The Reason is You chapter 35: I Got a Boy

Someone said that The Reason is You is like Glee. I agree. Tapi bedanya TRIY nyanyinya sedikit, galaunya banyak dan Glee is more, more, more and more complicated than this story. But I do love Glee so much as much as I love TRIY muah muah!{}

Well, one chapter left. Setelah melewati 34 chapter penuh sinetron yang bikin Reasonators & all cast The Reason is You muak sama penggalauan gue, akhirnya terbit juga chapter 35 dan sebentar lagi chapter 36 dan kalo lo masih nunggu orang yang pura pura gak peka padahal peka, lo adalah orang terbodoh yang pernah ada. Ngeee. 

Let's read, Reasonators!

***


MALAM PENTAS SENI VANCOUVER TOUR, YOGYAKARTA 2012

LEGA IKHWAN HERBAYU'S POV

Ini bukan pentas seni yang menyenangkan ketika kamu yang sedang berjuang untuk berubah melihat pacarmu pergi menjauh bersama seorang cowok yang menyukainya. Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil mengawasi Silvy dari jauh. 

Siapa yang pada akhirnya Silvy pilih? Pertanyaan itu terus berputar putar di kepalaku. Setelah Alda dan Titi turun dari panggung, aku langsung menghampirinya. Dia sudah berkumpul dengan Lita dan Haekal. Mereka tertawa kecil.

"Silvy pasti tau kok siapa yang bakal dia pilih." Kata Haekal mencoba menenangkan.
"Siapa yang tau sih, Kal? Bisa aja dia tiba tiba berubah pikiran. Apalagi Faisal kan sahabatnya. Mungkin aja dia udah punya perasaan lebih gitu...."
Alda tertawa. "Kalo kata gue sih dia emang punya perasaan ke Faisal, Leg. Tapi jauh lebih banyak porsinya untuk elo. Jadi buat apa sih lo cemas gitu?"
"Yang penting kan lo udah jujur ke Silvy dan berusaha untuk berubah demi nepatin janji lo. Lo bisa kok hilangin rasa hampa itu."

"Tapi... Gue..." Aku menoleh dan melihat Silvy berlari sambil menangis. Aku bergegas melangkah tapi Alda menarik tanganku. "Jangan samperin Silvy. Dia lagi bingung sekarang."

"Tapi, Al..."
"Udah deh Leg, percaya sama kita. Dia tuh milih elo, tapi kalo lo kesana dan nanya nanya taunya lo salah ngomong, bisa aja Silvy malah gak milih kalian berdua." Kata Lita. Aku menunduk lalu mengangguk.
"Lo mending kepoin Faisal, deh. Tapi baik baik dan lurusin semuanya. Jangan sampe dia ngerasa benci sama elo. Karena gue yakin pasti kesel banget kalo kayak gitu." Kata Haekal pelan.
"Ya kayak Bani yang gak milih pacar gue, kan!" Seru Alda.
"Yakali kalo Bani milih pacar lo dia gak jadian sama gue dan elo gak naik kuda sama Ridho di kawah Bromo! Ngahahaha." Haekal tertawa puas lalu diikuti tawa Lita dan pukulan Alda.
"Udah sana gih, perbaiki keadaan lo sama Faisal baru samperin Silvy. Jangan punya perasaan ragu lagi, nanti kerasa hampa. You've got an amazing feeling for her, don't you?" Tanya Lita sambil tersenyum kecil. 

***

VALDA NURUL IZAH'S POV

Aku memutuskan untuk duduk sendiri di balkon aula tempat kami mengadakan PENSI sambil menghabiskan brownies cokelat-ku. Tiba-tiba Yoga datang sambil menjinjing MacBook hitamnya. Aku tersenyum kecil menyambut kedatangannya.

Dia duduk di sampingku lalu menyalakan MacBook-nya. Aku berusaha untuk tidak kepo dan meneruskan kegiatanku menghabiskan brownies-ku. Yoga lalu  berdehem dam memutarkan sebuah lagu. Eaaa-Coboy Junior versi acapella yang dinyanyikan oleh Novi.


