The Reason is You chapter 20

Reasonators, yuk ikutan #SeventyTwoKAlicers of Alice in Tipluk's World. Cek disini ya:}

***



MUHAMMAD HAEKAL ALAWY'S POV

"Kal, di suruh makan ke bawah sama Nenek." Kata Lega setelah masuk ke kamarku sembari membawa sebungkus Taro besar. Aku mengangguk, "iya ntar Leg, males. Cewek cewek pada kemana?" Tanyaku sambil memetik gitarku. 

Lega berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. "Biasa lagi ngerumpi, bentar lagi juga balik. Mau main poker ya lo?" Tanya Lega dengan tatapan menyelidik. Aku nyengir. 

Seperti biasanya setiap 3 bulan sekali akan diadakan arisan keluarga besar Setiadharma. 3 bulan yang lalu rumah Lita yang jadi sasarannya, kini giliran rumahku. Dari seluruh sepupuku, aku paling dekat dengan Alda, Lega dan Lita yang umurnya sama denganku. Kami sudah bermain semenjak kecil. Lega dan Lita tinggal di kawasan Perumnas, sementara aku dan Alda di Plered.

Biasanya setiap arisan keluarga, kami selalu berkumpul berempat dan bermain poker atau sekedar mengcover lagu. Lita punya suara yang cukup bagus, aku dan Lega sama sama bermain gitar sementara Alda bernyanyi. Oh ya, kami berempat sama sama jomblo lho! Hahahaha. Nama belakang kami pun sebenarnya sama, Muhammad Haekal Alawy Setiadharma, Claudia Esterlita Putri Setiadharma, Alda Zerlina Amelia Setiadharma dan Lega Ikhwan Herbayu Setiadharma. Semua anggota keluarga kami juga memiliki nama belakang yang sama.

Aku memetik gitarku memainkan lagu Fall For You sementara Lega sibuk dengan iPhone dan chiki-nya. Beberapa saat kemudian Lega menoleh dan meraih gitarku secara paksa.

"Apaan sih, Leg!" Seruku.
"Kal, lo kenapa?" Tanyanya dengan tatapan menyelidik. Aku terdiam.
"Jawab dong, Kal. Lo kenapa? Berantem sama Bani?" Tanya Lega keheranan. Selang beberapa detik, Lita dan Alda masuk sambil membawa roti bakar. Aku langsung beranjak dari dudukku dan menghampiri Alda.

"Eits! No, Kal! Lo cerita dulu baru boleh makan roti bakarnya!" Seru Lita sambil menutupi Alda. Alda tertawa kecil lalu mengangguk. Aku akhirnya mundur dan kembali duduk di sofa. Lita duduk di sampingku sementara Alda di samping Lega. Aku masih diam membungkam.

"Gue tau ada sesuatu yang terjadi antara elo dan Bani." Kata Lita membuka percakapan.
Aku menoleh lalu menyipitkan mataku. 
"Bego, gak usah nyipitin mata elo. Udah sipit!" Seru Alda sambil melempar bantal padaku.
Aku meringis pura pura kesakitan. "Sakit Alda.. Ih kamu tuh cewek.. Gak boleh gitu..."
"Aishhh, bener kan gara gara Bani! Kenapa sih, Kal?" Tanya Lega.

Ugh, sepupuku kepo semua.

"Ya... Okelah. Jadi waktu hari itu...."

Akupun menceritakan kejadian siang itu saat aku mengantar Bani pulang. Saat Bani menolakku. Saat Bani menghancurkan harapanku lalu beberapa menit kemudian sukses membuatku bingung.


Aku masih ingat Bani menyipitkan matanya lalu tersenyum kecil. "Kalo kamu sayang sama aku, aku mau kamu buktiin ke aku kalo kamu lebih baik daripada Ridho, Pit."

Aku lalu menatapnya dengan tatapan sendu. "Aku harus gimana biar kamu percaya kalo aku sayang sama kamu, Pit?"

Bani mengacak acak rambutku. "Ya kreatifitas kamu dong, Pit."

Aku tersenyum. "Sebenarnya kamu sukanya sama aku apa Ridho sih?"

Bani tertawa. "Kamu dan Ridho punya peluang yang sama. Aku mau liat segimana usaha kamu sama Ridho. Let's see who can prove to me."

