The Reason is You chapter 40: Too Much

I'm here, Reasonators.
And welcome back to the most complicated Titi's story called The Reason is You:}

***



Pertengkaran antara Megan dan Alvan sudah berada di puncak. Megan ingin meninggalkan Alvan, tetapi Alvan masih menahannya sementara harapan baru, Harto sudah ada di hadapannya. Tapi di lain sisi Harto yang menyukai Megan baru tahu kalau Megan masih punya pacar. Kasian Harto, pukpuk dulu.

Valda dan Yoga yang terpisah antara SMANDA dan SMANSA sudah tidak ada kabar beritanya lagi sehingga Farhan, orang yang dulu ternyata sempat singgah di hati Valda berani untuk maju merebut Valda dari Yoga. Di saat yang sama, Rianthy yang sedang kosong kembali memikirkan Yoga walaupun jarak Cirebon-Bandung memisahkan mereka.

Sedangkan Dini... Dini lagi sibuk buat ngumpulin Jaffles 26 lagi kayak dulu. Ia selalu membandingkan pasangan Vancouver yang putus dengan hubungan Gestu dan Titi yang masih berjalan sampai sekarang. Padahal kedua pasangan itu sedang diterpa perasaan galau akibat jarak Tarnus-SMANDA yang jauh. Kasian Titi ditinggal ke Tarnus:"}

Ninis baru putus lho sama Izar, kira-kira gimana ya hidup mereka selanjutnya? Lalu bagaimana dengan Silvy yang baru saja akan memperjuangkan Faisal tapi ternyata si doi udah deketin Yara? 

Intinya. Cerita complicated ini bakal mulai lagi hari ini sampai di detik dimana gue harus pisah sama Vancouver dan no more extra chapter. Mau baca dari awal? Nih.

Selamat membaca!^^

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

"Tegar... Gue capek." Keluhku sambil mengiris keju untuk topping pisang bakarku. Tegar menoleh lalu tertawa.
"Temen temen lo dateng kapan?" Tanya Tegar sambil membantuku membawakan tiga gelas es campur bikinanku sendiri. Aku menatapnya kesal.
"Gar, gue capek. Lo denger gue gak sih?" Tanyaku kesal. Tegar menaruh nampan dengan gelas gelas itu di atas meja ruang tengah lalu berjalan kembali ke pantry rumah. Dia tertawa.
"Gue denger, tapi harus bilang apa? Lo gak juga ngomong putus dan Alvan juga gak bakal ngelepasin elo. Lo cuman ngeluh capek, capek, capek.. Mau sampe kapan?"
"Gimana gue mau mutusin kalo Alvan selalu nahan gue, Gar?"
"Ya lo harus pilih dong, Meg. Jangan kayak gini. Hati lo tuh kebelah tiga sekarang. Di satu sisi lo masih sayang sama Alvan, sisi yang lain, yang sangat besar udah capek sama Alvan. Satu sisi lain...."
"Udah gue kasih ke Harto. Tapi gue gak tau gimana perasaan Harto ke gue."

Tegar mendengus pelan. Tegar lumayan dekat dengan Harto. Dia sangat mendukungku dekat dengan Harto karena Harto bisa membuatku tersenyum. Aku juga sudah nyaman dengan Harto apalagi semenjak Harto bilang dia tidak akan meninggalkan dan mengecewakan aku. 

"Lo tau Harto sayang sama elo dan lo juga sayang sama dia. Kalo lo mau sama Harto, lepasin Alvan sekarang, Gan. Lo gak bisa terus ngeluh capek sama Alvan ke Harto, bikin Harto terus sama elo, tapi elo sendiri gak kunjung ninggalin Alvan. Too much hurt for Harto, sayang."

Aku menunduk kebingungan. "Gue jahat gak sih sama Harto, Gar?"
"Lo mau tau jawabannya?"
"Eum... Kalo boleh."
"Lo udah tau kok. Tentu aja jahat, Meg. Dia sayang sama elo, lo nyaman sama dia, dia udah ada pikirian mau nembak elo... Lo selalu cerita sama dia tentang lo capek sama Alvan tapi bilangnya capek sama sekolah, lingkungan, temen temen dan perasaan lo tanpa pernah bilang kalo yang sebenernya bikin lo capek adalah.. Pacar lo."

