The Reason is You chapter 21: Truth or Dare

Truth or dare then the truth is I'm not moving from you. But when I've tried and everything means nothing for you, I rather choose to do a dare. 
My dare is.......

***



SILVY SANTIKA'S POV


Kamu memang duduk di depanku tapi rasanya kita berada di alam yang berbeda, Van.

Aku melihatmu tertawa dengan Novi, Alda, Ridho, Fita, Fadhel dan Sulthan tapi aku tak berani untuk bangkit dan ikut kesana untuk mengeluarkan lelucon tolol kita seperti dulu. Sekarang Novi dan Sulthan semakin akur. Alda sudah mulai berani menunjukan perasaannya pada Ridho walaupun ia tau Ridho sedang mencoba mendekati Bani. Sementara Fita dan Fadhel sudah mulai mengerti satu sama lain.

Sementara kita? Kenapa kita berakhir?

Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju luar kelas. Aku menghirup nafas beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan duduk sambil memasang earphone-ku. Lagu The Man Who Can't Be Moved yang di cover oleh Fadhel dan Titi pun terputar di media player-ku.


"Kamu gak main truth or dare?" Tanya Faisal tiba tiba datang dari dalam. Aku menggeleng tapi tatapanku tetap menerawang jauh.
"Gak, Sal."
"Tumben banget. Biasanya kan paling semangat."

Aku menunduk dan teringat semuanya. Truth or dare. Mainan kesukaanku dan Alvan. Faisal mengetuk ngetuk sepatunya beberapa kali lalu menarik nafas. "Kamu kenapa masih kayak gini sih, Sil? I mean, udahlah kamu relain dia. Toh kamu pernah sama dia."

"Cinta itu bukan masalah pernah pacaran atau enggak. Perasaan yang nentuin."
"Ya tapi toh apa yang selama ini kamu perjuangkan sudah sempat jadi kenyataan kan, Sil?"
Aku terdiam. Air mata mulai menggenang.
"Lalu apa lagi yang kamu harapkan dari orang yang sama sekali udah gak sayang sama kamu?"
"Aku gak berharap semua ini bisa balik kayak dulu, Sal. Aku cuman butuh penjelasan. Kepastian. Bukan diputusin secara sepihak gini."

Dan aku bersumpah beberapa detik kemudian air mataku jatuh bercucuran.

"Sil, kamu nangis pun gak akan ngerubah keadaan. Aku tuh berharap kamu bisa balik kayak dulu. Ceria lagi, main lagi dan nganggep semuanya biasa aja. Aku tau gak mudah, Sil. Cuman kenapa gak nyoba sih? Aku kangen liat kamu ketawa... Aku kangen cerianya kamu waktu main truth or dare. Mainan kesukaan kamu."

Air mataku terus mengalir. Oh Faisal....

"Tapi kalo aku main truth or dare sama aja aku mau nyakitin hatiku sendiri, Sal."
"Kamu harus latihan biar gak sakit lagi..."
"Asal kamu tau, aku bisa jadi kayak gini sama Alvan mulanya dari truth or dare. Aku jujur ke Alvan dan nanya juga ke dia. Lalu pada akhirnya kami jadian. Itu puncak dari perjuangan aku. Kalo aku main truth or dare...."

Faisal tiba tiba terkekeh. "Kamu tuh cantik cantik gak peka ya."
Aku tersentak. "Eh?"
"Iya gak peka.."
"Gak peka gimana maksud kamu, Sal?"

"Kamu tau kepastian dan bisa dapetin Alvan lewat berjuang kan? Dan titik puncak di truth or dare? Nah sekarang... Kenapa gak coba kesana, berjuang lagi dan nanya kepastiannya?" Tanya Faisal sambil tertawa. Aku terdiam sejenak sambil berfikir dan...

Oh God. Kenapa tidak terfikirkan olehku? "Astaga, makasih Faisaaaalku sayang!"
"Hahaha sama sama, Sil. Ayo! Cari kepastiannya, biar lega."
"Pffft, lega.. Dan bisa move on."
"Yap, move on."
"Doain aku."
"Selalu."

