The Reason is You chapter 38: Worth It

I can't stop when I'm start write something. Its yours, Reasonators!

***




MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV


"Megan capek Van kalo gini terus!" Jeritku sambil menangis terisak. Alvan menoleh, matanya memerah. Wajahnya kaku. Tak ada senyuman di wajahnya lagi. Dia seperti bukan Alvan yang aku kenal.

"Kamu fikir aku gak capek liat kamu sama dia terus? Gan... Kamu punya aku sayang. Apa kamu lupa?" Tanya Alvan sambil menatapku dalam dalam. Tangisku pecah lagi.
"Aku gak pernah ngapa ngapain sama cowok itu!"
Alvan mendengus pelan. "Terus kenapa kamu sibuk SMSan sama dia selama ini, Megan? Jelasin sama aku! Kamu tau kita beda sekolah, kamu tau betapa aku percaya sama kamu. Tapi kamu...."
"Kamu sadar gak sih kamu sering ninggalin aku? Apa aku salah punya temen ngobrol lain sementara kamu gak ada?"
"Aku cuman takut kamu malah keterusan sama cowok itu, sayang. Lagian hubungan kita kan udah gak di publish lagi kayak dulu. Kalo dia mikir kalo kita udah putus dan dia mau nembak kamu, gimana?"

Aku mengalihkan pandanganku. "Enggak mungkin. Dia masih suka sama Lita. Aku tahu itu, Van."
"Tapi kan itu cerita SMP. SMP dan SMA berbeda, Megan.."
"Kamu kenapa sih gak percaya banget sama aku?"
"Kamu sendiri kenapa gak bisa ngerti kalo aku begitu takut kehilangan kamu?"
"Tapi kamu kemana saat aku butuhin kamu? Kamu kemana saat aku sendirian ditinggal Tegar? Kamu kemana, Van? Kamu gak ada kan? Dia yang ada!"

Alvan mengepalkan tangannya. "Jadi kamu lebih milih dia?"
"Kalo dia lebih bisa merhatiin aku, kenapa aku harus terus bertahan sama kamu?"
"Kamu yang bilang kan Gan semuanya bakal baik baik aja kalo kita saling ngerti.. Kenapa sih kamu gak bisa ngerti kalo aku tuh sibuk, Megan?"
"Kamu juga kenapa gak bisa ngerti kalo aku juga butuh perhatian, Alvan?"
"Apa gak cukup kita ketemu setiap minggunya"
"Apa yakin setiap minggunya setelah masuk SMA kamu punya waktu untuk aku, Van?"

"Maafin aku Gan.. Aku cuman gak mau kehilangan kamu."
"Berisik, Van. Kamu bilang kamu bakal ngertiin aku. Aku gak minta 24 jam ada kabar dari kamu, tapi paling enggak luangin waktu sebentar aja dari 24 jam yang kamu punya buat aku.. Aku selalu gitu, tapi kamu?"
"Kamu boleh ngobrol sama siapa aja, tapi jangan sama dia. Aku takut kalian keterusan.."
"Kamu perduli apa, Van? Kamu juga baru perduli aku pas ada kejadian kayak gini kan? Kalo Tegar gak nelpon kamu, mungkin kamu gak bakal dateng!"

Tangisku semakin kencang. Alvan memelukku erat tetapi aku tidak bisa merasakan perasaan yang sama. Semenjak masuk SMA semuanya berubah. Kami sibuk dengan dunia masing masing. Tapi aku selalu menyempatkan sedikit waktuku untuk Alvan, sementara dia tidak.

Bahkan aku rasa dia sudah lupa punya pacar bernama Megan.

Akhirnya aku jadi lebih sering ngobrol dengan temanku semasa SMP. Dia berbeda sekolah denganku tapi dia masih menyempatkan waktu untukku. Perhatian kecil di sela sela kesibukannya membuatku sadar bahwa ini yang aku butuhkan dari Alvan.

