The Reason is You chapter 25: Move On

Jangan pernah mikir mau & gak bisa move on karena itu semua yang menghambat move on-mu. Let everything flowing on their way dan kamu akan menemukan diri kamu yang sudah melupakan orang. Masalahnya adalah apakah kamu mau atau gak mau, niat atau gak niat. Nah, gue kayaknya mulai nemuin niat gue buat move on deh.

Ngapain coba nungguin orang 1 tahun lamanya tapi orangnya lagi deketin cewek lain? Hahaha wasting time banget, sayang sama orang yang salah. Berasa orang bego.

Move on yuk semuanya. Selamat mendaki Bromo hari ini, Vancouver'85 :}

***


LEGA IKHWAN HERBAYU'S POV

Aku akhirnya berhasil mengajak Silvy pulang bersama setelah bimbingan belajar kami selesai. Aku dan Silvy memang sama sama siswa didik di GO hanya saja kami berbeda kelas. Silvy duduk di sampingku sambil sibuk mengunyah roti isi yang baru saja kami beli. Aku memang sengaja mengajak Silvy makan dulu sebelum pulang ke rumah.

Kami berbicara banyak hal dan seperti yang kalian tahu, aku selalu menyukai apapun yang aku lakukan dengan manusia berhati peri ini. Dia bagaikan malaikat untukku, orang yang selalu di khianati oleh wanita yang dicintainya. Berbeda dengan orang orang yang dulu aku sukai, Silvy benar benar membuatku yakin kalau ia tidak akan pernah membuatku kecewa.

Dan akupun yakin, Silvy juga merasakan hal yang sama denganku.



Jadi sekarang aku memintanya menutup mata dan menyalakan lagu Seperti Yang Kau Minta mengalun merdu dari audio Jazz hitam-ku. Silvy menoleh sambil tersenyum kecil padaku. Aku tak bisa bicara apapun selain berdoa dalam hati supaya apa yang kuharapkan bisa menjadi kenyataan.

Karena aku benar benar mencintai dia.

Untukku, lagu ini adalah lagu 'aku' banget. Karena ini bercerita seperti saat Silvy sedang bersama Alvan dan aku yang datang meminta sedikit tempat di hati Silvy supaya aku bisa mengambil seutuhnya. 

Aku tahu aku salah karena melakukan itu, tapi jika kamu mencintai seseorang yang sudah mempunyai pasangan, bahkan sebelum Tuhan bilang kamu berhenti, kamu akan terus menunggu dan mengejarnya kan?

Karena aku benar benar percaya pada keajaiban cinta.

Silvy tertawa kecil. "Lega ngapain sih ngeliatin aku kayak gitu terus?"
"Eum.. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku harus jujur sama kamu. Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu kok!" Jawab Silvy sambil tertawa. Aku menghela nafas lalu meraih tangannya. Wajah Silvy berubah memerah.

"Serius, Sil. Kamu ngerti kan maksudku? Aku sayang kamu....." Kataku sambil menatap Silvy dalam dalam. Wajah Silvy berubah panik, namun kulihat ada senyuman kecil yang tersembunyi. Ia menarik tangannya.
"Aku..... Aku juga sayang kamu, Lega. Tapi aku belum bisa."
"Kenapa? Aku tau Sil dari sebelum kamu putus sama Alvan, kamu juga udah sayang sama aku kan? Lalu sekarang kenapa gak bisa?"
"Ini sulit, hatiku memang sudah mulai kamu miliki, tapi sepenuhnya itu masih milik Alvan."

Keheningan terjadi. Lagu pun mengalun sampai akhirnya masuk ke reff akhir. Aku menelan ludah. "Aku tau aku bukan Alvan yang sempurna. Tapi kamu lihat deh, apa cintanya setulus aku? Selama aku masih disini, selama aku mencintai kamu, aku akan terus mencoba jadi yang terbaik untukmu..."

"Kamu sudah jadi yang terbaik untukku, Lega. Hanya saja..."
"Move on? Mudah, Sil. Jangan tenggelam dalam masa lalu."
"Astaga, Lega. Move on itu sulit. Aku harus melupakan segala macam hal yang telah aku lalui dengan Alvan, dan itu banyak sekali.... Aku butuh waktu..."

