The Reason is You chapter 26: Trouble

Gestu pernah ngetweet dan tweet ini adalah tweet dia yang paling aku suka:



Dan aku mau jawab, Tu. 

Mungkin karena rasa sayang kita pada dia sudah jauh lebih besar daripada rasa lelah karena lamanya berharap untuk sesuatu yang tidak pasti. Jadi kita terus berharap walaupun kita tau semua yang akan terjadi adalah masalah bagi hatinya.

We'll wait and fight for someone we love even we know he/she was trouble for us.

ONE WEEK LEFT UNTIL CT & VANCOUVER TOUR


VICKY RIZKY NOOR'S POV

Megan mengirimiku satu dus coklat Silver Queen sore tadi dan sudah kuhabiskan sebanyak 3 batang. Aku yakin berat badanku akan naik lagi gara gara sahabatku tercinta. Megan meninggalkan surat di atas dus Silver Queen itu dan sukses membuatku tertawa terpingkal pingkal beberapa detik setelah aku membacanya.

Akhirnya, sebentar lagi semua ini akan selesai.

Aku akan kembali bersama Megan, Alvan dan Livia. Persahabatan kami berempat akan kembali seutuhnya. Tapi.. Aku masih harus melihat keseriusan Megan. Aku sebenarnya tidak butuh satu dus coklat Silver Queen ini. Yang aku butuhkan adalah pembuktian dari Megan.

Kami akan lihat bagaimana Megan berjuang untuk kami bertiga. Bagaimana cara Megan membujuk kami bertiga mau bertemu bersama dan menyelesaikan masalah ini. Sejujurnya, kami bertiga pasti akan memaafkan Megan tetapi harus dengan cara seperti ini dulu.

Megan harus merasakan apa yang kami rasakan supaya Megan mengerti arti dari persahabatan itu sendiri. Sebenarnya untukku pribadi, saat bersahabat dan kamu mempunyai teman lain itu sah sah saja. Asalkan kalian tidak melupakan yang lama.

Aku mengerti sekali Megan menyukai Marching Band, tapi Megan harus bisa membagi waktu. Walau aku tahu membagi waktu adalah hal yang sulit untuk dilakukan, tapi jika mencoba Megan pasti bisa melakukannya. Sedikit saja usaha dari Megan akan kami hargai. Tapi nyatanya dia tidak pernah berusaha kan selama ini?

Karena sesungguhnya, ketika seorang sahabat kehilangan arah lalu ia kembali lagi dan kita tidak mau memaafkan itu adalah hal yang paling egois yang pernah ada.

Karena kamu juga pasti butuh teman yang lain kan dalam hidup ini?


***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV


Berada di tengah tengah Rajawali-Rafflesia 26 adalah hal kesukaanku dan mereka adalah alasanku bertahan dan terus semangat dalam menjalani hari hariku. Aku bisa becerita apa saja dengan mereka. Kami berbagi suka dan duka bersama bahkan hal itu sangat privasi sekali. Dan kami juga berbagi tentang cerita cinta kami.


Mungkin hanya aku satu satunya orang yang jarang mengutarakan tentang cinta di antara kedua puluh manusia Rajawali-Rafflesia 26 dan memang aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Masa iya aku harus bilang aku terkena karma karena terlambat jatuh cinta pada gadis yang sudah move on dariku?

Itu terdengar konyoi, tahu. Aku seperti orang bodoh.

Hari ini seperti biasa, disela sela mengawasi kerja Garuda-Gardenia 27 untuk persiapan CT, Rajawali-Rafflesia 26 pasti berkumpul untuk sekedar ngobrol ngobrol berdua puluh. Aku senang sekali angkatan kami akhirnya mempunyai anggota regu utuh, tapi melihat gadis itu hanya bicara kepada 9 Rajawali dan menghindari Rajawali banjar 1 membuatku kesal.

Kenapa sih kamu menjauhiku, Ti?

Rafflesia sedang bermain poker sementara Rajawali sibuk dengan laptopnya masing masing kecuali Haekal yang terlihat sedang murung dan Ridho yang sejak seminggu yang lalu selalu telihat ingin cepat cepat keluar dari sanggar.