Ingatanku langsung melayang ke hari itu....

"Aku mau putus aja." Sahutku sambil memeluknya erat. Tiba-tiba aku merasakan aura perubahan perasaan Harto dari cemas ke perasaan kaget. Ups, aku lupa. Harto selama ini tidak tahu kalau aku masih bersama Alvan.

Aku kini menutupi hubunganku dengan Alvan semenjak Alvan bilang lebih suka pacaran backstreet. Aku mengikuti semua hal yang dia mau, tapi lama kelamaan aku jadi capek sendiri. Aku capek karena aku terlalu perduli pada apa yang ada di sekeliling Alvan sementara Alvan tidak perduli padaku.

Aku tidak menuntut seluruh waktunya untukku, hanya sekejap dari 24 jam yang dia punya. Apa tidak bisa?

Pertengkaran antara aku dan Alvan bukanlah hal yang jarang. Kami sering bertengkar dan aku selalu lelah untuk mengalah. Anehnya, tidak pernah ada pikiranku untuk berpisah dengannya.

Hari ini pun sama, aku terus berkata aku lelah bersamanya tapi aku tidak mau kehilangan dia. Sampai akhirnya Harto datang -dan entah dia tau darimana aku sedang bertengkar seperti ini, aku memutuskan untuk berhenti.

Karena kupikir, apalagi yang harus aku perjuangkan dari sebuah hubungan yang penuh dengan pertengkaran? Apalagi yang harus aku pertahankan jika Alvan tidak juga perduli dengan perasaanku?

Aku dekat dengan Harto, sangat dekat dan dia selalu mendengarkan seluruh keluh kesahku walaupun aku tidak pernah menyebutkan siapa yang membuatku kesal. Aku menyayangi dia dan aku juga tau dia merasakan hal yang sama untukku.

Dan aku fikir, mungkin sebenarnya dia yang aku cari, bukan pasanganku saat ini.

"Maaf aku kesini, aku disuruh Tegar." Beberapa menit kemudian Harto baru berbicara sambil melepas pelukannya. Aku menghapus air mataku.
"Tegar? Oh.. Maaf merepotkan kamu."
"Enggakpapa kebetulan aku juga mau lewat daerah rumah kamu. Kamu udah lebih tenang sekarang?" Tanya Harto lembut. Selalu lembut. Air mataku terus mengalir.
"Iya.. But I'm still tired."
"Iya, aku tahu. Kamu selalu cerita tentang dia sama aku, tanpa aku pernah tahu siapa dia." Kata Harto sambil beranjak duduk di sampingku. Aku menelan ludah.
"To.. Ma..."
"Ssssh." Harto menempelkan telunjuknya di depan bibirku. "I'm ok, Meg. Hanya saja.. Kenapa kamu tidak pernah bilang kalo kamu masih pacaran sama Alvan?"

"I have no choice, To. Dia mau kita backstreet."
"Kenapa? Kan pas SMP kalian pacaran terang terangan."
"Entah, dia dan SMA nya membuatku gila."
"Lalu kamu masih mau bertahan?"

Demi Tuhan, pertanyaan Harto benar benar menyesakkan dada.

"Aku pengen banget berhenti. Capek banget.. Tapi gak pernah bisa bilang putus. Gak pernah ada pikiran pengen putus. Sampe beberapa menit yang lalu."
"Kenapa tiba tiba pengen putus? Bukannya kamu udah bisa hidup dengan keadaan kayak gitu?"
"It's so hard you know. I believe that... Somewhere, someday, I will meet someone else more better than Alvan because I dont have any reason to stay with him except our memories and our promises."
"Emangnya kamu bakal nemuin dia?"
"Entah.. Mungkin aku sudah menemukannya?" Tanyaku memberikan kode pada Harto. Harto berdehem.
"Dimana?"
"Di dekatku. Dia mampu membuatku nyaman dan aku percaya dia menyayangiku juga. Aku yakin dia akan menjadi pacar terbaik di dunia!"
"Tapi... Gak semua perasaan nyaman akan berakhir jadian, Meg."

Lalu Harto tersenyum kecil dan aku menangis lagi.

