The Reason is You chapter 18

'Cause all that's waiting is regret, Greys.

***


APRILLIA DINI'S POV

Aku sedang duduk duduk bersama Rajawali sambil memperhatikan Garuda 27 yang sedang latihan Banjar Tempur ketika anak anak Rajawali sudah menampakan wajah 'Din-seret-tenggorokannya' dan Ghorby dengan wajah super madesu seperti sedang berkata 'lo-tau-gue-homo' sambil menatapku. Aku bergidik ngeri.

Fauzan sibuk dengan gitarnya bersama Naufal dan Aca sementara  Esar sang banjar 2 sedang bermain dengan laptopnya. Ridho sendiri sibuk dengan handphone di kedua tangannya. Ridho sedang gencar melakukan pendekatan lebih erat dengan Bani mengingat CT tinggal satu setengah bulan lagi. Ia berencana menembak Bani saat api unggun.

Semua Rafflesia sedang berada di dalam sanggar. Bella sedang menjahitkan lambang untuk Ridho. Nadia sedang sibuk dengan tugasnya. Kibo-chan sedang bermain Lost Saga dan Yola... Ya seperti biasa, mendengarkan lagu dan ujung ujungnya ketiduran. 

Keempat anggota baru juga hari ini semuanya datang. Ada Fita, Silvy, Ninis dan Titi. Tetapi Ninis dan Fita izin pulang terlebih dahulu karena ada acara keluarga. Sementara Gestu... Oh God, sahabatku.


"Aldi, kamu mau jadi Garuda?" Tanya Gestu dengan suara menggoda. Ia menatap Aldi, anggota Harimau yang belum sempat ikut pelantikan. Aldi mengangguk yakin.
"Pastilah kak!"
"Yaudah kalo gitu.... Kamu harus susun balok yang disana, sampe berdiri utuh saya gak mau tau. Baru kamu saya izinin ikut pelantikan susulan." Kata Gestu. Aku melempar Gestu dengan bungkus top-ku.
"Gak usah Di! Duh ira sih malah nyuruh yang aneh aneh! Udah balik sana beresin barang barang buat pelantikan susulan besok. Kasih tau anggota Harimau yang lain!" Seruku.
"Siap, iya kak! Permisi kak.." Kata Aldi lalu berbalik meninggalkan kami.
"Ah Dini mah gak seru!" Seru Gestu sambil menatapku kesal.
"Ih ya habis dia dari tadi udah kerja beresin barang eh malah digangguin mulu."
"Seru Din...." Kata Gestu sambil cengengesan. Aku meliriknya sinis.

Tiba tiba Gestu berjalan mendekatiku lalu memiringkan kepalanya. "Anter jajan yuk."
Aku menggeleng cepat. "No! Gak ada duit Ges buat traktiran..."
"Ih enggak. Gue bayarin."
Aku menatapnya curiga. "Lo kenapa Ges?" Tanyaku sambil membenarkan poniku.


Gestu tertawa. "Udah deh diem aja. Cuman lo doang yang gue traktir, buru ngikut!" Seru Gestu. Ia lalu berbalik dan jalan mendahuluiku. Aku beranjak dari dudukku dan mengikutinya dengan perasaan was was. Gestu kesambet apa ya?

Karena seorang Gestu Rosmayadi Asad yang cinta gratisan dan tidak pernah mau rugi itu tidak mungkin mentraktir orang apalagi Rafflesia.

"Din.. Gue mau cerita." Kata Gestu ketika kami berada di lorong samping gedung 1 sekolah. Aku menghentikan langkahku.
"Tunggu dulu. Kok serem sih? Pengakuan kalo elo sekarang udah mau jadi donatur tetap dari Jaffles 26 atau gimana nih Ges?" Tanyaku heran. Ia mendengus pelan.
"No, gue sih gak mau jadi donatur. Kan donaturnya elo."
"Yaudah deh ah terserah. Mau cerita apa?" Tanyaku kembali ke topik kami. Gestu terdiam lalu duduk di kursi kayu yang ada di lorong itu. Ia menundukkan kepalanya.

