The Reason is You chapter 29: Promises

Apalagi yang kamu perjuangkan untuk seseorang yang sama sekali tidak pernah melihatmu dan bahkan tidak menepati janjinya sendiri?

Jujur, aku kecewa. Banget.

***


VANCOUVER TOUR

NUGROHO KURNIANTO'S POV

Tiket pesawat sudah ada ditanganku. Dua hari lagi aku akan menyusul rombongan tour Vancouver ke Jawa Timur. Aku ikut mulai dari perjalanan hari ketiga menuju Bromo. Hari ini mereka baru pulang dari CT dan nanti malam baru berangkat Study Tour.

Aku sudah siap dengan koper cokelatku dan satu tas ransel berisi hal hal penting dan jaket kesayanganku. Jaket yang Icoy berikan padaku saat hubungan kami berusia 3 bulan. Aku selalu tersenyum melihat jaket itu karena Icoy sendiri yang mendesign-nya.

Mama dan Papa yang memang ada keperluan di Jogja memperbolehkanku ketika aku bilang di hari kelima kami akan ke Jogja. Aku ingin ikut tour SMP lamaku ini karena aku merindukan mereka dan juga merindukan Icoy.

Aku ingin mengejar dan memperjuangkan Icoy lagi. Aku tidak ingin kisah kami berakhir hanya sampai disini. Aku ingin terus dan terus dan terus. Aku ingin Icoy mempercayaiku lagi. Karena aku punya janji yang harus di tepati....

To: Icoy {}{}
I promise I will love you, never change, never pretend.

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV

Kelas 7 sudah dipulangkan terlebih dahulu sementara kelas 9 masih berkumpul di Sidomba untuk diberikan pengarahan mengenai keberangkatan kami nanti malam. Kami terlebih dahulu makan pagi sebelum berkumpul dan pulang ke rumah. 

Aku mendapati kelas 9 yang merupakan anggota Pramuka tengah sibuk berkeliling mengawasi kelas 8 yang sedang membereskan tenda. Aku berniat mencari Ridho tetapi yang kutemukan malah... Oh no. Silvy Santika.

Silvy sedang duduk termenung. Hidungnya merah, ada air mata di pipinya. Aku meringis. Ada apa dengan Silvy?

"Sil.. Kamu kenapa?" Tanyaku canggung sambil duduk di sampingnya.
"Van.. Aku berantem sama Lega."
Aku tersentak. "Kenapa, Sil?"
"Lega janji sama aku selama CT ini dia bakal merhatiin aku di setiap kesempatan. Aku bela belain buat kabur dari kumpulan Jaffles kalo kita lagi gak latihan buat obor. Tapi dia gak pernah perduli sama aku. Dia lewatin aku aja cuman senyum.. Dan aku malah ditemenin sama Faisal. Tapi Lega malah marah. Aku bingung, Van."

"Yah.. Mungkin Lega lagi gak enak badan kali, Sil. Jadi kebawa emosi terus."
"Katanya dia cemburu sama aku. Terus aku balikin lagi, dia kemana pas aku tungguin? Gak ada kan? Cowok tuh sama semua! Janji ya tinggal janji! Gak ada yang bisa aku percaya!" Tangis Silvy pecah. Aku mengusap kepalanya.

"Silvy kan baru jadian sama Lega.. Pasti adalah hal hal kayak gini..."
"Tapi dari habis jadian itu Lega malah gak seperhatian dulu, Van. Kamu harus tau malahan Faisal yang perhatian sama Silvy. Dari dulu! Waktu sebelum sama kamu, pas sama kamu, pas sama Lega.. Faisal gak pernah berubah! Faisal nepatin janjinya buat selalu sahabatan sama aku!" Seru Silvy sambil terus terisak.

"Emang Faisal suka sama Silvy ya?" Tanyaku heran. Silvy terdiam.
"Ya.. Enggak tau sih. Cuman yang sekarang deket sama aku ya Faisal dan dia baik sama aku."

Aku menatap mata Silvy dan ya, aku menemukan tatapan sendu sekaligus mengiyakan perasaan dalam lubuk hatinya. Dia sepertinya menyukai Lega hanya sesaat dan sekarang sudah move on ke Faisal..

