The Reason is You chapter 34: Best Friend Become a Lover

Kalo gue nyaman sama seseorang gak berarti gue mau jadian sama dia. Seperti gue sama elo. Gue nyaman sama elo, Ti. Gue hargain perasaan lo waktu itu, tapi cuman sebatas sahabat. Karena nyaman gak bakal selalu berakhir jadian. 
-Alvan Anansyah Viwantama, dia itu Seth Clearwater. HAHAHA. Ya gitu deh.

Selamat 7 bulanan, Rajawali-Rafflesia XXVI. Semakin jaya!:D

***


YOGYAKARTA 2012

VALDA NURUL IZAH'S POV

Aku bingung pada Yoga. Entah apa yang sebenarnya dia mau dariku. Dia mengajakku membeli baju yang sama dan menarikku untuk berfoto bersama di kamera polaroidnya setelah baru saja kemarin dia putus dengan Rianthy dan mengetahui perasaanku yang sebenarnya.


"Best friend become a lover...." Kata Ifa yang tiba tiba datang dari arah belakang. Aku menoleh dan menatapnya kesal.
"Classic love story, hahaha. Finally Yoga tau ya lo suka!" Seru Audit. Aku memukul bahu Audit ketika ia sudah duduk di sampingku.
"Berisik deh ya lo berdua."
"Hahaha aduh Valda... Yoga juga udah tau juga lo suka, masih aja jual mahal."

Aku melirik Ifa sinis. "Ih gue cuman..."
"Cuman apa? Lo lagi galau kan kenapa Yoga tiba tiba putus sama Rianthy dan jadi jauh lebih baik dari biasanya sama elo?"
"Err gue..."
"Duh ya ampun gak mau ngaku lagi Dut!" Seru Ifa.
"Iya nih Fa, temen lo nih parah hahahaha."
"Ya... Kenapa sih kalian pada gitu aaaaah!" Seruku kesal. Aku yakin pipiku sudah memerah.

"Gak usah galau, Val. He'll be yours soon. Trust me." Kata Ifa sambil memandangku dalam dalam. Aku langsung memeluk Ifa erat dan mengamini ucapan Ifa barusan.

Aku hanya ingin membuat dia bahagia karena dia adalah alasan dari semua kebahagiaan yang ada dalam hidupku. Isaka Yoga Santoso.

***

DELIMA ROCHMA NURSYAHBANI'S POV

Haekal mengetuk pintu kamarku dengan tidak sabaran lalu langsung menarikku ke sepeda ontel dan memboncengku mengelilingi hotel kami. Ia tak bicara banyak hal tapi aku sudah sangat senang bisa bersamanya seperti ini.

Haekal lalu berhenti di taman hotel tersebut dan menyuruhku duduk di kursi tamannya. Dia mengeluarkan sekotak sandwich dan 2 kaleng susu kedelai dari tas hitamnya. Aku tersenyum kecil lalu dengan sigap meraih sekaleng susu kedelai itu.

"Kamu tau Ni apa yang aku fikirin?" Tanya Haekal sambil membuka kotak sandwichnya. Aku menggeleng. "Emangnya apa Kal?"

"Aku bahagia bisa ada di samping kamu, Ni." Kata Haekal pelan. Kurasakan pipiku memerah. Aku langsung menyembunyikan wajahku dengan melepas ikat rambutku supaya rambutku tergerai. Haekal tertawa.
"Kamu lucu Pit kalo lagi malu, aku suka."
"Oh jadi kamu suka sama akunya kalo lagi malu aja?!"
"Yeee.. Ya enggak gitu. Pit, aku lagi mikir."
"Mikir apa sih kamu?"

Haekal membenarkan posisi duduknya dan tersenyum kecil. "Aku mikir setelah sekian lama perjalanan yang aku tempuh buat dapetin kamu, sampe dimarahin sepupu aku karena gak berani nge-prove ke kamu, berantem sama Ridho, diem dieman sama Ridho dan akhirnya sampai disini... Aku belum bisa percaya kalo ternyata perjuangan aku gak sia sia."

Aku lalu menatap Haekal dalam dalam dan tersenyum. "Tentu saja kamu gak sia sia, Kal. Kamu berjuang dan aku sudah memilih kamu. Aku menemukan hal lain yang Ridho gak punya. Dan aku sangat yakin, kamu adalah sosok yang hilang dariku selama ini. Kamu yang aku cari.. Makasih ya Haekal."


