Who's the winner? #SeventyTwoKAlicers

Setelah 15 hari akhirnya... Hari penentuan tiba! :D

Sore, Alicers! Huffft. Project pertama 'give away' blog gue ini cukup sukses dengan 6 peserta kepo yang ternyata visitor setia blog gue. Setelah berhari hari galau karena kok gak banyak yang ikut kayak blogger lain dan masalah hadiah yang gue sendiri bingung kenapa mikir mau ngasih hadiah seperti itu... Akhirnya mendapat titik terang.

Percobaan 'berani mati' kali ini ngasih banyak pelajaran buat gue untuk bikin give away yang lebih simpel jadi banyak orang yang bisa ikut. Juga masalah hadiah yang 'gak adil' dan kayak gak ada perjuangannya karena yang akan didapat sama semua jadi kurang baik untuk sebuah kompetisi. Akhirnya gue memutuskan untuk membuat hadiah pemenang menjadi...

Juara pertama: Buku Speak Now + pulsa 5rb
Juara kedua: Pulsa 20rb
Juara ketiga : Pulsa 10rb
Juara favorite: Buku Speak Now

Mohon maaf atas kelabilan Titi. Tau sendiri kan gue ababil gila getooo B-)

Nah, sebelum akhirnya gue berkutat dengan soal ujian selama 10 hari ke depan, gue akan mengumumkan 4 orang kepo dari 6 orang yang mengirimkan jawabannya ke gue. Hiyaaat! Sesuai janji gue ke mereka, gue akan publish semua karya mereka yang mereka kirim ke gue. Let's check it out!

FYI: Buat fansnya Gestu Rosmayadi Asad dan teman sebangku tercintaku -Gestu, maaf ya ini Alicers pada dodol semua sampe ada 4 peserta yang ngirim short story The Reason is You pake tokoh gue sama Gestu-___- Oke, ini membuktikan bahwa fans lo makin banyak. Betul, Tu? =))




"Jadi, bisa dikatakan kalo lo selama ini holding on nothing, Ti?" tanya Farah setelah mengetahui ceritaku dengan Gestu.

Deg.

"Emm.. Gimana ya.."
"Kalo saran gue ya, Ti. Mending lo minta tuh kepastian ke seorang Gestu Rosmayadi Asad." kata Farah.
"Tapi kepastian macam apa yang harus gue minta, Rah? Sementara keadaannya kayak gini. Gestu sekarang menjauh dari gue." kataku.
"Lo suka sama Gestu itu bener-bener suka atau hanya penasaran aja?" kata Farah. "Ya apapun yang ngeganjel dihati Titinya aja sih." kata Farah lagi.
"Hmm... Oke deh, Rah! Makasih sarannya! Titi sayang Farah!" kataku lalu memeluk Farah.
Kalimat yang menancap padaku hari itu adalah,"Lo suka sama Gestu itu bener-bener suka atau hanya penasaran aja?"

***

Akhirnya, aku menemukan waktu yang tepat untuk mencoba, di hari dimana baiknya Gestu berlipat tujuh puluh dua kali, aku berani mengatakan sesuatu,

"Gestu!" panggilku. Lalu ia menatapku.
"Peka yuk!" ucapku. Akhirnya kukatakan.
Hening. Hening panjang.
"Peka apaan?" tanya Gestu.
"Ya peka, masa udah selama ini kamu nggak peka-peka sih." jawabku.
"Peka apaan? Emang peka tuh apaan sih?" tanya Gestu lagi.
Tanpa menjawab, aku langsung pergi.
Pura-pura tidak tahu padahal sebenarnya tahu itu menyebalkan. Basi.

Malamnya, aku menceritakan percakapan singkat itu ke Silvy, Ridho, Fadhel, Okky, Shifa, Farah dan Diva.

Sebenarnya maksud Gestu itu apa? Kenapa dia begitu?
Mulai banyak pertanyaan tentang kepastian Gestu di benakku.
Aku mulai menyesal kenapa tadi tidak langsung bertanya saja.
Tapi ini masalah hati 'kan ya?
Apa lebih baik aku menanyakannya pada Gestu ya?
Tapi memang aku terlalu lama menunggu dan menerka-nerka. Sebenarnya tujuan utammaku adalah tetap bersama Gestu. Maksudku, kembali berteman dan bercanda bersama kembali. Tapi mengapa ia menjauhiku? Apa salahku? Kenapa dia terlihat 'tarik ulur' kepadaku seperti ini?

To: Silvy
Gimana kalo gue 'speak now' ke Gestu, Sil?

From: Silvy
Kayaknya emang mendingan kayak gitu deh, Ti.

Hatiku mulai mantap untuk melakukan ini. Tapi bagaimana dengan resiko-resikonya? Bisa saja Gestu makin menjauhiku. Bisa saja ternyata Gestu tidak memiliki perasaan sama denganku. Tapi apakah aku memiliki alasan untuk tetap menyukai Gestu dan tetap menungguinya? Kurasa tidak.

Lalu, aku tersadar, aku sudah ada di dalam keadaan yang menjebakku. Dimana aku hanya bisa maju dengan penuh keberanian, mundur dengan perasaan galau atau tidak kemana-mana sama sekali dan menunggu.

Tapi hati juga butuh kepastian 'kan?
Hati tidak mungkin sanggup menyediakan ruang yang besar buat seseorang yabg tidak pernah benar-benar menempatinya.

Sebenarnya hatiku sendiri ini bagaimana maunya? Apa ruangan untuk Gestu menciut dan aku diberi izin untuk move on, atau...
Ia masih menyediakan ruangan itu?

