The Reason is You chapter 17

Mulut sih bilang move on, hatinya gimana?  
-Aca, Rajawali 26 banjar 03 yang sekarang bisa bikin penggalauan.

***



DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV

Haekal menyipitkan matanya lalu tertawa lagi. "Eni lucu ya, bisa aja bikin orang ketawa." Katanya. Aku tertawa kecil sampai lensung pipi ku kembali terlihat. Berjalan disamping Haekal seperti ini adalah hal yang tak kusangka. Kami pulang berdua dan Haekal mau mengantarkanku sampai depan rumah. Haekal.. Haekal... Akhirnya dia 'maju' juga.

"Hehehe, Eni kan lucu, Kal."
"Lebih lucuan Ekal."
"Ih no! Bani!" Seruku lalu memeletkan lidah. Haekal mengusap usap kepalaku sambil tertawa. Oh tidak ya Tuhan... Jantungku berdegup tujuh puluh dua kali lebih kencang daripada saat Ridho melakukannya padaku.

Oh shit, Ridho. Ketika aku teringat pada Ridho, rasa bersalah pun muncul. Ridho sudah terlebih dahulu mendekatiku dan memberikan kode padaku. Ia sepertinya akan menembakku saat api unggun di CT nanti bulan November.

Tidak, bukannya aku kepedean. Hanya saja.. Aku bisa membaca gerak gerik Ridho. Aku cukup peka tentang hal seperti itu. Aku sudah berfikir untuk moving on ke Ridho tapi sekarang... Haekal, orang yang aku sayangi datang padaku. 

"Duh, Eni ngelamun aja! Ngelamunin gebetan yaaa?" Tanya Haekal dengan nada menggoda. Aku tersentak lalu lamunanku buyar seketika. Aku tertawa canggung. "Enggak kok, Kal."
"Ih, Ekal bisa liat kali. Mikirin siapa?"
"Siapa ya...."
Ekal menghentikan langkahnya lalu menatapku. "Boleh aku nebak?"
"Selama itu gak ngaco dan bikin mata kamu makin sipit sih, gakpapa."
"Pit serius, jangan jayus." Kata Haekal dengan tampang serius. Aku menelan ludah.

"Pit santai aja kali, kamu kan tau aku gak suka serius serius."
"Tapi aku penasaran, Pit." Katanya dengan nada mempertegas kata ''penasaran".
Aku menatapnya heran. "Lho, kamu penasaran tentang apa toh Pit?"
"Kamu dan lamunanmu."

Aku tertawa. "Kal... Ya ampun ngelamun dikit doang."
"Ya tapi aku kepo..."
"Kamu gak usah kayak Albi deh pengen tau segala macem urusan orang."
"Pit, kamu lagi mikirin dia ya?" Tanya Haekal. Aku menelan ludah.

"Dia siapa?"
"Ridho. Iya kan?" Tanya Haekal lagi sambil menatapku dalam dalam. Astaga, bagaimana dia bisa tau?!
"Ekal sok tahu ya..." Kataku dengan wajah memerah.
"Pit, wajah kamu memerah. Aku tau kamu lagi deket sama dia."

Aku terdiam. Apa yang harus aku lakukan?

"Pit, aku suka sama kamu dan aku tau kamu tau itu." Kata Haekal.
Aku menoleh. "Kenapa baru sekarang ngomongnya, Kal? Kemarin kemarin kemana?"
Wajah Haekal berubah panik. "Kamu udah jadian ya sama Ridho?!"


Aku tertawa kecil lalu memeletkan lidahku. "Pit, secara logika kalo aku udah jadi pacar Ridho, aku gak bakal disini sama kamu."
Haekal berfikir sejenak lalu tertawa. "Oh iya ya, kok aku bodoh hahaha."
"Hahaha terkadang, ketika orang jatuh cinta semuanya jadi serba konyol. Mendadak bodoh."
"Hahaha. Jadi kamu lagi deket sama Ridho?"
"Iya. Dia deket sama aku, ngedeketin aku lebih dulu dan sudah ngode berjuta juta kali."
"Kamu lebay pit."
"Emang dia sering banget ngode Kall..."
"Hahaha jadi kamu suka dia?"
"Suka gak ya.... Hahaha."