Alda tersenyum kecil ketika aku selesai bercerita. "Nah lho, disuruh prove..."
"How can I prove it to her when Ridho is my bestfriend?" Tanyaku.
Lega tertawa. "Lo harus bisalah, Kal. Sayang kan sama Bani?"
"Iya sayang..."
"Ya perjuangin dong... Jangan cuman ngeluh Baninya di deketin terus sama Ridho!" Seru Lita sambil meninju bahuku. 

"Bangke lo Lit, sepupu apaan."
"Hahaha ya abis.. Nih ya, Kal.. Lo harus prove kalo gitu. Sayang kan?"
"Harus prove gimana lagi coba? Gue udah nembak dia. Langsung. Apa itu gak ngebuktiin?"
Alda bergumam. "Hm.. Kalo gue jadi Bani juga mikirnya butuh pembuktian dari elo. Dia pasti ngerasa nyaman sama Ridho dan elo juga. Dia bisa aja langsung ninggalin elo dan fokus ke Ridho, tapi karena.. X-factor, dia mau liat elo berjuang dulu buat dia."

"X-factornya apa Al?"
"Ya.. Perasaan suka dia ke elo."
"Kenapa bukan dia yang berjuang buat gue coba kalo dia suka sama gue?" Tanyaku heran.
"Hello Haekal.. Lo kalo pinter jangan setengah setengah deh. Bani tuh lagi bingung harus milih elo apa Ridho."
Lega tertawa sembari mengetik di iPhone-nya. Aku merebut iPhone-nya. "Heh! Pdkt mulu, sepupu lo lagi pusing nih."
"Elah... Mumpung Silvy single nih." Kata Lega sambil tertawa.

Lita tersentak kaget. "Eh udah resmi putus?" Tanyanya. Lega mengangguk.
"Iyaaa, dalam masa pemulihan nih. Semoga cepet dan gue bisa cepet nembak!"
"Cihuy, ada yang bakal ninggalin kita bertiga nih..." Kata Haekal sambil tertawa.
"Eh elu juga, ntar sama Bani!" Seru Alda.
"Ih Alda yakin banget sih." Kata Lita sambil bangkit dari duduknya dan meraih remote TV yang ada di meja.
"Iya sih gue yakin Lit. Kan kalo gitu Ridhonya bisa balik ke gue. Hahahaha."

"Licik lo, Al. Gak nyangka lo nyemangatin gue tuh ada maksudnya tersendiri..." Kataku dengan wajah pura pura kecewa. Alda melempar bantal ke arahku.
"Diem lo. Ini namanya strategi sambil menyelam minum air. Lo dapet Bani, gue bisa deket sama Ridho lagi."
"Ya kalo Ridho balik ke elo, kalo dia malah move on ke yang lain? Hahahaha." Celetuk Lega. Tawaku langsung meledak.

"Berisik lo Leg, jadian sama Silvy aja belum tentu! Kalo Silvynya mau, kalo dianya balik ke Alvan gimana?" Tanya Alda lalu memeletkan lidahnya. Lita dan aku tertawa cekikikan.
"Ih, Alda gitu ya mainnya. Gak usah cerita ke Lega lagi."
"Tuhkan Lega juga gitu!"

"Hahaha enough, mending kayak gue nih nunggu sampe ada yang pas. Gak ngejer gak nyesel. Biarin cinta datang sesuai dengan waktunya." Kata Lita dengan senyum khasnya. Aku mencubit pipinya. 

"Ya elo mah dari kita berempat cuman satu satunya yang belum pernah pacaran! Kalo gue? Susah ya jatuh cinta pada seseorang yang sama dengan orang yang dicintai sahabat sendiri."

"Ish, curhat lo, Kal?" Tanya Lega dengan mata sinis. Aku menatapnya sinis lagi.
"Gak jadi sama Silvy baru tau rasa lo!" Seruku.
"Eh.. Gitu ya lo! Hahaha."
"Ih, kasian tuh gue. Udah Ridho dulu suka sama gue tapi gue masih ngarepin Sulthan, sekarang udah sadar mau ke Ridho aja eh Ridho nya malah sama Bani..."
"Duh Al... Jangan ngarep mulu lah kasian gue." Kata Lega sambil menatap Alda memelas. Alda melayangkan tinju kecilnya pada Lega.  Aku sendiri tak mengerti kenapa namun Alda dan Lega memang selalu bertengkar setiap kali bertemu.

