The Reason is You chapter 28: Fight for Love

Fight for the things you love. Love for the things worth fighting for.
And I think, you're the one who worth for me to fighting for.
Even you're too careless, treacherous.

***


API UNGGUN CT 2012

MUHAMMAD GHORBY'S POV

"Jaffles siap?" Tanya Titi ketika sampai di bukit tempat kami latihan suara. Ia membawa plastik putih berisi kotak makanan. Aku tersenyum lebar.

"Asik.. Dora dateng bawa makanan!" Seruku sambil mencoba meraih satu kotak dari plastik itu. Dini menarik tanganku lalu menatapku sinis. "No! Latihan dulu! Kita jalan berdua puluh, lo gak takut larinya salah? Waktunya tinggal 2 jam lagi, Ghor! Hidup matinya Jawali-Raffles! Ditonton banyak orang plus alumni, Ghor!"

Aku menatap Dini sinis. "Ya laper Din, Jawali yang lain gimana? Laper gak?" Tanyaku mencoba menatap sahabat sahabat karibku itu dengan memelas. Mereka menggeleng.
"Gak, Ghor. Lo dari tadi latihan gak serius. Kenapa sih?" Tanya Esar.
"Lagi kepikiran mau ketemu Risma kali, ups!" Seru Ninis.
"Wah, mau ketemuan sama Risma ya, Ghor..." Kata Haekal sambil menalikan tali sepatunya.
"Balikan ini sih hahahaha." Kata Fita sambil mengeluarkan tawa khasnya.
"Yaudah sih kalo gue masih sayang.. Mantan gue ini, iri ya lo!"
"Ih mantan gue juga, Ghor!" Seru Winu.
"Hahahaha udahlah gue masih sayang juga gak bisa bareng."
"Nah tuh kan... Pratama galauin mantan!"

Aku terdiam. Jaffles memang benar, aku sedang memikirkan tentang Risma. Setelah obor nanti, kami berdua akan bertemu dan entah apa jadinya. Aku memang masih menyayangi Risma, tapi kurasa kami tidak bisa bersama lagi.

Kamu tahu, ketika kamu menyayangi seseorang tapi sikapnya membuatmu muak dan kamu tidak ingin menyakitinya, itu adalah keadaan yang jauh lebih sulit daripada memperjuangkan cintamu untuknya. Aku sendiri bingung harus bagaimana pada Risma.

Aku ingin Risma percaya padaku tapi sepertinya sulit. Dia terlalu pencemburu dan aku tidak suka itu. Kurasa malam ini kami benar benar akan berakhir. Bukan karena Ninis, bukan karena orang lain, bukan hanya karena Risma, tapi karena mungkin cintaku dan Risma tidak bisa disatukan bahkan setelah aku berjuang untuk menyatukannya.

Hatiku menolak untuk kembali pada Risma walaupun aku masih menyayanginya. Tapi aku bingung bagaimana menjelaskan hal ini padanya. Aku hanya ingin Risma bahagia. Tapi aku tidak bisa membahagiakannya jika dia seperti ini.

"26 makan dulu, nanti latihan sekali lagi terus langsung ke bawah. Pastiin atribut lengkap! Dora, jangan mules!" Seru Nadia sambil membagikan kotak makanan. Titi mengerucutkan bibirnya lalu rambutnya di acak acak oleh Winu. Aku melirik ke arah Gestu, ia kini ikut ikutan mengerucutkan bibirnya. Aku tersenyum kecil.

Aku ingin mendapatkan kisah cinta seperti Titi. Penuh perjuangan dan entah kapan ada ujungnya. Sepertinya asyik dan tidak diributkan oleh permasalahan masa lalu dan kecemburuan berlebihan. Aku juga ingin disayangi secara tulus seperti Titi menyayangi Gestu. Kurasa Gestu terlalu bodoh jika mengabaikan Rafflesia-ku yang satu itu. 

Gestu sebenarnya sangat beruntung, dia tidak perlu berjuang atau melangkah lebih jauh lagi. Di depannya sudah ada cewek yang begitu menyayangi dia. Tapi fokus UN yang entah apa benar atau tidak membuatnya tidak mau maju dan berpacaran.

