The Reason is You chapter 37: Heart Attack

Entah siapa yang bikin gue jadi sepik gini, tapi gara gara Reasonators pada minta cepet cepet dan gue liat di sekolah gue tinggal menyelesaikan US & UN jadi gue putuskan untuk post satu chapter ini dulu. Kalo memungkinkan nulis lagi....

Mungkin nulis adalah salah satu cara (selain nyanyi) untuk gue mengungkapkan ada yang gue rasain. Karena sesungguhnya karya seorang penulis adalah curhatan tertunda.

Selamat membaca, Reasonators.

***



Full chapter | Extra chapter trailer


SUHARTO'S POV

Harto main mulu. Udah makan belum?

Aku memandangi layar Android-ku sambil tersenyum kecil. Hanya cewek ini yang bisa membuatku menghentikan permainan Point Blank-ku. Hanya dia yang bisa menjadi moodbooster-ku walau aku dan dia tidak pernah punya hubungan khusus selain persahabatan.

Iya, sahabat.

Aku membalas pesannya lalu kembali berkutat dengan Point Blank-ku. Tiba-tiba secangkir milo hangat dan sepiring roti bakar sudah tersedia di samping laptop-ku. Aku menoleh dan tersenyum kecil saat ia memamerkan barisan gigi berkawat dengan warna karet biru muda. 

"Udah coba main Point Blank-nya. SMANDA sama SMANAM tuh jauh. Lo gak kangen apa sama sepupu lo?" Tanya Titi sebal. Aku tertawa kecil.
"Selai coklat-stroberi lagi?" Tanyaku. Dia mengangguk pasti.
"Iya.. Makan gih mumpung masih anget."
"Makasih, Ti." Kataku sambil tersenyum lebar. Titi menatapku heran.
"Tumben banget bilang makasih..." Katanya sinis. Kami bertatapan lalu tertawa bersama. Aku menggigit roti bakar itu lalu kembali bermain sementara Titi sibuk dengan iPad-nya.

Beberapa menit kemudian Android-ku bergetar. Namanya tertera di layar.

Aku juga udah, kok. Shalat dulu gih, ntar SMS lagi.

Aku lagi lagi tersenyum. Perhatian kecilnya tidak pernah berhenti walaupun kami sudah lama tidak bertemu. Aku tidak membalas pesannya lalu kembali bermain. Titi meraih Android-ku. Beberapa saat kemudian wajahnya berubah.

"To.. Jawab gue. Lo sejak kapan bisa ngepause Point Blank demi bales SMS cewek?" Tanya Titi heran. Aku nyengir.
"To.. Lo suka sama dia?" Tanya Titi ragu-ragu. Kali ini aku memberhentikan permainanku, menyeruput milo hangat itu dan menatap sepupuku itu dalam dalam.

"Entah ini apa namanya, gue cuman takut salah langkah kalo sama dia."
"Apa yang lo rasain, To?"
"Apa yang lo rasain sama Gestu, Ti?" Tanyaku. Wajahnya memerah.
"Something strange. Gak bisa di jelasin...."
"And me too. Gue sendiri bingung. Lo tau kan gue gak gampang nyaman sama cewek? Tapi sama dia, iya. She's got my heart."
"Tapi apa lo yakin? I mean, beda sekolah, entah kapan ketemu, dan mungkin dia juga udah ada hati sama yang lain.. Atau lo cuman ngerasa nyaman as bestfriend, not a couple."
"Lo mau ceramahin gue juga gue bingung, Ti. Yang jelas gue sayang sama dia."
"Sayang gak berarti harus jadian, kan?"
"Enggak sih, tapi gue keburu janji sama dia."
"Jangan janji kalo lo gak bisa tepatin, To. Jangan. Dia sahabat gue."
"Gue cuman janji gak bakal ninggalin dia kok, tapi gue takut dia mikir lebih..."
"Jadi dia tau perasaan lo?"
"Gue rasa iya."

Hening beberapa saat lalu Titi menghela nafasnya. "Gue takut kejadian yang sama terulang sama elo, To. Lo deket sama cewek, nyaman dan nyesel belakangan pas udah jadian. Gue tau banget lo kalo udah sayang susah ngelepas."