Haekal dan aku tertawa lebar lalu merebahkan diri dirumput hijau itu sambil memandang langit. Aku tidak pernah merasakan hal yang lebih indah daripada ini. Menghabiskan waktu liburanku sebelum berjuang menghadapi ujian nasional bersama sahabat sahabatku juga pacarku.

Kini aku tahu dalam setiap perjalanan, sesuatu yang kita duga tidak akan selalu jadi kenyataan. Kita bisa memilih tapi pada akhirnya bisa juga berubah pilihan. Cinta rumit tapi aku menemukan cinta dalam salah satu diantara mereka berdua.

And love is you, Haekal.

***

VICKY RIZKY NOOR'S POV

Akhirnya kami utuh lagi.

Kalimat itu benar benar seperti penenang hatiku. Aku tidak percaya bahwa aku, Livia, Alvan dan Megan akhirnya bersatu kembali. Kami bisa menyelesaikan masalah kami walaupun terkesan rumit dan tanpa ujung yang pasti. Tapi yang terpenting kami berempat sudah kembali bersama.

Livia datang dengan empat es krim Cornetto kesukaan kami lalu duduk di sampingku. Kami berempat sedang menghabiskan sore hari di Candi Prambanan. Kebetulan hotel kami begitu dekat dengan candi tersebut.

Alvan langsung melahap Cornetto itu tanpa basa basi. Megan tertawa kecil memamerkan gigi berpagarnya lalu mencomot coklat yang merupakan topping dari Cornetto-nya. Aku dan Livia saling berpandangan lalu tertawa terbahak. Megan menginjak kakiku.

"Apa sih Meg? Sakit tau!" Seruku kesal. Megan tersenyum licik.
"Ngapain ketawa gitu? Ini tempat sakral, gausah ribut deh.."
"Hahahaha kita berdua cuman seneng bisa duduk berempat kayak gini lagi. Ya kan, Vick?" Tanya Livia sambil menyikut bahuku. Aku mengacungkan jempolku.

"Gue juga seneng. Rasanya udah lama banget gue, Megan, Livia dan Vicky bareng kayak gini. Ngehabisin waktu dengan hal hal konyol dan gak penting sama sekali. But I do love you guys."
"And especially love her too." Kata Livia sambil terkikik. Alvan nyengir.
"Kayaknya bukan ide yang bagus ketika bestfriend become a lover." Gumam Megan. Alvan langsung menoleh ke arah Megan.

"Kenapa? Kamu takut kita gak bisa bagi waktu?" Tanya Alvan lembut. Aku menahan tawaku sementara Livia langsung menutup mulutnya. Kami terkikik dalam hati. Megan menggeleng.
"Bukan itu. Kita mengawali semuanya dari stranger, become bestfriend, enemy, bestfriend and a lover. Kalo langgeng terus, kalo putus?" 

"Oh.. Megan khawatir sama ke depannya, Van." Kata Livia.
"Ya jalanin aja dulu, Gan. Masalah ke depan gimana, selama kita niatnya baik insya Allah bakal ada jalan kok." Kata Alvan menenangkan Megan. Wajah Megan berubah tenang dan dia tersenyum sambil menatap Alvan dalam dalam.

"Tapi aku gak enak sama Livia dan Vicky." Kata Megan lirih. Alvan langsung menunduk.
"Sebenernya Alvan juga gitu. Kita kan sahabat. Kayaknya bakal ada sesuatu yang aneh kalo kita jadian."
"We belong together being bestfriend, not a couple." Kata Megan lagi.
"Mungkin.. Tapi aku rasa kamu yang bakal ngisi hari hari aku ke depannya Gan."
"Too fast, Van. Aku belum bisa nentuin."
"Me too. Tapi kenapa gak nyoba aja?"

Mata Megan memancarkan cahaya keraguan. Aku menyikut Livia dan bangkit dari dudukku. Kami berdiri di depan mereka berdua sambil tersenyum.

"Gue sama Livia setuju kalian berdua jadian. Kita yang ngejodohin kok dan kita yakin gak bakal ada apa apa diantara kita berempat kalo lo berdua yakin gak bakal ada yang berubah. We belong together, Gan. Tapi kamu sama Alvan tuh gak cuman jadi temen, tapi couple." Jelasku dengan hati hati.
"Iya Gan, gak usah ragu. Alvan aja mau mulai, kenapa kamu enggak? Percaya deh, gue sama Vicky dukung kalian."