Nadia menyodorkan kotak makanan itu lalu mengajakku berjalan menjauhi para Jaffles yang duduk di sebuah saung. Sorak sorai terdengar dari saung. Iya, aku sudah tau itu semua bukan hanya lelucon. Nadia memang sudah lama menyimpan perasaan nya padaku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa bersamanya karena kami sudah terlalu dekat.

Kami lalu berhenti di pinggir lapangan kosong dan duduk bersebelahan di temani oleh angin sejuk dan cahaya senja. Nadia lalu membuka kotak makannya dan begitu juga denganku. Ia melahap kerupuk sambil tersenyum kecil.

"Ghor, tau gak kenapa gue ngajak lo kesini? Nih, lo liat. Senjanya cantik banget ya? Gue mau nunjukin ke elo. Gue tau dari sini keliatan senja yang bagus."
Aku menelan ludah. Oh no.. Jangan bilang Nadia mau bilang suka padaku. "Eum.. Harusnya cowok yang kayak gitu, Nad!"
"Ya karena kalo nunggu lo, gak tau kapan bakal diajaknya."

Hening panjang melanda. Susana canggung mulai terasa. Nadia melahap nasinya perlahan sementara aku belum memakan satupun makanan dari kotak makan itu. Aku melihat ke sekitar dan mendapati suasana sepi menyelimuti kami berdua. Aku harus kembali menghangatkan suasana tapi aku tidak tahu harus berkata apa...

Lalu aku melihat ada gunung di belakang kami. Ingin aku berkata "Nad! Gunungnya cantik ya! Kayak apa ya...." tapi rasanya.... Ugh. Tidak, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika seorang gadis akan menyatakan cintanya padaku! Arrrgh!

Andai kau bukan sahabatku, Nad.

"Ghor, gue tau lo udah tau..."
"Tau.. Tau apa?"
"Ya, gue suka sama elo. Udah lama, bahkan sebelum jadi Pratama-Pratami."
"Ya... Gue tau kok banyak orang yang suka sama gue!"
Nadia menghela nafas. "Beda, Ghor. Bukan suka sebatas sahabat, lebih."

Aku terdiam. Nadia terdiam. Aku menyendokkan nasi dengan ayam bakar kecap sementara Nadia menghela nafas.

"Gue berani ngomong gini karena gue rasa lo udah lupain Ninis, lo udah putus sama Risma dan lo juga pernah ngajak gue.... Jadian." Kata Nadia terbata bata. Aku yang tadinya akan memasukkan nasiku ke dalam mulut langsung terpaku.

Aku jadi ingat percakapanku dengan Abizar dulu. Ia bilang aku terlalu banyak bercanda dan sering tidak memikirkan terlebih dahulu tentang candaanku. Mungkin hari ini karmaku datang. Aku bingung harus berkata apa pada Nadia.

"Nad sorry.... Gue cuman bercanda..."
Nadia mengelap air pipinya. Sial, dia menangis! "Iya, gakpapa Ghor gue juga belakangan sadar pasti lo bercanda.."
"Sorry.. Gue hargain banget perasaan lo dan makasih banget, Nad. Cuman gue gak bisa. Kita sahabat, Nad. Kita satu, keluarga Jaffles. Kan gue udah bilang sendiri gue gak bisa pacaran di eskul yang sama. Apalagi Pramuka sekarang bukan cuman eskul kan buat kita..."

Nadia menaruh kotak makannya lalu tersenyum kecil. "Iya, Ghor... Gue ngerti kok. Salah gue juga suka sama orang yang udah kayak saudara sendiri. Perjuangan gue sia sia ya..."
"Enggak, Nad. Cinta tuh gak pernah salah. Cuman waktu sama keadaan aja yang gak ngedukung. Gue sadar kok selama ini lo sayang sama gue lebih dari sahabat dan gue hargain perjuangan lo, tapi kita emang gak bisa...."

"Gue tau akhirnya gini." Kata Nadia sambil berdiri.
"Please jangan marah sama gue..."
"Lo inget Ghor waktu kita latihan obor ke Sidomba waktu belum banyak anak baru yang masuk Jaffles?" Tanya Nadia. Aku bangun dan berdiri di sampingnya.
"Iya..."
"Ketawa bareng bareng, seru seruan.. Gue sayang sama kalian, sama elo."
Aku tak bicara apapun. Ia menghela nafas.