"Lega tuh gak kayak Alvan! Alvan janji bisa tetep sahabatan ya walaupun awalnya canggung cuman di tepatin. Nah Lega? Setelah dapetin aku, perhatian nya gak tau kemana!"

Jleb. Seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku. Antara ingin tersenyum dan meringis.. Oh, jadi ini perasaan sahabat jadi pacar jadi mantan dan sekarang kembali bersahabat canggung? Aku antara sedih, kecewa dan juga merasa ingin memperbaiki masa lalu bersama Silvy tapi.. Memang mungkin aku dan Silvy ditakdirkan hanya sebatas sahabat.

"Kalo Lega gini terus, mending aku putusin aja!"
"Heh, jangan gampang ngomong putus. Buat apa kamu jadian kalo akhirnya putus?"
"Tapi buat apa terus mempertahankan seseorang yang janjinya aja udah gak bisa dia tepatin lagi, Van?"

Aku terdiam. Aku hanya mengusap usap kepalanya sambil berdoa semoga Silvy mendapatkan yang terbaik. Siapapun itu...

***

CLAUDIA ESTERLITA'S POV

Honda CRV Hitam milik keluarga Haekal berhenti tepat di depan rumah Haekal pukul 1 siang. Masih ada waktu sekitar 6 jam lagi sebelum keberangkatan tour Vancouver. Aku, Lega dan Alda akan bersiap siap untuk tour Vancouver di rumah Haekal.

Aku dan Lega sudah menaruh barang barang kami di rumah Haekal sehari sebelum CT sementara Alda yang rumahnya bertetanggaan dengan Haekal ditinggal pulang saja. Kami langsung menghamburkan diri ke kamar Haekal.

Alda mandi di kamar tamu atas, aku di kamar tamu bawah sementara Lega bergantian dengan Haekal. Pukul 2 siang kami sudah duduk manis di depan TV dengan sebuah DVD. Rencananya kami akan nonton Step Up.

Hari berlalu cepat sekali dan aku sendiri bingung dengan keadaan disekitarku yang berubah seiring waktu yang berjalan. Lega yang kini berpacaran dengan Silvy tidak sebahagia sebelum bersama Silvy. Dia kini tidak begitu perduli lagi dengan Silvy padahal sekarang Silvy adalah pacarnya.

Sementara Haekal yang sempat bertengkar dengan Ridho karena memperebutkan Bani akhirnya kemarin mendapatkan Bani. Ridho merelakan Bani dan memaafkan Haekal. Hal itu juga menjdi berita gembira untuk Alda karena dengan begitu Alda bisa dekat lagi dengan Ridho.

Aku sendiri tidak memperdulikan masalah cinta semenjak masuk kelas 9. Aku lebih suka fokus dengan teman temanku, keluarga Setiadharma yang paling kucintai dan Ujian Nasional yang ada di depan mata.

Sepulang dari Study Tour ini kuyakin pasti banyak yang akan mempunyai pacar. Pasti! Tapi aku bingung, kenapa mereka berpacaran disaat mereka akan menghadapi ujian nasional? Bukan, bukannya aku iri. Aku hanya kasian pada orang yang tidak bisa membagi waktu. Bisa bisa dia tertekan karena punya masalah dengan pacarnya.

Aku sudah berjanji pada Ayah & Bunda bahwa aku akan lulus dengan nilai yang memuaskan dan memikirkan cinta setelah semuanya selesai. Semoga aku bisa berjuang!

"Jadi semuanya sudah taken... Lita sama Alda gimana?" Tanya Haekal sambil tertawa.
Aku meliriknya sinis. "Alda proses pendekatan. Lita ke laut."
"Heh, Lita jangan gitu. Yang suka sama elo tuh banyak tau." Kata Lega.
Aku menyeringitkan dahiku. "Ya terus.. Lagi gak mau pacaran, Leg."
"Kalo cinta yang dateng tuh jangan ditolak.. Ntar lo ngejer cinta malah ditolak."
"Tapi gue punya janji."
"Janji fokus UN? Basi ah, Alda aja ujung ujungnya kegoda juga. Ya gak?"
Alda meleparkan bantal kepada Haekal. "Diem, Kal!"

"Nih, janji gue itu fokus UN dan terus bisa dampingin sahabat sahabat gue termasuk kalian. Pikirin deh, kalo gue juga taken, gue gak bakal seperhatian itu kan sama kalian? Harus ada yang dikorbankan kalo mau membuat sebuah janji dan tentu saja, setelah di buat janji itu harus di tepati..."

