The Reason is You chapter 31: The Truth

Cukup dengan melihat senyumnya saja aku sudah bahagia.

***


NABILA TAZKIA'S POV

Cupcakes bertuliskan 'HBD YARA' di bawa dalam kotak putih oleh Shelly dengan tergesa gesa. Aku, Audit, Ifa, Megan, Adel, Mulan dan Nabil sudah bersiap siap berpencar meninggalkan Yara. Sementara Valda dan Yoga sedang mengobrol bersama Rianthy beberapa meter dari tempatku berdiri.

Yara terlihat kebingungan sambil memainkan SLR nya. Aku terkekeh melihatnya. Shelly sedang bersiap siap sementara Audit memberikan kode untuk bergerak maju mendekati Yara. 

Aku senang sekali ideku ini diterima oleh Shelly, Audit dan yang lainnya. Aku hanya ingin memperbaiki hubunganku dengan Yara juga mengembalikan Shelly-Yara yang dahulu. Aku tidak mau menjadi pengacau persahabatan orang lain.

Aku sebenarnya agak kesal juga dengan Yara yang marahnya terlalu berlebihan. Tetapi kata Shelly, Yara memang emosional dan Shelly juga malas menanggapi Yara kalau Yara sedang marah. Jika Shelly terus terusan maju, Yara malah semakin kesal.

Tapi belakangan aku sadar jika aku menjadi Yara pun aku akan merasakan hal yang sama. Akan sangat menyakitkan ketika melihat sahabat terdekatmu malah dekat dengan orang lain, apalagi orang yang baru dia kenal.

Aku juga kasihan pada Shelly. Aku tahu betul Shelly sudah mencoba membagi waktu antara aku dan Yara. Tapi tetap saja bagi Yara itu tidak cukup sampai akhirnya mereka berdua bermusuhan karena Yara benar benar marah.

Persahabatan itu sebenarnya tidak bisa dipikirkan dengan logika, tapi memakai perasaan. Terkadang kita harus selalu mengalah, mengalah dan mengalah untuk menyelamatkan persahabatan kita. Jika tidak ada yang mau mengalah, persahabatan tersebut mungkin tidak akan terselamatkan.

Untukku persahabatan itu jauh lebih erat daripada rasa kasih sayang orang yang berpacaran tetapi dalam kehidupan nyatanya kita juga harus mempunyai teman lain. Memang sih rasanya tidak enak melihat sahabat sendiri bersama teman yang lain, tapi mempunyai teman lain bukan berarti melupakan yang lama kan?

Karena ada kalanya kita butuh teman bicara baru. Karena sudah sebuah keharusan kita bersosialisasi dan mempunyai teman teman yang lain. Tapi terkadang keeratan perasaan itu membuat kita tidak rela melihat sahabat kita dekat dengan yang lain.

Beberapa detik kemudian, Audit sudah memberikan kode untuk berjalan mendekati Yara. Kami berjalan pelan lalu Shelly dari belakang datang dan mengagetkan Yara. Kami lalu menyanyikan lagu Happy Birthday dan Yara menangis saat itu juga.

"Ini idenya Nabila lho!" Seru Shelly. Yara menoleh kepadaku dan langsung memelukku.
"Makasih Nab, sorry gue benci sama elo kemarin kemarin... Tapi kalo lo gak ada, gue gak bisa belajar betapa berharganya persahabatan itu."

Aku tersenyum kecil. Aku iri, andai saja aku punya persahabatan seperti itu..

Yara-Shelly memiliki perasaan yang kuat dan juga hati yang mau berjuang untuk mempertahankan persahabatan mereka. Walau kelihatannya mereka berdiam diri saja selama bermarahan ini, aku yakin diantara mereka sebenarnya sedang merindukan satu sama lain. 

Mereka akhirnya bisa bersatu lagi dan aku bahagia. Yara akhirnya mau memaafkanku dan Shelly. Aku salut dengan segala kekurangan mereka, mereka bisa tetap mempertahankan persahabatan mereka.