Naufal bilang, Ridho sedang bertengkar dengan Haekal karena Haekal ternyata mendekati Bani juga. Ridho merasa dikhianati oleh Haekal. Aku pribadi jika berada di posisi Ridho akan merasakan hal yang sama apalagi Haekal mendukungnya dengan Bani. Tapi Naufal juga bilang bahwa Haekal tidak pernah berjanji bahwa ia tidak akan menyukai Bani dan menurutku sebuah pengkhianatan adalah ketika seorang sahabat telah berjanji tidak akan menyukai namun pada akhirnya itu semua terjadi.

Itu yang membuat aku benci mengurusi cerita cinta seperti ini. 

Tapi aku jatuh cinta dan kali ini semuanya membuatku gila.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari sanggar. Aku duduk di tangga yang merupakan 'singgasana' atau tempat sakralnya seluruh angkatan Rajawali-Rafflesia. Hanya anggota Rajawali-Rafflesia yang berhak duduk disitu. Itu seperti kehormatan, bagaikan tongkat, lambang, banjar tempur, yel yel, mars dan juga sanggar.

Tiba tiba Winu datang dan duduk di sampingku. Aku mendengus kesal. Aku tidak menyukai Winu karena Winu cukup dekat dengan gadis itu.

"Gue tau lho Ges, sebenernya lo suka kan sama Titi?" Tanya Winu sambil cengengesan. Aku menoleh lalu menatapnya heran. Entah untuk apa tatapan itu tapi aku bingung sekarang. Aku sudah tidak bisa mengelak. Semenjak kejadian Truth or Dare waktu itu, semuanya sudah terlihat lebih jelas.

Mereka pasti sudah peka aku mulai menyukai dia.

"Gak usah ngelak dan nyoba nyari alasan buat bilang enggak, karena dari mata lo aja udah keliatan semuanya, Ges. Lo kena karma kan?"
"Ya.. As you can see, Win. Semuanya serba complicated. Mungkin cuman cerita gue yang paling absurd daripada Rajawali yang lain. Gue kayaknya udah sayang sama dia, Win."
"Kalo sayang tuh prove, Ges. Bukan speak doang." 
"Susah Win... Lagian ngapain lo nanya gitu? Bukannya lo suka juga sama Titi?"
Winu tertawa puas. "Nah lho bener kan dugaan gue, lo tuh careless. Gak mikir dulu. Gak semua kedekatan orang bisa menjadi patokan apakah orang itu jatuh cinta atau tidak."
"Ya berarti kayak Titi dulu ke gue dong hahahaha."

"Ya bisa dibilang gitu. Dia cuman terlalu bingung ngebedain perhatian lo karena elo sama dia udah deket. Membedakan perhatian sahabat atau cinta emang sulit. Sama sama intim."
"Dulu gue gak sadar betapa berharganya dia. Setelah kayak gini, gue baru sadar..."
"Nah tuh karma satu."
"Dulu gue selalu bilang gak bakal jatuh cinta sama dia. Setelah jauh, gue baru sadar..."
"Nah tuh karma dua."
"Seneng banget ya lo Win ngitungin karma gue?"
"Ya kalo cowok tuh kena karma bukannya ciut, tapi maju buat dapetin dia. Lo sayang kan sama dia, Ges?"

"Sayang sih pasti, Win. Cuman dianya tuh udah cuek ke gue."'
"Fix karma ketiga. Elo sih suka cuekin dia."
"Ya gue mikir buat lupain dia, tapi kok malah jadi makin inget inget aja ya... Udah gitu gue dulu tuh berasa buta, gak bisa liat setulus apa cintanya sama gue."
"Ya dulu lagi deket sama dia bukannya mikir kalo semua yang dia lakuin tulus buat elo, malah dianggurin gitu aja. Bego tau gak sih, Ges."
"Nah sekarangnya udah gak deket, jadi dia gak suka lagi kan sama gue? Bagus banget dia move on pas guenya udah mulai suka..."
"Siapa bilang dia move on? Asal lo tau, dia tuh punya 72 alasan untuk tetep bertahan di elo walaupun elo cuek mulu sama dia."

Aku menatap Winu keheranan. "Jadi dia masih di gue gitu, Win?"

Winu tertawa kecil. "Ya gak tau deh, kayaknya mau move on juga."
"Hah? Ke siapa? Jangan gitu jangan!"
"Lah, emang kalo dia gak move on lo mau maju, Ges? Bukannya lo cuman nganggep dia sahabat doang ya?"

