The Reason is You chapter 19

Kamu tuh cewek, Ti. Nunggu, bukannya mulai. 
-Naufal, Rajawali 06, anak bungsu Titi yang lagi pdkt + nungguin cewek. Lol.

***


Cerita sebelumnya....


MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV


"Nug...." Ucapku terisak sambil memegangi iPhone putihku. Nugroho dari sebrang sana bergumam. Sudah berapa lama aku tak bicara dengan sahabatku ini..

Selain dengan Alvan, Vicky dan Livia, aku bersahabat juga dengan Nugroho Kurnianto. Kami sama sama bersekolah di SD Kebon Baru 5. Aku bisa cerita apapun dengan Nug, begitu pula sebaliknya. Ketika aku mulai punya masalah dengan ketiga sahabatku, Nug selalu disisiku.

Tapi.. Kami sekarang berpisah jauh. Aku sudah tidak bisa lagi berlari ke kelas Nug hanya untuk menyapanya lalu bercerita sebentar. Sekarang... Bukan hanya Icoy yang menggalaukan Manado di timeline twitternya. Tapi aku juga.

"Mewnya sabar ya... Pasti mereka bakal balik lagi kok kayak dulu." Kata Nug dari sebrang. Mew adalah semacam panggilan 'kesayangan' dari Nug untukku. Aku terisak.
"Tapi sampai kapan coba? Kenapa mereka berubah?"
"Coba kamu fikirin lagi deh.. Kita udah ngulang pembicaraan ini berkali kali tapi menurutku kamu gak pernah introspeksi diri."
Aku teridam lalu menaikan alis kananku. "Maksud kamu, Nug?"
"Ya.. Kamu selalu nanya kenapa mereka berubah. Kamu gak pernah mikir apa kamu berubah atau enggak..."
"Jadi aku harus gimana, Nug?" Tanyaku sambil terisak.
"Nug rasa kamu harus telpon salah satu diantara mereka."
"Mereka gak perduli sama aku lagi dan aku gak berani."
"Duh Megan, kalo gini terus mana kamu tau kepastiannya?"
"Bukannya lebih baik diam daripada maju tanpa harapan?"
"Kamu baca dari bio twitternya Gestu ya? Aduh, Gan. Gimana kamu mau tau ada atau gak adanya harapan kalo maju aja gak pernah?"
"Tapi aku harus telpon siapa, Nug? Mana mau mereka denger aku..."
"Pasti masih ada salah satu yang mau dengerin kamu..."
"Walaupun dia akan jutek?"
"Ya, walaupun dia jutek sekalipun."

Aku terdiam lalu berfikir sejenak. Aku sudah benar benar lost contact dengan Alvan. Sementara Livia masih menyapaku namun tak pernah lagi bercerita padaku. Satu satunya orang....

"Aku akan menelponmu lagi nanti."
"Iya, good luck. Salam untuk Icoy, aku merindukan dia."
"Aku tahu. Kamu sih pake pindah segala."
"Ya mau gimana lagi Mew...."
"Hehehe... Doakan aku. Semoga aku dapat jawabannya."
"Iya, pasti. Bye, Mew." Ujar Nugroho lalu menutup telponnya.

Aku menaruh iPhone-ku dan meraih BlackBerry-ku yang berada di meja samping tempat tidur. Kuketik namanya secara cepat lalu memencet tombol hijau. Semoga dia menjawabnya...

Tut.. Tut... Tut... Tak ada jawaban. Aku menelpon lagi. Di dering ketiga, terdengar deheman dari sebrang lalu batuk beberapa kali. Disana ia menggumam, "duh siapa yang nelpon malam malam.." Kulirik jam yang ada di dindingku, jam 10 malam. Oh yeah, Megan kau tak lihat waktu dulu ya...

"Vick.. Ini Megan."
Dia terbatuk lagi lalu berdehem. "Ehm. Apa?"
"Aku ganggu kamu ya?"
"Gak, lagi main Dota aja."
"Oh.. Sorry..."
"Penting gak? Kalo gak mau gue tutup."

Aku tersentak. Duh, sebegini menyakitkannya kah perasaan orang yang bertengkar dengan sahabatnya sendiri tanpa tahu alasan jelasnya?

