The Reason is You chapter 33: Our Past

Longlast yah, Biru. Makasih udah bikin senyum dari Desember sampe sekarang.
Kalo bisa lain kali kalo mau dateng jangan asal ngambil hati terus gak dirawat ya, hihi.
Satu pelajaran lagi dari stupid-jhs-love story kali ini:


Jangan pakai hati kalau belum pasti.


***


NISRINA ARIJ FADHILLA'S POV

Izar menunjukkan padaku video cover Little Things-nya. Aku tersenyum kecil lalu berbisik 'i love you' di telinganya. Dia tersenyum lalu meninggalkanku sejenak untuk membelikanku secangkir Milo hangat. Aku terisak.

Bagaimana bisa aku teringat masa laluku ketika masa depan sudah ada di sampingku?

Ghorby memandangku dalam dalam lalu tersenyum. "Kalo kita gak pernah putus, mungkin kita lagi duduk berdua disini dengan keadaan yang berbeda ya, Nis."

Aku menoleh lalu mengangguk. "Iya Ghor kamu bener. Sayangnya itu masa lalu."
"Apa masa lalu gak bisa jadi masa depan, Nis?" Tanya Ghorby dengan suara paraunya.
Aku tersentak. "Jangan ngawur, kamu punya Risma."
"Kamu juga punya Izar, tapi Ghorby masih sayang sama kamu. Dan akan selalu begitu."

Keheningan panjang mengisi kami berdua. Jaffles masih sibuk mengambil foto di Lampion Garden sementara aku dan Ghorby memilih untuk duduk di salah satu meja di sisi danau buatan itu.


Ghorby membuatku membuka kenangan lama. Perasaanku, rasa sakitku, rasa rinduku semuanya. Aku sudah melupakan Ghorby, tapi kata katanya membuat ingatan pahit itu datang kembali.

"Kamu gak seharusnya bicarain tentang ini saat ini. Kita bukan siapa siapa lagi."
"Tapi dulu?"
Aku berdehem. "What's past is past."

Ghorby tertawa kecil. Wajah seriusnya berubah dengan cepat tanpa kusadari bahwa semua yang ia bicarakan adalah candaan belaka. Aku memukulnya dengan botol kosong dan langsung mengerucutkan bibirku.

Dia tetaplah sama. Dia tetap Muhammad Ghorby sang moodbooster terbaikku.

"Hahaha kamu bisa ya aku bohongin, Nis."
"Sial! Jadi dulu juga kamu bohongin aku?"
"Ya enggaklah, aku sayang kamu beneran."

Lagi lagi kami berdua terdiam. Ghorby menarik nafas lalu tersenyum lagi. "Semua yang tadi aku omongin bener ko, aku masih sayang sama kamu."

"A....." Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, telunjuk Ghorby sudah berdiri di depan bibirku. Aku terdiam.
"Akan selalu sayang dan gak akan berubah. Tapi kita juga masa lalu yang gak bisa  berubah. Kita punya jalan hidup kita masing masing. Aku cukup lega udah bilang sama kamu kalo perasaan sayangku gak hilang walaupun kita udah pisah. Tapi tempat kamu udah di tempatin Risma sekarang..."

"Aku..."
"Nis, jangan fikir aku playboy karena masih sayang sama mantannya. Semua orang juga sama munafiknya denganku, pasti masih ada perasaan walaupun hanya satu persen. Aku berharap walaupun kita masa lalu kita masih tetep bisa sahabatan kayak gini."
"Ghorby..."
"Aku minta maaf kalo selama ini bikin kamu susah karena Risma yang cemburuan atau tingkahku yang bikin Izar marah. Tapi itu semua murni temenan kok."
"Ghor..."
"Dan satu lagi, makasih udah mau gabung sama Rafflesia-ku walaupun di detik terakhir. Aku seneng kamu mau mewujudkan mimpi kamu, Nis. Aku selalu berdoa untuk kamu. Semoga kamu dan aku bahagia, bagaimanapun caranya, walaupun kita gak sama sama lagi. Yang akur yah sama Izarnya. Dia sayang banget sama kamu, seperti aku. Hahaha."

Ghorby tertawa lalu mengusap rambutku dan pergi meninggalkanku. Air mataku tumpah. Entah untuk apa tapi rasanya sakit melihat orang yang aku sayangi sudah tidak bisa bersamaku lagi. Disisi lain aku juga sudah punya Izar.

Dan aku juga berdoa semoga Ghorby bahagia, walaupun bukan aku yang membahagiakannya.