Megan mengigit bibirnya. "Lo yakin, guys?"
"Yakinlah. Sahabat kan selalu membahagiakan sahabatnya, iya gak Van?" Tanyaku.
"Hehe.. Sejauh sahabatnya baik mau traktir Cornetto terus kayak Livia sih gue setuju." Ujar Alvan. Livia meninju bahu Alvan. "Ngeselin lo!"

Megan terlihat kebingungan. Ia seperti ingin bilang iya, tapi dia masih takut. Aku sendiri sebenarnya kadang berfikir apa yang akan terjadi diantara kami berempat jika Megan pacaran dengan Alvan. Tapi Livia meyakinkanku itu akan membuat mereka berdua bahagia dan kami akan semakin solid.

Aku percaya Alvan bisa membahagiakan Megan karena dia adalah sahabatku. Sahabat akan mempercayai sahabatnya melebihi apapun kecuali ketika ia tahu betul apa yang ada di dalam hati sahabatnya itu. Jika sahabatmu berbohong, kamu pasti tau itu. Jika sahabatmu menyembunyikan sesuatu darimu, kamu juga pasti tau.

Tapi terkadang dalam persahabatan memang ada hal yang bisa kita bicarakan ada juga yang tidak. Ketika kita diberi kepercayaan, walaupun kita percaya pada sahabat kita, kita tidak bisa dengan mudahnya memberikan 'rahasia' itu pada sahabat kita karena kita sudah diberi amanah. Seorang sahabat yang baik tau betul tentang kode etik rahasia.

Dalam persahabatan juga kita tidak bisa munafik kalau pasti ada kalanya kita membicarakan 'keburukan' sahabat kita. Tapi sahabat sebenarnya bicara tentang hal itu untuk mencari solusi demi sahabatnya sendiri. Walaupun dia membicarakan dibelakang, dia tidak akan membongkar rahasia ataupun aib sahabatnya sendiri.

Saat kita bersahabat, kita harus siap menghadapi masalah masalah yang akan timbul. Ketika dalam persahabatan ada sebuah perselisihan, lebih baik kita bicarakan supaya semuanya menjadi jelas. Tapi setelah semua itu dibicarakan, jangan memendam amarah terus menerus. Kita juga harus lihat situasi ketika akan bicara.

Tapi ada saatnya jika ada masalah dan kamu merasa kamu bisa menyelesaikannya sendiri, kamu tidak perlu bicara dengan siapa siapa. Hanya diam saja supaya tidak menyakiti hati sahabatmu.

Jika kamu bertengkar dengan sahabatmu, jangan lupa untuk minta maaf walaupun kamu sendiri merasa bukan kamu yang salah atau sebenarnya kedua pihaklah yang salah. Bersikap biasalah dan pada akhirnya kamu bisa mengerti mana teman yang benar dan yang bukan.

Karena teman yang sebenarnya ketika sudah selesai membicarakan masalah, dia hanya butuh waktu sebentar untuk memulihkan perasaan dan kembali seperti biasanya. Jangan lelah untuk mengalah ketika situasi masih memaksamu untuk mengalah.

Tapi kalo kamu ngalah terus dan temen kamu bener bener gak sadar sadar, makan aja temennya! Livia menginjak kakiku seakan akan sadar aku sedang memikirkan hal lain selain Alvan dan Megan. Aku tertawa kecil. Jika sudah bicara tentang persahabatan aku tidak bisa diam karena aku punya sahabat sahabat amazing seperti mereka bertiga!

Alvan menatap Megan dalam dalam. "Mereka udah restuin kita, aku udah mulai, gimana dengan kamu, Gan?"

Megan menarik nafas. Ia menatapku dan Livia secara bergantian lalu tersenyum kecil. "Ayo, kita mulai, Van."

Kami semua langsung berpandangan dan berpelukan berempat dibawah langit berwarna oranye tua yang begitu hangat. Aku bahagia memiliki mereka karena sahabat adalah bagian terpenting dari kehidupan kita dan aku beruntung memiliki mereka bertiga.

Karena persahabatan dan cinta memang begitu saru untuk dipersatukan jika kamu tidak tahu bagaimana cara memperlakukan kedua hal tersebut.

***

BHIMO FADHEL'S POV

Setelah mengantarkan Fita ke kumpulan Rafflesia, aku memutuskan untuk duduk di salah satu tangga yang ada di kompleks Candi Prambanan sambil membuka BlackBerry Torch-ku. Kulihat recent updates di aplikasi BlackBerry Messanger dan mendapati nama Faisal Abdul Majid dengan listening to update-nya.

