The Reason is You chapter 27: Broken Vow

Karena kalimat I love you for a thousand more juga butuh bukti, bukan sebatas janji.

***


CT SPENSA 2012: 7 & 9 GRADE AT SIDOMBA, KUNINGAN

RISMA KHARISMAYANTI'S POV


Aku meraih iPod Classic-ku dan mendengarkan lagu berjudul Broken Vow yang semenjak sore kemarin tidak berhenti aku putar. Aku sudah putus dengan Ghorby. Aku sendiri masih kaget dan belum sempat cerita pada siapapun.

Ghorby.. Orang yang aku sayangi.. Kenapa dia memilihku lalu meninggalkanku? Kenapa?

"Gue putus, Coy." Kataku sambil melepas headsetku. Keadaan tenda sangat sepi karena hanya ada aku dan Icoy di dalamnya. Icoy langsung menoleh dan menatapku dengan tidak percaya.
"What? Are you kidding me?" Tanya Icoy tidak percaya.
"Gue gak bercanda, lah. Kaget kan lo? Gue juga."
"Kenapa bisa putus sih, Ma?"
"Entahlah, Coy. Dia mutusin gue setelah gue iseng kirim lagu I Knew You Were Trouble-nya Taylor Swift gara gara dia sibuk mulu ngurusin CT ini. Gue udah nyoba buat baik baik ke dia. Cuman dia gak pernah ada perubahan, kayak masih stuck di Ninis."

Icoy menghela nafas. "Dan lo gak mau memperjuangkan dia?"
"Eum.... Ya... Mau Coy. Cuman, gue rasa gak ada gunanya. Ghorby kalo sayang sama gue juga pasti ngebuktiin. Tapi apaan? Mana pernah dia buktiin sama gue."
"Gak pernah atau elonya aja yang gak pernah ngerasa, Ma? Terkadang kita emang ada di saat dimana kita sudah diperlakukan seperti itu, tapi karena kita pengen lebih jadi gak pernah kerasa. Mangkanya jangan terus terusan liat ke atas."

"Tapi, Coy.. Gue cuman butuh bukti, bukan cuman janji yang ujung ujungnya gak ditepatin. Rasanya kayak gue tuh jadi pelarian buat dia tau gak sih.."
"Ma.. Masalah kayak gini mah udah biasa, lo kayak baru pacaran sekali aja. Yang dibutuhkan dalam hubungan tuh cuman kepercayaan dan pengertian. Lo pacaran deket aja kayak gini, gimana kalo jauh kayak gue sama Nug?"

Ups. Icoy ada benarnya juga. "Jadi gue harus memperjuangkan Ghorby lagi, nih?"
"Ya kalo lo sayang, kenapa enggak? Paling enggak biar lo putus sama dia gak keputusan sepihak gitu. Syukur syukur bisa balikan."
"Ah, amin deh.. Eh elo sama Nug gimana? Bentar lagi setahun kan?" Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan supaya aku tidak terlalu memikirkan Ghorby. Icoy menghela nafas lalu membuang muka.

"Gak tahu, gue gak mau ngurusin dia lagi. Gue mau move on."
"Eh? Ya ampun, Icoy! Segampang itukah elo bilang mau move on setelah elo sudah menghabiskan banyak waktu bareng sama Nugroho?"
"Lo liat gak sih Ma dia juga memperlakukan gue seperti gue adalah orang yang paling mudah dia lupakan setelah sekian lama?"

Aku terdiam. Seingatku Winu beberapa hari yang lalu bercerita padaku bahwa Nugroho akan datang saat Vancouver dalam tripnya untuk kembali meminta Icoy menjadi pacarnya. Namun sekarang Icoy berfikir untuk move on dari Nugroho?

Mungkin aku juga akan berfikiran sama dengan Icoy jika berada diposisinya. Candaan dari Nugroho memang saat itu terlalu kejam dan membuat Icoy sudah tidak tahan lagi dan setelah itu Nug tidak pernah mengabari Icoy lagi. Itu semua membuat Icoy semakin geram bukan? Wajar saja jika Icoy berfikiran untuk melupakan Nugroho.