"Iya, gue kayak Ariel yang susah ngelepasin Luna."
"Terserah lo deh, To. Gue tau lo suka banget sama Noah."
"Gak penting, Ti. Yang penting sekarang adalah cara memperjelas perasaan gue dan memperjelas gue sama dia. Di satu sisi gue sayang sama dia, pengen jadian, tapi kalo dipikir lagi gue gak bisa."
"Rumit hidup lo, To. Yang jelas jangan pernah nyuruh cewek nunggu tanpa kepastian, kasian tau."

Aku menghela nafas. "Gue juga pengennya gitu, Ti. Tapi gue takut, dia gak bakal jadi alasan gue buat ngepause permainan gue lagi saat gue udah jadian sama dia, atau setelah kita putus... Gue cuman takut she'll got a heart attack soon."

"Tapi kalo udah sayang paling enggak lo harus ngasih tau, To. Cewek tuh butuh kepastian, bukan nungguin yang gak pasti."

***

SULTHAN AIDHAR MUSTAMAJID'S POV

"Jadi kamu putus, Al?" Tanyaku pelan setelah Alda menyelesaikan ceritanya.

"Gitu deh, Nthan. Akhirnya aku nyusul kamu jomblo, hahahaha." Kata Alda sambil tertawa. Aku hanya tersenyum kecil lalu menyeruput Jus Alpukatku. Aku dan Novi memang tidak bertahan lama. Setelah lulus, kami hanya bertahan sekitar 3 bulan lalu putus begitu saja dan sampai sekarang aku tidak bersama siapa siapa.

"Dan lucunya Nthan, dia ninggalin aku setelah dia ngasih janji banyak banget ke aku."
"Ridho gak maksud gitu, Al. Dia juga pasti udah berusaha untuk nepatin janjinya."
"Paling enggak dia mikir dong kalo emang dia gak bisa nepatin, ngapain dia ngejanjiin?"
"Kalo kata aku sih dia udah mikir kok, dia udah usaha, cuman who knows the future, eh?"

Alda tersenyum kecut lalu meraih iPhone-nya. "Ya mungkin gitu. Entahlah, mungkin janji di Kawah Bromo tinggal janji."
"Kalo gitu kenapa gak kamu aja berjuang buat nepatin semua itu?"
"Dianya udah gitu, apalagi yang harus aku perjuangin?"
"Terus kenapa kamu marah? Moving on, Al. Dunia kamu luas, masa depan kamu masih panjang."
"Tapi aku sayang sama dia, Nthan. Feeling maybe can change, but memories don't."

Ugh, ini lah yang membuatku capek pacaran. Cewek selalu terjebak dengan masa lalu, dengan kenangan dan janji yang dibuat tapi tidak ditepati. Apa cewek tidak berfikir bahwa cowok juga sudah berusaha untuk mewujudkannya?

Aku memang setuju jika cowok yang sudah berjanji tapi tiba tiba meninggalkan adalah cowok brengsek, tapi tidak seharusnya cewek terus larut dalam kesedihan atau kemarahan karena cowok tersebut.

Untuk apa kamu terus menangisi cowok yang meninggalkan kamu? Kamu mau dia kembali karena masa lalu kalian yang bahagia? Memang nya ada jaminan jika kalian kembali akan tetap bahagia seperti dulu? Jika sebenarnya cowok sebelum memutuskan kalian sudah mencoba memperbaiki tetapi gagal, apa kalian mau meneruskan?

Untuk apa berpacaran jika semuanya hanya tentang keterpaksaan?

It will be useless. Trust me.

"I think I'd had a heart attack, Than."
"Pastilah, tapi kamu gak boleh gini terus. Kamu harus bangkit, Al."
"Untuk apa? Untuk liat dia bahagia pas aku masih mikirin dia?"
"Dia juga masih mikirin kamu, Al. Percaya sama aku."
"Tapi kenapa dia gak mau nyoba lagi?"
"Karena itu yang terbaik buat kalian."
"Buat dia, bukan buat kita, apalagi aku."
"Percaya sama aku, Al. Semua sakit hati yang kamu rasain sekarang akan tambah parah kalo gak segera dihentikan dan semuanya bakal berakhir bahagia kalo kamu bersabar."

