The Reason is You chapter 23: Heartbreak

No owner means no heartbreak? No. It's not true.
I can feel the heartbreak even no one owned my heart.
Because there's a heartbreak when we met in the silence.

***


MUHAMMAD GHORBY'S POV

Satu hal yang aku tahu, Izar kini menjauhiku dan hal pertama yang terlintas di kepalaku saat menyadari kerenggangan diantara kami adalah..

Nisrina Arij Fadhilla.

Jujur aku sangat senang ketika Bella menyeret Ninis masuk ke Pramuka. Aku tahu dia menyukai Pramuka tetapi tidak mau berada di eskul yang sama sepertiku. Dia tahu aku adalah tipikal orang yang ramah kepada semua cewek dan dia gadis yang cukup pencemburu, mirip seperti Risma.

Risma, iya pacarku yang sekarang pencemburu. Namun cemburunya terasa agak berlebihan belakangan ini. Dia sering ngambek dan marah marah via twitter ketika melihatku bersama Ninis sedang ngobrol. Padahal aku hanya membantu Ninis supaya dia lebih mengerti tentang Pramuka. Dia kan regu Rafflesia  dan sebentar lagi CT. Kami akan menyalakan obor berdua puluh dan ia harus segera mengerti dasar dasar Pramuka.

Aku tidak bisa munafik bahwa aku masih ada sedikit perasaan pada Ninis. Secara rasional, perasaan itu wajar bukan asal tidak berlebihan?

Tapi Risma tidak mau mengerti itu.

Padahal aku tahu Risma kini dekat lagi dengan Winu, mantan terlamanya ketika kelas 7. Aku juga peka terhadap perasaannya yang masih tersimpan untuk Fauzan. Aku mengerti dan aku tidak keberatan asal Risma tau batasan batasannya.

Aku tidak marah tau Risma sering pulang bersama Winu jika aku tidak bisa mengantarnya pulang. Aku juga tidak marah Risma masih suka salah memanggilku. Iya, Risma sering memanggilku "Zan" secara tidak sadar.

Jika aku tidak sabaran, aku bisa saja cemburuan bukan main seperti apa yang Risma lakukan. Tapi aku menyayanginya. 

Aku mengerti ketika pada suatu hubungan ada hal hal seperti ini yang berhubungan dengan masa lalu, salah satunya harus menjadi pengalah dan membawa yang lainnya kembali ke jalan yang benar. Kalau aku mengikuti nafsuku untuk cemburu juga pada Risma, kami sudah putus dari dulu.

Tapi aku bertahan dan berharap Risma mengerti dan percaya bahwa walaupun aku masih menyimpan sedikit perasaanku pada Ninis, hatiku sudah kuberikan padanya. Tapi dia tidak perduli. Dia tidak mau tahu. Dia hanya mengikuti nafsunya untuk terus cemburu padaku.

Padahal aku selalu mengerti dan mengalah dari dia.

Aku tahu, melupakan seseorang itu bukan hal yang mudah. Dan selalu ada perasaan patah hati ketika melupakan seseorang bahkan ketika kita sudah punya penggantinya. Aku tahu dan aku sudah berusaha melupakan Ninis.

Tapi Risma tidak pernah percaya.

Risma selalu berfikiran bahwa aku bohong. Bahwa aku masih mencintai Ninis dan menjadikannya pelarian. Aku sudah tidak tahan berpacaran dengan keadaan seperti ini.

Lama lama aku bingung sendiri, apa sih sebenarnya tujuanku pacaran dengan Risma jika dipikir pikir dalam 1 minggu diisi oleh 4 hari bertengkar hebat dan 3 hari baikan?

Risma seolah olah berkata bahwa aku mengkhianati dia. Dia selalu memintaku lebih. Dia selalu ingin aku langsung melupakan Ninis. Padahal dia sendiri tidak sadar kalau melupakan orang yang dia cintai tak semudah membalikkan telapak tangan.

Aku tidak mengerti, sebenarnya siapa yang mengkhianati siapa?

