The Reason is You chapter 42: Broken or bent?

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang berubah di sekeliling gue. Mau gak mau gue harus terima itu dan ikut berjalan dengan segala perubahan itu. Rusak, patah. Banyak hal aneh. Get one lost one. Itu hukumnya sekarang.

Begitu menyenangkan ketika gue menyadari satu demi satu yang berubah, yang patah, yang sudah berjalan jauh berpindah meninggalkan gue mulai kembali. Walaupun tidak seperti dulu, walaupun tidak sesempurna dulu.

Tapi gue harus bersyukur. Karena gue punya kalian semua.

***


LUTHFI FARHAN'S POV

Albi menyikutku lagi. "Lo nunggu apalagi sih, Han?" Tanyanya kesal. Aku menggaruk kepalaku, memutarkan badan dan duduk di sofa abu-abu tua itu.

"Gue.. Takut." Jawabku gemetaran. Albi menghela nafas lalu langkah kaki Haekal terdengar memasuki ruang kamarnya. Kami berdua memang sedang menginap di rumah Haekal. Haekal punya kamar tidur yang bagus sekali dengan dua tingkat. Aku begitu menyukainya.

"Ah, kecing lo Han. Badan aja tegap, ganteng, pinter, tajir... Ngadepin Valda Nurul Izah aja susah." Kata Haekal sambil melemparkan sekaleng pepsi ke arahku dan Albi. Aku menangkapnya dengan gesit dan langsung meminumnya,
"Gak semudah membalikkan telapak tangan dan gak semudah kalian cari cewek cewek baru!" Seruku dengan nada kesal.

Albi dan Haekal saling bertatapan lalu tak menghiraukanku lagi. Albi baru saja putus dengan Detty 2 hari yang lalu dan Haekal sudah renggang dengan Bani. Haekal dan Bani sudah lama tidak bertemu semenjak Bani memutuskan untuk bersekolah di Sumatera.

Aku hari ini renacanya akan mengajak Valda bertemu, tapi aku takut Valda tidak mau. Apalagi setelah Haekal bilang padanya bahwa aku menyukai Valda. Aku sempat ingin melindas Haekal saking kesalnya tapi Albi bilang apa yang Haekal lakukan itu benar. Jika aku terus mengulur waktu, kapan perasaan ini akan tersampaikan?

Albi berjalan ke arahku lalu menepuk pundakku. iPhone putih yang sudah tergeletak di meja diraih oleh Albi dan disodorkannya padaku. Aku menoleh lalu menggeleng.

"Gue takut sama reaksinya Valda, Bi."
Haekal berjalan ke arahku. "Lo gak bakal pernah tau reaksinya Valda kalo gak pernah ngomong, Kal."
"Apa lo mau ngebiarin hati lo terus patah liat Yoga sama Valda padahal lo sayang banget sama Valda?"

Aku menghela nafas panjang. Dengan setengah hati kuraih iPhone itu dari tangan Albi dan langsung mencari kontak Valda Nurul Izah. Foto gadis itu terpampang jelas di layar dan membuatku kaget. Aku yang sudah memencet option "call" langsung memutuskan sambungan telpon itu. Haekal menjitakku.

"Cupu abis lo Han! Lo gak nembak, cuman nyatain aja. Cuman bilang aku suka sama kamu. Ini lebih mudah daripada OSN Matematika lo! Apa susahnya sih?" Tanya Haekal gregetan.
"Lo.. Astaga, Kal! Ini masalah perasaan! Reaksi Valda bisa membunuh gue. Apapun itu." Kataku dengan tegas.

"Lo cowok kan, Han? Telpon Valda. Apapun yang terjadi, yang penting perasaan lo nyampe ke dia. Walaupun dia udah punya cowok, walaupun perasaan dia buat lo terus  terkikis tiap harinya kayak pasir kena ombak.. Yang jelas perasaan lo gak berhenti cuman di hati lo, tapi udah diperjuangkan."

Tanganku yang kuat kini gemetaran memegang iPhone itu. Kembali kupilih option "call" dan foto gadis itu muncul. Aku menarik nafas satu dua. Semoga... Semoga aku bisa menghentikan ombak yang megikis perasaannya.