"Ghor, gue tau hati lo sebenernya masih buat Risma dan gue tau sebenernya Risma bisa bahagiain lo. Ujian Risma yang cemburuan itu adalah ujian untuk cinta lo, Ghor. Sama aja kayak gue yang dapet ujian bertubi tubi lo jadian dan suka sama banyak orang. Tapi, Ghor gue terus menerobos ujian ujian itu sampai akhirnya di titik ini. Titik dimana gue utarakan perasaan gue walaupun gue tau gak bakal di bales. Cinta tuh butuh perjuangan, Ghor dan kalau lo berhenti cuman gara gara itu tapi lo bilang lo masih sayang sama Risma, coba pikirin lagi."

"Tapi emang gue gak bisa pacaran kalo Risma gitu terus..."
"Lo udah nyoba minta dia berubah dan dia gak berubah kan?"
"Iya... Mangkanya gue putusin."
"Tapi kalo lo sayang banget sama dia, gak bakal ada kalimat 'sayang tapi gak bisa pacaran' lo pasti bisa memperjuangkan dia."
"Gue... Gue...."

Nadia lalu membuka tas kecilnya dan mengeluarkan selembar foto. Foto Jaffles saat pertama kali latihan obor di Sidomba. Saat Gestu sedang memarahi Esar karena ia terus di ganggu. Saat dimana kami baru sampai di titik impian kami, menjadi Rajawali-Rafflesia.


"Kita sampe di titik Jaffles juga lewatin banyak ujian kan, Ghor? Banyak suka duka dan putus asa. Tapi karena kita cinta Pramuka, kita perjuangkan itu kan, Ghor? Nah, di setiap cinta pasti ada perjuangan...."

"Di setiap perjuangan pasti ada rintangan dan keberhasilan cinta di tentukan dari seberapa kerasnya perjuangan kamu untuk melewati rintangan itu apapun bentuknya. Hasil dari perjuangan kamu bisa manis bisa pahit, yang penting kamu sudah berjuang."

Aku tak bisa berkata apa apa selain diam dan memperhatikan Pratami-ku berbicara. Dia benar.. Aku sebenarnya tidak boleh begini. Aku sayang Risma dan aku harus memperjuangkan dia.

"Kamu boleh putus asa, Ghor. Tapi kamu gak boleh nyerah. Karena ketika kamu sudah merasakan rasa sayang pada seseorang, itu artinya dia orang yang patut kamu perjuangkan."

Aku tersenyum kecil lalu mengangguk. "Terima kasih, fans."
Nadia menimpukku dengan kotak makanannya. Aku tertawa kecil. "Iya, Ghor. Makasih udah bikin Nadia senyum terus. Nadia sudah berjuang dan gak dapet jadi ya.. Move on!"
"Move on? Balikan ke Fauzan gitu?" Godaku. Nadia menimpukku lagi.
"Pratama!" Serunya kesal. Aku tersenyum lebar.

***

DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV


Dari pinggir lapangan, aku memperhatikan golongan Pramuka yang sedang melaksanakan upacara api unggun dan disana berdiri dengan gagah dua orang yang sangat aku sayangi sekarang, Haekal dan Ridho.

Malam ini aku akan memilih dan memperjelas masalah diantara mereka supaya tidak ada yang bertengkar karena aku. Aku rasa pilihanku sudah tepat dan yang terbaik. Tapi aku tidak tega dengan yang lainnya.... Karena aku juga menyayanginya.

Upacara api unggun itu berlangsung sakral. Obor yang dibawa terasa sangat gagah dan menjadi penerang satu satunya pada malam berbintang ini. Ketika upacaranya selesai, aku memisahkan diri dari golongan cewek 9F sambil komat kamit meminta dukungan. Mereka semua mendukung apapun yang aku pilih.

Aku berjalan menuju ayunan yang tidak jauh dari lapangan itu. Haekal dan Ridho berjalan di belakangku. Malam ini cukup dingin sehingga aku merapatkan lagi jaket merahku. Mereka berjalan berjauhan. Aku menghela nafas lalu duduk di ayunan tersebut.