Tapi aku bingung. Apa semudah itu orang orang melupakan pasangan yang lamanya setelah sekian lama mereka menjadi alasanmu untuk bertahan hidup lebih manusiawi daripada biasanya?

"Nih, Ma dengerin gue.. Yang namanya cinta selama masih ada kesempatan, ya kejer terus. Jangan berhenti apapun yang terjadi karena sekalinya lo berhenti, lo bakal kehilangan kesempatan kesempatan yang belum tentu ke depannya bisa lo dapetin. Jadi lo mending coba perjuangin dulu ke Ghorby daripada perasaan lo di gantung gitu. Masalah move on.."

"Gue yakin Coy lo masih sayang kan sama Nug? Terus ngapain lo nyari orang lain? Kan lo sendiri yang nyuruh gue buat memperjuangkan Ghorby..." Kataku keheranan. Icoy tersenyum kecil.

"Gak, Ma. Move on gue bukan nyari orang, tapi berhenti mikirin orang dulu. Lo bener, sebenernya gak mudah melupakan seseorang yang sudah lama berada di hati kita. Tapi untuk apa kita terus bertahan bagi seseorang yang sudah melupakan kita? Berasa orang bego aja kan? Jadi gue putuskan untuk mengakhiri semuanya, Ma. Karena gue juga punya hati dan hati gue keburu sakit duluan buat memperjuangkan lagi perasaan gue yang sebenernya masih bejibun ke Nugroho."

"Tuhkan, masih sayang.. Perjuangin dong, Coy."
"Dia janji sama gue, Ma. Janjinya banyak banget dan saat gue sadar, semuanya failed. Broken vow."


***

TIARA ANNISA ADHI MAULIDANTHY'S POV

Setelah lomba masak, aku segera masuk ke dalam tenda dan menghindari bertemu dengan Shelly yang baru saja kembali setelah mengambil makan siang. Aku memutuskan untuk tidur saja supaya nanti sore saat Game Zone di komplek Sidomba, aku tidak terlalu capek.

Aku melirik jam Casio-ku. Di sana tertera tanggal 1 November 2012. 5 hari lagi aku berulang tahun dan tepat berada di Bromo dan Batu Night Spectacular saat Vancouver Tour. Aku menghela nafas menyadari usiaku yang sebentar lagi beranjak 15 tahun dan kini sedang bermusuhan dengan sahabatku sendiri. 

Ini semua terasa konyol.

Aku berada dalam satu tenda dengan Shelly namun kami tak bicara bahkan ketika tempat tidur kami bersebelahan. Aku merindukan Shelly, hanya saja..... Ah, aku baru sadar. Shelly sekarang sudah tidak dekat lagi dengan Nabila!

Apa yang terjadi pada mereka? Apa mereka bertengkar? Atau mereka sudah tidak akrab lagi? Atau Shelly merasa bersalah karena Nabila kami berdua menjadi jauh seperti ini? Tapi jika seperti itu ceritanya.. Kenapa Shelly tak kunjung datang kepadaku?

Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku sampai akhirnya aku menyadari angin begitu semilir menari nari di sekitar badanku yang terasa panas. Kuputuskan untuk memejamkan mata setelah memasang alarm untuk membangunkanku sekitar 1 jam lagi. Lalu aku berbisik,

"Aku kangen Shelly."

dan mencoba untuk terbawa ke alam mimpi sambil berharap pertengkaran bodoh ini akan segera berakhir. 

***

ALDA ZERLINA AMELIA'S POV

Haekal, Lega dan Lita menjemputku secara paksa dan membawaku ke saung yang berada beberapa meter dari tenda grup-ku. Wajah Haekal terlihat suntuk, Lega berseri seri sementara Lita datar seperti biasanya. Dari kami berempat, memang hanya Lita yang tidak lagi memikirkan masalah cinta.

