The Reason is You chapter 15

Hai Reasonators! Waktu kalian lagi baca ini, gue pasti sedang berguling bareng anak Rajawali-Rafflesia 26 sambil ngegangguin anak Garuda-Gardenia 27 di CT 2012. HAHAHA. Ya, selamat membaca:}

***

Cerita sebelumnya...

NABILA TAZKIA’S POV

            “Jadi udah dapet nama angkatannya, Shell?” Tanyaku ketika Shelly sudah kembali dari rapat KM. Ia menoleh lalu mengangguk, “udah, Nab.”
            “Wah, apa namanya?”
            Shelly membuka buku catatannya yang berwarna pink lalu menyodorkannya padaku. “Vancouver’85. Van-infinite curiousity fever 85. Dari demam keingintahuan yang tidak terbatas angkatan ke 85.”
            “Bagus! Good job, girl!” Pujiku sambil tersenyum lebar. Shelly terkikik.
            “Sadar gak sih Nab itu sama aja angkatan 2013 itu orang orang kepo? Haha.”
            “Emang kita semua kepo gak sih? Hahaha.”
            “Kepo kan sayang ya hahaha.” Kata Shelly sambil tertawa.
            Aku benar benar menyukai sekolah baruku ini. Orang orang disini menghargaiku dan menerimaku apa adanya, tidak seperti orang orang di Bandung. Aku sudah dapat teman dan sahabat baru disini, salah satunya Shelly Ila Amalia.
            Shelly sangat baik sekali padaku, dia ramah dan selalu membantuku. Aku sering bercerita padanya tentang pacarku yang sedang menjalani long distance relationship denganku dan Shelly pun bercerita tentang Kak Rifqi.
            Di kelas 9G juga aku berteman cukup dekat dengan Afifah, Megan, Nabil, Mulan, Audit, Valda, Yoga, Icha dan… Yara. Ah, Yara. Sebenarnya aku tidak dekat dengan Yara, jarang ngobrol malah. Yara sepertinya tidak suka dengan aku.
            “Nab, udah buka instagram?” Tanya Shelly sambil memainkan iPhone 4s-ku. Aku menggeleng, “belum… Kenapa gitu?”
            “Toko yang waktu itu ngepost barang lucu deh, beli yuk!”
            “Wah! Ayooo yang kembaran Shell.”
            “Hahaha iya, gue naksir yang ini nih!” Seru Shelly sambil menyodorkan iPhone-ku. Aku melihat sekilas foto 2 gelang peace berwarna biru dan pink. Aku langsung tersenyum lebar.
            “Gue mau yang pink!”
            “Ah, pas banget gue lagi pengen yang biru..”
            “Hahaha yaudah langsung pesen aja Shell.”
            “Sippo!” Seru Shelly. Kami berdua masih tertawa bersama ketika aku menoleh dan mendapati Yara tengah menangis. Aku menyikut Shelly. “Shel, Yara nangis.”
            Shelly tersentak, ia langsung bangun dari duduknya dan berjalan menuju Yara. “Yar… Lo kenapa?” Tanya Shelly perlahan.
            Audit yang entah kapan datangnya dari kelas 9G sedang mengusap usap punggung Yara ketika tangis Yara makin menjadi jadi. Seisi ruangan kelasku langsung tertuju pada meja Yara. Wajah Shelly panik bukan main.
            “Yar.. Lo kenapa? Cerita dong sama gue…”
            Yara tiba tiba bangun dari duduknya dengan mata merah dan air mata yang terus mengalir. Ia manatap Shelly dengan wajah kesal bercampur kecewa. Yara kenapa sih?
            “Lo masih perduli sama gue ketika cewek ini ada di samping lo? Hah? Perduli lo? Lo sekarang nanya sama gue, minta gue cerita, apa hak lo? Kemana lo selama ini? Sahabat tuh gitu ninggalin sahabatnya pas nemu orang baru? Basi lo Shell, sana sama tu cewek aja temenannya, gak usah perduliin gue!” Seru Yara berapi api sambil beberapa kali menatapku.
            Aku tersentak. Astaga, aku yang membuat kekacauan ini berlangsung?
            Beberapa detik kemudian aku baru sadar, Shelly-Yara tak seperti mereka yang dahulu. Dulu pertama kali aku datang ke sekolah ini, mereka itu seperti saudara kembar, selalu bersama kemanapun mereka pergi. Mereka akur dan tak bisa dipisahkan.
            Lalu tiba tiba aku datang dan entah kenapa aku lebih nyaman bersama Shelly dan… Aku yang menyebabkan Shelly-Yara menjadi jauh seperti ini.
            Beberapa detik kemudian, aku menoleh dan mendapati Yara sudah pergi dari tempat duduknya dan Shelly sedang berlutut. Ia menangis sambil berbisik,
            “Kenapa gue bisa nyakitin perasaan orang yang gue sayang tanpa gue sadari?”
            Aku tak ingin menjadi penghancur dari persahabatan orang lain. Aku tak ingin melihat Shelly-Yara seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk orang yang aku sayangi. Harus! Aku ingin mereka bersatu lagi! Tapi….
            Bagaimana cara menyatukan mereka ketika Yara membenciku dan Shelly seperti ini?
            Aku jamin, Shelly pasti akan murung dan Yara juga makin jauh dengan Shelly. Kok aku begitu tidak peka ya dengan perubahan hubungan Shelly-Yara…. Aku terdiam sambil terus berfikir. Apa yang harus aku lakukan?
            “Nab, lo ikut gue. We should fix it as soon as possible.”
            Aku tersentak kaget. Beberapa detik kemudian nyawaku kembali dan aku mengikuti langkahnya. Semoga… Aku bisa membuat Shelly-Yara kembali bersahabat seperti dulu lagi.