"Tapi aku sayang sama dia, Nthan..."
"Tapi apa setiap sayang harus diaplikasikan dengan pacaran, Al?"

Alda terdiam lalu mendesah. "Mungkin aku egois, tapi apa salah kalo aku hanya ingin orang yang aku sayangi selalu ada disampingku? Kamu juga berfikir yang sama, kan?"

"Iya, tapi aku belajar dari kesalahanku yang lalu. Merelakan memang sulit, tapi bertahan di keadaan yang tidak mendukung jauh lebih sulit. Move on, Al. Jangan biarin hati kamu terus sakit. Percaya aja, kamu bakal bahagia ke depannya. Dengan siapapun itu, asal kamu ngerelain Ridho..."

***

SILVY SANTIKA'S POV

Fadhel menatapku tak percaya. "Fufufu, lo tuh ya Sil. Aneh banget. Coba lo fight buat dia."
"Entahlah, Dhel." Jawabku lirih.
Fadhel menatapku dalam dalam. "Perasaan lo gimana sekarang?"

"Gak tau. Gue sekarang single, dia juga. Gue berharap di hati dia masih ada gue. Gue mau fight buat dia, Dhel. Gue gak mau ngulangin kesalahan gue di masa lalu. Karena setelah hari hari berlalu pun, gue masih kangen Faisal, Dhel." Kataku pelan.


Perasaan yang aku rasakan memang benar benar menggantung. Sebelum aku menyukai Alvan, aku memang sempat suka dengan Faisal tapi aku tidak berani menceritakanya pada siapapun. Lalu aku menyukai Alvan, berjuang untuknya dan berhasil mendapatkannya. Tapi tiba tiba aku moving on kepada Lega dan saat dengan Lega, Faisal datang.

Dulu aku sempat ingin meninggalkan Lega demi Faisal, tapi Faisal tidak mau. Aku kira setelah hari terakhir aku dan Faisal membicarakan tentang perasaan kami, perasaanku pada Faisal akan hilang. Tapi ternyata tidak. Aku sampai detik ini masih menyayanginya.

Tiba-tiba Faisal datang dengan wajah sumeringah. Aku langsung membenarkan posisi dudukku sementara Fadhel terbantuk beberapa kali. Aku menyikutnya.

"Hei, sorry nunggu lama. Habis ngomongin gue ya?" Katanya sambil tertawa. Aku menoleh melirik Fadhel. Astaga.. Jangan sampai Faisal mendengar percakapan kami tadi.
"Ye, enggak kok. Buru duduk, habis itu kesana yuk. Katanya Dio manggung." Ajak Fadhel.
"Oh, The Reizend ya? Udah lama gak liat mereka manggung."
"Iyalah semenjak lulus kan lo jarang jalan sama kita." Kataku sinis. Faisal tertawa.
"Sorry, mam. Gue sibuk. Lo berdua juga kan hahaha. Gimana kabar kalian?"
"Gue sih masih sama Fita.." Kata Fadhel sombong.
"Tau deh taken sendiri disini!" Seruku sambil menyikutnya lagi. Kami bertiga tertawa.
"Silvy single tuh, Sal. Gak nembak?" Tanya Fadhel. Ugh, Fadhel! Sumpah, pipiku pasti memerah sekarang. Faisal tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang sekarang sudah dipasang kawat gigi.

"Apa sih, Dhel. Itu sih SMP. SMA beda lagi."
Mataku menatapnya heran. "Jadi.. Lo udah taken tapi kita gak tau?"
"Gak taken kok, cuman deket."
"Sumpah?" Tanya Fadhel.
"Ah, udahlah gak penting... Eh gimana Dhel bokap lo?" Tanya Faisal mengalihkan pembicaraan.

Aku tertunduk lemas. Faisal... Sudah punya orang lain?

Kami bertiga lalu melanjutkan percakapan kami dan aku berusaha tidak menghiraukan apa yang terjadi tadi. Setelah hampir sejam, kami pergi ke bagian tengah CSB melihat show The Reizend. Disana ada Kevin, Sulthan, Dio, Anton, Adit dan Habibie. Mereka sudah  berubah menjadi anak band yang gaul. Ganteng semua!