Jika ada keretakan dalam persahabatanmu, jangan pernah lelah untuk berusaha mempersatukannya kembali. Karena mungkin saja hanya kamu yang bisa mengembalikannya. Sekecil apapun usahamu untuk mengembalikannya, itu pasti akan berguna.

Tidak akan pernah ada mantan sahabat karena sahabat adalah orang yang selalu ada di hati walaupun fisik sedang bersama yang lain. Jika dia memintamu untuk bersamamu terus lalu ketika kamu bersama yang lain dia pergi meninggalkanmu, itu bukan orang yang disebut sahabat.

Persahabatan itu sama dengan cinta. Perlu perasaan bukan pemikiran untuk memahaminya.

Karena pada akhirnya, kamu akan tahu apa, kenapa dan bagaimana kamu bisa bertahan untuk hidup ditengah tengah kesukaran masalah dunia.

Dan tentu saja semuanya itu karena mereka. Sahabatmu. Orang orang yang ada dalam hatimu. Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya mereka tetap sahabatmu. Alasan dari semua pertahanan dan perjuanganmu selama ini.

Karena sahabat sesungguhnya, tidak akan melupakan sahabatnya sendiri, bahkan ketika mereka memiliki sahabat yang lain.

***

BHIMO FADHEL MUSYAFFA'S POV

Alda berlari ke arahku dan Fita dengan senyum bahagia. Aku yang sedari tadi menemani pacarku makan Pop Mie ini menatap Alda keheranan. Ia langsung duduk di sampingku sambil tertawa. 

"Lo kenapa deh, Al?" Tanyaku aneh. Alda tertawa.
"Tebak deh. Gue jadian! Finally! Sama Ridho!" Seru Alda kegirangan. Fita langsung bangkit dan berpindah tempat ke samping Alda.
"Waaaah Alda selamat! Akhirnya Ridho tau juga yang mana yang pantes buat dia!" Seru Fita.

Aku tak percaya, secepat itu Ridho meminta Alda menjadi pacarnya setelah dia ditolak oleh Bani? Jangan jangan Alda hanya jadi pelariannya saja...

"Lo kok diem aja sih, Dhel? Gak seneng gue seneng ya?" Tanya Alda heran saat melihat reaksiku yang biasa aja. Aku menggeleng.
"Enggak, Al. Gue senenglah pasti, lo nungguin Ridho lama dan akhirnya jadi. Tapi gue aneh aja kenapa dia tiba tiba bisa jadian sama elo habis di tolak Bani..."

Alda mengangkat bahu. "Entahlah, mungkin aja akhirnya dia sadar dan pengen cepet cepet jadian sama gue biar gue gak diambil yang lain, hahaha! Intinya gue seneng banget! Kawah Bromo itu everlasting memory lah!" Seru Alda kegirangan.

Aku hanya tersenyum kecil. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku tentang kenapa Ridho bisa tiba tiba memilih Alda setelah ditolak Bani. Aku meragukan Ridho. Aku tidak mau Alda di sakiti tapi tiba-tiba Faisal datang bersama Silvy yang menangis.

Wajah Silvy benar benar merah padam, air mata terus jatuh dari kedua matanya. Poninya sampai basah, giginya bergemeletukan. Ia terlihat begitu kesakitan. Faisal lalu membantu Silvy duduk di samping Alda. Silvy langsung memeluk Alda dan menangis lebih kencang. Aku dan Faisal mematung tak bisa berkata apa apa sementara Alda terus mengelus elus rambut Silvy.

"Aku panggil Alvan, Novi sama Sulthan dulu deh ya..." Kata Fita sambil beranjak pergi.
"Iya sayang, hati hati." Sahutku singkat.
"Sal, beliin teh manis dulu yuk buat Silvy. Alda jaga Silvy sendirian bisa?" Tanyaku. Alda menoleh lalu mengangguk. "Alda gak sendirian, banyak Vancouver disini tenang aja."