***

TRI SESAR AHMAD JULIANTO’S POV

            Kami para Rajawali 26 ingin sekali sudah bisa Banjar Tempur sebelum CT 2012 berlangsung. Tapi apa daya, kami hanya berenam. Berbeda dengan Rafflesia yang sudah mendapatkan 4 anggota baru sehingga mereka kurang satu anggota lagi.

            Tapi mereka juga sebenarnya sudah hampir komplit kalau saja Mauren sudah aktif Pramuka lagi. Sementara Rajawali? Cih. Aku bingung kenapa Vancouver’85 susah sekali aku ajak masuk Pramuka.

            Namun pada akhirnya, hokiku kembali datang. Haekal dan Winu mau masuk Pramuka berkat bujukan Naufal yang mengatakan mereka bisa main Dota sepuasnya saat mendampingi Garuda-Gardenia latihan dengan wifi sekolah yang akan dibajak oleh Naufal. Agak ekstrim juga sih temanku yang satu ini. Tak apalah, sedikit lagi menuju Banjar Tempur!

            Kibo-chan melemparkan tongkat Pramukanya ke arahku sambil tertawa. Giginya yang berwarna warni itu ia pamerkan dengan wajah bahagia. Aneh, kenapa sih orang mau menyiksa dirinya dengan memberikan kawat pada giginya? Emangnya gak sakit apa?

            “Huuu Rajawali udah berapa Rajawali?!” Goda Kibo-chan sambil tertawa lebar.
            “Anjir, udah 8 ya!” Seruku tak terima. Kibo-chan memutarkan kedua bola matanya.
            “Serius? Cepet banget udah mau ngejer Raffles!”
            “Wohoho iya dong, jagoan!”
            “Ah, by one tadi malem aja kalah!” Seru Kibo-chan.
            “Yeee! Lempar sandal nih!” Seruku sambil mengambil sandal yang ada di bawahku. Kibo-chan tertawa lalu berlari menjauhiku dan menghampiri Dini.
            “Din! Pacar lo tuh rusuh!” Seru Kibo-chan. Dini hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan tugasnya mengawasi latihan Gardenia. Aku tersenyum kecut.
            Hei Aprillia Dini, kapan kamu peka?
            Sudah cukup lama aku menyukai Dini, sang penjuru pioneer Rafflesia dengan pipi tembem dan tawanya yang khas. Entah mengapa aku bisa menyukai Dini, tapi… Apa adanya orang yang kita sukai adalah hal terbaik yang pernah mereka miliki. Betul?
            Ah, sudahlah. Bukan saatnya menggalaukan Dini.
            Aku sedang menunggu kedatangan dua calon Rajawali baru sambil memainkan gitar yang Ghorby bawa dan tiba tiba… Dini menghampiriku.
            “Sar….” Panggilnya dengan nada merayu. Ah, pasti ada maunya!
            Aku melirik sok sinis, “ape?”
            “Eum… Haekal sama Winu masuk Pramuka ya?”
            “Iya, kenapa? Dininya naksir?”
            Dini memundurkan langkahnya. “Ih seenak jidat!”
            “Hahaha terus kenapa?”
            “Enggak.. Suruh mereka ajak Bhimo dong. Hehehe.” Kata Dini malu malu. Aku terdiam tak bisa merespon apapun. Kamu tuh bodoh, bego, tolol atau gimana sih Din? “CIYEEEEEEEE DINI AH KRATAK TUH ESARNYA! LOL!” Seru Kibo-chan blak blakan dari kios Mang Jack. Aku kali ini benar benar melempar Kibo dengan sandal.
            “Kampret lo diem! By one ah ntar malem!”
            “Sial lempar lempar! Ayoo!” Seru Kibo-chan. Dini tertawa kecil, “bilangin ye, makasih Sar!” Seru Dini sambil mencubitku. Ia lalu berbalik dan meninggalkanku sendirian.