Jantungku berdegup semakin kencang ketika telpon diangkat dan gadis itu berdehem. Aku menghela nafas sambil menatap Albi dan Haekal yang sudah menyemangatiku. Aku tidak boleh mengecewakan sahabat sahabatku.

"Halo, Valda.. Ini Farhan."
***

ALVAN ANANSYAH VIWANTAMA'S POV

Aku tahu aku yang salah dan entah bagaimana caranya untuk mendapat maaf dari Megan. Aku begitu menyayangi Megan sampai sampai aku tidak sadar bahwa aku telah melukainya. Aku begitu tak ingin kehilangan Megan sampai sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah mulai ditinggalkannya.

Jadi sebelum semua ini menjadi lebih parah, aku memutuskan untuk melajukan Honda Jazz milik Ayahku ke rumah Megan sambil membawa buket mawar merah kesukaannya. Megan pasti sedang nonton acara Running Man atau bermain piano. Kuharap semoga ada Tegar disana supaya aku bisa bicara dengan Tegar.

Memasuki jalan rumah Megan, aku mendapati ada mobil Yaris hitam berhenti di depan rumah Megan. Kuparkirkan mobilku di depan mobil itu dan aku langsung keluar sambil membawa buket mawar tadi.

Megan pasti sedang berada di taman belakang. Jadi setelah aku bertemu dengan satpam rumahnya, aku langsung saja pergi ke belakang dan menuju taman rumah Megan. Di sana ada kolam renang, berbagai macam tanaman dan juga saung kecil dengan TV dan home theater tempat biasanya kami nonton film.

Iya, kami. Aku dan Megan. Aku sangat merindukan masa masa itu. Kuharap Megan mau menerima perminta maafanku dan kami bisa kembali seperti dulu lagi. Tapi langkah kakiku berhenti ketika aku melihat Megan sedang duduk bersama seorang pria. Megan menangis dan menggenggam tangan pria itu erat. 

Aku mencoba untuk memfokuskan pandanganku tapi aku tidak yakin bahwa itu adalah Tegar. Mungkin itu sepupu Megan, tapi kurasa caranya menatap Megan dan membelai rambut Megan tidak seperti seorang sepupu yang menemani sepupunya bercerita.

Aku mencoba mengenali wajahnya dan kakiku benar benar tak bisa bergerak ketika menyadari siapa dia. Siapa pria yang sedang memeluk kekasihku sekarang. Pria yang selama ini membuat Megan jadi  berubah, yang membuat hubungan kami semakin retak...

Suharto.

Aku meremas sebatang mawar yang berada dibagian bawah. Megan, sudah Alvan bilang kan jangan dekat dekat dengan dia? Dia bukan teman yang baik untukmu! Dia akan menghancurkan kita, sayang!

Dadaku sesak saking kesalnya. Aku ingin sekali menghampiri mereka dan memberi dia pelajaran karena telah merusak hubunganku dengan Megan. Tapi niat itu kuurungkan ketika kudengar suaranya mendesah lembut sambil membelai Megan..

"Megan, aku sayang kamu. Tapi bukan untuk jadi pacar. Alvan sayang kamu dan dialah yang seharusnya jadi pendamping kamu. Kita itu sahabat, kamu dan Alvan itu pacaran. Itu yang benar. Kamu sayang kan sama Alvan? Kenapa kamu mau ninggalin dia demi aku yang belum jelas bisa bahagiain kamu lebih dari dia atau enggak?"

***

ANNISA NAZIHAH KOMAR'S POV

"Gue sih ayo ayo aja Din 26 ngumpul. Tapi apa bisa? Kita kan sibuk banget..." Kataku di telpon sembari mengerjakan tugasku. Dini menghela nafas.
"Cuman 1 sampe 2 jam. Kenapa sih pada sibuk banget? Lupa sama janji kita?" Tanya Dini. Aku terdiam. Ingatanku berputar ke satu tahun yang lalu saat Vancouver Graduation..