Tapi Alvan tidak pernah sadar tentang itu.

"Megan....."
"Cukup, Van. Megan capek."

Hari ini adalah puncak kekesalanku pada Alvan. Alvan berjanji akan pergi denganku, tapi tiba tiba dia membatalkannya begitu saja setelah membaca isi direct message-ku dengan cowok itu. Aku bercerita tentang Alvan pada cowok itu dan Alvan marah besar.

Aku menangis kencang sampai sampai Tegar menghampiriku dan langsung menelpon Alvan untuk datang. Alvan datang dan kami bertengkar hebat. Permasalahan antara kami adalah jarak, waktu dan cowok itu. Alvan tidak suka aku dekat dengan cowok itu padahal dia baik sekali padaku... 

"Kamu sayang sama aku kan, Mew?"
"Selalu sayang, tapi gak kayak gini, Van..."
"Aku mohon maaf....."
"Cukup, Van. Aku capek."
"Aku cuman minta kamu jauhin dia.."
"Aku cuman minta waktu kamu sedikit aja, kamu gak bisa kan?"

Alvan terdiam lalu melepaskan pelukannya. "Kamu ngertiin aku dong, Meg..."

"Cukup Van, aku mau sendiri dulu. I'll talk with you later." Kataku dengan suara bergetar. Alvan bangkit dari sampingku, meraih jaket merah Adidasnya lalu mengecup puncak kepalaku.

"Everything will be alright as long as you love me, Gan. I love you."

Aku menangis kencang. Apa salahnya sih aku meminta sedikit waktunya? Kenapa dia harus melarangku dekat dengan cowok itu sementara dia tidak pernah ada untukku? Apa dia tidak memikirkan perasaanku?

Aku menoleh ke arah meja riasku. Disana ada fotoku, Alvan, Vicky dan Livia. Aku merindukan kami yang seperti itu tanpa aku dan Alvan yang menjadi pacaran. Mungkin awalnya indah, tapi kalau akhirnya aku harus terus menangis karena sakit....

Tuhan.. Apa aku harus terus memperjuangkan hubunganku? Is it worth it?

Aku terus menangis saking kesalnya. Pikiranku berlarian kesana kemari sampai menuju cowok itu. Aku berharap dia ada. Aku berharap dia mengirimiku pesan sekarang atau menelponku. Aku berharap dia bisa menenangkanku...

Suara larian sepanjang tangga terdengar begitu asing, tidak seperi langkah kaki Tegar. Pintu kamarku tiba tiba terbuka dengan kasar. Wajah paniknya berubah menjadi tenang setelah melihatku disudut kamar. Dia berjalan menghampiriku.

"Kamu gakpapa, Megan?" Tanyanya pelan pelan. Aku langsung bangkit dan memeluknya erat. Aku tidak perlu bicara apapun karena aku yakin dia tau apa yang terjadi padaku. Rasa kesal dan kecewa ini sudah tidak bisa aku tahan lagi.

Dengannya aku bisa melakukan segalanya, menceritakan apapun yang aku mau, diberi perhatian kecil ditengah kesibukan, dan tidak perlu menangis seperti ini. Dia tidak seperti Alvan. Dia mau mengerti aku.

"Aku mau putus aja...."

Maybe he's the right man. Maybe he's the one who I've been waiting. Suharto.

***


APRILLIA DINI'S POV


Setahun setelah kelulusan semuanya benar benar terasa asing bahkan ketika aku dan beberapa anggota 26 masih satu sekolah. Semuanya berubah. Tidak ada yang tetap sama. Aku merindukan Rajawali-Rafflesia yang dulu. Sahabat-sahabatku.

Kufikir semuanya akan terus sama bahkan ketika kami sudah jarang bertemu. Tapi nyatanya tidak. Semuanya berubah. Aku sadar mereka semua sudah punya teman baru di bangku SMA, tapi rasanya hanya tinggal beberapa orang yang masih ingat kalau kami berdua puluh adalah Rajawali-Rafflesia 26.