"Megan mau minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk apapun yang Megan lakukan sampe bikin kalian bertiga sakit hati."
"Ya, dimaafin."
"Oh come on Vicky.. You need to told me what's wrong with you, me, us. So I can fix it."
"Gan, lo gak sadar apa yang lo lakuin?" Tanya Vicky dengan suara parau.

"Gue gak tau, Vick. Dan gue mau tau. Gue gak mau terus terusan berfikir kalian yang berubah semenjak punya pacar. Gue gak mau terus bertanya tanya dan menderita..."
"Mungkin lo emang bener Gan. Kita bertiga emang berubah. Tapi kita berubah bukan karena punya pacar."
"Lalu apa? Semenjak kalian punya eskul.. Punya pacar.. Kita yang berempat tuh udah gak ada harganya."
"Ya kita berubah semenjak elo berubah."
Aku tersentak. "Hah?"
"Iya. Elo yang berubah."

Astaga... Nugroho benar...

"Apa yang berubah dari gue sih, Vick?"
"Gini ya Gan, sebenernya gue gak mau ngungkit ini cuman mungkin ini udah saatnya lo tau. Selama ini kita pengen lo dengan sendirinya sadar tentang sikap lo yang berubah drastis, tapi ternyata? Apa? Gak ada kesadaran sama sekali. Lo malah bilang kita yang berubah."
"Hah? Bentar bentar.. Gue gak ngerti. Ada apa sih sebenernya, Vick?"
"Gue, Alvan dan Livia emang punya eskul dan pacar! Tapi kita selalu minta maaf kalo gak bisa ngumpul, jarang bales chat atau sibuk sama dunianya masing masing. Nah elo! Semenjak lo masuk MB kan hidup lo MB terus, Gan! Lo kayak perduli sama kita bertiga!"

Hatiku hancur seketika. Segitu bodohnya kah aku sampai berlaku seperti itu pada sahabatku?

"Sadar gak sih Gan.. Kalo gue lagi sibuk sama Asterix, gue pasti minta maaf karena gak bisa bareng baru ngilang. Nah elo! Elo kemana, Gan?!"
"Ya ampun.. Waktu itu tuh gue lagi sibuk banget sama lombanya MB, Vick..."
"Ya paling gak minta maaf kek apa kek."
"Ya maafin gue.. Gue khilaf..."

"Minta maaf sih gampang, Gan. Lo gak tau aja kan betapa sakitnya kita bertiga lo tinggalin gitu aja?"
"Ya tapi gue selalu berusaha untuk tetep merhatiin kalian..."
"Merhatiin kita atau datang ke kita pas anak anak MB nya gak ada?"
"Ya ampun gue gak pernah niat bikin kalian jadi pelarian gue..."

"Terserah deh Gan. Kita kira lo bakal berubah setelah kita jauhin. Eh bukannya nyelametin kita, malah lo sibuk sama MB."
"Enggak! Gue kan suka hubungin lo semua, tapi lo semua yang ngilang!" Seruku sambil menjerit menangis. Vicky tertawa sinis.
"Hahaha, ya karena kita semua udah males sama elo Gan!"
"Anjir.. Vicky.. Apa yang bisa gue perbuat biar persahabatan kita balik lagi..."
"Gak tau deh Gan. Gue rasa, gak bakal ada lagi kita yang berempat. Yang ada cuman gue, Alvan dan Livia. Tanpa elo. Karena kita bertiga gak butuh sahabat yang udah lupain kita dan datang ke kita pas ditinggal sahabat barunya."

Vicky langsung menutup telponnya. Aku menjerit. Aku menangis. Ya Tuhan jadi selama ini karena aku sedang sibuk dengan MB lalu tak bisa bagi waktu.. Mereka.. Ya Tuhan...

Aku tak ingin persahabatan ini berakhir begitu saja. Apalagi karena kebodohanku. Tidak.


***


MUHAMMAD GHORBY'S POV


Aku baru saja terbangun dan keluar dari sanggar ketika mendapati angkatan 27 sedang memebereskan peralatan untuk CT. Dari dua bulan sebelum CT kami sudah mulai mengumpulkan barang barang yang akan diperlukan nanti karena untuk tahun ini yang menjadi pesertanya bukan hanya kelas 7 tapi kelas 9 juga.