Faisal menatapku sambil tersenyum dan mengangguk lalu aku menatapnya yakin. Aku bangun dari dudukku dan berjalan masuk. Aku menemukan anak anak itu tengah tertawa bahagia. Aku pernah jadi bagian dari itu dan....... Kini saatnya aku kembali.

Apapun yang terjadi, walaupun cinta berakhir, pertemanan akan selalu berlanjut kan?

Dan itulah yang disebut kedewasaan. Semoga aku dapat kepastiannya. 

Semua mata langsung tertuju padaku saat aku duduk tepat di depan Alvan sambil mencoba tersenyum ceria. "I'm in!" Seruku. 

"Aaaaah! Asik Silvy ikut!" Seru Sulthan. Aku terkekeh.
"Oke, nah sekarang Silvy deh yang muter botolnya."
"Iya iya.. Biasanya hoki tuh Silvy."
"Hahaha oke." Kataku sambil memutarkan botol itu. Aku dan kamu saling bertatapan beberapa detik sebelum aku akhirnya memutarkan botol itu dan.... Botolnya berhenti tepat mengarah ke kamu.

"Yeay! Finally, Alvan! Truth or dare?"

I really miss you, Van.


***

ABIZAR BAGAS PRATIATAMA'S POV

"Jadi truth or dare, Zar?" Tanya Ninis, pacarku tersayang sambil tertawa manis menunjukan pagar warna tosca digiginya. Aku nyengir. "Dare, please."

"Dare? Dare apa lagi nih aku bingung..." Kata Ninis sambil memutar bola mata cokelatnya. Aku tertawa. Sejak tadi aku dan Ninis memang sudah bermain banyak hal. Mulai dari poker, duel Tempele Run, sampai pada akhirnya kami berhenti pada mainan klasik khas anak Vancouver: Truth or dare.

Kami berdua sejak tadi sama sama memilih dare dan sudah melakukan banyak hal konyol di depan orang banyak. Kini kami sampai di akhir permainan, aku menyerah mencari tantangan lain untuk pacarku ini, begitu juga dengannya.

"Kamu maunya Izar ngapain nih, Nis?" Tanyaku.
"Gak tau. Izar sama Ninis dan gak ngomel aja udah seneng."
Aku tertawa. "Ya habis kamunya juga sih.. Pramuka apa kabar?" 

Ninis tersenyum lebar lalu memulai ceritanya. Sekitar 1 bulan lagi CT akan dilaksanakan dan pada akhirnya aku luluh dan memberikan kepercayaanku pada Ninis. Aku sudah mulai yakin bahwa Ninis juga mencintaiku dengan caranya sendiri.

Jika aku tidak percaya, siapa yang akan mempertahankan hubungan ini?

Jujur, aku memang masih cemburu jika sesekali Ninis menyebut nama Ghorby. Tapi aku harus maklum dan mulai membiasakan diri bahwa Ghorby bukanlah siapa siapa lagi untuk Ninis. Mereka hanya berteman, tidak lebih dari itu.

Aku juga menghindari menjemput Ninis ke lapangan belakang SPENSA supaya tidak melihat Ninis sedang bersama Ghorby. Aku harus lebih pengertian lagi. Ninis kan anak baru dan Ghorby juga kan Pratama disitu, mereka harus jadi patner yang baik.

Yang jelas satu yang kutahu, cintaku hanya untuk Ninis seorang dan telah kupercayakan hatiku padanya.

"Oh.. Jadi Raffles baru ini udah bisa yel yel. Boleh aku denger?"
Ninis tertawa lagi. "Hiii no, Izar! Cuman alumnus sama Jaffles yang boleh denger. Itu semacam harga diri kami."
"Kayak lambang?"
"Kayak lambang."
"Kayak banjar tempur?"
"Kayak banjar tempur."
"Mars juga?"
"Yap."
"Sa..."
"Sanggar juga." Aku dan dia tertawa bersama.

