[FINAL CHAPTER] The Reason is You chapter 36: Vancouver Graduation Day

Terima kasih untuk Reasonators, Alicers, all cast The Reason is You, Vancouver'85 & pengisi soundtrack (Audit, Yara, Izar, Mauren, Novi, Nadhira, Ifa) untuk seluruh dukungannya. Buat 4 bulan ini, buat yang baca The Reason is You sampe chapter 36 atau berhenti ditengah jalan terus baca lagi sampai selesai.. Makasih banyak kritik, saran dan dukungan yang berharga banget buat gue:"}

This is one of the most everlasting things of my Junior High School. 
Ini buat kalian, Vancouver'85. This is it. The Reason is You chapter 36 a.k.a final chapter, Vancouver Graduation Day by Tipluk Pattinson. Ciao, Reasonators!{}

***


VANCOUVER GRADUATION DAY, HOTEL SANTIKA CIREBON, MAY 2013

RIANTHY APRILLIA'S POV

Aku memasuki area taman dan kolam renang Hotel Santika Cirebon sambil berdecak kagum. Panitia Vancouver Graduation Day sangat ahli dalam membuat konsep bagus dengan dana yang ada. Angkatanku memang menginginkan adanya Prom Night, tetapi tidak diperbolehkan jadi kami mengajukan konsep Graduation Day yang berbentuk seperti Prom Night dan diadakan pada malam hari. Entah bagaimana cara Ifa sebagai ketua pantia meyakinkan Pak Tusman tapi ini semua berhasil.

It will be everlasting.

Aku berjalan perlahan dengan kebaya modern pink-ku dan high heels 7cm. Ibu dan Ayahku sudah berjalan mendahului ke tempat duduk orang tua murid. Sementara aku menghampiri sahabat sahabatku yang sedang berkerubung menunggu acara dimulai.

Enam bulan berlalu setelah Vancouver Tour ke Jatim dan aku melewati banyak hal menakjubkan bersama teman temanku. Mulai dari jatuh bangun ujian sana sini, menyelesainkan tugas dan ujian praktek, menghadapi Ujian Nasional sampai mendapatkan SMA. Semuanya benar benar tidak bisa dilupakan.

Aku lalu memisahkan diri dari teman temanku dan berjalan ke pinggiran kolam renang. 20 menit lagi acara akan di mulai dan dia masih belum datang. Aku menyalakan Blackberry Torch hitamku dan tertegun melihat foto yang terpampang disana.

Foto itu diambil  1 tahun yang lalu saat kami kelas 8 SMP. Ada aku, Yoga dan Habibie dibelakang kami. Aku semakin merindukan Yoga...

Setelah Yoga jadian dengan Valda, aku memang sedikit menjaga jarak dengan Yoga. Tapi dia selalu datang padaku dan bersikap biasa. Hal itu membuatku semakin sulit melupakannya. 

Awalnya Valda masih sering menuntut banyak hal pada Yoga dan hal itu membuatku marah pada Yoga. Aku semakin tidak rela melihat Yoga bersama Valda. Tapi lama kelamaan dia berubah dan membuatku berani melepas Yoga.

Lalu beberapa bulan yang lalu aku jadian dengan seniorku, Rafli Tamara Putra. Dia baik sekali dan dia satu satunya orang yang berhasil membuatku melupakan Yoga. Walaupun sebenarnya dalam hatiku, tempat untuk Yoga takkan pernah tergantikan untuk siapapun.

Selama ini aku dan Yoga juga jadi jarang bersama karena Yoga tidak mau menyinggung perasaan Valda dan akupun tidak enak pada Rafli. Tapi tetap saja, aku merindukan Yoga dalam artian sebagai sahabatku.

Tiba-tiba gambar dua orang cewek dan cowok berada tepat di depan wajahku. Mereka berdua sedang mengikat janji dengan janji kelingking. Aku kebingungan melihatnya tapi tiba-tiba suara serak itu memanggil namaku dengan sebutan kesayangannya. Ranthy.

[THIS PICTURE BELONG TO: EGA NISSYAWALI LISTIANDITA//VANCOUVER'85//BRITISH]

Yoga tertawa kecil sambil meraih tanganku dan memberikan gambar itu. "Ini aku bikin buat kamu, Rianthy. Selamat sudah lulus SMP. Kita sama sama masuk SMANSA, ya?" Ajaknya sambil tersenyum.

Air mataku tumpah. Gambar yang Yoga berikan itu adalah gambar buatannya sendiri. Gambar yang membuat aku dan Valda sempat bertengkar karena ketika Yoga memberikan gambar itu padaku, Valda marah besar dan akhirnya aku mengembalikan gambar itu.

Entah ini air mata kesedihan atau kebahagiaan, tapi aku benar benar merindukan Yoga. Selama ini aku menahan perasaanku untuk Yoga, demi Yoga bahagia, supaya dia dan Valda tidak bertengkar karena aku. Selama ini aku mengorbankan perasaanku demi Yoga, demi kebahagiaan Yoga, supaya dia bahagia walau bukan dengan aku.