"Nis! Kok ngelamun?" Tanya Izar tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku tersentak lalu menoleh dan tertawa.
"Aku lagi inget inget masa lalu." Kataku.
"Masa lalu? Ghorby maksudnya?" Goda Izar sambil duduk di sampingku.
Aku nyengir. Wajah Izar berubah kecewa. "Masih mikirin dia aja sih, Nis. Gak cukup nih ada aku?" Tanya Izar keheranan. Aku tertawa.

"Kamu lebih dari cukup, Zar. Tapi aku butuh ngulang masa lalu biar tahu seberapa besar berharganya kamu di masa depanku."
"Oh ya? Terus kamu udah tau jawabannya?"
"Kamu kalo cemburu nyebelin ya...."
"Aku gak cemburu! Yeeee. Gimana gimana, jelasin dong!"

"Aku udah pindah kemana mana dan berhenti paling lama di Ghorby. Risma juga gitu dan kamu juga sebelum sama aku pindah pindah terus kan? Karena perpindahan di masa lalu, kita bisa berjalan sampe sini. Mangkanya aku gak boleh lupain masa laluku, kamu juga gitu. Karena mereka adalah bagian dari masa depan kita."
"Aku gak setuju. Nanti kamu kebayang masa lalu terus."

"Dalam hal ini masa lalu bakal aku kenang buat jadi cerminan bukan untuk diratapi. Kita gak bisa rubah masa lalu kita. Yang kita bisa berubah untuk masa depan kita. Pernah gak kamu mikir apa tujuan dari semua hal yang kita lakukan selama ini?" 
Izar mengangguk. "Pastilah."

"Aku juga gitu. Aku mikir kenapa aku ngehabisin waktu yang lama dari pacaran ke jomblo lagi patah hati lalu pacaran lagi.. Lalu aku sadar semuanya adalah proses sampai aku nemuin alasan yang tepat buat semua itu."
"Apa kamu udah nemuin?" Tanya Izar sambil menatapku dalam dalam.

"Aku pernah berfikir bahwa Ghorby adalah alasannya. Aku selalu mikir dia sempurna, tapi akhirnya kita putus juga kan? Tapi di kamu.... Aku fikir kamu adalah pelarian karena aku gak sama Ghorby, tapi ternyata enggak. Kamu malah beda. Semua hal baru ada di kamu. Pertengkaran kecil sampai besar, perbedaan yang begitu banyak dan pribadi kita yang bertolak belakang malah bikin aku semakin nyaman sama kamu."

Izar menatapku dalam dalam lalu tersenyum. "Sekarang gimana?"

"Sekarang semuanya beda. Buat aku, semua alasan dari perjalanan ini ada di kamu, Zar."

Izar lagi lagi tersenyum. Senyumannya manis sekali. Aku lalu membalas senyumannya dan menyeruput Milo hangat yang dia belikan. Aku harap rasa manis dan hangat ini akan bertahan terus menerus selama Allah masih mengizinkan kami bersama.

Aku akhirnya mengerti, jika kita memang benar benar berusaha untuk move on dari masa lalu, semuanya akan berjalan dengan sempurna. Walaupun kamu masih menyimpan sedikit rasa untuk masa lalumu, hatimu akan menuntunmu ke jalan masa depanmu.

Dan aku menemukanmu, Izar. Karena mencintaimu bukan pelarian, tapi karena perasaan.

***

WINU ANDICA'S POV

Tiga puluh menit kemudian Titi datang kehadapanku dengan mata memerah. Ia langsung menangis ketika sudah duduk di sampingku. Aku tak bisa bicara apa apa. Aku hanya mengusap pundaknya dan mencoba memberi sugesti untuk menenangkannya.

Dia terus menangis. Tangisannya seperti mengeluarkan sesuatu yang amat berat dan menyakitkan. Entah apa yang Gestu lakukan tapi kulihat ia masih duduk di meja yang sama dengan wajah depresi. Apa yang terjadi.

"Kamu kenapa, Dor?" Tanyaku setelah 5 menit berlalu. Titi masih terisak.
"Aku....."


Titi menerawang jauh ke arah replika menara Eiffel saat Gestu bangkit dan melepaskan genggamannya. Wajahnya terlihat kecewa sekali.

"Kamu yakin kamu udah move on?" Tanya Gestu dengan suara parau.
Titi mengangguk setengah hati. "Yakin."
"Winu orangnya?"

Titi tak menjawab. Ia tak bisa bicara apa apa karena sebenarnya tidak ada orang yang ia sukai selain Gestu. Winu hanyalah kamuflase belaka supaya orang orang berhenti mengejek Gestu tidak peka.