            Ah, sudah sudah. Aku sudah tahu, Dini sudah lama menyukai Bhimo.

            Setahuku mereka sudah dekat cukup lama. Mereka sering ngobrol juga. Tapi bukan berarti aku harus mundur dong? Menurutku, selama janur kuning belum ada, Dini bebas di dekati oleh siapa saja. Betul?

            Ketika kamu tahu orang yang kamu sukai sedang menyukai orang lain, jangan berhenti berusaha dan membuktikan perasaanmu padanya. Perjuangkan cintamu padanya walaupun kemungkinan untuk dibalas hanya 0,1%.  Karena di tengah ke-hopeless-an tersebut, ada jalan dan akhir yang manis yang sudah Tuhan tuliskan untuk kalian.

            Dan aku percaya, jika aku berjuang, aku bisa mendapatkan Dini.

            Yola tiba tiba datang dan duduk di depanku. “Sar, move on gih.”  katanya dengan wajah datar. Aku menggeleng. “Parah lo, stuck gue.”

            Dia tertawa kecil. Yola adalah mantan pacar pertamaku dan Aca. Ugh, maksudku.. Ya Aca juga pernah berpacaran dengan Yola dan bagi kami berdua, Yola adalah pacar pertama kami. Aku sering bercerita tentang Dini kepada Yola.