Aku membuka profil Faisal. Display picture-nya adalah fotonya... Fotonya bersama Silvy di Bromo kemarin pagi!


Faisal bisa dibilang nekad karena setahuku ia mempunyai kontak BlackBerry Lega. Faisal kini sedang mendengarkan lagu Grenade - Bruno Mars. Aku langsung teringat kata kata Faisal kemarin malam saat perjalanan dari BNS menuju Jogja.


"Gue habis ngomong sama Lega tadi." Kata Faisal setelah dia memastikan Silvy sudah tidur. Aku yang sedang asyik mendengarkan lagu Grenade di iTouch-ku pun langsung melepas kedua earphone-ku.
"Hah? Terus gimana? Lo minta dia mutusin Silvy gitu? Hahahaha." Aku tertawa terbahak lalu berhenti seketika saat Faisal menatapku dengan tatapan tidak biasa.
"Gak lucu, Dhel."
"Ups, sorry. Gue lagi gak bisa baca sikon tadi. Jadi gimana?"

"Dia udah tau gue suka sama Silvy. Dia gak marah sama gue. Dia malah cerita sama gue kalo dia mau mutusin Silvy. Tapi disisi lain dia juga kayak ngehasut gue buat gak suka lagi sama Silvy. Dia tadinya mau putusin Silvy lewat surat dan langsung gue robek suratnya. Gue harus ngomong sama Silvy dan bikin dia sadar kalo Lega bukan cowok yang baik."

Aku bergumam. "Dia bukannya gak baik, dia cuman kalut."
"Ya terserahlah apapun itu namanya, cuman gue gak suka dia udah nyakitin Silvy, gak bisa nepatin janji ke Silvy sekarang mau mutusin Silvy. Apa apaan coba!"
"Emang lo yakin lo bisa bahagiain Silvy, Sal?"
"Yakinlah, gue udah jalan sejauh ini demi dia." Kata Faisal yakin. Aku tersenyum kecil.
"Jadi lo sekarang ganti strategi lo? Balik lagi ke elo yang mau rebut Silvy dari Lega? Lo kan gak tau isi hatinya Silvy, Sal."
"Mangkanya besok gue mau ngomong sama dia."
"Lo yakin responnya positif?"

Faisal terdiam. "Kok gue jadi ragu lagi ya.. Gue jadi bingung harus ngapain..."
"Kalo gue jadi elo, gue bakal balik ke strategi kita yang kemarin. Cuman bilang suka, ntar juga kalo jodoh Silvy nya dateng. Lega tuh cuman lagi kalut jadi asal ngomong dan mancing elo. Bisa jadi ujung ujungnya gak ada yang dapetin Silvy."

"Ugh.. Kalo kata lo.. Silvy gimana sama gue?"
"Udah ada rasa sih.."
Mata Faisal berbinar binar. "Dia milih siapa ya?"

Aku terdiam lalu menatap Faisal dalam dalam. "Gue.. Gak yakin dia milih elo. Gimanapun juga dia pernah ngerasain sakitnya best friend become a lover sama Alvan."

Faisal langsung melepaskan kaca matanya dan menggeram. "Tolol, Lega bener. Temenan, friendzone! Arrrgh!"
"Mungkin elo nya sih ngerasa beneran ke Silvy, cuman Silvynya?"
"Gue sayang banget Dhel sama Silvy."
"Gue tau, Sal. Tapi liat situasi dan kondisi, dong. Ini rumit. Satu satunya hal yang bisa lo lakuin sekarang cuman maju bilang suka sama Silvy."

"Tapi berarti penungguan gue sia sia dong, Dhel?" Tanya Faisal lirih. Aku mengangkat bahuku lalu memutuskan untuk memejamkan mata. Aku ingin melihat mereka bahagia tapi situasinya rumit, terlalu banyak jalan yang bercabang. Aku hanya berharap semoga hal baik menghampiri mereka..

Lamunanku buyar ketika kulihat Silvy berlari dan duduk disampingku. Aku menoleh. "Lo kenapa?"

"Dhel, gawat. Gue bingung banget. Lega habis ngomong sama gue."
"Ngomong apa?"
"Dia.. Dia bilang semuanya..." Air mata Silvy tumpah.
"Semuanya tuh apa, Sil?"
"Dia ngejelasin ke gue tentang kenapa dia jadi beda. Dia bilang dia hampa dan dia minta maaf ke gue. Dia tadinya mau mutusin gue daripada liat gue sakit mulu, tapi katanya dia sayang sama gue dan dia mau perjuangin. Gue seneng banget. Tapi...."
"Tapi, Sil?"