Rencananya setelah CT akan disambung Study Tour keliling Jawa Timur. Belum lagi satu bulan sebelum CT adalah saatnya membayar dana partisipasi. Tampaknya Vancouver'85 harus jual rumah buat keperluan sekolah... #eh

Aku melihat dia sedang duduk ditangga 'kramat' milik kami. Yang boleh duduk ditangga itu hanya alumi dan Rajawali-Rafflesia. Aku duduk disampingnya.

"Kamu gak kesana, Nis?" Tanyaku pelan. Ia tersentak. Tampaknya kedatanganku mengagetkannya. Ia menggeleng.
"Enggak, Ghor..." Jawabnya dengan suara serak. Aku menatap matanya yang merah.
"Kamu nangis?" Tanyaku hati hati. Ia menunduk.
"Berantem sama Izar?" Tanyaku lagi. Ia tak menjawab.
"Izar bener bener gak suka ya kamu masuk Pramuka..." Sahutku pelan.

"Dari awal masuk sampe detik ini aku emang berantem terus sama Izar, Ghor."
"Kenapa sih dia gak suka?" Tanyaku polos. Ninis mengangkat wajahnya dan menatapku.
"Kamu bisa jawab sendiri kan?" Tanyanya dengan wajah kesal. Oh.. I see. Karena aku.
"Ya terus kalo kamu udah tau dia gak suka, kenapa kamu tetep masuk?"
"Aku suka Pramuka, Ghor."
"Kenapa baru masuk sekarang?"
"Mau numpang eksis langsung jadi Raffles.. Ya enggaklah. Baru ada keberanian sekarang."
"Lho emang kemarin? Pas aku ajakin kamu..."
"Hehehe... Gak tau. Pokoknya baru ada niat bulet tuh sekarang."

"Kamu gakpapa berantem terus sama Izar?"
"Ya apa boleh buat..."
"Kenapa gak udahan aja kalo udah gak tahan?" Tanyaku. Ninis menoleh.
"Aku sayang dia, Ghor."
"Ya kalo kamu sayang, dia sayang.. Harusnya dia percaya kamu."
"Nah itu dia, aku harus buktiin sama dia kalo aku sayang sama dia."
"Ya kalo kamu emang sayang, pasti jadi mudah kok ngebuktiinnya..."
"Hehehe semoga aja... Kamu gimana sama Risma?"
Aku terdiam lalu tertawa. "Aku baik baik aja."

Kami berbincang banyak hal sampai akhirnya aku melihat dari lorong sana Risma sedang berdiri dan menatapku. Astaga... Jangan jangan Risma sudah lama disana!

"Kenapa, Ghor? Ada Risma ya?"
"Eum.. Aku pergi dulu ya Nis."

Aku beranjak bangun lalu berjalan menghampiri Risma. Wajah Risma mengeras, pipi dan matanya memerah. Ia marah.

"Hai sayang.. Kamu kok gak bilang mau liat aku sih ay.." Kataku dengan suara seceria mungkin. Risma menggeram lalu menatapku dalam dalam.
"Aku kira aku bisa percaya sama kamu, ternyata enggak. Balikan aja gih. Gak usah manggil aku sayang lagi." Kata Risma lalu berbalik meninggalkanku.

Oh shit.. Kenapa sih. Aku sudah hampir totally move on ini kenapa Risma jadi begini..

***

SILVY SANTIKA'S POV


Melihat Novi dan Sulthan yang semakin dekat membuatku semakin ingin pindah sekolah saja. Biasanya aku, Novi, Sulthan dan dia selalu bersama kapan pun dan dimanapun tapi sekarang...

Semenjak hari itu, aku tak pernah lagi mau bicara dengan Alvan.

Padahal tempat duduk kami depan belakangan tapi kami seperti tak mengenal satu sama lain. Aku tak bisa bicara apapun dan begitu juga dirinya. Aku tidak mengerti kenapa semua perjuanganku berakhir sia sia seperti ini...

Kenapa kami tak bisa benar benar menyatu, sih?

Aku kira Alvan benar benar menyayangiku. Ternyata tidak.