Aku mencoba, dalam proses, namun pacarku tak percaya. Sementara Risma? Dia tak mencoba, dia juga tak berusaha, tapi aku selalu menunggu dan berharap semoga perasaan pada mantannya itu cepat pudar.

Walau aku tahu, pada dasarnya tidak ada orang yang bisa melupakan mantan. Walaupun kau tahu keburukan dia, walaupun kau sudah dapat yang lebih baik, hatimu tetap bergetar ketika bertemu dengannya. Betul?

Jika begini terus, aku ingin kami berdua pisah saja. Lebih baik begitu. Lebih baik aku benar benar menunggu Ninis daripada orang yang aku sayangi tidak percaya aku sedang berusaha untuk melupakan masa laluku supaya dia menempati hatiku seutuhnya.

Karena jika kita berpacaran dan selalu diisi oleh sakit hati, lebih baik berhenti daripada diteruskan tanpa alasan yang jelas.

***

ISAKA YOGA SANTOSO'S POV

"Jadi, kamu pacaran sama cewek itu?" Tanya Valda sinis. Aku berhenti menulis lalu terseyum kecil. "As you know." Ujarku ringan. 
Dia menoleh padaku. "Sejak kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Kenapa dia?" Tanya Valda. Suaranya bergetar.
"Memangnya kenapa?" Tanyaku heran. 
"Ya kenapa harus Rianthy sih, Yog?" Tanya Valda kesal. Ia membenarkan posisi duduknya. Aku tertawa kecil.

"Ya karena aku menyayanginya."
"Sungguh sungguh?"
Aku menoleh dan menatap matanya. "Menurutmu kalo ada yang pacaran itu mereka saling sayang atau enggak, Val?"
Valda menelan ludah. "Ya.. Bisa saja kamu terpaksa."
"Kenapa harus terpaksa? Toh aku sudah lama menyukainya." Kataku.

Valda menatapku dalam dalam. "Sudah lama? Selama apa?"
"As long as... She love me." Ujarku. Hampir saja aku bilang 'you' bukan 'she'. Bisa bisa Valda curiga. Valda mengerucutkan bibirnya.

"Kamu kenapa cemberut?" Tanyaku heran.
"Aku cuman kaget, sekaligus tidak percaya."
"Kenapa gitu?"
"Ya.. Kenapa kamu tiba tiba jadian sama Rianthy? I mean, masih banyak kan cewek cewek yang deket sama kamu. Kayak Megan, terus...."

Yeah! Valda masuk dalam jebakanku. "Kamu gitu?" Tanyaku.
Ia tersentak. "Ya.. Ya bukan aku juga!"
"Hmm.. Sebenernya sih tanpa aku jelasin alasannya kamu harusnya ngerti, Val."
Ia menatapku heran. "Huh?"
"Lebih baik aku memilih orang yang menyayangiku tulus daripada aku harus menunggu kepastian dari orang yang kusayangi. Daripada aku terus berusaha tetapi dia tidak pernah melihat ke arahku. Itu semua sia sia, bukan?" Ujarku.

Valda terdiam tapi aku berani bersumpah, ketika aku menatap matanya yang kulihat adalah kaca kaca bening yang terbentuk dari air matanya. Valda, I know you love me too. Kenapa dulu harus kabur kabur, sih? Kalo kamu jujur kan, kamu gak bakal ngerasain kayak gini dulu.

But I think you need to deserve this heartbreak, Valda. 

Supaya kamu bisa lebih jujur tentang perasaanmu, supaya kamu tidak lagi lari dari takdirmu untuk mencintai aku.

***

SILVY SANTIKA'S POV

Cirebon dengan langit mendung beserta hujan deras di awal bulan Oktober 2012.

Tidak bisanya Cirebon sudah kebagian hujan apalagi di awal bulan Oktober ini. Tapi kurasa ini hanya hujan sementara yang mungkin akan turun lagi 2 sampai 3 minggu ke depan.