Aku sudah tahu masalah Haekal. Haekal yang dituduh okeh Ridho mengkhianatinya dan sudah lama berdiam diri karena Bani ini membuatku mati kutu ketika mendengar ceritanya tentang prediksi dari Mauren bahwa Bani kemungkinan akan memilih Haekal.

Aku tahuu jika aku bahagia aku sangat jahat sekali pada Ridho. Namun dengan begitu sainganku berkurang satu dan aku bisa berusaha untuk mendapatkan Ridho. Semoga saja doaku di kabulkan oleh Allah...

Sementara Lega sedang senang sekali karena ia sudah di terima oleh Silvy. Namun ia masih tidak enak hati dengan Alvan yang kelihatannya beberapa kali sedang menggalau karena Silvy. Tapi aku pribadi tidak enak hati pada Faisal.

Iya, Faisal Abdul Majid sampai detik ini masih menyukai Silvy walaupun Silvy sudah bersama Lega. Tapi aku merasa Silvy tidak begitu bahagia bersama Lega. Berbeda saat ia sedang bersama Faisal.

Haekal memilih duduk di sebelahku sementara Lega dan Lita duduk di hadapan kami. Aku menatap mereka keheranan. Jika sudah dalam keadaan seperti ini, apalagi yang akan keluarga Setiadharma bicarakan selain gossip terhangat seputar kami berempat?

"Jadi, ada gossip apa hari ini?" Tanyaku sambil membuka kotak makanku.
Wajah Haekal memerah, panik. "Tadi pagi pas banget nyampe Sidomba, Bani nyamperin gue terus ke Ridho juga, Al. Dia minta kita bertiga ngumpul besok malem di tengah tengah acara Api Unggun."
"Wah, bagus dong Kal! Semoga aja dia milih elo!" Seruku.

"Tapi bisa juga dia gak milih dua duanya, Kal.." Kata Lita dengan wajah innocent.
"Litaaa! Tega banget lo!" Seru Lega. Lita cengengesan.
"Elah, gue cuman ingetin doang kok."
"Menurut lo gimana, Al? Lega sih prefer Bani milih gue, Lita bilang kayaknya Bani gak milih.. Nah elo?"

"Hati lo sendiri bilangnya gimana, Kal?"
"Gue bingung, Al. Soalnya saingan gue itu sahabat gue sendiri."
"Ganjen sih sukanya sama gebetan sahabat."
"Ya siapa yang tahu coba masalah cinta?" Tanya Haekal kesal. Lega tertawa kecil.
"Kayaknya Bani milih elo deh, Kal.." Kata Lega lagi.
"Kalo kata gue, sekarang lo gak perlu nanya kita bertiga kira kira Bani milih siapa, Kal. Lebih baik lo fokus sama lomba di CT, tampilan lo besok di pensi Api Unggun dan berdoa yang terbaik aja...."

"Lo kok tenang banget sih, Al? Ini hidup matinya gue!"
"Lah, emang kalo Bani gak milih lo, lo mati gitu? Tenang, kalo bukan Bani yang ini, masih ada Bani yang lain. Woles aja...."
"Lo gak mau Ridho gak di terima Bani terus balik ke elo?"

Aku menelan ludah. Demi Tuhan aku mau! Tapi setelah aku pikir lagi, kenapa aku egois sekali? Bukankah Bani adalah orang pilihan Ridho? Kenapa aku malah begitu? Bukannya cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia?

"Karena gue sayang sama Ridho, gue harus ikhlas kalo Bani milihnya Ridho. Karena Ridho bakal bahagia sama Bani dan cinta seneng ngeliat orang yang dicintai bahagia, betul?"

Lita mendengus pelan. "Hah, gimana lo bisa hidup di tengah pemikiran klasik gitu, Al? Yang ada gak dapet dapet!"