Yoga langsung memelukku. "Kamu nangis karena kamu lulus dan gambar itu kembali ke kamu atau kamu masih juga gak bisa bener bener jadian sama aku?" Tanya Yoga sambil tertawa. Aku dengan cepat melepas pelukannya dan melancarkan sebuah pukulan padanya. Yoga menyebalkan!

"Sialan, that's our past." Kataku sambil menghapus air mataku. Yoga meraih iPhone putihnya dari kantong jasnya lalu tersenyum kecil.
"Aku gak rela kamu sama dia. Titik. Sekian. Makasihhh. Dari Rianthy Aprillia Dewi, 2 Januari 2013." Katanya sambil tertawa jahil. Aku memukulnya lagi.
"Yoga ngeselin ya!"
"Hahahaha Ranthy... Makasih ya, buat semua yang udah kamu korbanin untuk Yoga."
Aku terisak. "Yoga harus tau banyak hal yang Ranthy korbankan demi kamu."
"Iya aku tau. Tapi pada akhirnya kamu dapetin yang lebih baik daripada aku kan?" Tanya Yoga sambil tersenyum.


Aku ingat Yoga menyuruhku untuk move on. Dia bilang aku akan mendapatkan yang lebih baik. Tapi aku masih saja stuck di Yoga sampai akhirnya Rafli datang dengan sendirinya. Rafli meyakinkanku bahwa menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti adalah pekerjaan yang paling bodoh yang pernah ada dan akhirnya aku sadar bahwa..

Pada akhirnya, setelah seluruh perjuangan, penungguan dan pengorbanan yang kita lakukan untuk sesuatu yang kita mau, pasti kita akan mendapatkan hal yang terbaik untuk kita walaupun tidak sama seperti apa yang kita harapkan. Karena Tuhan punya caranya masing masing untuk mewujudkan doa kita.

"Is there anyproblem if someone in love with her bestfriend?" Tanyaku heran.
"Nope. Tapi terkadang memang sahabat hanya bisa jadi sahabat. Seperti aku sama kamu."
"Apa kamu gak pernah ada perasaan lebih untuk aku, Yog?" Tanyaku dengan suara parau. Yoga tertawa kecil. Dia menggigit bibirnya lalu mengusap kepalaku.

"Itu gak penting, Nthy. Ada ataupun gak ada, itu semua gak bakal ngerubah apa apa. Kamu tetep sahabat aku sampe kapanpun. Kamu sekarang punya Rafli dan aku punya Valda. Kita bisa bahagia dengan cara kita masing masing tanpa mengorbankan persahabatan kita. Makasih buat perasaan kamu. Tapi kita lanjutin semuanya dengan sahabatan aja ya?" 

Aku mengangguk. Yoga secara tidak langsung mengajariku banyak hal. Ia membuatku lebih sabar dan lebih memaknai hidupku. Kini aku mengerti, bahwa rasa nyaman yang kita rasakan pada seseorang pasti juga dirasakan oleh dirinya, tapi tidak akan selalu berakhir dengan kata 'jadian'.

"Duh udah deh galaunya, mending kesana yuk. Bentar lagi mulai acaranya. Ranthy cantik deh malem ini!" Seru Yoga sambil tertawa. Aku membenarkan flower crown-ku lalu mengikuti langkahnya sambil menatap bintang di langit.

Bintangnya banyak sekali Yog. Sebanyak rasa sayang aku sama kamu. Tapi aku sadar perasaan ini harus terhenti karena kita sahabat dan sudah punya pasangan masing masing. Aku bersyukur mempunyai sahabat seperti kamu.

Karena cinta seorang sahabat tidak perlu ditunjukkan dengan 'yuk jadian' tapi 'ini lho gunanya sahabat' dan aku tau itu, semua karena kamu. Terima kasih untuk cerita cinta menakjubkan di SMP sebagai pacar bohonganmu, Yoga.

Semoga aku bahagia dengan Rafli, semoga kamu bahagia degan Valda. I love you, my man.

***

NABILA TAZKIA'S POV

Masuk ke acara hiburan, Ifa membuka suasana romantis malam ini dengan lagu Believe dari April Rose. Ifa memakai kebaya ungu dengan kerudung putih dan heels putih yang membuatnya lebih cantik daripada biasanya. Sementara Audit berdiri tepat di sampingnya dengan gitar coklat dan tuxedo-nya. Mereka tampak sangat serasi hari ini.


Aku tak menyangka sudah hampir satu tahun aku bersekolah di SMPN 1 Cirebon. Aku sudah melewati masa masa sulit sebagai murid baru dan dikucilkan. Lalu saat mempunyai teman, aku malah bertengkar dengan sahabatnya karena aku dikira merebut sahabatnya. Konyol. But that's the most everlasting part of my journey here.


Aku mengecek iPhone-ku dan membuka instagram-ku sendiri. 1 minggu yang lalu tepat dihari pengumuman kelulusan, aku berfoto dengan Shelly-Yara, dua gadis yang kini menjadi sahabatku.