Aku lalu memberikan isyarat pada Faisal untuk bangun dan ia berjalan di sampingku. Tangannya masuk ke kantong jaket, kaca matanya berembun. Ia mendengus pelan.

"Andai gue Lega, gue gak bakal nyakitin Silvy kayak gitu." Kata Faisal membuka percakapan. Aku masih terdiam dan memesan satu gelas teh manis hangat di lapak seorang Ibu tua berjilbab. Aku menoleh.
"Sayangnya elo bukan Lega, lo adalah Faisal. Sahabat Silvy." Kataku sinis. Faisal mendengus lagi.

Faisal tahu betul aku tidak setuju dia dekat lebih dari teman dengan Silvy. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi antara Faisal dan Silvy tapi aku merasa Faisal punya perasaan yang lebih untuk Silvy.

Jika sampai Faisal punya perasaan lebih untuk Silvy, rasanya itu tidak wajar karena Silvy sudah mempunyai Lega. Apalagi jika sampai dia punya perasaan untuk memiliki Silvy. Aku hanya tidak ingin sahabatku merasakan hal seperti itu. Aku hanya ingin Faisal bahagia.

"Kenapa sih lo gak pernah seneng gue bahagia, Dhel?" Tanya Faisal akhirnya. Wajahnya memerah, kesal. Aku membuka dompetku lalu mengeluarkan selembar lima ribu rupiah, mengambil segelas teh manis itu lalu berjalan meninggalkan Faisal.

Dengan cepat aku sampai ke tempat Silvy dan Alda duduk. Aku memberikan Silvy teh manis itu ketika Fita datang bersama Alvan, Novi dan Sulthan. Mereka langsung mengerubungi Silvy yang sedang segukan sambil memegang segelas teh manis dariku.

Faisal datang dan menarikku. Ia berbisik. "Kita harus bicara, Dhel."

Ia lalu berjalan cepat dan aku mengikuti langkahnya. Ia terlihat sangat kesal sekali tapi aku tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Disaat Silvy sedang  begini, dia masih sempat sempatnya mengajakku untuk bicara hal lain.

"Gue capek sama elo, sama semuanya. Gue cuman pengen bahagia sama cewek yang gue suka, apa itu terlalu muluk muluk?" Tanya Faisal geram. Aku menatapnya keheranan.
"Lho? Kok elo capek sama gue? Emang gue ngapain sih, Sal?" Tanyaku heran.
Ia mendengus. "Alah, basi lo! Waktu gue suka sama Fita, lo ambil Fita. Gue ngalah. Sekarang gue udah suka sama Silvy, lo malah gak dukung gue. Lo gak seneng ya gue seneng?" Tanyanya berapi api.

Aku terkekeh. "Lo bisa liat sikon gak sih kalo mau nyalahin orang?"
"Sikon apalagi yang kurang mendukung dari hal ini, Dhel? Gue muak sama elo!"
"Sal, pas sama Fita lo gak maju maju kan, dan gue juga gak tau itu. Jadi gue maju dan Fita milih gue. Apa itu salah gue? Sekarang, lo suka sama Silvy aja gue baru tau kepastiannya sekarang. Gue gak mau Sal lo nungguin Silvy yang jelas jelas punya Lega! Apalagi Silvy sahabat kita!"

"Terus kenapa kalo gue suka sama sahabat gue sendiri? Apa itu salah?"
"Enggak Sal, gak ada yang salah."
"Terus apa? Kenapa lo ngehalangin perasaan gue sih, Dhel?"
"Gue gak ngehalangin, gue cuman berusaha untuk bikin elo gak nyesel punya pemikiran untuk milikin sahabat lo disaat dia punya pacar Sal, itu aja. Lagian kenapa pas dia habis putus sama Alvan gak lo tembak sih?"

