The Reason is You chapter 24: Karma

Sebenarnya, kamu akan merasakan kehilangan yang sangat besar ketika orang yang mencintai kamu telah pergi meninggalkanmu. Cause it's true.
Karma does exist.

***



SHELLY ILA AMALIA'S POV

"Kamu kenapa lagi, sayang?" Tanya Rifqi sambil mengelus kepalaku. Aku tahu Rifqi sadar bahwa walaupun pandanganku tertuju pada layar TV, pikiranku sedang berlari kemana mana. Aku menggeleng. 

"Gakpapa, cuman pusing sedikit." Ujarku berbohong. Rifqi tertawa kecil.
"Kamu gak pacaran sama anak SD yang bisa kamu bohongin, Shelly..."
Aku menelan ludah lalu menenggelamkan kepalaku di atas bantal. Air mataku menetes.

Hari ini Rifqi datang ke rumahku untuk menemaniku menonton film Twilight Saga marathon dari Twilight sampai Breaking Dawn part1. Itu adalah film favorite ku dengan Yara. Aku sudah lama sekali tidak nonton bersama Yara. Aku ingat kami berjanji tanggal 16 November nanti, beberapa hari setelah Vancouver pulang dari long tripnya, kami akan menghabiskan  waktu satu hari penuh untuk jalan jalan berdua dan menonton film Breaking Dawn part2.

Tapi sepertinya dengan keadaan seperti ini tidak akan terwujud.


Rifqi membelai rambutku sambil menarik nafas. "Kamu harusnya gak gini, sayang. Kamu harus maju duluan..."

"Tapi kamu ngerti kan Qi, Yara tuh orangnya emosional. Dan sekarang posisinya aku yang salah. Kalo aku maju, aku  bisa disemprot Yara..."
"Jadi kamu lebih takut disemprot sama kata katanya Yara daripada persahabatan kamu yang hilang entah kemana?"

Aku terdiam lalu menatapnya. "Aku cuman.. Aku cuman gak tau kapan waktu yang tepat."


"Waktu yang tepat akan datang pada saat kamu bilang ini bukan waktunya. Itu yang bikin manusia gagal dan selalu ragu ragu dalam menjalankan suatu hal. Kalo dalam persahabatan ada masalah kayak gini, salah satu pihak harus maju duluan apapun resikonya. Daripada persahabatan kamu bubar?"
"Tapi Yara tuh egois! Dia gak ngerti kali ya aku nyari temen baru karena aku gak mau persahabatan antara aku sama Yara tuh gak kerasa bosen karena gitu gitu aja."
"Jadi kamu bosen sama Yara, yang?"

Aku terdiam. Air mataku menetes lagi. "Bukan itu maksudku, Qi..."


"Jadi apa dong?"

"Ya.. Aku cuman gak mau tiba tiba bosen dan semuanya bubar..."
"Kalo gitu kamu harus ngomong sama Yara biar dia ngerti."
"Aku kira dia ngerti, Qi."
"Duh, kamu tuh udah cuek, gak peka. Kamu tuh gimana sih, yang?"
"Aku kira Yara ngerti sendiri dan ujung ujungnya kita balik lagi kayak dulu. Taunya Yara malah makin marah.. Aku makin bingung..."

"Kalo aku jadi kamu, aku bakal nyoba deketin Yara lagi tapi bareng Nabila dan ngejelasin semuanya."

"Kalo dianya gak mau dengerin aku, Qi?"
"Ya kamu coba lagi."
"Kalo dia gak mau maafin aku, Qi?"

Rifqi tertawa. Tawa renyah yang selalu aku suka. "Kamu jangan bercanda deh, Shell. Gak ada seorang sahabat yang gak mau maafin sahabatnya. Sahabat itu selalu ada untuk memperbaiki jalan sahabatnya yang salah. Kalo Yara bener bener sahabat kamu dan kamu juga begitu, kalian akan kembali seperti semula kok."

"Aku harap begitu.... Aku sayang banget sama Yara, Qi.."

"Aku ngerti kok."' Rifqi membelai rambutku lagi. "Kamu sekarang lagi diuji sama Allah, Shell. Kamu diuji gimana cara kamu mempertahankan persahabatan kamu. Karena seusungguhnya memulai dan mengakhiri adalah hal termudah yang bisa manusia lakukan kecuali mempertahankan apa yang sudah dimilikinya...."


***


ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV

Silvy membuatku gila.

Semenjak tragedi scene sinetron berhujan di depan CSB beberapa hari yang lalu itu, dia berubah menjadi gadis yang luar biasa cantik, luar biasa baik dan juga ramah. Dan tololnya, aku merasa bodoh telah memutuskan dia.