Titi tau betul, Gestu sebenarnya orang yang cukup peka. Tapi dia terlalu cuek untuk menunjukkan kepekaannya. Titi sadar, ulahnya yang terus mengatakan Gestu tidak peka membuat anak anak Vancouver ikut ikutan berkata seperti itu.

Karena seberapa seringnya pun Titi berpindah, dia tau pada akhirnya hatinya akan kembali berlabuh pada Gestu Rosmayadi Asad.

"Kamu sok tau." Kata Titi terbata bata.
Gestu menggeram pelan. "Aku tau semuanya."
"Tau apa kamu? Kamu gak tau kan seberapa lamanya aku nungguin kamu? Seberapa sakitnya aku tanpa kepastian yang jelas dari kamu? Seberapa sedihnya aku waktu tau kamu mikir kaloo perasaanku cuman bercanda! Fikir!" Seru Titi. Nada suaranya naik satu oktaf. Gestu langsung menunduk.

"Maaf... Itu kan masa lalu."
"Segampang itu kamu bilang semuanya masa lalu setelah aku ngelewatin hari hari aku stuck di kamu, Tu?"
"Tapi pada akhirnya kan aku juga merasakan hal yang sama, Ti."
"Iya, akhirnya. Setelah semuanya terlambat."

"Belum. Belum terlambat. Aku mohon kasih aku kesempatan."
"Kesempatan untuk?"
"Untuk memperbaiki masa lalu kita."
"Apa yang harus di perbaiki dari sesuatu yang gak pernah terjadi?"

Gestu tak bicara. Titi tersenyum kecil.

"Kamu gak bisa jawab kan? Kamu telat! Kamu gak peka!"
"Aku peka dan kamu tau itu!"
"Aku tau tapi kenapa kamu buat aku nunggu lama?"
"Aku suka kamu dan kamu juga gitu. Tapi kalo sama sama suka emangnya harus jadian gitu?"
"Siapa yang minta kamu tembak? Aku kan cuman minta kepastian dari kamu!"

Gestu menarik nafas panjang. "Maafin aku udah gak peka selama ini, maaf.. Tapi bisa  gak kita perbaiki semua ini?"
"Caranya?"
"Kita. Aku. Kamu. Pacaran. Mau?" Tanya Gestu sambil menatap mata Titi dalam dalam. Titi menahan air matanya lalu tersenyum kecil.

"Aku nunggu, kamu pergi. Aku pergi, kamu dateng. Sekarang saatnya kamu yang nunggu aku. Kamu mau?"
Wajah Gestu berubah gusar. "Sampai kapan?"
"Sampai aku tau kamu serius dan ini semua bukan becandaan."

Gestu bangkit dari tempat duduknya dan menatap Titi kesal. "Setelah semua perjuangan aku, kamu mikir kalo aku becandaan?"
Titi menatap Gestu tak percaya dan bangkit juga. "Kamu ngaca dulu kalo mau ngomong, kamu juga dulu gak mikir kan semua perjuangan dan penungguan aku, Tu?"

Titi langsung pergi meninggalkan Gestu dan segelas Pop Mie rasa baso yang sudah mulai tidak hangat lagi.

"Jadi gara gara semua itu kamu nangis?" Tanyaku heran. Titi menatapku kesal.
"Kamu kira aku gak kesel apa, Win? Dia fikir lebih berjuang dia apa daripada aku."
"Mungkin lebih kesel aku karena gak bisa ngapa ngapain buat orang yang aku sayang."

Titi terdiam. Ia menarik nafasnya dalam dalam lalu menatapku keheranan. "Maksud kamu?"
"Aku terjebak diantara aku dan kamu yang gak mungkin jadi kita. Gak seharusnya aku mikir kamu bisa move on dari Gestu, bener bener move on bukan sekedar lewat. Di posisi kayak gini aku gak bisa nyalahin kamu ataupun Gestu, karena aku yang salah. Aku yang gak peka."

"Win...."
"Ti, kalo kamu sayang sama orang dan dia datang setelah berjuta juta tahun kamu menunggu dia, jangan kamu sia siain walaupun kamu kesel karena kelamaan nunggu. Lebih baik kamu sakit di awal daripada manis di awal tapi akhirnya gak dapet sama sekali."
"Winu...."
"Aku bukan siapa siapa kamu dan aku cuman bisa berharap kamu bakal bahagia walaupun bukan sama aku. Kalo dia egois, kamu juga jangan egois. Harus ngalah walaupun selalu ngalah daripada gak ada kepastian sama sekali. Aku yakin dia bisa bikin kamu bahagia."