"Aku suka banget lagu ini." Kata Yoga membuka percakapan. Aku tertawa kecil.
"Selera kamu aneh."
Yoga menaikkan alisnya. "Apanya yang aneh? Kamu juga suka boyband kan?"
"Ya tapi aku sukanya Korea. Jauh lebih gaul. Selera kamu kayak anak SD."
"Pasti, aku kan masih imut Val. Hahahaha." Kami berdua tertawa bersama.

"Valda kenapa gak di dalem?" Tanya Yoga pelan. Aku menggeleng.
"Gakpapa, sumpek aja. Masih lomba ini belum full perfoms, males aku. Mending disini. Sejuk..."
"Kalo buat aku sih dimanapun itu pasti sejuk dan nyaman, yang penting ada kamu..." Yoga mencoba menggombal lalu aku tertawa. Pipiku memerah.
"Hahaha basi banget astaga.... Yog, aku mau nanya boleh?"
"Sure, kamu mau nanya apa toh?"
"Kenapa kamu pacaran sama Rianthy kemarin?" Tanyaku. Yoga tersenyum kecil.

"Kita ngomongnya frontal aja ya, sama sama ngerti juga kan? Karena aku pengen liat kamu cemburu atau enggak dan nyatanya emang kamu cemburu."
Aku tersenyum kecil. "Kamu tau kan aku suka sama kamu, kenapa kamu gak langsung nembak aja?" Tanyaku. Ups, aku kepedean sekali. Yoga tertawa.
"Valda, Valda.. Gak semudah itu. Kamu selalu ngehindarin aku kalo masalah cinta, apa kamu gak inget?"

Aku terdiam. "Maaf..."
"Aku ngerti kok, kamu takut friendzone ya? Ifa udah cerita semuanya sama aku. Pas kamu tau aku jadian sama Rianthy kamu pingsan, terus kamu nangis di tenda..." Jelas Yoga disela tawanya. Aku langsung memukul pundaknya lalu mengerucutkan bibirku.
"That's the stupidest part of my life! Ahhh!"
"Nope, Val. Dengan gitu aku tau sebenernya kamu juga suka sama aku dan lagu tadi sebenernya buat kamu. Kamu itu kayak bidadari Val, jatuh dari surga dan langsung singgahh di hati aku. Walau kamu sering cuekin aku kalo aku ngode, tapi aku gak bisa lupain kamu, karena kamu tuh begitu istimewa buat aku..."

Kurasakan pipiku semakin memerah. Sial! Siapa sih yang tidak jatuh cinta jika melihat orang yang kita sukai selama ini menggombal seperti itu apalagi orangnya itu Yoga?

"Yog, you such of too maksimal malem ini. I'm too speechless."
"Bahasa Inggris macam apa itu? Kamu kalo lagi degdegan jadi lupa segala macem ya...."
"Aku cuman bingung gimana menyikapi semua ini."
"Kamu gak perlu bingung. Cukup bilang iya atau enggak. Mau jadi pacarku gak, bidadari?"

Yoga meraih tanganku lalu tersenyum. Aku meremas jemari Yoga lalu berbisik. "Iya. Aku mau, Yog." Kataku. Yoga tersenyum lebar. "Makasih bidadari cantik! Aku masuk dulu ya, titip MacBook!"

Dia lalu berlari meninggalkanku sambil melonjak kegirangan. Hatikupun senang tak kepalang. Aku tidak menyangka akhirnya setelah penungguan dan sempat putus asa, aku akhirnya bisa mendapatkan kepastian dari Yoga.

Aku mengalihkan pandanganku dan melihat layar MacBook Yoga. Dia membuka Microsoft Word dan disana tertulis to Valda. Aku tersenyum kecil lalu membacanya.

Kamu buka iTunes deh, terus dengerin lagu The Reason is You.

Dengan cepat aku membuka iTunes dan mencarinya. Aku langsung mendengarkan lagu itu dan membuka file tadi. Aku tersenyum kecil melihat liriknya.


