The Reason is You chapter 41: Think Twice

Setumpuk pertanyaan terus bergulir di kepalaku tentang kamu. Kenapa kamu gak pernah mau liat aku, kenapa kamu gak pernah mau kita lebih dari sahabat, kenapa kamu gak pernah ngasih kepastian, kenapa kamu pura pura gak peka... Kenapa kamu gak jadian sama yang lain dan buat aku terus merasa punya harapan.

Karena kenyamanan seorang sahabat gak selalu bisa kita dapatkan ketika sudah menjadi pacar dan akan hilang begitu saja ketika berpisah. 
Sahabat - pacar - stranger. 

Aku ngerti sekarang, Greys. Kamu baik sekali menyelamatkan perasaan ini. Walaupun kita sempet jadi stranger karena aku berjalan terlalu jauh, aku seneng kamu sudah kembali. Aku seneng kamu membiarkan aku untuk berfikir dua kali.

Tentang kita yang sebenarnya tidak bisa lebih jadi sahabat karena kenyamanan kita sebagai sahabat itu sendiri. Semoga kamu bahagia, Greyson.

***


SUHARTO'S POV

"Megan mau mutusin Alvan, Gar? Demi gue?" Tanyaku tercekat ketika Tegar selesai bercerita. Tegar mengaduk Ice Lemon Tea-nya dan mengangguk.

"Tadi siang sih ngomongnya gitu, Har. Mangkanya gue langsung pengen ketemu sama elo. Gue pengen mastiin semuanya baik baik aja. Gue pengen Megan gak salah pilih. Gue cuman pengen liat adik gue bahagia, Har."
Aku menelan ludah. "Kenapa lo pengen ketemu gue?"
"Gue suruh dia milih, Har. Egois kalo Megan tetep treat lo nice tapi dia masih sama Alvan dan pengen ngelepasin Alvan cuman gak bisa. Lo pasti tau lah kenapa Megan gak bisa ngelepasin Alvan walaupun dia udah disakitin gitu..."
"Ah, iya. Megan sayang banget sama Alvan."
"Iya dan begitu juga Alvan. Cuman hubungan mereka udah gak sehat dan gue udah males duluan ngomong sama Alvan."
"Lo maunya Megan milih siapa, Gar?"

Tegar berdehem lalu menelan ludahnya. "Secara prospek ke depannya sih.. Alvan, sorry."
Aku menahan tawaku lalu tersenyum kecil. Iyalah, Alvan berbeda denganku. Alvan begitu pintar, supel, anak basket, anak band.. Sedangkan aku? Aku lebih suka main PES di rumah, nonton bola atau pergi futsal dengan teman teman.

"Tapi secara hati, mungkin Megan lebih cocok sama elo."
Aku menatap Tegar heran. "Kenapa, Gar?"
"Karena gue bisa liat binar binar kebahagiaan tiap Megan ngomongin elo, Har."
"Ugh..."
"Gue minta Megan untuk mikirin lagi sebelum memilih. Even sebenarnya gue dukung dia putusin Alvan daripada sakit, cuman gue takut Megan nyesel...."
"Megan sendiri milih apa?" Tanyaku pura pura tidak peka. 
"Ya milih elo lah, Har. Dia sayang sama elo dan elo juga, kan?"
"Iya... Gue sayang banget Gar sama Megan."
"Kasih tau gue kenapa lo bisa sayang banget sama adik gue.."

Aku tertawa kecil. "Sulit. Megan punya semua yang selama ini gue cari. Dia ngerti PES, dia ngerti bola walaupun sedikit, dia mau ngertiin dunia gue dan gue juga ngerti dunia dia walaupun gak mahir. Gue ngerti piano, gue lumayan jago Matematika, gue juga suka beberapa boyband Korea yang macho.. Err ya gitu. Dan yang terpenting, Megan bikin gue nyaman banget, Gar..."

"Hubungan lo sama Megan sekarang apa?"
"Sahabatan."
"Lo mau lebih gak?" Tanya Tegar to the point. Ugh, rasanya ada sesuatu yang menghantam jantungku. Aku tak menjawabnya.
"Kalo Megan ninggalin Alvan, lo mau gak sama dia?"
"Gar..."
"Jawab, Har. Lo mau gak nembak Megan?"
"Gar... Gue gak bisa."