"Winu, maaf...."
"Gak usah pikirin aku, Ti. Kalo pun firasat aku bener dan kamu move on ke aku, itu semua cuman bohongan kan, Dora? Hati kamu masih ada di Gestu dan selalu disana kan? Jadi apalagi yang kamu tunggu kalo dia sayang sama kamu?"
"Tapi aku pengen ngetes apa dia beneran sama aku atau engga..."

"Dora gendut, terserah kamu gimana caranya tapi jangan sia siain Gestu yang akhirnya datang ke kamu. Kamu tau sendiri kan kenapa? Karena hati kamu cuman milik dia walaupun dia gak ngeliat kamu. Semoga berhasil!" Seruku mencoba untuk tetap netral.

Karena ketika kamu mencintai, kamu tidak boleh egois. Lepaskanlah orang itu untuk orang yang mencintai dan dicintainya. Karena cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia. Iya kan?

***

RHEZA AUDITYA WIJAYA'S POV

Meja Food Court BNS yang kami duduki telah kotor oleh bedak yang dibawa oleh Ifa. Sejak tadi kami bermain kartu Uno. Aku senang sekali bisa berkumpul seperti ini bersama sahabat sahabatku. Terutama ketika aku melihat Yara sudah berbaikan dengan Shelly dan Nabila!

Tapi disisi lain aku sedih melihat Rianthy yang kesepian semenjak dia 'putus' dengan Yoga tadi pagi. Dia jadi murung dan lebih memilih untuk diam bersama BlackBerry-nya. Sementara Yoga terus mendekati Valda.

Aku melirik Ifa ketika Yoga mengusap rambut Valda. Kurasa ini pertanda bahwa Valda sebentar lagi akan mengakhiri masa jomblonya dan berlabuh pada Yoga. Ifa yang peka langsung berdehem dan semua orang jadi tertawa setelah menyadari hal tersebut, kecuali Rianthy.

Aku mengerti betul perasaan Rianthy. Kecewa dan marah sudah patut kita rasakan ketika melihat orang yang kita sayangi bersama orang lain. Tapi apa yang bisa kita lakukan selain mendoakannya supaya bahagia jika kita tidak bisa membahagiakannya?

***

BHIMO AGENG TRIBUANA'S POV

Aku menahan diri untuk tidak mengucapkan kalimat 'mau jadi pacar aku gak Din?' saat aku sedang bersama Dini berdua di Lampion Garden. Aku ingin menembaknya di depan semua Vancouver dan memainkan sebuah lagu untuknya.

Dini tersenyum kecil ketika Nadia dan Kibo-chan menjemputnya. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku. Aku berjalan ke arah yang berbeda supaya tidak bertemu dengannya.

Sesungguhnya aku sendiri tidak tau kenapa bisa menyukai gadis itu. Tapi lama kelamaan aku mengerti, sebuah perasaan yang erat tidak membutuhkan sebuah alasan yang logis beserta kata 'karena' untuk menguatkan maknanya. 

Yang aku tau, aku sudah jatuh cinta pada dia dan kuharap dia akan menerimaku setelah perjuangan panjangku melewati Esar, menunggu saat yang tepat sampai keberanianku datang.

Karena cinta bukan hanya masalah perasaan, tapi juga kesempatan dan keberanian.

***

FAISAL ABDUL MAJID'S POV

Aku mencari Silvy ketika aku berpapasan dengan Lega. Wajahnya terlihat sendu. Di tangan kanannya ia membawa amplop putih. Dia tersenyum kecut padaku. Aku tak membalasnya dan terus saja berjalan.

"Tunggu, Sal. Gue mau ngomong." Kata Lega sambil berjalan menghampiriku. 
"Apa?" Tanyaku sinis. Dia berisyarat mengajakku duduk di kursi dekat tempat Gokart lalu aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.

Lega lalu duduk dan menarik nafas. Aku duduk dan melepaskan tas punggungku. Lega kali ini benar benar menjadi penghambatku untuk menyatakan perasaanku pada Silvy. Entah kenapa aku jadi kesal begini tapi kurasa setelah aku bicara jujur pada Silvy semuanya akan berubah menjadi biasa lagi.

"Ini baca." Kata Lega singkat sambil menyodorkan amplop itu. Aku meraihnya lalu membukanya. Aku membaca dengan saksama dan.. Oh tidak. Surat itu untuk Silvy dan Lega minta putus dan... Ada namaku disana.
"Apa maksudnya, Leg?" Tanyaku heran. Lega tertawa kecil.
"Gak usah pura pura lagi. Gue tau lo suka sama pacar gue. Gue juga tau lo mau nyatain ke dia kan sekarang?"

