The Reason is You chapter 43: Come back

Karena pada akhirnya aku pasti menemukan kamu. Kamu yang merupakan alasanku. Kamu yang menjadikanku alasanmu. Kamu yang akan menggantikan dia.

***


GHINAA SALSABILA ROZI'S POV

"Eh udah denger belum Titi sama Gestu putus?" Tanya Yola dari sebrang. Aku yang sedang minum lemon tea-ku pun langsung tersedak. Selama itu kah aku tak berhubungan dengan 26 sampai ketinggalan banyak berita?

"Yang bener, Yol? Jadi 26 yang masih pacaran tinggal elo - Aca sama Dini - Bhimo aja?" Tanyaku dengan suara terkecit. Yola berdehem.
"Iya.. Gue kira elo sama Esar masih bertahan, eh ternyata putus juga. Bella sibuk sih sekarang, jadi gak ada kabar kabaran sama Raffles lain." Kata Yola dengan nada sedikit sinis. Aku menelan ludah. 

Aku dan Esar putus karena jarak yang memisahkan kami. Aku juga jadi jauh dengan anggota 26 terutama Rafflesia karena jarak. Entah apa yang membuat jarak begitu membuat segala hubungan terasa terbatas dan perasaan pun sudah tidak bisa mempertahankannya. 

Semuanya jadi rapuh dan serba patah.

"Kenapa putus?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Sama kayak kamu sama Esar...Jarak."
Aku tersenyum kecil seakan mengerti perasaan Titi. "Iya, Silvy sama Lega putus juga gara gara jarak kan?"
"26 juga jadi jauh gara gara jarak..."
"Eh, enggak kok Yol. Kita cuman gak ngumpul aja kayak biasanya."

"Gue pengen deh kita tetep ngumpul walaupun udah beda SMA gini.."
"Gue juga! Yuk ngumpul! Ajakin Dini gih, dia pasti yang paling semangat..." Ups. Bibirku langsung terkunci rapat dan teringat kejadian beberapa waktu yang lalu.

Aku tak sengaja bertemu dengan Kibo-chan di Grage Mall dan memutuskan untuk sekedar melepas rindu di KFC. Kami berdua duduk dipojokan tempat favorit Raffles. Semuanya baik baik saja sampai akhirnya Dini datang dan...

"Bilangnya gak ada waktu, kenapa sih semua 26 ngehindarin gue?" Tanya Dini dengan wajah paling menyeramkan yang pernah ada. Aku menatap Kibo.
"Ada apa sih, Kib? Kok gue gak tau apa apa.."
"Eum.. Bells...."
Dini matanya berkaca kaca. "Kita janjinya bakal terus bareng bareng kan, Fles? Janjinya apapun yang terjadi bakal terus usahain buat ngumpul kan? Gue udah berkali kali ngajak ngumpul tiap ada liburan, tapi kalian selalu ngehindar. Gue capek selalu berusaha jadi orang yang mempertahankan tapi gak pernah dipertahankan! Terserahlah!"

Belum sempat aku membuka mulutku, Dini sudah berbalik dan meninggalkan kami berdua.

"Dini masih marah banget sama kita, Bells. Lo baca kan di grup Facebook?" Tanya Yola. Aku berdehem mengiyakan.

Setelah pertemuanku dengan Kibo, aku sedang iseng membuka akun Facebook-ku dan menemukan hampir 30 pemberitahuan dari grup Jaffles 26. Dini akhirnya sampai di puncak kesabarannya. Banyak yang membalas posting Dini kecuali aku. Aku tak berani bicara apapun.

Aku mengerti perasaan Dini. Tapi ada satu hal yang Dini belum mengerti bahwa dia tidak bisa menuntut banyak lagi dari kami. Janji memang sudah ditorehkan, tapi seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang berubah dan ada saja hal yang lebih penting dari masing masing kami yang tidak bisa kami tinggalkan.

Dunia terus berputar sementara Dini masih beranggapan bahwa kami masih murid SMP yang sama. Bukannya aku menyalahkan Dini tapi seseorang memang harus ada yang bicara padanya..

Kami memang ingin ngumpul, tapi memang belum ada waktu yang tepat. Sementara Dini terus mengingat janji, kami jadi capek sendiri. Tapi sampai saat ini aku bingung bagaimana menjelaskan pada Dini.

