The Reason is You chapter 22: Friendship Rule

Karena sahabat itu sebenarnya satu bahkan ketika kita punya teman baru atau ditinggal oleh teman yang lain. Sahabat akan selalu kokoh menjaga dan membimbing bukannya meninggalkan. Dan kamu gak pantes nyebut diri kamu sebagai sahabat kalau mempergunakan sahabat kamu dengan mengatakan dia pengkhianat untuk menutupi kebohonganmu sendiri. Jadi munafik bukanlah hal yang baik. Just remember it.

***





TIARA ANNISA ADHI MAULIDANTI'S POV


"Yar, ngapalin UUD udah semua belum? Galau mulu!" Kata Adel sambil bolak balik di hadapanku. Aku menggeleng. "Gak, males." Jawabku suntuk sambil memainkan iTouch-ku. Nabil tiba tiba datang dan duduk di sampingku.

"Males aja. Yara yang semangat kemana? Ketelen bumi? Kangen gue." Kata Nabil.
Aku tertawa kecil. "Masih ada kok. Cuman emang lagi gak niat."
"Gak niat atau gak ada penyemangat lagi?" Tanya seorang cewek yang disambung oleh tawa kecil dari Adel. Aku mendongak dan menemukan.. Ugh.

Si perusak. Nabila Tazkia. Ewh.

"Ngomong sama gue?" Tanyaku sinis. Ia menatapku tak percaya dan aku kembali bermain dengan iTouch-ku.

Semenjak hari puncak dimana aku dan Shelly bertengkar, aku benar benar berubah menjadi seorang Tiara Annisa yang berbeda. Lebih pendiam, tidak banyak omong dan jauh lebih tertutup. Hari hari aku lewati di kelas dan sibuk dengan iTouch, tugas dan mengobrol dengan Pandu via Whatsapp.

Pandu sendiri sebenarnya tidak suka aku dan Shelly bertengkar seperti ini. Tapi dia untungnya bukanlah tipikal pacar yang selalu ikut campur masalah pacarnya dan aku menyukai caranya menasehatiku, bukan ikut ikutan maju dan memperkeruh suasana. Pandu percaya aku dan Shelly sama sama sudah cukup 'dewasa' untuk menangani masalah ini.


Sebenarnya aku bisa saja memaafkan Shelly, tapi ini masalah hati.


Aku juga tidak seharusnya bersikap seperti ini, tapi aku sudah lelah. Aku capek. Shelly selalu marah jika aku punya teman baru. Sementara ketika dia punya teman baru? Hah. Sudahlah.


Aku bukanlah tipikal orang yang mudah melupakan masalah dengan mudah. Aku benar benar butuh waktu yang lama, apalagi untuk melupakan rasa sakit yang ditimbulkan oleh sahabatku sendiri.

Aku teringat dulu saat aku sempat bertengkar dengan Detty, temanku yang kini berbeda kelas denganku. Aku sempat naksir mantannya Detty, namanya Dwiko. Saat itu kami bertengkar hebat karena aku berpacaran dengan Dwiko dan Detty tidak terima. Padahal Detty sudah berpacaran dengan Albi.


Yang lebih parahnya lagi, dibelakang Detty bilang pada orang orang aku mengkhianatinya. Padahal aku sama sekali tidak pernah berjanji untuk tidak pernah suka dan berpacaran dengan Dwiko! Lalu saat Albi marah besar mengetahui Detty menangis karena tahu aku berpacaran dengan Dwiko, Detty bilang pada orang orang bahwa Dwiko yang menyebabkan dia dengan Albi hampir putus!


Detty memakai namaku untuk membohongi orang orang juga Albi tentang perasaannya yang masih tersimpan untuk Dwiko. Ini antara Yara nya yang bego sama Detty nya yang gak bisa membohongi orang lain itu beda tipis ya... Tapi pada akhirnya kami bertengkar hampir satu bulan lalu berbaikan lagi setelah Detty datang padaku baik baik.


Aku dan Shelly sudah seperti ini hampir 3 minggu dan...


Aku ingin semuanya cepat selesai, tapi bukan aku yang memulai.