Aku sudah duduk di Solaria CSB lebih cepat 15 menit dari waktu janjianku dengan Alvan. Kami janjian untuk bertemu Hari Minggu kemarin tapi aku tidak bisa datang karena keponakanku sakit. Jadi seusai bimbel di GO, aku dan Alvan janjian bertemu disini untuk membicarakan semuanya sesuai perjanjianku dengan Alvan saat bermain truth or deer.

20 menit kemudian Alvan datang dengan jaket abu abu di tangan kirinya dan tas gitar yang ia bawa di tangan kanannya. Hari ini Alvan ada les gitar di PurwaCaraka jam 5 sore. Aku ingat, selalu ingat dan tidak akan pernah lupa dengan jadwal hariannya.

Aku tersenyum kecil sambil melambai pada Alvan ketika pandangannya bertemu dengan pandanganku. Ia berjalan ke arahku lalu duduk di hadapanku. Aku berusaha bersikap senormal mungkin setelah sekian lama tidak bicara dengannya.

"Hai, Van." Sapaku. Tidak ada lagi panggilan "ay" atau "honey" antara kami. It's over.
"Hai, Sil. Maaf rada terlambat, trouble."
"Kenapa lagi?" Tanyaku. Aku ingat setiap habis les PurwaCaraka pasti Alvan mengomel kalau lagu yang dia mainkan akan diulang pada minggu depannya. Alvan itu tipikal orang yang mudah sekali bosan. Ia tidak suka mengulang lagu selama berminggu minggu.

"As always."
"Hahaha nanti juga kamu pasti ganti partitur."
"Ya, semoga saja. Kamu udah makan?" Tanya Alvan ketika melihat di meja kami hanya ada satu gelas milkshake coklat kesukaanku. 
"Kenyang. Tapi aku tau kamu belum makan. Aku pesenin kamu nasi goreng spesial." Kataku sambil tersenyum kecil. Aku dan Alvan sering sekali mengunjungi Solaria baik ketika kami berpacaran ataupun saat masih sebatas sahabat sehingga aku tahu menu favoritnya.
"Oh, makasih ya." Kata Alvan pelan.

Kemudian tidak ada percakapan diantara kami sampai nasi goreng Alvan datang. Alvan memakannya beberapa suap. Ia lalu berhenti mengunyah dan membenarkan posisi duduknya.

"Let's make it eazy." Kata Alvan membuka percakapan. Oke. It's start now.

No more heartbreak, please.

"Aku harus tanya dulu atau kamu punya kepekaan luar biasa untuk mengerti apa yang aku butuhkan?" Tanyaku dengan wajah tak bersemangat.
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf."
"Sakit hati itu gak cukup sama maaf doang, Van. Aku butuh kepastian."
"Kepastian apa lagi? Bukannya aku bilang kalo aku udah gak bisa sama kamu kalo hati kamu itu ke Lega terus?" Tanya Alvan dengan nada sedikit ketus. Aku menatapnya dalam dalam.
"How do you know I'm in love with him, huh?"
"Aku tahu kamu, Sil. 3 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal kamu seutuhnya."
"Dan kamu juga harusnya mengerti bahwa dihati aku cuman ada kamu."
"Dan kamu juga sebenarnya belum sadar kalau posisiku sudah digantikan."
"Sudahlah jujur saja, kamu memang tidak pernah mencintaiku kan?"

Alvan terdiam. Hening lagi.

"Jujur, Van. Please."
"Di luar hujan ya, Sil..." Kata Alvan sambil menoleh.
Aku tertawa sinis. "Aku gak butuh jokes jayus kamu disaat kayak gini."
"You know what I mean. Aku juga lagi nangis sekarang. Sebenarnya aku gak mau kita pisah. Aku sayang sama kamu. Tapi kamu sayangnya sama Lega kan?"

Basi, ini basi. Aku tau sebenarnya bukan Lega masalahnya.