Lega menimang nimang bantal di tangannya. "Bahkan ketika lo ngerasa masa PDKT jauh lebih asik daripada pas pacaran?"
"Kalo gitu mending lo putusin Silvy dan PDKT aja daripada lo gak bisa nepatin janji lo ke Silvy...." Celetuk Haekal.
"Haruskah gue gitu, Lit?" Tanya Lega. Aku menaikkan kedua bahuku.

"Gue gak tau sih. Cuman buat gue, kalo udah jalan dan janji gak ditepatin, buat apalagi diterusin? Bukannya cuman nambahin kesengsaraan batin?"

***

VICKY RIZKY NOOR'S POV

Megan akhirnya sudah kembali ke tengah tengah kami. Aku, Livia dan Alvan sangat senang sekali. Setelah Megan kembali, semuanya jadi seperti semula. Canda tawa, ejekan ejekan 'kasih sayang'... Ini yang aku rindukan dari kami berempat.

Tapi aku dan Livia merasa kasihan sekali melihat Megan yang pura pura bahagia tetapi sebenarnya merasa sakit yang luar biasa. Megan berjanji pada kami bertiga untuk melupakan Yoga dan fokus saja pada Ujian Nasional, tapi aku bisa lihat dari matanya bahwa Megan tidak bahagia...

Aku dan Livia lalu teringat janji kami berdua pada Megan saat kelas 7. Menyimpan rahasia Megan yang paling dalam yang orang lain tidak boleh tahu. Megan sebenarnya menyukai Alvan. Karena mereka sering bertengkar dan sama sama menyukai Fisika, akhirnya Megan merasakan hal yang lain pada Alvan. 

Tapi Megan tidak mau meneruskannya karena kami berempat sahabat. Megan yang saat itu dekat dengan Yoga pun move on pada Yoga. Ia bisa menyimpan perasaannya kepada Yoga tapi sebenarnya ia sesekali melirik Alvan.

Namun setelah tragedi Megan menjauh, kami berdua jadi tidak tahu lagi apa Megan masih punya perasaan yang sama dengan Alvan atau tidak. Tapi kami berharap semoga Megan masih menyimpan perasaan itu.

Karena Livia baru saja bercerita padaku bahwa Alvan menyukai Megan semenjak pandangan pertama. Lalu dia berpindah pada Novi dan berpindah lagi pada Silvy. Tapi Livia yakin, perasaan Alvan masih tersisa untuk Megan.

Dan kami berdua sepakat akan menjodohkan dua manusia itu. Supaya Alvan tidak resah karena perasaan nya yang mengambang pada Silvy, supaya Megan berhenti menangis karena Yoga sudah memiliki pasangannya sendiri...

***

MAUREN MAUDIA'S POV

Akhirnya Bani sudah menentukan pilihan hatinya pada Haekal sementara Risma sudah kembali pada Ghorby. Sementara Ninis sepertinya sudah benar benar melupakan Ghorby dan sudah  terfokus pada Abizar seorang. Aku senang sekali melihatnya. Terlebih lagi tiba-tiba Nugroho yang cukup dekat denganku mengirimiku pesan bahwa ia jadi ikut tour Vancouver tapi dimulai dari Bromo. Dia benar benar menyayanyi Icoy.

Aku senang melihat orang orang di sekitarku mulai menemukan alasannya masing masing untuk tetap bersemangat setiap paginya. Aku sendiri tidak memikirkan love life-ku karena aku sudah kapok berpacaran.

Aku pernah berpacaran sekali dengan Bhimo, teman satu angkatan Pramuka-ku yang kini jadi sahabat baikku. Aku menyadari bahwa diumur kita yang segini, bersahabat jauh lebih baik. Ya, walaupun kau menyukai dia, tidak berarti harus bersatu dan menjadi pacar kan?

Apa sih pentingnya sebuah status ketika dua orang mempunyai perasaan yang sama? Maksudku toh pada akhirnya kita akan bertindak seperti teman biasa, hanya lebih special. Apakah tidak cukup hanya mengetahui dia memiliki perasaan yang sama denganmu? Apa gunanya status di umur kita yang remaja seperti ini?

Lalu untuk apa kita mengenal cinta? Merasakan sakit hati dan bahagia dari hal tersebut?