Dari awal aku memang pesimistis. Gestu memang tidak pernah ada perasaan padaku. Walaupun ada, mungkin dia hanya memneritahuku dan tidak bisa jadian denganku.
Karena, aku tahu. Semenjak putus dari pacarnya 9 bulan lalu, dia sudah tidak mau pacaran.
Tapi, aku tidak pernah berharap menjadi pacarnya, karena aku yakin menjadi pacarnya bukanlah alasanku menunggu dia. Ada yang lebih dari itu.

Tapi tetap saja. Aku tidak bisa munadik. Aku juga perempuan 'kan? Jelas aku mau orang yang kusukai bisa menjadi milikku juga? Wajar 'kan?
Lalu aku mengambil HP ku.

To: Gestu Rosmayadi Asad
Hai Gestu. Besok Titi mau ngomong.
Bisa ya?

Sent.
Tidak dibalas.
Haha, sesuatu yang bisa diomongin besok, tetap tak usah buang pulsa ya, Ges?
Gestu Rosmayadi Asad tidak pernah berubah.

Paginya, aku menulis surat untuk Gestu.  Yap, bentuk tindakan nyata jika tak ada lagi yang mendengarmu. Dan suatu bentuk tindakan nyata yang bisa kuperbuat sekarang. Di dalam surat ini, aku menulis banyak sekali majas, yang jelas isinya aku menceritakan betapa aku menyayanginya, tanpa kuketahui alasannya.

"Gestu! Gue mau ngomong deh, sinian bentar aja." kataku sambil menggengam surat itu.
"Apaan?" tanya Gestu lalu menghampiriku.
Lalu, kian banyak teman-temanku yang menyorakiku sehingga membuat rasa takutku menampakkan dirinya.
Lalu, aku hanya menyodorkan surat itu dan pergi.
Juga berharap.
Semoga di hatinya... Ada aku juga.
***
"Titi!" panggil Silvy. Di dekat Sanggar Pramuka. Dan Silvy bersama... Gestu.
Aku terdiam. Dalam hati, aku merapal doa.
"Rizki Rahmadania Putri! Sini!" panggil Silvy kembali. Aku pun menghampiri mereka.
"Titi ngga mau njelasin surat ini?" tanya Gestu kepadaku. Ini adalah penentuannya. Aku menghela nafas.
Lalu, aku mencoba menjelaskan semuanya pada Gestu, sedetilnya. Aku tak ingin kesempatan ini terbuang sia-sia. Jadi aku menanyakan pertanyaan yang selama ini kupendam,

Sebenernya Gestunya ke Titinya itu gimana?

"Sebelumnya, apapun yang gue omongin lo jangan marah ke gue," kataku.
"Iyaa siap tenang aja,"kata Gestu santai.
"Jadi ya.. Gue nanya. Sebenernya lo ngerti gak sih masalah peka pekaan kemarin?" tanyaku.
"Ngerti... Hehehe,"
"Terus kenapa pura pura nggak tau?"
"Ya... Hehehe, maaf, peace, ampun, ampun, damai," ucap Gestu.
"Oke, gue mau nanya. Elo udah tau?"
"Tau? Udah sih..."
"Dari kapan?" tanyaku lagi.
"Dari waktu November..."
"ASTAGA! ITU LAMA BANGET."
"Hehehe iya ada yang ngasih tau waktu itu, Ti." kata Gestu.
"Jadi selama ini udah tau dan lo nggak bilang sama gue?"
"Habis dikiranya cuman becandaan," jawab Gestu.
"Astaga. Gue serius. Gue udah lama banget ngerasa lebih ke elo. Lama banget." ucapku.
"Ya nggak tau, dikiranya becandaan.." 
"Ish tau deh, ah."
"Hehe damai aaaah.." kata Gestu.
"Ya gimana bisa damai coba. Gue stuck di elo. Tau nggak sih gue 8 bulan tiap malem ngabisin waktu mikirin elo dan elonya gak peka peka? Itu capek,Tu. Capek." ujarku.
"Hohoho, Gestu gitu!" Katanya. Rasanya nafsu menyikutnya makin tinggi.
"Ishhh, kenapa sih ngeselin."
"Hahaha, ya maaf, Ti."
"Jadi, gue mau nanya. Sebenernya selama ini elonya tuh ke gue gimana?"

***
Dan, jawaban yang keluar dari mulut dia sudah kukira sebelumnya.
"Ya jujur ya.. Sebenernya gue nggak pernah ada perasaan suka atau apa dan gue sih cuman nganggep sebagi teman deket, enak diajak ngobrol. Udah gitu aja.." Ucap Gestu.
Tapi, kabar baiknya adalah, aku bisa berteman kembali dengan Gestu.

Tetap saja, aku ingin berguling dengan lumba-lumba.
Dan juga, akhirnya, lagi-lagi, dan lagi-lagi ternyata aku jatuh cinta sendirian.
Gestu bahkan masih menganggapku bercanda menyukai dia.
Yang jelas sampai detik ini, Titi masih di kamu ya, Tu! Aku nggak pindah kemana-mana! Hehe.
Aku yakin kok, kalau sebentar lagi, akan ada kenangan yang bisa kukenenang nanti,10 tahun lagi atau 20 tahun lagi.

#SeventyTwoKAlicers


Mungkin bukan hari ini, mungkin nanti kamu akan mengerti maksutku…apa mungkin juga merasakan apa yang kurasakan ?mungkin,Ges.

                Led itu menyeruakkan warna merah terang tanda satu pesan atau mungkin bbm yang menganggu rasa penasaranku.Oh,ternyata bbm.Peluangku untuk mendapatkan broadcast itu 1 dan mendapatkan private message entah dari siapa itu nol,mustahil.Astaga!!!aku salah. Gestu.

Ti,peluang itu…apa ?

Oke,pertama aku shock dan kedua aku bingung bagaimana mau membalas bbm yang sudah terlanjur ku read itu.Bukan,bukan karna tak mengerti,tapi....rasa ini sungguh tak terbendung.