Ridho merangkul Esar sambil tertawa. "Hahaha a night to remember banget. Bakal kangen sama kalian, 26!" Serunya. Fauzan ikut tertawa.
"Ya, kita bakal terus bareng bareng!"
Silvy meninju bahu Ghorby. "Gimana mau bareng bareng coba? Ada yang ke SMANSA, SMANDA, SMANAM, Tarnus, Jogja.. Kita pisah, Fles..."
"Iya, pasti nanti beda deh." Kata Ninis.
Lega mengangguk setuju. "Udah gitu kan Tarnus gak boleh  bawa alat komunikasi."
"Eh, boleh bawa laptop kali Leg. Masih bisa pake grup Facebook kita." Kata Winu.
"Iya sih Jaws.. Cuman pasti Jawali sibuk." Bella cemberut sambil memainkan pita di kebayanya.
"Iyalah, kapan sih Jawali gak sibuk dan gak lupain Raffles. Hahahaha." Kata Dini sambil tertawa lepas. Rafflesia lain ikut tertawa sementara Jawali memandang kami dengan wajah bete.
"Yakali Jawali juga kan sibuk ya, hahahaha."
"Udah deh, kita kalo liburan ngumpul aja..." Kata Yola.
"Boleh tuh Ay, ntar aku jemput kamu!" Seru Aca. Kami semua tertawa.
"Ciye.. Yang pacaran sih beda aja!" Seru Bhimo sambil merangkul Dini.
"Eh iya ya, Jawali-Raffles banyak juga yang jadian.." Sahut Nadia.
"Ya kamu juga hampir jadian tuh sama saya, Nad. Hahaha." Kata Ghorby dengan enaknya. Aku menginjak kaki Ghorby.
"Jawali php dih. Jawali lo tuh, Ti!" Seruku sambil mendorong Titi. Titi menoleh lalu mencubitku. "Berisik Kib! By the way apa sampe nanti Jawali-Raffles yang jadian bakal tetep jadian ya?"
"Aku sih gak bakal ninggalin kamu Ti.." Kata Gestu lembut. Semuanya tertawa.
"Tau deh yang baru jadian..." Kata Fita.
"Hahahaha. Nih ya, Jaws, Fles.. Apapun yang terjadi, gimanapun nantinya, Rajawali-Rafflesia 26 itu satu. Harus bersatu dan selalu satu. Usahain untuk ngumpul, jangan malah jauh jauhan. Ngerti?" Tanya Ghorby. Kami semua mengangguk dan hormat pada Pratama kami.

"Siap, iya kak!"

Aku tersenyum kecil. "Agak susah untuk ngumpulin orang orang yang udah lama pisah, Din."
"Ya tapikan.." Dini terisak. Oh no, dia menangis lagi. "Janjinya bakal terus sama sama, sekarang kemana coba?"
"Din, semakin lama kita itu semakin dewasa. Semakin banyak hal baru dan hal lama sudah tidak jadi prioritas utama. 26 bukannya lupain janji, cuman kita masing masing punya kepentingan yang lebih mendesak mungkin? Lagian kan gak mudah ngumpulin 20 orang disaat udah kayak gini."

"Terus setelah semua yang terjadi, setelah janji janji kita, setelah punya temen baru, semuanya berubah gitu? Persahabatan macam apa itu? Kita udah berubah, patah, gak tau siapa yang bakal nyambungin kalo gak pernah ketemu ketemu lagi! Sinting kalian." 

"Din..." Belum sempat aku menjelaskan, sambungan telpon sudah diputus oleh Dini.

Sebenarnya 26 yang lain sudah aku hubungi dan rata rata mereka punya acara mereka sendiri di saat liburan. Aku memaklumi tapi aku tidak bisa bilang apa apa pada Dini karena dia yang paling berharap kita semua kumpul kayak dulu.

Ketika sebuah persahabatan terpisahkan oleh jarak, terkadang yang ada persahabatan itu akan sirna seiring dengan berjalannya waktu. Biasanya hal itu terjadi karena tidak pernah komunikasi sama sekali atau terlalu sering 'menuntut kebersamaan' ditengah tengah kesibukan yang sudah berbeda.

Aku bukannya menyalahkan Dini yang berusaha keras supaya 26 bisa kumpul liburan kali ini, tapi aku ingin dia mengerti walaupun kita tetap bersama, tidak akan ada yang berbeda nantinya. Kita tetap satu, tetap persahabatan yang dulu. Hanya saja bedanya ada jarak yang memisahkan raga kita. Sementara hati kita akan selalu bersatu.

