The Reason is You chapter 32: Friendzone

Seharusnya kalo gak ada tugas kartul dan mood gue gak diacak acak terus selama 1 minggu terakhir, The Reason is You hari ini udah kelar, tamat. Gue perpanjang deadline sampe akhir Februari. Iye, bentar lagi gue UN dan cuman The Reason is You hiburan gue sebelum UN. Yang baru sampe chapter 20-an jangan berhenti lah baca terus, cuman sampe chapter 36 kok. 4 chapters left, fighting! \m/

***


MUHAMMAD HAEKAL ALAWY'S POV


Alda bangkit dari tempat duduknya sementara Lega memejamkan matanya sambil memegang erat Samsung Galaxy Young putihnya. Aku bangkit dari samping Lita dan kembali duduk disamping Lega. Lega mendesah.

"Kal?" Panggilnya. Gue bergumam.
"Gue bego gak sih nulis surat gitu?"
Aku tersenyum kecil sambil membuka komik Conan-ku. "Gak bego, cuman idiot."
Lega menegakkan posisinya lalu menoleh ke arahku. "Jadi gue harus apa dengan surat ini?" Tanya Lega dengan wajah setengah frustasi. Aku mengangkat bahu.

Lega baru saja selesai menulis surat untuk Silvy. Ia berencana minta putus karena setelah jadian, ia memang tidak merasakan 'rasa' itu lagi. Entah kenapa, tapi dia merasa jika dia terus mempertahankan semua ini tetapi tidak menepati janjinya untuk menjaga Silvy, itu sama saja dia terus membuat Silvy terluka.

Aku sendiri sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Lega. Ini keputusan sesaat. Perasaan yang tiba tiba menjadi hampa itu akan segera kembali dengan sendirinya seiring kita tidak selalu memikirkan hal itu.

Aku sudah mengatakan hal itu, tapi Lega terus menepisnya dan bilang kalau dia dan Silvy sudah tidak bisa bersama. Apalagi menurutnya ada Faisal, sahabat Silvy yang selalu dekat dengan Silvy bahkan sebelum Silvy jadian dengan Alvan.

Lita sendiri memilih tidur dan tidak mau membicarakan tentang hal ini. Ia bilang ia bingung dengan saudara saudaranya. Ia bingung padaku yang tidak bisa berkata jujur pada Ridho sampai sampai Bani yang harus meluruskan semua masalah kami. Walau pada akhirnya Ridho mengerti bahwa bukan salahku jika Bani memilihku bukannya dia, tapi tetap saja menurut Lita aku pengecut. Percaya tidak percaya, aku mengiyakan hal itu.

Lita juga bingung pada Alda yang dengan mudahnya mau menerima Ridho setelah Ridho telah 'dibuang' oleh Bani. Lita berfikir jika Ridho kembali pada Alda hanya untuk pelarian. Aku sendiri berfikir hal yang sama, tapi pada akhirnya aku menepis pemikiran itu. Aku tidak mau mempengaruhi saudaraku yang sudah bahagia.

Tapi Lita bukan sekedar bingung pada Lega, ia juga marah. Ia benci kenapa Lega sudah berjuang untuk Silvy lalu ketika sudah mendapatkannya, ia ingin melepaskannya begitu saja saat perasaan hampa tiba tiba datang. Lita marah, Lita tidak mau bicara tentang hal ini dengan Lega.

Akupun merasakan hal yang sama. Aku kesal pada Lega. Kenapa dia bisa berfikir sependek itu? Hampa bisa kembali dan Faisal bukanlah alasan utama. Jika memang Faisal juga menyukai Silvy, toh sekarang Lega yang bersama Silvy. Bukannya Faisal. Jadi kenapa bukan dia saja yang membahagiakan Silvy?

Sementara Alda berada dipihak netral. Dia hanya membantu Lega menuliskan surat untuk Silvy. Lega rencananya ingin bertemu dengan Silvy dan memberikan surat itu, lalu menghubungi Faisal dan minta Faisal menjaga Silvy.

Bukankah itu konyol?

"Kal, gue harus gimana? Please lo cowok.. Lo pasti ngerti."
Aku berdehem. "Leg, lo percaya friendzone gak?"
"Iya. Kenapa?"
"Nah, menurut gue Faisal ke Silvy itu friendzone, Leg. Mungkin Faisal emang sayang sama Silvy dan begitu juga Silvy. Tapi Silvy kan pacar lo dan gue rasa dia bahagia sebagai seorang 'pacar' sama elo, bukan sama Faisal. Kenapa elo gak pertahanin dia?"