Haekal tertawa kecil tepat ketika kami sampai di depan rumahku. "Hahaha pit, serius." Kata Haekal lalu duduk di bangku yang ada di depan pagar rumah. Aku menelan ludah lalu duduk di sampingnya.

"Apa yang kamu mau?" Tanyaku sambil membesarkan mataku.
Haekal mengacak acak poniku. "Apalagi selain kepastian?"
"Ah, kepastian apa yang kamu mau?"
"Aku-kamu. Kita. Jadi satu." Kata Haekal dengan wajah memerah.

Apa ini mimpi? Apa ini kenyataan orang yang aku sukai juga ternyata menyukaiku?

"Kenapa kamu mau kita jadi satu?"
"Karena aku suka sama kamu."
"Apa kalo kamu suka sama aku, kita harus jadian gitu?"
"Ya... Akan lebih baik jika...."
"Tapi Pit... Sejak kapan kamu suka aku?"
"Sudah lama sekali, tapi aku baru berani ngomong ke kamu sekarang pit."
"Kenapa sih?"
"Setelah aku sadar.. Aku harus cepet cepet deketin kamu."
"Ah.... Oke."
"Jadi kamunya gimana pit?"
"Gimana apanya?"
"Astaga...."

Hening melanda diantara kami. Jantungku berdegup kencang. Aku harus bicara!

"Pit, aku juga suka sama kamu." Kataku pelan. Wajah Haekal berubah menjadi gembira. Senyumnya langsung mengembang. Ah.. Aku memang menyukai Haekal. Tapi.. Rasanya aku.....

"Ah.. Jadi Ni.. Kita..."
"Sebentar..."
Wajah Haekal berubah keheranan. "Kenapa Ni?"
"Tapi.. Kamu telat. Maaf. Aku gak bisa jadi pacar kamu." Kataku pelan. Seketika kudengar botol minum yang ia pengang jatuh dan pecah berserakan.

Aku menarik nafas dalam dalam.

***

TIARA ANNISA ADHI MAULIDANTI'S POV

Apa ada hal yang lebih baik selain minta kepada Tuhan untuk menjadikanku orang lain ketika hidupku hancur berantakan?

Shelly meninggalkanku, pelajaran membunuhku dan kini Aldi juga meninggalkanku.

Shelly mungkin mulai sadar bahwa ia mengabaikanku. Tapi bagaimana dengan sang pengganggu? Apa dia bisa pergi dari kehidupan aku dan Shelly? Tidak kan? Memang tidak. Nabila pasti yang mencegah Shelly untuk mengejarku ketika aku menangis waktu itu.

Pelajaranku kacau. Aku tak bisa konsentrasi semenjak aku merasa tak punya semangat hidup lagi di sekolah. Aku memang masih punya sahabat sahabat yang lain. Tapi rasanya.. Shelly... Sahabatku...

Aku tahu maksud Shelly baik. Ia tidak mau Nabila tidak punya teman, apalagi Shelly itu KM kelas kami. Ia punya tanggung jawab. Hanya saja, tak perlu sampai melupakan temannya kan?

Aldi..... Ah, hubunganku dan Aldi sudah renggang. Pantaslah kami putus. Walaupun aku sakit hanya saja mungkin itu yang terbaik untukku dan Aldi. Lagipula kini aku mulai dekat lagi dengan dia.

Dia kembali membuat aku mempunyai semangat walaupun sedikit. Dia bahkan bisa membuatku tertawa sekalipun Audit, sang moodboosterku telah melawak dan aku sama sekali tak bisa tertawa.

Dia yang kini duduk di hadapanku dan langsung datang ke rumah ketika ia mendengarku menangis lewat telepon karena aku teringat pada nasibku yang mulai tragis. Dia yang kembali membuatku bisa berceloteh lagi.