Setelah melalui perjalanan panjang yang membuatku sering emosi, aku jadi menyadari betapa eratnya persahabatan seseorang ketika mereka sudah menganggap sahabatnya adalah bagian dari diri mereka sendiri.

Aku sendiri tidak percaya bahwa aku akhirnya bisa menyelesaikan masalah diantara Shelly dan Yara yang terbentuk karena kehadiranku. Aku bersyukur akhirnya mereka berdua kembali bersatu.

Yang paling membuatku bahagia adalah akhirnya Yara tidak membenciku lagi dan dia sudah tidak sinis lagi padaku. Kami jadi bersahabat dan alhamdulilah kami bertiga lulus dengan nem diatas 38 dan tembus SMANSA Cirebon. Aku sangat bahagia sekali!

Aku sempat putus asa saat menjalani hari hariku, tapi mereka yang membuat semangatku bangkit lagi. Dan aku sadar, ketika kita tulus dan menghargai orang lain, kita akan mendapatkan kenikmatan yang tak terhingga dari Tuhan.

"Nab, Yara udah mau tampil. Kesana yuk!" Seru Shelly sambil menarik tanganku. Aku mengikuti jalannya lalu berdiri di depan panggung sambil melihat Yara yang sedang bersiap siap. Ia sudah duduk di kursi putih dengan gitar coklatnya.


"Suaranya Yara makin bagus aja ya..." Gumam Shelly.
"Iya.... Eh, Shell. Makasih ya." Kataku sambil terus menatap Yara. Shelly menoleh lalu tertawa.
"Justru gue yang harus bilang makasih sama elo. Karena elo, gue sama Yara jadi lebih ngerti arti persahabatan... Maaf ya Yara sempet sinisin elo lama pas itu. Gue gak nyangka akhirnya kita sahabatan kayak gini. Semoga selamanya ya, Nab."
"Iya, Shell..."

Dan aku bersyukur karena aku pindah ke kota kecil ini dan bertemu mereka. Sahabat sahabat baruku. Shelly Ila Amalia, Tiara Annisa Adhi Maulidanthy dan Vancouver'85.

***

MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV

Enam bulan setelah Vancouver Tour sudah aku lewati dengan jungkir balik bersama Alda dan aku sangat bersyukur bahwa akhirnya aku bisa mendapatkan dia. Aku akhirnya sadar jika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, Tuhan akan menunjukkan hal lain yang lebih baik daripada apa yang kita mau.

Kini aku sedang berkumpul dengan anggota kelas 9D. Ada aku, Alda, Alvan, Sulthan, Novi, Fadhel, Faisal, Silvy dan Fita. Tiba-tiba Gestu datang dengan wajah panik sambil sibuk dengan iPhone-nya. Aku menoleh ke arah panggung. Di sana ada Mauren yang sedang menyanyikan lagu Pilihlah Aku. Aku jadi teringat kemarin malam...



"Besok Dora dateng gak ya, Ges?" Tanyaku sambil membukakan pintu pagar karena Gestu akan pulang setelah membereskan bebrapa berkas yang akan Rajawali 26 tinggalkan untuk angkatan berikutnya. Gestu menatapku aneh.
"Ya masa dia gak dateng, dia kan bisa dibilang tetuanya Vancouver. Masa gak ada."
Aku tertawa. "Gue peka kok, Ges. Maksud lo 'masa dia gak dateng di hari janjian kita' iya kan?"

Gestu meninju bahuku. "Gue gak tau harus ngomong apa ke dia besok."
"Ya bilang aja lo suka sama dia, selesai."
"Mau yang spesial... Tapi masa gue harus nyanyi lagu pilihlah aku biar dia mau milih gue dan gak ke Winu?"
"Emang dia masih mau ke Winu? Sotil banget sih."
"Lah? Siapa tau setelah 6 bulan taunya gue dibohongin, dia jadian sama Winu di depan gue, kan gak lucu. Udah lama lama nunggu, malah gak ada kepastian."
"Sadar gak sih ini tuh karma buat lo gara gara lo kelamaan bikin Dora gue nunggu, Ges?" Tanyaku sambil  tertawa. Gestu mengangkat bahunya lalu menyalakan mesin motornya.

"Yah mungkin gitu."
"Tapi perasaan lo bukan cuman karma kan, Ges? Lo tulus kan? Awas aja mainin Dora gue."
Gestu tertawa. "Enggaklah, gue balik ya. Liat besok, bio dia pasti diganti  jadi Jawali01."
"Kalo jadi Jawali03?" Godaku sambil tertawa. Winu itu banjar 03. Gestu memutarkan bola matanya.
"Ah tau ah, balik dulu. Makasih ya, Dho. Doain gue!"

Lalu Gestu hilang begitu saja dari pandangan mataku.

"Liat Dora gak?" Tanya Gestu ketika sudah sampai di tengah tengah kami. Kami semua refleks menggeleng. 
"Enggak, kenapa?" Tanya Alda heran. Aku tertawa kecil.
"Tanya gih sama kakaknya!" Seru Alvan sambil menunjukku. Gestu memutar bola matanya lalu memberi kode untuk mengikutinya. Aku berjalan mengikutinya sambil tertawa. Dora, ini liat calon pacar kamu kebingungan gara gara kamu...