Karena sejauh apapun jarakmu dengan sahabatmu, dia akan selalu dihati, sampai kapanpun. Selamanya.

***

SILVY SANTIKA'S POV

Yara memintaku menghampirinya setelah mengisi acara di salah satu event pameran foto di CSB Mall. Ia tersenyum kecil ketika aku memasuki kawasan Solaria dan berjalan ke arahnya. Entah apa yang ingin dia bicarakan tapi kurasa aku tahu objek utamanya apa.

Pasti tentang Faisal, siapa lagi?

"Hai Sil..." Sapa Yara sambil melambai ke arahku. Aku tersenyum kecil lalu duduk di hadapannya.
"Hai. Gimana tadi nyanyinya?" Tanyaku basa basi. Yara tersenyum kecil.
"Ya biasalah, cuman beberapa lagu. Eh kamu mau mesen apa?" Tanya Yara lembut sambil menoleh dan memanggil pelayan Solaria. Aku melihat daftar menu lalu memilih Fanta Float dan memesannya.

"Eh sorry ya Sil aku ganggu kamu lagi liburan gini.. Hehehe.."

Yara tersenyum kecil lalu mengeluarkan iPad-nya. Aku tahu dia dengan sengaja memainkannya di meja. Dia sengaja menunjukkan bahwa background iPad-nya adalah foto dia dengan Faisal. Dia sengaja. Dia belum tahu saja aku sudah pernah diberikan bunga oleh Faisal.

Beberapa detik kemudian aku merasa lebih menang dari gadis ini sampai dia membuka galerinya dan menunjukkan fotonya yang sedang diberikan bunga oleh Faisal. Astaga.. Aku bukan gadis istimewa lagi buat Faisal?

Yara berdehem lalu bibirnya mulai membentuk huruf vokal A. Aku meremas tanganku sendiri. Berjanjilah Silvy apapun yang terjadi jangan marah dan jangan menangis. Kalau kamu menyukai Faisal, berjuang. Kalahkan cewek ini.

"Aku baru saja putus dengan Pandu waktu Faisal juga ngerasa kosong dan gak punya arah. Kita sama sama kosong tapi punya sakit yang gak bisa di jelasin dengan kata kata. Kita bukan sekedar patah dan retak. Hati kita hancur. Tapi aku dan Faisal saling mengisi, Sil. Dia bisa jadi alasanku untuk mengumpulkan serpihan hatiku, begitu juga aku untuk Faisal.."

Dadaku terasa sesak. Astaga.. Aku benar benar kehilangan kesempatan, ya..

"Awalnya kami hanya sahabatan dan seiring dengan berjalannya waktu, aku sadar ada yang berubah. Aku pesimis Faisal sudah melupakan masa lalunya..." Dia melirikku sekilas lalu memainkan iPad-nya lagi. "Lalu berpindah padaku. Tapi ternyata Faisal juga menyukaiku."

Demi Tuhan aku ingin bilang "lalu apa urusannya denganku, Yar?" tapi aku menahannya. Sabar, Silvy Santika...

"Aku tinggal menunggu dia memintaku jadi pacarnya, Sil. Aku tidak perlu berharap banyak lagi. Aku tidak perlu berjuang lagi karena cepat atau lambat Faisal akan menjadi milikku. Aku adalah masa depannya, Sil."

Yara menelan ludah. "Semenatara kamu, kamu masa lalunya."

Aku tersentak. Yara benar. Aku masa lalunya. Aku tetap diam dan memilih mendengarkan ocehan gadis ini. Fanta Floatku datang dan langsung kuteguk sampai setengah gelas. Aku kesal. Aku kesal harus jadi aku yang salah karena dulu melepaskan Faisal dan kini ingin mendapatkannya kembali.