"Gar?" Panggilku pelan. Tegar menoleh.
"Apa, Meg?"
"Anterin gue ke SMANSA ya besok sore."
"Hah? Ngapain lo?" Tanya Tegar heran.

Aku meremas iPhone-ku lalu  tersenyum kecil. "Gue mau mutusin Alvan."

***

WINU ANDICA'S POV

Gadis berambut panjang itu tampak sibuk memilih pensil sambil bicara sendiri sementara aku yang baru masuk ke kawasan peralatan tulis langsung tersenyum menyadari siapa yang aku temui malam ini. Banjar 5 Rafflesia 26, Rizki Rahmadania Putri.

"Cewek, kenalan yuk.... Anak Tarnus nih!" Seruku jahil.
"Ih apaan sih...." Dia menoleh lalu menatapku tidak percaya. "Winu?!" Panggilnya. Aku tertawa kecil lalu dia langsung memelukku.
"Winuuuuuu! Kamu apa kabar?"
"I'm perfectly fine. Kamu gimana?"
"Aku juga! Aih, Rajawali kemana aja sih.. Semenjak pada sekolah di Tarnus, semuanya jadi jauh sama aku... Aku kangen banget sama Winu!"

"Aku juga kangen kamu.... Ah, Jawali yang disana kan cuman ada aku, Gestu, Naufal, Lega sama Fauzan aja. Bhimo kan gak jadi masuk. Gimana sama SMANDA nya?"
"Iya aku tahu kok, Bhimo jadinya ke SMANSA. Gila ya tu anak udah di detik terakhir ujung ujungnya milih SMANSA. Alhamdulilah nih, aku masuk IPA hehehe."
"Syukur deh, aku ikut seneng. Udah makan?" Tanyaku basa basi. Dia tertawa kecil sambil menggeleng lalu 15 menit kemudian kami sudah dalam perjalanan ke restoran fast food KFC di lantai satu Grage Mall.

"Kamu sendirian aja? Kok gak sama Gestu? Gestu udah kesini, kan?" 
Raut wajahnya berubah. "Dia emang udah pulang.. Dan sibuk sama dunianya lagi."
"Are you ok?" Tanyaku cemas. Titi duduk di meja dekat kaca lalu aku langsung duduk di depannya.
"Aku baik baik aja, tapi gak tau sama hati aku. Gak tau sampe kapan aku bisa tahan kayak gini."
"Kok kamu gitu? Bukannya kamu sayang banget sama Gestu?"
"Aku sayang sama Gestu, tapi aku capek. Ini semua terlalu berlebihan. He's too careless."
"Bukannya kamu tau itu?"
"And Tarnus is so far away..."
"Kamu tau kan semua konsekuensi kalo pacaran sama anak Tarnus?"
"I know, tapi aku gak pernah nyangka bakal sesakit ini dicuekin, jauh, gak ada kabar. Aku gak minta kabar tiap hari kok, tapi kita bisa lostcont sampe berminggu minggu."

"Kalo kamu capek, kenapa kamu gak lepasin Gestu, Ti?"
"Aku.. Aku sayang banget sama Gestu, Win.. Aku..."
"Kalo kamu sayang, kenapa kamu ngeluh? Dia juga lagi berjuang kok buat kamu disana, kenapa kamunya malah mau berhenti?"
"Aku cuman...."
"Apa dengan kamu ngeluh capek, keadaan bakal berubah?"
"Win.. Aku care, dia gak care. Aku perlu dia, dia entah kemana...."

"Ya kamu harus terima itu, atau enggak kamu lepasin dia. Jangan bikin urusan cinta seribet ini, Ti. Hati kamu udah sakit, jangan disakitin lagi sama pikiran pikiran kayak gini."

"Gestu juga kayaknya udah gak perduli."
"Cowok tuh kalo sayang gak selalu nunjukin, udah deh percaya.. Gestu tuh sayang banget sama kamu, cuman dasarnya aja cuek. Sekarang, kamu lagi di uji. Kalo kamu sayang sama Gestu, kamu pasti bisa bertahan. Oke?"

Titi mengangguk lalu beranjak bangun untuk memesan makanan. Di satu sisi aku sedih melihatnya seperti itu, di sisi lain aku senang karena...

Sampai sekarang, aku masih belum bisa melupakan kamu.