"Sssh, udah deh. Yang jelas, kalo lo sayang sama seseorang, lo harus perjuangin itu. Apapun keadaannya. Bikin dia bahagia atau lepasin dia ketika dia lebih bahagia sama orang lain. Betul?" Kata Lita dengan suara sok bijaknya. Kami bertiga tertawa.

"Lita udah besar ya sekarang. Pacarannya kapan?" Tanyaku sambil tersenyum jahil. Lita melemparkan roti bakar ke arahku sambil cemberut. "Berisik lo, Kal. Ntar gua jadian!" Seru Lita. Kami berempat tertawa.


***

AFIFAH BINTANG UMARIZKA AZZAHRA'S POV

Aku hanya butuh kepekaan dari Audit.

Aku bukannya tidak suka dia melindungi Yara, tapi rasanya semakin lama semakin too much. Audit tak sebegitunya denganku. Kenapa dengan Yara begitu? Apa jangan jangan Audit sukanya sama Yara bukan sama aku...

"Fa? Kamu masih dengerin Odit kan?" Tanya Audit. Kami berdua sedang berada di angkot dalam perjalanan setelah les. Audit seperti biasa mengantarkan aku dulu baru pulang. Audit semenjak tadi sedang bercerita tentang Yara.
"Iya." Jawabku pendek.
"Jadi gimana menurutmu? Ide aku sama Nabila bagus kan? Yara sama Shelly pasti balik jadi sahabat kayak dulu lagi."
"Ya, mungkin aja."
"Duh kamu kenapa cuek banget sih..."

Dit, hello. Masa kamu gak sadar aku cemburu?

"Gakpapa." Jawabku pendek.
"Jangan gini dong, Fa.. Yara tuh sahabat aku."
"Aku tahu kok."

Audit menarik nafasnya satu dua kali lalu mengeluarkan BlackBerry Bold-nya. Ia seperti mencari sesuatu. Beberapa saat kemudian ia menyodorkan BlackBerry-nya padaku.

"Apaan sih DIt?"
"Denger." Kata Audit.

Aku mendengarkan lagu itu dan... Oh come on, Fall For You. Lagu yang Audit nyanyikan untukku saat ia memintaku menjadi pacarnya.



"Audit harap, kamu bisa ngerti. Antara sahabat dan pacar itu ada dinding tipis tetapi punya arti yang sangat berbeda. Kamu dan Yara punya tempat yang berbeda untukku, Fa. Tapi kalian berdua orang orang yang aku sayang. Aku harap.. Kamu percaya sama aku. Karena aku janji, aku gak akan ninggalin kamu. Kamu percaya kan?"

Aku terdiam. Lagu ini yang membuatku yakin untuk menerima Audit. Hanya saja.. Cemburu benar benar membakarku. Tapi toh, aku harus mempercayai dia kan? Karena hubungan itu bukan hanya masalah cinta, tetapi komunikasi dan kepercayaan juga.

Aku tersenyum kecil lalu mengangguk. "Iya Dut. Aku percaya. Jangan kecewain aku ya."

Audit tersenyum lebar. "Nah senyum dong.. Iya. Aku janji. Kasih kesempatan ya..."

Aku mengangguk kecil. Semoga aku bisa kembali mempercayainya. Pfft.

***

LIVIA NUR AFIFAH'S POV

"Hah? Serius lo Vick lo ngomong gitu?" Tanyaku sambil memotong donatku. Vicky di sebrang sana tertawa.
"Hahaha iya, Liv. Gue ngomongnya nyesek banget lagi."
"Ya kali pasti nyesek banget! Tega banget sih." Kataku sambil membenarkan posisi Samsung Galaxy W-ku.

"Iya sih gue tega banget cuman..."
"Ah, biarin aja Vick. Megan harus dapetin itu. Biar dia bisa ngehargain waktu dan sahabatnya."
"Iya... Tapi sampe kapan kita giniin Megan, Liv?"
"Gue juga gak tau Vick..."
"Kalo kata Alvan sampe kapan, Liv?"
"Sampe Megannya sadar..."
"Elah.. Kita bertiga yang harusnya bikin dia sadar."