Faisal menunduk kecewa. "Gue... Gue selalu terlambat Dhel. Gue sayang banget sama Silvy, lebih dari sekedar sahabat dan gue pengen milikin dia kayak cowok lain dapetin orang yang emang dia suka. Itu kebenarannya."

Aku menepuk pundaknya. "Sal, sebenerya suka sama orang yang punya pacar tuh gak salah kok, asal lo tau batasannya. Tapi sekarang Silvy lagi ada masalah sama Lega dan kalo lo terus terusan deket sama Silvy, mungkin aja Silvy bisa suka sama elo, tapi Leganya? Lega bisa benci elo, elo kehilangan satu temen gara gara cewek. Apa lo mau?"

"Gue.. Gue cuman pengen bikin Silvy bahagia, Dhel."
"Apa gak cukup support dia dan berdoa biar dia bahagia selama dia masih punya pacar? Gue cuman kasian aja sama elo, Silvy ke elo pas Lega gak ada.. Gue kan merhatiin selama ini, Sal..."
"Terus gue harus gimana, Dhel? Gue cuman pengen Silvy tau kalo gue lebih baik daripada Lega."
"Ya lo berjuang dan berdoa. Tapi berjuangnya dengan cara dukung dia, bukan bikin dia putus."
"Ya terus kapan gue dapetin dia?"

"Percaya deh Sal, setelah lo berjuang dan melakukan kebaikan, asal lo gak selalu berfikir untuk dapetin balesan, kebahagiaan lo bakal dateng dengan sendirinya."

"Kalo gue berjuang tapi dia gak ke gue?"
"Ya.. Pasti ada orang lain deh yang bakal gantiin dia."
"Gak bisa, Dhel. Gue sayangnya cuman sama Silvy."
"Nih, biar lo lega. Gimana kalo setelah Silvy lebih tenang, lo kasih tau lo suka sama dia tapi lo dukung dia buat bertahan sama Lega? Lama lama Silvy bisa liat yang mana yang terbaik, dia mungkin bakal putusin Lega dan lo bisa jadian sama dia."
"Lah? Kalo cuman nyatain terus gak prove depan dia, pasti dia gak percaya."

"Kalo Silvy minta lo nunjukin, lo jelasin sikon gak memungkinkan. Lo jelasin semuanya. Kalo lo percaya jodoh lo ada di Silvy, Silvy mau jadian sama Lega pun sekarang, atau balikan sama Alvan pun dia bakal ke elo juga kok pada akhirnya. Trust me."

"Tapi... Gue takut gue sakit hati sendiri Dhel kalo kayak gitu. Disisi lain gue juga gak mau nyakitin perasaan Lega karena gue juga bakal sakit kalo di posisi dia."
"Gue sih balikin ke elonya aja Sal. Perjuangan tuh gak ada yang mudah, pasti susah dan penuh rintangan. Kalo lo ngeluh mulu dan minta hasilnya cepet cepet, bisa jadi hasilnya gak bakal dateng dateng."

"Gue..."
"Elo bisa, Sal. Lo punya cinta lo untuk Silvy untuk dijadikan alasan bertahan. Lo sayang banget kan sama Silvy?" Tanyaku pelan. Faisal mengangguk yakin.
"Sayang banget, Dhel. Gue bakal dapetin dia dengan cara baik baik. Gue gak boleh kehilangan Lega sebagai teman gue dan kehilangan Silvy untuk masa depan gue. Gue akan berjuang demi dia, Dhel. Doain gue dan.. Sorry yang tadi. Hehehe."

Aku terkekeh. "Sama sama, Sal. Semoga lo bahagia."

Aku lalu memutuskan untuk berhenti memikirkan Alda dan Faisal ke depannya. Aku harus mempercayakan Alda pada Ridho dan Faisal untuk mengejar cintanya. Selama kamu berjuang dan berniat baik, kepastian pasti akan datang kan?