            “Stuck? Lo cowok. Yakali bisa deketin yang lain.”
            “Emang apa salahnya kalo cowok stuck?”
            “Gak ada sih, cuman kan kalian bangsa pemulai, jadi bisa move on dengan gampang.”
            “Bangsa pemulai? Lalu cewek? Penunggu?”
            “Yap! Sementara kami para cewek harus menunggu sang pangeran datang. Sementara kalian, sang pemulai bisa nyari sendiri putri kalian.”
            “Lalu? Pemulai gak boleh stuck di orang yang dia rasa adalah putrinya?”
            Yola terkekeh, “ya gak gitu juga.. Daripada Dini nya gak peka peka?”
            Aku ikut terkekeh, “Yol.. Lu cewek kan? Dini tuh peka, tapi pura pura gak peka.”
            “Hahaha ya sama aja kali gak jadi juga.”
            “Huft, siapa yang tahu? Barangkali aja ujung ujungnya Dini milih gue. Di setiap cerita cinta, endingnya bisa jadi beda dari yang dipikirin pembaca tergantung dari perjuangan orang yang jatuh cintanya itu.”
            “Nah? Elo? Ngeprove mulu tapi Dini nya gak respon respon kan?”
            Aku terdiam. Yola selalu saja bisa membuat kata kata seperti ini. “Ya…”
            “Jadi mau nunggu sampe kapan? Udah mau setahun.”
            Aku terdiam, “enggak tahu. Gue sayang sama Dini.”
            “Nah terus kenapa gak lo tembak kalo lo sayang?”
            “Karena belum saatnya.”
            Yola tertawa mengejek, “satu tahun tuh 12 bulan, Sar. 335 hari. Masa gak ada saat yang tepat?” Tanyanya heran. Aku mengangkat bahuku. “Ya belum ada.”
            “Emang lo nungguin Dini.. Lo tau pasti dia bakal ke elo bukannya ke Bhimo?”
            “Gak tahu.”
            “Terus? Masih mau nunggu aja? Sampe kapan?”
            “Gak tahu.”
            “Terus? Sar.. Masih banyak cewek lain di luar sana.”
            “Gue tahu, Yol. Tapi Aprillia Dini tuh cuman satu.”
            “Hah, Sar. Please, realistis. Don’t waste your time. Gak ada kepastian dan nunggu aja tuh means nothing.”
            “I know, tapi kalo udah sayang di suruh nunggu sampe kapan pun juga pasti nunggu.”
            “Klasik, sayanglah ini lah itu lah.. Mangkanya orang susah move on.”
            Aku tertawa kecil, “termasuk elo kan?”
            Yola terdiam, wajahnya memerah. “Gak, biasa aja.”
            “Ah, iya kan! Lo lagi suka sama siapa sih, Yol?” Tanyaku penasaran. Selama curhat dengan Yola, Yola tidak pernah menceritakan kisah cintanya. Dia hanya bilang kalau dia menyukai seseorang dan stuck di orang itu. Bahasa gaulnya, gak bisa move on. Hahahaha.
            Yola menggeleng, “gak ada.”
            “Elah, kalo Aca?” Tanyaku menggoda.
            “Mantan.” Jawabnya singkat.
            “Kalo Gestu?”
            Tawa Yola meledak, “hahaha Gestu sahabat gue. Gak usah kemakan gossip Rajawali-Rafflesia. Gak ada yang bener anak 26.”
            “Lol, gue tau kali canda doang hahaha.”
            “Hahahaha ntar juga lo tahu.”
            “Ah apa sih udah lama gini gak dikasih tau.”
            “Ya rahasia… Nih ya Sar, lo tuh kalo suka sama orang sama yang pasti pasti aja.”
            “Duh ya Yol, jatuh cinta tuh mainnya hoki hokian. Jadi kalo hoki bagus, ya cerita cintanya juga bagus. Dibales, gak dibales. Seneng, sedih. Bangga, kecewa. Tapi dari setiap cinta dan perjuangan yang udah kita kasih ke orang yang kita sayang, apsti ujung ujungnya kita dapet balasan yang setimpal…”
            “Hahahaha duh, bisa juga sih.. Cuman….”
            “Cuman?”
            “Apa lo gak capek hidup dengan keadaan tanpa kepastian?”
            “Huh?”
            “Ya.. Lo cowok kan Sar? Lo bisa kali minta kepastian.”
            “Kepastian apa yang bisa gue dapet kalo gue sendiri gak yakin Dini suka sama gue juga apa enggak.”
            “Ya terus kenapa tetep bertahan di sesuatu yang gak pasti?”
            Aku terdiam.
            “Kenapa sih Sar orang orang tuh suka nyari yang gak pasti pasti padahal kepastian tuh ada jelas di depan dia?” Tanya Yola sambil menerawang. Aku terdiam. Ups. Sepertinya aku mulai mengerti kenapa Yola tak pernah menceritakan gebetannya padaku…
            “Ya mbuh ya….”
            “Ihhhhh Esar! Ngeselin!”
            “Hahahaha ya habis…”
            “Kenapa coba lo nungguin yang gak pasti kayak Dini kalo…”
            “Kalo?”
            “Yang pastinya ada di deket elo.”
            Gue menatap Yola aneh. “Siapa?”
            Yola menarik nafas dalam dalam. “Lo tau, gak usah pura pura gak tahu.”
            Duh, dugaanku benar. “Ya.. Gue emang gak tahu.” 
            “Lo peka kali, Sar.”
            “Ya…. Ya…..”
            “Kepastiannya. Gue.” Kata Yola pelan lalu berlari meninggalkanku.
            Oh tidak, jadi yang selama ini Yola suka itu… Aku? Jadi… Oh tidak… Yola jangan suka padaku lagi tolong.. Kenapa ketika aku suka dengan seseorang malah orang lain yang menyukaiku? Oh ya Tuhan.. Aku baru tersadar!
            Apa yang akan terjadi pada Aca jika dia tahu orang yang ia sayangi masih menyayangi mantannya yang merupakan sahabat dekatnya?
            Bunuh aku sekarang atau jadikan aku pacar Dini! Ah, hidup rumit sekali.