Dio membawakan lagu Perfect dari Simple Plan sebagai pembuka. Aku dan Faisal ditinggalkan oleh Fadhel ditengah keramaian. Kami berdua sama sama bernyanyi lagu tersebut. Aku yang sedari tadi memegang iPhone Faisal merasa seperti masa SMP kami terulang. Menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama..

Tiba-tiba iPhone Faisal berbunyi dan bergetar. Seketika Faisal meraihnya dari tanganku sebelum aku sempat melihat siapa yang mengirimkan pesan. Ia membaca pesan itu, membenarkan kaca matanya dan seperti mencari cari.

Matanya terus mencari sementara aku terus mengawasi siapa yang membuatnya tersenyum manis seperti ini. Senyuman yang biasanya dia berikan padaku. Beberapa saat kemudian dia melambai ke atas dan merubah arah berdirinya menuju eskalator. Dia memberi isyarat lalu menoleh padaku, "gue ke sana dulu ya, Sil."

Dia meninggalkanku sendirian lalu aku menarik nafas satu dua saat cewek itu turun dari eskalator dan langsung di sambut hangat oleh Faisal. Aku tidak tahu apa hubungan apa mereka, tapi rasanya sesak melihat senyuman yang biasanya Faisal berikan padaku ia beri untuk orang lain.

Aku mencoba meraba raba wajahnya, seperti mengenalinya tapi entah siapa. Lalu beberapa detik kemudian aku sadar, mungkin tempatku memang sudah di tempati oleh cewek itu. Mungkin aku sudah terlambat...


Tiara Annisa.

***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV

"Eh, itu ada kak Jawali 26!" Seru seorang anak cowok regu Harimau dari lapangan. Aku yang datang sendirian pun langsung tersenyum kecil melihat anggota Pramuka SPENSA yang masih berlatih sampai jam 4 sore di Hari Sabtu.

"Apa kabar kak Gestu?" Tanya Cikra saat menghampiriku. Aku tersenyum.
"Baik, Cik. Kamu mau lulus masih aja ngelatih sih? 27, 28, 29 gimana?"
"Iya dong kak, sekarang lagi siap siapin anak 28 biar secepatnya sebelum kami lulus bisa pelantikan Rajawali-Rafflesia..."
Aldi menghampiriku sambil tersenyum sumeringah. "Eh Kak Gestu! Udah lama gak ketemu.. Alhamdulilah baik, kak. Sukses kok, bulan depan insya Allah pelantikan Garuda-Gardenia."
"Alhamdulilah, ikut seneng deh."
"Assalamualaikum Kak Gestu. Gimana sekolahnya?" Sapa salah satu anggota Rafflesia 27 yang entah siapa namanya. Aku lupa, hanya ingat wajahnya.
"Alhamdulilah, baik kok. Udah lanjutin aja latihannya. Saya mau makan dulu." 

Mereka lalu berhambur kembali ke lapangan sementara aku berjalan pelan menuju pelataran  Masjid. Aku menaruh ranselku lalu memesan semangkuk Mie Ayam dan Es Teh Manis yang biasanya aku pesan saat latihan.

Aku duduk termenung sambil menyuap Mie Ayamku. Sudah lama aku tidak berlari dengan baju Pramuka itu... Sudah lama aku tidak menghabiskan waktuku bersama anak anak 26.. Sudah lama sekali aku tidak kesini.. Apa kabar mereka ya?

Setelah aku masuk Taruna Nusantara, aku hanya sempat sekali kesini. Sekarang setelah ujian kenaikan kelas aku baru bisa kesini. Sebenarnya aku dulu ingin masuk SMANSA, tetapi saat diberi tahu oleh kakakku bahwa aku lulus di Taruna Nusantara, aku memilih meninggalkan kota ini dan merantau kesana.

Pergi jauh dan sendirian bukan hal yang asing untukku. Tapi meninggalkan kenangan yang begitu banyak di SPENSA sangat berat karena disini aku belajar dasar kemandirian, kehidupan, persahabatan dan cinta.