"Din, gue galau." Katanya membuka ceritanya. Tawaku langsung meledak seketika.
"Dini! Kenapa ketawa? Ini serius!"
"Hahaha abis lo sok sok galau gitu. Kenapa sih Gestunya tuh?"
"Duh.. Keep secret deh. Rajawali gak ada yang gue ceritain, mungkin untuk waktu deket ini. Cuman elo sama Yola."
Tawaku meledak lagi. "Tuhkan Yola! Udah sih Ges sama Yola aja, daripada Yola sama Aca gak jadi jadi."
Gestu menggeleng. "Seenak jidat banget lo, Din. Cuman sahabatan gue!"
"Yowis yowis.. Jadi?"

"Ya jadi.. Gue dulu cerita kan ke elo kalo lagi suka dan mau jadian sama orang?" Tanya Gestu. Aku terdiam dan kembali berfikir. Ugh.. Oke.. Sebentar lagi aku harus siap dengan Gestu yang akan meninggalkanku.
Aku mengangguk. "Iya, jadi Silvy orangnya?" Tanyaku ketus.
Gestu terbahak. "Bukan. Haha jangan gitu Din, kalaupun gue punya pacar gue gak akan ninggalin elo kayak dulu."
Aku menatap Gestu heran. "Tau darimana gue punya pikiran kayak gitu?"
Gestu tersenyum kecil. "Siapa lagi kalo bukan Rasyid Ridho?" Tanya Gestu.

Ugh, Ridho harus siap siap mendapat pembalasan dariku nanti!


"Bagus deh kalo sekarang Gestu tau."
"Ya.. Maaf Din kalo dulu pas gue pacaran gue suka lupa sama elo.."
"Hmm maaf sih gampang, Ges. Butuh bukti."
"Aih, lo kok marah beneran? Ih suka ya lo sama gue?"
"Eits! Engggaklah! Lo kan tau sendiri dari dulu gue pengen punya sodara laki laki yang sepantar atau lebih tua daripada gue..."
"Hahaha kan Jawali lain juga saudara."
"Beda, Ges. Sayangnya gue ke elo sama Ridho tuh beda."
"Nah lho beneran suka kan. Hahahaha."
"Ish, ngarang aja! Jadi apa?"

"Eum.. Iya. Gue suka sama anak baru."
"Hah? Bani maksud lo?" Tanyaku kaget.
"Ish, bukan anak baru di Vancouver. Anak baru Rafflesia."

Aku terdiam lalu berfikir. Semua anak Rafflesia baru kan taken kecuali... Oh God. Gestu akhirnya suka pada Titi?! Subahanallah, setelah sekian lama Titi nunggu akhirnya dibalas juga oleh Gestu? 

"Gila lo Ges, karma does exsist." Kataku sambil menggelengkan kepala.
Gestu menunduk lemas. "Nah, itu dia Din. Dia bener."
"Huh? Bener apanya?"
"Dia pernah bilang kayak gini waktu habis bilang suka sama gue..."
Aku menatap Gestu dengan wajah super duper kaget. Titi bilang suka padanya?

"Gila lo, dia bilang suka sama elo, Ges?" Tanyaku kaget. Gestu mengagguk pelan.
"Ih kok bisa? Kapan? Kok lo baru cerita ke gue sih?!"
"Sorry Din... Gue waktu itu cerita ke Yola aja, abis lo juga lagi mikirin masalah Bhimo yang gak nembak nembak elo kan..."

Ups. No, Gestu. Kalau aku diingatkan lagi tentang Bhimo, aku tak bisa berfikir jernih. Aku dan Bhimo sudah dekat cukup lama tapi dia tak kunjung menembakku dan itu membuatku merasa...... Ah, sudahlah.

"Ugh, ya paling gak lo kan bisa cerita dikit, Ges."
"Sorry, Din... Nah intinya Titi suka sama gue, tapi pas itu gue gak ngerasa apa apa dan langsung gue bilang gue cuman suka sama dia sebatas sahabat doang."
"Shit, Gestu bego ya."
"Duh.. Emang pas itu kerasanya gitu Din..."
"Lalu dia bilang apa?"
"Dia bilang.. Intinya makasih buat semuanya dan dia mau move on."
"Astaga Gestu.. Dia tuh sayang banget sama elo!" 