Bhimo menghamipiriku sambil membawa nampan berisi satu paket KFC Super Besar. Dia tersenyum kecil. "Kamu yakin gak mau makan, Din?"

Aku menggeleng. "Enggak Bhim."
"Aku makan ya..." Bhimo langsung mencomot kulit ayam rasa original itu sementara aku mengeluarkan scrapbook yang aku buat satu tahun yang lalu.

Kubuka halaman demi halaman. Disana ada foto foto Rajawali-Rafflesia saat CT, saat di sanggar, saat sedang bersama. Ada tiket nonton kami, ada bungkus Taro kecil yang kurang dari 30 detik sudah habis oleh 20 anggota 26....

Dan foto di Kawah Bromo. Aku masih ingat janji kami akan terus bersama, terus saling menghubungi dan terus terikat apapun yang terjadi. Tapi kemana mereka sekarang?

"Kamu kangen 26 ya, Din?" Tanya Bhimo pelan.
"Lebih dari kangen, Bhim...."
"Aku juga kok, Din. Walau baru beberapa saat bareng, cuman kayak udah sodara."
"Aku gak tau mereka sekarang kabarnya gimana. Paling cuman anak anak yang di SMANSA doang yang aku tahu. Aku gak tau kabar Bella dan Esar di Yogya, aku gak tau kabar Jawali-Raffles yang di SMANDA-SMANAM, dan yang paling sedih, aku gak tau gimana kabarnya Gestu...."
"Gestu baik baik aja kok, Din."
"Tapi dia gak ngabarin aku, Bhim. Terakhir kali aku ketemu Titi juga katanya mereka kabar kabaran. Entah dia lupa sama kita atau gimana. Aku cuman berharap aku bisa balik ke masa masa SMP. Gakpapa aku harus tekor gara gara Jawali tercinta suka minta di traktir, atau aku sering dibully sama Raffles.. Aku cuman kangen mereka."
"Tapi aku kan disini, Din.."

"Even kamu disini, ada rasa yang beda Bhim..."
"Kalo kamu mau kita ngumpul lagi dan yang lain sibuk, berarti kamu yang harus berjuang."
"Tapi masa dari dua puluh orang cuman aku yang sibuk ngumpulin?"
"Kita harus berkorban buat apa yang kita mau, Din."
"Is it worth it?"
"Kamu memperjuangkan Rajawali-Rafflesia dengan sekuat tenaga kan? Nah kamu juga susah melepaskannya. Sekarang kalo udah kayak gini, kamu harus berjuang lagi. Berkorban sedikit demi apa yang kita mau apa salahnya, sih?"

Aku terdiam lalu mengangguk. "Bener juga sih, Bhim..."
"Persahabatan tuh emang unik, Din. Pas kamu lagi sama sahabat sahabat kamu, rasanya bosen karena sama mereka terus. Pas kamu pisah, kamu bakal kangen banget sama mereka."
"Tapi gimana caranya bikin kita ketemu? Inget pas mau reunian pas semester satu, pada gak dateng kan? Cuman 10 orang yang dateng, sedih..."

"Semua yang kita mau itu pasti harus ada perjuangannya Din. Kamu semangat ya, sayang." Kata Bhimo sambil tersenyum kecil. Aku mengangguk.

Tapi bagaimana caranya mempertemukan kami lagi? Kami sudah lama tidak bertemu dan jarak begitu jauh memisahkan.... Bhimo tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Android-nya yang bergetar. Ia lalu tersenyum tipis.

"Gestu pulang, Din."

***

NABILA TAZKIA'S POV

"Sejak kapan lo jadi deket sama Faisal, Yar?" Tanya Shelly heran saat kami bertiga berkumpul di Pizza Hut CSB. Yara tersenyum kecil.