"Ah jadi dare buat aku apa nih?"
"Apa ya Zar... Eum.. Aku bingung." Kata Ninis. Aku lalu memutar otakku dan menemukan sesuatu yang sudah lama tak aku lakukan untuk Ninis. Kuraih androidku lalu sibuk beberapa saat dengan pacar keduaku itu.

"Aku tau suaraku gak bagus. Tapi dengerin aja ya. Buat kamu." Kataku sambil menyodorkan androidku. Ninis memasang earphone putihku lalu mendengarkan dengan saksama. Aku tersenyum kecil sambil menunggu responnya.



Beberapa saat kemudian Ninis melepas earphonenya lalu menatapku dalam dalam.

"Terima kasih atas kepercayaanmu, Zar. I love you for a thousand more."

Aku tersenyum kecil lalu memeluk gadis kesayanganku itu. Nisrina Arij Fadhilla.


***

RIANTHY APRILLIA DEWI'S POV


"Jadi kamu tadi milih apa, Yog?" Tanyaku sambil meraih gelas lemon tea-ku. Yoga tersenyum kecil. "Truth, Nthy. As always." Aku tertawa. Yoga memang lebih suka memilih truth daripada dare saat kami bermain di tempat umum seperti ini. Dia tahu aku punya seribu satu cara menjahili orang dengan perintah tantanganku! Hahaha.

Aku tersenyum kecil sambil berfikir apa yang harus kutanyakan pada Yoga. Aku senang sekali akhir akhir ini Yoga kembali dekat denganku dan mulai jauh dari Valda. Tapi aku sendiri bingung karena Yoga lumayan dekat dengan Megan dan it's like everybody knew Megan is already fall in love with him for a thousand years. Ugh.

"Ranthy mau nanya apa sih.." Tanya Yoga dengan suara paraunya. Aku terkekeh.
"Kalo aku nanya.. Kamu marah gak?"
"It's a game right? Kamu nanya, aku juga bakal nanya balik. Fair."
"Yap, but I'm afraid you'll get angry."
"No, you're my best friend. I promise."

Oh.. Oke. Best friend, ya? Friendzone lagi nih...

"Let's make it easy. Pick one. Valda, Megan or me?" Tanyaku singkat. Yoga tersentak. Wajahnya memerah. Entah siapa yang akan ia pilih. Matanya berputar putar. 
"Nthy, promise me you won't do something careless to me yap."
Aku tertawa. "No! I just need the truth, Yog."

Yoga menelan ludahnya. "First. Megan is my friend. Best patner I've ever had. I mean, ya I know she's in love with me but I'm not, Nthy. I've never think someday I'll be 'more than this' with her." Jelas Yoga. Aku tersenyum kecil.

Okey.. Megan has already kicked.

"Then?"
"Eum.. Ranthy and Valda... I don't know. You both is the most important people for me."

Ash, I've guess it before.

"Aku cuman mau kamu pilih. Aku bukan jemuran, Yog. Aku capek digantungin gini." Cecarku sambil cemberut. Mata Yoga menatapku tak percaya. Oh come on Rianthy, apa yang telah kau lakukan?!
"Nthy, kamu suka sama Yoga?" Tanya Yoga hati hati.
"Menurut kamu, Yog?" Tanyaku sinis. Ah sudahlah, toh aku capek nunggu gini.

"Oh Nthy.. Sejak kapan?"
"First time I've realized that I'm in love with you."
"Because my stupid letter?" Tanya Yoga lagi. Aku mengangguk.
"Shit." Yoga mengumpat.
"Kenapa? Kenapa sih kamu gak bisa liat kalo aku lebih baik daripada Valda? I mean hello, Yoga. Aku sudah bersama kamu sekian lama. Masa kamu gak sadar tulusnya cinta aku ke kamu?" Tanyaku tak sabaran.