Peluang itu ada yang pasti terjadi 1 atau mustahil 0

Jawaban yang jaim tapi percayalah itu modus.Aku ingin melihat seberapa jauh Gestu membutuhkanku.

Oh okesip.

Kesimpulannya,mengabaikan Gestu-orang tidak peka seseantro spensa- seperti berkata 
jangan terkam pada harimau yang sedang memangsa seekor rusa.Tidak ngefek sama sekali.

Ngerti Tu ?
Engga hehe,contohnya gimana
Tuhkan..Gini misalnya ada suatu kejadian dia mempunyai 2 kemungkinan, Pasti terjadi atau 1 dan tidak mungkin/mustahil atau 0.Misal kamu suka orang,kemungkinan dia suka kamu balik atau 1 dan menolakmu mentah-mentah atau 0.
Oh gitu…mending tetep jadi kemungkinan aja atau 2,walau susah turun ke angka satu tapi jangan sampai itu 0.OKESIP!thanks ti.
Ih…gabisa gitu dong.Itu namanya ngegantung,yang pasti-pasti aja,Iya apa engga,kalo emang engga yaudah move on aja.
Emang move on gampang ?cie titi jago move on
Shit.Ini ngodein malah diskak gini.
Eh gak gitu,maksutnya capek nunggu..capek ges capek #KODE!
Cie belum move on,move on gih..gaenak kan liat titinya karatan nunggu mulu hihi
IH GESTUU!!!ngeselin gak peka careless +++++++
Emang
Astagfirullah,tobat ges
O
***
“kemaren gestunya bbm titi loh hihi” kataku sambil mencomot trico yang baru saja kubeli dari koperasi. “seriusan Ti?ciee kemajuan tuh,baca dong baca”
 “Elah Ti,si Gestu ngeselin gini.Gak abis pikir Ti sama kamu,kenapa sih masih mau nunggu ? jelas banget Gestu itu gak bisa diharepin”
“I’ve no reason why I love him so,every single thingy on Gestu so unforgettable”
“Lo bisa bedain kan mana napsu mana sayang beneran Ti ?”
“Extremely YES!gue sayang sayaang SAYAAANG banget.mau bukti ?gue gak pernah malu buat kodein dia buat bilang gue suka dia,gue kejer terus sampe akhirnya dia mau nembak ataupun kalo engga dia suka gua,minimal”
“kenapa gak lo aja yang nembak?”
“Nope!usaha gue cukup sampe buktiin kalo gue sayang dia aja,masalah nembak bukan kodrat gue.Usaha gue hasilnya ya disitu,apa respon Gestu,kalo gue yang nembak sama aja bo’ong.napsu doang”
“Okesip Ti!awalnya gue nganggep lo bego tapi ternyata engga,you just another simple girl who have a super heart”
“Ah udah biasa,Sil. It’s not about people said,it’s all about how much my sacrifices to make it stand for it ;)”
Love will find their,why even thought it looks hard & impossible.Keep fighting ,believing and stay strong !

#SeventyTwoKAlicers






Kata Maaf Terakhir

Gestu hanya terdiam. Tak ada kata. Sedikitpun. Suasana menjadi sangat canggung. Aku terdiam, menunggu apa yang akan Gestu katakan. Tidak satupun dari kita berdua yang berani memulai pembicaraan ini. Sunyi, sepi, bingung, sedih perasaan semua menjadi satu.

Gestu adalah kekasihku, ia memang pendiam dan cuek, biasanya dia tidak sedingin ini kepadaku. Sungguh. Aku tidak mengerti padahal selama ini aku selalu mengalah, aku selalu mengerti keinginannya, apa salahku sekarang ? andai Gestu mau mengatakan apa yang membuat dia bersikap sedingin ini aku mungkin sudah merubahnya.

Kami memang memiliki beberapa masalah belakangan ini, masalah yang yaa.. cukup kecil, tapi jangan salah, kalau Gestu sudah beraksi, masalah sekecil apa pun bisa menjadi masalah yang sangat besar.

Penah Gestu sangat marah padaku, waktu istirahat aku bermain dengan Ridho, yaa dulu kami memang memiliki sebuah hubungan, tapi itu DULU. Gestu terus menyalahkanku, memaksaku untuk mengakuinya, hingga akhirnya meminta maaf. Maaf ini bukanlah maaf yang pertama kali, aku sudah sering, cukup sering untuk meminta maaf kepadanya, yaa mungkin dia memang egois, tapi aku tidak mau dan tidak akan pernah menyalahkannya, karena Titi sayang Gestu. Sayang sekali.

Sungguh. Aku tidak bisa. Aku tidak mau kehilangan kamu, Ges. Kamu sudah terlalu banyak memberi harapan padaku yang pada akhirnya kau juga yang menghapus harapan itu.
Lagi-lagi kemarin Gestu marah kepadaku, gara-gara aku lupa mengucapkan ‘selamat pagi’. 

Oh god! Gestu Rosmayadi Asad! Ngertiin dikit, aku sibuk, karena kemarin aku menjadi petugas bendera. Gestu marah, dia tidak menyapaku, pulang sekolah kami berbicara tentang ini. Seperti biasa ia tidak mau disalahkan, akhirnya aku yang meminta maaf lagi padanya. Gestu egois. Titi ga suka Gestu kaya gitu! Malamnya ia marah karena aku mentionan dengan Ridho, karena sudah terlalu malam untuk bertengkar, aku langsung meminta maaf.

Yaa cape. Sungguh berat. Tapi aku sudah terlanjur sayang. Aku tidak bisa meninggalkanmu, Ges.

Suasana masih sama, aku memberanikan diri untuk memulai semua..