"Bukan itu yang aku harapkan dari kamu, Van."
"Lalu apa yang kamu harapkan dari aku yang begini, Sil?"
"Aku mengharapkan kepastian dari kamu."
"Aku sudah menjelaskannya dan kita sudah putus."
"Semudah itukah kamu melupakan orang yang kamu cintai?"
"Kamu juga gitu kan? Kamu kan sayangnya sama Lega."
"Diam! Jangan sebut nama Lega lagi karena aku tau sebenarnya masalah utama bukan karena Lega, tapi karena kamu gak pernah cinta juga sama aku!"

Hening lagi. Alvan menunduk. Air mataku tumpah.

"Iya. Kamu benar. Maaf terlalu pengecut untuk jujur. Aku hanya tidak ingin melukai perasaan kamu."

Bagai ada batu yang menghantam, hatiku hancur seketika. Jadi.. Selama kami pacaran...

"Aku.. Memang tidak pernah mencintai kamu sebagai pria kepada seorang wanita, Sil. Tapi jangan kira aku tidak mencoba. Aku sudah mencoba, tapi kita tidak bisa. Aku tak merasakan hal yang lebih dari sahabat kepadamu."
"Tapi kamu seakan akan mencintaiku! Kamu selalu perduli padaku!" Tangisku pecah. Aku tak bisa berfikir jernih.

Kufikir cintaku benar benar dibalas oleh Alvan. Tapi ternyata... Semua perjuanganku berakhir pada suatu hal yang sia sia. Aku dibohongi oleh cinta palsu dari orang yang kucintai.

"Iya, tapi hanya sekedar sahabat Sil. Maafkan aku."
"Tapi kenapa...."
"Aku mencoba, tapi ternyata tidak bisa. Aku berharap bisa mencintai kamu juga, tapi ternyata aku tak mampu. Aku hanya ingin kamu tidak terus menungguku dan kamu mendapatkan kebahagiaan karena bersamaku sebagai pacarku. Tapi ternyata yang ada aku sengsara karena terus berusaha dan membohongi perasaanku sendiri...."

Tangisku pecah. Demi Tuhan aku ingin kabur ke tengah tengah hujan sekarang.

"Aku berharap dengan melepaskanmu seperti itu, kamu bisa membenciku dan menemukan cinta yang lain. Cinta yang nyata. Lega, Lega di hadapanmu Sil! Dia menyayangimu."

Aku tak bisa bicara apa apa. Aku hanya menutup mulutku, menahan nafsuku supaya tidak teriak dan membanting semua meja yang ada disini.

Aku kecewa, Van.

"Demi Tuhan jika aku bisa mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi ternyata tidak bisa... Maaf.. Kita memang terlahir menjadi couple 'sahabat', bukan lebih."

Aku bangun dari dudukku, meraih tas putih dan Samsung Galaxy Tab putihku. Alvan ikut bangkit dari duduknya. "Eh, kamu mau kemana? Di luar hujan deras, Sil!" Seru Alvan. Aku memasukkan tab-ku dan berjalan menuju keluar Solaria.

Alvan mengikutiku. Aku mempercepat langkahku hingga akhirnya aku keluar dari CSB. Kututup rapat tas putihku sehingga tak ada air yang bisa masuk dan berdiri di tengah hujan. Tangisku tak terlihat.

"Sil.. Maafkan aku!" Alvan mengejarku sampai ke tengah hujan. Ia menggenggam tanganku.
"Lebih baik kamu tidak pernah mencoba, daripada setelah sekian lama ternyata semuanya bohong, semuanya pura pura. Ini jauh lebih sakit daripada menunggumu sekian lama."
"Tapi percayalah, jika bukan denganku, kamu akan menemukan orang yang lebih baik daripada aku. Perjalanan kita masih panjang, Sil. Kita akan menemukan banyak orang baru. Kamu jangan berhenti padaku."
"Tapi orang yang aku cintai cuman kamu, Van."
"Tapi kita tidak bisa jadi kita yang lebih, Sil. Tolong mengertilah."
"Aku kecewa."
"Maafkan aku Sil, tapi percayalah aku menyayangimu. Jadi tolong lupakan aku..."
"Bagaimana bisa, Van? Coba pikirkan. Bagaimana bisa aku melupakan orang yang sangat aku cintai bahkan ketika dia sudah menyakitiku berkali kali?" Tanyaku sambil menangis. Hujan semakin deras, Alvan menarikku ke dalam pelukannya.