"Cinta kan bukan aku sayang kamu terus pacaran yuk. Tapi aku sayang kamu dan ini cara aku ngebuktiinnya.... Apa sih pentingnya sebuah status daripada cinta yang seutuhnya?"

***

SILVY SANTIKA'S POV

Aku sengaja melarikan diri dari pengawasan Garuda-Gardenia 27 di acara Game Zone CT sore ini setelah berbicara panjang lebar dengan Rafflesia 26. Mereka membuatku bimbang dengan perasaanku ini.

Aku merasa, sepertinya aku tidak bahagia dengan Lega.

Kalimat itu terdengar menyakitkan memang, apalagi kami baru jalan 2 minggu. Tapi perasaanku pada Lega memang nyaman, namun hanya sebatas teman. Beda sekali. Aku tidak menemukan perasaan lain seperti saat aku bersama Alvan.

Aku tertawa kecil. Alvan. Apa kabar dia? Kami berdua layaknya orang asing sekarang. Berada dalam lingkungan yang sama, tapi tak pernah saling bicara. Dulu dia bilang kami lebih enak sebagai sahabat. Nyatanya? Dia tidak pernah memperlakukan aku seperti sahabat lagi.


So many broken vows around us. Now he just somebody that I used to know.

"Duh, Silvy sendirian aja!" Seru seseorang dari belakang. Suaranya agak samar. Ah, jangan jangan....

Bukan. Bukan Lega. Dia Faisal!

"Silvy mau Isal temenin? Kayaknya kesepian...."

Duh, kenapa aku malah deg degan seperti ini?

***

AFIFAH BINTANG UMARIZKA AZZAHRA'S POV

"Lo masih sensi sama Audit, Fa?" Tanya Valda sambil memakan roti isinya. Aku menoleh lalu tersenyum masam.
"Biasa aja sih. Pacar doang kan? Ngapain dipikirin ribet ribet. Dia suka sama yang lain juga terserah."
"Ih, kok elo gitu sih, Fa..." Valda mengerang, erangan khasnya. Aku hanya tersenyum.

Aku sudah tidak mau memikirkan Audit yang hanya memikirkan Yara atau apalah, sudah cukup. Aku tidak perduli lagi. Kalau Audit sayang padaku, Audit akan terus bersamaku apapun yang terjadi. Walaupun sebenarnya aku masih dan akan selalu cemburu pada perhatian Audit pada Yara.

Kalau aku terus perbesar masalah, tidak akan selesai juga kan?

"Fa... Gue mau cerita." Valda menegakkan bahunya. Aku tersenyum kecil, pasti soal Yoga.
"Kenapa, Val?"
"Fa.. Gue berasa bego banget. Sekarang saat Yoga gak ada, gue malah nyariin dia Fa dan yang paling bikin gue sakit, pas gue nemuin dia, dia gak sendirian. Ada Rianthy di samping dia. Gue bego banget, Fa..."
Aku tersenyum kecil. "Nah, itu namanya karma. Kemana aja lo saat Yoga sayang banget sama elo?"
"Gue.. Gue takut friendzone, Fa. Gue takut banget.. Gue gak mau ternyata setelah gue berjuang, dia gak sayang sama gue juga."
"Lalu sekarang?" Tanyaku sok jutek. Valda mengerang.

I've told you, Valda. Yoga benar benar menyayangi dia. Tapi Valda tidak pernah percaya dan menganggap semuanya sebagai lelucon. Sekarang, ketika Yoga pergi.. Ah, benar saja dugaanku. Dia pasti akan seperti ini.

Karena aku tahu, walaupun dia mengelak jauh di lubuk hatinya, ia mencintai Yoga.

"Gue mau move on tapi..."
"Tapi lo gak bisa karena lo sayang banget sama dia, iya kan?" Tanyaku. Valda menangis.