Kali ini aku sedang duduk dipojokan dengan gitar merah tua milik Alda dan secarik kertas lirik. Lagu kami zaman dahulu. Aku sedang menunggu Titi, anak kelas 9A yang biasanya menjadi 'cewek panggilan' untuk menemani anak Vancouver bermain gitar. Dia akan bernyanyi lagu apapun yang kami minta.

"Hai, Al. Sorry telat, habis ngumpul sama panitia Study Tour dulu." Kata Titi seraya duduk di hadapanku. Aku tersenyum kecil. 
"Gakpapa. Gue gak ganggu kan? Habis udah lama juga Ti kita gak duet hahaha."
"Santai aja, gue juga lagi nganggur kok."
"By the way, CT sama Study Tour beres?"
"Alhamdulilah semuanya tinggal finishing. Hari ini mau ngecover atau duet aja?"
"Cover aja yuk. Ke Ruang Musik."

Aku dan Titi beranjak dari tempat duduk kami menuju Ruang Musik. Di sekolah kami sudah ada Ruang Musik sendiri yang lengkap dengan alat band dan instrumen tradisional yang biasanya menjadi tempat untuk anak Vancouver membuat cover lagu.

Aku mengeluarkan SLR 1000D-ku dan memasangnya di tempat biasanya kamera akan di letakkan. Titi duduk di kursi piano berwarna cokelat tua itu. Aku tersenyum kecil.

"Lo tau A Thousand Miles gak?"
"Chordnya tau, kok. Main duet yuk. Jadi gue main piano juga."
Aku tersenyum kecil. "Bisa aja baca pikiran gue hahaha."
"Hahahaha lagunya rada galau nih. Buat Silvy ya? Eh sorry, lo udah putus kan?"
Aku terdiam. "Ya.. Gitu deh.."

"Turut berduka deh gue. Kenapa putus, sih?"
"Entahlah. Tapi gue ngerasa kangen banget sama dia, Ti. Biasanya gue nyanyiin lagu ini sama dia. Kayaknya bisa deh ngilangin kangen gue..."
"Lah kalo masih ada rasa gitu kenapa gak balikan coba?"
"Gue yang mutusin, gimana ngajak balikan?"
Mata Titi menatapku heran. "Kok elo yang mutusin?"
"Complicated. Gak tau deh gue. Tapi Ti... Kalo udah putus terus kangen itu apa namanya?"
"Namanya karma. Puas lo kena karma hahaha."
Aku terdiam. "Serius karma?"
"Iyalah karma, Al. Lo bakal sadar seseorang berharga ketika lo kehilangan dia. Udah deh galaunya. Mulai yuk!"

Kamera sudah kunyalakan dan aku mulai memetik gitarku. Titi yang berada di sebelahku tampak menikmati permainannya sendiri. Aku tersenyum kecil sambil menatap kamera.



And I need you... And I miss you.. And now I wonder
If I could fall in to the sky
Do you think time would pass us by?
Cause you know I'd walk a thousand miles
If I could just see you, now

Sepertinya, aku memang terkena karma, Sil.

***

NUGROHO KURNIANTO'S POV


"Jadi lo putus, Nug?" Tanya Winu dari sebrang. 
Aku menghela nafas. "Iya, Nug...."
"Kenapa bisa putus sih? Katanya lo sayang banget sama Icoy?"
"Gak ngerti deh Win. Gue tuh udah berusaha bikin Icoy percaya kalo jarak yang tuh gak bisa misahin kami berdua."
"Lalu kenapa sampe Icoy mutusin lo di twitter gitu? Lo ngapain sih?"
"Lo liat gak sih tweets gue yang sebelumnya, Win? Yang gue sok sok punya cewek lagi? Gue cuman mau gangguin Icoy doang. Eh Icoy ngambek beneran."
Winu tertawa renyah. "Yakali dia kesel sih, Nug. Gak peka lo."
"Astaga, gue kurang peka apalagi sih..."
"Jadi gimana? Masa udah mau setahun gini lo udahin gitu aja?"
"Ya enggak lah Win! Gue pasti balikan sama Icoy!"
"Tapi Nug, berita lo putus sama Icoy di SPENSA udah ke sebar luas dan semua orang mihak Icoy. Gue rasa bakal susah buat lo balikan sama dia."

Aku terdiam. Astaga, lelucon yang aku buat saat itu membuat aku sampai putus dengan Icoy. Padahal aku bilang pada diriku sendiri bahwa Icoy akan mudah aku kelabui dengan hal seperti ini. Nyatanya malah... Oh yeah, karma.