"Si Dora mana?" Tanya Gestu tak sabaran. Aku tertawa lagi.
"Tuh lagu Pilihlah Aku. Nyanyi gih biar Dora dateng, Ges. Hahaha."
"Serius, Dho. Tadi aja pas pembukaan belum dateng. Untung aja pembagian mendali di taronya di akhir biar anak anak gak langsung pulang."
"Lagi makan, kali." Jawabku singkat sambil melirik tempat makanan murid. Gestu menggeleng.
"Gue udah muterin hotel ini berapa kali, gak ada. HP-nya gak aktif."

Aku merogoh kantong jasku lalu mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Gestu. "Sekarang lo ngerti kan gimana capeknya nunggu tanpa kepastian, Ges?" Tanyaku lalu pergi meninggalkan Gestu.

Karena Gestu harus mengerti Titi sudah melakukan semuanya untuk dia. Kini saatnya dia yang merasakan bahwa ketika ia mencintai seseorang, ia harus berkorban waktu, tenaga dan perasaan demi orang itu. Bahkan ketika tanpa kepastian.

Semoga kamu bahagia, Dora. Seperti Mas Rasyid yang sudah bahagia.

***

SILVY SANTIKA'S POV

Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar dan hatiku masih saja menyisakan ruang untuk Fasial. Walaupun kini sekarang aku dan Lega semakin rukun, tapi hatiku masih saja menaruh perasaan untuk Faisal.

Aku berjalan mendekati Faisal yang sedang berdiri dipinggir kolam renang dengan segelas Coca Cola di tangannya. Dia sangat tampan malam ini dan aku tak berhenti berdecak kagum jika mengingat pakaiannya sangat serasi dengan kebaya merahku ini.

"Hai." Sapa Faisal ketika dia menyadari kedatanganku. Aku tersenyum.
"Hai. Sendirian aja?"
Faisal mengangguk. "Iya. Jadi milih SMANSA atau SMANDA?" Tanya Faisal membuka topik. Aku menggeleng. "Belum yakin, tapi kayaknya SMANDA. Kamu?"
"The same with you.. Lega Tarnus ya?"

Seakan akan ada batu yang menghantamku, hatiku terasa sakit sekali. Aku tidak rela melepaskan Lega pergi ke Taruna Nusantara tapi itu demi cita-citanya. Aku mengangguk pelan lalu mengalihkan pandanganku ke arah panggung. Disana ada Nadhira berdiri sambil menyanyikan lagu Biarlah dari Killing Me Inside.

"Kalo aku putus sama Lega, apa kamu bisa ke aku, Sal?" Tanyaku tiba-tiba.
"Kapan kamu akan ninggalin dia?"
"Entah kapan.. Aku sayang banget sama dia, tapi dia bakal ninggalin aku ke Tarnus. Sementara kamu ada di samping aku. Aku bingung, Sal..."

Faisal mundur satu langkah.

"Aku sudah pindah, Sil." Kata Faisal saat lagu itu sudah berada di tengah jalan. Aku  terdiam.
"Walau sebenarnya aku masih sayang sama kamu, tapi aku gak bisa. Aku harus pindah hati." Sambungnya. Dia terdengar mengetuk ngetukkan sepatunya.
"Selama aku hidup, baru pertama kali aku sayang banget sama cewek kayak ke kamu dan mungkin itu gak bakal berubah. Tapi aku gak bisa nunggu kamu lagi, Sil. Enam bulan ini aku belajar buat tanpa kamu dan aku bisa, walaupun hati aku gak bisa lupain kamu."

Air mataku menetes. Faisal mundur satu langkah lagi.

"Selamat ya sudah lulus. Selamat juga sudah pernah mengisi hatiku walau hanya sesaat. Dengar, sejauh apapun Lega nantinya, kamu jangan mengeluh. Kalo kamu sama Lega bener bener saling menyayangi, sejauh apapun Magelang ke Cirebon, hati kalian akan selalu menyatu."

Aku terisak. Faisal mundur satu langkah lagi.

"Jangan berfikir untuk ke aku saat Lega gak ada buat kamu. Aku bakal nerima kamu kalo kamu bener bener yakin bahwa bukan Lega yang seharusnya disamping kamu. Takdir mengatakan kamu harus sama Lega dan yakinin diri kamu kalo kita cuman sahabat, Sil... Jaga hati kamu. Maafin aku. Selamat untuk nem 39 nya. Sampai ketemu di SMANDA."

Faisal berbalik lalu meninggalkanku. Aku langsung menangis. Aku bodoh. Kenapa aku bertanya seperti itu sementara aku mempunyai Lega? Aku egois sekali. Aku harusnya memilih antara Lega atau Faisal apapun kekurangan dan kelebihan mereka.

Enam bulan yang lalu aku telah memilih Lega dan kini saat ia akan pergi, tidak sepantasnya aku malah meminta Faisal kembali. Itu sama saja aku menyakiti Faisal dan Lega secara bersamaan..