"Bells?"
"Iya, Yol?"
"Lo ngerti kan kenapa kita belum bisa ngumpul?"
"Gue ngerti. Tapi Dini kasian, dia terlalu care sampai dia gak bisa lihat kesekelilingnya kalo mereka ngerasa gak nyaman. Bukannya gue benci Dini, tapi dia salah.. Dia lupa kalo keadaan udah berbeda."
"Seseorang harus ngomong, Bells. Kalo gak ada Dini, gak ada yang ngumpulin 26 lagi."
"We should come back, Yol."
"Iya, Bells."
"Aduh Yol.. Gue bingung."
"Lo.. Mau kan 26 balik lagi?"
"Mau banget...."
"Gimana kalo lo ngomong sama Dini?"

***

NISRINA ARIJ FADHILLA'S POV

"Izar sayang kamu selalu, selamanya. Kamu cewek paling istimewa buat Izar." Kata Izar sambil membelai halus pipiku. Aku tersenyum kecil. Ia tersenyum hangat. Aku paling suka saat saat setelah mengantarnya pergi latihan basket di Hari Minggu pagi. Dia begitu menyenangkan.

"Kalo kita harus putus?"
"Aku bakal perjuangin kita."
"Kalo akhirnya putus?"
"Kamu mau kita putus?"
"Apapun yang terjadi, kita tetep sahabatan ya?" Bisikku di telinganya. Izar menatapku lalu memelukku. "Kamu yang selalu aku cari. Aku sayang kamu, Nis."
"Aku juga... Kamu gak bakal ninggalin aku kan?" Tanyaku pelan. Izar melepaskan pelukannya, tersenyum kecil lalu meninggalkanku ke dalam kegelapan.

"AAAAAH!" Aku menjerit dan terbangun. Pipiku menghangat dan basah. Aku menangis lagi, entah untuk ke berapa ribu kalinya setelah kamu meninggalkan aku.

Izar, you shouldn't come back if you make me crying again.

Sudah lama sekali aku tidak pergi ke lapangan basket untuk menemaninya main basket di Hari Minggu pagi seperti ini. Kebiasaan lama yang juga sudah lama kami tinggalkan apalagi setelah kami berbeda sekolah. Air mataku menetes lagi.

Led hijauku menyala tanda ada direct message masuk di twitter Izar. Iya, aku belum sempat log out twitter Izar dan mungkin tidak akan karena hanya itu satu satunya cara supaya aku tahu keadaan dia.

Gadis itu masih mengiriminya direct message dan Izar menjawabnya dengan lembut. Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil meratapi nasibku sendiri. Izar saja sudah moving on, kenapa aku masih menunggunya? Izar saja sudah memikirkan yang lain, kenapa aku masih memikirkannya?

Kunyalakan TV kamarku lalu kembali merebahkan diri di kasurku. Entah kenapa HBO harus menayangkan film Valentine Days pagi ini. Cinta. Apa itu cinta? Aku kosong sekali. 

Temanku banyak yang bercerita padaku tentang cinta, memintaku saran atau menggalau padaku. Tapi aku tak bisa berkata lebih jauh selain "sabar ya" karena aku tak tahu apa itu cinta. Setiap aku mencoba mencari definisinya di otakku, kenangan tentang Abizar terus berputar dan aku tak suka itu.

Aku mau melupakan Izar seperti dia yang sudah melupakanku.

Is it fair, eh?

Tiba-tiba seseorang mengetuk ngetuk pintu kamarku dengan cepat. Itu pasti adikku. Aku langsung bangkit sambil membawa bonekanya yang ia tinggalkan di kursi dan siap siap ingin menyuruhnya kembali ke kamarnya sendiri. Aku tidak suka di ganggu di minggu pagi. It's my 'me time' you know?

Aku membuka pintu lalu dengan sigap melemparkan boneka Barbie itu. "Kamu ngapain sih gangguin teteh terus? Ini hari Ming....." Bibirku kaku, lidahku kelu. Dia berdiri di depanku sambil membawa bola basketnya. Ia tersenyum hangat, sama seperti yang kulihat dalam mimpi.

"Pagi, Nis. Main basket, yuk?"

Is it real? Aku mengangguk kaku. He's come back.