"Tapi gue hampa, Kal..."
"Hampa atau ada cewek lain?"
"Astagfirullah, gue bukan cowok kayak gitu!"
"Lo sayang sama Silvy?"
"Sayanglah! Pertanyaan apaan sih!" Lega mendengus kesal.
"Nah, kenapa gak lo usaha lagi, lo omongin sama Silvy terbuka biar dia bisa balikin perasaan lo, dan lo bahagiain dia? Kenapa lo harus minta orang lain bahagiain orang yang jelas jelas bahagia bersama elo?"

***

BATU NIGHT SPECTACULAR, JAWA TIMUR, INDONESIA

APRILLIA DINI'S POV

"Bhim!" Seruku ketika turun dari bus dan melihatnya. Bhimo menoleh sambil tersenyum. Dia mengenakan kaos hitam dengan kemeja putih diluarnya. Aku mendesah. Kenapa kamu makin ganteng sih Bhim...

"Iya Din? Kenapa?"
"Eng... Enggak. Liat Raffles gak? Aku ketiduran dan ditinggal." Kataku yang sejak tadi linglung di depan bus. Dia tertawa.
"Raffles duluan, ada yang nyebar main sama temen sekelas dulu katanya. Jawalinya lagi mau main Gokart." Jelas Bhimo sambil membenarkan jam tangannya. 
"Oh, gak ikut Jawali?"
"Enggak, lagi beresin gitar terus nungguin Dini bangun. Eh Dini nya pas Bhimo belum selesai beresin gitar udah bangun terus langsung turun. Ya jadi gitu deh."

Apa? Bhimo nunggu aku bangun? Kurasakan pipiku memerah.

"Ngapain nungguin Dini coba? Ntar ketinggalan main Gokart. Dini sih gampang tinggal telpon Jawali, ntar Gestu pasti kesini."
Raut wajah Bhimo berubah. "Bhimo juga Rajawali sekarang. Kenapa Gestu terus sih yang deket sama Dini?" 
Ups. Aku menelan ludah lalu nyengir. "Hehehe sorry Bhim bercanda kok. Udah ah aku mau ke Raffles dulu."
"Yaudah gih aku anterin." 


Tiba-tiba rintik air hujan jatuh setetes demi setets. Aku dan Bhimo langsung berlari ke loket BNS dan masuk ke area permainan. Kami berjalan berdua di bawah langit sore Jawa Timur sambil berbincang panjang lebar.

Kami berjalan menuju tempat permainan Gokart lalu Bhimo berhenti di depan rumah kaca dan memberikan jaketnya padaku. "Raffles ada di Lampion Garden. Jawali di Gokart. Kayaknya mau hujan lebat, kamu gak bawa jaket kan, Din? Nih pake jaketku aja."

Aku langsung mendekap jaket itu dan tersenyum malu. Aku mengangguk dan berjalan menuju Lampion Garden sementara Bhimo masih mengamatiku. Tiba-tiba Bhimo memanggilku dan aku menoleh.

"Nanti malem ke Lampion Garden bareng ya!" Seru Bhimo sambil tersenyum. Aku berdecak. Jantungku berdegup kencang. Semoga ini pertanda baik.. Semoga ini bukan friendzone...

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV

Setelah shalat Maghrib, aku, Megan, Vicky dan Livia janjian untuk makan malam di food court BNS. Kami sudah duduk manis berempat sambil bergossip tentang masa lalu sampai akhirnya Vicky mulai menjurus ke arah love life kami saat kelas 7.

Aku masih ingat betul siapa yang aku suka saat itu. Gadis yang duduk di depanku. Iya. Gadis dengan senyum manis yang sempat membuatku geram akibat ulahnya. Gadis yang sempat jauh denganku tapi akhirnya kembali lagi.


"Eum, Van! Lo inget gak dulu lo suka sama siapa?" Tanya Vicky memancingku. Livia melirik ke arah Megan lalu tersenyum kecil. Sementara Megan sibuk mengaduk aduk Pop Ice coklatnya. 
"Siapa ya...."
"Emang siapa Van?" Tanya Megan. Ugh, Vicky! Livia!
"Ah, perlu gue sebut Van? Jadi Gan, Alvan ini dulunya suka sama elo.."
"Oh ya, to the point aja yah, Van! Megan juga suka sama elo pas elo suka sama dia!"

Hening panjang melanda setelah Vicky dan Livia bercuap cuap. Aku dan Megan saling bertatapan awkward. Megan membenarkan posisi kaca matanya sementara aku pura pura sibuk dengan Nokia Asha emas-ku. Vicky terkekeh.