Aku sudah memilih dan aku harus meyakinkan hatiku kalau pilihanku itu benar. Lagi lagi ada saja penghalang antara cintaku dan Lega. Aku tidak boleh seperti ini. Jarak bukan apa apa ketika dua orang saling mencintai, bukan?

Semoga Lega memang yang terbaik dan semoga Faisal menemukan orang lain yang lebih baik daripada aku. Supaya kami berdua bisa bahagia dengan cara kami masing masing.

Terima kasih, Faisal.

***

ANNISA NAZIHAH KOMAR | KIBO'S POV

Banyak hal yang berubah dari Jaffles 26.

Winu baru saja beberapa menit yang lalu menyatakan perasaan pada Nadia dan mereka jadian. Ghorby masih tetap bersama Risma dan Ninis dengan Izar. Fita rukun dengan Fadhel begitu juga Silvy dan Lega. Haekal sudah 6 bulan dengan Bani, Ridho-Alda juga. Esar-Bella dan Aca-Yola semakin akrab saja. Bhimo-Dini masih bersama. Titi-Gestu masih jarang ngobrol sementara aku, Mauren, Fauzan dan Naufal memutuskan untuk single.

Tidak kusangka hari ini tiba juga, Vancouver Graduation Day. Rasanya cepat sekali sampai akhirnya kami berdiri di sini, mengucap janji alumni dan menghabiskan malam panjang bersama orang orang yang kami sayangi lalu mendapat mendali dan berfoto bersama.

Kembang api warna warni menghiasi langit malam hari ini. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan ke-19 saudaraku ini. Aku pasti akan merindukan mereka....

"Siapa yang ulang tahunnya paling terakhir?" Tanya Dini sambil memegang gelas Sprite-nya. Yola langsung angkat tangan.
"4 Oktober! Yola paling muda!"
"Yaudah, Fles. Kita ketemuannya 12 tahun lagi, tepat ditanggal 26 Oktober diumur kita yang ke 26 tahun! Di sekolah!" Seru Bella. Yang lain bersorak sorai setuju sementara aku terdiam.
"Kasih tau Jawalinya...." Kata Fita.
"Lho, Kibo kenapa? Kok diem aja?" Tanya Silvy heran.
"Gue.. Cuman gak  mau pisah dari sahabat sahabat gue."
"Oh, Kibo.. Sejauh apapun kita nantinya, kita bakal tetep sahabatan kok!"
"Iya, Kib. Jaffles 26 itu kan keluarga. Apapun yang terjadi, kita tetep satu!" Seru Dini.
Aku melihat ke8 Raffles-ku lalu memeluknya. "Uh, berpelukan Fles!"

Pada saat seperti inilah semua hal lucu, memalukan, menyenangkan sampai membuat jengkel akan terputar ulang diotak kita. Ketika kita berada di last year, pasti banyak hal sepele yang membuat kita dengan sahabat kita adu argumentasi sampai membuat kita marah satu sama lain. Tapi hal itulah yang membuat persahabatan menjadi lebih sempura. Ketika diuji dan bisa melewati semua itu.

Aku bersyukur mempunyai teman teman baik seperti Vancouver dan Rajawali-Rafflesia 26. Karena merekalah aku kuat menghadapi 6 bulan terakhir yang membuatku gila dengan tugas, ujian dan pendaftaran SMA.

"Eh, udahan pelukannya, Fles! Liat Dora gak?" Tanya Gestu tiba tiba datang di tengah tengah kami. Aku menoleh lalu tersenyum.
"Ciye ciye Gestu nyariin Titi...." Kata Dini.
Gestu melirik Dini sinis. "Serius, liat Dora gak?"
"Gak mungkin sama Winu soalnya Winu udah jadian sama Nadia! Hahahaha." Seruku sambil tertawa.
"Wah, asik! Selamat! Jawali makan makan ya, Na!" Seru Gestu sambil tertawa.
"Yeee enak aja. Lo mau ngapain nyari Raffles gue, Ges?" Tanya Nadia sinis.
Gestu nyengir. "Ada deh. Liat gak lo?"
"Gak liat dari tadi. Udah gih sana sama Jaws aja, ini cewek cewek semua hahaha." Usir Fita. Gestu tertawa lalu berjalan meninggalkan kami.

Aku tenggelam dalam tawa bersama sahabat sahabatku dan aku sadar betapa berharga dan beruntungnya aku mempunyai mereka. Karena kita ini bukan siapa siapa tanpa mereka, sahabat sahabat terbaik kita.

***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV

Megan berjalan ke arahku dengan kebaya cantik diikuti oleh Livia, Vicky, Nugroho dan Icoy. Kami berenam sengaja mencari meja untuk berbincang bersama. Ini adalah saat saat yang aku tunggu dari dulu. Vancouver Graduation Day dengan konsep Prom Night yang klasik  tradisional. Ifa sangat berhasil dalam urusan design seperti ini.