"Kenapa kamu tidak mencoba untuk melupakan Alvan sekaligus mencintaiku?" Tanyaku pelan. Silvy terdiam lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Aku menarik nafas panjang. "Kamu bisa move on sambil menjalani semuanya bersamaku Sil..."

Silvy terdiam, aku bisa merasakan raut wajahnya yang membentuk garis garis kegalauan.

"Move on itu bukannya sulit, tapi karena kamu yang gak niat jadi semuanya sulit. Aku akan bantu kamu, Sil. Just trust me, you belong to me."

Silvy terlihat berfikir keras sementara aku terus mengigit bibir bawahku. Kuharap Tuhan memberikan petunjuk untuk Silvy menerimaku dan melupakan Alvan bersamaku. Beberapa menit kemudian, lagu Begin Again terputar. Aku menghela nafas.



"What's past is past...." Ujar Silvy sambil tersenyum kecil. Aku menatapnya dengan waspada. Beberapa lama kemudian, Silvy menoleh dengan wajah yang membentuk garis bahagia. Aku tersenyum melihatnya. Ia meraih tanganku sambil tersenyum.

"Aku coba titipin kunci hatiku ke kamu ya, Leg. Jangan pernah buang kunci itu, ya."

***


VALDA NURUL IZAH'S POV

Aku seperti orang bodoh menunggu dan mencintai orang yang sama sekali tidak mencintaiku. Mereka semua berbohong. 

Yoga memang tidak pernah mencintaiku.

Hal yang pertama kali ingin aku lakukan ketika aku tahu Yoga berpacaran dengan Rianthy adalah menghajar Yoga karena membuatku terlalu berharap tapi sayangnya aku malah pingsan karena terkejut mendengar kabar itu. Iya, aku benar benar terkejut.

Selama ini Yoga memang dekat dengan Rianthy, tapi dalam urusan percintaan, semua orang berfikir bahwa Yoga akan memilihku karena ia lebih banyak bersamaku. Sementara antara Yoga dan Megan tidak pernah ada tanda tanda akan berlanjut menjadi pasangan.

Apa ini yang disebut pemberian harapan palsu?

Selama ini aku tidak pernah mau maju karena aku lebih suka diam dan menunggu daripada memulai. Tapi nyatanya, Yoga tidak datang, Yoga malah pergi meninggalkaku da memilih Rianthy.

Yoga membuatku berharap banyak. Gelak tawanya yang lembut membuatku berfikir bahwa ia akan memilihku dan ia peka terhadap perasaanku. Tapi kurasa Yoga tak pernah mencintaiku juga.

Selama ini aku sering melihat orang yang merasa sedang di dekati sebenarnya sedang diberi harapan palsu. Dan kini semua itu terjadi kepadaku. Yoga dekat padaku bukan untuk pdkt, tapi untuk memberikanku harapan semu!

Jadi untuk apa aku terus bertahan mencintai seseorang yang sama sekali tidak melihat dan mencintaiku juga? Untuk apa aku terus menunggu seseorang yang tidak perduli betapa aku sangat berharap padanya?

I love you so much. But....

I need to move on and the reason is you, Yog.

***

ABIZAR BAGAS PRATIATAMA'S POV

Sudah aku bilang move on itu lebih susah daripada memulai mencintai seseorang dan kini sahabatku sendiri tak bisa move on dari pacarku ketika pacarku sudah mulai melupakannya. Great.

Aku terjebak dalam situasi konyol dimana aku kasihan dengan sahabatku yang selalu dicemburui oleh pacarnya secara berlebihan dan masih menyimpan perasaan kepada mantannya. Jika mantan pacar sahabatku itu bukan pacarku sendiri, sudah lama aku akan menyuruhnya memutuskan pacarnya dan mengejar orang yang ia sukai.

Tapi sayangnya tidak bisa. Gadis yang ia sukai adalah orang yang aku sayangi.

Aku menghargai hasil kerja keras pacarku yang sedikit demi sedikit sudah terlihat. Tatapannya pada mantannya itu sudah berubah. Cara bicaranya tentang mantannya itu sudah biasa saja.