***
ABIZAR BAGAS PATRIATAMA’S POV

            Sudah satu bulan semenjak aku jadian dengan Ninis dan ia masih belum bisa move on.
            Hah, aku tahu pancaran matanya yang sendu di hari Ghorby dan Risma resmi menjadi sepasang kekasih. Aku tahu. Sepertinya semua yang sudah aku perjuangkan untuk Ninis jadi sia sia ketika aku sadar Ninis memang tak bisa memberikan hatinya seutuhnya padaku.
            Tujuh puluh dua persen hatinya masih milik Ghorby.
            Aku heran, kenapa sih orang tidak bisa move on dengan cepat?
            Maksudku, hei masa lalu biarlah berlalu. Masa depanmu masih panjang, kenapa stuck terus melihat kebelakang? Ninis sudah sangat beruntung ketika putus ada yang mencintainya lebih dari Ghorby pernah mencintainya, yaitu aku. Tapi kenapa dia masih melihat ke belakang?
            Aku memang membiarkan Ninis move on perlahan berjalan seiring dengan waktu. Tapi tidak seperti ini juga. Satu bulan sudah semuanya berjalan, bukannya Ninis bisa move on, dia malah masih stuck di Ghorby.
            Aku tulus menyayanginya. Tapi kenapa dia tak bisa membalasnya dengan tulus juga?
            I just want to she love me the way I love her.
            Mungkin aku egois, tapi aku tidak bisa bohong, aku mau perasaanku dibalas oleh Ninis. Hah, siapa yang bilang cinta yang tulus tidak mengharapkan balasan? Itu bohong! Hati kamu pasti juga berharap dibalas cintanya walaupun hanya 1 % kan?
            Karena ketika manusia sedang mencintai seseorang, naluri ngarep mereka bekerja semakin sering, semakin cepat, tak ada habis habisnya.
            Aku tak ingin meninggalkan Ninis, tidak dan tak kan pernah. Tapi masa iya sih aku harus pacaran dengan keadaan pacarku yang masih stuck dimantannya? Astaga…
            Sebenarnya untukku move on itu mudah sekali. Kau hanya perlu tutup mata dan telingamu dan berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang sampai kau mulai terbiasa dengan semua itu. Aku tahu itu sulit, tapi jika mencoba dan berusaha pasti bisa.
            Move on juga hanya tergantung niat. Kalau niatmu kuat, kamu  bisa berjalan. Jika niatmu hanya sekedar kata kata, jangan harap kamu bisa berjalan, berpindah satu dua langkah saja tidak bisa. Pasti tertahan di orang tersebut.
            Padahal, ketika kita lihat keadaan sudah hopeless, harusnya kita sadar kalau orang itu bukan untuk kita. Ya.. Walaupun pada beberapa orang di keadaan hopeless juga mereka masih berjuang. Tidak apa apa sih, aku malah suka orang yang berjuang terus menerus sampai titik akhir. Tapi…
            Jangan kamu berjuang lalu menunggu sambil berharap. Karena itu akan lebih sakit daripada orang yang merupakan korban harapan palsu.
            Dan kujamin, kamu akan susah move on seperti pacarku ini.

