The Reason is You chapter 39: Useless

19 days left. This is the last, I promise.

***


LUTHFI FARHAN'S POV

Mencintaimu seperti menggenggam pasir di pinggir pantai. Semakin lama semakin terkikis oleh ombak.

Aku berulang kali melihat deretan kalimat itu lalu menatap Albi tak percaya. "Ini maksudnya apa, Bi? Jelasin."

Albi menghela nafas lalu menyikut Haekal. "Tanya nih Haekal."
"Apa maksudnya, Kal?" Tanyaku lagi.
"Ya.. Mungkin dia emang gak bisa sama elo, Han."
"Apa lo gak tau seberapa lamanya gue nungguin dia?" 
Albi mendengus. "Ayolah, Farhan. Lo tuh cowok, ganteng. Harus nungguin cewek?"
"Tapi gue percaya dia punya perasaan yang sama, Bi.."
"Tapi dia gak bisa, Han. Dia mungkin punya perasaan yang sama tapi lo harus ngerti kalo dia gak bisa. Apa yang harus lo lakuin sekarang ya lupain dia, Han. Di luar sana banyak yang suka sama elo."

"Tapi gue gak bisa, Kal. Lo tau... Gue udah lama banget suka sama dia. Tiga tahun dan sekarang gue baru bisa ngomong."
"Tapi telat, dia udah punya cowok, bahkan dari setahun yang lalu."
"Gue pikir dia bakal ninggalin cowoknya. Cowoknya juga udah rada jauh kan sama ceweknya?"
"Hubungan seseorang mana bisa sih di tebak?"
"Ya elo berdua kan pada punya cewek dan emang gampang pindah pindah. Nah gue, sekalinya suka ya gue gak bisa kemana mana. Tertuju pada satu orang."
"Berlebihan itu gak baik, Han."
"Itu gak berlebihan, Kal. Itu perasaan."
"Ya tapi lo cowok, Han. Dengerin gue, lo bisa dapetin yang lebih dari dia."
"Yang lebih dari dia mungkin banyak, tapi kalo perasaan gue cuman ke dia?"

"Lo bisa belajar untuk melupakan, Han."
"Gue gak bisa, Kal. Gue harus ngomong sama dia, bukan lewat elo berdua kayak gini."
"Apa kurang cukup kita berusaha buat tau apa perasaan dia sama elo, Han?"
"Gue bego, Bi. Gue gak percaya pas dia bilang kalo dia suka sama gue, gue malah tinggalin dia gitu aja. Sekarang, gue malah suka banget sama dia dan gak bisa lepas dari dia."

Haekal menatapku kesal. "Tapi cintanya buat lo udah terkikis, Han."
"Dan mungkin ombak itu bakal lebih tinggi lagi dan menyapu semua perasaannya." Sambung Albi.
"Tapi gue bisa cegah ombak itu datang, gue bisa kalo gue berusaha. Gue pasti bisa."

Haekal bangkit dari tempat duduknya. "Apa yang lo harepin dari cewek yang udah punya cowok, Han? Tinggalin. Lagian cowoknya temen lo kan?"
"Apa yang salah dari cowok yang memperjuangkan perasaannya, Kal?" Tanyaku kesal.
"Iya, tapi apa lo gak liat sikon?"
"Cinta buta, Kal. Susah liat sikon."
"Jadi apa mau lo?" Tanya Haekal semakin kesal.
"Gue mau ngomong sama dia dan minta dia ninggalin cowoknya dan milih gue."
"Parah, egois banget sih lo, Han!"
"Gue capek kali nungguin gak pasti."
"Bukannya gak pasti, elonya aja yang gak mau maju! Ini semua berlebihan, Han. Gak bakal berjalan dengan baik."
"Gue percaya kok...."
"Useless, Han! Ah, terserah lo!" Haekal kesal dan meninggalkanku. Albi tetap diam di tempatnya sambil memutar mutar sumpit di meja. Ia berdehem.

"Lalu dengan dia milih lo, apa pasti lo bakal bisa bahagiain dia? Tujuan lo buat sama dia apa sih? Bahagiain dia kan?"
"Apa salahnya sih nyoba, Bi?"

"Gak ada yang salah, Han. Tapi kalo berlebihan, gak bakal ada yang berakhir dengan baik. It will be useless. Dengerin gue sama Haekal, atau elo bakal bener bener nyesel nungguin dia 3 tahun."

"Gue bakal dapetin hati dia lagi. Gue percaya di hati dia masih ada gue. Gue percaya gue bisa ambil lagi. Gue percaya. Cause the reason of this stupid thing called waiting is her, Bi. Valda Nurul Izah."