Aku terus memikirkan hal itu dalam perjalanan kami ke Jawa Timur. Tempat yang akan kami tuju pertama kali adalah Pesantren tertua di Indonesia lalu ke Wisata Bahari Lamongan. 

Perjalanan begitu jauh dan memakan waktu yang sangat lama sampai akhirnya Vancouver bisa bersenang senang. Aku yang berada di bus 5 langsung turun begitu sampai dan melakukan gerakan kecil peregangan. Rasanya capek sekali!

Tiba-tiba seseorang yang tingginya lumayan jauh dariku datang dari arah belakang sambil tertawa kecil. "Encok, mbak?"

"Ye, sialan lo Bhim! Eh gimana rencana lo?" Tanyaku antusias. Bhimo tersenyum kecil.
"Jadi, Ur. Doain gue, ya?"
"Pastilah gue doain! Eh ntar main sama Jaffles kan? Gue ke toilet dulu ya.."

Aku berjalan menuju toilet dengan perasaan aneh dan agak canggung. Banyak anak Vancouver disana yang menyapaku tetapi suaraku tidak bisa keluar. Aku hanya bisa tersenyum kecil.

Entah kenapa, melihat Bhimo setelah sekian lama akan mempunyai pacar adalah hal terberat bagiku. Aku sudah tidak menyukainya lagi seperti dulu. Tapi wajarkan seorang mantan merasa sesuatu yang lain ketika mantannya akan melepas masa single sementara kita sendiri masih sendirian tanpa tujuan?

Dan aku menyadari aku sudah menemukan jawabannya. Umur 13 tahun sampai sekitar 17 tahun adalah masa remaja. Kita adalah manusia yang sedang dalam masa labil tinggi, waktunya mengenal dunia dan mempelajari banyak hal. Kita tidak ingin disebut anak kecil, tapi kita terlalu cepat untuk disebut dewasa.

Dalam usia remaja, kita belajar jatuh dan mencoba bangkit sendiri supaya pada saat dewasa kita tidak tertatih karena hidup sendirian. Kita merasakan sakit dan senang, marah dan kecewa.. Semuanya bercampur campur dan sulit di mengerti.

Tapi cinta memiliki segalanya. Cinta akan menuntun kita untuk mempelajari semuanya dengan lebih menyenangkan supaya di masa depan kita lebih siap lagi menghadapi hidup.

Karena itulah kita membutuhkan cinta. Betul?

***

SHELLY ILA AMALIA'S POV

Aku dan Yara kini mereka tinggalkan berdua untuk bicara. Besok adalah hari ulang tahun Yara dan aku berharap aku bisa berbaikan dengannya besok. Kami sudah membuat kejutan untuk Yara besok saat di Batu Night Spectacular.

Aku berdehem. "Yar, besok tanggal berapa yah..."
"Jangan sok baik deh, lo kayak inget aja." Jawabnya sinis. Masih aja sinis.
"Gue sih bakal inget Yar, gak mungkin lupa apapun yang terjadi."
"Sumpah? Tapi lo bisa tuh lupain gue pas ada Nabila."
"Ya... Yar, situasinya..."
"Sekarang lo jauh sama Nabila ditinggalin kan? Dan lo mau balik ke gue? Ih ogah banget gue. Sahabat apaan lo, Shell!"
"Ya ampun Yar...."
"Gue tuh pengen maafin elo, cuman elo punya janji gak pernah ditepatin!"
"Apanya yang gak pernah ditepatin? Gue selalu berusaha demi elo Yar!"

Hening panjang. Yara terisak.

"Terus kenapa lo tinggalin gue sendirian padahal lo janji kita bakal terus bersahabat?"
"Gue gak pernah ninggalin elo sendirian, Yar. Gue cuman... Butuh someone else. Gue gak mau persahabatan kita jadi ngebosenin. Enggak, gue gak pernah bosen sama elo. Gue ngelakuin ini biar gue bisa nepatin janji gue. Terus sama elo..."

"Tapi gue kecewa, lo tau?"
"Gak ada perjuangan mempertahankan janji yang gak ada perasaan kecewanya, Yar. Semua perjuangan tuh pasti punya jatuh bangunnya, dan gue harap lo bisa segera bangkit dan hilangin ego lo. Karena apapun yang terjadi, elo ya elo, Nabila ya Nabila. Gak ada yang bisa gantiin elo, Yar. Apapun yang terjadi."

