[FLASHFICTION] Petrichor: The Way I Was


"Katanya Mas Idam pulang ke Jakarta, ya?" Tanya Via ketika aku baru selesai menghabiskan makan siangku. Aku menoleh lalu tersenyum. 
"Gak tahu..." Ujarku lemah.
"Kamu jangan jadi galau gitu dong. Sudah satu  tahun setengah dari kejadian saat itu dan kamu masih aja nutup diri. Ayo dong, Lys.. Jangan gini."
"Memangnya aku berbeda sekarang?"
"Kamu seperti bukan Elyssa yang dulu, tahu."

Aku termenung. Via benar, memang setelah Damar pergi aku semakin menutup diri saja. Damar yang begitu lembut.. Orang yang memperlakukan aku dengan baik.. Aku ingat betul saat Damar memintaku hanya memanggilnya dengan nama "Damar" saja. Aku ingat betul saat Damar menceritakan banyak hal padaku.. Aku merindukan... Ah sudahlah, Lys.

Rasa kangen ini masih saja tersimpan, bahkan setelah satu setengah tahun ia pergi.

Ketika Damar tiba-tiba memilih Farah sebagai pacarnya, aku masih ingat betul betapa aku kecewa padanya. Aku berpikir bahwa kami tidak akan pernah bisa tertawa bersama lagi. Tapi Damar selalu berusaha mencairkan suasana walaupun pada akhirnya aku sulit untuk membuatnya sama.

Karena seiring dengan berjalannya waktu semua akan berubah, takkan pernah ada lagi yang sama.

Damar semakin sibuk dengan perjuangan menuju Akpolnya sampai kami benar benar lost contact. Tiba-tiba kami sampai di hari kelulusan. Aku ingat betul betapa gagahnya dia. Betapa bangganya dia sedang dalam tahap terakhir menuju Akpol.

Dan sampai saat itu aku masih mengingat setiap cerita kecilnya.

Aku tahu tentang dia, tentang apa yang ia suka, tentang apa yang ia benci, tentang sahabatnya, tentang keluarganya.. Aku tahu betul dia suka makanan pedas, dia suka telat makan, dia tidak terlalu suka kembang api.. Aku tahu ia selalu merindukan Abangnya yang bekerja di luar negeri. Namanya Darrenarya Agung Pahlevi, Bang Daren atau nama kecilnya Arya.

Akuu tahu betul ia sangat menyayangi adiknya namanya Dhafir Alfhandi Pahlevi, Dhafir atau nama kecilnya Afi. Aku tahu dia lebih suka dipanggil olehku dengan nama aslinya Damar dibanding Idam. Aku tahu...

Terlalu banyak hal yang aku tahu sampai aku tak bisa melupakan satupun tentangnya.

Setahun berlalu. Aku dengar kabar tentangnya dari teman temannya. Kurasa dia bahagia disana. Kuharap begitu.

Via melirikku sinis lalu berjalan meninggalkanku. Aku tahu Via tak pernah suka aku terus memikirkan Damar. Aku memang tidak berhenti di Damar, tapi aku tak bisa membuka hatiku untuk yang lain.

Via bilang aku berubah drastis setelah kepergian Damar. Aku jadi lebih pendiam. Ia bilang ia mau aku kembali tapi bagaimana caranya aku kembali jika aku saja lupa seperti apa aku yang dulu?

iPhone-ku bergetar tanda ada pesan masuk. Kuraih dari saku rok abu-abu yang sudah agak lusuh. Aku membukanya lalu tersenyum tipis. Mataku langsung berkaca-kaca. Apa ini benar benar terjadi?

Langkah kaki serta bau parfum yang tak asing semerbak tertiup angin ke arahku. Aku tak berani mencari arah darimana datangnya itu. Aku cukup kaget membaca pesan tersebut.

Ia tiba-tiba duduk di depanku dengan senyum setengahnya yang manis. Masih sama manisnya seperti saat terakhir aku melihatnya diacara kelulusan. Dia menatapku dalam dalam.

"Aku pulang, Lys."



Cirebon, 29 Oktober 2013 from 21.10 - 21.15
Unexpected things.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}