Lamunanku buyar ketika cewek perusak persahabatan orang itu menatapku dalam dalam lalu menyodorkan iPhone-nya.


"Mau pamer pake iPhone setelah ngerebut sahabat orang?" Tanyaku sinis. Nabil dan Adel menatapku tak percaya lalu keduanya meninggalkanku dan Nabila. Nabila menarik nafas dalam dalam.

"Dengerin ini." Katanya pelan. Dengan setengah hati aku meraih earphone putih itu dan memasangkannya. Beberapa detik kemudian aku mendengar suaraku sendiri terputar disana. Tetapi dengan lagu yang tak asing bagiku. Lagu favoriteku dan dia...

Best Years of Our Lives. Avril Lavgine.




Air mataku menetes tepat ketika rekaman suaraku telah berhenti.


"Kamu inget ini apa?" Tanya Nabila membuka percakapan.

Aku mengangguk.
"Sebelumnya maafin aku udah ngerusak persahabatan kalian. Aku gak pernah mikir buat bikin kalian renggang...."
Aku bangkit dari tempat dudukku lalu menatapnya dalam dalam.

"Cuman maaf gak bisa nyembuhin sakit hati aku, Nab." Kataku tegas.

"Yar.. Ini tuh.. Cuman masalah kamu mau maafin Shelly atau enggak..."
"Ya gimana aku mau maafin kalo Shelly sendiri gak dateng ke aku?"
"Dia takut salah ngomong dan memperkeruh suasana."
"Emang kamu dateng kesini gak memperkeruh suasana? Aku udah nahan diri buat gak meledak lagi dan sekarang kamu mancing aku. Lebih baik kamu pergi sana, gak usah campurin lagi hubungan aku sama Shelly."

"Aku tau kamu mau kalian kayak dulu lagi! Inget janji kalian, Yar!" Seru Nabila. Aku teringat janjiku dengan Shelly tapi..... Kurasa ini yang terbaik untuk kami sekarang.

"Mending kamu pergi aja ke tempat duduk kamu. Anggap aku gak ada. Aku gak mau liat kamu, Nab."
"Tapi..."
"Kamu sadar gak sih yang bikin aku sama Shelly jadi kayak gini tuh kamu? Iya kamu! Kamu perusak persahabatan orang!"

Mata Nabila berkaca kaca. Maaf Nab, tapi aku terlanjur sakit. Siapa yang tidak sakit diperlakukan seperti sesuatu yang kasat mata oleh sahabatnya sendiri?


***

VALDA NURUL IZAH'S POV

Aku baru kembali dari kantin dengan Adel ketika aku melihat teman teman dekatku sedang duduk duduk di depan  kelas dengan hebohnya. Ada juga anak kelas 9F yang ikut nimbrung dengan golongan kelas kami. 

"Ada apaan sih, Val?" Tanya Adel.
"Gak tau, Del. Gue kepo nih." Kataku penasaran.

Kami berjalan mendekati mereka. Kerubungan massa yang bertubuh tinggi dan lebar itu membuatku tak bisa melihat siapa yang duduk di tengah tengah mereka semua. Aku menyikut Audit yang berdiri di sampingku.

"Eh eh ada apaan? Kepoooo!" Seruku. Audit menoleh sinis.
"Kemana aja lo? Gossip nih hot!"
"Emang ada apaan sih, Dit?" Tanya Adel ikutan penasaran.
"Ih! Valda udah dateng? Aaaah Val ini gossip hot!" Seru Ifa entah darimana. Aku mencari cari  sosok Ifa sampai beberapa saat kemudian ia keluar dari kerubungan itu.

"Gila! It's happen!" Seru Ifa.
"Eh apaan sih?" Tanyaku heran. Lisa lalu ikut keluar dari kerumunan tersebut.
"Valda ya ampun lo kemana aja...."
"Habis ke kantin. Ada apaan sih? Suka pada sok misterius gitu deh."

Ifa dan Lisa saling bertatapan. "Gimana nih? Tadi aja Megan udah nangis..."
Jantungku berdegup lencang. Megan nangis? Ada apa sih sebenernya!