Saat kamu sedang bersama sahabatmu, mungkin kamu tidak sadar betapa berharganya dia untukmu. Tapi ketika kalian berpisah, ada rasa rindu yang lebih dan tidak bisa digambarkan dengan kata kata.

Belum tentu saat SMA kamu akan menemukan teman teman seperti di SMP. Aku sampai sekarang belum bertemu soulmate-ku di Tarnus. Hatiku masih di sekolah ini, masih di sanggar itu, masih di cewek itu...

Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Untung saja sekarang Tarnus memperbolehkan muridnya membawa laptop dan modem jadi aku bisa berhubungan dengan dia lewat dunia maya. 

Dan aku sangat bersyukur kami bisa bertahan walau jarak memisahkan.

Setelah lulus SMP, aku sadar banyak hal yang harusnya aku lakukan dulu tapi tidak pernah aku lakukan dan itu semua membuatku menyesal. Tapi pada akhirnya aku harus bersyukur dengan apa yang telah aku lewati dulu supaya aku bisa berjalan lebih baik.

Tapi melihat Sanggar Pramuka SPENSA tanpa anak Rajawali-Rafflesia 26 itu.....

Di suapan ketiga sebelum terakhir, tiba tiba aku sangat merindukan Rafflesia banjar 05-ku. Entah dia dimana, bagaimana kabarnya, atau apakah dia merindukanku atau tidak. Yang jelas aku selalu merindukannya...

Di suapan kedua sebelum terakhir, aku berharap dia ada disampingku. Dia boleh mengatakan aku tidak peka terus menerus asal dia terus bersamaku. Aku rindu celotehnya.

Di suapan terakhir, aku memejamkan mataku, merasakan setiap resapan bumbu yang melumat dilidahku. Merasakan setiap rindu yang aku rasakan baik pada Rafflesia banjar 05 atau Rajawali-Rafflesia 26-ku.

Aku berharap ketika aku membuka mataku, dia ada dihadapanku. Aku berharap dia merasakan hal yang sama denganku.

Aku berharap rindu ini tidak berhenti, terus menerus sampai kapanpun.

"Titi, Titi, Titi.. Kamu dimana, Raffles?"

Aku menarik nafas beberapa kali, bangkit dari dudukku lalu membuka mataku dan dia langsung memelukku.

"Tu... Aku kangen kamu."

Dan pada saat itu aku sadar, semua hal yang aku lewati selalu mempunyai rumah untuk berhenti. Perjuangan kamu tidak akan pernah sia sia selama kamu tau apa yang kamu tuju. 

This is where I belong. Aku punya Sanggar Pramuka itu, Rajawali-Rafflesia 26 dan kamu, Ti.

"Aku juga kangen kamu.. Selalu. Gak pernah berhenti. Kamu percaya?"

***

ABIZAR BAGAS PATRIATAMA'S POV

"Soalnya gue tau, Ris. Cinta itu butuh pengorbanan. Banyak hal yang harus dikorbanin, termasuk perasaan. Karena gue sayang sama Ninis dan gue mau liat dia bahagia, lebih baik gue tinggalin dia kan?"

Ghorby dan Risma saling bertatapan lalu terdiam. Aku tidak bergeming. Aku tahu aku salah, aku tahu aku tidak bisa membela diri, tapi aku tidak bisa bertahan lagi.

"Karepmu lah, Zar. Selama itu gak salah, gue akan selalu dukung sahabat gue demi kebahagiaan dia."
"Makasih Ghor... Oh ya, Ris... Apa Ninis baik baik aja?"
Risma menoleh kesal. "Lo nanya Ninis baik baik aja? Lo pikir gimana, sekarang?"
"Gue emang brengsek ya, Ris."
"Enggak sepenuhnya brengsek, gue ngerti perasaan lo, Zar." Kata Ghorby.
"Lo harus jelasin semuanya ke Ninis, Zar."
"Ngejelasin apa? Gue gak mau dia makin terluka."

"Bukannya dia makin terluka ya kalo dia ditinggalin tanpa alasan yang jelas?"



Galauan gue udah beda kan? Ngehehe. To be continued....



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}