"Tapi gimana caranya, Vick?" Tanyaku penasaran.
Vicky terdiam cukup lama. "Eum.. Gue juga gak tau sih, Liv."
"Elah! Gue kira!" Seruku kesal.
"Tapi sebentar lagi semua ini akan berakhir kok. Sepertinya Megan udah mulai berubah."

"Ah, semoga saja." Kataku sambil menerawang jauh. Karena jujur, aku merindukan kami berempat... Terutama sahabat cewek kesayanganku, Megan Quinka Dwidara Toding.

***

SALSA HIRAWAN'S POV

Apalagi hal yang paling bahagia selain saat kamu meminta orang yang kamu sayangi untuk jadi pacarmu dan ia mengatakan iya?

Yah, walaupun aku tahu Yola masih menyanyanyi Esar... Tapi aku senang karena Yola akhirnya mau membuka hatinya lagi untukku. Aku ingin memperbaiki hubungan yang dahulu karena aku menyayangi Yola.

Aku sedang sibuk dengan Angry Birds di Samsung Galaxy Note-ku saat Bhimo masuk ke sanggar sambil membawa gitarnya. Entah kenapa makin banyak anak Vancouver'85 yang main gitar. Apa mereka pengen kece atau gimana ya...

Tapi, aku yakin. Walaupun aku bisa main gitar, tanpa gitar pun aku sudah kece.

"Ca, gak ngelatih Garuda?" Tanya Bhimo.
"Ya kalo gue ngelatih lagi di luar sih Bhim.."
Ia tertawa. "Oh iya. Hehehe. Eh iya, congrats ya! Akhirnya balikan!"
"Hahaha thanks, lo gimana sama Dini?"
"Eum.. Kayaknya... Pas CT gue tembak. Hehehe."
"Asik! Sambil main gitar nih?"
"Iya... Hehehe."
"Wah.. Semoga di terima ya!"
"Amin! Tapi.. Gue gak enak sama Esar nih, Ca. Dia kan udah lama suka sama Dini."
"Dan.. Pacar gue juga masih ada rasa sama Esar. Tapi Dini sukanya sama elo deh Bhim."
"Hahaha complicated ya Ca. Semoga deh! Biar Jawali jadian semua."
"Lah Winu sama Gestu pakabar tuh.." Kataku sambil terus memainkan Angry Birds-ku.
"Gak tau, gue sih taunya Winu lagi deket sama Titi."
Aku tersentak lalu mem-pause dahulu gameku.

"Titi? Lah bukannya dia sukanya sama Gestu?"
"Bukannya udah move on ya?"
"Aduh cewek cewek ngebingungin banget sih."
"Hahahaha tapi Winu nya sih nganggep kayak temen doang, Ca."
"Kasian dia kena korban ketidakpekaan mulu."
"Iya.. Miris..."
"Ya berdoa aja deh yang terbaik, Bhim."
"Betul betul. Lo kok sekarang jadi lebih terbuka ya semenjak makin berani nunjukin perasaan?"
"Ya.. Gaktau hahaha."
"Maaf nih ya, lo gakpapa pacar lo masih ada rasa sama Esar?"

Aku terkekeh. "Rada ngeganjel sih. Tapi gue percaya kalo dia nerima gue berarti ada harapan buat gue untuk ngusir Esar dari hatinya dia. Berjuang aja dulu, apapun hasilnya ya urusan nanti. Siapa yang tahu coba kalo ujungnya malah Yola malah sayangnya sama gue?"

Bhimo hanya tertawa sembari bangun dari duduknya dan berjalan menuju keluar Sanggar.


***

SHELLY ILA AMALIA'S POV

"Gue juga sebenernya mau semuanya balik lagi kayak dulu, Nab.. Cuman percuma. Yara tuh emosional, kalo udah kesel ya gak bisa diajak ngomong." Kataku saat Nabila membujukku untuk mencoba bicara dengan Yara.

Sudah hampir 2 minggu kami benar benar berdiam diri satu sama lain. Yara benar benar marah padaku dan aku sendiri tak bisa bicara padanya ketika keadaannya seperti ini. Aku benar benar merindukan Yara. Hanya saja....

"Lo jangan gini dong, Shell.. Katanya lo sayang sama dia. Kunci dari kembalinya persahabatan lo ya cuman elo dan gue yang ngomong ke Yara."
"Tapi apa gunanya kalo gue ngomong dan Yara gak dengerin, Nab?" Kataku sambil menerawnag jauh.