"Apaan sih Fa?!"
"Duh. Lo gak bakal nyangka Val. But it's already happen. Yoga-Rianthy being a couple." Kata Ifa dengan tatapannya yang misterius.

Aku terdiam. Tak bisa bergerak dan tak bisa bernafas. Pandanganku buyar seketika. Suara suara ribut masih terdengar di telingaku. Tiba tiba kulihat wajah dia terlihat sekilas lalu menghilang seiring dengan bayangan hitam yang menutupi mataku.

Hal terakhir yang kuingat adalah mendengar orang yang kusayangi sudah menjadi pacar orang lain. Setelah itu yang kuingat hanyalah kegelapan dan sakit yang entah karena apa, tapi aku tak bisa menghentikannya.

Aku tidak rela, Yoga.

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Hari ini adalah hari sialku. Super dobel moodbreaker.

First. Yoga akhirnya punya pacar setelah sekian lama dekat denganku. Lagi lagi aku salah menilai kedekatan seseorang denganku. Aku sudah sering BBM-an dengan Yoga, curhat sana sini, skype tapi ternyata...

Friendzone. Sial.

Aku hanya bisa menangis kesal ketika mengetahui Yoga sudah jadian dengan Rianthy. Tapi pada akhirnya aku berfikir, sudahlah ya.. Toh juga aku harus melupakannya dan mendukungnya dengan Rianthy. Karena cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia. Betul kan?

Valda jauh lebih parah daripada aku. Ia jatuh pingsan setelah Ifa dan Lisa memberitahunya tentang ini. Aku sudah siap dengan segala resiko yang ada tentang aku dan Yoga, tapi Valda? Aku tahu, diantara aku, Rianthy dan Valda.... Valda lah yang paling mempunyai banyak kesempatan.

Sayangnya dia menyianyiakannya. Sudahlah biarkan saja.

Second. Aku tadi bertemu dengan Alvan dan Livia. Aku senyum pada mereka namun hanya Livia yang merepson. Itupun hanya mengangguk. Aku bertemu dengan Vicky pun seperti kasat mata, tak terlihat.

Third. Saat aku pulang, aku menemukan frame foto aku-Alvan-Vicky-Livia sudah jatuh berantakan terkena Pocky, anjing baruku. 

Semuanya benar benar menjadi moodbreaker! Aku ingin cepat cepat besok supaya bisa ke Gereja dan berdoa pada Tuhan agar menghapus semua kesialanku, membuatku cepat move on dan yang paling penting, doaku setiap minggu saat aku ikut misa ke Gereja cepat terkabul....

Aku benar benar ingin kembali berbaikan dan bersahabat dengan Alvan-Vicky-Livia.

***

DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV

Kelas 9F sedang ramai ramainya ketika para cewek cewekku (Risma, Febby, Ara, Dhira, Fonny, Zalfa dkk) berkumpul bersama di depan kelas. Namun hari ini tidak ada Ninis dan Mauren karena mereka sedang latihan Pramuka. Topik pembicaraan kami kali ini adalah tentang rubrik persahabatan yang dibaca oleh Zalfa beberapa hari yang lalu.

Bicara tentang persahabatan, aku semakin senang dengan kelas ini. Mereka semua baik dan menerimaku apa adanya. Alasanku semakin kuat lagi ketika aku mulai menyukai Haekal. Aku dan Haekal semakin dekat. Tapi Ridho juga makin dekat.

Sejujurnya aku lebih menyukai Haekal daripada Ridho. Hanya saja aku juga merasa nyaman dengan Ridho dan ia lebih berani mendekatiku daripada Haekal. Kudengar Ridho akan menembakku saat CT, jadi sekarang aku memberikan kesempatan pada mereka berdua untuk menunjukan padaku rasa sayang mereka padaku.

Tapi aku merasa agak kurang nyaman akhir akhir ini dengan teman teman kelasku terutama Risma dan Ninis. Seperti yang semua orang tahu, Ninis adalah mantan pacar Ghorby. Mereka sudah berpacaran sangat lama dan sekarang Ghorby berpacaran dengan Risma. 

Dan seperti cerita pada umumnya, melupakan mantan tak semudah membalikan telapak tangan.