"Disisi lain, gue harus kehilangan seseorang kalo gue tetep sama Lega."
"Lho? Siapa?"
"Gue... Gue sadar gue ngasih harapan ke dia tapi emang gue sayang beneran sama dia, Dhel...." Kata Silvy sambil menghapus air matanya. Astaga! Jangan jangan....
"Sil.. Jangan bilang..."
"Selama ini gue cuman ngeduga, eh ternyata bener! Gue tadinya berharap dia cuman bercanda sama gue biar dia gak sakit pas gue udah seriusin ke Lega dan gue bisa lupain dia. Tapi kalo gini gue kan susah."
"Lega bilang apa ke elo?"
"Dia.. Dia bilang dia tau.... Faisal suka sama gue."

Ah, shit! "Duh.. Susahkan lo Sil, puas! Hahahaha." Aku mencoba tertawa untuk menutupi kepanikanku. Fix, Silvy akan memilih Lega dan Faisal akan sakit lagi.
"Gue emang sayang sama Faisal, Dhel. Gak bercanda ini. Tapi gak bisa. Gue gak bisa ngelepasin Lega. Apalagi Faisal kan sahabat gue, gue gak mau kejadian kayak Alvan terulang lagi..." Damn! Aku benar!
"Ja... Jadi gimana sama Faisal?"

"Yang jelas gue bakal bilang sama dia kalo gue emang sayang sama dia..."
"Maksud gue.. Gimana nasib Faisal? Gue rasa dia udah nungguin elo lama."
"Entahlah, Dhel. Gue gak bisa ninggalin Lega walaupun itu sakit buat Faisal."

"Lo.. Lo yakin Sil?"
"Insya Allah gue yakin. Walau gue gak rela liat Faisal pergi dari gue, tapi gue tau ada yang lebih baik daripada gue buat dia. Dan karena gue sayang sama Faisal, gue harus ngelepas dia karena gue gak bisa mencintai dua orang sekaligus dengan serius. Yang ada gue bakal ngorbanin perasaan salah satunya tanpa gue sadari. Lo dukung gue kan, Dhel?"

Silvy menatapku dalam dalam. Aku menghela nafas. "Entahlah. Yang terbaik aja deh buat lo..."

***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV


Setelah Vancouver cowok mengambil foto, aku dan Rajawali lain langsung keluar dari kawasan Candi Prambanan untuk menghampiri 'pasangan' kami. Sebenarnya aku sedang tidak ingin bertemu dengan Rafflesia setelah kejadian tadi malam, aku masih bingung harus bersikap seperti apa dengan gadis itu.

Gadis itu langsung menyambut Rajawali dengan ceria ketika kami datang. Kuharap dia melambaikan tangannya padaku tapi sayangnya tatapan matanya menuju Winu. Sudah kuduga dialah yang menjadi target move on gadis tersebut.

Tapi tiba-tiba aku teringat perbincanganku dengan Ridho ketika kami sedang makan siang di salah satu tempat pemberhentian.


"Ges buruan ambil makannya." Kata Ridho tak sabaran. Aku mengangguk angguk lalu berjalan meninggalkan Ghorby dan Aca yang masih mengambil makanan. Kami berdua duduk disalah satu pojokan ruangan restoran tersebut. Ridho berdehem.

"Jadi tadi malem gimana sama Dora, Om?" Tanya Ridho. Aku menoleh.
"Dora? Biasa aja."
Ridho menatapku heran. "Lah? Udah jadian belum?"
"Gue gak nembak."

Hening beberapa menit. Aku melahap nasi goreng yang tadi kuambil. Ridho berdehem lagi. "Gak lo bikin nangis kan?"

"Gak sih, tapi dia nangis sendiri."
"Lo kenapa sih, Ges?"
"Dia move on, dia marah gue baru dateng sekarang, gue marah dia gak ngehargain usaha gue, dia marah gue dulu gak ngehargain usaha dia. Dia bilang gue kena karma."
Ridho tertawa. "Puas  banget dengernya."
"Seneng kan lo?"

"Lo udah nembak?"
"Cuman nanya mau gak pacaran, semacam itulah."
"Dia bilang?"
"Ya itu dia marah, dia move on beneran."
"Bego. Dia gak bisa move on dari elo. Dia sayang banget sama elo."
"Sok tau, buktinya dia gak nerima gue. Dia udah suka kali sama Winu." Kataku sambil menoleh dan bertepatan dengan Titi sedang berjalan bersama Winu sambil tertawa. Aku tersenyum kecut.
"Dia emang suka sama Winu, tapi sayangnya ke Gestu."

