamparnya pelan, "jijik Ghor. Mending mati aja deh lo."

"Hahahaha, canda Zar. Serius, totally stress out."
"What happened huh?"
"Gue-lagi-suka-orang." kata Ghorby dengan tatapan serius.
"Cewek?" tanyaku dengan tatapan tak kalah serius.
Ghorby menarik nafas kecewa lalu menatapku sinis, "gak, cowok. Ya kali Zar gue suka sama cowok, please deh hello pasti cewek."
"Ya barangkali semenjak putus sama cewek terakhir lo... Lo memutuskan untuk suka sama sesama? Hahahaha."
"Bangke, I'm serious. Gue lagi suka sama seseorang."
"Ya terus? Kudu salto Izarnya?"
"No, Zar. Please bukan saatnya untuk jayus." pinta Ghorby dengan nada serius. Aku berdehem lalu menegakkan dudukku dan menatapnya dengan serius. "Okey, no more stupid jokes. What's up?"

"Seperti yang lo tau gue lagi deket sama Risma..." kata Ghorby membuka pembicaraan. Aku tertawa kecil, "oke dan ya kenapa?"

"Ya... Gue pengen nembak dia cuman... Cinta gue habis di mantan kayaknya." kata Ghorby dengan nada lesu. Sontak tawaku langsung menggelegar. "HAHAHAHAHA. Hina hidup lo Ghor. Sungguh hina dan kaum terbelakang sekali jomblo yang cintanya habis di mantan."

"Ah, seneng lo?"
"Hahahaha gak, lucu aja Ghor."
"Yaudah, gue homo beneran aja nih!" ancam Ghorby.
"EH JANGAN GHOR! Masa depan lo udah suram sekarang, kalo lo homo semuanya bakal tambah parah."
"Biarin Zar! Gue sayang banget sama mantan gue! Tapi.... Gue sayang juga sama Risma."
"Kampret, ababil gila lo."
"Ya namanya juga perasaan Zar..."

"Astaga gak usah kayak cewek deh... Gue juga masih nyimpen rasa sama mantan gue, Ghor. Tapi ya karena gue udah sayang sama Ninis jadi gue.. Berniat untuk nembak dia." kataku enteng. Ghorby tiba tiba terbangun dan menatapku kaget. "Lo mau nembak Ninis?!"

Aku menatapnya heran. "Iya, udah lama deket. Wajar kali."
Ghorby masih melotot tak percaya. "Sumpah lo?! Gila sumpah lo Zar?"
Aku bangun, "apa sih salahnya? Ninis lesbi? Atau homo juga?"
Ghorby tertawa kecil, "bangke, yakali dia homo hahahaha."
"Hahaha, ya terus kenapa?" tanyaku heran. Kali ini Ghorby terdiam, hanya matanya yang sendu membuatku tersadar....


Aku tidak tau apa, tapi aku yakin ada sesuatu yang pernah terjadi antara mereka berdua.



To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}