Sementara kulihat mantan pacarnya, yang merupakan sahabatku sendiri masih menatap pacarku dengan tatapan yang sama, tatapan memohon untuk kembali kepadanya. Aku benci melihatnya, aku ingin memperingatkannya. Tapi aku tahu move on itu sulit.

Jadi aku memilih untuk berdiam diri dan tidak bicara apapun padanya bahkan ketika aku hanya memiliki waktu 2 minggu lagi sebelum keberangkatan Vacouver ke Sidomba untuk CT dan Jawa Timur untuk Study Tour pada awal November.

Aku dan sahabatku itu satu kelompok pada saat Study Tour dan dia adalah pengawas dari kelompok CT-ku. Menurut pacarku, setiap anggota Rajawali-Rafflesia adalah dewan pengawasan yang bertugas mengawasi kinerja Garuda-Gardenia sebagai panitia inti dan memegang satu regu kelas 9 untuk menjadi pengawas.

Vancouver memiliki 14 regu dan reguku di pimpin oleh sahabatku itu. Tapi sampai detik ini, sudah 2 minggu aku tidak bicara dengannya dan kini aku sudah berpindah tempat duduk untuk menghindarinya.

Sebenarnya ini tidak baik, tapi aku menghindari diri supaya tidak mengeluarkan kata kata kasar atau berlaku sesuatu yang tidak baik padanya. Aku hanya ingin meredam emosi sambil memantau pacarku yang terlihat mulai bisa move on.

Sampai akhirnya aku berfikir, aku saja bisa membantu pacarku move on. Lalu kenapa aku tidak membantu sahabatku untuk move on juga?

Karena jujur, aku merindukan manusia cinta gratisan dan berambut seperti bulu domba dengan kata kata khas "lo-tau-Zar-gue-homo" miliknya.

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

"Kalo gini terus, mending gue putus." Kataku sambil menerawang jauh.
"Hah? Gila lo. Apaan sih! Gak usah ikut ikutan gegabah kayak Icoy-Nugroho deh, Ma!" Seru Dhira sambil mencubit pipiku. Aku meringis pelan.
"Ya lo liat deh Dhir, Ghorby tuh bilangnya aja sayang sama gue. Tapi apa? Ini sih sama aja cinta sepihak pakai status." Omelku. Dhira tertawa kecil.
"Yah.. Paling enggak kan lo gak digantungin kayak Fonny, Ma."
"Ya tapi kalo dia mau jadian sama gue, dia sayang sama gue, tunjukin semuanya dong! Gue maklumin kok kalo dia belum bisa move on dari..."
Dhira tertawa. "Wait, lo bilang lo maklumin? Apa dengan lo cemburu setiap saat itu namanya maklumin? Ma.. Ma.. Lo kan tau sendiri move on tuh gak segampang ngebalikin telapak tangan."

Aku terdiam. Dhira tertawa lagi. "Gue... Gak bermaksud cemburu kayak gitu, Dhir. Gue cuman pengen perhatian lebih dari orang yang gue sayang."
"Iya gue ngetri kok Ma, tapi caranya kurang tepat.."
"Gue berharap Ghorby berubah jadi care setelah gue cemburuin, eh malah makin cuek. Capek gue, Dhir. Mending putus aja."

"Kalo dalam pemikiran lo semua semua langsung jadi putus, lo gak bakal bisa hidup bahagia, Ma. Pacaran itu kan perlu kedewasaan untuk menyelesaikan masalah. Kalo Ghorby cuek dan elonya kayak gini, ya wassalam. Katanya lo sayang sama dia?"
"Iya.. Tapi gue capek ngeliat dia yang gak bisa move on sepenuhnya.."
"Gue balikin deh, Ma. Emang lo udah bisa move on sepenuhnya dari Fauzan?"

Aku terdiam lagi. Ups. 

Aku jadi ingat aku pernah beberapa kali salah memanggil Ghorby dengan panggilan "Zan" dan ia tidak pernah marah. Ia hanya tertawa dan bilang "move on sayangku, aku yang ada di hati kamu" dan aku mengulang itu dan Ghorby tidak pernah marah.

Ghorby begitu pengertian terhadapku. Sementara aku selalu meminta lebih. Aku tidak mengerti harus bagaimana. Yang jelas aku hanya tidak ingin kehilangan dia...