"Apa kamu gak egois Sil kalo mau milikin dia setelah kamu tinggalin dia? Setelah kamu hancurin perasaan Faisal? Sadar Sil.. Dia udah berjalan jauh ninggalin kamu."
Aku menelan ludah. Hatiku rasanya tersayat sayat..
"Faisal gak mungkin bales perasaan kamu. Udah ada aku sekarang."
Apakah aku selambat itu? Aku masih punya kesempatan kan? Mereka kan...
"Jangan fikir karena aku belum jadian sama Faisal, kamu bisa dapetin dia lagi. Enggak, Sil. Hati kami udah jadi satu dan kamu gak bisa matahin itu."

Air mataku menetes tapi tidak aku hapus. Aku sakit bukan karena ocehan gadis ini tapi karena aku menyadari seberapa bodohnya aku dulu menyianyiakan Faisal dan kini dengan mudahnya aku berfikir dia akan kembali padaku.

"Jadi aku sarankan, kamu jauhin dia dan lupain dia. Balik jadi temen biasa aja, gak usah ngarepin dia. Dia bukan buat kamu lagi, Sil. Cinta kamu sia sia." Kata Yara sambil menatapku dalam dalam.

Di satu sisi aku ingin menyerah tapi di sisi lain aku tidak mau berhenti sebelum ada kepastian dari Faisal. Aku gak mungkin kalah sama gadis ini. Dia gak tau apa apa tentang aku dan Faisal. Dia gak tau seberapa sayangnya aku sama Faisal yang mungkin lebih dari dia. 

Aku memang pesimis Faisal akan menerimaku lagi, tapi setidaknya aku harus berjuang demi perasaanku untuk Faisal. Iya, aku harus kuat. Apapun yang terjadi, yang penting perasaanku tersampaikan.

Aku tersenyum kecil lalu bangkit dari dudukku. "Kamu buang buang waktuku, Yar. Karena aku gak bakal pernah nyerah sampe aku dapet kepastian dari Faisal. Karena cinta yang sesungguhnya gak bakal nyerah walaupun banyak batu yang menghalangi perjalanannya. Dan kalo kamu sayang sama Faisal.. Kamu seharusnya gak ngelakuin ini. Selamat siang."

***

MUHAMMAD RASYID RIDHO'S POV

Ia melepas contact lens-nya lalu menangis lagi di pojokkan kamarku. Rumahnya adalah rumahku, begitu juga sebaliknya. Dia memeluk sebuah frame foto yang kutaruh di meja kecilku. Foto dia, aku dan laki-laki itu. Aku duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatap adikku tanpa bisa bicara apa apa. Dia menangis tersedu sedu.

"Aku gak mau ninggalin Gestu, tapi aku capek Ridho.. Aku capek di tinggal tinggal."

Dia terisak lagi. "Kamu kenapa harus milih jalan seperti itu, Ti? Bukannya kamu yang dari dulu memperjuangkan Gestu?"
"Tapi semuanya udah beda, we're broken."
"Give me one reason Ti. Alasan yang bikin kamu bertahan selama ini sama Gestu."
Dia menelan ludahnya. "Aku sayang sama Gestu, Ridh. Sayang banget. Taruna Nusantara adalah cara dia mewujudkan cita citanya. Aku mendukung dia, tapi aku gak kuat gini terus..."
"Lalu sayang kamu ke Gestu kemana, Ti? Hilang gitu aja? Satu tahun, Ti."
"Dua tahun jika kamu hitung berapa lama aku nungguin dia. Dua tahun setengah."
"Aku tahu, Ti. Tapi kamu gak bisa ninggalin Gestu gitu aja. Dia sayang banget sama kamu..." Aku beranjak bangkit dari dudukku dan membukakan pintu. Gestu masuk sambil membawa bunga mawar putih. Titi menoleh dan menatapku kesal.

"Aku udah bilang aku gak mau ketemu dia!" Seru Titi sambil menangis.
"Ges, lo udah denger kan? Dora sayang sama elo. Lurusin masalah kalian. You're not broken just bent, Ti. Gue di luar ya..."

Aku duduk di depan kamarku sambil memainkan iPhone-ku. Lebih tepatnya pura pura memainkan tapi mengintip dari celah pintu. Gestu langsung memeluk Titi, erat, lebih erat daripada biasanya.