Aku telah berpindah pindah
Setiap hari kucoba bertahan
Aku telah terus mencoba
Walau kutahu ku 'kan kembali pada dirimu

Aku tak pernah lelah untuk mencari
Walau kau tak pernah lelah untuk berlari
Tapi kuyakin ku 'kan temukan cintaku itu pada dirimu
Jadi berhenti bertanya

Mengapa aku terus tersenyum
Mengapa aku terus berdiri
Walaupun aku sering terjatuh
Tapi kuyakin itu semua
'Cause the reason is you

Ini lagunya Titi. Tapi pas aku denger di HP Bhimo, ini kayaknya pas banget buat kamu. Makasih Valda, aku sayang sama kamu. Aku selalu mikir kenapa aku bertahan, tapi akhirnya aku sadar everything happen for a reason. And the reason is you.

Aku menyuapkan brownies-ku sambil tertawa kecil. Aku bahagia dan sangat bersyukur karena mempunyai sahabat sahabat yang mendukungku untuk menuju kebahagiaanku. Aku juga sangat bahagia karena akhirnya aku mendapatkan seseorang yang selama ini selalu mengisi hatiku.

Alasanku tersenyum, alasanku bertahan, semua itu kamu. Isaka Yoga Santoso. 

***

BHIMO AGENG TRIBUANA'S POV

"Enggak ah, gue kabur ke Jaffles dulu ya! Goodluck, Bhim!" Seru Titi saat aku menariknya untuk menyanyi A Thousand Years bersamaku. Aku malam ini akan meminta Dini menjadi pacarku setelah memainkan A Thousand Years nanti.

Aku memandangi Galaxy Ace-ku sambil tersenyum melihat wallpapernya. Fotoku dan Dini yang diambil tadi sore di Prambanan.


Dalam foto itu mungkin kami tidak tersenyum berdua, tapi aku merasa bahagia dan kurasa Dini juga merasakan hal yang sama. Terlepas dari apa yang membuatku menyukainya, aku tak bisa berpaling dari dia.

Kami memang berawal dari dua orang teman satu kelas yang lama kelamaan menjadi sahabat dekat. Saat aku berpacaran dengan Mauren, aku banyak bercerita dengan Dini. Begitu juga dengan Dini saat ia mempunyai pacar.

Lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang berbeda pada Dini apalagi saat ia memintaku untuk ikut bergabung ke eskul Pramuka-nya. Aku mulai menyukainya dan beberapa saat setelah masuk Pramuka aku ingin memintanya jadi pacarku tapi Esar...

Aku tidak enak padanya. Apalagi anggota Rajawali yang lain sangat baik padaku, Haekal dan Winu walaupun kami masih baru. Tapi ternyata Esar move on dan memilih Bella. Semenjak saat itulah aku semakin yakin pada Dini.

"Bhim, dua tampilan lagi terus kamu. Mau nyanyi sama siapa? Eh itu foto di Prambanan ya?" Tanya Mauren tiba-tiba. Dia sudah berdiri di sampingku dengan kertas, pulpen dan kaca mata levis yang terpasang di wajahnya. Aku mendongak lalu tersenyum.
"Titi kabur, Ur. Iya... Mauren sih pake mules segala jadi gak ikut ke Prambanan!"
Mauren nyengir. "Hehehe ya panggilan alam... Jadi sama siapa?"
"Gak tau, sama kamu aja tah?" Tanyaku. Mauren menggeleng.
"No, suaraku serak seperti kodok Bhim. Lagian buat Dini kan? Aku mau nontonin aja hahaha. Kamu minta tolong Audit aja gimana?" Tanya Mauren. Aku menoleh ke arah Audit lalu mengangguk.
"Yowes lah, aku ke Audit dulu. Kamu doain aku yo, Ur!"
"Selalu lah, masa buat pasangan sendiri gak aku doain..." Kata Mauren sambil tertawa. AKu bangkit, meraih gitarku lalu berjalan menuju Audit. Tiba-tiba Mauren berlari ke arahku. Wajahnya panik.