Aku terdiam. "Tau darimana sih?"
"Dia cerita sama gue. Dia suruh gue kepoin elo dan bener aja, lo kecewa kan?"
"Sebenernya apa sih mau dia?"
"Dia cuman mau liat lo serius apa enggak. Dia tadinya mau bener bener ke Winu, cuman gak bisa. Dia sayangnya sama elo."
"Jadi gue harus ngapain?"
"Ntar sore nih kan Jaffles jalan, lo tanya aja sama dia hubungan kalian jadinya gimana. Jangan suka nuduh dia udah move on, dia gak suka. Dia kan berusaha move on demi elo."

Winu mengusap kepala Titi lalu berbisik sesuatu. Entah apa yang ia bicarakan tapi Titi berjalan ke arahku lalu menepuk bahuku. "Temenin beli minum, yuk!"

Aku berjalan disampingnya dan menunggu saat yang tepat untuk bicara. Dia lalu membeli sebotol air mineral dan duduk di salah satu kursi yang berada di depan kios tersebut. Aku lalu duduk disampingnya.

"Tu, kamu tau? Best friend become a lover is something nice to remember."
"Iya..."
"Tapi nunggu untuk jadi a lover tanpa kepastian yang jelas itu menyebalkan."
"Eum.. Ya..."
"Aku move on karena kamu. Aku mau kita balik kayak dulu kalo emang kamu gak bisa bales. Tapi ternyata kamu dateng dan terlalu cepat untuk aku meyakini kalo akhirnya kamu dateng juga."
"Ti..."
"Ini tuh kayak Bhimo sama Dini. Bedanya mereka bentar lagi jadian dan Dini nunggu gak kelamaan. Sementara aku? Setahun. Dan ketika kamu dateng, kamu gak sadar kalo kamu pernah nyakitin aku."
"Eum..."
"Aku mau jawab pertanyaan kamu tadi malam, apa kita bisa bareng atau enggak. Aku ragu, aku takut perasaan kamu cuman karma belaka dan kita juga Jaffles. Jaffles tuh keluarga. Walau banyak yang jadian, tapi aku takut kalo tiba tiba putus kita jadi stranger lagi."

Entah apa itu namanya, tapi sakitnya seperti saat kamu sedang memegang pisau dengan hati hati dan tanpa kamu sadari terlalu hati hati membuat kamu terluka sendiri. Aku tak berani menatapnya.

"Aku sebenernya pengen lupain kamu dan udahlah cukup tau kamu juga punya perasaan yang sama. Aku udah mulai suka sama Winu dan Winu juga ternyata punya perasaan yang sama. Tapi gak bisa. Aku sayangnya sama Gestu."
"Kalo gitu.. Bisa kamu kasih aku kesempatan, Ti?"

"Bisa, tapi gak sekarang."
Aku tercekit. "Kenapa?"
"Aku udah bilang kan mau liat kamu serius apa enggak? Nah itu alasannya dan juga fokus UN kamu. Aku juga mau fokusin diri sama masa depan aku. Aku mau liat kamu mampu nunggu atau enggak. Kita ketemu sekitar 6 bulan lagi di Graduation Day Vancouver."
"Lalu selama 6 bulan itu?"
"Tanpa komunikasi, kita cuman boleh ngobrol seperlunya. Aku mau tau gimana kamu ke aku."
"Apa perasaan kamu ke aku bakal tetep gitu aja walaupun kita gak ada komunikasi?"
"Kamu gak bisa raguin aku, Tu. Sudah terbukti semuanya hahahaha."

Kami tertawa bersama lalu aku menatapnya dalam dalam. "Kita bakal jadi stranger lagi selama 6 bulan ke depan, tapi liat aja.. Kita pasti jadi 'kita' yang lebih dari sahabat nantinya. Aku akan buktiin ke kamu semuanya."

Gadis itu tersenyum kecil lalu menepuk pundakku. "6 bulan lagi di Graduation Day, Tu. Aku tunggu kamu."


2 chapters left. Astaga astaga. Gak kerasa besok tepat 4 bulan nulis TRIY. Inget chapter 1 povnya siapa? Chapter 35 & 36 bakal cetar! Keep read. Twinkyu Reasonators! To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}