***

BHIMO AGENG TRIBUANA'S POV

Aku mencari Dini diantara kerumunan Jaffles 26 dan tidak menemukannya sama sekali. Aku berjalan menjauh dan melihat 2 orang sedang berdiri menghadap puncak Mahameru. Mereka adalah Dini dan Gestu yang sedang asyik mengobrol. Aku berjalan mendekati mereka sambil berpura pura berfoto padahal mencoba mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Aku sudah membicarakan rencanaku untuk menembak Dini pada sahabat sahabatku juga Rajawali 26. Mereka mendukungku kecuali Gestu. Gestu bilang aku terlalu lama menggantung Dini dan dia sudah kesal duluan karena Dini tak kunjung jadian denganku.

Lalu aku bercerita banyak pada Gestu dan dari Gestulah aku mengetahui betapa sayangnya Dini padaku. Seberapa lama ia berjuang menungguku dan terus bertanya tanya kenapa aku tak kunjung memberikannya kepastian.

Dan hari ini, aku meminta Gestu melancarkan satu pertanyaan pada Dini sebelum aku menyatakan perasaanku padanya. Aku hanya ingin tahu kebenarannya satu kali lagi supaya aku yakin untuk menyatakan perasaanku ini. Aku hanya tidak ingin menyesal.

"Ges, tau gak pekerjaan yang paling bikin capek apa?" Tanya Dini. Gestu terkekeh.
"Gue tau, jawabannya pasti nunggu."
"Nah iya, kayak apa yang Titi lakuin ke elo selama ini."
"Biarin aja, dia yang nunggu kan bukan gue."
Dini meninju bahu Gestu. "Gak peka, parah! Udah suka juga malah gitu, karma ntar gak dapet lho!" Seru Dini. Gestu tertawa.
"Hahaha ya siapa suruh dia nungguin gue, gue udah bilang kalo jodoh tuh pasti dateng. Nih liat aja ntar gue dateng ke dia."
"Iya lo dateng, dianya pergi. Puas lo." Kata Dini jutek. Raut wajah Gestu berubah.
"Ya ya ya Din, ampun.. Gue udah berjalan sejauh ini sampe minta dia makan malem sama gue...." Seperti tersadar telah membuka rahasia, Gestu langsung menutup mulutnya. Dini tertawa terbahak.

"Ciyeee! Gestu mau nembak Titi ya?"
"Emang kalo sama sama suka harus jadian ya?"
Dini mendengus sinis. "Ya gak gitu juga."
"Ya tapi Titi udah mau dapet kepastian dari gue nih Din setelah lama nunggu, nah elo? Bhimo udah ngode lagi belum?" Tanya Gestu. Aku tersenyum sendiri mendengarnya.

Dini lalu menunduk kecewa, senyumnya hilang seketika. "Ngode & modus tiap hari Ges. Kepastiannya sih enggak."
"Tapi Din.. Elo bakal tetep nungguin dia gak walaupun dia gak ngasih kepastian?"

Hening panjang melanda. Jantungku berdegup kencang, Dini mengigit bibirnya. Aku menarik nafas panjang. Jawaban Dini adalah penentu apakah aku akan melancarkan aksiku atau tidak.

"Nunggu sih enggak, Ges....."

Ugh, apa? Jangan sampai aku seperti Gestu. Jangan. Dini tidak boleh move on!

"..... Tapi sayang mah selalu. Gak bakal pernah berubah walaupun gue gak tau perasaan dia, walaupun gue kangen sama dia tapi dianya kangen sama yang lain. Karena gue sayang sama dia tulus, apapun yang terjadi, walaupun kepastian tidak pernah datang menghampiri."

***

RIANTHY APRILLIA'S POV

Valda berdiri tepat di depan Yoga dan aku berdiri di samping Yoga. Degup jantung kami berdua terdengar jelas. Yoga akan mulai melancarkan aksinya. 

"Aku tau ada yang mau kamu omongin ke Yoga. Di sini aja, depan aku. Pacarnya Yoga." Kataku sok sinis. Ini memang skenarioku dengan Yoga. Bibir Valda bergetar, tangan nya terus dikepal saking kedinginannya. Aku tersenyum sinis.