"Kamu bisa, Sil. Kamu bisa. Lupakan aku semudah kamu mencintai aku. Jangan fikirkan tentang sakit hatimu dan masa lalu konyol yang membuatku bertahan padaku. Karena tidak ada jatuh cinta yang tanpa patah hati di dalam ceritanya."

"Aku lari, kamu diem. Aku nangis, kamu senyum. Aku berduka, kamu bahagia. Aku pergi, kamu kembali. Aku coba meraih mimpi, kamu coba hentikan mimpi... Iya kan, Van?"

Alvan terdiam. Tangannya terus mengusap usap kepalaku. Aku menenggelamkan kepalaku di bahunya sambil terus menangis. Tangisku semakin lama semakin kencang sehingga mungkin bisa mengalahkan kerasnya suara hujan yang jatuh. Aku memeluknya lebih erat.


"Memang kita takkan menyatu."

Semoga tangis dan cintaku untuk Alvan pergi terbawa derasnya hujan sore ini...

***

LIVIA NUR AFIFAH'S POV

Megan udah tau semuanya, Megan salah. Megan minta maaf, Vi.

Pesan singkat Megan membuatku kaget dan secara refleks menjatuhkan iPhone 4s-ku. Aku tertegun. Beberapa saat kemudian ringtone khusus untuk Megan berbunyi. Ia menelponku.

"Vi, lo dimana?" Tanyanya dengan suara terisak. Astaga, Megan kenapa?
"Via di rumah. Kenapa, Gan?"
"Gue.. Gue harus ketemu sama elo."
"Untuk apa?"
"Vi, gue baru tau semuanya. Gue baru sadar kesalahan gue yang sebenarnya."

Shit. Apa yang harus Livia katakan?

"Vi.. Gue mohon lo ceritain lebih jelas apa yang terjadi selama gue mulai jauh dari kalian. Gue gak mau kita gini terus, apalagi gara gara gue. Gue harus balikin kita kayak dulu."
"Sebenernya Gan, kita bertiga gak ada yang berubah. Elo yang berubah. Yang ada elo yang harus balik ke kita."
"Jadi.. Lo mau nerima gue balik, Vi?"
"Gue mau, dan sangat mau. Tapi gak semudah itu. Lo harus yakinin kita kalo lo gak bakal nyakitin kita lagi."

"Apa yang harus gue lakuin biar kalian percaya, Vi? Apa gue minta maaf gak cukup?"
"Perasahabatan itu kayak pacaran, Gan. Sama aja, sama sama punya ikatan dan perasaan. Dan satu kesalahan gak bisa dibayar hanya dengan satu kata maaf. Butuh pembuktian juga."
"Iya.. Gue bakal lakuin apapun biar kita balik lagi. Setelah gue ngomong sama Vicky... Gue gak ngerti lagi, Livia. Gue bingung harus ngapain. Kenapa sih kalian gak pernah ngasih tau gue yang sebenarnya?"
"Ya karena tiap kita mau ngasih tau, lo malah makin jadi makin jadi, Gan. Kita capek."
"Tapi kalo dari dulu lo udah bilang, semuanya gak bakal kayak gini..."
"Jadi lo salahin gue, Gan?" Suaraku naik satu oktaf.

Hening.

"Kita kayak gini karena kita sayang sama elo. Apa elo lupa kita sering nyoba ngingetin elo tapi elo malah marah dan kabur ke eskul lo?"
"Ma.. Maafin gue, Vi..."
"Gue akan selalu maafin semua kesalahan lo selama itu gak ngelanggar norma dan hukum yang ada, Gan. Tapi gak semudah itu."
"Kasih waktu ke gue untuk buktiin kalo gue sayang sama kalian, gue mau berubah."
"Kita udah ngasih waktu lama dan no action, kan?"
"Ya karena gue kan belum tau yang mana yang salah..."
"Harusnya lo peka, Gan."
"Iya.. Sorry gue yang salah. Vi, cuman elo satu satunya orang yang dengerin Megan sekarang. Vicky sama Alvan udah gak mau dengerin gue. Vi, please...."