Aku menunggunya sekian lama.. Selalu mencoba membuktikan padanya bahwa aku lebih baik daripada Novi.. Ketika ia bilang suka padaku dan ternyata semua itu bohong... Apalagi yang harus aku percaya dari sebuah perasaan yang disebut cinta?

Bahkan ketika Lega, orang yang menjadi moodboosterku selama aku sedang bertengkar dengan Alvan pun tak bisa mengembalikan senyumku.

Aku merasa seperti orang bodoh mencintai orang yang sama sekali tidak mencintaiku.

Tapi itulah hidup. Ada kalanya kita akan mendapatkan apa yang kita mau atau tidak akan pernah mendapatkannya walaupun kita sudah berusaha. Apalagi yang harus aku pertahankan jika ternyata Alvan tak pernah mencintaiku?

Mungkin dengan berpisah adalah jalan yang terbaik untuk kami.

Aku harus berjalan terus, melupakan masa lalu dan berusaha yang terbaik untuk masa depanku. Aku tak mungkin terus menunggu Alvan. Kenapa kita harus menunggu sesuatu yang jelas jelas tak tercipta untuk kita?

Aku harus move on.

Mungkin aku bisa langsung jadian dengan Lega jika aku memberikan signal lebih lanjut padanya tapi... Kata kata Gestu tadi malam membuat sakit yang Alvan buat kembali terasa lagi. Aku harus move on, aku tidak bisa berdiam diri terus..

Jika ditanya apakah aku sudah move on, aku akan menjawab iya karena sekarang aku punya Lega yang ada didekatku dan aku mulai menyayanginya. Hanya beberapa langkah lagi sampai aku bisa bersama Lega dan melupakan Alvan namun.. Aku tak bisa berjalan lagi. Seperti ada hal yang menahanku.

Tetapi semakin lama aku diam, semakin sering sakit itu datang menghampiriku. Hanya saja.. Kata kata Gestu membuat niatku untuk move on buyar. Astaga ya Tuhan, aku masih menyayangi Alvan, tapi keadaan seperti ini.. Jadi apa yang harus kuperbuat?

Aku tak habis pikir... Semudah itukah kamu bilang "I have moved on" setelah sekian lama kamu mencintainya, Sil?

***

KARTIKA YOLYNDA'S POV

Arlojiku telah menunjukan pukul 17.00. Keadaan SPENSA sudah sepi, anak anak 26 dan 27 sudah pulang sedari tadi. Tinggal aku dan Aca yang kebagian piket sedang membereskan sanggar Pramuka kami.

Aca berdehem seperti ingin membuka percakapan. Kami memang jadi sangat canggung semenjak putus sewaktu kelas 8. Aku terus melanjutkan kerjaanku membereskan pasak.

"Yol, tau gak?" Tanya Aca membuka percakapan.
"Eum, apa Ca?"
"Tau kan Esar suka sama siapa?"
Aku terdiam lalu mengangguk. "Iya."
"Nah... Itu lho.. Bhimo... Masa suka juga sama Dini."
Aku tersentak dan menjatuhkan pasak pasak itu. "Ya ampun, serius?"

"Iya, baru tau tadi."
"Waduh...."
"Gimana ya Esarnya...." Kata Aca sambil menumpuk tenda tenda yang sudah dilipat oleh anak anak 27. Aku terdiam.

Untuk Dini.. Pasti dia bahagia sekali karena Bhimo, orang yang ia sukai juga menyukainya. Tapi untuk Esar.. Kabar itu pasti membuatnya sakit hati karena sudah pasti jika Bhimo menembak Dini akan diterima dan Esar tak mendapatkan apa apa dari penungguannya.

"Jadi sia sia ya dia nungguin." Kataku lirih.
"Iya, kayak Yola." Kata Aca sambil mendudukan diri di salah satu tenda. 
Aku menoleh ke arah Aca lalu berjalan dan duduk di sampingnya. "Apaan sih."
"Iya kayak Yola nungguin Esar gak dapet dapet.... Lagi. Hehe."

Ups. Kok Aca tau aku sukanya sama Esar?!

"Gestu cerita ya sama elo!" Tuduhku. Aca tertawa.
"Enggak, gue nebak sendiri Yol."
"Gila, segitu ketebaknya?"
"Gak juga sih.. Cuman gue nguping pas lo ngomong kepastian kepastian gitu sama Esar."
"Anjir.. Cuman lo doang kan, Ca?" Tanyaku panik. Ia tertawa lagi.
"Hahaha iya."