Haekal dan Ridho datang dan duduk di depanku. Wajah mereka sama sama tegang, mereka menatapku tapi tidak saling bertatapan satu sama lain. Aku semakin merasa bersalah untuk memilih.

Tapi mereka sudah berjuang untuk mendapatkan aku dan kini saatnya aku berjuang untuk mendapatkan apa yang aku mau.

"Makasih udah dateng... Aku langsung ke pokok pembicaraan aja ya. Dho, Haekal tuh gak ngekhianatin kamu. Dia gak tahu kalo kamu sebenernya suka juga sama aku. Haekal sebenernya suka sama aku lebih dulu daripada kamu...."
"Ni, seharusnya bukan kamu yang ngejelasin tapi aku aja..." Kata Haekal. Ridho tetap diam, pipinya kini terlihat memerah.
"Ssh, aku yang menyebabkan kalian bertengkar dan aku gak mau kalian gitu terus. Kalian tuh orang yang berarti untukku."
"Tapi, Ni. Aku yang lebih dulu berjuang untuk mendapatkan kamu..." Kata Ridho akhirnya angkat bicara.
"Iya, memang kamu yang lebih dulu maju. Tapi.... Aku dari dulu sudah menyukai Haekal, Dho. Maaf banget."

Ridho tersentak, begitu juga Haekal. Aku tetap mencoba tenang supaya tidak menangis tapi air mataku pun jatuh. "Maafin Bani, Dho.. Tapi Bani juga sayang sama kamu, cuman hati Bani udah milih Haekal duluan... Makasih udah sayang sama Bani.. Kita temanan aja ya?"

Air mataku tumpah. Haekal diam seribu kata sementara Ridho sudah meringis dan mendengus pelan. Maafkan aku, Dho...

"Aku kira kali ini kamu yang patut aku perjuangkan, Ni. Ternyata aku salah. Bani emang buat  elo, Kal. Elo pantes dapetin cewek sebaik dia. Jaga Bani baik baik, ya." Kata Ridho sambil menepuk nepuk pundak Haekal. Ia bangkit dari ayunan dan menarik nafas.
"Dho.. Sorry.. Gue..."
"Gakpapa, Kal. Gue ngerti. Perasaan gak bisa dipaksain dan gak ada yang tau kapan dan dengan siapa datangnya. Elo tetep sahabat gue kok, Kal. Maafin gue ya yang kemarin kemarin dan Bani... Semoga bahagia."

Ridho berjalan meninggalkan aku dan Haekal yang sama sama tak bisa bicara. Air mataku terus tumpah. Aku telah menyakiti Ridho tapi hatiku memilih Haekal.. Haekal perlahan menggenggam tanganku lalu berkata.

"Fight for the things you love. Love for the things worth fighting for. I love you, Ni."

Aku tersenyum kecil. Haekal menghapus air mataku lalu memelukku. "I love you too, Kal."

***

RHEZA AUDITYA WIJAYA'S POV

Malam ini Bhimo menemaniku untuk mengisi malam pensi. Aku berniat menyanyikan sebuah lagu untuk Ifa. Aku rasa aku sudah sering sekali mengabaikan Ifa dan membuat Ifa bersedih karena terus menerus memikirkan nasib Yara.

Yara sekarang sudah lebih 'hidup' daripada biasanya dan itu membuatku sedikit lega. Tapi menjelang hari kelahirannya, Yara masih saja bermusuhan dengan Shelly dan Nabila. Aku sendiri bingung, apakah mereka akan segera berbaikan atau tidak.

Aku meraih microphone dari Bu Siti lalu duduk di tangga dekat penonton kelas 7. Lalu Bhimo berjalan di sampingku dan menemaniku. Aku tersenyum kecil ke arah Ifa dan ia pun membalasnya. Hari ini hari jadi kami. Aku ingin membuatnya kembali ceria dan tidak terus menerus marah padaku.

"Malam Spensa! Malam Vancouver! Hari ini saya dan Bhimo akan membawakan sebuah lagu yang tidak asing lagi didengar... Hehehe. Saya menyanyikan ini untuk seseorang yang berada di sini. Ini tanggal 2, apa kamu ingat?