“Hm, Ges ?”
“Iya Ti ?”
“Hmm, gimana kemarin By One nya ?”
“Lancar Ti hehe..”
“Ges, Titi mau nanya boleh ?”
“Apa ?” sikap Gestu mulai dingin kembali.
“Hmm.. Gestu hari ini cuek deh ke Titi. Gestu kenapa ?”
“Titi tau kan, sifat Gestu tuh emang gini ?”
“Tapi semuanya beda Ges”
“Beda gimana sih Ti ? Gestu biasa aja”
“Beda Ges, beda. Jangan gini Ges, kasih tau ke Titi, Titi salah apa”
“Kamu ga salah apa-apa Ti”
“Kalau emang Titi ga salah, kenapa Gestu kaya gini ? kenapa Ges?”
“Ti, jujur, kamu milih aku atau Ridho ?”
“Jelas kamulah Ges. Apa sih yang ada difikiran kamu sampe kamu nanya kaya gini?”
“Kalau emang masih suka sama Ridho, gapapa Ti, Gestu mundur”
“Ga Ges. You! The one and only for me!”

“Gestu tau semuanya Ti, Titi masih sering ada kontak kan sama Ridho? Titi masih care  kan sama Ridho ? Titi masih...”
“Stop Ges! Listen to me! Aku sayang Gestu, please Ges, jangan kaya anak-anak gini! Ridho tuh masa lalu, lagian kita temen”
“Aku emang childish Ti. Temen ? it can be more. Kamu bisa suka lagi sama dia, atau kebalikannya kan? Gimana caranya biar aku percaya Ti?”
“Gini Ges, aku emang pernah suka dan sayang sama Ridho, tapi itu dulu, setahun yang lalu. Ges.. aku sayang kamu. Ngertiin aku, percaya aku”
“Aku ngertiin kamu ko Ti”

“Ngertiin ? apanya ? kita udah ngejalin hubungan sekitar 3 bulan, selama 3 bulan itu kita selalu ada masalah, dan hampir semuanya itu masalah kecil yang menjadi besar karna kamu yang terlalu sensitif. Dan hampir disetiap masalah aku yang minta maaf Ges! Kamu tau itu ga ? itu yang kamu bilang ngertiin ? sorry Ges, Titi ngomong kaya gini, jujur Titi cape Ges” Gestu hanya terdiam. Kulihat mata coklat besarnya terus berputar. Berfikir. Yaa, aku tahu Gestu baru sadar bahwa selama ini dia yang terlalu egois.

Aku menangis, menunggu jawaban apa yang akan Gestu ucap. Aku tidak sanggup lagi menahan tangisan yang terlalu banyak ini. Aku memutar tubuhku, lalu berlari, tetapi ada yang menahan, tanganku dipegang, oleh tangan yang sangat aku kenal, tangan yang pernah menolongku saat ku jatuh dilapangan, tangan yang menolongku saat kulit tanganku melepuh karna lilin batik, tangan yang selalu menghiburku saat memetik senar gitar. Tangan itu, Gestu Rosmayadi Asad. Ia menahanku agar tidak pergi meninggalkannya. Aku terdiam. Tidak membalikan tubuhku. Tubuhku kaku. Hatiku berdegup kencang. Gestu memanggil namaku dengan suaranya yang lembut, ia lalu berjalan kehadapanku. Aku tak sanggup melihat matanya, tak sanggup melihat tatapan yang begitu tajam.

“Rizkirahmadania Putri, maafkan aku, aku terlalu egois. Aku memang kekanak-kanakan. Aku memang belum bisa mengerti perasaanmu. Maaf Ti. Aku memang tidak sempurna. Aku.. Aku.. aku salah Ti, kamu ga salah. Aku baru sadar, selama ini kamu yang selalu mengalah. Aku selalu ingin dimengerti tapi aku ga bisa ngertiin kamu, aku selalu ingin dipercaya tapi ga bisa mempercayai kamu, aku selalu ingin dimaafkan, tapi aku sendiri ga bisa memaafkan. Titi jangan pergi yaa dari Gestu. Gestu sayang Titi! Sayang banget!”

Kalimat itu ‘Gestu sayang Titi’ kalimat yang aku tunggu. Aku benar-benar tidak bisa berbicara. Tubuhku sangat kaku. Hati ini... rasanya.. abstrak.. entahlah, apakah ini senang atau terharu. Sungguh abstrak.

“Hmm, iya Ges gapapa ko, Titi juga sayang Gestu”kataku dengan suara yang sedikit gagap. Gestu langsung memeluk ku. Saat itu pula turun hujan, mungkin langit ikut senang melihat kami berdua yang sedang senang.

“Ti, Gestu sayang Titi, Titi sayang Gestu. Kita bakal selamanya bersama kan ?”
“haha Gestu bisa aja... iya Ges, selamanya!”
“Aku anterin kamu pulang yaa”
“Ga usah Ges, aku pulang sendiri aja, hati-hati yaa Ges”
“Okee, kamu juga yaa, laff Ti”

“Laff you too Ges!” Gestu lalu menyium keningku, dan pergi.

Setibanya dirumah, aku langsung menelfon Gestu. Tetapi, nomornya tidak aktif, hmm aku berfikir mungkin dia masih dalam perjalanan. Tapi selama itukah ? aku sudah menghubunginya 10 kali dalam satu jam. Gestu tetap tidak menjawabnya. Aku mulai khawatir, jantungku berdegup sangat kencang. Entah mengapa, tiba-tiba banyak kenangan yang terlintas diotakku. Hujan tak kunjung berhenti, membuat hatiku semakin bimbang. Akhirnya ada telfon masuk. Itu adalah nomor Gestu, tetapi setelah diangkat anehnya bukan Gestu yang berbicara, akan tetapi itu adalah Bundanya. 