Tegar menatapku dengan tatapan kecewa. "Lo jangan mainin adik gue, Har. Dia adik cewek satu satunya yang gue punya dan lo tau kan apa akibatnya nyakitin adik cewek gue setelah lo gue percaya?"

"Gar, sorry.. Gue gak pernah mikir buat mainin Megan. Gue sayang banget sama Megan, lebih dari sayangnya gue sama mantan gue. Tapi gue masih bingung ngebedain antara sayang ke sahabat atau sayang menjadi pacar..."

"Har..."
"Gar, gue takut kalo gue udah sama Megan.. Megan udah gak jadi alasan gue buat ngepause game gue. Megan udah gak jadi alasan gue buat tetep inget kegiatan lain selain game. Gue takut ngecewain Megan kalo status udah jadi pacar, Gar."
"Itu cuman masalah kebiasaan, Har. Kalo lo sayang sama Megan, lo pasti bisalah.."
"Dan yang paling gue takutin, ketika kita pisah ntar udah gak ada lagi Megan-Harto yang dulu... Gue sayang sama Megan, tapi mungkin bukan dengan pacaran cara menunjukannya."

Tegar menghela nafas. Wajahnya kecewa tapi ia menunjukkan ekspresi seakan akan ia mengerti perasaanku. Aku mengigit bibir bawahku, aku berharap Tegar bisa membantuku menemukan jalan keluarnya karena aku sendiri bingung dengan hatiku.

"Think twince, Har. Megan sayang banget sama elo dan gue tau lo bisa jadi cowok yang baik buat Megan."
"I know, Gar. Megan tuh susah banget buat didapetin, tapi mungkin bukan gue orangnya."
"Ah... Megan udah tau perasaan lo yang sebenarnya?"
"Belum. Tapi dengan kejadian kayak gini, gue harus ketemu Megan. Megan harus tau semuanya. Gue gak mau Megan berhenti memperjuangkan Alvan demi gue yang mungkin bakal nyakitin dia lebih dari Alvan nantinya."

"Megan berharap ke elo, Har."
"Gue tau, Gar. Tapi gue gak bisa. Semakin gue sayang sama dia, semakin gue harus ngelepasin dia...."

***

GESTU ROSMAYADI ASAD'S POV

"Apa yang salah sih Ti diantara kita?" Tanyaku dengan nada naik satu oktaf. Ini hari jadi kami yang pertama dan entah kenapa Titi meminta berpisah denganku. Ia membuatku gila.

"Gak ada yang salah, kamu gak salah, aku juga. Cuman kita gak bisa lagi, Tu."
"Gak bisa itu karena apa? Pikirin dong.."
Titi menghapus air matanya. "Aku udah mikir ini berkali kali, Tu. Kita gak bisa bareng lagi."
"Jadi kamu mau berhenti  berjuang gitu setelah semua yang kita lalui, Ti? Setelah kamu nungguin aku lama, aku nungguin kamu lama, kita yang dipisahkan jarak.... Kamu ninggalin aku?" Tanyaku dengan suara tercekat. Air mata Titi menetes lagi.

Suasana rumah makan SS hari ini tidak terlalu ramai. Posisi tempat dudukku dan Titi juga jauh dari tempat tempat yang penuh. Dua gelas jus alpukat ada di depan kami masih utuh semenjak 10 menit yang lalu. Bunga yang aku belikan ada di samping gadis yang sedang menangis di hadapanku. Aku meraih tangannya.

"Kamu kenapa mau ninggalin aku?"
"Jarak, Tu. Kamu fikir aku gak capek kamu tinggal saat aku butuh kamu, kamu dateng saat aku lagi sibuk? Kita tuh kayak venus sama mars Tu. Kita gak bisa nyatu."

Aku menghela nafas. Jarak. Gadis ini bicara tentang jarak. Gadis ini bilang dia lelah dengan jarak. Jika dia saja sudah lelah, bagaimana dengan aku? Apa dia tidak memikirkanku?