"Tapi gue pasti balikan sama Icoy kok, Win."

"Pasti sih pasti. Tapi gimana caranya coba, Nug?"

Aku terdiam lalu mengigit bibir bawahku. "Nah itu dia, gue butuh bantuan elo..."



***

RHEZA AUDITYA WIJAYA'S POV

Lagi-lagi Ifa mengungkit ungkit hal yang sama berulang ulang kali selama beberapa minggu ini. Yara, Yara dan Yara. Padahal Ifa juga sahabatnya Yara. Kenapa dia masih meragukan apakah aku sebenarnya menyayangi dia atau orang lain?

Aku dan Ifa sudah berpacaran  cukup lama. Aku sendiri bingung kenapa Ifa sering kali cemburu kepada Yara. Okey, memang aku bersikap sedikit lebih berbeda dengan Yara karena aku dan dia bersahabat sudah lama. Aku tahu ini semua membuat Ifa cemburu, tapi cemburu berlebihan tak menyelesaikan masalah bukan?

Aku selalu berharap ketika aku mempunyai pacar lagi, pacarku selanjutnya akan lebih dewasa. Ketika cemburu ia akan mengatakannya padaku dan memberikan alasan yang jelas. Bukan tiba tiba diam seharian tanpa memberi kabar seperti Ifa.

Lama lama aku sudah tidak tahan.

Apa aku putus saja, ya?


***

MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV


"Gestu makin ganteng ya." Ujarku ketika melihat Titi berjalan ke arahku. Ia melirikku sinis lalu duduk di sampingku.
"Homo lo, Ras." Katanya sinis. Dia biasa memanggilku Edward atau Rasyid. Aku tertawa kecill.
"Tapi dia kan orang yang lo suka ya, Ti."
Titi tak bergeming. Dia mengeluarkan Blackberry-nya. "Dulu." 

Aku menoleh. "Jadi udah move on?"
"Harus move on tepatnya. Gue habis ngestalk, kayaknya dia lagi suka sama cewek."
Aku tertegun. "Oh, iya. Kelas 7."
"Sialan, lo malah manas manasin gue!" Seru Titi sambil meninju bahuku. Aku tertawa lagi.

"Katanya mau move on.. Eh harus move on.."
"Serah deh. Lo gimana sama Bani, Ras?"
Aku tersenyum lebar. "Makin deket nih. Udah sering gue anter balik habis les. Kan gue sama dia sama sama di Neutron bimbelnya.."
"Ho.. Jadi kapan nembak?"
"Nanti kayaknya pas api unggun CT, habis kita bawa obor. Jadi pas Study Tour udah jadian."
"Lah emang bakal di terima?" Tanya Titi dengan tatapan jahil. Aku mendelik.
"Pasti di terima kok. Orang yang deket sama dia cuman gue."

"Ya kan itu dari sisi pengelihatan lo. Sebenernya kan ada 1000 pengelihatan. Barangkali aja di 999 sisi pengelihatan lain mengatakan dia lagi deket sama yang lain hahaha."
"Sialan! Lo kok ngeselin sih Ti..."
"Astaga, cuman gitu doang... Lagian ya Ras, kata gue sih selama belum ada statement dari si cewek kalo dia suka sama elo, jangan kegeeran dulu. Bisa jadi perasaan lo yang ngerasa dia suka balik sama elo cuman harapan dan halusinasi semata?"

"Ya tapi kalo cuman halusinasi, mana mungkin kita sedeket ini?"
"Mungkin aja. Sedeket itu sebagai seorang temen wajar kok."

Aku terdiam. Titi benar juga. Aku dan Bani belum pernah membicarakan hal seperti ini lebih jauh lagi. Aku hanya menebak nebak. Bisa saja Bani senang sebatas teman saja kan?

"Nah lho. Friendzone! Karma sih sering PHPin orang hahaha."
Aku melirik sinis sambil mengusap usap kepala 'adik pura pura'-ku ini. "Alice ngeselin ye."

"Mangkanya, usaha lebih jauh dong biar bisa tahu hatinya. Kalo cuman deket sih semua orang bisa, Ras. Nah, ngambil hatinya? Siapa tahu lo ngambilnya malah buat jadi sahabat bukan pacar? Cinta emang rumit Ras, tapi kalo lo semangat, lo bisa kok dapetin dia."

***

SULTHAN AIDHAR MUSTAMAJID'S POV

Alda terus memperhatikan jam pasir yang ada di mejanya. Aku tertawa kecil melihat sahabatku yang kalau sedang galau seperti itu melakukan hal hal aneh. 

