The Reason is You chapter 16

Dulu, ketika kita berjalan berdampingan, rasanya ada yang aneh. Jantungku terus berdegup kencang, senyumku terus mengembang. Tapi kali ini, aku merasakan hal itu ketika dia menyapaku dan kami berjalan berdampingan, bukan denganmu lagi.

***


NUGROHO KURNIANTO'S POV

Kamarku telah selesai dibereskan ketika aku kembali mengecek BlackBerry-ku. Sudah seminggu setelah aku memberitahu Icoy dan ia sama sekali tak mau bicara padaku. Kepindahanku yang sudah ditunda karena aku yang belum siap pun masih belum cukup lama untuk membuatku dan Icoy siap untuk berpisah.

Karena memang tidak pernah ada yang siap dengan perpisahan.

Besok aku harus pergi ke Jakarta dengan kereta dan terbang ke Manado pada sore harinya. Dan sampai detik ini, bahkan ketika bertemu di sekolah pun, Icoy tak mau bicara padaku. Apa yang harus aku lakukan?

Di satu sisi aku tahu, Icoy merasakan sakit yang teramat sepertiku. Hubungan kami sudah hampir 9 bulan dan aku harus pindah. Bukan pindah rumah ke kompleks lain melainkan kota di pulau lain. Kami akan berbeda pulau. Pulau, bayangkan.

Kenapa jarak harus memisahkan kami?

Di satu sisi aku ingin Icoy mengerti, perpisahan ini bukan mauku -bukan mau kami. Apadaya orang tuaku yang pindah dan aku tak mungkin tinggal di kota ini sendirian. Aku mau Icoy mengerti aku karena aku juga sakit. Dan semakin Icoy mendiamkanku, sakitku akan bertambah pula.

Karena berpisah dari orang yang dicintai memang hal yang berat selain melupakannya.

Mama mengetuk pintu kamarku lalu masuk sambil membawakan segelas air putih. Mama selalu bilang air putih adalah obat termanjur di muka bumi ini.

"Kamu lelah kan? Ayo di minum, Nug."
"Terima kasih, Ma." Sahutku lalu meminum air tersebut.
"Kamu sudah siap?" Tanya Mama. Aku terdiam.
"Aduh Nug, Icoy masih marah?"
"Aku gak tau, tapi dia diemin aku."
"Kamu harus bicara sama dia sayang."
"Aku bingung Ma..."
"Besok kereta kita jam 10, sebelum pergi, temuilah dulu Icoy."
"Kalau Icoy gak mau ketemu Nug?"
"Dia pasti mau kok. Mama tau dia sayang sama kamu."
"Gimana bisa mama tau?"
"Karena kamu juga sayang sama dia kan?" Tanya Mama. Aku terdiam lalu mengangguk.

Semoga besok Icoy mau membukakan pintunya untukku, walau mungkin itu untuk terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV

Seluruh anggota Rajawali-Rafflesia baru hari ini berkumpul untuk persiapan pelantikan. Akhirnya ada 2 anggota baru, Winu dan Haekal. Aku semakin bersemangat untuk mencari anggota supaya Rajawali bisa segera latihan Banjar Tempur!

Rafflesia juga sudah punya 4 anggota baru. Ada Fita, Silvy, Ninis dan satunya lagi aku tak tahu. Aku sedang menumpuk balok balok yang ada di sudut sanggar ketika Ridho datang menghampiriku.

"Anak baru udah datang?" Tanya Ridho sambil memainkan Android-nya di tangan kanan dan memegang BlackBerrynya di tangan kiri.
Aku menggeleng. "Belum. Itu HP di tangan dua gitu mau pamer tah gimana..."
"Haha lol, enggaklah lagi bales SMS Bani."
"Ciye, mainnya sekarang kabar kabaran sama Bani."
"Gak tau nih Ges, asa kurang berani nembak ke yang ini."
"Lol, kecing. Kenapa gitu?"
"Dia udah ngasih singnal, tapi rasanya kayak masih kehalang sesuatu. Kayak dia suka sama yang lain..."
"Waduh? Mangkanya kan gue udah bilang sama Alda aja! Hahahaha."
"Hahaha gaklah."
Tiba-tiba Ghorby, sang Pratama masuk ke dalam sanggar. "Winu sama Ekal udah dateng. Depan aja yuk tesnya."
"Gak ah Ghor udah pewe disini."
"Kagak, disini buat Raffles!" Seru Nadia dari luar.
"Azzzz." Aku akhirnya berdiri dan mengikuti Ghorby dan Ridho yang sudah berjalan terlebih dahulu.

Ketika melewati kumpulan Rafflesia, aku seperti melihat seseorang disana. Seseorang yang langsung tertangkap oleh mataku, tapi aku tak tahu siapa karena dia membelakangiku. Kuputuskan untuk tak menghiraukannya dan berjalan menuju lapangan depan.

Winu dan Haekal hanya di tes pengetahuan dasar dan tidak memakan waktu yang lama. Ketika suara Adzan Ashar berkumandang, kami sang Rajawali kece kecuali Ghorby -hehe, langsung kembali ke belakangn untuk shalat Ashar di Masjid. Hari ini giliran Naufal yang menjadi Imam.

Diperjalanan, Ibuku menelpon untuk pulang dulu mengambil uang bulanan. Aku memang tinggal sendiri di Cirebon terpisah dari keluargaku yang tinggal di Indramayu, tepatnya sih Jatibarang. Aku memutuskan untuk mengambil kunci motor dan pulang sebentar lalu kembali lagi.