Ghorby dan Ninis memang sempat jauh namun dekat lagi karena Ninis akhirnya memutuskan masuk Pramuka. Aku tahu Risma mulai kesal pada Ninis semenjak Ninis resmi menjadi anggota regu Rafflesia dan menjadi punya banyak kesempatan untuk terus bersama Ghorby.

Namun kurasa cemburu yang Risma lakukan sudah sangat keterlaluan mengingat Risma sudah 3 hari ini tak mau bicara dengan Ghorby karena melihat pacarnya sedang berlatih PBB dengan mantannya. Padahal yang Ghorby latih bukan hanya Ninis tapi ada Titi, Silvy, Bhimo, Winu dan.. Haekal.

Iya, Haekal masuk Pramuka. Dan iya. Ridho juga anggota Pramuka.

Dan iya. Ini parah. Aku bingung harus memilih siapa.

Orang yang mencintaiku dan berani maju lebih dahulu atau orang yang sudah lama aku sukai dan ia juga menyukaiku namun terlalu lambat dan terkesan mengulur ulur waktu?

Sial. Cinta memang asurd, penuh teka teki dan ketidakpastian.


***

ALDA ZERLINA AMELIA'S POV


Aku tengah sibuk dengan gitarku ketika Ridho menghampiriku dan duduk tepat di depanku. Absurd, kacau. Jantungku berdegup kencang. Perasaanku tak karuan. Ah ya.. Sudah lama sekali aku tidak ngobrol dengannya.

"Alda makin pinter ya main gitarnya." Katanya membuka percakapan.
Aku menatapnya lalu tersenyum kecil. "Dengan kata lain Idho bilang Alda kece dan terima kasih sudah jujur." Kataku yang lalu di sambung oleh tawanya.
"Kamu main lagu apa?" Tanya Ridho dengan wajah penasaran.
"Ridho kepo ya." Jawabku jahil. Ia menatapku dengan wajah 'pura pura kesal'nya. Aku menelan ludah.
"Begin Again. Taylor Swift. Rencananya mau duet sama Titi anak 9A buat Study Tour." Jelasku. Ridho mengangguk angguk. "Pasti bagus. Alda kan bagus main gitarnya."
"Makasih, Dho. Alda tau kok."

Kami berdua tertawa canggung lalu suasana kembali hening. Koridor kelas 9 benar benar sepi pagi ini. Aku memutuskan kembali memainkan gitarku supaya tak terlalu awkward. Sungguh jantungku  berdegup kencang.

"Alda apa kabar?" Tanya Ridho.
"Baik. Selalu baik. Kenapa Idho nanya sih?"
"Enggak. Udah lama aja kan kita nggak ngobrol."
"Hahaha iya ya, Ridho kan sekarang sibuk sama Bani. Jadi Ridho gak punya waktu buat ngobrol sama Alda lagi..." Cecarku dengan nada sinis. Ups, apa  yang kubicarakan? Ah sudahlah. Semoga Ridho mengerti apa yang kubicarakan barusan.

Kudengar Ridho menarik nafas satu dua lalu bangkit dari duduknya. Aku menahan diri supaya tidak bangun dan menahan kepergiannya. Sial, Fadhel benar. Aku masih saja jaim.

"Kenapa nyariin Ridho? Alda kan gak pernah perduli sama Ridho. Sekarang Ridho udah ke Bani aja dicari. Kemarin kemarin kemana?" Tanya Ridho sambil menatapku dalam dalam. Ia menghela nafas lalu berjalan meninggalkanku.

Tanganku kram, lidahku kelu. Aku tak bisa bicara apapun. 

Langkah Ridho menuju kelas begitu pelan dan terkesan lesu. Aku menghela nafas panjang. Andai kamu tau Dho, aku nyesel dulu kabur kaburan dari kamu dan selalu mikirin Sulthan yang gak pernah mikirin aku. 

Aku nyesel sia-siain orang yang sayang sama aku. Aku nyesel gak percaya sama Alim kalo kamu bener bener sayang sama aku. Aku bener bener pengen kamu balik Dho.