"Beberapa minggu yang lalu, dia seru ternyata, Shell. Gue seneng banget sama dia."
"Dia bukannya suka sama Silvy ya?" Tanyaku heran. Yara tertawa.
"Hahaha masa lalu dia itu. Katanya sih cuman jaman SMP."
"Dia udah bilang suka sama elo?"
"Kode doang sih. Cuman gak tau ya, Shell, Nab... He's got my heart with his style. Beda sama Aldi, Pandu.. Beda banget."
"Audit tau?"
"Audit sih dukung. Ifa juga..."

Aku tersenyum kecil. Sudah sekitar satu setengah tahun aku, Yara dan Shelly bersahabat. Walaupun tidak bisa dipungkiri ada hal lain diantara Yara dan Shelly tanpa aku, aku sangat senang bisa bersama mereka.

Diantara kami bertiga hanya Shelly yang punya pacar sekarang. Dia masih bersama Rifqi. Sementara Yara sudah putus dengan Pandu awal semester lalu dan kini dekat dengan Faisal. Aku sendiri masih tidak tahu sebenarnya aku menyukai siapa, tapi aku sempat dekat dengan Sulthan setelah ia dan Novi putus.

Semuanya begitu membingungkan dan benar kata orang, cinta memang tidak bisa ditebak arah datangnya. Seperti Yara dan Faisal. Setahuku, Faisal menyukai Silvy. Tapi sekarang semuanya jadi berbeda, dia jadi dekat dengan Yara.

Semakin dewasa aku semakin mengerti, perpindahan hati jadi lebih bermakna jika kita tulus melaluinya. Aku tahu betapa sulitnya Yara melepas Pandu, tapi kini ia bisa menemukan Faisal karena ia sudah merelakan yang terdahulu.

Merelakan memang hal yang sulit apalagi jika perasaan dan kenangan begitu melekat di hati. Tapi tidak ada yang sulit untuk cinta jika kita mencintai orang itu dengan ketulusan hati. Ditinggalkan oleh seseorang memang berat awalnya, tapi percayalah setelah semuanya kamu lalui, kamu akan melihat hal yang jauh lebih baik daripada masa lalumu.

Karena aku mengerti, everything will be worth it if we fight for it.

***

NISRINA ARIJ FADHILLA'S POV

"Mau apa kamu, Zar?" Tanyaku singkat saat Izar menghampiri mejaku. Entah siapa yang bilang padanya bahwa aku sedang berada di D'Cost. Ia tersenyum kecil. Senyuman manis yang selalu aku suka darinya.

"Aku boleh nemenin kamu, cantik?"
"Berhenti perlakukan aku kayak gitu, Zar. Itu buat aku semakin gak bisa lupain kamu."
Izar menghela nafas lalu duduk di depanku. "Kamu fikir aku bisa lupain kamu apa?"
"Kamu kan ninggalin aku karena kamu udah lupa sama aku."
"Kamu sok tahu, bukan itu Nis.. Aku gak mau kamu semakin terluka karena aku."
"Kamu yang janji Zar di Kawah Bromo we'll be together-forever. Sekarang kamu yang ninggalin aku.. Jadi siapa yang salah?"
"Aku yang salah, Nis. Aku. Kamu boleh salahin aku. Tapi lebih baik gini daripada kamu sakit ke depannya."
"Kamu egois, Zar. Kamu gak mikirin perasaan aku!"
"Justru karena aku mikirin kamu jadi aku ngelakuin ini. Aku gak mau kamu lebih sakit lagi ke depannya. Kamu tau aku sekarang sibuk, kamu sibuk, kita jarang bisa bareng dan aku tau kamu sering mikirin aku gara gara itu. Aku gak mau kamu tersiksa karena aku juga tersiksa.."