***

MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV

"Oh iya? Emang 26 mau kumpul kapan Din?" Tanyaku heran saat Dini menelponku. Dia bilang dia ingin mengumpulkan semua anak anak 26 karena sudah lama kami tidak bertemu.
"Ya pengennya sih secepatnya. Banjar tempur yuk, kangen banget."
"Ya.. Gue sih ikut Rajawali aja. Kalo pada dateng ya dateng."
Dini menghela nafas. "Kenapa sih semua Jawali kayak gitu? Ntar kalo gak ada yang dateng ujung ujungnya useless."
"Ya... Buat apa sih sering sering ngumpul? Enaknya tuh kalo udah gede, kangen Din.."
"Emang lo sekarang gak kangen sama Rafflesia?"
"Ya.. Kangen sih."
"Yaudah, mangkanya dateng! Ajak tuh Rajawali. Males gue ngehubungin mereka."
"Tapi kangen kan lo? Hahahaha."
Dini tertawa. "Eh lo putus ya sama Alda?" 
"Iya, gue udah putus Din.." Kataku sambil sibuk mencari file tugasku. Dini tertawa kecil. 
"Langgeng dikit kek, cepet banget putusnya. Tuh liat gue sama Bhimo, Titi sama Gestu. Lanjut teruuuus!"

Aku menelan ludah. Apa Dini belum tahu? Ah, tapi masa sih Gestu tidak cerita...

"Eum.. Lo udah ketemu Gestu?"
"Enggak. Gue kan ketemu Rajawali kalo di sekolah dan cuman papasan doang. Apalagi Gestu, Esar, Winu.. Mereka ke laut. Cuman Bhimo doang yang masih deket sama gue."
"Yakali dia kan pacar lo! Hahaha. Sama Rafflesia gimana?"
Dini terdiam. "Ya gitu, Dho.. Udah beda. Setelah pisah malah jadi pecah. Jadi aneh. Jadi kayak bukan Rajawali-Rafflesia."
"Mungkin lagi sibuk sama sekolah baru kali, Din.."
"Yatapi kan..."
"Yaudahlah, ntar kan kita ketemuan tuh hahaha."
"Iya.. By the way, lanjut obrolan tadi. Bener tuh Dho, kayak Titi sama Gestu dong. Langgeng terus walaupun jauh..."

Aku menelan ludah. "Eum.. Ya mungkin udah gak jodoh sama Alda kali, hahaha."
"Ya gue harap sih Rajawali-Rafflesia kayak pasangan satu itu. Tetap satu walaupun jauh. Apalagi kita udah janjian kan, Dho..."

Aku tersenyum kecil. Aku tidak yakin. Jarak jauh yang memisahkan kami berduapuluh mungkin bisa juga memisahkan perasaan kami satu sama lain. Bahkan ketika kami sudah berjanji akan terus satu apapun yang terjadi.

Tapi bahkan janji pun tidak bisa membantu untuk menyatukan kembali ketika hati sudah tidak bisa terikat lagi. Sia-sia.

***

TIARA ANNISA ADHI MAULIDANTHY'S POV

Faisal tersenyum kecil padaku sambil melambai. Aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya. Faisal begitu romantis dan lucu. Entah kenapa aku bisa jatuh hati padanya. Kau harus tau bagaimana cara Faisal membangunkanku setiap pagi, mengirimiku pesan singkat yang manis...

Kau juga harus tau bagaimana cara Faisal memperlakukanku layaknya cewek yang begitu berharga, cara Faisal menatapku, cara Faisal tersenyum padaku. Aku suka menghabiskan waktu dengan Faisal. Dia begitu mengagumkan.

Aku berharap kami berdua berakhir bahagia, tapi ketika melihat tatapannya pada Silvy siang itu, aku jadi takut...

Aku takut kami berdua berakhir menjadi dua orang bodoh yang sama sama jatuh cinta, saling berjanji, selalu bersama, tapi tidak punya hubungan yang jelas. Aku tidak keberatan jika Faisal belum bisa memberikan status untukku. Tapi jika melihat Silvy..

Aku takut Faisal akan kembali pada Silvy dan semua yang kami lakukan selama ini akan terlihat sangat bodoh. Useless.

Karena cinta memang butuh kepastian.