"Wah, akhirnya kalian ngumpul juga ya!" Seru Nugroho sambil memotong siomay-nya. Aku tertawa.
"Setelah perjalanan panjang, Nug.. Eh elo kok bisa kesini lagi, sih?" Tanyaku heran.
"Gini lho Van, dia pengen balik ke lingkungan kita kita. Dia gak bisa jauh dari Icoy. Iya gak coy?" Tanya Vicky sambil tersenyum genit. Icoy hanya tersenyum malu sementara Nug menyikut Vicky.

Kami berenam memulai flashback dari kelas 7 dan aku sangat senang sekali melalui malam ini bersama sahabat sahabatku. Ketika aku sadari, aku sudah melewati milyaran detik bersama mereka baik dalam susah maupun senang. Kini, kami berenam akan terpisah. Aku dan Livia masuk SMANSA, Vicky dan Megan SMANDA sementara Nug dan Icoy memilih SMANAM.

Aku paling sedih ketika aku tahu aku harus berpisah dengan Vicky dan Megan. Megan adalah pacarku sementara Vicky adalah sahabat dekatku... Tapi Megan menenangkanku dan aku ingat sekali kata katanya beberapa menit yang lalu sebelum kami berkumpul.

"Jangan panik. Beda sekolah tapi satu kota dan deket itu gak bikin aku sama kamu bakal jadi kayak Merkurius ke Neptunus. Enggak. Everything will be all right as long as you love me."

Dan aku akan selalu mencintai kamu, apapun itu, bagaimana pun keadaannya. Nothing lasts forever but as long as you love me too, there's nothing impossible for us.

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

Ninis berdiri di sampingku dengan tatapan menerawang jauh. Aku membenarkan kerudungku lalu meneguk Coca Cola-ku. Sudah lama aku berdiam diri seperti ini dengan Ninis. Kami hanya bicara seadanya padahal keadaan sudah baik baik saja. Aku berdehem.

"Nis..."
"Ma..."
"Maafin gue, buat semuanya. Buat curigaan sama Ghorby yang berimbas ke elo. Emang dasarnya aja cowok gue kegatelan. Sorry banget. Gue gak mau pas kita lulus masih ada yang ngeganjel di hati."
Ninis tertawa. "Ma, gue sih udah biasa aja. Cuman gue gak berani ngomong sama elo karena gue gak enak... Emang dasarnya cowok lo keganjenan, gue sampe berantem sama Izar."
"Iya, Izar sama Ghorby yang sahabatan juga jadi berantem."
"Kita juga yang sahabatan berantem kan gara gara cemburu tanpa alasan gitu?" Tanya Ninis sambil tersenyum kecil.

Aku langsung memeluk Ninis. "Gue cemburu karena elo mantannya Ghorby, Nis."
"Iya, gue ngerti kok. Cuman lo too much, Ma dan Ghorby nya juga salah nanggepin kecemburuan lo. Sorry ya Ma bikin elo sama Ghorby sempet putus."
"Enggak,  bukan salah elo kok. Gue yang salah."
"Enggak, Ghorby yang salah."
"Iya, Ghorby. Lo kok mau sih jadi pacar dia dulu, Nis?" Tanyaku heran. Ninis menatapku keheranan. "Punya kaca gak ya? Harusnya itu pertanyaan gue ke elo gak sih, hahahaha."

"Yasudahlah, yang jelas kedepannya gue harus lebih dewasa."
"Ya dan lebih liat sikon, jangan emosian..."
"Tapi lo maafin gue kan, Nis?"
"Sahabat bakal maafin sahabatnya sesakit apapun itu kalo dia tau sahabatnya tuh khilaf dan bisa berubah.." Kata Ninis sambil tersenyum kecil. Aku langsung memeluknya dan menyadari bahwa cinta kepada seorang sahabat tidak sebanding untuk seorang lawan jenis.

Karena sahabat itu bukan 'kita sahabatan' dan cuman omongan aja. Tapi 'kita sahabatan' dan 'ini lho gunanya sahabat'. Aku mengerti itu karena kamu. Makasih, Ninis.

***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV

Gadis itu belum datang juga.

Aku tadinya tidak ingin membuka surat yang Ridho berikan untukku tapi akhirnya aku merogoh kantung jasku dan membuka amplop putih itu. Di dalamnya aku menemukan 2 buah foto dan satu surat.


Foto pertama bertuliskan Gestu Rosmayadi Asad. Dibelakangnya tertulis:


Seperti apa yang kamu bilang. Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu harus berjuang untuk mendapatkannya dulu. Karena disetiap penungguan pasti ada ujung dan kepastiannya."

Aku sudah berjuang. Aku sudah menunggu selama 6 bulan. Hampir sama dengan apa yang kamu lakukan. Tapi kamu dimana, Ti?

Aku lalu berdiri di samping kolam renang itu sambil mendengarkan musikalisasi Alvan dengan Silvy yang berjudul Menunggumu. Aku berfikir, kemana kamu? Kamu bilang hari ini kita bertemu, aku sudah berjuang dan menunggumu, tapi kenapa kamu tidak kunjung datang?