"Please.. Bicarain dulu. Jangan tinggalin aku gitu aja."
"Kamu sibuk sama dunia kamu, Ges. Gimana aku bisa terus bertahan? Aku kayak bukan apa apa buat kamu."
"Aku dan kamu punya dunia masing masing, kan? Aku cuman butuh sedikit ruang untukku dan maafin aku karena aku lupa kamu juga butuh aku..."
"Aku sayang kamu, Ges. Tapi susah. Gak bisa."
"Kamu gak bisa karena kamu gak coba. Coba lagi ya, sayang? Kita coba lagi...."
"Kasih aku satu alasan kenapa aku harus nyoba lagi sama kamu."
"Aku gak punya alasan lain buat tetep ngejer cita cita aku tanpa kamu."
"Klasik."
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu?"
Titi melirik Gestu sinis lalu tertawa kecil. "Kamu gak pernah bisa gombal, Tu."
"Aku emang gak bisa apa apa dan aku gak sesempurna cowok lain kalo gak ada kamu..."

Titi terdiam lalu ia dipeluk lagi oleh Gestu. Aku menghela nafas. Andai aku bisa mempertahankan dan memperjuangkan perasaanku untuk kamu, Al.... Kamu gimana sekarang ya?

***

VALDA NURUL IZAH'S POV

Suara berat Farhan terus menggema di kepalaku sampai sampai aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menghentikannya. Padahal aku sedang bersama Yoga. Iya, Yoga akhirnya menjemputku dan mengajakku pergi.

Aku tersenyum kecil ketika ia tertawa, padahal aku tidak tahu apa yang dia bicarakan. Entah sejak kapan hubungan kami jadi seperti ini. We're not broken kan, Yog?

Tapi berbeda. Aku tidak berniat untuk memikirkan orang lain selain pacarku, tapi kurasa Yoga sendiri sudah tidak seperti yang dulu. Yoga yang di depanku penuh dengan kepura puraan. Yoga terlalu sibuk dengan dunianya dan aku lelah untuk mencoba mengerti bahwa dia punya dunianya sendiri.

Yoga juga tidak mau mengerti kalo akupun punya duniaku. Aku bingung. Haruskah aku melanjutkan hubungan ini?

Farhan mengajakku bertemu besok malam. Aku sudah meminta izin pada Yoga tapi dia seperti tidak perduli. Dia hanya tersenyum kecil lalu membolehkanku pergi. Tidak seperti dulu. Yoga tidak perduli lagi padaku.

Lalu apalagi yang harus aku perjuangkan dari hubungan yang sudah sehambar ini? Kemana ikatan kita yang dulu, Yoga? Karena kamu bukan lagi jadi alasanku untuk tersenyum setiap harinya....

***

ABIZAR BAGAS PATRIATAMA'S POV

Kacaunya, aku gak bisa lupain kamu, Nisrina.

Aku sudah menghabiskan hari hariku dengan PES, pergi nonton, pergi sesuka hati tanpa ada beban harus memberi kabar. Aku juga sudah mencoba chat dengan beberapa teman cewekku yang lain. Aku lumayan dekat dengan Nabila Tazkia sekarang. Tapi tidak bisa, pikiranku hanya tertuju pada kamu seorang.

Meninggalkanmu adalah pilihan terakhirku supaya tidak menyakiti kamu. Tapi aku merindukan kamu Ninis.. Hanya saja aku tidak punya kemampuan untuk kembali pada kamu setelah apa yang terjadi diantara kita.

Kita seperti sudah patah, Nis. Aku tidak tahu bagaimana cara menyambungnya lagi. Tapi aku ingin sekali kembali ke kamu. Hanya saja situasinya tidak memungkinkan.

Andai aku bisa kembali memperbaiki hubungan kita. Mengembalikan kamu menjadi gadis yang menyenangkan dan jadi tempat berbagiku. Andai Nis...

Karena aku sangat merindukan kamu.

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Di malam dimana aku harusnya berfikir siapa yang harus kupilih, Harto datang ke rumahku. Dia membawa beberapa DVD dan Pizza kesukaanku. Aku tersenyum kecil. Mungkin dia cowok yang aku cari.