"Bhim, aku baru inget mitos di Prambanan!"
Aku mengerutkan keningku. "Hah? Apaan, Ur?"
"Katanya kalo yang foto berdua disana, mau sama gebetan, pacar atau mantan, hubungan cintanya gak bakal lama alias kalo gebetan ya gak bisa jadian! Lah kamu ngapain pake foto sama Dini segala? Kalo Dini nolak kamu atau ternyata kalian pacaran cuman sebentar gimana?" Cecar Mauren panik.

Aku menjatuhkan Galaxy Ace-ku lalu menatap Mauren. "Mitos doang, Ur. Mitos."
"Ya.. Tapi kalo sampe beneran?"
"No. I'll get her." Jawabku yakin sambil mengambil Galaxy Ace-ku. Wajahku berusaha tersenyum tapi hatiku getir. Walaupun aku tidak percaya mitos, siapa yang tahu masa depan. Iya kan?

***

ABIZAR BAGAS PATRIATAMA'S POV

Dua cangkir kopi panas telah siap berada di depanku dan Ghorby. Kami duduk berdampingan sambil menikmati penampilan anak Vancouver'85. Kini Sulthan, Kevin, Lega, Winu dan Haekal sedang menampilkan Marry You featuring dengan Harto, anak kelas 9A. 

Ghorby menyeruput kopinya sambil menggumam. Rasanya sudah lama sekali aku dan Ghorby tidak melakukan hal seperti ini apalagi setelah ada konflik perasaan antara aku, Ghorby, Risma dan Ninis.

Aku berdehem lalu menyeruput kopiku yang mulai menghangat ketika Ghorby membuka bibirnya dan memulai percakapan. Dia memulainya dengan pertanyaan 'lo suka tim sepak bola apa?' padahal Ghorby tau jelas kalau aku suka Real Madrid sementara dia suka Chelsea.

"Pertanyaan lo gak mutu, Ghor. Sama aja kayak kata kata 'lo-tau-Zar-gue-homo' yang selalu lo keluarin pas lo lagi pusing atau galau. Hahahaha."
"Gimanapun juga gue sahabat lo, inget! Hahaha."
"Eits, gue mau nanya nih. Sorry ngungkit, lo masih ada perasaan gak sih sama Ninis?" Tanyaku dengan nada bercanda. Ghorby tersedak lalu tertawa.

"Pertanyaan bodoh. Gue tanya sama elo, lo masih punya perasaan gak sama mantan lo yang dulu?"
Aku menelan ludahku. "Masih sih, tapi dikit dan cuman perasaan sekali lewat gitu doang. Kalo kata gue sih Ninis udah lupain elo... Elo sendiri gimana?"
"Ya sama kayak elo, kita kan sama sama manusia berjenis cowok tapi masih gantengan gue hahaha!" Seru Ghorby mengeluarkan lawakan basinya. Aku memukul bahunya. Aku membuka tab-ku, membalas pesan dari Ninis lalu bersenandung lagu Rumour Has It milik Adele. Ghorby tertawa.


"Apa, Ghor?"
"Lo nyindir gue? Parah lo kayak anak cewek."
Aku berfikir sebentar lalu tertawa. "But rumour has it he's ain't got your love anymore!"
"Aduh Zar.. Nih kita bicara jujur kejantanan aja ya. Gue emang masih nyimpen rasa sama Ninis, dia juga gitu. Semua orang pasti gitu ke mantannya. Tapi dalam batas wajar karena kita berdua udah punya pasangan masing masing dan gue udah nyaman sama pacar gue.."
"Eum..."

"Gue gak mau sampe kita diem dieman lagi kayak cewek lagi berantem apalagi masalahnya gara gara cewek, gak lucu. They got their own boy, and we too Zar. Masa lalu tuh cuman buat di kenang dan dipelajari, bukan untuk diharapkan dan hidup di dalamnya. Gue berharap gak bakal ada lagi  berantem berantem kayak kemarin karena gue sama Ninis juga udah sama sama ngomongin tentang ini..."