Yoga menarik nafas dalam dalam. "But I'm so sorry, Nthy. I can't."
Bibirku bergetar. Oh no.. Jangan jangan perhatian Yoga selama ini....
"Semua yang aku kasih ke kamu, janji aku sama kamu.. Itu sebatas sahabat. Aku gak bisa lebih sama kamu, Nthy."
"Tapi kenapa, Yog? Valda aja gak peka kan sama perasaan kamu!"
"That's why I'm still waiting for her."
"Kenapa sih kamu tuh... Jadi janji kamu palsu?"
"Bukan palsu hanya saja..."
"Kenapa gak nyoba dulu sih, Yog?!"
"Karena cinta bukan sesuatu yang patut dicoba lalu dibuang, Nthy."

Tiba-tiba lagu Payphone milik Maroon 5 terputar dikepalaku. Benar benar ceritaku dengan Yoga. All of my changes I've spent for you. Where are the plan we made for two?



Aku tersentak. Oh yeah, Nthy. You're too stupid.

"No, kamu gak bodoh mencintai aku. Hanya saja memang kita gak bisa lebih dari ini."
"Jadi.. Kamu milih Valda?"
"As you can guess, Nthy."
"Tapi kenapa?"
"Gak bisa di jelasin, Nthy. Itu cinta. Without any spesific reason."
"Jadi penungguanku...."
"I'm sorry, Nthy. Tapi aku yakin kamu bisa nemuin orang lain."
"Yog, please kamu sadar. Valda itu gak peka sama kamu!"
"I know."
"Dan kamu tetep nunggu dia tanpa alasan?"
"Cause all I know the reason is her, Nthy."

Aku terdiam. Astaga. Tolol. Kenapa aku bisa percaya pada janji bodoh itu?

"Jadi apa yang bakal kamu lakuin buat dapetin Valda?"
"Aku sendiri juga bingung, Nthy. Aku malah berharap.. Kamu bisa bantu aku."
"Bantu kamu? Dikeadaan aku yang sakit gini? Jangan bercanda!"
"But I think.. Kamu bisa."
"Ya walaupun cinta senang melihat orang yang kita sayangi bahagia, aku gak bisa munafik Yog. Aku juga sakit liat kamu sama orang lain."
"Tapi daripada kamu liat orang yang kamu sayangi gak bahagia sama sekali?"

Ah ya. Yoga benar. Aku harus melepaskannya. Kalau Yoga bahagia.. Akupun bahagia.

"Jadi, apa yang bisa aku bantu untukmu?" Tanyaku pelan. Yoga tersenyum lebar.

***
RAJAWALI'S SIDE: GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV


"Aaaah gak lucu lah, Ghor!" Seru Ridho saat kembali dari kantin sehabis menepati darenya. Ridho diminta untuk menembak salah satu anak kelas 7 yang benar benar menyukainya. Aku sendiri lupa siapa namanya.

"Yuk puter lagi!" Seru Fita saat Jaffles sudah kembali lengkap dan berkumpul di dalam sanggar. Akhirnya Jaffles 26 lengkap berdua puluh! Dari regu Rajawali sudah ada aku, Ghorby, Ridho, Esar, Aca, Naufal, Fauzan, Bhimo, Winu dan Haekal. Sementara di regu Rafflesia Arnoldi sudah ada Bella, Dini, Nadia, Yola, Kibo-chan, Fita, Ninis, Silvy, Mauren dan.... 

Dia. Gadis yang duduk tepat di berhadapan dengan orang yang sedang digosipkan dengannya. Aku mengerutu kesal. "Gue puter ya..." Kata Bella sambil memutar botol bekas Coca Cola yang menjadi alat truth or dare Jaffles 26 kali ini.

Dan botol itu berhenti tepat di gadis itu. Ugh. 

"Siapa yang kebagian nanya nih?" Tanya Bhimo sang Rajawali baru. Ia baru masuk 1 minggu yang lalu dan ini latihan perdananya lengkap bersama seluruh anggota Keluarga Besar Rajawali-Rafflesia 26. Yola langsung menunjuk Ridho.
"Tuh bagian Edward-nya Titi. Hahahaha."
"Ah, masih mainan Alice-Edward nih?" Tanya Fauzan sambil membenarkan kaca matanya. Ridho terkekeh. "Ya mau gimana lagi.. Walaupun agak gak sudi punya adik kayak gitu.."
"Ih, Edu ngeselin! Laut tuh luas!" Seru dia sambil melemparkan bungkus Taronya. Ridho tertawa. "Hahaha maaf."
"Tuhkan Ridh, Dora-nya Jaffles ngamuk!" Seru Naufal.
"Bahaya Ridh kalo udah ngamuk seantero SPENSA bisa rubuh!" Celetuk Esar.