Yara lalu memelukku erat. "Maafin gue Shell... Gue egois banget ya..."

"Maafin gue juga, Yar. Gue ngerti kok perasaan lo.. Tapi tenang aja, gue bakal tepatin janji gue kok. Sahabat sejati gak bakal pernah kemana mana, Yar."

Kami berdua menangis bersama dan aku merasa kelegaan yang luar biasa. Sahabatku akhirnya kembali lagi, Tiara Annisa Adhi Maulidanthy!

***

MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV

Jaffles akhirnya berkumpul setelah masing masing punya acara sendiri dengan kelas mereka. Kami memilih permainan ekstrim lalu akhirnya duduk di pantai WBL sambil menikmati sunset.

Aku melirik Gestu yang sejak tadi sudah mencuri pandang pada Titi. Aku tahu Gestu sebenarnya juga mempunyai perasaan yang sama, tapi dia tidak mau mengatakannya karena alasan fokus UN dan dia yang sudah nyaman sebagai sahabat.

Tapi lama kelamaan Gestu mendapatkan karmanya karena membiarkan Titi menunggu terlalu lama. Sekarang ketika Titi sudah move on, dia mulai menyadari betapa berharganya gadis itu dalam hidupnya. 

Jaffles berhambur ke bibir pantai sementara Gestu dan Titi tetap terdiam dalam jarak yang memisahkan. Aku sendiri pura pura sibuk dengan BlackBerry-ku padahal sengaja menunggu Gestu dan Titi. Aku tahu seberapa berjuangnya gadis itu menunggu Gestu.

"Eum.. Ti?" Panggil Gestu. Aku menelan ludah.
"Iya, Tu? Kenapa?" Tanya Titi pura pura sibuk dengan SLR-nya.
"Aku mau ngomong."
"Apa?"
"A... Aku tadi searching, katanya di BNS besok ada tempat bagus banget."
"Eum, terus? Mau traktir? Yeay!" Seru Titi. Aku tahu dia sedang mencoba membuat dirinya tidak terlalu gugup dihadapan Gestu.
"Azzz, namanya Lampion Garden. Makan malem bareng yuk?"

Aku mengigit bibirku. Sial, kenapa aku yang jadi degdegan? Aku melihat wajah keduanya yang memerah. Aku tertawa kecil.

"Kenapa, Ridh?" Tanya Gestu dan Titi  bersamaan. Aku mendongak. 
"Enggak.. Lagi baca timeline. Lanjutin aja..." Ujarku. Mereka berpandangan lalu menatapku geram. Aku terkikik.

Gestu menoleh pada Titi. "Mau gak, Ti?"
"Kalo dibayarin sih aku mau, Tu."
"Azzz, kamu kayak Jawali sekarang."
"Ketularan nih hahaha. Emang ada apa sih? Curiga deh ini...."
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Kenapa gak disini aja?"
"Gak bisa. Harus besok aja."
"Jadi kamu mau buat aku nunggu lagi  gitu?"
"Emang kamu sekarang udah gak nungguin aku?" Tanya Gestu dengan suara tercekik. Titi bangun lalu berlari menjauhi Gestu.

"Besok aja aku jawabnya, mau main sama Raffles!" Seru Titi. Gestu tertawa kecil. Ia lalu merebahkan dirinya di pasir. Aku menggeser tempat dudukku lalu merebahkan diri juga di sampingnya.

"Lo yakin kan Ges sama apa yang lo mau lakuin?"
"Yakin, Ridh."
"Janji lo yang fokus UN itu sama emak lo?"
"Gampang, udah gue pikirin semuanya."
"Awas aja lo. Jangan buat dia nangis lagi. Dia Dora The Explorer kesayangan gue."
Gestu tersenyum kecil. "Enggak. Gue sadar sekarang betapa bodohnya gue dulu. Gue gak bisa ngeliat dia sama yang lain. No way, gue sayang sama dia. Sama Dora elo."


Nah lho! Gestu mau ngomong apa ya? Gimana kejutan Shelly buat Yara? Apa Titi udah kurus? Sudah pastinya! B-) Anyway happy birthday my mother & keep read! Sedikit lagi! To be continued.....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}