"Yara mau coklat?" Tanyanya lembut. Aku mengangguk lalu meraih coklat yang ia tawarkan.
"Kamu gak pulang? Udah malam." Kataku.
"Gak, aku nungguin kamu."
"Kenapa kamu nungguin aku?"
"Aku mau nemenin kamu."
"Kenapa? Kamu harus pulang besok sekolah."
"Gak Yar. Gak bisa."
"Aku bisa sendiri kok."
"Gak, aku gak mungkin ninggalin orang yang lagi sedih. Apalagi orang itu kamu."
Aku menatapnya heran. "Emangnya kenapa sama aku?"
"Ya aku khawatir sama kamu! Kamu kan...."
"Aku kenapa?"
"Kamu kan orang yang aku sayang."

Aku terdiam. Ia menatapku dalam dalam. Aku tak bisa bernafas.


Aku tak pernah menyangka ini semua terjadi tapi mulai detik ini aku percaya. Tuhan selalu bisa melakukan apapun yang tak pernah bisa kita sangka sangka akan terjadi. Orang yang kita cintai pun benar benar akan datang kembali jika dia memang jodoh kita.

Seperti kamu. Setelah 3 tahun kita putus dan kamu kembali...

Aku mulai sadar kenapa aku bisa tersenyum lagi. Cause maybe the reason is you, Pandu.

***

VALDA NURUL IZAH'S POV

"Rianthy juga suka sama Yoga? Serius sih!" Seruku kaget saat mendengar cerita Ifa. Ifa membenarkan kaca matanya.
"Iya, gue juga baru tau Val..."
"Duh.. Mana mereka deket lagi..."
"Nah itu dia Val yang gue takutin.. Kalo sampe mereka jadian gimana elo?"

Aku terdiam. Sial, Ifa mengungkit itu.

"Lah kalo mereka jadian, bairin aja." Kataku sambil mencoba menutupi rasa cemburuku.
"Duh gak usah sok sok gak suka. Kayak gue gak tau aja. Lo suka kan sama Yoga?"
Aku terdiam.
"Iya Val gue tau lo suka sama Yoga. Lo sayang kan sama dia?"
Aku masih terdiam, tak bisa bicara apa apa.
"Val, gak usah jaim. Kalo lo sayang sama dia, ya lo terima dong niat baik dia. Udah keliatan banget dia juga suka sama elo. Cuman dia gak mau nembak lo gara gara lo gak keliatan ngasih signal balik. Kenapa sih lo jual mahal?"

"Ah enggak, gue gak suka kok. Cuman temen doang." Elakku.
Ifa menatapku. "Ah serah deh, yang jelas.. Lo bakal kratak, gue yakin! Jangan nangis ke gue kalo tiba tiba Yoga jadian sama Rianthy gara gara lo jual mahal sama dia."
"Gak, gak bakal nangis gue."
"Nangis ke gue nya sih enggak, di rumah mah beda lagi ceritanya ya Val." Kata Ifa lalu mendengus pelan.

Duh, jleb. Kalau sampai Rianthy jadian sama Yoga gimana nih? Tapi.. Aku gak mau mulai duluan! Aku maunya Yoga yang maju duluan.... Tapi kalau apa yang Ifa katakan benar.... Di jamin tisu sekotak akan kuhabiskan dalam satu hari.

Kalau sampai mereka jadian, aku harus move on kemana? Aku tidak bisa move on astaga.... Aku sudah stuck.. Aku menyayangi dia... Kenapa sih aku dari dulu gak bisa move on ke yang lain? Ah ya Tuhan...

Ya ya ya again, the reason is you Yoga.

***

NISRINA ARIJ FADHILA'S POV

Izar marah. Matanya menatapku dengan penuh amarah. Aku tak bisa bicara apapun.