Mereka semua tertawa bersama, kecuali aku. Aku hanya tersenyum kecil.

"Yuk. Jadi gue mau nanya nih sama... Winu."
Winu menaikkan alis tebalnya itu. "Lho kok Winu sih, Ridh?"
"Iya.. Habis pertanyaannya berhubungan sama kamu, Win." Kata Ridho sambil melirik jahil ke gadis itu. Gadis itu menggerutu. "Edu! Pulang gak selamat kamu!"
Dini tertawa terbahak. "Adik-kakaknya Jaffles emang parah ya, moodbooster akut."
"Hahaha iya Din berantem mulu!" Sambung Silvy.
"Udah udah hening! Buru nanya penasaran!" Seru Bhimo.

"Eum... Winu lagi deket sama Titi ya?" Tanya Ridho to the point. Semuanya kembali tertawa. Ajaib, aku ikut tertawa namun terdengar sekali tawaku benar benar dibuat buat.

"Lho, Gestu ketawanya kok gitu?" Tanya Aca heran.
"Elah, dia cemburu kali Ca! Hahaha." Celetuk Nadia. Ghorby tertawa puas mengiyakan.
"Ah sotil! Lucu aja." Kataku dengan wajah kesal.

"Udah udah, Winunya gak bisa jawab tuh..." Kata dia sambil menahan senyumnya.
"Eaaaaa Titi-Winu nih couple barunya Jaffles."
"Piwitlah ini sih tinggal nunggu tanggal jadian!" Seru Kibo-chan.
"Ah sssh, Win! Ayo jawab."

Winu yang sedari tadi cengengesan menatap gadis itu lalu mengangguk. "Iya, deket."

"Ciyeeeeeeee! Jadian! Susul Aca-Yola! Hahahaha."
"Asssh, diam diam! Deket gimana?" Tanya Mauren kepo.
"Maur kepo deh!" Seru Dini.
"Elah kan kepo sayang hahaha."

Winu menaikan alisnya lagi. "Ya.. Deket gitu ya, Ti."

"Ya gitu, udahlah Du yang ditanya kan aku!" Serunya. Aku menarik nafas satu dua. Apa apaan sih ini Jaffles. Yang disini panas kok yang dua itunya di....

"Gestu cemburu ya?!" Seru Naufal. Aku cepat menggeleng.
"Sotil wowowowo!"
"Ah... Udah udah. Bagian nanya ke Titi. Buruan durasi!" Seru Bella.

Ridho menghentikan tawanya.

"Eum.. Jadi ya Lis. Edu nanya nih.. Kamu lebih milih Winu atau.. Gestu?" Tanya Ridho. Seisi sanggar hening. Gadis itu menggigit bibirnya.

"Ti.. Winu apa Gestu?"
"Winu aja Ti.. Ganteng!" Seru Haekal. Winu meninju bahu Haekal.
"Aaaah diem, Kal." Kata Winu.
"Kalo gak Gestu aja Ti. Udah lama nunggunya kan? Hahaha." Goda Esar.
"Kok gue dibawa bawa sih?" Tanyaku akhirnya.
"Diem lo, Ges! Rusuh aja." Seru Fita.
"Elah Fit, tuh pada gitu bawa bawa gue..."
"Ya kan kita pengen tau Titi milihnya siapa."
"Haha iya, kan penasaran Ges."
"Eum.. Yang pasti aja siapa.." Kata dia akhirnya.

Jaffles terus ribut mempromosikan aku dan Winu. Aku geram sendiri. Apa apaan sih Jaffles?! Aku mendengus kesal. "Ya biarin aja dia yang milih sendiri. Gak usah nanya nanya gitu. Winu apa gue terserah dia!" Seruku kesal.