Skak mat. Winu tertawa. "Denger denger lo lagi deketin cewek kelas 7, ya?"
"Dari mana lo tau?"
"Ya siapa lagi kalo bukan dia yang ngasih tau gue?"
Aku memutarkan bola mataku. "Dia? Dia masih perduli gitu sama gue?"
"Ya masihlah, secuek cueknya dia, dia tuh sayang banget sama elo. Jadi ngapain lo deketin tu cewek?"
"Jujur apa bohong?"
"Jujurlah."
"Iseng. Mau lupain dia, eh malah makin kepikiran."

"Karma lo, Ges! Hahahaha." Tawa Winu meledak lagi.
"Eh tapi, Win.. Apa salah satu alasan dia masih tetep di gue? Eum, maksud gue, gak move on. Soalnya gue liat dia udah move on, ah..."

"Tujuh puluh dua alasan yang dia punya sama semua kali. Sama sama karena satu hal yang menurut elo mungkin konyol, tapi itu yang buat dia bertahan. Karena cuman elo yang bisa bikin hujan terasa hangat buat dia, Ges."

Aku tersentak. Jadi... Maksud dari SMS Titi selama ini itu karena.......

Sial, aku tidak boleh kehilangan cewek ini!

Sender: Rafflesia-Titi
Tu.. Hujan.. Hujan nya air. Disana hujan juga ga?

***


NABILA TAZKIA'S POV

"I knew you were trouble when you walked in, Nab!" Seru Shelly saat mendengar ideku untuk Yara. Aku tertawa kecil. 
"Don't be afraid. We'll fix this trouble."
"Gak usah bikin masalah lagi deh, Nab. As you know, Yara tuh sensi banget."
"But we must to this, Shell. The last chance. Lo udah hampir 2 bulan lebih kayak gini sama Yara. Mau diem dieman mulu sampe Study Tour? Lo kan duduk sama dia."
Shelly menatapku gusar. "Lo yakin dengan cara ini Yara bakal maafin kita?"
"Sure. Kita cuman butuh prove ke dia. Elo prove kalo lo emang sayang beneran sama dia dan gue gak berniat buat misahin kalian berdua. Yara tuh orangnya gampang disentuh, Shell. Audit sama Ifa dan yang lain juga bakal bantu kita kok. Tenang aja."

"Gue ragu, Nab...."



Shelly menerawang jauh. Aku lalu memasang kaca mata hitamku.

"Just do what I say and everything gonna be allright. Trust me. I promise."

***

DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV


Ketika cinta dan persahabatan dipersatukan, yang tersisa hanyalah masalah. 

Setelah hari itu, tidak ada satupun di antara mereka yang menghubungiku. Aku jadi kalut sendiri. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Beberapa saat kemudian aku berfikir untuk mempertemukan mereka dan membicarakan semuanya.

Iya, hanya aku yang bisa memperjelas masalah ini.

Aku harus segera memilih. Mereka sudah terlalu lama menunggu dan menunjukkan semuanya padaku. Walaupun sebenarnya aku bimbang harus memilih yang mana. Keduanya sama sama berhasil mengambil hatiku.

Tapi... Cinta butuh kepastian bukan?

Aku harus memberikan kepastian itu pada mereka. Aku sama sama merasakan kenyamanan pada mereka namun ada rasa nyaman yang berbeda pada salah satu diantaranya. Lagipula kurasa mereka saling tutup mulut karena aku. Aku tidak ingin persahabatan mereka hancur karena aku. Tidak. I don't want to be a trouble maker. No.

Karena sepertinya, setelah kufikir lagi aku sudah tahu siapa yang harus kupilih.

Dia. Si pembuat masalah sebenarnya.


***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Akhirnya Alvan mau menemuiku.

Berkat Livia dan Vicky, akhirnya aku dan Alvan duduk di McD dengan 2 cheese burger, satu porsi kentang dan 2 Fanta Float berada di meja kami. Aku tersenyum kecil melihat kecanggungan diantara kami berdua. Diantara kami berempat memang hanya Alvanlah yang benar benar putus hubungan denganku. 