"Iya gue ngerti kok Ghor. Gak usah gini deh, berasa homo."
"Ye, gue homo juga pilih pilih, Zar."
"Harusnya gue yang ngomong gitu!" Seruku sambil tertawa.
"Hehehehe udah deh yang lalu gak usah di ungkit, males gue."
"Iya, tapi gue mau nanya. Elo lebih milih gue apa Ninis?"

Ghorby tertawa. "Ganteng ganteng bego ya lo. Ya gue milih sahabat gue lah daripada mantan. Sahabat bisa jadi selamanya. Kalo pacar bisa putus, kalo mantan? Balikan belum tentu, temenan biasa kayak mau.. Mangkanya gak lucu banget kalo orang berantem gara gara rebutan pacar. Apalagi yang sahabatan."

"Bener bener... Lo tumben pinter, Ghor!"
"Jelas, gue sih selalu pinter hahaha."
"Anyway, makasih ya Ghor."
Ghorby menoleh. "Buat nemenin elo si anak baru atau ngebantuin elo dengan ngejodohin sama mantan gue?"
"Semuanya. Lo emang temen yang baik dan pantes disebut temen, Ghor!" Seruku sambil tersenyum. Ghorby mengangguk.

"Ya, sama sama. Bukannya sahabat gunanya saling membantu?"
"Betul. Tapi lo sayang sama Risma, kan? Bukan cuman pelarian kan?"
"Pelarian apa sih Zar, Zar.. Ya gue sayang beneran lah. Elo sendiri? Elo gimana?"
"Ya gue sayang sama Ninis. Sayang banget."
"Bagus deh, gue titip dia ya."
"Siap. Gue pasti bakal jaga dia. Sepenuh hati gue."
"Kalo butuh bantuan buat nyayangin Ninis, telpon gue aja, gue siap sedia kok. Hahaha."
"Sialan lo, gue kasih tau Risma nih!" Seruku sambil menaruh cangkir kopi milikku yang tadinya penuh sudah habis tanpa sisa.

***

KARTIKA YOLYNDA'S POV

Audit baru selesai menyanyikan lagu A Thousand Years ketika aku dan Gestu baru datang menghampiri Dini yang sudah gemetaran karena sebelum memulai bermain gitar, Bhimo berkata dari atas panggung bahwa lagu ini dipersembahkan untuk seseorang yang spesial untuknya tanpa menyebutkan nama.


"Din, santai aja..." Kata Gestu mencoba menenangkan Dini.
"Duh.. Gue gak tau itu buat siapa. Walau gue tau dia suka sama gue lewat truth or dare, tapi kan mungkin aja dia lagi deket sama yang lain, Tu.."
"Tenang, Din.. Kalo jodoh lo, dia bakal ke elo kok."
"Masa Yola udah balikan sama Aca, Gestu udah jadian sama Titi..."
Gestu menatap Dini sinis. "Gue gak jadian, masih dalam masa pendekatan, lagi. Untuk kedua kalinya." Jelas Gestu. Dini tertawa.
"Iyalah terserah elo, masa kalian udah pada jadian, pada dapet kepastian sementara gue masih ngambang gini sih...."
"Mending ngambang daripada udah sampe atas terus dijatohin...." Kataku sambil melirik Esar yang sedang bersama Bella. Aku menghela nafas lalu Gestu menepuk pundakku.
"Udah deh, lo udah punya Aca yang sayang sama elo. Gak usah mikirin masa lalu. Ngapain dipikirin kalo udah kita perjuangin tapi gak dateng dateng?"

Tiba-tiba Bhimo dari atas panggung terlihat mengeluarkan Galaxy Ace-nya lalu meraih microphone dari tangan Audit. Dia tersenyum. "Din.. Dini.. Kamu disana kan? Aku habis stalk twitter kamu lagi. Eh bio kamu kok sepi ya cuman ada tulisan Vancouver & JRf26? Kayaknya mending ditambah sesuatu deh.. Gimana kalo tambah nama aku di bio kamu? Kalo gak mau di bio, di hati kamu deh. Mau gak jadi pacar aku, Din?"