"Kenapa lagi lo, Al?"
"Ah, gak papa Nthan..." Dia membenarkan posisi duduknya. 
"Lagi mikirin Ridho ya?"
Dia terdiam lalu menunduk. Aku duduk di depannya. "Udah jujur aja, masih sayang kan lo sama Ridho... Kenapa kemarin waktu dia suka sama elo, elo gak nerima sih?"

Alda menelan ludahnya lalu tertawa kecil. "Gak tau, Nthan. Gue berasa bego banget. Gue nyia nyiain Ridho karena nungguin sesuatu yang gak pasti, sesuatu yang gak bakal dateng ke gue. Gue ngebuang orang yang bener bener sayang sama gue dan akhirnya.. Gue sendiri yang kena karmanya."

Aku menaikan alisku, keheranan. "Emang siapa sih yang lo tunggu?"
"Ya siapa lagi kalo bukan elo!" Seru Alda. 

Hening. Aku tak bisa berkata apa apa.

"Lo... Suka sama gue, Al?"
"Ah, sorry Nthan gak seharusnya gue ngomong gini, apalagi lo punya pacar."
"Alda bilang sama gue! Lo suka sama gue?"
"Kenapa sih, Nthan? Itu mah cerita dulu doang..."

Alda tertawa renyah lalu membalikkan lagi jam pasirnya sementara aku masih tertegun. Tubuhku kaku. Apa aku tak salah dengar? Masa iya sih....

"Lo kenapa sih, Nthan? Kan harusnya gue yang galau."
"Al... Maafin gue. Gue gak peka selama ini. Harusnya gue maju dari dulu."
"Apa sih maksud lo?"
"Gue kira dari awal lo sukanya sama Ridho..."

Wajah Alda berubah panik. Aku tak bisa berkata kata. Hanya penyesalan yang terus berkecamuk di hati dan kepalaku. Kenapa waktu tak berpihak padaku? Alda berfikir sejenak lalu matanya menatap mataku. Mata cokelat yang berkaca kaca.

"Lo.... Nthan... Lo...."
"Iya, Al. Gue juga sebenernya suka sama elo. Sayang sama elo. Tapi gue gak pernah berani  buat maju. Mata gue gak pernah bisa kemana mana sampe akhirnya gue mikir gue harus move on dan gue menemukan Novi. Gue sampe suka bingung kenapa gue stuck di satu titik yang cukup lama ketika gue tahu elo sayangnya sama Ridho. But all I've ever know is the reason is you."

Tangis Alda pecah. Aku bangkit lalu memeluknya. "Gue sayang sama elo, Al."
"Gue... Gue juga, Nthan. Tapi kenapa baru sekarang lo bilang?"
"Maafin gue, Al...."

Aku memeluk Alda yang menangis lalu melepas pelukannya dan berjalan meninggalkan Alda. Aku tidak kuat. Kenapa penyesalan datang begitu terlambat?

Cinta memang benar benar penuh dengan keajaiban. Tapi aku terlambat menemukan keajaiban itu. Aku sudah memiliki Novi sekarang dan ketika aku mengetahui Alda juga menyukaiku....

Aku tak bisa memeluknya lebih lama lagi. Karena kini aku sudah ada yang memiliki.

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

"Ikut seneng ya lo udah jadian sama Rianthy, Yog." Kataku pelan saat berpapasan dengan Yoga. Yoga berhenti sejenak lalu menatapku. "Makasih, Meg."

Aku lalu berjalan lagi namun mengubah arah perjalananku dari kantin berbalik menuju ke kelas. Aku ingin menangis. Aku ingin pergi dari sekolah ini sekarang juga. Aku benar benar merasa unlucky.

Sahabatku meninggalkanku. Aku sudah harus pensiun dari Marching Band. Kini orang yang aku sayangi malah jadian dengan orang lain. Apa lagi yang akan terjadi padaku?

Sungguh aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin menyelesaikan satu persatu masalahku. Tapi rasanya semuanya begitu sulit. Aku tak mengerti yang mana yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Tapi aku ingin sekali kembali bersahabat dengan Alvan, Vicky dan Livia. Mereka yang terpenting sekarang. Mereka sahabatku yang benar benar aku sayangi. 

Sepertinya, Tegar benar. Aku harus membalas apa yang telah aku lakukan dulu. Karma does exist, Gan.

***

NADIA SAFANINGRUM'S POV

"Lo jadi Pratama yang bener dong Ghor...." Kataku saat melihat Ghorby membawa tongkat Garuda malas malasan.
"Banyak banget, 27 nyusahin."
"Bukan nyusahin, emang mereka belum boleh masuk Sanggar kan. Gimana sih lo." Cecarku kesal. Ghorby cengengesan.