Aku membuka surat darimu dan membacanya sambil berjalan tanpa arah menerobos 200 anak Vancouver yang sedang menikmati malamnya dan juga orang tua murid beserta guru guru SMPN 1 yang sibuk dengan urusannya masing masing.

Aku tersenyum membacanya, Ti. Aku harus bertemu kamu.


Aku berhenti berjalan ketika membaca bagian terakhir dari surat itu. Aku tersentak. Kenapa aku bodoh sekali tidak pernah sadar kalau selama ini kamu, seseorang yang sudah pasti, telah lama menunggku?

Aku sempet ngerasa udah capek nunggu kamu lagi dan berfikir untuk pindah. Aku fikir 

untuk cari lagi tambatan hati. Tapi ternyata gak bisa…

Walaupun menunggu itu adalah hal yang paling membosankan yang pernah ada dan aku tidak pernah suka itu. Tapi itu semua menjadi lebih indah ketika aku tahu, semua penungguanku mempunyai alasan yang rasional untuk dipertahankan....

Apa kamu bakal kasih aku kesempatan, Ti?

Aku berputar putar mengelilingi hotel itu sampai akhirnya berdiri di pintu masuk menuju lokasi Graduation Day. Kamu sebenarnya dimana, Ti?

Lalu aku membuka amplop itu lagi dan menemukan sebuah foto dengan tulisan. Aku langsung berlari ketika melihatnya.


Aku selalu bisa menemukan kamu ditengah keramaian. Kamu pun juga bisa menemukanku, Tu. Jika kamu sudah tau apa alasanmu untuk menemuiku.

***

LEGA IKHWAN HERBAYU'S POV

Aku dan Silvy duduk di salah satu meja dengan lilin cantik setelah kami berdua menghampiri kedua orang tua kami. Di panggung sedang ada Audit yang menyanyikan lagu Titanium dari David Guetta. Suaranya lembut sekali. 


Aku menatap Silvy dalam dalam. Gadis ini semakin hari semakin cantik saja. Tapi tatapan matanya sendu entah kenapa. Aku menggenggam tangannya lalu berbisik, "jangan mikirin masa lalu. Malam ini kita harus melepas semuanya."

Silvy terdiam, ia tak bicara apa apa. Tapi matanya bisa mengungkapkan kalau dia memang masih memiliki perasaan pada cowok yang ada di sebrang meja sana. Aku tahu benar itu, tapi aku tidak mau melepaskan Silvy.

Karena Silvy begitu berharga bagiku.

"You're still love him." Gumamku pelan. Mata Silvy menatapku.
"But I love you more." Gumamnya.
"I know."

Izar naik ke atas panggung dan mengambil posisi di piano putih itu. Aku terus menggenggam tangan Silvy. Aku tahu hati Silvy sedang gundah sekarang, tapi dia tidak mungkin meninggalkanku dan aku juga tidak akan melepaskannya. 


"Nothing lasts forever, Leg." Gumam Silvy.
"Apa kamu sayang sama dia, Sil?" Tanyaku pelan. Silvy mengangguk.
"Aku sekarang ngerasain galau yang kamu rasain, Leg. Aku pengen sama Faisal, tapi aku gak bisa ngelepasin kamu. Aku bingung harus gimana...."
"I can't live without you."
"Tapi kamu bakal tinggalin aku ke Tarnus kan? Sementara Faisal...."

Aku menggenggam tangan Silvy lebih erat. "Jangan tinggalin aku hanya karena hal itu. Sekarang giliran nya kamu buat memperjuangkan tentang kita. Selama ini aku berusaha untuk sabar kalo kamu masih kebayang tentang Faisal karena aku percaya kamu lebih sayang sama aku daripada dia..."

"Maafin aku Leg.. Aku jahat, aku egois."
"Cinta memang terkadang egois, Sil. Kamu hanya butuh memilih. Kamu sudah memilih aku dan sekarang, siapa yang kamu pilih? Aku atau Faisal?"
"Aku.. Aku gak bisa milih. Aku takut nyesel, Leg. Ketika kamu lebih baik, Faisal datang dengan hal yang jauh lebih baik dan terus begitu. Aku jadi bingung."
"Jangan cari yang lebih baik, Sil karena kamu gak bakal nemuin yang lebih. Karena manusia gak bakal puas sampai kapanpun."

Silvy terdiam. Ia menoleh ke arah Faisal lalu tersenyum. "Aku pilih kamu, Lega. Semoga Faisal bahagia, dengan begitu aku juga bisa tenang dan bahagia."

Aku tertawa lalu mengusap kepalanya. Aku yakin dalam setiap hubungan kita harus bersabar dan salah satunya harus mengalah perasaan untuk menuntun ke arah lebih baik. Karena aku yakin pada akhirnya selalu ada jalan terbaik dari Tuhan.

Dan jalan terbaik itu menuntunku untuk bersama Silvy. Walaupun jarak akan memisahkan kami, walaupun dia sempat merasakan kebimbangan, tapi aku yakin no metter what, she'll always belong to me. Forever and always.