"Duh, gak usah awkward gitulah.."
"Iya iya. Kalian berdua peka kan maksud kita?"
"Emang apa yang kalian mau, sih?" Tanyaku agak kesal karena tiba tiba mereka mengungkap semuanya.
"Ya dulu kan kalian friendzone tuh gara gara takut persahabatan kita bubar, nah sekarang udah nyatu lagi, Alvan gak sama Silvy, Megan gak dapet Yoga juga, apalagi coba yang ditunggu?"
"Ih Livia asal deh!" Seru Megan sambil mencubit pipi kiri Livia. Livia menjerit.

"Emang dulu kamu suka sama aku, Gan?" Tanyaku akhirnya. Megan tersenyum kecil.
"Dulu tapinya. Kamu juga kan, Van?" Tanya Megan. Aku mengangguk kecil.
"Ciye pake aku-kamu segala. Udah kalian jadian aja. Gue yakin sebenernya cinta kalian tuh belum kelar." Kata Vicky bersemangat.
"Iya! Lagian persahabatan kita udah balik kayak dulu. Kami gak keberatan kok."

Apa iya orang yang akan menggantikan Silvy adalah Megan?

"Lo nya gimana, Van?" Tanya Vicky.
"Gimana apanya?"
Livia merangkul Megan. "Ya menurut lo Megan gimana?"
"She's perfect." Jawabku singkat, jujur dan apa adanya.

Megan memang sempurna. Selain cantik dan pintar, dia juga multi talent dalam bidang musik. Dia bisa bermain gitar, piano, biola dan juga bernyanyi. Megan juga suka photography dan dia fasih berbahasa Inggris.

"Nah tuh.. Kalo Megannya sendiri gimana?" Tanya Vicky.
Wajah Megan memerah. "Ya.. Almost perfect lah. Nobody perfect remember?"
"Tapi buat Alvan lo perfect Gan! Hahahaha."
"Tuh, dulu udah ada rasa, sekarang udah gini, jadian aja gimana?"

"Jadian tuh gak segampang itu, Vick." Kata Megan angkat bicara. "Gue butuh waktu buat ngenal Alvan lagi. Kalo tiba-tiba jadian padahal belum yakin dan tadinya sahabatan, jatohnya friendzone. Dan gak mau lagi."
"Nah! Gue setuju Gan!" Seruku bersemangat.

"Jadi kalian setuju gak kalian bersatu lebih dari sahabat?" Tanya Livia sambil memandang kami berdua secara bergantian.
"Gue... Gue sih oke aja. Buat move on, tapi seiring jalannya waktu aja." Kataku pelan.
"Gue juga. Gak pake pemaksaan. Tapi makasih kalian udah mikirin gue sama Alvan yang masih jomblo sementara kalian udah taken!" Seru Megan sambil mencubit Livia dan Vicky bersamaan. 

Kami berempat tertawa lepas lalu menghabiskan sisa malam kami di BNS sambil bercerita satu sama lain. Rasanya sudah lama tidak seperti ini, berkumpul bersama sahabat sahabat dan bercerita banyak hal. 

Aku memandang Megan lalu tersenyum kecil. Dia masih sama cantiknya seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. Mungkin dia adalah pengganti Silvy yang Allah berikan untukku. Penyemangatku dalam menghadapi masa depanku. Penyemangatku dalam menjalani hari hariku.

Aku berharap semoga aku dan Megan akan berakhir bahagia seperti kisah persahabatan kami berempat. Karena sesungguhnya, jika ini berakhir friendzone, sama saja aku membunuh diriku sendiri dengan masuk ke dalam keadaan paling miris yang pernah ada di muka bumi ini.

Akhirnya aku menemukan alasanku sendiri. Aku menemukan kenapa aku bertahan, kenapa aku berpindah pindah, kenapa aku bisa kuat. Alasannya adalah mereka, sahabat sahabatku, teman teman di kelas 9D, juga kamu Silvy.

Kamu yang sebenarnya terlahir sebagai sahabatku. Aku sampai saat ini masih menyimpan rasa bersalah karena pernah berfikir untuk 'mencoba' mencintaimu tapi ternyata aku gagal. Kurasa memang Megan yang akan menggantikan kamu, Sil.

Kuharap bagaimanapun caranya, kita akan bahagia dengan pilihan kita, Silvy.

'Cause the reason why I can stand until now is you.