"Tapi seenggaknya kan bisa diomongin baik baik, bisa usaha bareng bareng..."
"I've told you, I'll fight for you. Dan aku emang udah berusaha untuk kamu tanpa ngasih tau kamu. Tapi emang gak bisa, Nis. Please ngerti..."

Tangisku pecah. Aku meremas iPhone-ku. "Entah siapa yang egois diantara kita, tapi apa salah kalo aku cuman minta kamu buat balik lagi, Zar?"

"Enggak salah, sayang. Tapi apa kamu mau kita pacaran tapi aku gak bisa ngebahagiain kamu? Bukannya makna dari pacaran itu sama sama sayang? Bukannya sayang itu adalah ketika kita liat orang yang kita sayangi bahagia atau membuat dia bahagia? Lalu kalo kita gak bisa bahagiain orang itu, kenapa kita terus menahan dia?"

"Jadi maksud kamu aku udah gak bisa bahagiain kamu?"
"Both of us, sayang. Dysfunctional.. Ini udah gak bisa diterusin."
"Tapi aku sayang kamu, Abizar."
"Aku juga sayang kamu, Ninis. Mangkanya aku ngelepas kamu...."
"Aku gak yakin bisa bahagia sama yang lain selain sama kamu."
"Aku juga maunya ngebahagiain kamu, tapi kita gak bisa lagi."
"Terus kenapa kita buat janji kalo salah satu diantara kita gak bisa nepatin, Zar?"
"Aku sudah berusaha, tapi aku gagal. Coba kamu fikir, kalo dilanjutin, emang kamu mau hubungan karena keterpaksaan? Aku tahu aku salah, Nis. Tapi keadaan kayak gini..."

Izar meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku juga gak tau kalo akhirnya kita bakal kayak gini. Tapi aku sayang sama kamu, Nis."

"Aku gak mau kehilangan kamu, Zar.."
"You wont, Nis. Enggak bakal. Kamu gak bakal kehilangan aku karena aku juga gak mau kehilangan kamu. Maaf penjelasan aku malem itu gak terlalu detil. Hari ini, aku udah ungkapin semuanya. Aku sayang kamu, tapi kita gak bisa lagi..."

"Jadi apa yang kita perjuangkan selama ini sia-sia dong, Zar?"
"Enggak sayang. Percaya sama aku, setiap sakit yang kamu dapetin, di masa depan akan diganti dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. Kamu hanya perlu ikhlas merelakan semuanya. Aku gak bisa janjiin apa apa sama kamu, aku cuman bisa minta maaf karena aku nyakitin kamu. Tapi semua ini yang terbaik..."

"Aku percaya, Zar. Ini pasti yang terbaik. Untuk aku, kamu... Untuk kita."
Mata Izar berkaca kaca. "Makasih, Nis. You're the best thing that's ever been mine."
"Love comes and gone. That's love."

"But trust me, everything happened for a reason. And when you fight for love, it will be worth it. Walaupun kamu gak bisa liat hasilnya sekarang, kamu bakal sadar apa yang kita lakuin sekarang emang yang terbaik. Karena kalo pun sama sama sayang, gak harus jadian kan?"

***

RIANTHY APRILLIA 'S POV

Yoga, Yoga, Yoga...

Entah apa yang aku fikirkan sampai semuanya berlabuh ke Yoga lagi. Satu tahun setelah kelulusan, jarak Bandung-Cirebon tak bisa memutuskan perasaanku untuk sahabatku satu itu. Aku tahu dia pasti bahagia bersama Valda.

Tapi sampai saat ini, masih ada perasaan mengganjal untukku. Kenapa aku tidak bisa memperjuangkan perasaanku untuk Yoga, sih? Terkadang cinta memang egois, tapi aku tidak bisa menutupi perasaanku sendiri...

Bahwa sampai sekarang, Isaka Yoga Santoso selalu ada di hatiku. Bahkan ketika aku ingat, dia tidak menganggapku lebih dari sahabat.


To be continued...



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}