"Lo harus merubah caranya Ma. Tunjukkan sama dia kalau elo gak mau kehilangan dia. Lo juga harus move on supaya dia terpacu untuk ikut ikutan move on. Supaya hubungan kalian terus melaju dan bahagia."

"Lo kan tau sendiri gue cemburuannya kayak apa, Dhir.."
"Nah, cowok itu suka di cemburuin. Tapi gak berlebihan juga. Gue rasa Ghorby makin jadi cueknya dan gak bisa move on nya karena dia bete ngeliat elo yang kayak gitu, Ma."
"Gue coba Dhir demi Ghorby.. Gue pengen dia move on, supaya gue juga bener bener lupa dari Fauzan. Tapi gue takut gak bisa."
"Kalo lo sayang sama orang, apapun yang lo lakuin buat dia, selama lo usaha semuanya bakal terlaksana, Ma. Percaya sama gue."
Aku menelan ludah. "Kalo ternyata gue gak bisa...."

"Ya.. Siap siap aja liat Ghorby totally move on, Ma. Tapi bukannya move on dari Ninis ke elo. Melainkan dari elo ke Ninis." Kata Dhira sambil menatapku dalam dalam.

***

MUHAMMAD HAEKAL ALAWY'S POV

"Lit, sumpah demi Allah gue gak bermaksud ngekhianatin Ridho.. Lo ngerti kan apa yang gue maksud?" Tanyaku dengan suara bergetar saking kesalnya.

Lita mengangguk angguk sambil meniup coklat panasnya yang baru saja diantarkan Mbak Iyem ke kamarku. Hari ini aku sengaja menculik Lita untuk menginap denganku supaya aku bisa bercerita padanya selagi Alda yang sedang ikut OSN Fisika tidak ada di Cirebon.

"Gue ngerti, Kal. Tapi cowok juga manusia. Cowok punya perasaan kali. Coba lo diposisinya Ridho. Lo bakal ngerasa terkhianati gak sih?"
Aku menunduk kesal. "Ya tapi gue kan gak pernah janji buat gak pernah suka sama Bani, Lit. Pas gue nyemangatin Ridho kan gue gak tau dia suka sama Bani. Lagian namanya juga cinta siapa yang tahu sih kapan datangnya?"
"Hm... Kalo gini susah, Kal. Lo kan sahabatnya Ridho. Pasti sekarang dia ngiranya elo tuh temen makan temen."
"Nah tuh! Itu yang gue takutin, Lit. Gue jadi bingung... Lagian Bani juga sih gak nentuin siapa yang dia pilih, gue atau Ridho!"
"Ah.. Harusnya sih lo ngomong ke Ridho..."
"Tapi percuma gak sih, Lit? Dia juga gak bakal dengerin gue."
"Kalo gitu lo harus milih persahabatan atau cinta lo? Kalo lo milih persahabatan ya mau gak mau lo harus move on."

Tanganku gemetar seketika. Move on dari seorang Delima Rochma Nursyahbani? Orang yang sangat aku sayangi? Mana mungkin. "Jangan bercanda. Gue sayang banget sama Bani, Lit."

"Jadi lo lebih milih cewek yang belum jelas milih elo atau enggak daripada sahabat elo, Kal?" Tanya Lita sambil menaikkan alis matanya. Aku menggeleng.
"Maksud gue gak gitu astaga..."
"Pembicaraan ini emang ambigu. Cinta dan persahabatan tuh terlalu saru untuk diperdebatkan."
"Juga terlalu saru untuk dipersatukan." Sambungku.

"Jadi gimana, Kal? Lo milih siapa?"
"Gue udah sampai titik ini, Lit dan gue gak mungkin move on.. Tapi gue mau menyelamatkan persahabatan gue. Karena bagaimana pun juga, mereka berdua sama sama pentingnya untuk gue."
"Nah lho, kalo lo gak mau milih dan Ridho juga masih dingin banget karena marah sama elo, satu satunya cara cuman...."

Aku membenarkan posisi dudukku sambil membesarkan mataku. "Apa, Lit?"

"Suruh Bani milih diantara kalian."