"Pfft, nasib gue kali Ca nungguin Esar gak dapet dapet."
"Jadi mau nunggu terus gitu?"
"Lah kan sayang sama Esarnya..."
"Kenapa gak sama yang pasti pasti aja?" Tanya Aca sambil tersenyum kecil. Aku menoleh padanya. Ah, aku mengerti kemana arah pembicaraan ini.

Jujur, aku gugup. Tapi aku harus membuat keadaan kembali seperti bercandaan. "Kayak elo gitu? Hahaha."
"Tuh tau." Kata Aca singkat. Aku tersentak. Duh apa yang kau lakukan sih Yol!
"Ah becanda mulu nih.."
"Enggak. Gue serius. Gue masih sayang sama elo dan gue gak mau liat elo menderita nungguin Esar yang gak peka peka itu."
"Tapi Ca.. Gue sayangnya.."
"Gue percaya Yol. Kita pernah pacaran dan gak mungkin perasaan tuh bener bener ilang. Pasti masih ada ruangan buat gue dihati lo walaupun cuman 1 persen."

"Tapi Ca gue..."
"Please, Yol. Kepastian disini. Kenapa harus nungguin yang semu gitu?"
"Gue cuman berharap bisa balikan sama Esar.. Gue sayang sama dia."
"Gue pun berharap bisa balikan sama elo Yol..."

Aku terdiam. Aku tak bisa bicara apa apa.

"Kenapa lo terus nunggu yang gak pasti sih, Yol? Liat. Raffles semua udah move on."
"Titi  belum!"
"Udah, sotil lo." Kata Aca sambil mengacak acak rambutku. Aku tertawa.
"Hahaha iya gue tau kok, cuman kan hatinya ke Gestu, Ca."
"Ya tapi dia mau nyoba move on. Nah elo, stuck mulu. Gak capek?"
"Gue sebenernya capek Ca...."
"Kalo udah capek yaudah tinggalin. Pindah ke yang lain. Sia sia juga lo nungguin, udah buktiin tapi Esarnya gak ke elo..."

Aku terdiam. Aca benar juga.

"Gue berharap kalo Dini sama Bhimo jadian, Esar bakal ke gue.."
"Ya kalo Esar beneran ke elo, kalo enggak? Move on..."
"Aaaah Aca! Please jangan gini!"

"Gue sayang sama elo, Yola. Kenapa sih gak ngerti? Gue juga nungguin elo."
"Tapi...."
"Gini deh, kenapa lo gak nyobain untuk jalanin bersama yang pasti daripada gak jalan kemana mana dan nunggu mulu tanpa harapan yang jelas?"

Aku menelan ludah lalu berdiri. Astaga, Aca berubah sekali.. Diam diam menghanyutkan.

"Please, percaya sama gue. Gue sayang sama elo, Yol."
"Ya.. Gue juga masih ada rasa sayang ke elo, walau gak segede ke Esar."
"Yol...." Aca bangun dari duduknya, meraih gitar lalu berlulut dihadapanku.
"Ngapain sih, Ca duh..."

"Gue pengen bahagiain elo. Walaupun perasaan lo masih di Esar.. Gue gak papa, Yol. Gue cuman pengen elo ngasih kesempatan buat gue untuk memperbaiki hubungan kita yang dulu. Karena sampai sekarang gue gak pernah bisa lupain elo... Jadi pacar gue lagi ya, Yola?" Tanya Aca pelan. Aca lalu mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi lagu Selir Hati. Lagu yang pernah ku kirimkan untuk Esar.



Oh Tuhan... Lebih baik aku tetap menunggu Esar tanpa kepastian atau memulai semuanya bersama Aca? Jika aku menerima Aca aku takut akan melukainya karena hatiku masih pada Esar, namun jika aku terus menunggu Esar... Tidak ada jaminan aku akan bahagia.

Aku tak mengerti apa yang kurasa tapi.... Jantungku berdegup kencang saat ia bernyanyi dan menatap mataku dalam dalam.

Apa yang harus aku lakukan?


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}