"Kamu mikirin aku gak sih ngomong kayak gitu?"
Gadis itu langsung menatapku. "Apa maksud kamu?"
"Kamu fikir cuman kamu yang capek apa?"
"Ya aku juga mikirin kamu, kenapa sih kamu gak peka?"
"Berhenti  bilang aku gak peka, Ti! Aku capek harus berusaha terus buat kamu sementara kamu selalu minta lebih!"
"Kamu mikir dong Tu siapa yang paling capek diantara hubungan kita! Ya aku!"
"Aku selalu meluangkan waktu yang aku punya untuk kamu, apa semuanya gak cukup? Kamu ngerti dong keadaan aku."
"Aku selalu berusaha untuk ngertiin kamu, tapi kamunya aja yang gak pernah ngerti sama aku."
"Aku  capek, Ti. Kamu berubah. Kamu udah gak kayak dulu. Aku udah gak ngerasa kenyamanan itu lagi."
"Kamu fikir aku gak capek, Tu? Iya. Kamu juga udah bukan Gestu yang dulu."
"Bukan cuman aku yang berubah, tapi kamu!" Aku melepaskan genggaman tanganku. Gadis itu bangkit.
"Iya! Aku, kamu, kita berubah Tu! Ini bukan SMP lagi, kita udah beda sekarang! Ngapain kita bertahan kalo semuanya udah gak sama lagi sekarang?"

Aku menoleh. "Kamu bener bener mau ninggalin aku? Think twice, Fles!"
"Aku udah mikirin ini berkali kali. Tapi emang dasarnya aja Jawali gak pernah mau mikirin Raffles!" Seru Titi. 
"Astaga, ya aku juga punya duniaku. Kamu juga punya duniamu. Kenapa sih kita gak saling ngerti?"
"Aku udah coba ngerti tapi capek, Tu."
"Berhenti bilang kamu capek karena aku juga capek, Ti!" Bentakku. Titi menatapku tak percaya lalu  Ia melepaskan cincin dari jemarinya.

"I'm done Tu. Terima kasih untuk satu tahunnya."

***

RIANTHY APRILLIA DEWI'S POV

"Aku kira kamu bercanda Ran pas mau ke Cirebon.." Kata Yoga saat aku menghampirinya disalah satu meja di Pizza Hut CSB. Aku tersenyum kecil.
"Mana mungkin Ranthy bohongin kamu sih... Kamu apa kabar, Yog?"
"Aku baik, kamu gimana? Katanya single ya sekarang?"
Aku tertawa. "Iya nih, kamu gimana sama Valda?"

Yoga menelan ludahnya. "Gitu deh, Nthy. Valda jadi aneh."
"Hm? Aneh gimana?" Tanyaku heran.
Yoga mengaduk aduk milkshake vanilanya. "Ya aneh.. Sibuk sama dunianya sendiri."
"Lho, bukannya kamu juga gitu?" Tanyaku sambil tertawa.

"Tapi aku capek harus selalu ngertiin Valda."
"Yog.. Pacaran itu saling ngerti. Jangan suka mikir cuman kamu yang ngertiin ah, Valda juga pasti ngertiin kamu kok."
"Tapi apa buktinya? Dia suka gak mikir kalo aku sibuk."
"Wait, kata kamu tadi Valda sibuk sendiri sama dunianya?"
"Ya.. Setelah aku udah lowong, aku hubungin dia eh malah dianya yang sibuk. Kan bete, Nthy."

Aku tertawa kecil. Yoga dan Valda tidak pernah berubah. Obrolan kami terus berlanjut sampai malam tiba. Entah kenapa hati kecilku berkata aku harus membuat Yoga dan Valda kembali utuh seperti dahulu walaupun sudut lain dihatiku tidak rela.

"Apa lebih baik putus aja ya?" Tanya Yoga tiba-tiba.
"Eits! Nope, think twice. Jangan sampe menyesal. Aku bakal bantu kamu buat balikin semuanya."
"Tapi.. Aku sama Valda udah gak kayak dulu."