"Ini untuk kamu, Ifa. Jangan negative thinking terus ya. Audit ya cuman ke kamu seorang. Happy months anniversary my best thing!" Seruku lalu diikuti oleh tepuk tangan dan sorak sorai penonton. Ifa terlihat menangis dari kejauhan. Aku segera menghampirinya lalu meraih tangannya.

"Maaf yah belakangan ini suka bikin kamu kecewa. Tapi kamu gak bisa digantikan oleh siapapun. You're the best thing that's ever been mine, Ifa..."

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Hatiku tercekit melihat Yoga dan Rianthy yang sedang duduk berdua. Rianthy memakai jaket milik Yoga dan lagi lagi itu menambah sakit hatiku. Aku ingin menangis tapi untuk apa? Toh Yoga juga tidak memikirkanku...

Aku segera berlari ke keyboard ketika Titi dan Novi sudah siap dengan microphone mereka. Kami akan menampilkan duet That Should Be Me untuk pensi kali ini. Novi akan bermain gitar sementara Titi hanya bernyanyi.


Mendengar lagu ini, ingatanku terputar pada saat aku masih dekat dengan Yoga. Saat Vicky, Livia dan Alvan terus menerus mengejekku bahwa Yoga tidak akan berpaling padaku. Mereka benar, Yoga malah memilih Rianthy.

Tapi aku lebih rela kehilangan Yoga daripada sahabat sahabatku. Aku sadar, setelah aku berjuang, aku akhirnya bisa mendapatkan kepercayaan mereka kembali. Kami bisa bersikap normal seperti biasanya dan kini mereka sedang ada dipojokan sana menatapku sambil mengejekku. Ejekan kasih sayang.

Karena untukku, tidak ada yang lebih penting di dunia ini daripada Tuhan, keluargaku dan mereka, Vicky, Livia dan Alvan. Pada akhirnya aku mengerti, kenapa aku disini, kenapa aku bisa bertahan, kenapa aku bisa melalui semuanya, itu semua karena mereka, sahabat terbaik sepanjang masa!

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

"Maafin Ghorby, Ris.. Ghorby udah salah dan gegabah. Ghorby cuman capek. Tapi Ghorby sayang banget sama Risma jadi Ghorby mau balik sama Risma.. Ghorby mau berjuang demi Risma. Ghorby mau kita bisa bertahan, Ris."
"Iya, Ghor. Risma juga mau berjuang buat Ghorby. Risma janji, Risma bakal berubah!"
"Makasih ya, Ris.. Ghorby sayang banget sama Risma." Kata Ghorby sambil memelukku. AKu tertawa kecil lalu mengusap usap rambutnya.
"Sama sama, Ghor.. Tapi rambutnya dilurusin ya..."
Kami tertawa.

"Tadinya Ghorby gak mau balik sama kamu lho!" Seru Ghorby sambil meraih tanganku. Kami berjalan menuju tempat pensi lagi dan aku menatapnya sinis.
"Terus kenapa gak jadi?"
"Ya sayang sih sama kamunya...."
Senyumku menggembang. 

"Padahal Ghorby udah nyiapin lagu buat Risma!"
"Hah? Apaan?" Tanyaku. Ghorby mengeluarkan BlackBerry-nya, mencari cari lalu menyodorkannya padaku.


We Are Never Ever Getting Back Together dari Taylor Swift berada satu album dengan lagu yang aku kirimkan pada Ghorby, I Knew You Were Trouble. Sial, sejak kapan dia suka Taylor Swift?

"Sejak kapan kamu jadi suka dengerin Taylor Swift?"
"Sejak kamu ngirimin lagu itu, aku search eh dapet lagu itu. Udah susah susah nyari malah balikan... Sia-sia."
"Yaudah gak usah balikan aja!" Seruku, pura pura ngambek.
"Eits, jangan gitu! Akunya sayang sama kamu!" Seru Ghorby. Seperti biasa candaan keterlaluan Ghorby malah bisa membuatku tersenyum lebar.

"Kita berjuang bareng bareng yah?" Tanya Ghorby. Aku mengangguk.
"Iya, Ghor. Pasti."


Mendekati final chapter! To be continued...



You may also like

4 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}