Yara pasti tak mau mendengarkanku. Ia pasti sudah sangat membenciku...

"Tau darimana lo? Lo sayang kan sama dia? Dia juga sayang sama elo. Dan dia pasti dengerin elo. Coba dulu, Shell. Gue maunya elo sama Yara balik lagi kayak dulu..."

Aku terisak. "Gue juga mau Nab. Tapi keadaan kayak gini.. Please gue butuh waktu."

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV


"Van, musikalisasi puisi sama Silvy?" Tanya Sulthan tiba tiba menghampiriku. Aku yang sedang mencocokan nada pun langsung terdiam mendengar kata kata Sulthan.

Aku melihat ke arah kertas HVS yang berisi lirik yang Silvy tulis 2 bulan lalu saat kelompok Musikalisasi Puisi kelas pertama kali dibuat. Aku mendapat bagian kelompok bersama Silvy. Silvy yang menulis puisinya, menyanyi dan mencari nada, sementara aku membantunya untuk mencari chord dan memainkan gitar.

"Iya, Than..."
"Silvy yang nulis puisinya kan?" Tanya Sulthan meyakinkan.
Aku menarik nafas. "Than, gue tau lo mau ingetin gue betapa berartinya lagu ini buat gue sama Silvy cuman..."
"Van, jujur sama gue. Kenapa sih kalian putus? Silvy sayang banget sama elo."
"Ya.. Karena gue sama dia tuh berjodoh sebagai sahabat, bukannya pasangan."
"Terus kenapa lo nembak dia dulu?"
"Karena.. Gue fikir perasaan sahabat gue bisa berubah jadi lebih. Ternyata enggak, Than.. Dan kalo terus gue paksain, semakin nyiksa Silvy juga. Lagian dia udah deket sama Lega juga kan."
"Tapi apa lo gak pernah mikir kalo akhirnya setelah kalian putus jadi renggang gini?"

Aku tersentak. Ah masa iya Sulthan juga merasakan kerenggangan antara aku dan Silvy..

"Enggak kok.. Kita tetep sahabatan kayak biasa..."
"Bohong. Gue punya mata, Van."
"Than.. Sulit. Gue gak bisa jelasin."
"Lo... Lo gak liat betapa sakitnya dia lo tinggalin? Lo lupa betapa dia susah payahnya nungguin elo dan sekarang lo buang dia gitu aja ketika dia makin sayang sama elo?"
"Than gue...."

Sulthan lalu mengeluarkan BlackBerry-nya dan menyodorkannya padaku. Kulihat dilayar tersebut music player Sulthan memainkan voice note aku dan Silvy yang sedang duet lagu tulisan kami sendiri.

Mendengar lagu ini.. Aku jadi ingat kata kata Silvy saat kami sedang latihan waktu itu. Ya Tuhan..... Aku tak berniat membuat Silvy sakit seperti ini...

Ya Tuhan. Aku.. Memang benar benar tidak bisa mencintai Silvy lebih daripada sahabat. Walaupun aku tau sebagaimana tulusnya dia, walaupun aku tau sebagaimana lamanya dia menungguku.. Aku tidak bisa.

Kuharap dia bahagia walaupun bukan aku yang membahagiakannya.

Mencoba melupakan hari hari denganmu
Tapi ku tak pernah mampu
Mencoba bertahan walau kau tak denganku
Tapi ku terlalu terluka tanpamu

Salahkah aku mencintaimu? 
Sahabat yang selalu disisiku
Sampai kapan aku harus menunggu?
Dirimu tuk melihat aku

Lihat aku disini menantikan dirimu
Setia cintaimu walau kau cintainya
Coba datang kemari kujamin kau mengerti
Menunggumu bukan pelarian
Tapi karena perasaan..

"Van, ini aku tulis dulu banget pas nungguin kamu. Gak nyangka sekarang kita bakal nyanyiin lagu ini bareng dan aku... Udah jadi pacar kamu. 
Aku harap, kita selamanya gini ya, Van?"




Lagu di pov Alvan itu gue tulis sendiri lho dan dibantu Alvan nyari chordnya hehe. Ntar full version gue upload deh. Dan... Ya. The Reason is You masuk angka 20. Gimana? Makin penasaran gak? Hihihi to be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}