***

LUTHFI FARHAN'S POV


Valda selalu punya caranya sendiri dalam bergaya dan itu yang aku suka. Aku hanya mengajaknya mengobrol tentang apa yang dia suka lalu menariknya supaya dia bisa masuk ke duniaku. Ini gugup dan aku kira ini semua tidak pernah bisa terjadi, tapi akhirnya aku bisa bicara dengan normal dan menatap matanya.

Aku selalu berfikir bahwa selalu tidak ada waktu yang tepat untukku dan Valda. Aku selalu takut Valda akan menjauhiku. Tapi nyatanya tidak. Aku tahu Valda tahu perasaanku dan aku tahu tidak pernah ada waktu yang tepat kecuali kita sendiri yang menciptakannya.

Aku tahu Valda sedang renggang dengan Yoga, tapi setelah hari ini kami bicara seharian, aku jadi mengurungkan niatku untuk memintanya jadi pacarku dan meninggalkan Yoga. Pada akhirnya aku hanya ingin Valda tahu aku menyayanginya dan melihat Valda bahagia.

Jika Valda memang untukku, dia akan datang kepadaku. Jika tidak, aku sudah bisa menerima konsep cinta Haekal bahwa pasti ada orang lain yang lebih baik daripada dia. Yang penting aku sudah mencoba untuk memperjuangkan cintaku.

Karena dia adalah semangatku, karena dia adalah alasanku. Valda Nurul Izah.

***

MEGAN QUINKA DWIDARA TODING'S POV

Setelah malam itu, aku tidak berani bicara pada siapapun. Tidak dengan Harto, Alvan apalagi Tegar. Tegar terus mendesakku untuk memilih sementara aku tidak tahu. Aku jadi hampa dan kosong.

Harto meninggalkanku sementara Alvan kembali. Aku bingung harus apa sekarang. Aku bingung ketika aku mulai mencintai Harto sepenuh hati, Alvan malah kembali dan Harto pergi meninggalkanku.

Kenapa ia harus datang jika kami tak bisa bersama?

Ini kali ke 10 nya Tegar mengetuk pintu kamarku pagi ini. Aku tak mau membukanya tapi dia sudah membukanya duluan. Dia membawa nampan putih dengan biskuit Marie Regal dan Nutella. Aku tersenyum kecil.

"Kamu tahu apa moodboosterku, Gar."
"Aku tahu, aku kakakmu.."
"Geli ngomong aku-kamu sama Tegar. Tapi Megan lagi gak ada tenaga buat berantem sama kamu. Kamu pasti kehilangan kan?" Tanyaku. Tegar tertawa.
"Apaan sih, masih ada Angga kok tenang aja. Kamu gimana sekarang?"

Aku menghela nafas. "Entah aku harus bilang apa, Gar. Aku belum bisa milih."
"Ya.. Kalo kamu milih Harto, kalian cuman sahabatan dan kamu gak punya pacar. Kamu bakal kehilangan Alvan. Tapi kalo kamu milih Alvan, kamu bisa tetep sama Harto dan memperjuangkan hubungan kamu sama Alvan..."

"He shouldnt come back, Gar. Aku bakal bahagia sama Harto."
"Tapi Harto gak bisa jadiin kamu pacar, Gan."
"Kenapa? Kenapa dia gak bisa kalo dia sayang aku, Gar?"
"Memang sulit di mengerti, tapi terkadang perasaan sayang gak selalu harus diaplikasikan dengan pacaran..."
"Aku.. Aku capek kalo harus perjuangin Alvan terus."
"Gan, Tegar tau kamu tuh lebih sayang sama Alvan. Kamu gak bisa ngelak. Mungkin awalnya bakal capek, tapi kenapa kamu gak mau bersusah dulu demi bahagia di masa depan? Toh dengan milih Alvan kamu gak bakal kehilangan Harto. You'll save both of them, Gan."

"Tapi apa bisa? Bukannya get one and lost one?"
"Emang bener, kok. Kamu dapetin lagi cinta kamu ke Alvan tapi kamu bakal kehilangan cinta kamu sama Harto. Semuanya fair Gan kalo kamu ikhlas jalaninnya."
"Tapi.. Apa emang Alvan yang aku cari?"

"Entahlah. Coba kamu tanya sama hati."