Setelah menerima telfon, aku langsung jatuh tak berdaya, aku menangis, Mamah langsung menghampiriku, dan menenangkanku, tapi aku tidak bisa tenang dengan situasi seperti ini. Aku langsung berlari menuju rumah sakit dekat rumah Gestu. Aku berlari. Sesampainya didepan ruang UGD, Gestu sudah tiada. Gestu Rosmayadi Asad-ku. Kata maaf tadi siang, adalah kata maaf terakhir dari Gestu. Bye my lovely boy... you will always be in my hearts, Ges.



#SeventyTwoKAlicers



Bab 1
Megan,Vicky dan Alvan adalah 3 orang sahabat. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Sering kali kami bertiga ini dibilang kaka adik, karena memang kami sudah sangat dekat sekali. Kami juga bisa dekat seperti ini karena memang orang tua kami dulu nya sudah bersahabat. 
Sejak kecil Aku, Alvan dan Vicky memang selalu tinggal di satu kompleks yang sama, jarak antara rumah kami tidak terlalu jauh sekitar 3 rumah saja. Setiap pagi kami selalu berangkat sekolah bersama, biasanya Alvan yang rumahnya paling ujung selalu menyampar Vicky lalu mereka berdua menyampar dan menjemputku untuk mengajak berangkat bersama. Kami juga selalu berangkat menggunakan sepeda, namun biasanya aku di bonceng oleh Alvan. Dan percakapan inilah yang biasanya terjadi ketika sebelum berangkat sekolah~