Aku berdehem memecahkan keheningan. "Kamu apa kabar, Van?"
Dia mendelik lalu mengangguk. "Baik."
"Let's make it easy, kamu tau kan apa maksud kita disini?"
"Aku gak mau ngomong, aku maunya dengerin kamu, Gan."
"Aku minta maaf atas semuanya. Semua kebodohanku, semua yang telah aku lakukan sehingga menyakiti kalian semua.. I'm so sorry."
"Great. Akhirnya kamu sadar juga."
"Would you like to forgive me?" Tanyaku pelan. Alvan tak bicara.
Aku menghela nafas. "Oh I see, I'm troublemaker."

Hening.

"Maafin aku Van. Apa yang harus aku lakukan lagi biar kalian percaya aku mau berubah? Van come on...."
"Kenapa nanya? Kami sebenernya udah percaya kok, tapi kami butuh bukti."
"Apa yang harus aku lakuin?"

Hening lagi.

"Think smart. Kamu ninggalin kita, kamu juga harus tau gimana caranya balik ke kita."
Aku menatap Alvan heran. "Maksudmu?"
"Kamu masih inget gimana caranya kita berempat bisa menyatu?"
Aku memutar bola mataku. "Karena aku mengenal kalian bertiga lalu aku mengajak kalian bertiga bertemu...."
"Jadi?" Alvan tersenyum licik. Aku memutar otakku. Aha!

Aku tersenyum sumeringah. "Trust me, Van. We'll getting back together, like ever."

***

RIANTHY APRILLIA'S POV

"Sampai kapan semua hal tolol ini akan kita lakukan, Yog?" Tanyaku kesal. Siapa sih yang tidak merasa kesal berpacaran dengan seseorang yang kita sukai untuk membantu dia mendapatkan cewek yang dia sukai?

Ini konyol. You're trouble, Yoga!

"Menurut kamu sampai kapan, Nthy?" Tanya Yoga sambil memakan mie-nya. Aku menatapnya geram. 
"Yoga, hello. Don't you see Valda udah ngerasain karmanya?"
"Menurut kamu gitu, Nthy?"
"Oh come on. Dia cuekin aku dan kamu sekaligus. Apa dia gak cemburu?"
"Jadi sekarang aku harus gimana?"

Aku terdiam. Aku ingin sekali mengejar Yoga lagi. Tapi melihat matanya yang berbinar binar setiap membicarakan Valda membuatku merasa aku memang harus melepaskannya. Bukankah cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia?

Mungkin bukan Yoga orangnya dan aku pasti menemukan orang itu. Orang yang akan menempati hatiku ini. Aku juga tidak seharusnya merasa geram seperti ini. Bukannya aku yang menawarkan diri untuk membantunya?

Tidak, aku tidak boleh begini. Aku harus ikhlas.

"Terserah kamu. Kurasa dia mulai punya pikiran buat move on. Tapi kalo aku jadi kamu...." Aku tak bisa bicara ketika melihat mata Yoga berbinar binar lagi. Ia menerawang jauh sambil tersenyum. 
"Yog? What's wrong?"
"Nthy, I guess.. Kamu harus siap kalo sebentar lagi kita akan putus." Katanya sambil tersenyum lebar. Aku mengigit bibir bawahku.

Oh yeah, I need to move. As soon as possible.

***

RIZKI RAHMADANIA PUTRI | TITI'S POV

Tiga hari lagi menuju CT dan Study Tour.

Tour Vancouver kali ini sangatlah panjang. Setelah 3 hari ikut CT, esoknya kita langsung berangkat menuju Jawa Timur untuk Study Tour selama 5 hari. Ide bagusnya adalah aku akan refreshing sebelum Ulum namun ide buruknya aku adalah panitia CT dan Study Tour sekaligus.

Ini sukses membuatku gila.

Terlebih lagi aku yang harus menghapal yel yel Rafflesia Arnoldi untuk membawa obor saat api unggun nanti. Belum lagi aku yang mengurusi perlombaan pada acara Study Tour. Dan yang paling parah adalah hatiku yang sedang hancur.

Kurasa aku dan Gestu sudah membicarakan semuanya walaupun belum jelas saat truth or dare waktu itu. Walaupun sebenarnya aku masih belum puas karena belum ada kepastian dari dia, tetap saja aku sudah bisa menyimpulkan sesuatu yang buruk dari perkataannya saat itu.

Aku hanya berharap. Gestu tidak pernah mencintaiku juga.