Aku dan Ghorby adalah pasangan Pratama-Pratami Rajawali-Rafflesia XXVI. Aku senang sekali bekerja sama dengan Ghorby. Dia itu moodbooster-ku. Apalagi dia juga...

"Nad, lo kapan jadiannya sih? Perasaan dari semua anak Rafflesia, cuman elo yang gak keliatan gerak geriknya suka sama cowok." Kata Ghorby setelah memberikan tongkat Garuda kepada anak angkatan 27. Aku terkekeh.
"Kepo banget sih."
"Lo lesbi ya?"'
"Sialan! Asal aja! Emangnya elo sama Jawali, Ghor."
"Hahaha habis Dini kan sama Bhimo, Kibo kayaknya ke Esar, Bella mah banyak gebetan, Yola udah sama Aca, Silvy sekarang lagi deket sama cowok, Ninis punya pacar, Fita juga udah sama Fadhel, Mauren lagi suka sama kakak kelas, Titi suka sama Gestu, nah elo?"
"Suka sama buku." Jawabku jutek.

"Aih, serius mbaaaak."
"Kenapa sih Ghor pengen tau banget ih!"
"Gakpapa sih. Tapi kayaknya gue mau putus aja deh sama Risma."
Aku menoleh, kaget seketika. "Apa apaan nih? Gak usah sok playboy deh! Dari semua Jawali, muka lo yang pas pasan!"
"Astaga, sialan lo! Eh serius lo lagi deket sama cowok gak?"
"Kenapa sih emangnya?"
"Ya.. Kalo ntar gue putus beneran sama Risma, kita jadian aja yuk Nad." Ajak Ghorby sambil tersenyum kecil lalu berjalan mendahuluiku.

Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Jangan bilang doaku selama ini akan terkabul dalam waktu dekat....

***

DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV

"Mauren! Gawat! Ridho sama Haekal dua duanya lagi dalam perjalanan kesini mau jemput aku! Mau ngajak aku balik bareng! Dan Blackberry aku ngehang mati seketika. Gimana ini!" Seruku panik. Cewek cewek kelas 9F yang masih sedang berkumpul langsung datang mengerubungiku.

"Duh! Gimana ini?" Tanya Dhira panik.
"Lo pura pura mati aja, Ban!" Seru Ara polosnya. Aku melirik sinis.
"Ra, be serious please...."
"Ah, semoga saja salah satu diantara mereka tidak datang."
"Amin! Akupun berharap begitu!" Seruku dengan suara tercekik. Aku benar benar panik.

Kami semua berunding sekitar 5 menit sampai tiba tiba Albi masuk dengan wajah polosnya. "Ni, Haekal udah di depan tuh. Balik bareng kan lo?" Tanya Albi polos. Kami semua screaming. Apa yang harus aku lakukan?

Aku mengintip dari jendela sambil harap harap cemas. Aku sempat bilang pada keduanya kalau aku sedang mengerjakan tugas dan mereka kekeuh mau menunggu sampai aku selesai. Dan tiba tiba... Ridho datang. Great.

Tamat riwayatku.

"Hoi, lo ngapain dah disini?" Tanya Ridho.
"Lagi nunggu Bani, mau pulang bareng..." Kata Haekal polos sambil bermain Blackberrynya. Tiba tiba hening seketika. Haekal tampaknya tak melihat bahwa Ridho yang bertanya padanya.
"Kal, pengkhianat lo. Jadi lo selama ini juga ngedeketin Bani?!" Seru Ridho setelah meninju bahu Haekal. Aku lihat wajah Ridho memerah. Haekal langsung bangkit, wajahnya panik. Tampaknya selama ini dia menutupi semua hal yang ia lakukan dari Ridho.

"Ridh.. Dengerin gue dulu..."
"Ah basi lo! Lo bilang sahabat, lo bilang lo mau dukung gue sama Bani. Nyatanya lo malah gini! Apa ini yang lo bilang sahabat, Kal?"

Kenapa mereka berdua malah bertengkar karena aku? Aku kira Ridho juga tahu bahwa Haekal mendekatiku... Apa yang harus aku lakukan? Aku berpandangan dengan cewek cewek 9F yang memandangku dengan tatapan iba.

Aku harus bagaimana? Ridho dan Haekal, dua orang yang mulai aku sayangi sedang bertengkar di luar karena aku... Harusnya sejak awal aku tak membuat permainan ini.. Harusnya sejak awal aku memilih salah satu diantaranya....

Ya Tuhan. Ara benar, aku harus pura pura mati sekarang juga.


To be continued....


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}