Dan ketika kembali ke belakang.... Alumni sudah datang. Great.

Aku bersalaman dan basa basi sebentar. Lalu aku masuk ke dalam sanggar dan menemukan Rafflesia lama dan baru berkumpul sambil sibuk dengan laptop-ku.

"Eh, apaan nih!" Seruku sambil berjalan ingin menyelamatkan laptopku.
"Ih Gestu, minjem doang lagi nonton Banjar Tempur."
"Ho.. Oke. Goceng ya." Kataku sambil nyengir. Dini melemparku dengan kotak makan tupperware-ku sendiri.
"Din! Sakit lo!" Kataku sambil mengelus elus tanganku.
"Biar! Ngeselin Gestu tuh!"

Aku lalu mencari cari kunci motor dan tak sempat mengganggu Rafflesia baru. Biasanya ketika ada anggota baru, akulah yang paling semangat mengerjai mereka. Ketika aku masih mencari kunci motor, terdengar seorang Raffles mengangkat telpon dan berpamitan.

"Anterin ke depan yuk!" Seru dia. Aku seperti mengenal suaranya.
"Duh gak berani..." Kata Nadia.
"Bukan gak berani, gak enakan. Sendiri aja..." Kata Kibo.
"Ih Raffles jahat banget!" Seru sang pinru, Bella.
"Ya mau gimana lagi.." Kata Yola pasrah.
"Eum.. Ges, mau ke depan?" Tanya Dini.
Aku hanya berdehem lalu mengangguk.
"Yaudah sama Gestu aja." Kata Silvy.
"Iya, hati hati ya Ti!" Seru Fita.
"Jangan lupa rok pendeknya, Ti!" Kata Ninis. 
Dia tertawa, "hahaha siaaap!"

Ketika aku mendapatkan kunci motorku, aku langsung berbalik. "Ayo!" ajakku. Namun ketika aku mengalihkan pandanganku dari kunci motor, aku menemukan dia berdiri di depanku. Dia yang selama ini membuatku merasakan karma yang sesungguhnya. Dia yang selalu aku rindukan ke hadirannya. Dia.. Masuk Pramuka?

"Ayo." Sahutnya pelan sambil mengangguk.

Rizki Rahmadania Putri.

*** 

RIZKI RAHMADANIA PUTRI | TITI'S POV

Aku dan dia berpamitan kepada kakak alumni Rajawali lalu kami berjalan berdampingan. Kami memang berada di tempat yang sama dengan jarak hanya 5 cm. Namun rasanya masih sama, seperti berbeda dunia.

Dia tak bicara apapun padaku. 

Aku memang berjalan di sampingnya, namun rasanya seperti jauh sekali. Aku harusnya sudah melupakan dia semenjak hari itu, tapi tidak bisa. Aku terlalu menyayanginya.

Dia akhirnya berhenti di motornya lalu berkata, "kamu pulang sama siapa?"
"Di jemput." Jawabku singkat.
"Di mana?"
"Depan Summitt."
"Bareng aku mau?" Tanyanya. Aku berfikir sejenak lalu mengangguk.

Ia sudah siap dengan motornya dan aku di bonceng olehnya. Jarak kami dekat sekali kali ini. Tapi tak ada degupan jantung yang kencang atau senyum yang lebar lagi seperti saat aku dan dia sedang berbicara panjang lebar lewat SMS.

Aku akhirnya mengerti bahwa...

Mungkin aku masih menyayanginya, tapi hatiku sudah meninggalkan semua tentang dia.

Karena jika aku terus menunggu, apa ada kepastian darinya akan datang? Jelas jelas dia bilang perasaannya hanya sebatas sahabat. Jika aku terus membuktikan, apa ada kepastian darinya yang akan datang? Jelas jelas dia bilang dia mengira semua hal yang aku lakukan hanya candaan dan sebatas sahabat.

Sahabat. Hah, kenapa aku bisa jatuh cinta pada sahabatku sendiri?

Ia berhenti di depan Summitt dan aku turun dengan wajah datar. Ia tersenyum kecil. "Mana jemputanmu?"
"Sebentar lagi datang."
"Oke, aku tinggal ya, Ti."
"Terima kasih." jawabku pelan sambil tersenyum. Dia lalu mengemudikan motornya lagi dan meninggalkanku sendirian.

Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya jika aku tahu pada akhirnya takkan berbalas?

Entahlah, aku juga bingung. Karena aku sendiri tak tahu apa yang membuatku jatuh cinta padanya. Pada seorang penjuru yang cuek, pinoeer yang tidak peka, gamers yang selalu hidup dengan dunianya, seorang cowok yang senang dengan One Piece dan menontonnya setiap malam, dia....

Dia. Orang yang membuat hujan terasa hangat.
Dia. Orang yang berhasil membuatku bahagia namun bisa membuat hatiku sengsara.
Dia. Orang yang tidak bisa aku lupakan dengan mudah, namun membuatku mengerti akan cinta dan persahabatan yang tidak bisa disatukan.
Dia. Orang yang selalu membuatku gagal move on karena ketika aku sudah meninggalkannya, dia berubah lebih baik. Ketika aku stay, dia malah menjauh.
Dia.
Dia.
Dia.

Dia. Orang yang paling kusayang....
Bahkan ketika dia cuek. Bahkan ketika dia tidak peka sekalipun.



Gestu Rosmayadi Asad.



Nah, akhirnya gue keluar tuh. Kira kira... Gimana ya kelanjutan gue sama Gestu? HAHAHA okesip, keep read Reasonators! To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}