***

FAISAL ABDUL MAJID'S POV

"Silvy kok ngejauhin gue sih, Dhel?" Tanyaku setelah mengantarkan Yara ke kelasnya. Fadhel menoleh lalu tertawa.
"Ya dia cemburu kali lo sama Yara!"
Langkahku terhenti. "Ah, serius lo?"
"Duh.. Lo peka kek, Silvy tuh udah mau memperjuangkan elo, eh elonya malah sama Yara."
"Ya terus gue harus gimana? Gue gak mau persahabatan kita hancur, Dhel..."
"Emang lo udah gak bisa sama Silvy ya, Sal?"

Aku terdiam lalu menggeleng. "Enggak, Dhel..."
"Lho? Bukannya lo sayang banget sama dia? Lah dia sekarang udah dateng ke elo, kenapa lo harus sama Yara yang belum bener bener pasti?"
"Justru karena gue sayang sama dia, gue harus lepasin Silvy. Gue sadar di luar sana banyak yang lebih baik buat dia daripada gue, Lega ataupun Alvan.."
"Jadi.. Lo gak bakal balik ke Silvy?"
"Enggak. Gue udah sayang banget sama Yara."
"Apa sih lebihnya Yara dari Silvy?" Tanya Fadhel heran.

"Gak tau, Dhel. Mereka sama sama cantik, baik, pinter dan bikin gue nyaman. Gue sama sama sayang sama mereka tapi.. Yara tuh punya sesuatu yang lebih yang bikin gue sayang banget sama dia."
"Apaan?"
"Entahlah. Mungkin lebihnya di perasaan Yara yang tulus ke gue dan gak bikin gue nunggu lama tanpa kepastian..."

***

MUHAMMAD GHORBY'S POV

"Kangen Izar nih, Ghor." 

Pesan singkat dari Ninis membuatku geram sendiri dengan Izar. Kenapa sih Izar harus meninggalkan Ninis padahal Ninis sudah sayang sekali dengan cowok itu?

Izar berjalan ke arahku lalu menepuk pundakku. "Whats up?"
"Zar, lo udah ada cewek baru ya?" Tanyaku dengan nada sedikit menuduh. Sedikit ya!
"Nope. Gue gak se-playboy itu."
"Bohong... Bohong."
"Apaan sih lo. Aneh deh, Ghor."
"You hurted her, Zar."
"Tapi dari pada dia lebih sakit nantinya?"
"Gue bingung gue harus apa, dia terus bilang kalo dia kangen sama elo."
"Gue juga kangen sama dia, Ghor.. Tapi kita gak bisa dilanjutin. Pada saatnya lo bakal ngerti kok Ghor kenapa gue harus berhenti. Gue gak mau terlalu bikin dia sakit, terlalu lama bikin dia ngarep atau terlalu sering bikin dia kecewa."
"Elo udah bikin dia bahagia kok dengan ada di sampingnya."
"Menurut lo begitu kan, tapi gue liat dan ngerasain sendiri kalo pacaran, cuman ada status tapi gak pernah ada kehadiran itu semu. Terlalu menyakitkan."

***

MUHAMMAD HAEKAL ALAWY'S POV

"Valdaaaaa!" Seruku sambil menggebrak mejanya. Aku ikut les bahasa Inggris yang sama dengan Valda dan kami cukup akrab.
"Iye, kenapa Kal?" Tanya Valda tidak bersemangat.
"Lho? Kok lesu sih?"
"Gak tau nih bete banget. Yoga upload foto ke instagram bisa, tapi bales line gue gak bisa."
"Lagi sibuk kali.."
"Sibuk main instagram gitu? Anak SMANSA kerjaannya ngapain aja sih?" Tanya Valda kesal.
"Ya belajar, sama aja kayak sekolah kita. Pertanyaan macem apa tuh! Hahaha."
"Ya kan guenya males juga Kal ditinggal mulu. Eh, Farhan apa kabar?"

Ups. Aku menelan ludah.

Minggu lalu, di kelas yang sama, bangku yang sama, aku dan Valda.