Tapi sayangnya, aku terlambat. Tempat aku udah kamu kasih ke Bani.

I miss you already, Rasyid Ridho.

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

"Ma, lagi dengerin lagu apa sih?" Tanya Dhira sambil asyik memainkan MacBook Pro-nya yang baru ia beli 2 minggu lalu. "Voice note-nya Mauren. Galau nih." Kataku tanpa menoleh ke arahnya.

"Ah elu mah galau aja. Punya gak punya pacar sama aja." Cibir Dhira. 
"Apa sih Dhir.. Daripada elo gak punya pacar. Forever alone!" Kataku mengejeknya balik.
"Issssh, tau ah." Sahut Dhira bete. Aku tertawa kecil.

Mauren mengirimkan voice note ini saat aku bercerita padanya tentang kejadian aku melihat Ghorby melatih Ninis PBB dan sempat memergokinya sedang duduk berduaan dengan Ninis.

Aku rasa, Ghorby memang masih menyimpan perasaan untuk Ninis.

Berkali kali kuputar lagu ini dan aku merasa... Benar benar rapuh. Aku kira aku dan Ghorby akan terus bahagia. Namun aku salah. Aku kira Ghorby tak akan membuatku kecewa. Namun yang ada ia malah terus membuatku tersiksa.

Ghorby mungkin memang menyayangiku namun bagaimana aku bisa percaya padanya jika dia terus berlaku istimewa pada mantannya sendiri di hadapanku? Aku seperti tak berarti untuk Ghorby jika sudah dibandingkan dengan Ninis.


Aku seperti butiran debu.

"Ma, masih berantem sama Ghorby-Ninis?" Tanya Dhira membuka percakapan lagi. Ugh, Dhira mengingatkanku lagi. Setelah hari puncak dimana aku merasa cemburu pada mereka berdua, aku tak lagi mau bicara dengan Ninis. Padahal aku tahu Ninis sudah bersama Izar sekarang. Namun aku benar benar cemburu...

Seperti ada sesuatu yang Ninis punya sementara aku tidak punya dan itu sangat berarti untuk Ghorby. Aku tertunduk lemas.

"Kata lo, gue cemburunya berlebihan gak sih, Dhir?"
"Eum.. Sorry Ris, tapi iya."
Ugh. Seperti ada hantaman dari batu besar.
"Sahabat itu harusnya saling percaya, bukannya saling curiga. Lo juga harusnya percaya sama Ghorby, bukannya nuduh dia kayak gini. Kalopun mereka berdua masih ada rasa satu sama lain, keadaan udah lain sekarang. Ghorby udah sama elo dan Ninis udah sama Izar."

"Tapi kan ada kemungkinan Ghorby ninggalin gue demi Ninis, Dhir..."
"Kalopun itu yang terjadi, liat situasinya. Kalo emang Ghorby lebih sayang sama Ninis dan Ninis bisa bahagiain dia, kenapa enggak? Maksud gue.. Apa elo gak bahagia liat orang yang lo sayangin bahagia? Apa elo lebih milih tetep pacaran sama dia walau dia perasaannya sama Ninis?"

Aku terisak lalu mengangguk. "Kalo itu cuman satu satunya cara biar gue gak pisah sama Ghorby, I'll do it. Gue sayang banget sama Ghorby, Dhir."
"Gak bisa gitu Ris. It's not fair. Lo egois namanya."
"Bukannya cinta itu egois?"
"Dalam beberapa hal iya, tapi kalo lo maksain gitu kasian elo dan kasian juga Ghorbynya."

"Ya kalo gitu kenapa Ghorby jadian sama gue kalo sayangnya sama Ninis?"
"Ya lo jadi pelarian dia kali." Jawab Dhira ketus.
"Anjir, sial lo moodbreaker parah."
"Hehehe maaf bercanda. Kalo menurut gue, Ghorby tuh sayang sama elo cuman dia masih kebayang bayang masa lalunya. Emang elo gak kebayang bayang sama Fauzan gitu?"

Ups. Skak mat. Aku tak bisa menjawabnya.