Gestu menatapku dalam dalam. "Gue baru sadar gue juga sayang sama dia sekarang! Setelah dia udah makin jauh sama gue! Setelah gue denger dia mau jadian!"
"AH? DIA MAU JADIAN?!" 
"Iya! Gue denger gosipnya dia mau jadian sama Jawali baru."
"Hah? Siapa sih?"
"Katanya sih... Winu."

Seketika wajahku yang tegang berubah menjadi kaget bercampur tak percaya lalu tertawa terbahak. Gestu Gestu.. Mana mungkin Titi sama Winu?

"Gue tau dalam fikiran lo mana mungkin Titi bakal sama Winu karena Winu kan mantannya Risma dulu pas kelas 7. Ya tapi liat deh Din! Sekarang mereka deket dan sama sama anak Jaffles 26 lagi!" Seru Gestu dengan wajah kesal. Aku terkekeh.
"Ya terus Gestunya mau gimana? Eh ya tadi lo bilang sama kayak yang dia bilang itu..." Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Gestu sudah menyodorkan BlackBerry Amstrongnya padaku. Di layarnya terpampang screen shoot chatnya dan Titi.


T: Gestu tuh ntar kalo Titi move on pasti nyariin
G: Enggaklah orang sukanya sebatas temen
T: Sekarang sebatas temen, ntar? Siapa yang tau coba
G: Hahaha ya embuh ya...
T: Titi sih yakin ntar Titi move on, kamu suka sama Titi.
G: Astaga pede banget sih Ti! Hahaha
T: Ya abisnya hahahaha
G: Gak bakalan lah hahaha
T: Awas gak bakal gak bakal, ntar suka beneran sama Titi. Gak ikut ikutan aja pokoknya kalo kamu suka sama Titi nya pas Titi udah move on. Karma siah.

Ups. Aku terkekeh. "Masih suka chat gak sih?"
"Gak.."
"Yang ngechat duluan pasti dia. Iya kan?"
Gestu terdiam. Astaga Gestu...

"Jadi sekarang fix suka sama Titi tapi Titinya udah move on?"
"Ya gitu...."
"Jadi Gestu maunya gimana?"
"Ya Dini pasti ngertilah."
"Gimana Dini bisa ngerti kalo Gestu gak bilang?"
"Ya maunya dia balik ke gue Din, gak usah ke Winu segala lah."
"Ya kalo gitu ini saatnya lo gantian perjuangin dia."
"Gimana caranya?" Tanya Gestu heran. Aku terkekeh lalu kembali berjalan.

Gestu.. Gestu... Kenapa kamu malah suka sama Titi sewaktu dia sudah move on sih? Kemana saja kamu saat dia masih di kamu? Cinta memang tidak bisa di prediksikan ya. Datang dan pergi sesukanya...

***

MARISSA SHAFIRA RACHIM | ICOY'S POV

BlackBerry-ku bergetar tanda ada BBM masuk tepat beberapa detik setelah mataku terbuka. Kubuka aplikasi BlackBerry Messanger dan... Ugh, Nug. Nug mengucapkan selamat pagi pukul 4 pagi. Biasanya ia membangunkanku pukul 5 pagi.

Oh iya, Cirebon-Manado ya sekarang.

Aku membalas BBM-nya dengan cepat lalu kembali merapatkan diri di selimut tebalku. Aku memainkan trackpadku sambil berfikir apa yang sedang Nugroho lakukan disana. Baru seminggu aku tak bertemu dengannya dan sekarang...

Aku benar benar merindukannya.

Aku ingat saat ia bilang ia akan pindah. Ia mengatakannya sambil menggenggam tanganku dan kami berada di dalam bioskop. Aku kira ia hanya bercanda namun ternyata semuanya benar adanya. Ketika ia mengatakan Manado adalah tempat persinggahan selanjutnya, aku ingat sekali air mataku langsung menetes.

Aku tak mau bicara pada Nugroho sejak hari itu padahal seminggu kemudian Nugroho harus pindah. Ia juga sudah memohon kepada orang tuanya untuk menambahkan satu minggu itu demi aku, tapi aku malah marah padanya.