Alvan : “Mah, Alvan berangkat sekolah dulu ya! “ 
Mamah Alvan : “Hati-hati ya. Oh iya kamu tidak berangkat bareng Vicky dan Megan?”
Alvan : “Ini mau jemput Vicky dulu habis itu baru sampar Megan” 
Mamah : “Oh ya sudah kalau begitu”
*ketika sampai di depan rumah Vicky*
Alvan : “ Vicky! Ayo kita berangkat, sudah siang nih, belum lagi kita jemput Megan!”
Vicky : “ Tunggu, sebentar lagi selesai”
Alvan : “ Oke, ayo cepat Vick! “
Vicky : “ Udah yuk berangkat”
*perjalanan menuju rumah Megan* 
Alvan dan Vicky : “ Assalamualaikum, Megan apakah kamu sudah siap? Ini sudah siang, nanti kita bisa terlambat”
Megan : “ Iya, iya ini aku udah siap ko, tunggu” 
Vicky : “ oke!”
Megan : “ Ayo Van,Vick kita berangkat ! “
Karena memang jarak rumah kita dengan sekolah tidak terlalu jauh, jadi waktu yang kita butuhkan untuk menempuh perjalanan pun tidak terlalu lama. Kita bertiga memang sudah satu SD, karena itu lah kami selalu berangkat bersama.
Tak terasa, kini kami sudah kelas 6 SD. Dan itu tandanya sebentar lagi kita akan menghadapi UASBN, nilai yang kita dapatkan nanti akan menentukan kita dapat masuk SMP mana. Kami selalu berharap semoga kami bisa satu sekolah bahkan satu kelas lagi seperti saat ini.
Megan : “ Van, gak kerasa ya udah kelas 6 aja nih … “
Alvan : “ Iya ya, Gan bentar lagi ujian deh. Gak bisa seneng-seneng lagi … “
Megan : “ Pasti ntar kita sibuk belajar terus, tapi kita jangan sampai lupa kebiasaan kebiasaan kita ya! “
Alvan : “So pasti Gan! Ngahahaha . oh iya Vicky mana ? “
Megan : “ Loh bukannya sama kamu ya?”
Alvan : “ Engga ko”
Megan : “ Oh mungkin lagi di kantin kali haha” 
Alvan : “ ah, iya mungkin ngahahaha”
Kita bertiga sudah sepakat nanti kita akan masuk ke SMPN 1 Cirebon, letak SMP itu juga tidak jauh dari rumah kami, sehingga ketika nanti kami bisa masuk SMP tersebut seperti biasa kami bisa berangkat dan pulang bersama-sama.
Vicky : “Gan, Van nanti kalian bakal masuk SMP mana?”
Megan : “ Duh, Vicky jangan ngomongin SMP ah sedih tau …. “
Vicky : “ sedih kenapa gitu ?” 
Alvan : “ pasti karena kamu takut kita pisah ya ? “
Megan : “ hehe, iya Van… “
Vicky : “Duh Megan jangan mikir gitu deh, kita bakalan selalu bareng ko, beneran deh “
Megan : “ Bener? Vicky sama Alvan gak bakalan lupain Megan nanti? “
Alvan :” beneran deh. Sekalipun nanti kalau ternyata kita tidak satu SMP” 
Vicky : “ deuh, Alvan jangan bilang gitu sih. Semoga kita bisa satu SMP gitu. Biar kalau berangkat sama pulangnya kan kita bisa bareng-bareng kayak SD terus”
Megan : “ iya nih, Alvan ko ngomongnya kayak gitu sih. Gak pengen satu sekolah sama kita lagi ya?
Alvan : “ aduh ya, Megan, Vicky aku tuh mau banget kita bisa satu sekolah lagi, Cuma tadi aku kasih pahitnya dulu gitu . ngerti kan ? “
Megan dan Vicky : “ hmm , oke lah Van,.. “ 
Alvan :” emang rencananya Megan, sama Vicky mau masuk mana ? “
Vicky : “ SMPN 1 !. kalian? “
Megan : “Vicky juga mau masuk situ? Megan juga juga loh! Hehe “ 
Alvan : “ jadi kalian mau ke SMPN1 nantinya? Ih kalian ngikutin aja haha, aku juga mau masuk situ nih!”
Vicky : “ wah berarti kita saingan dong nih? Haha “ 
Megan : “ ih apaan sih Vicky lebay banget, kalau saingan ntarnya jadi musuh jangan ah. Kalian berlomba-lomba aja nambahin ilmu pengetahuan kalian. Semoga kita masuk ke situ semua deh ya, hehe. Biar bisa bareng-bareng terus gitu! “
Alvan : “ ahahaha iya Alvan setuju banget tuh kata Megan!” 
Vicky : “ Iya Vicky juga setuju Gan!”
Megan : “ sip. Gimana kalau kita cari guru privat yang bisa ngajarin kita setiap hari gitu?”
Alvan : “jangan tiap hari juga otaknya bisa pusing itu mah “
Vicky : “ Kan biar masuk SMP 1 Van, iya gak Gan? “
Megan : “ yap Vicky benar tuh hahaha “
Bab 2
Besok adalah hari dimana kita akan mengikuti seleksi masuk SMP 1, karena SMP1 sudah RSBI maka diadakan tes . disana ada tes tertulis, wawancara, psikotes . kami sangat-sangat berharap kami bisa masuk. Pengumumannya akan diberitahukan seminggu setelah UASBN. Perasaan kami pun sangat gugup sekali. Tapi kami harus berusaha dan terus yakin kalau kami mampu masuk SMP1.
Saat tiba waktunya, kami harus menghadapi soal-soal UASBN. Gugup, grogi, takut . itulah perasaan kami saat megisi jawaban di lembar jawaban . semoga kami bisa ! 
Setelah seminggu UASBN hasil pengumuman pun akan di beritahukan. Kami akan diberikan surat, apakah kami LULUS atau TIDAK LULUS.
Vicky : “ Van, kita lolos gak ya … duh takut nih”
Alvan : “ duh selow aja Vick. Jangan grogi gitu, kalau gitu mah namanya udah pesimis duluan.”
Megan : “ kalian sudah dapat surat pemberitahuannya?”
Alvan : “ belum . Megan udah dapet? Gimana hasilnya?”
Megan : “Megan udah dapet nih.. tapi belum Megan buka, Megan mau buka bareng-bareng sama kalian, mau seneng-seneng bareng kalian…”
Vicky : “ yaudah yuk Van, ambil suratnya”
Alvan : “ yuk lah!”
Vicky : “ Gan, aku udah ambil suratnya nih! “ 
Megan : “ oke deh, mana Alvan nya? Udah gak sabar nih, semoga hasilnya memuaskan ya !”
Alvan : “ yaudah, yuk buka bareng-bareng satu… dua… tiga … “
*tiba-tiba terjadi keheningan diantara kami bertiga. Raut wajah Alvan dan Vicky sama sekali tidak bisa terbaca * 
Megan : “ Gimana hasilnya? Bagus kan? “
Alvan : “ aku …. Di… terima !!!”
Vicky : “ yah.. selamat ya buat kalian … “ raut wajah nya pun berubah 
Megan : “ Vick?! Kenapa?! Gimana sama hasilnya?! Jangan bilang …. “ todong Megan dengan cepat
Alvan : “ Duh Gan selow sih”
Vicky : “ Selamat ya buat kalian berdua karena …… kalian bakalan ketemu aku lagi disana !!! “ 
Megan : “ Vick? Aaahhh Vicky bikin kaget aja tau gak! Aku tuh udah sedih tau kalau kamu gak diterima.”
Vicky : “ hehe engga ko, aku Cuma mau kalian panic dulu haha “
Alvan : “ selamat Vick!! Kita bertiga lagi “
Saat surat pengumuman kelulusan SD dibagikan dengan sigap aku langsung mencari kedua sahabatku, Alvan dan Vicky. Namun, mereka tidak ada. Setelah aku menemukannya aku pun langsung bertanya bagaimana nilai nya? Dan ternyata …
Megan : “ kalian habis darimana aja sih, dicariin tau”
Alvan : “ dicariin siapa emang nya Gan?”
Megan : “ aku sih hehe. Gimana hasilnya ? Lulus semua kan?”
Alvan : “Lulus Gan, Megan gimana?”
Vicky : “ Lulus juga Gan hahaha” 
Megan : “ congrats! Megan juga lulus ko. Bagus gak nilainya?” 
Alvan dan Vicky : “ Bagus dong haha! “
Megan : “ Gak sia-sia belajar kita selama ini”
Vicky : “ iya, thanks Gan!”
Alvan : “ makasih banyak Megannn!!”
Bab 3 
Ini adalah hari pertama ku masuk SMP . hari pertama ku pula menjajah kan kaki di sekolah yang akan aku datangi setiap hari nya untuk belajar, namun kami belum mengetahui apakah nanti kami akan sekelas, lagi? Sekelas atau tidaknya yang penting kami sudah satu sekolah ko. Pertama kali kita langsung bersiap untuk mengikuti upacara . setelah melewati Masa Orientasi Siswa atau MOS kami dapat mengetahui akan masuk ke kelas mana kita nanti?
Vicky : “ Alvan, masuk kelas 7 apa?”
Alvan : “7G Vick, Vicky sih?”
Vicky : “ wah jauh, Vicky 7C. gimana sama Megan ya?”
*Megan yang tiba-tiba datang lalu memberitahukan semuanya*
Megan : “ Hai, sombong nih, kemana aja kalian?”
Vicky : “ kami disini aja kali Gan, kamu kali yang kemana? Habis darimana sih?”
Megan : “ hehe habis cari nama Vick. Vicky sama Alvan dimana kelasnya?”
Vicky : “ aku di 7C, Alvan 7G , Megan sendiri dimana?”
Megan : “ aku 7E, jauh-jauh ya … “
Alvan : “ Megan mah di tengah-tengah kelasnya, ke Alvan deket, ke Vicky deket. Alvan sama Vicky tuh yang jauh-jauhan”
Megan : “ iya hehe, jangan pada sombong nanti! “
Vicky : “ pasti!! Udah ya mau ke kelas dulu. Bye! Nanti pulang bareng ya! “
Alvan dan Megan : “Iyo!! “
Dikelas 7E Megan duduk sama anak perempuan, ia bernama Livia. Dia adalah anak pindahan dari Bandung.
Megan : “ Hai, aku Megan, kamu siapa?”
Livia : “ Hai juga, aku Livia .. “
Megan : “ dari sekolah mana ? hehe”
Livia : “ aku dari Bandung. Kamu sendiri?”
Megan : “ oh, luar kota hehe, ini aku dari SD Kebon Baru ko. Kenapa pindah ?“
Livia : “ soalnya papah aku pindah kerja, jadi aku dan keluarga ikut deh”
Megan : “ oh gitu.. sekarang tinggal dimana ? “
Livia : “ di Tuparev, kamu nya ?”
Megan : “ aku di Plered. Jauh hehe. Yaudah salam kenal ya Liv!” 
Livia : “ iya, aku juga ya .. “
Mereka pun lama kelamaan semakin dekat, Megan berniat akan memperkenalkannya pada kedua sahabat sejatinya. Semoga mereka mau menjadikan Livia menjadi sahabatnya ..
*saat bel istirahat berbunyi*
Megan : “ Liv, jajan yuk! Oh iya aku mau kenalin kamu sama sahabatku”
Livia : “boleh .. “
*ketika mereka bertemu dengan Alvan dan Vicky*
Megan : “ Alvan! Vicky! Jajan bareng yuk! Oh iya kenalin ini Livia, teman duduk aku. Livia, ini Alvan dan ini Vicky”
Livia : “ hai , aku Livia. Senang berkenalan denganmu”
Megan : “ kalian mau kan menganggap Livia menjadi sahabat kita?”
Vicky : “ hmmm, bagaimana ya ?”
Alvan : “ boleh saja,mengapa tidak?”
Vicky : “ haha bercanda. Ya tentu saja boleh Gan! “
Megan : “ Asik! Sekarang kamu bagian dari kita bertiga Liv”
Livia : “ terima kasih ya , kalian baik sekali”
Hubungan pertemanan kami berjalan sangat baik. Kami sangat menghargai satu sama lain. Aku,Alvan dan Vicky pun semakin dekat dan akrab dengan sahabat baru kami yaitu, Livia. Dia anak yang asik, dan mudah bergaul juga.
Tak terasa waktu terus berjalan. Sebentar lagi kita akan naik kelas 8. Rasanya waktu itu cepat banget berlalu. Sepertinya aku baru saja menjadi siswa SMP eh, tau-tau udah mau kelas 8 saja ..
Bab 4
Saat hari pertama masuk setelah libur panjang aku langsung melihat dimana kah namaku disitulah kelasku. Ternyata, Alvan,Vicky dan Livia pun tengah mencarinya. Aku telah menemukannya, tapi bagaimana dengan mereka? Sahabat-sahabatku ..
Megan : “ Hei semua! Gimana udah tau kelas mana nya belum ?”
Alvan : “ Udah Gan! Ini baru aja ketemu. Kamu dimana ? “
Livia : “ Udah juga nih hehe”
Vicky : “ Ah enak kalian, aku belum “
Alvan : “ Makanya punya nama huruf depan dong”
Megan : “ Selow aja Vick, nanti ketemu. Alvan sama Livia dimana?”
Alvan : “ 8F Gan, Liv”
Megan dan Livia : “ Ha? Ko sama?”
Alvan : “ Loh, kalian … juga?”
Megan : “ Livia 8F juga? “
Livia : “ Iya. Megan juga? Satu kelas lagi dong”
Megan : “ Iya asik, kita bertiga sekelas. Vicky udah ketemu belum? “
Vicky : “ Aku di 8F, kalian?”
Alvan, Megan dan Livia : “ Kamu juga Vick? Kita satu kelas !!!”
Vicky : “ Iya? Asik lah kalau gitu”
Mereka pun sangat senang, ternyata di kelas 8F datanglah satu murid baru ia bernama Nugroho. Ia adalah anak pindahan dari Yogyakarta. Nugroho sedari awal masuk kelas ini ia sudah dekat dengan Alvan dan Vicky, akhirnya mereka pun bersahabat. Tidak hanya dengan Alvan dan Vicky, Nugroho pun bersahabat dengan Megan dan Livia. Mereka sangat kompak. Perhabatan mereka tidak mungkin bisa diancurkan. Sampai suatu hari, ketika Alvan harus pindah sekolah. Semua yang selama ini sudah terjadi, persahabatan yang sangat erat kini satu persatu anggotanya telah pergi, kini kami sibuk dengan keperluan kami masing-masing. Tak ada lagi persahabatan yang sangat solid ini, lagi…