Dia memutarkan film Iron Man 3 di DVD playerku sementara aku sibuk melahap pizza itu. Harto menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku nyaman. Di tengah tenga film tiba-tiba dia menghentikan filmnya dan meraih tanganku.

"Megan, aku sayang kamu."

Dadaku berdegup kencang. Jangan jangan Harto mau aku memilih dia?!

"Aku senang sekali kalo kamu juga sayang sama aku. Tapi aku gak bisa jadi pacar kamu, maafin aku."

Seketika hatiku hancur berantakan. Aku melepaskan genggaman Harto. Kenapa mereka sama sama membuatku sakit?

"To.. Aku sayang kamu, lebih daripada Alvan. Aku mau milih kamu karena kepastian ada di kamu, bukan di Alvan. Alvan terlalu sering ninggalin aku, sementara kamu ada disampingku terus menerus."
"Aku takut Gan. Aku takut perasaan ini sebenarnya bukan untuk jadi pacar, melainkan sebatas sahabat. Aku takut kamu nantinya tidak jadi alasanku untuk menghentikan permainan PES-ku. Aku takut ketika kita pacaran, perasaan nyaman ini berbeda atau lebih parahnya berkurang.. Aku takut aku bakal nyakitin kamu lebih dari Alvan."

Air mataku mulai menetes. "Kamu terlalu takut, Har. Aku tau kamu gak bakal ngecewain aku."
"Tapi aku gak seyakin itu, Gan... Aku lebih yakin kalo kamu sama Alvan. Alvan sayang banget sama kamu."
"Aku gak mau sama dia lagi, Har. Dia jahat. Dia terlalu nyakitin aku. Dia gak kayak kamu..."
"Kamu bisa perjuangin Alvan dan balikin semuanya, Gan. Kalian gak patah, kalian cuman bengkok, salah jalan. Kamu bisa ngelurusinnya."

"Aku bisa, tapi apa dia mau? Har.. Aku berharap sama kamu. Aku yakin kamu adalah yang terbaik. Kamu adalah alasan aku berjalan sejauh ini..."
"Jangan berharap sama aku, Gan. Aku sayang kamu tapi gak bisa.."
"Kenapa sih? Apa susahnya mencoba?"

"Megan, aku sayang kamu. Tapi bukan untuk jadi pacar. Alvan sayang kamu dan dialah yang seharusnya jadi pendamping kamu. Kita itu sahabat, kamu dan Alvan itu pacaran. Itu yang benar. Kamu sayang kan sama Alvan? Kenapa kamu mau ninggalin dia demi aku yang belum jelas bisa bahagiain kamu lebih dari dia atau enggak?"

Tangisku semakin keras. Harto langsung memelukku dan terus membelai rambutku. "Maafkan aku, Megan.. Maaf.. Perjuangkan saja Alvan. Kita memang terlahir jadi sahabat, sayang.."
"Tapi perhatian kamu selama ini.. Selama ini apa?"
"More than best friend, less than couple. I love you, Megan."
"Please.. Please.. I need you back. Bukan Alvan yang aku butuhkan tapi kamu..."
"Kamu lebih butuh dia sayang, trust me. Dia pasti datang buat ngelurusin semua ini kalo kamu mau ngelurusin juga." Harto melepaskan pelukannya.
"Tapi dia gak perjuangin aku, dia gak sadar kalo dia udah sering nyakitin aku. Aku sayang dia, Har. Tapi dia enggak...."

"Kalo kamu percaya dia datang, dia pasti datang. Kekuatan ikatan hati kalian lebih kuat daripada rasa sayang kamu ke aku, Gan."
"Kamu ngeraguin aku?"
"Enggak, Gan. Tapi bukan aku yang jadi pendamping kamu. Dia yang seharusnya sama kamu...."
"Enggak! Alvan gak perduli lagi sama aku, Har! Alvan gak pernah sadar seberapa sakitnya aku! Dia gak bakal datang!"

Harto menggeleng lalu tersenyum kecil. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang lalu mendesah. "Maafin aku selama ini gak peka. Maafin aku selama ini gak sadar kalo kamu terluka. Aku yang salah. Aku mau perbaiki semua ini. Aku gak mau kehilangan kamu, Megan..."

Harto benar, Alvan datang.



To be continued....



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}