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Lega teman dekatku dulu dan rasanya aku terlalu jahat jika membeberkan semuanya sekarang. Padahal maksudku ingin mengatakan pada Silvy kan supaya hatiku lega.

"Gue gak marah kok elo suka sama Silvy, itu hak lo juga kali. Selama lo gak ngerebut dia dari gue, gue masih maklum."
"Lo tau darimana?"
"Gue tau darimana itu gak penting, Sal. Yang penting adalah lo sayang gak sama Silvy?"
"Ya sayang lah. Sayang banget. Gue gak pernah sesayang ini sama cewek."
"Lebih sayang daripada gue ke Silvy?"
Aku menggigit bibirku. "Mungkin.. Iya."

"Tapi lo kan sahabat dia, Sal."
"Lalu apa masalahnya?"
"Apa lo gak takut sebenernya perasaan lo cuman friendzone doang pas lo dapetin Silvy semuanya malah ilang?" Tanya Lega dengan mendelik tajam. Aku mendengus pelan.
"Gue gak bakal kayak elo ya yang tiba tiba hampa setelah dapetin dia!"

"Wes, santai masbro. Gue gak ngajak lo ribut."
"Gue juga, tapi gue gak terima lo bikin Silvy nangis terus."
"Apa lo bisa jamin sama gue kalo gue lepasin Silvy, dia bakal bahagia dan gak bakal nangis terus kayak pas sama gue dan Alvan?"

Aku lagi lagi terdiam.

"Apa lo bisa jamin sama gue kalo gue lepasin Silvy, lo gak bakal buat persahabatan kalian di kelas jadi awkward dan Silvy gak bakal nyesel?"

Aku tak menjawab lagi.

"Apa lo bisa jamin sama gue kalo gue lepasin Silvy, lo nembak dia dan dia bakal nerima lo seutuhnya tanpa kebayang bayang tentang gue dan Alvan?"

Aku meremas surat itu.

"Gue bisa jamin. Gue bisa. Kita liat aja siapa yang Silvy pilih. Karena sumpah, gue sayang banget sama dia."
"Sayang aja gak cukup, Sal. Gak cukup. Perlu sesuatu yang lebih dari sayang."
"Apalagi yang lo mau? Kalo lo gak mau lepasin Silvy ya lo bahagiain dia dong!"

"Tau apa lo tentang bahagiain orang yang lo sayang kalo lo sendiri terlambat untuk berusaha ngebahagiain dia? Lo mau terus bahagiain dia dibalik topeng sahabatan lo itu? Lo sadar gak sih perasaan lo lama lama juga bisa ilang kalo lo mikir Silvy cuman sahabat lo?!"

"Cukup, Lega! Lo udah gue biarin buat ambil Silvy. Lo gak berhak buat kayak gini sama gue. Hidup gue biarin gue yang ngatur. Kalo Silvy milih gue dan dia masih kebayang bayang sama elo dan Alvan, biarin aja. Itu hak dia, dia berhak untuk mengenang masa lalunya tapi gak berlebihan."

Lega menatapku geram. 

"Dan satu lagi, Leg. Kalo lo mutusin Silvy gitu aja dan Silvy nerima gue, fix. Lo pengecut dan munafik karena gak bisa nepatin janji lo sendiri buat bahagiain Silvy!"

Aku berjalan dengan geram meninggalkan Lega. Kesal. Aku tidak boleh mendengar omongan siapapun. Aku harus menjalankan kata hatiku. Hati yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Karena aku percaya, apapun yang terjadi nantinya, itu pasti akan berakhir bahagia untukku dan untuk Silvy.


3 chapters left! Yang ketinggalan baca cek disini! Tinggal beberapa cerita aja nih yang nunggu endingnya. Kalian mau endingnya gimana? Kasih tau aku ya via mention @rizkirahmadania , twinkyu Reasonators! To be continued. Cya~


You may also like

4 comments:

  1. ti, ini dialognya beneran atau ngarang sendiri sih ? kalo asli memangnya tau dari mana? bagus (y)

    ReplyDelete
  2. ohh pantesss, kirain beneran.. lagian kalo beneran berarti kamu ngintilin semua anak ya kok bisa tau semuanya wkwk ^^v iya sama-sama tii ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha iyalah kurang kerjaan banget ngintilin orang:p okesip^^

      Delete

Leave me some comment! Thank you, guys:}