Aku tertawa. "Jadi kamu bakal mutusin pacar kamu karena kalian udah gak kayak dulu gitu? Yoga.. Hidup itu tentang berubah dan moving on. Kamu harus siap dengan segala perubahan dan ikut berpindah seiring dengan berjalannya waktu. Tapi bukan berarti kamu harus meninggalkan orang yang sudah lama berada di samping kamu. Bukannya kamu begitu menyayangi dia?"

Yoga terdiam lalu mengangguk. "Tapi aku harus bagaimana menyelamatkan sebuah hubungan yang sudah semakin membosankan?"

"Ugh. Kamu tuh ya ganteng ganteng ngeselin." Kataku sambil mengacak acak rambutnya.
"Ya.. Aku bosen lah kalo gini terus."
"Sungguh jahat orang orang yang putus karena bosen. We'll fix it, Yog. I promise."

***

NISRINA ARIJ FADHILLA'S POV

Merelakan Izar mungkin lebih mudah daripada melupakannya.

Demi tuhan, malam ini aku begitu merindukan Abizar Bagas Patriatama. Aku rindu suara beratnya, aku rindu setiap kalimat hangat di pesan singkatnya. Aku merindukan dia. Sedang apa ya dia?

Orang orang terus menyalahkan Izar tapi aku berhenti melakukan itu dan berkata sebaliknya. Aku yang salah. Aku harusnya melihat ke sisi Izar juga. Izar pasti sudah berusaha dan mungkin ini jalan yang terbaik bagi kami berdua.

Setelah aku fikir lagi, aku sudah mulai bisa merelakan kepergian Izar dari hidupku walaupun belum sempurna. Izar adalah bagian hidupku yang paling sempurna. Kami mempunyai selera yang sama dengan sifat berbeda.

Aku dan Izar saling mengisi. Izar mengisi kekosongan hatiku dan aku memberikan Izar ruang untuk mengisi sesuatu. Izar tahu betul bagaimana membuatku nyaman. Izar selalu bisa membuatku merasa aman.

Izar bisa membuatku tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Tapi ia juga selalu bisa jadi alasanku untuk menghapus air mataku dan marah karena hal tertentu. Izar selalu menjadi pengisi hari hariku.

Tapi kini sudah tidak ada lagi. Izar sudah pergi.

Seiring dengan kepergian Izar, aku sadar sesuatu yang terlihat menyedihkan sebenarnya membawa berita baik. Hatiku lebih tenang sekarang. Aku tidak terlalu khawatir lagi dengan keadaan Izar karena aku fikir Izar juga bukan siapa siapaku lagi.

Mungkin aku akan lebih sakit kalau kami tetap bersama karena keadaan tidak akan kembali seperti semula. Semuanya sudah berubah.

Aku memeluk buku catatan Izar yang berisi foto foto dan beberapa hal tentangku dan dia. Izar memberikannya saat kami merayakan hari jadi kami yang pertama. Aku tidak pernah tahu bahwa bagi Izar, aku adalah orang yang begitu istimewa dan satu satunya.

Pada akhirnya, aku pasti bisa lebih rela lagi dengan kepergian Izar. Bahkan mungkin aku bisa tersenyum ketika dia sudah menemukan pendamping lain. Karena aku juga akan berjalan untuk mencari lagi.

Dalam fikiranku, jika Izar memang  untukku, ia pasti kembali padaku. Betul?

Aku hanya berharap dengan perpisahan kami, kami berdua bisa sama sama bahagia bagaimanapun caranya dan aku bisa merelakan Izar. Iya, bisa merelakan dia seutuhnya.

Dan melupakan dia walau aku tahu, mungkin berapa ribu kalipun aku mencoba, aku tidak akan bisa. Karena apapun yang terjadi, aku sudah terlanjur menyayangi Izar.

Aku membuka buku catatan Izar dan kali ini aku tidak menangis sampai halaman terakhir. Halaman dimana dia menuliskan sebuah janji. Dia bilang, apapun yang terjadi dia akan terus menyayangiku.

Aku harap itu benar, Zar. Aku harap besok ketika aku terbangun rasa rindu ini akan berkurang atau hilang begitu saja. Tidur yang nyenyak. Semoga besok kamu bisa bertemu dengan yang lebih baik daripada aku dan akupun begitu. 

Selamat malam, Abizar


To be continued...


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}