Aku langsung menjerit setelah mendengar kata kata Bhimo. Seluruh anak Vancouver langsung menyoraki Dini. Dini terdiam, wajahnya semakin memerah. Gestu tertawa bukan kepalang.

"Din.. Dini? Jadi mau kan pasang nama aku di bio kamu? Ntar aku juga masang nama kamu deh..."
Dini tersenyum lalu berteriak. "Iyaaaa! Mau Bhim!!!"  Seru Dini. Vancouver langsung bersorak sorai sementara Bhimo yang wajahnya memerah langsung turun dari panggung diikuti oleh Audit.

Pertama kalinya setelah aku memperhatikan perjuangan Dini untuk Bhimo, aku sadar bahwa setiap perjuangan pasti memiliki ujung dan kepastiannya masing masing walaupun kita sulit meraihnya. Mungkin untukku ujungnya adalah Aca, bukan Esar.

Semenjak aku bersama Aca, aku jadi mengerti bahwa ketika kita belajar mencintai seseorang dan menerima keadaan yang ada dengan bersyukur, semuanya akan menjadi indah. Walaupun pada awalnya aku sedih karena setelah aku menunggu ternyata Esar tidak datang padaku, tapi aku bersyukur karena aku mempunyai Aca dan pada akhirnya Esar pun memiliki Bella.

Nadia pun yang awalnya terobsesi pada Ghorby semenjak tragedi "pacaran yuk"-nya Ghorby, ia akhirnya bisa melepaskan Ghorby dan malah menyemangati Ghorby untuk kembali pada Risma.

Pada dasarnya, cinta itu bukan masalah aku suka kamu terus pacaran yuk. Tapi aku suka kamu, aku sayang dan nyaman sama kamu, dan ini cara aku membahagiakanmu. Karena cinta itu butuh perjuangan, pengorbanan dan penungguan untuk mendapatkan arti yang sebenarnya.

Dan aku sudah menemukannya. Alasanku tetap bertahan bukan karena perasaanku untuk Esar, tapi perjuangan Aca untukku yang membuatku sadar betapa berharganya dia dalam hidupku dan hatiku yang sudah berpaling padanya.

I got a boy, amazing boy, named Aca. Status: Totally move. Bye bye, Esar.

***

FAISAL ABDUL MAJID'S POV

Tidak ada yang salah. Hanya saja harapanku mungkin bukanlah hal yang terbaik untuk diriku.

Lega duduk di sampingku sambil terenyuh. "Maafin gue, Sal. Gue ngerti perasaan lo cuman..."
"Udah cukup, gue gak mau ngulang semuanya lagi." Kataku sinis tetapi otakku seperti sudah tersetting mengulang lagi kejadian tadi dalam versi slow motion. Aku menggeram.

"Yes I would do anything for you Silvy, but Lega won't do the same." Kataku setelah menjelaskan semuanya pada Silvy. Wajah Silvy memerah, dia lalu menyibakkan rambutnya dan mengigit bibirnya. Aku terdiam.

"Tapi aku disini cuman mau nyatain dan nanya sama kamu. Aku gak berniat ngerebut kamu dari Lega, enggak sama sekali. Walaupun aku kesel sama Lega, tapi aku sadar kalo kamu jodoh aku, pada akhirnya kamu bakal datang ke aku dengan sendirinya."

"Maafin aku, Sal.. Aku bener bener gak bisa..."
"Aku gak minta kamu buat ninggalin Lega kok. Aku cuman nanya, apa kamu sayang sama aku atau enggak. Kenapa kamu gak bisa jawab sih?"
Mata Silvy sudah memerah. "A.. Aku sebenernya juga sayang sama kamu, Sal. Sayang banget malahan dan aku tuh.. Aku gak mau ini semua terjadi. Aku mau kamu terus disamping aku. Aku mau kamu nunggu aku..."
"Tapi Lega?" Aku mengerutkan keningku. Silvy memalingkan wajahnya.
"Itu dia, aku gak bisa lepasin dia."