Kurasa pensiun nya Gestu dari game online bukan hanya karena dia sedang sibuk untuk persiapan ujian masuk ke Taruna Nusantara sekitar 4 bulan lagi. Tapi karena cewek itu. Entah namanya siapa, tapi kurasa dia adalah gadis idaman Gestu selama ini.

Siapa sih yang bisa membuat seorang Gestu Rosmayadi Asad terpaku pada Blackberry-nya kecuali orang yang dia sayang?

Dan kurasa manusia itu adalah cewek berikat rambut biru yang tadi sore Winu tunjukkan padaku. Aku bilang aku tidak perduli, padahal sebenarnya hatiku seperti tersayat sayat ketika mengetahui Gestu sedang asyik berbincang dengan gadis itu sementara ia sudah lama tidak bersmsan denganku.

Am I too care? Aku merasa seperti orang  bodoh ketika aku sadar dia sudah mencintai gadis lain dan bukannya berpaling kepadaku.

Jadi, setelah semua yang aku lakukan, setelah semua perjuangan dan penungguan yang telah kulakukan, apa yang aku dapatkan selain sakit hati dan siksaan yang tak kunjung terhenti?

Banyak hal yang  berkecamuk di kepalaku, namun hanya satu yang selalu membuatku merasa tak bisa melupakan Gestu. Hujan yang hangat. Hanya dia yang bisa membuatku nyaman bersama hujan. Hanya dia yang bisa membuatku merasa hujan yang ada terasa begitu  hangat.

I need to move on from this trouble.

Aku merasa Gestu seperti masalah untukku. Aku terus berjuang untuk dia, tapi dia terus menerus menyakitiku entah sadar ataupun tidak. Tapi kenapa aku terus menunggunya bahkan ketika aku tahu dia tak pernah melihatku?

Jika aku dibolehkan bertanya, aku ingin sekali bertanya pada Gestu. Walau aku tahu akhirnya aku pasti kecewa, tapi setidaknya aku akan lega apapun jawabannya. 

Kamu sendiri kan Ges yang bilang kalau kita mau sesuatu kita harus memperjuangkannya karena apa yang kita perjuangkan pasti mempunyai ujung dan kepastiannya. Aku terus menunggu dan berjuang, namun kenapa kamu tidak kunjung datang?

Apa setelah ratusan hari dan ribuan air hujan yang turun, aku tak pernah ada di hatimu?

Lalu kusadari, ini semua percuma. Sebesar apapun sayangku padamu, akhirnya toh kita tetap seperti ini. Tak akan berubah dan tetap menjadi kita.

Karena ku dan kamu memang terlahir hanya sebagai sahabat, tidak lebih. Begitu kan, Ges?

Seperti ada yang berbisik, tapi mungkin itu yang harus aku lakukan. 

Aku harus pindah hati.

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

Lagi lagi Ghorby tak memberi kabar padaku. 

Aku tahu betapa sibuknya dia sekarang, apalagi H-1 CT dilaksanakan. Tapi apa sih susahnya membalas pesanku? Aku tak mengerti, sebenarnya Ghorby serius tidak sih pacaran denganku?

Entah karena apa, aku langsung membuka playlistku dan mengirimkan sebuah lagu kepada Ghorby. Setelah itu, kutaruh blackberry-ku dan beranjak ke tempat tidur untuk membaca novel Heaven on Earth.

2 jam berlalu, tiba tiba led berwarna hijau tosca terlihat menyala.

Ah, Ghorby. Kamu kemana aja sih, sayang?

Kuraih Blackberry-ku lalu dengan sigap membuka pesan dari Ghorby. Beberapa detik kemudian semuanya terasa beku. Terlalu dingin untuk suhu 27 derajat. Air mataku tumpah. Tidak, Ghorby... Astaga bukan ini maksudku! 

Oh no. I'm the trouble.

Sender: Ghorby-Domba the shooter({})
Ma, ini udah keterlaluan. Kalo kamu ngerasa aku masalah buat kamu, kita putus.


To be continued...





You may also like

2 comments:

  1. Panjang banget adekkk..
    ya uda aku komen dulu aja.
    sudah itu aku baca [insyallah]
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih udah dibaca kakak. itu baru chapter 25, belum baca dari chapter 1 kan:"} #eh

      Delete

Leave me some comment! Thank you, guys:}