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA’S POV

            “Sayang? Kamu dimana?” Tanya Silvy ketika aku baru saja mengangkat telponnya. Ugh, Silvy.. Tolong jangan buatku seperti ini…
            Aku menarik nafas. “Rumah.” Jawabku jutek.
            “Eum… Apan baik baik aja kan? Sipi kangen hehe.”
            Silvy astaga… Aku harus melepaskan kamu, tapi bagaimana bisa aku melepaskanmu jika kamu seperti ini terus? Mana aku tega?
            “Ya. Kangen Lega maksudnya?” Tanyaku to the point.
            Silvy terdiam, “ugh.. Kamu masih baca chat facebook aku ya?”
            “Gak.”
            “Alvan.. Kamu kenapa sih? Udah ngediemin aku dikelas, gak telpon, gak ngirim SMS…”
            “Punya otak gak?” Tanyaku dengan sedikit membentak. Duh, maafkan aku Sil…
            Dari sebrang sana terdengar Silvy terisak, “Van.. Kalo aku ada salah sama kamu…”
            “Bukan kalo, tapi kamu emang punya.”
            “Van.. Dengerin aku…”
            “Kamu kalo sayangnya sama Lega, ngapain pacaran sama aku sih Sil? Aku capek tau aku sayang sama kamu tapi kamunya kayak gitu. Udah 2 bulanan kamu kayak gini sama Lega.”
            Tangis Silvy pun pecah. “Van.. Ya Allah aku cuman temenan…”
            “Sil, kamu sekarang pilih deh. Aku apa Lega?”
            “Van…”
            “Hah, aku udah duga. Kamu suka sama aku cuman pelarian doang kan gara gara dulu kamu suka sama Ridho dan Ridhonya suka sama Alda? Iya kan? Kamu yang katanya nunggu aku, itu semua cuman sandiwara kan supaya aku luluh dan nembak kamu? Supaya kamu gak terus terusan sakit dan punya aku sebagai pelarian? Aku fikir ini semua yang udah kamu kasih ke aku itu perasaan, tapi ternyata cuman kepura puraan.”
            “Van! Aku sayang sama kamu, kenapa sih kamu jadi kayak gini? Am I too invisible for you? Kenapa sih? Aku udah susah payah nunjukin ke kamu kalo aku lebih baik! Aku udah selalu buktiin ke kamu kalo aku sayang sama kamu! Aku selalu buktiin ke kamu kalo rasa sayang aku lebih besar daripada Novi!”
            Ugh.. Novi.. Iya, dulu aku pernah menyukai Novi ketika aku masih bersahabat dengan Silvy dan Silvy tahu aku menyukai Novi. Tapi.. Astaga, mendengar Silvy menangis rasanya aku ingin memeluknya. Dia sahabatku dan aku menyayanginya..
            Tapi aku memang harus menyakitinya supaya dia bisa pergi dan mendapatkan orang yang terbaik untuknya. Aku bukanlah orang yang tepat untuk gadis baik dan mempunyai cinta tulus seperti Silvy… Aku tak mau menyakitinya terus…
            “Van! Kamu yang malah pacaran sama aku kayak pura pura! Kamu bohong kan bilang sayang sama aku? Bohong kan?! Yang kamu sayang tuh Novi kan?!” Tanya Silvy sambil menangis. Bismilah, ini klimaksnya. Semoga setelah ini jalan untuk memutuskan hubungan konyol ini lebih mudah. Aku ingin Silvy menjadi sahabatku lagi…
            “Kamu harusnya sadar kalo aku masih ngeraguin kamu sampe detik ini. Kamu kayak jadiin aku pelarian dari Ridho. Sekarang kamu emang udah bisa move on dari Ridho karena udah jadian sama aku, tapi sekarang move on ke Lega kan? Aku tahu kamu Sil, kamu sahabat aku. Aku tahu semua tentang kamu…”
            Silvy masih menangis. Silvy, maafkan Alvan…
            “Kalo Silvy udah gak bisa buktiin ke Alvan perasaan Silvy, selamanya cuman kepura puraan diantara kita. Maaf Sil, tapi Alvan gak bisa pacaran kalo perasaannya kayak gini. Alvan udah percaya sama kamu. 2 bulan pertama emang kamu masih prove, tapi ketika Alvan mundur dan coba ngejauh untuk ngetes kamu, kamu malah sama Lega kan?”
            Tangis Silvy pecah. “Bukan gitu Van..”
            “Maaf Sil. Mending kita temenan aja. Itu yang terbaik buat kita.” Kataku pelan lalu menutup percakapan kami. Aku membanting iPhone-ku lalu merebahkan diri di tempat tidurku.
            Aku fikir, Silvy akan membuat pemikiranku berubah tentang sahabat jadi cinta. Sahabat jadi cinta bisa bertahan, bisa bersatu dan akur selamanya. Tapi ternyata.. Tidak.
            Sahabat adalah sahabat. Cinta adalah cinta. Kedua hal itu terlalu saru untuk dipersatukan.




Nah lho, makin complicated aja ceritanya. Jangan ketinggalan baca perchapternya ya, karena setiap chapternya saling berhubungan, jadi kalian gak bingung pas bacanya. Kira kira gimana ya kelanjutan The Reason Is You? To be continued Reasonators:p


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}