Yoga bersiap siap dengan wajah innocent. "Ada apa, Val?"
"Eng....."
"Valda mending langsung ngomong aja deh! Aku tau kamu sering liatin Yoga kan! Aku bisa tau semuanya, kalo kamu suka sama pacar aku bilang aja deh!" Seruku kesal. Antara acting dan kenyataan memang sulit dipisahkan. Aku memang kesal dengan gadis ini yang menyia-nyiakan Yoga begitu saja.

"Eng..."'
"Valda ada apa sih? Jangan bikin penasaran deh.." Kata Yoga memancing.
"Val. Kalo kamu suka sama Yoga, bilang aja gak usah di pendem pendem gitu!" Kataku saking kesalnya. Valda langsung menatapku kesal.
"Iya! Kalo aku suka sama Yoga kenapa? Masalah sama kamu? Aku gak pernah ganggu hubungan kamu sama Yoga kan! Aku cuman terlambat menyadari kalo aku sayang sama Yoga! Apa itu salah?"

Valda berbalik lalu menangis. Ia meninggalkan kami berdua yang sama sama tertegun melihat gadis itu bicara. Yoga akhirnya tertawa kecil dan memelukku.

"Makasih banyak, Ranthy! Sekarang tinggal mikirin gimana caranya ngejelasin kalo ini semua cuman ujian dari aku ke dia.... Ah, aku mau kasih tau Ifa dulu ya!" Seru Yoga sambil melepaskan pelukannya dan meninggalkanku.

Aku hanya tersenyum kecil, memalingkan wajahku dan terisak. Aku harus merelakan ornag yang aku sayangi bersama orang lain jika itu membuatnya bahagia. Jika aku tidak bisa membuatnya bahagia denganku, aku harus membuatnya bahagia walaupun itu membuat hatiku tersayat sayat. Bukankah cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia?

Aku melihat orang yang aku sukai berjuang untuk gadis yang ia sayangi selama ini adalah hal terhebat yang aku lakukan. Karena berjuang seperti itu membutuhkan alasan yang kuat untuk bertahan dari sakit yang tak bisa di jelaskan dengan kata kata.

And the reason is you, Yoga.

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Setelah mengambil foto dengan Livia, Vicky dan Alvan aku berjalan sendirian dan berdiri di salah satu pijakan tinggi yang membuatku bisa lebih jelas lagi melihat pemandangan nan asri di sekitar kawah Bromo. Tiba-tiba Livia dan Vicky menghampiriku.

"Gan, udah move on belum?" Tanya Livia tiba tiba. Aku menatapnya heran.
"Apaan sih nanya gituan, baru juga sakit hati gara gara Yoga jadian...."
"Ye.. Lo inget  gak pas awal masuk SMP lo suka sama siapa?" Tanya Vicky. Aku terkekeh.

Alvan Anansyah Viwantama adalah orang yang aku sukai saat masuk bangku SMP. Hanya karena aku tidak mau persahabatanku  berakhir dengannya, aku memilih untuk tidak melanjutkan perasaanku dan move on ke Yoga.

Tapi kenapa mereka menanyakan hal  itu?

"Iya, gue inget dan itu aib."
"Hahahaha lucu yah kalo inget itu. Eh sekarang Alvan single lo!" Seru Vicky bersemangat.
"Iya, Alvan single!"
"Nah.. Terus?" Tanyaku heran.
"Lo sama Alvan aja yah! Mau gak?" Tanya Vicky to the point.
"Gak usah nanya mau apa enggak, harus mau. And the turth is... Kalian sempet sama sama suka waktu itu!" Seru Livia.

Aku terdiam, jantungku berdegup kecang. Oh no! Masa dijodohkan dengan sahabatku sendiri... Wait, Livia bilang sama sama suka? Jadi...

Jadi Alvan juga menyukaiku saat aku suka padanya?! Ini gila! 


To be continued...



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}