"Tuhkan bener, lo bakal dateng ke gue sambil nyesel dan nangis.. Valda, lo nangis juga gak ngerubah apapun, Yoga udah sama Rianthy."
"Tapi gue sayang sama Yoga, Fa. Gue udah mencoba untuk move on, tapi gagal dan selalu berfikir untuk kembali..."
"Kalo gitu lo emang bener bener sayang sama Yoga, Val."

Valda mengerang lagi, air matanya sudah membasahi pipinya. Aku tersenyum kecil.

"Dengerin gue, kalo lo emang sayang sama Yoga, lo perjuangin dia. Lo tunjukin ke dia kalo lo sayang sama dia. Berusaha dan berusaha. Urusan apakah Yoga bakal balik ke elo apa tetep di Rianthy ya liat nanti aja. Tapi inget Val, kalo Yoga emang gak bisa balik sama elo, elo harus ikhlas kalo lo bener bener sayang sama dia, karena.."

"Cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia, iya kan? Thanks, Fa! Dukung gue ya!" Seru Valda sambil memelukku erat. Aku tertawa kecil sambil mengangguk.

"Of course I will help you, bukannya itu gunanya kita bersahabat?"


***

APRILLIA DINI'S POV

Baru saja aku dengar Esar move on ke Bella beberapa hari yang lalu dan kini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ia sudah menembak Bella. Mereka akhirnya resmi berpacaran. Esar menembak Bella di tangga pemisah kavling tenda Rajawali-Rafflesia sambil membawa bunga. Aku hanya bisa tersenyum kecil.

Bukan, bukannya aku cemburu pada Esar. Aku malah senang jika orang yang menyukaiku tetapi aku tidak menyukainya juga sudah menemukan orang lain yang bisa membahagiakan dia. Esar beruntung memiliki gadis seperti Bella.

Selain cantik dan ramah, Bella juga ulet dan senang memasak. Dia gadis yang sempurna untuk masa depan rumah tangga. Bella juga mandiri dan bisa menghangatkan suasana. Karena itulah para alumni menetapkan Bella sebagai Pimpinan Regu Rafflesia Arnoldi XXVI.

Ingatanku berputar ke masa Truth or Dare Jaffles yang membuatku mengetahui perasaan Esar dan Bhimo padaku. Aku shock hingga saat ini. Aku masih dan mungkin akan selalu kaget mengetahui seorang sumber suara Rajawali XXVI jatuh cinta kepadaku. Padahal kami berdua kan sudah bersahabat dekat.

Ah.. Iya. Sahabat. Friendzone. Hal ini pula yang aku rasakan pada Bhimo. Namun aku beruntung, ternyata Bhimo juga suka padaku. Tapi jika memikirkan itu lagi, dadaku menjadi sangat sesak sekali.

Semenjak Truth or Dare itu Bhimo jadi jauh denganku, dia menghindar dan aku sendiri tidak tahu apakah Bhimo serius dengan ucapannya saat itu atau tidak. Aku hanya menerka nerka sampai saat ini.

Dan akupun masih berharap, jika di perjalanan Vancouver ini, aku akan seberuntung Esar yang telah mendapatkan Bella sebagai sandaran hatinya.

***

NISRINA ARIJ FADHILA'S POV

Menghabiskan malam bertiga bersama pacar dan mantan pacar terakhirku tidak pernah menjadi agenda dalam perjalanan Vancouver ini. Kami bertiga menghabiskan 3 pop mie sambil duduk di ayunan dengan aku yang berada di tengah tengah mereka.

Aku dan Izar sedang menemani Ghorby yang baru saja putus dengan Risma kemarin. Ghorby memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka karena sudah tidak tahan dengan sikap Risma. Risma selalu saja cemburu dengan Ghorby karena dekat denganku dan itu membuatnya risih.

Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengar Ghorby yang berulang kali menyebut namaku saat bercerita pada Izar bahwa dia sudah tidak terlalu memikirkan aku lagi dan ingin fokus dengan Risma seorang. Sementara Izar hanya mengangguk angguk dan beberapa kali berdehem, aku hanya menatap Ghorby iba.