Seisi sanggar hening. Ia lalu menoleh dan menatapku.

"Emang kalo aku milih kamu, kamu bakal ke aku gitu? Gak kan?"

Semua mata menatapku, aku terdiam.

"Kalo kamu sekarang ke aku, kemarin kemarin kemana, Tu? Sekarang aja udah move on dicari. Dulu dianggurin. Kepastian aja gak pernah dikasih. Capek kali nunggu."

Skak mat. Aku tak bisa bicara apapun.

"Tuhkan kamu diem. Kamu emang gak peka." 

Jaffles menatapku dengan penuh pertanyaan dan aku tak bisa menjawabnya.

"Seenggaknya, walau aku sama Winu cuman temenan, dia bisa bikin aku senyum. Gak kayak kamu bikin aku nunggu dan terus sedih. Aku mending milih Winu deh." Katanya pelan.

"Eum.. Kan cinta gak perlu memiliki." Kataku akhirnya.

"Emang siapa yang selama ini minta ditembak. Aku? Enggak. Kamu aja gak tau kan kepastian apa yang aku butuhin. Kamu emang gak peka. Telat kamu kalo datengnya sekarang."

Aku bersumpah, kalau aku bisa aku ingin memutar waktu dan mempercepat sadarnya aku mencintai kamu. Tapi.....

Kenapa ketika aku sadar kamu malah sudah pergi?

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV

"Parah, ini parah.. Lo putus sama dia dan... Oh my god. Putus sepihak itu gak gantle sama sekali, Van." Kata Lega. Aku mengangguk pelan. Aku dan Lega mulai dekat beberapa hari terakhir. Aku ingin membantu Lega supaya bisa bersama Silvy. Daripada Silvy terus begini?

"Jadi kapan lo ngasih penjelasan?"
"Pas truth or dare gue bilang hari Minggu ini gue pengen ketemu dia, Leg."
"Please lo jelasin semuanya ke dia. Jangan ada yang digantungin."
"Iya, pastilah."
"Ah, gue gak bisa bayangin gimana perasaannya Silvy."
"Entahlah Leg. Gue tau gue tolol banget, tapi emang gue cuman bisa sayang sebagai sahabat sama dia. Dan kalo pada akhirnya elo bisa sama dia.. Gue titip dia ya, Leg?" Kataku sambil menatap Lega dalam dalam.

"Pasti bro. Gue sayang banget sama Silvy."
"Gue harap lo bisa bikin dia bahagia. Karena gue gak bisa. Walaupun sebenernya gue mau berusaha untuk bisa cuman.. Emang perasaan gak bisa dipaksa ya, Leg." Kataku lalu menarik nafas.

Ah, Silvy. Semoga kamu bahagia. Walaupun bukan denganku.

***

NUGROHO KURNIANTO'S POV

"Udah lama ya kita gak main truth or dare..." Kata Icoy dari sebrang. Aku tertawa kecil.
"Iya.. Aku kangen.. Kayak kangen sama kamu gitu, Coy."
"Hahaha bisa aja ya kamu gombalnya."
"Oh ya, kamu ikut study tour?"
"Ikut kok... CT juga aku ikut. Cuman gak ada kamu..." Suara Icoy menadadak sendu. Aku menghela nafas.

"Walaupun raga aku gak disana, tapi hati aku selalu sama kamu kok, Coy."
"Yakin? Hahahaha."
"Yakin lah..."
"Yakinin aku."
"Kamu minta aku buktiin?" Tanyaku heran. Ia tertawa.
"Hahaha iya."
"Matiin dulu telponnya. Lanjut BBM ya. I love you."
"Ah, love you too."

Aku langsung membuka music list-ku dan mengirimkan lagu ke BBM Icoy. Aku tersenyum kecil menuliskan beberapa kata untuknya. Semoga kamu suka, Coy. 




Mungkin jarak emang jauh, Coy. Tapi aku akan selalu berusaha supaya kamu  bisa ngerasain cinta aku. Karena cinta aku gak bakal pernah habis termakan jarak dan waktu. Aku sayang kamu, Icoy.


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}