Aku tersenyum kecil. "Iya, gue pasti bantuin elo kok." 

"Tapi.. Lo mau maafin gue kan, Vi?"

"Kan gue udah bilang, gue pasti maafin elo. Gue pasti bawa elo ke jalan yang benar lagi setelah lo sadar dan enggak ninggalin lo gitu aja. Bukannya itu yang dinamakan sahabat?"

***

GHINAA SALSABILA ROZI'S POV

Seperti biasanya, Esar hari ini mengantarku pulang. Rumah kami yang berada dalam satu komplek membuatku bisa dengan mudah mendapatkan tumpangan gratis. Entah sejak kapan aku jadi mencintai hal hal yang gratis. Mungkin karena tertular virus dari Rajawali.

Mobil Yaris hitam Esar melaju lebih pelan daripada biasanya. Sejak tadi hening melanda kami berdua dan kurasa Esar ingin mengatakan sesuatu namun bibirnya terus mengatup. Aku menoleh padanya.

"Esar pasti sebenernya mau cerita sama Ghinaa." Kataku membuka percakapan. Esar menoleh lalu tertawa. Ghinaa adalah panggilan dari Esar untukku. Katanya ia lebih suka nama Ghinaa daripada Bella.

"Tau aja sih, Ghin."
"Hahahaha, kenapa sih, Sar?"
"Gue baru ngerasain kayak gini, Ghin. Patah hati tuh gak enak ya."

Aku terdiam lalu menelan ludah. "Siapa bilang enak? Yeeee!"
"Azzz, serius. Gue selalu berfikir bahwa pada akhirnya gue bisa sama Dini setelah apa yang gue lakukan. Nyatanya enggak. Dini malah suka sama Bhimo dan cintanya terbalas. Tinggal tunggu waktu jadian."
"Ya habis udah lama suka tapi di tahan tahan. Ghinaa bisa ngerasain perasaan kamu tau, Sar. Keliatan banget perhatian kamu sama Dini beda dari perhatian ke Raffles lain."
"Lalu gue harus apa kalo udah gini?"
"Patah hati bukan akhir dari segalanya, Sar."
"Move on tuh bukan hal yang gampang. Apalagi setelah..."
"Setelah?"
"Yola udah jadian sama Aca. Yola nungguin gue, tapi akhirnya dia pergi juga. Sementara gue yang nungguin Dini, gue gak dapet apa apa. Gue malah nyia nyiain Yola."

Aku hanya bisa mengangguk angguk. Esar memang baru cerita padaku tentang cinta kali ini, tapi tanpa ia beri tahupun aku bisa merasakan semua hal yang terjadi pada Jaffles 26. Mangkanya mereka menyebutku "pinru-paling peka" hahaha.

"Kebiasaan deh ya, orang suka nunggu yang gak pasti dan ngebuang yang udah pasti dengan alasan klasik: setia. Padahal pada akhirnya dia gak dapetin orang itu juga..." Ujar Esar kesal. Aku tertawa.
"Esar kan belum tau akhirnya."
"Ini sudah sampai akhir, Ghin."
"Tahu darimana? Selama kamu masih bisa berjuang, itu namanya kamu punya peluang."
"Peluang emang selalu ada, tapi kepastian bisa kutemukan dimana?"
"Di dirinya kalau emang dia jodohmu."
"Kalau tidak? Apa yang akan ditemukan?"
"Mustahil."

Kemudian hening.
AKu menarik nafas.