"Jadi kamu mau aku tetep nunggu kamu tapi kamu sendiri gak bisa lepasin Lega? Kamu mikirin perasaan aku gak sih, Sil?" Tanyaku. Entah kenapa aku merasa benar benar sakit kali ini.
"Sal.. Maaf... Aku tau aku egois, tapi aku gak rela liat kamu sama yang lain."
"Kamu kira aku rela liat kamu sama Lega di depan aku, Sil? Enggak.. Tapi posisinya beda."
"Sal.. Please jangan marah."
"Aku gak marah, aku cuman kecewa sama sikap kamu. Aku gak berharap banyak buat kamu milih aku, tapi kalo kamu suruh aku nunggu tanpa kepastian aku gak bisa."
"Tapi kamu katanya sayang sama aku?"
"Aku sayang sama kamu, aku udah berjuang buat kamu. Giliran kamu yang berjuang kalo kamu emang sayang sama aku."
"Sal..."
"Kalo kamu tanpa kepastian kayak gini, aku mending pergi Sil daripada sakit hati dan yang ada malah hubungan aku sama Lega makin buruk. Lebih baik kamu pilih Lega dan pertahanin dia, biarin aku pindah hati. Jangan bikin beban gini buat aku. Kita emang cuman sebatas sahabat, Sil."

Silvy menangis lalu menghapus air matanya. "Maafin aku, Sal.. Tapi insya Allah aku relain kamu. Kamu pantes buat dapet yang lebih dari aku. Makasih udah sayang sama aku, aku doain kamu dapet yang terbaik. Aku sayang sama kamu, Sal."

Silvy berlari pergi sambil menangis meninggalkan aku sendiri dibawah langit Yogyakarta berbintang dengan sayatan sayatan yang semakin lama semakin perih di hatiku.

"Gue gak nyangka lo sampe kayak gitu. Gue kira lo bakal ngehasut Silvy buat ninggalin gue." Kata Lega sambil mengacak acak rambutnya. Aku tertawa sinis.
"Hah, konyol. Gue gak selicik itu."
"Makasih banget, Sal. Maaf bikin elo kayak gini."
"Enggakpapa. Mungkin kalo gak kayak gini gue bisa jadi perusak hubungan kalian. Sementara gue mau jauh dulu sama Silvy, tapi ntar gue pasti balik lagi kok. Gue mau ngasih waktu buat dia dulu."
"Gue jadi gak enak gini sama elo, Sal."
"Santai aja kali, sana kejer Silvynya."
Lega menjabat tanganku. "Makasih ya, Sal."
"Iya. Jagain Silvy ya." Kataku dengan suara tercekit.
"Iya. Pasti."

Lega lalu melesat meninggalkanku sementara aku duduk terdiam memandangi langit. Aku meraih handphone-ku lalu menyalakan lagu yang Silvy kirimkan untukku. Pupus - Dewa 19.



Pada akhirnya aku sadar, setelah semua yang kita lalui, setelah perjuangan dan penantian semuanya tidak akan selalu sama dengan apa yang telah kita harapkan. Yang manusia bisa lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Hasil akhirnya serahkan pada Yang Maha Kuasa.

Aku tahu aku telah membuang banyak waktuku. Aku tidak berani menembak Fita dan menunggu Silvy begitu lama tanpa hasil apa apa. Semuanya terlihat sia sia, tapi sebenarnya tidak.

Karena semua yang terjadi pasti memiliki alasan. Dan alasan itu yang akan membuat kita bangkit dan berdiri lebih kuat lagi untuk memulai jalan yang baru, cerita yang baru, hidup yang baru...

Semoga kamu bahagia Silvy, walau bukan denganku.



The last chapter is available on 16/02/2013 around 9pm. Gue sedih, The Reason is You udah selesai gitu aja. Sedih. Sedih. Rasanya cepet banget 36 chapter... Anyway happy birthday Febby & Ebol^^ Keep read. Ciao. To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}