"Tuhkan, udah gue duga lo pasti masih kebayang Fauzan."
"Ya wajar kali kan..."
"Nah tuh lo ngerti, kebayang mantan itu wajar asal gak berlebihan."
"Ya tapi gak usah sampe deket deket gitu juga kali.."
"Ris, liat sikon dong. Ninis deket sama Ghorby kan gara gara Ninis sekarang anak Pramuka baru dan Ghorby Pratamanya. Lagian Ghorby juga gak cuman deket sama Ninis. Dia deket sama semua anak Pramuka. Dia deket banget sama Dini dan Titi. Masa lo cemburunya sama Ninis doang?"

Aku terdiam lagi. Dhira benar....

"Ris, pacaran tuh butuh kedewasaan, percaya, komunikasi dan komitmen. Kalo lo pacaran dan terus mikirin ego perasaan lo sendiri, ya bubar jalan. Jangan gini Ris. Ini sama aja lo bikin diri lo dan juga Ghorby sengsara."
"Ya terus gimana caranya biar gue gak cemburuan lagi, Dhir?"

"Satu satunya cara ya berusaha mengerti dan mempercayai Ghorby, Ris. Jangan egois dan jangan jauhin Ninis. Masa elo mau kehilangan satu sahabat gara gara cemburuan gini? Kalo lo cemburuan terus ntar Ghorby risih lho... Bisa bisa bukan Ninis yang jauh dari elo, Ghorby juga bisa jauh. Lo gak mau kan?"

Aku terdiam lalu menggeleng. "Gak, Dhir. Gue sayang banget sama Ghorby."

***

RAFFLESIA'S SIDE: APRILLIA DINI'S POV


Setelah suasana agak memanas karena pertengkaran kecil antara Gestu dan Titi akhirnya semua terkendali setelah Winu angkat bicara. 

"Sssh udahlah, masa lalu biarin masa lalu. Sekarang kan punya masa depan, jalanin aja. Kalo jodoh ya Titi sama Gestu jadi, kalo enggak yaudah. Kalian pasti bakal nemuin yang lebih baik kok. Inget sama Ujian Nasional depan mata!"

Kurasa sebenarnya kedekatan antara Winu dan Titi bukanlah masalah cinta, namun karena persahabatan. Tatapan mata Titi ke Winu dan ke Gestu itu berbeda sekali. Lagi pula Winu sepertinya bukanlah tipikal cowok yang memikirkan masalah cinta di tengah tengah persiapan menuju Ujian Nasional.

Botol terus diputar. Pertanyaan dan tantangan konyol terus keluar dari mulut anggota Jaffles 26. Aku sangat menyukai saat saat seperti ini, berkumpul lengkap dengan mereka semua. Walaupun ada beberapa anak baru, mereka bisa langsung berbaur dengan kami.

Kali ini botol berhenti tepat di depan Ninis dan giliran Ghorby yang bertanya.

"Truth or dare, Nis?" Tanya Ghorby canggung. Susasana sanggar hening. Walaupun kami semua termasuk anak anak rusuh, tapi kami tahu situasi. Dan kami tahu, antara Ninis dan Ghorby masih ada sesuatu yang tersembunyi meskipun mereka sudah tak bersama.
"Truth, Ghor."
"Kenapa kamu mau masuk Pramuka?"
Ninis menggigit bibir bawahnya. "A... Aku suka Pramuka."
"Oh, oke lanjut."

Nadia melempar Ghorby dengan kotak makan milik Gestu. "Apaan sih Ghor gak seru banget! Nis mau nanya!" Seru Nadia. Rajawali tertawa puas melihat sang pinru sekaligus Pratama mereka di lempar oleh 'pasangan' nya sendiri.
"Hahaha apa, Nad?"
"Masih sayang sama Ghorby gak?" Tanya Nadia.

Ups, apa yang Nadia lakukan?!

"Apaan sih Nad, kepo banget." Kata Ghorby. Nadia meliriknya sinis.
"Eum.. Sayang sebagai sahabat sih iya." Jawab Ninis akhirnya. Raut wajah Ghorby berubah. 
"Eum.. Ah udah yuk lanjut puter!" Seru Kibo sambil memutar botolnya dan beberapa detik kemudian botol itu berhenti di tengah tengah Esar dan Bhimo.