"Sar, patah hati itu biasa. Cinta bertepuk sebelah tangan juga biasa. Tapi kalo kamu bisa bangkit dan cari cinta yang lain, itu luar biasa. Karena cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia. Move on, Sar."
Esar tertawa kecil lalu mengusap usap kepalaku. "Kamu makin pinter aja ya, Ghin."

Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil mencuri pandang ke arahnya. Dia. Esar. Lelaki yang selalu mengantarkanku. Orang yang selalu menjadi tempat bercandaku.

Cinta pertamaku yang kini kembali menghantui aku.

***

SHELLY ILA AMALIA'S POV

Ifa memutarkan bolpoinnya sambil mengkerucutkan bibirnya. Ia lagi lagi bertengkar dengan Audit. Aku tak mengerti, untuk apa berpacaran jika setiap hari penuh dengan pertengkaran?

Ifa selalu mengeluh bahwa ia selalu merasa Audit lebih menyayangi Yara daripada dia. Dia selalu merasa seperti Audit memberikannya rasa sakit yang begitu mendalam setiap ia melihat Audit bersama Yara.

Bukannya itu konyol?

Maksudku, Ifa kan harusnya sadar. Dia pacar Audit sekarang dan Audit menyayanginya. Kenapa harus berfikir sekonyol itu?

"Daripada gini terus, mending aku putus. No owner means no heartbreak, Shell."
Aku tertawa kecil. "Hahaha, tau dari mana? Orang yang single aja bisa patah hati. Mungkin lebih sakit daripada apa yang kamu rasain."
"Setidaknya mereka sakit bukan karena pacar mereka sendiri."
"Tapi pikir deh Fa. Mending adem ayem tapi ternyata ada masalah atau bertengkar terus tapi membuat semakin dekat dan hangat?"

Ifa terdiam sambil menggeleng. "Aku sendiri bingung harus pilih yang mana. Karena kayaknya, sayangnya Audit bukan cuman buat aku, tapi buat yang lain juga..."

"Sok tahu. Kalo cowok udah milih, dia pasti bertahan. Kecuali cowok cowok brengsek yang berfikir mudah untuk mendapatkan cewek dan seenaknya meninggalkan pacarnya demi cewek lain. Pffft, cinta memang rumit."

***

SYAHDA TIARA'S POV

Aku sedang memperhatikan timeline twitter-ku ketika ku temui sesuatu yang janggal disana. Ada dua orang yang sedang tweeting hal hal galau seperti saling bertanya jawab satu sama lain. Aku terus memperhatikan tweet mereka.

Tweet mereka kali ini aneh. Bukan galau kangen, galau karena marah.

Aku menyikut Risma. "Ma, lo cek Tl deh."
"Ewh, ada apa sih, Tir?"
"Itu liat... Buka profilnya deh."

Risma mengeluarkan BlackBerry-nya dan segera membuka profil salah satu dari kedua orang itu. Aku terus memperhatikan timeline dan langsung tersentak ketika melihat salah satu tweet dari kedua orang tersebut. It's trouble.

Bersamaan dengan itu, Risma menyikutku. "Tir.. Tir.. Gawat."
Aku menoleh dan kami sama sama bertatapan. "Ini bohong kan, Ma?"
"Kayaknya... enggak, Tir."
"Astaga, serius?" Tanyaku kaget. Risma mengangkat kedua bahunya. Aku terdiam.

Kenapa jarak bisa memisahkan hubungan kedua sejoli yang saling mencintai?

MARISSA SHAPPIRA RACHH! | @marissasr
Nug, cukup. Ini konyol. Kalo kamu udah gak sayang sama aku tinggal bilang aja kan. Gak usah alibi pake kasian segala sama aku gara gara kita jauh. Aku capek. Kita putus. @nugrohokurnian



Hai Reasonators! Gimana chapter 23 nya? Chapter 24 keluar tanggal 13 Desember ya... Oh ya, doain gue dong mau ulum ini tanggal 2-12 Desember! Kalian juga yang ulum semangat ya! See you on the next chapter! 

Anyway, happy birthday Delima & Adella. I love you, forever and always gals({})



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}