 #SeventyTwoKAlicers


TITI'S POV 

Tak tersa satu tahun sudah aku menjabat sebagai ketua OSIS. Rasanya tak ingin meninggalkan jabatanku serta seluruh kenangan bersama anak-anak OSIS dan MPK. 


Hari ini aku, Alda dan Silvy berencana membuat pengumuman untuk anak-anak yang berminat mengikuti OSIS dan MPK masa bakti yang baru. Dan minggu depan itu udah pemilihan MPK, ugh cepet banget yakk, yang jelas aku bakalan kangen semuanya hmm terutama bendahara MPK yang ke 1 #loh. 

Kertas demi kertas ku terima. Berisi data diri dan kesiapan untuk menjadi calon OSIS dan MPK masa bakti baru sudah terkumpul. Mengingat kertas ini semua, aku semakin tak ingin melepas jabatanku beserta semua kenangan yang udah kita semua lewati. 

Finally! Hari ini adalah pengetestan calon MPK, ya aku sih ikutan ngetest hahaha, sekalian modus dikit gitu sama mau tau calon MPK yang sekarang gimana hehehe. Aku dan beberapa anggota MPK mulai mengetest mereka sekitar jam 2.15 an lah, yang lain sibuk dan Gestu juga sibuk but dia sibuk memainkan Lost Saga nya itu, fokus sangat fokus. Jemarinya begitu lincah memainkan LS, matanya sangat terfokus pada satu arah yaitu laptop. 