***

ANNISA NAZIHAH KOMAR | KIBO-CHAN'S POV

Gestu menarik Titi memisahkan diri dari Jaffles ketika Ghorby dan Ninis pamit untuk menemui pacar mereka. Setelah itu Esar dan Bella berjalan jalan di sekitar Lampion Garden berdua, disusul oleh Dini dan Bhimo dibelakangnya. Yola dan Aca memilih untuk keluar dari Lampion Garden dan pergi ke Food Court untuk cari makan malam.

Haekal pergi keluar Lampion Garden untuk menjemput Bani sementara Lega datang bersama Alda. Lega menjemput Silvy sementara Alda ingin bertemu dengan Ridho. Fadhel datang sendirian tanpa Faisal dan langsung menculik Fita tanpa basa basi.

Sementara Fauzan dan Naufal kabur ke tempat Gokart lagi, Nadia dan Mauren mencari oleh oleh untuk adik mereka. Tinggallah aku dan Winu  berdua di tengah kabut sambil minum secangkir milo hangat. Winu tiba tiba tertawa kecil saat melihat Gestu dan Titi yang sudah duduk berdua dengan pop mie mereka.

"Winu cemburu?" Tanyaku. Winu menoleh lalu terdiam. Ia adalah teman curhat baruku. Semenjak masuk Rajawali, aku dan WInu saling cerita dan menjadi dekat. Winu dan aku satu prinsip, suka tapi tidak mau jadian selama belum lulus Ujian Nasional.
"Gue kena friendzone nih, Kib."
"Bukan friendzone, keduluan.."
"Gestu kayaknya mau ngasih kepastian. Kenapa ya dari dulu gue gak maju aja?"

Winu memang sempat dekat dengan Titi, tapi ia tidak mau maju karena alasan UN itu. Aku hanya bisa memandang Winu iba. Cinta memang benar benar tidak bisa di prediksi. Siapa dengan siapa, kapan akan selesai menunggu, kapan harus memulai, kapan harus mengakhiri.

Tapi jujur, keadaan friendzone adalah hal yang paling tidak nyaman. Karena siapa sih yang mau hidup disaat diterbangkan tapi kamu tidak tahu akan pergi ke arah mana?

***


RISMA KHARISMAYANTI'S POV

Beberapa couple Vancouver dan cewek-cowok kelas 9A & 9F pun berkumpul di Food Court BNS sambil menikmati live music yang ada. Couple yang berada disini adalah Icoy dan Nugroho yang baru balikan tadi pagi, Dhira dan Ahmad Nurul serta aku dan Izar yang sedang menunggu Ghorby dan Ninis. Seperti biasa, Ghorby dan Ninis sedang berkumpul bersama Jaffles lalu akan kembali kesini nanti.

Banyak hal baru yang aku alami selama aku baru masuk kelas 9. Susah, senang, sedih dan perjuangan yang aku lalui bersama sahabat sahabatku (juga Vancouver yang lain) adalah masa SMP yang tak akan terlupakan untukku. Apalagi saat aku menemukan Ghorby.

Walau Ghorby bukanlah cowok yang paling sempurna yang pernah ada, tapi aku menyayanginya. Dia mengajarkanku banyak hal kecil yang membuatku terasa begitu sempurna dan spesial.

Izar sudah  berdiri di atas panggung ketika aku baru sadar candaannya tadi sore untuk menyanyi di live music BNS akan dilakukannya. Dia meminta kami merekam aksinya dan menunjukkannya untuk Ninis. Kebetulan besok mereka akan memperingati months-anniversary mereka.

Izar membawakan lagu Little Things dari One Direction dan seketika aku jadi teringat dari awal aku bisa bersama Ghorby sampai akhirnya kami jadi seperti ini.


Ghorby yang dekat denganku saat ia baru putus dari Ninis adalah satu satunya cowok yang berhasil merebut hatiku. Aku sering sekali cemburu padanya, tapi dia selalu mengerti aku. Aku sering marah padanya, tapi dia tidak pernah marah padaku.

Saat kami putus, aku merasa aku sangat egois sekali dan ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak mau cemburu pada Ninis lagi karena Ninis adalah masa lalu Ghorby. Sementara Ghorby tidak pernah cemburu secara terang terangan padaku, masa aku selalu mau menang sendiri. Itu kan tidak adil.

Dari friendzone, aku sadar bahwa ada kalanya seorang sahabat dilahirkan hanya sebatas sahabat dan ada pula yang menjadi seorang pacar. Aku berharap semoga Ghorby dan aku akan terus menerus begini dan tidak akan pernah putus lagi.