"Val.. Eum, lo inget Farhan?"
Raut wajah Valda berubah. "Farhan? Luthfi Farhan yang masuk Aksel SMANAM? Ingetlah..."
"Lo pernah les privat Matematika berdua sama dia, kan?"
"Actually, bertiga sama Albi tapi Albi jarang dateng hahaha."
"Iya emang tu anak paling males sama les gitu gitu."
"Eum, kenapa ya sama dia?" Tanya Valda penasaran.
"Gue denger dari Albi katanya lo pernah naksir doi."
Tawa Valda meledak. "HAHAHAHAHAHAHAHA kata siapa tadi, Kal?"
"Eum, Albi. Albi Quthb."
"Ah, berisik tu cowok."
"Boleh tau ceritanya gak? Entah kenapa gue jadi kepo..."
"Eum.. Ya.. Gue sebenernya pernah suka sama dia. He's handsome, nice, smart.. Dia salah satu orang yang bisa ngalihin pikiran gue dari Yoga, ya seperti yang gue ceritain dulu gue udah lama suka sama Yoga. Tapi itu dulu."
"Kalo sekarang gimana?"
"Eum.." Belum sempat Valda menjawab, tiba tiba bell berbunyi dan Mr. Ronald masuk memulai kelas.

Aku berkonsentrasi dengan essay yang Mr. Ronald berikan sementara Valda sibuk menggambar sembarang hal di buku New York-nya. Tiba tiba ia menyikutku sambil menunjukkan secarik kertas bertuliskan.

Mencintaimu seperti menggenggam pasir di pinggir pantai. Semakin lama semakin terkikis oleh ombak.

"Kira kira beginilah perasaan gue ke Farhan sekarang."

"Kal? Hoi? Lo kenapa?"
"Eh.. Enggakpapa kok, Val. Lo tadi nanya apa?"
"Gue nanya apa kabar Farhan.. Semenjak minggu lalu lo ungkit dia, entah kenapa gue jadi kangen sama dia."
"Ah, dia baik baik aja kok Val."
"Single? Ah enggaklah, mana mungkin cowok ganteng kayak dia single.."
"Eum.. Dia single, Val. Single dan gak pernah pacaran."
Valda menoleh. "Ah serius lo? Gue denger sih dia suka sama seseorang. Dia pernah pengen cerita gitu ke gue tapi dia gak cerita cerita dan gue juga jadi lupa duluan..."
"Suka sama seseorang?"
"Iya.. Katanya udah lama gitu, tapi semenjak lulus SMP kan udah gak pernah ketemu jadi ya..."
"Jadi?"
"Jadi gue udah gak mikirin lagi dia suka sama siapa, lagian gue udah ada Yoga."
"Oh.. Eum.."

"By the way lo serius Kal dia gak pernah pacaran?"
"Iya, padahal yang ngejer ngejer dia kan banyak ya.."
"Hahaha iya, dia tuh banyak secret admirernya."
"Betul. Sayanganya mata, hati dan pikiran dia cuman tertuju sama satu orang. Dan parahnya sampe saat ini dia masih nungguin orang itu.."

"Siapa Kal? Farhan gak pernah ngomong ke ceweknya?"
"Enggak, dia takut di mata ceweknya jadi aneh karena mereka temenan deket. Emang berlebihan sih Farhan sampe nunggu 3 tahun."
"Emang siapa sih ceweknya sampe gak sadar gitu? Kasian banget Farhan ganteng ganteng di sia siain.. Kalo gue jadi ceweknya sih gue langsung deh ninggalin apapun demi Farhan."
"Ah yakin lo? Berlebihan gitu gak baik lho hahaha."
"Eh serius, Farhan itu worth it sekali untuk diperjuangkan hahaha."

Aku terdiam lalu tersenyum. "Yakin ya lo bakal lakuin itu?"
"Iyalah, bego aja nyianyiain Farhan. Emang siapa sih yang Farhan tungguin?"
"Temen cewek satu satunya dia di les privat Matematika pas SMP." Jawabku pelan. 

Handphone Valda yang belakangan baru aku sadari adalah iPhone seri terbaru langsung jatuh dari genggamannya dan wajah Valda yang sedang tersenyum lebar tadi berubah jadi kaget setengah mati. Aku menghela nafas.

"Yang bener aja, masa mantan gebetan gue suka sama gue sih, Kal?!"




Nah lho, gimana kelanjutannya? To be continued....


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}