***

RISMA KHARISMAYANTI'S POV

"Iya, Izar udah dateng ke gue, Ris... Dan gue sebenernya gak bisa lepasin dia." Kata Ninis pelan. Aku menatapnya lalu menggenggam tangannya. 
"Udah, jangan nangis lagi...."
"Gue sayang banget sama dia, Ris."
"Gue ngerti kok.. Dia jahat banget, tapi mungkin ini yang terbaik.."
"Gue jadi mikir, satu tahun kemarin jadi buat apa kita terus sama sama? Kenapa gak nyoba lagi? Apa semudah itu dia ngelupain perasaannya setelah kita ngelewatin banyak hal bersama?"
"Dia masih sayang sama elo kok, Nis.."
"Tapi kenapa dia ninggalin gue?" Tanya Ninis sambil terisak.
"Karena itu yang terbaik untuk lo."
"Apanya yang terbaik kalo gue akhirnya sakit, Ris?"

Aku tersenyum kecil. "Ini bukan akhir dari cerita tapi ini awal dari cerita kamu, yang baru. Dan yang terbaik gak bakal selalu muncul di awal cerita, Nis... Kamu harus sabar."

"Jadi, kalo gue udah memperjuangkan hubungan selama ini dan berhenti gitu aja, semuanya sia-sia dong Ris?"

"Gak ada yang sia-sia selama lo tulus, Nis. Lo sayang kan sama Izar? Relain dia pergi. Dia juga ga semudah itu lupain elo, tapi ingatlah.. Lo bersama dia karena lo sayang sama dia dan mau bikin dia bahagia. Tapi ketika lo udah gak bisa bikin dia bahagia, apa yang harus lo pertahankan? It will be useless."

"Jadi gue harus apa sama hati gue yang terlanjur semuanya untuk dia Ris kalo akhirnya gue ditinggalin?" Tanya Ninis sambil menangis lebih kencang. Aku mengelus rambutnya lalu mendesah.

"Mungkin terlihat useless di awal, sakit hati dan kecewa. Tapi lo pasti bahagia akhirnya. Bahagia pada waktunya."

***

SUHARTO'S POV

"Gue bilang juga apa To, lo kan gak tau dia gimana sekarang. Sakit hati kan lo?" Omel Titi setelah mendengar ceritaku tentang Megan. Aku meliriknya sinis.
"Ya elo sahabatnya dia masa gak tau sih, Ti? Ah, elo mah. Payah."
"Ih, apa apaan lagi nih. Harto... Ya ampun, lo kalo sayang sama orang liat liat sikon, sih."
"Megan nya juga gak cerita sama gue kalo dia masih sama Alvan!"
"Ya gue aja yang sahabatan deket satu kelas gak tau, To! Ah, tapi sekarang dia mau putus dari Alvan?"
"Katanya sih gitu.. Dia udah gak kuat sama Alvan. Tapi gue curiga Alvan gak bakal lepasin Megan.."
"Iya sih kayaknya gitu..."
"Lalu apa yang harus gue lakuin, Ti?"

Titi menggigit bibirnya. "Kalo gue suruh lo perjuangin dia.. Gue takut lo nyesel."
"Gue juga.. Gue maunya tuh more than bestfriend but less than couple. Tapi Megan kayaknya udah mikir lebih. Gue harus gimana, Ti?"
"Useless, To. Semua jalan yang lo pilih sama sama nyakitin Megan dan elonya juga."
"Gue gak mau ngambil resiko."
"Kecing lo. Jalan kemana pun lo bakal ngehadepin hal yang nyakitin. Both of you."

Titi menatapku dalam dalam. "Lo sayang sama dia?"
"Iya..."
"Lo mau dia bahagia?"
"Iya..."
"Lo tau dia bahagia sama siapa?"
"Gue rasa.. Sama gue."
"Oke. Jadi lo harus perjuangin dia."
"Tapi Ti, kalo akhirnya gue malah ngerasa nyesel karena enakan sahabatan gimana? Kan lo tau sendiri gue kalo udah sayang ya sayang banget, tapi suka gak bisa bedain sayang sahabat atau ke gebetan..."

"Gimana akhirnya sih liat ntar To, serahin sama yang diatas! Sekarang sih gimana elonya. Mau apa enggak perjuangin cinta lo?"


NAH. Valda rada renggang sama Yoga, Rianthy mulai mikirin Yoga dan Farhan, masa lalu Valda tiba-tiba dateng. Gimana ya cara Farhan memperjuangkan Valda? Apa Dini bisa bikin 26 utuh kayak dulu? Siapa yang bakal jadian sama Faisal? Yara atau Silvy? 

Keadaan Harto udah mau memperjuangkan Megan nih, tapi apa Alvan bakal lepasin Megan? Gimana caranya Ninis ngelupain Izar ya? Dan apa ya yang terjadi antara Titi sama Gestu sebenarnya?


Next extra chapter: Too Much. To be continued....




Mau UN dulu gue. Jangan nagih TRIY dulu ya Reasonators! Love you all. Doain gue!:3


You may also like

2 comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}