***

KARTIKA YOLYNDA'S POV

Karena move on hanya butuh niat dan keberanian.

Pada akhirnya, aku bisa memulai semuanya bersama Aca dan tidak melihat ke belakang. Aku kira aku akan terus berhenti pada Esar tanpa kepastian apapun darinya. Namun aku salah, Aca bisa membuatku berpaling.

Aca benar benar memperbaiki hubungan kami. Dulu ketika kami berpacaran, ia sangatlah cuek dan terkesan tidak benar benar serius denganku. Namun sekarang dia berusaha untuk menunjukan perasaannya padaku dan aku suka itu.

Aca bilang ia sebenarnya terkena karma. Ia baru merasakan kehilangan aku semenjak ia menyadari aku benar benar terikat pada Esar. Semenjak itu ia merasa bisa membahagiakanku dan tidak akan mengecewakan aku lagi.

Ia terus berusaha dan berdoa sampai akhirnya Allah memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan aku lagi walaupun pada awalnya aku masih terpaksa menerimanya. Namun semakin lama aku bersama Aca, kurasa ia mampu menggeser tempat milik Esar seutuhnya.

Dan kini aku duduk bersama Esar sambil menemaninya mengawasi latihan banjar tempur Garuda dan Gardenia. Kami sama sama sumber suara Rajawali dan Rafflesia sehingga kami bertugas untuk melatih suara anak anak.

"Yol, gaya aja udah move on ya dari Esar hahaha." Kata Esar tiba tiba. Aku tersentak kaget. 
"Aduh apaan sih, Sar... Udahlah jangan diungkit ungkit lagi hahaha."
"Duh ya.. Andai aja gue bisa move on kayak elo."
"Lho? Udahan memperjuangkan yang gak pastinya?" Ledekku. Esar melemparku dengan bungkus beng bengnya. "Sialan, ngeselin ya lo hahaha."

"Ya ampun.. Serius, Sar. Jadi mau move on?"
"Ya... Ya gitu."
"Lah katanya kemarin mau memperjuangkan Dini?"
"Buat apa memperjuangkan sesuatu yang sama sekali gak ada ujungnya?"
"Kalo kata Gestu sih semua yang kita perjuangkan ada ujungnya, Sar.. Tergantung kitanya mau usaha atau enggak."
"Gue udah usaha tapi Dini nya malah ke Bhimo. Jadi...."
"Oke, move on aja. Kan gue udah bilang dari dulu."
"Nah itu dia. Udah ada sih..."

Aku menatap Esar kaget. "Serius udah punya target?"
"Hehehe.. Ya gitu deh."
"Sama siapa?!"
"Pinru Raffles 26." Jawab Esar sambil cengegesan. Aku tersentak.

Esar move on ke... Bella?

***

MARISSA SAPPHIRA RACHIM | ICOY'S POV

Sejujurnya, kehilangan Nugroho adalah hal yang terberat untukku.

1 November nanti hubungan kami genap 1 tahun namun kami berdua malah berpisah. Bukan hanya berpisah raga, namun hati juga. Kurasa Nugroho sudah mempunyai cewek lain di Manado sana.

Aku ingat pada janji Nugroho akan terus mencintaiku. Tapi apa? Aku malah melihat dia asyik ngobrol dengan seorang cewek, mengaku sudah bosan denganku dan melakukan semua hal itu di twitter! 

Aku tahu Nugroho orang yang suka sekali bercanda, namun candaannya kali ini sama sekali tidak lucu. Itu sangat menyakitkanku. Semua orang bilang, lebih baik aku kembali dengan Nugroho.

Aku memang menyayanginya, tapi semenjak putus dia tidak lagi menguhubungiku.

Jadi benar kan dia sudah tidak menyukaiku? Hahaha. Astaga.

Semudah itukah seseorang move on serta melupakan janji dan cintanya pada orang yang sudah lama bersamanya? Cinta benar benar membuatku gila.

Kalau Nugroho saja bisa move on, kenapa aku terus bertahan? Toh untuknya satu tahun diantara kami tidak ada apa apanya. Lalu kenapa aku berharap supaya kembali padanya?

Mungkin dia memang tidak pernah benar benar mencintaiku sebesar aku mencintainya.


To be continued....




You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}