"Ah di tengah ya? Yaudah berarti Esar sama Bhimo!" Seru Silvy.
"Aiiih, siapa yang kebagian nanya?" Tanya Bella. Naufal menunjuk ke arahku.
"Dini ayo Din!" Seru Ridho jahil.
"Oke, truth or dare guys?" Tanyaku sok asyik. Mereka berdua berpandangan.
"Truth." Jawab mereka yakin.
"Aaaah asik! Pernah  atau lagi suka sama salah satu Rafflesia gak?" Tanyaku jahil. Sanggar pun kembali ricuh. Setahuku Esar pernah naksir dengan Kibo dan merupakan mantan pacarnya Yola. Sementara Bhimo.. Ah aku tak tahu. Barangkali dia menjawab namaku? Hahahaha.

Wajah Esar berubah pucat. "Duh apaan nih gak asyik lah."
"Ih! Esar juga tadi nanya ke Fita pernah suka sama siapa diantara Rajawali!" Seru Fita kesal. Fita pernah berpacaran dengan Naufal beberapa minggu ketika kelas 8.
"Ya kan itu beda...."

Rajawali-Rafflesia sedang ricuh ketika aku menyadari Bhimo tersenyum sendiri. Entah apa yang akan dikatakannya tapi kulihat ia saling bertatapan dengan Mauren. Jangan jangan....

For your information, Mauren adalah mantan Bhimo semasa kelas 7. Sekian dan terima kasih. Aku hanya berharap Bhimo menjawab namaku atau bilang tidak menyukai siapapun daripada menjawab nama Mauren....

"Yaudah, jawabnya bareng bareng!" Seru Gestu.
"Ayo Bhim gantle! Hahaha." Kata Mauren. 
"Ah, yaudahlah Sar. Kejebak. Hahahaha."
"Pffft, oke jadi pernah atau lagi?" Tanyaku penasaran. Hatiku dagdigdug. Bhimo dan Esar sama sama menatapku. "Lagi suka." Jawab mereka bersamaan.

"CIYEEEEE!" Serentak anak anak Rajawali-Rafflesia ribut seketika. Aku hanya bisa tertawa.
"Sebentar lagi ada yang nyusul Yola-Aca! HAHAHAHA." Kata Kibo dengan penuh semangat.
"Eits hening Jaffles!!" Seru Ridho.
"Oke, jadi siapa? Sebut nama bareng bareng aja!" Seru Fauzan. Bhimo dan Esar saling bertatapan. 
"Jangan diketawain ya." Kata Esar.
"Dan jangan disebar juga." Kata Bhimo.
"IYA!" Seru kami berdelapan belas.
"Yaudah Bhim sebutinnya ciri ciri aja. Biar nebak."
"Oke Sar. Hahaha jangan jangan kita suka sama orang yang sama."
"Aiiih. Gak taulah."
"Ayo cepetaaan!" Seru Haekal tak sabaran.

Mereka bertatapan lagi dan menatapku. Heart beats fast....

"Rafflesia 01."
"Pioneering."
"Penjuru."
"Donatur tetap Jawali."
"Aprillia Dini."

Seisi sanggar langsung ribut sementara kulihat Bhimo dan Esar saling berpandangan tak percaya. Sementara aku yang duduk di depan Bhimo dan Esar tak bisa berkata apa apa. Ini seperti mimpi.

Di satu sisi orang yang aku sukai juga menyukaiku. Tapi disisi lain, sahabatku, orang yang selalu dekat denganku, orang yang disukai oleh sahabat perempuanku, ternyata malah menyukai aku?!

Ini seperti sinetron, FTV atau novel picisan yang aku baca. Ini tidak mungkin nyata. Masa iya.. Astaga.. Complicated!

Truth or dare? I rather to pick a dare. I'm ready to die now. Kill me, please?



ANNOUNCEMENT. The Reason is You fix gak bakal cuman sampe 27 chapter. Terus baca TRIY dan ikutan project #SeventyTwoKAlicers yaaa! A week left:p To be continued...


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}