***

RIZKI RAHMADANIA PUTRI'S POV

"Lo kacau, Ti. Gue kira lo bakal balikan sama Gestu..." Kata Harto sambil sibuk dengan game onlinenya. Aku menghela nafas.
"Gak bisa, To. Gue sama Gestu kayaknya emang gak bisa lagi."
"Tapi lo sayang kan sama Gestu?"
"But we can't come back like the old us."
"So you're never ever ever getting back together with him?" Tanya Harto sambil tertawa.
"Entahlah To.. It's complicated."

"Lo harus berani milih, Ti. Maju atau mundur. Jangan setengah setengah gini."
"Elo juga udah milih tapi masih sayang kan sama Megan? Lo juga gak rela kan kalo akhirnya Megan milih Alvan? Gue juga, To. Gue sayang Gestu, tapi gue gak bisa mempertahankan ini semua..." Kataku sambil menoleh ke arah fotoku dan Harto di meja komputernya.


Kami berdua sama sama terjebak dalam perang hati. Memilih dan dipilih. Harto tahu resikonya jika ia terus memperjuangkan Megan. Ia tahu jika dia mungkin akan menyakiti Megan. Ia begitu menyayangi Megan tapi akhirnya memutuskan meninggalkan gadis itu demi kebahagiaannya.

Aku tahu betul resikonya kehilangan Gestu dan aku juga tahu apa yang akan terjadi jika aku tetap bertahan. Gestu memintaku bertahan tapi aku tidak bisa. Aku tak bisa terus begini. Aku tidak kuat untuk bertahan lagi.

Kita memang harus mau mengambil resiko dalam sebuah keputusan. Karena seberat apapun resiko dari keputusan itu, kita telah memilih dan kita harus menjalankannya. Karena kita harus percaya, setiap kejadian pasti punya alasan yang membuat segalanya menjadi lebih baik di kemudian hari.

Seperti aku yang memutuskan melepaskan seseorang yang menjadi alasanku untuk tersenyum selama ini setelah perjuanganku untuk mendapatkannya. Walaupun dia memintaku untuk tetap tinggal, aku harus pergi. Kami tidak bisa begini terus, aku tidak kuat. Aku harus meninggalkannya.

Bukannya aku jahat, bukannya aku sudah melupakannya. Tapi itu semua karena aku punya alasan logis. Alasan yang sama kuat bahkan lebih kuat daripada alasan kenapa aku harus memperjuangkannya dulu.

Karena dia mencintaiku, aku mencintainya dan kami berdua harus bahagia...

***

TIARA ANNISA ADHI MAULIDANTHY'S POV

Aku tidak mau melihat Faisal bersama Silvy. Aku muak. 


Aku ingat sekali, aku merusakkan foto Faisal dan Silvy yang sedang berfoto di Bromo. Aku senang sekali tapi Faisal memandangku dengan tatapan sedih. Lagi-lagi  hari ini kami bertengkar karena Silvy. Silvy selalu merusak hari bahagiaku dengan Faisal.

Kapan sih aku bisa bersama Faisal dengan tenang tanpa gangguan dia?

Aku memandang Faisal kesal sambil mengingat ingat kejadian di Solaria. Aku sudah bicara pada Silvy tapi dia tak mau mundur. Kenapa sih dia? Apa tidak cukup semua hal yang telah aku bicarakan?

Aku memandang Faisal dalam dalam. Air mataku tumpah. "Sekarang kamu pilih, aku atau Silvy?"
Faisal menatapku heran. "Kamu kenapa sih sayang?"
"Berhenti panggil aku sayang, Sal! Aku capek kayak gini."
"Lho... Kenapa sih?"
"Kamu terus baik sama aku tapi kamu selalu liat Silvy. Sebenernya apa aku buat kamu, Sal?"

Aku menangis sementara Faisal terus menggenggam tanganku. Aku meremasnya lalu menatapnya dalam dalam. "Aku.... Gak bisa kita gini terus."

"Maksud kamu? Aku gak mau kamu ninggalin aku, Yar!"
"Yaudah. Tinggalin Silvy dan terus sama aku. Atau aku yang pergi."

Faisal menelan ludahnya sementara aku terus menatapnya penuh harap. Aku berharap dia memilihku bukan cewek itu. He's mine and he won't come back for you, Sil.


Nah lho! Jadi gimana nih kelanjutannya? Sebentar lagi tamat! To be continued....



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}