Aku egois sekali ya?

Aku bersikap seperti itu karena... Aku menyayangi Nugroho dan aku tidak mau berpisah dengannya. Tapi.... Astaga...

Minggu lalu aku mengantarkannya ke stasiun minggu lalu setelah Nugroho datang ke rumahku. Aku ingat sekali Nugroho datang sambil membawakan bunga untukku. Ia terus menggedor pintu kamarku sampai akhirnya aku membukanya.

Ia langsung memelukku dan meneteskan air mata dipundakku sambil berkata, "Icoy maafkan aku. Aku gak mau pergi dan kalo bisa aku gak akan pergi. Tapi Coy... Orang tuaku..."

Aku ingat, saat itu aku tak bisa berkata apa apa selain memeluk Nug lebih erat lagi. Aku ingin membekukan waktu dan selalu begitu bersama Nug, orang yang aku sayangi. Aku akhirnya luluh dan mau mengantarkan Nugroho ke Stasiun Kereta Api.

Aku sebenarnya tidak ingin melepaskan Nugroho pergi, tapi apa daya. Aku harus melepaskannya dan membuatnya kuat menghadapi perpisahan ini. Jarak antara kami memang jauh, tapi hati? 

Sejauh apapun jarak yang membatasi, jika hati sudah bersatu, takkan bisa dipisahkan lagi.

Jarak memang jauh sekali, tapi aku percaya aku dan Nugroho mampu melalui semuanya. Karena kami sudah jadi satu dan kami akan selalu bersama dan takkan pernah terpisahkan.

Tiba tiba air mataku menetes saat melihat wallpaper handphone-ku. Aku merindukan Nugroho. Aku merasa sangat bodoh mendiamkannya saat detik detik sebelum kepindahannya. Nug... Nug....

Aku ingat beberapa menit sebelum keberangkatannya, Nug memelukku lagi sambil berbisik.


"Jarak memang jauh, Mar. Kita dipisahkan oleh lautan dan pulau pulau. Tapi hatiku dan kamu sudah jadi satu. Aku titipkan hatiku padamu. Aku pasti akan kembali ke sini. 
Jaga baik baik hatiku ini sampai aku kembali nanti. 
Aku mencintaimu, selalu mencintaimu dan akan terus mencintaimu, Marissa...."

***

FAISAL ABDUL MAJID'S POV

Melihat gadis yang kamu cintai menangis dipojokkan karena dicampakkan oleh kekasihnya adalah hal terburuk yang pernah kualami selama aku mulai jatuh cinta pada seseorang.

Aku tak tega melihatnya menangis seperti itu. Aku tahu betapa cintanya dia pada mantannya. Aku tahu seberapa besar perjuangannya untuk mendapatkan mantannya itu. Andai saja aku bisa menggantikan posisinya untuk merasa terluka...

Karena aku benar benar tak sanggup melihat dia, orang yang aku sayangi, yang menjadi alasanku setiap hari untuk pergi sekolah merasa tersiksa seperti itu. Karena aku benar benar menyayanginya, karena aku benar benar ingin melindunginya.

Kamu mungkin berfikir aku dekat denganmu sebagai pelarian karena aku tak bisa bersama Fita semenjak ia jadian dengan Fadhel. Kamu salah besar. Aku sayang kamu, aku nyaman deket sama kamu. Karena itulah aku gak tega liat kamu kayak gini....

Andai aku bisa merubah keadaan. Andai aku bisa membuatmu tersenyum lagi. Andai kamu tidak hanya menganggapku bercanda. Andai kamu melihatku lebih, bukan sekedar teman sekelas saja.

Aku jadi kembali teringat saat aku bercanda denganmu sebelum kamu berpacaran dengan dia. Saat kamu dekat sekali denganku. Saat aku memberikan bunga untukmu dan kamu bilang kamu suka padaku. Aku harap itu semua serius dan bukan bercanda. Seperti aku juga yang serius tentang perasaanku padamu.

Jujur, aku hanya ingin kamu melihatku dan percaya padaku kalau semuanya bukan hanya bercanda....



Karena apa yang selama ini kulakukan tulus perasaan dan bukan hanya pelarian, Sil.


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}