***

RIZKI RAHMADANIA PUTRI'S POV

Aku tahu, Gestu pasti bisa menemukanku.

Ridho membantuku malam ini dengan memainkan gitar untukku. Aku sudah berdiri di sana dengan kebaya cokelat dan heels setinggi mungkin supaya Gestu tidak mempunyai kesempatan untuk mengejekku.

Aku menatap seluruh umat Vancouver lalu tersenyum. "Malam, Vancouver. Tidak terasa sudah 3 tahun kita bersama dan malam ini saya dari kelas 9A akan mempersembahkan sebuah lagu untuk seseorang disini. Judulnya, The Reason is You."


Gestu adalah sesosok manusia yang entah kenapa bisa membuatku tergila gila. Aku sendiri bingung kenapa sampai sekarang hanya Gestu yang ada dipikiranku sementara Ridho sudah berulang ulang kali memintaku untuk pindah hati.

Bukannya aku tak berusaha, tapi hatiku hanya untuk dia.

Lagu itu selesai tepat ketika aku menyadari Gestu sudah berdiri di samping panggung. Aku menoleh ke arah Ridho dan ia berbisik, "good luck, Dora!"

Aku mengikuti langkah Gestu menuju ke luar area Graduation. Dia terlihat sangat gagah malam ini dan selalu begitu, tidak pernah berubah. Aku menyukai cara cueknya dia yang tanpa dia sadari bisa membuat banyak wanita jatuh hati.

Tapi bukan itu alasanku menyukainya.

Gestu berhenti dan berbalik. Ia menatapku dalam dalam. "Sudah enam bulan. Aku masih. Gimana dengan kamu?"
"Menurut kamu?" Tanyaku enteng. Gestu tertawa.
"Kenapa ketawa, Tu?" Tanyaku heran.
"Aku butuh kepastian kamu."
"Apa yang kamu mau?"
"Berhenti jadi Dora-nya 26, dan jadilah Dora-ku. Kamu mau?"
"Kenapa aku harus mau?"
"Karena aku sayang sama kamu." Jawab Gestu sambil menatapku dalam dalam.

"Kasih aku alasan yang lebih logis."
"Itu sudah sangat logis, Rizki Rahmadania Putri. Aku bingung deh sama cewek cewek."
"Azzz kamu gak pernah peka!"
"Aku emang gak peka, tapi aku harap kamu sayang sama aku apa adanya."
"Dari dulu juga gitu."
"Jadi kamu mau?"
"Mau apa?"
"Mau jadi pacar aku?"

Aku terdiam. Entah berapa ribu tahun lamanya aku membayangkan tentang ini. Aku memutarkan bola mataku lalu mengangguk. "Iya."

"Iya apa?"
"Iya, aku mau."
"Yeaaaaay! Akhirnya! Ayo ke dalem! Tunjukin ke Vancouver dan Jaffles! Aku harus pamer finally aku peka!" Seru Gestu kegirangan. Aku meninju bahunya.
"Kamu gak pernah peka!"
"Aku peka! Aku peka! Hahaha. Mulai sekarang, lupain masa lalu, lupain nunggu, karena kamu sekarang udah sama aku. Oke? Makasih banyak, maaf bikin kamu nunggu..." Kata Gestu sambil tersenyum. Ia mengusap kepalaku lalu aku hanya mengangguk.

Aku mengikuti langkahnya menuju Jaffles sambil menatap bintang. Dia berbalik lalu meraih tanganku dan berjalan lebih cepat dari biasanya. Aku tertawa kecil dalam hatiku. Ini yang aku impikan selama ini.

Pada akhirnya aku sadar, ketika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha untuk mencapainya. Kita harus mau melewati fase sulit dengan segala penungguan, perjuangan dan pengorbanan tanpa akhir, tanpa kepastian.

Walaupun kita tidak akan langsung mendapatkan apa yang kita mau, tapi kita harus yakin bahwa pada akhirnya kita akan mendapatkan hal yang terbaik untuk hidup kita. Karena Tuhan tahu yang terbaik untuk umat-Nya setelah mereka berusaha.

Aku kira penungguan, perjuangan dan pengorbananku sia sia. Tapi ternyata tidak. Setelah jatuh bangun, setelah berjuang melawan ketidakpekaan kamu, setelah aku mencoba untuk berpindah, akhirnya kamu datang. Kini, aku semakin mengerti kenapa selama ini aku kuat melewati semua ini. Kenapa aku kuat bertahan, kenapa aku tidak menyerah.

'Cause the reason is you, Gestu Rosmayadi Asad. I love you.



THE END



You may also like

4 comments:

  1. Tii.. ada lagu yang dinyanyiin DINI gak ?kwkwk request tuh =))

    ReplyDelete
  2. Kisahnya panjang dan diselingi modus narsis youtube pulak, нɑнɑнɑнɑнɑ ..

    Btw, kok lama gag mampir blog saya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. halooo hihihi iya dong.. aku udah jarang blogwalking maaf ya, ntar aku kesana deh:}

      Delete

Leave me some comment! Thank you, guys:}