Aku menyangka dia akan bahagia dengan hidup barunya, tetapi tidak. Laki laki dengan jersey Chelsea itu kini sedang meratapi sialnya hubungan barunya.

Ghorby berkata bahwa ia ingin sekali membuat Risma percaya, tapi lama kelamaan dia lelah juga karena dia selalu menjadi orang yang disalahkan. Ghorby ingin kembali kepada Risma tetapi ia tidak bisa, ia tidak mau terus menerus membuat Risma lelah karena cemburu kepadanya.

Beberapa menit yang lalu ia bilang, "Nis sumpah aku sudah melupakan kamu. Tapi dia gak percaya, Nis. Aku capek banget. Padahal aku sayang sama Risma...."

Dan entah kenapa dari seluruh kalimat yang keluar dari mulut Ghorby, kalimat barusan membuat dadaku sesak. Entah sesak karena melihat Ghorby yang sengsara atau karena dia telah melupakan aku. Tapi ketika aku sadari, tempat untuk Ghorby di hatiku sudah berkurang, malah nyaris tidak ada sama sekali.

Tiba-tiba handphone Ghorby berbunyi, ia bangkit dan mengangkat telponnya. Izar memelukku erat sambil berbisik, "it won't happen to us. Trust me, Nis. I love you so much, more than anything."

Aku hanya bisa mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian Ghorby datang dengan wajah luar biasa kusutnya. Aku menarik nafas dalam dalam. Izar yang sedang memelukku langsung melepas dan meraih tanganku. Ia menggenggamku dengan tangan dinginnya. 

Izar menatapku dalam dalam sambil bibirnya bergerak, "kita akan bantu Ghorby. Kamu siap?" Tanyanya. Lagi lagi aku hanya bisa mengangguk. Aku kehilangan kata kata.

"Ada apa Ghor?"
"She said too many broken vows. But She still love me."
"Jadi?"
"Dia minta aku bertemu dengannya besok malam setelah upacara api unggun."

Mataku membesar. Jangan jangan Ghorby mau balikan dengan Risma? Oh tidak! Aku tidak rela melihat Ghorby menderita lagi! Refleks aku membelakangi Izar dan melepas genggaman tangan kami. Aku panik, aku tidak mau Ghorby tersakiti lagi. Ghorby pasti menderita sekali dicemburui terus seperti itu.. Ghorby kan tidak suka.

"Ka... Kamu mau balikan Ghor?" Tanyaku dengan suara bergetar. Ghorby menarik nafas dalam dalam.
"Aku cuman mau menjelaskan semuanya, Nis. Tapi aku gak bisa sama Risma lagi."
Izar berdehem. "Bukan karena kamu masih sayang sama pacarku ini, kan?" Tanya Izar dengan nada bercanda yang sangat canggung. Ghorby memutarkan bola matanya sementara aku menoleh dan menatapnya sinis sambil berbisik, "tidak sopan, Zar."

Ia terkekeh. "Sorry, honey."
"Eum.. Enggaklah, Zar. Aku sudah melupakan Ninis. Kita masa lalu ya Nis?"

Aku menelan ludah, seakan akan ada yang menghantam jantungku tapi aku mencoba untuk membuka mulutku untuk berbicara.

"Iya, kita masa lalu Ghor."

Mereka berdua tertawa sementara aku hanya tersenyum tipis. Masa lalu dengan banyak janji yang terucap namun semuanya patah begitu saja. Masa lalu yang sudah hilang, tapi entah kenapa mulai bermunculan sekarang.

Aku memang merindukanmu, Ghor. Tapi tidak akan kembali padamu. Karena kamu sendiri yang bilang kita adalah masa lalu dan masa lalu harus dilupakan, dihilangkan atau sekalian saja dibuang bersama dengan semuanya. Janji yang terucap. Janji yang terlupakan.

Broken vow.


To be continued.....


You may also like

6 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}