"Ges, ih gimana sih? Yang lain tuh pada ngetest, kamu sendiri yang enggak! Kamu tuh MPK Ges" Kataku memarahi Gestu 
"Iya Ti." Hanya Iya yang dikatakan Gestu 
"Ih Ges, seriuslah!" Kataku sambil menutup laptop Gestu 
"Iya-iya." Kata Gestu 

Akhirnya Gestu pun menuruti kataku, iya mengetest, ya walaupun ngetestnya ogah-ogahan yang penting dia kerja ngebantu Alda,Izar,Ghorby,Ifa, dan Sulthan deh. 

"Oiya Aca mana Aca?" Tanya Alda 
"Les Da." Jawab Gestu 
"Duh les mulu Aca." Kata Ifa 

Lagi-lagi Gestu membuka laptopnya, kali ini Sulthan juga ikutan main LS. Gestu emang selalu susah diatur apalagi kalau udah berhubungan sama yang namanya Lost Saga, udah deh gak akan mau pisah, everyday LS. Uh Ges LS mulu, akunya kapan dipekainnya kataku dalam hati. Kali ini aku membiarkan Gestu bermain LS bersama Sulthan, habisnya sudah capek kalau bilangin Gestu untuk tidak bermain LS, aku diam Izar pun bertindak. Izar membanting sendalnya dihadapan Gestu dan Sulthan. 

"Eh kalau mau main LS gak usah ikutan ngetest lah. Yang serius coba." Kata Izar sedikit memarahi 
"Iya tuh Gestu." Kata Sulthan menyalahkan Gestu 
"Ye, ira juga kan?" Kata Gestu 
"Udah-udah. kalau yang mau ngetest, ya ngetest lah." Kata Alda 
"Iya Da." Kata Gestu menunduk 

Gestu pun mematikan laptopnya, dia memang berhenti bermain LS tapi dia gak ngetest. Ya, dia ngoprek-ngoprek tas aku, dan dia nemuin diary aku yang isinya semua tentang dia, tentang hal apapun yang berkaitan dengan aku dan dia. Ya you know lah, aku udah suka sama dia sejak kapan hehehe. 

"Ti, ini apaan?" Kata Gestu setengah berbisik 
"Diary aku hahaha." Balas ku dengan senyum lebar agak memaksa
"Jadi selama ini pulpen aku ilang gara-gara kamu? Kertas ulangan aku dipungutin kamu? Dan kamu masih nyimpen bungkus Tuck waktu rapat PORAK? Ya ampun Ti." Kata Gestu sambil menggaruk kepalanya 

Aku hanya diam tersenyum pada Gestu. Gestu menaruh diary ku di atas meja dan ia beranjak pergi dari ruangan ini sambil membawa ransel nya. Aku gak tahu apa maksud dari sikap Gestu seperti itu, yang jelas aku harap Greys-ku ngerti apa yang ada dihati aku untuk dia.


#SeventyTwoKAlicers




Nah! Gimana! Menurut kalian yang mana nih Alicers? Xixixi:p

Buat aku semuanya bagus & aku sangat senang & menghargai sekali semuanya mau pada ikutan! Dan dari semua jawaban mereka... Aku menyadari bahwa banyak sekali orang yang baca, kepo dan perduli tentang 'nasib'-ku. Lol:p

I mean, aku sangat berterima kasih dan bersyukur karena kalian semua sudah mampir ke Alice in Tipluk's World! Baca posting konyol dan cerbung yang masih amatiran. Nonton video atau dengerin soundcloud aku yang ancur banget. Thanks! Kalo gak ada kalian, gak bakal pernah ada 72K visitors:p

Sebelumnya, aku mau ngasih tau. Aku nilai murni karena jawaban & karya kalian (apakah sesuai dengan format atau tidak). Semua yang ikut deket sama aku dan aku gak milih milih lho ya. Aku ikutin kata hatiku. Dan.....

Oke, sekarang.. Saatnya pengumuman.

Juara pertama : Salsabila Ditrasti, 13 years old, Cirebon 
| ITWAM Readers
Juara kedua : Faroh Nur Alfani, 15 years old, Pekan Baru | ITWAM Readers
Juara ketiga : Annisa Novalia Bening, 13 years old, Cirebon | Reasonators
Juara favorite : Nexia Nevarachell, 13 years old, Malang 
| Alicers

SELAMAT SEMUANYAAAA! :D

Dan pemenang pertama & favorite berhak mendapat kiriman dari aku berupa...


Hehehe buat Santy & Kak Tiara terima kasih udah ikutan! Aku juga suka sama karya kalian hihihihi. Makasih buat semuanya yang udah dukung project #SeventyTwoKAlicers ! Senangnya bisa mencapai angka 72K visitors:}}}

Aku harap aku bisa terus nulis dan bikin kalian semua seneng, nyaman dan sering main kesini. Kritik dan saran selalu aku tunggu lho ya. Jangan lupa nanti order buku perdanaku di nulisbuku.com ! Aku bakal resmiin pemasarannya setelah fix 'barang' sekitar 3 minggu lagi:}

Yang menang dan dapet hadiah pulsa buruan sms ke 089697298487 supaya aku bisa cepet cepet ngisi pulsa kalian hihihi:}

Anywaaaaay sebelum aku kabur, aku buka Pre-order buku aku (Cirebon/Spensa only) dengan harga promosi Rp. 48.000,- + ongkir. Bukunya datang sekitar bulan Januari. Minat? SMS ke 089697298487 :}

I gotta go. Wish me luck on my exams. You too, good luck, wish us luck. See you later, Alicers!! ({})





You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}