"Kamu tuh ya, kamu bilang nya mau move on tapi malah masuk Pramuka! Kamu tuh bodoh atau tolol atau apa sih? Ya kamu stuck terus kali!"
"Maaf Zar..."
"Kamu juga masuk Pramuka gak izin dulu sama aku! Apaan sih! Kenapa masuk Pramuka segala?!"
Aku terisak. "Ya aku suka Pramuka, Zar..."
"Suka sama Pramuka apa sama Pratamanya!" Bentaknya. Aku masih menangis.
"Gak Zar.. Aku suka Pramuka.. Huhu..." Kataku sambil menangis.
"Nis, kalo kamu suka Pramuka kenapa gak masuk dari dulu sih?"
"Niatku baru kekumpul sekarang Zar...."
"Nis jangan perlakukan aku kayak anak SD. Aku bisa baca mata kamu. Kalo gini terus percuma kita bareng, Nis."

Oh tidak.. Izar jangan.

"Aku udah ngelakuin semuanya buat kamu Nis. Aku sayang kamu dan aku harap kamu bisa ngerti itu. Aku coba bantu kamu move on. Tapi apa, Nis? Kamu! Kamu malah gini! Seenaknya ngambil keputusan! Aku ngerti kamu suka Pramuka, tapi gak sekarang juga masuknya! Yang ada kamu malah gak bisa move on!"

Tangisku pecah. Izar... Aku.... Aku benar benar suka Pramuka.

"Aku gak ngerti lagi harus gimana."
"Zar tolong percaya.."
"Apalagi yang harus aku percaya ketika gak ada satupun kepastian yang aku punya untuk tetap bertahan disini, Nis?"
"Zar.. Aku sayang kamu..."
"Aku juga sayang kamu, Nis. Tapi gak gini caranya."
"Zar.. Aku udah ngasih hati aku  untuk kamu.."
"Kamu emang ngasih, Nis. Tapi cuman separuh. Sisanya masih di Ghorby."
"Zar.. Jangan tinggalin aku.. Aku janji.."

Izar menatapku dalam dalam. "Jangan janji mau nyoba move on dari Ghorby, Nis. Basi. Udah sebulan, gak ada hasil apa apa."

"Aku cuman butuh waktu...."
"Aku harus nunggu lagi gitu?"
"Kalo kamu sayang sama aku..."
"Aku sayang sama kamu, tapi kalo aku disakitin terus gini, mana bisa aku bertahan?" Tanya Izar dengan suara parau. Aku terisak.

Kenapa aku jahat sekali? Aku sayang pada Izar tapi....

Izar benar. Setengah hatiku masih kusimpan untuk dia. Bahkan ketika kini aku dan dia punya pacar, Izar dan Risma. Bahkan ketika sudah lama sekali aku tak bicara dengannya.

Bahkan ketika aku harusnya move on, tapi aku belum juga beranjak pergi dari bayangannya. Kenapa move on itu sesulit ini?

***

MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV

Aku menoleh ke arahnya ketika kusadari di kelas ini hanya ada aku dan dia saja. Dia sedang sibuk dengan kumonnya sementara aku sedang belajar Fisika. Alda....

Sudah lama sekali aku tak bicara dengannya. Tertawa dan bercanda dengannya. Sharing dan bertengkar dengan Alda. Segalanya jadi runyam ketika Alim bilang pada Alda bahwa aku menyukai Alda dan jawaban darinya...

Aku masih ingat. Dia menulis di secarik kertas kecil yang lusuh.

Alda cuman anggep Ridho sahabat, Lim.

Saat itu hatiku hancur berantakan dan pada akhirnya memutuskan untuk move on. Aku memang sudah dekat dengan Bani, orang yang menjadi target move on-ku. Tapi.. Rasa sakit saat melihat jarak yang begitu renggang antara aku dan Alda membuatku menyadari bahwa....

Gestu benar. Aku masih menyukai Alda.



Ya.. Let's choose. Bani-Haekal/Bani-Ridho/Ridho-Alda? Yoga-Valda/Rianthy/Megan? Agak ribet ya-__- Okelah, to be continued....


You may also like

2 comments:

  1. pas gue search nama gue yang keluar malah ini masa tip :[
    -your bunny who came from the stars

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}