Mendekati reff bagian terakhir, air mataku tumpah. Aku teringat saat Ghorby memintaku kembali menjadi pacarnya. Dia begitu mudah membuatku tersenyum juga membuatku cemburu. Tapi setiap hal kecil darinya adalah anugerah paling menyenangkan untukku.

Izar telah selesai membawakan lagunya. Ia lalu turun dari panggung sambil tersenyum sumeringah. Tetapi tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Seseorang menutup mataku sambil menyanyikan reff Little Things sekali lagi. Aku menghirup parfum-nya. 

Parfum cowok kesayanganku, Ghorby.

Ia membuka mataku dan duduk di depanku sambil menyodorkan setangkai mawar putih dan tersenyum kecil. "I'm in love with you. And all of your little things is the reason why I'm in love with you. Semoga kita terus begini, Risma."

Ghorby memelukku lalu aku menangis dipelukannya. Ghorby bagaikan kakak, sahabat dan pacar dalam satu paket. Ia adalah semangatku. Dan aku tahu, kenapa aku kuat bertahan dan berubah dari rasa egoisku adalah karena dia.

The reason is him.

***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV

"Jadi, aku mau bicara." Kataku membuka percakapan setelah melahap 3 suap Pop Mie baso yang kupesan barusan. Titi sedang sibuk memakan Pop Mie-nya lalu berhenti dan menatapku dengan cara seksama.
"Kamu mau ngomong apa, sih? Santai aja kali."
"Dengerin aku. Aku cuman ngomong sekali."
"Ya ya ya... Apa, Tu?" Tanya Titi sambil meraih BlackBerry-nya.

Aku menelan ludah. Bismillah. "Aku suka juga sama kamu."
BlackBerry Bold hitam itu langsung jatuh ke bawah dua detik setelah aku mengatakannya.
"Aku tahu apa yang ada dipikiran kamu, Ti."
"Kamu gak tahu apa apa, Tu. I've been waiting for this for a long long time ago."
"I know, maafin aku. Aku baru sadar setelah kamu pergi. Aku yakin kamu mikir ini karma, bener aku ngerasain karma dari kamu. Aku ngerasain friendzone yang dulu kamu rasain. Aku rasain sakit pas kamu sama Winu."

Titi tak bergerak, ia menatapku tak percaya. "Tapi kenapa baru sekarang?"
"Janji fokus UN-ku, Ti. Tapi aku gak bisa liat kamu sama Winu terus."
"Nah, kamu rasain kan apa yang aku rasa, Tu."
"Aku sayang juga sama kamu. Aku ngerasa kehilangan kamu. Kehilangan seseorang yang ingetin aku kalo hujan, cemasin aku kalo aku gak makan.. I miss you."
"Kamu kemana aja selama ini? Kenapa gak pernah peka, sih?"

"Bukannya gak peka, Ti. Aku cuman pura pura gak peka. Aku gak tau harus gimana sama kamu. Aku mau fokus UN, tapi ternyata gak bisa. Aku pura pura naksir anak kelas 7 biar kamu move on, tapi kamu gak move on. Pas itu aku belum ngerasain semua ini. Tapi pas kamu pergi, aku bener bener kehilangan kamu."

"Karma, Tu. Itu karma."
"Tapi aku sayang beneran sama kamu, Ti."
"Aku juga sayang sama kamu, Tu. Sayang banget. Kamu gak pernah tau gimana rasanya nunggu sekian lama, sayang sama seseorang tapi orangnya gak peka."

Hening panjang melanda. Titi tiba tiba memalingkan wajahnya. Dia sepertinya menangis. Aku bangkit dari tempat dudukku dan berlutut dihadapannya.

"Kenapa kamu baru datang sekarang sih?"
"Aku tau aku salah, Ti. Aku sendiri gak tau kenapa baru datang sekarang.. Tolong kasih aku kesempatan Ti.. Aku sayang sama kamu.."
"Aku juga sayang sama kamu, Tu. Tapi..."
"Tapi apa, Ti?"
"Kamu inget gak aku pernah janji aku bakal sayang terus sama kamu apapun yang terjadi, gimana pun situasinya, bahkan ketika udah punya pacar ataupun move on?"
"Iya... Aku selalu inget. Tapi kamu sama Winu cuman temenan kan? Kamu gak bener bener move on kan?"
"Tu...."
"Ti, please... Ti aku sayang sama kamu. Kamu masih nungguin aku kan, Ti?"

Kami saling bertatapan. Dia menghapus air matanya lalu meraih tanganku. Dia menggenggam tanganku lalu menghela nafas panjang.

"Sayangnya aku udah gak nungguin kamu dan kamu datang disaat aku sudah benar benar move on, Gestu."



To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}